Budidaya Pertanian

Vertikultur 

Download file: verti2 

Membudidayakan Sayuran secara Vertikultur

Oleh: Liferdi Lukman

Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Volume 33 Nomor 4, 2011   

Download file: wr334113 

Sesuai dengan asal katanya dari bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture, vertikultur adalah sistem budi daya tanaman secara vertikal atau bertingkat. Sistem budi daya ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Lahan 1 m2, misalnya, bila dengan cara tanam biasa mungkin hanya cukup untuk lima batang tanaman, namun dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman.

Vertikultur bukan hanya sekedar kebun vertikal, namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan keragaman hayati di pekarangan yang sempit sekalipun. Struktur vertikal memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan.

Model, bahan, ukuran, dan wadah vertikultur sangat banyak, tinggal disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya wadah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan beberapa undakan atau rak. Bahan dapat berupa bambu atau pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras karena salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas di sekitar kita.

Persyaratan vertikultur adalah kuat dan mudah dipindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain adalah selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisin, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun, dan tanaman sayuran daun lainnya.

Untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur perlu mempertimbangkan aspek ekonominya agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Untuk hobi, vertikultur dapat menjadi media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.

Wadah Tanam

Budi daya tanaman secara vertikultur menggunakan wadah paralon.

Bila akan menggunakan wadah tanam dari bambu, kita siapkan dua batang bambu yang masing-masing panjangnya 120 cm, dengan pembagian  100 cm untuk wadah tanam dan 20 cm sisanya untuk ditanam ke dalam tanah. Pada setiap batang bambu dibuat lubang tanam 10 buah. Bambu dipilih yang batangnya paling besar, lalu dipotong sesuai ukuran yang ditetapkan. Semakin bagus kualitas bambu, semakin lama masa pemakaiannya.

Vertikultur menggunakan wadah paralon yang dibuat tegak.

Pada bagian 20 cm terdapat ruas yang nantinya akan menjadi ruas terakhir dihitung dari atas. Semua ruas bambu, kecuali yang terakhir, dibobol dengan menggunakan linggis agar seluruh ruang dalam bambu terbuka. Di bagian inilah nantinya media tanam ditempatkan. Ruas terakhir tidak dibobol seluruhnya, tetapi hanya dibuat beberapa lubang kecil dengan paku untuk mengeluarkan kelebihan air dari wadah.

Selanjutnya dibuat lubang tanam di sepanjang bagian 100 cm dengan menggunakan bor atau alat lain seperti pahat. Lubang dibuat secara selang-seling pada keempat sisi bambu (permukaan bambu diasosiasikan sebagai bidang kotak). Pada dua sisi yang saling berhadapan masing-masing dibuat tiga lubang tanam dan pada dua sisi lainnya masing-masing dua lubang tanam sehingga seluruhnya ada 10 lubang tanam. Setiap lubang berdiameter kira-kira 1,5 cm. Jarak antarlubang 30 cm.

Vertikultur menggunakan wadah bambu.

Media Tanam

Media tanam untuk vertikultur berupa campuran tanah, pupuk kompos, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Semua bahan dicampur hingga rata. Tanah berfungsi untuk mengikat unsur hara, sekam untuk menampung air di dalam tanah, sedangkan kompos merupakan sumber unsur hara yang diperlukan tanaman.

Contoh media tanaman untuk menanam sayuran secara vertikultur

Campuran media tanam kemudian dimasukkan ke dalam bambu hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang dalam bambu yang kosong, kita gunakan bambu atau kayu kecil untuk mendorong tanah  hingga ke dasar wadah (ruas terakhir). Media tanam dalam bambu diusahakan tidak terlalu padat agar air mudah mengalir dan akar tanaman dapat “bernafas”, namun juga tidak terlalu renggang agar dapat mempertahankan air dan menjaga kelembapan media tanam.

Penyiapan Bibit dan Penanaman

Sebelum membuat wadah vertikal, terlebih dahulu kita siapkan bibit tanaman. Benih disemaikan dalam  wadah penyemaian sebelum ditanam dalam media vertikultur. Wadah bisa apa saja sepanjang dapat diisi media tanam dan memiliki lubang di bagian bawahnya untuk mengeluarkan kelebihan air. Wadah khusus untuk penyemaian benih disebut tray dengan jumlah lubang 128 buah (tray lain jumlah dan ukuran lubangnya bervariasi). Wadah persemaian dapat pula menggunakan pot berukuran sedang atau bekas tempat kue. Untuk media tanamnya dapat menggunakan media tanam jadi yang bersifat organik.

Contoh bibit tanaman

Jika penyemaian benih menggunakan tray, setiap lubang biasanya diisi satu benih, namun bisa juga 2 atau 3 benih. Jika menggunakan wadah lain, jumlah benih yang disemai disesuaikan dengan ukuran wadah. Yang penting, jarak tanam benih diatur sedemikian rupa agar tidak berdempetan.

Pada 2-3 minggu setelah semai, benih sudah berkecambah dan mengeluarkan 3-4 daun. Idealnya, benih dipindah ke media tanam jika telah memiliki 4-5 helai daun. Bibit yang dipindah ke wadah vertikultur saat berumur lebih dari satu bulan, daunnya pun sudah bertambah.

Karena wadah vertikultur dari bambu hanya memiliki 20 lubang tanam dari dua batang bambu, kita cukup leluasa untuk memilih 20 bibit terbaik. Sebelum bibit ditanam, media tanam dalam wadah bambu disiram hingga jenuh atau sampai air menetes keluar dari lubang tanam. Selanjutnya, bibit ditanam satu demi satu. Semua bagian akar dari setiap bibit harus masuk ke dalam tanah. Setiap jenis bibit, misalnya cabai merah dan tomat, dikelompokkan dalam wadah bambu terpisah.

Pemeliharaan Tanaman

Tanaman memerlukan perawatan seperti halnya makhluk hidup lain. Tanaman memerlukan perhatian dan kasih sayang. Selain perlu menyiramnya setiap hari, tanaman juga perlu dipupuk dan hama penyakit dikendalikan.

Budi daya sayuran secara vertikultur menggunakan rak kayu atau rak bambu di lokasi Kawasan Rumah Pangan Lestari Dusun Jelok, Desa Kayen, Pacitan, Jawa Timur.

Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk organik, seperti kompos, pupuk kandang, atau bokashi. Agar sayuran buah seperti cabai dan tomat tidak mudah rontok sebaiknya diberikan pula KCl satu sendok teh atau satu sendok makan, bergantung besar kecilnya pohon. Pemberian KCl setiap 5-6 bulan sekali.

Limbah dapur atau daun-daun kering bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk bokashi. Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dan lainlain) dengan teknologi EM. Bokashi digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk.

Di perdesaan, biasanya sampah atau kotoran hewan dimasukkan ke lubang dan jika lubang telah penuh, sampah dibakar dan dimanfaatkan sebagai pupuk. Jika menggunakan pupuk kotoran hewan, hendaknya dipilih yang sudah tidak berbau busuk. Di toko swalayan atau kios tanaman, saat ini sudah tersedia pupuk kandang kering yang tidak berbau dan steril.

Saat ini masyarakat mulai banyak mengonsumsi produk pertanian yang sehat, yaitu yang menggunakan pupuk dan pengendalian hama secara alami, meskipun harga produk tersebut lebih mahal.

Berkebun di sekitar rumah sebaiknya tidak menggunakan bahan kimia, seperti furadan untuk mengendalikan hama dalam tanah. Penggunaan furadan dapat mengurangi kesuburan tanah dan juga mencemari tanaman kurang lebih selama sebulan. Jadi, sebaiknya menaman sayuran tidak perlu menggunakan furadan.

Pemanenan

Sayuran seperti sawi, bayam, seledri, selada, dan kangkung biasanya dipanen dengan dicabut. Apabila kita menanamnya sendiri dan untuk dikonsumsi sendiri akan lebih hemat bila panen dilakukan dengan mengambil daunnya saja. Dengan cara ini, tanaman bisa bertahan lebih lama dan dipanen berulangulang (Liferdi Lukman).

Informasi lebih lanjut hubungi:
Balai Penelitian Tanaman Sayuran Jalan Tangkuban Perahu No. 517 Lembang, Bandung 40391; Telepon : (022) 2786245; Faksimile : (022) 2786416; E-mail : balitsa@litbang.deptan.go.id; liferdilukman@yahoo.co.id

 

3 Responses to “Budidaya Pertanian”

  1. Lintang Says:

    Maksi infonya sangat bermanfaat untuk menambah inspirasi terutama untuk rumah yang memiliki halaman sempit ^.^

  2. Dandy Says:

    Terimakasih. Hidup vertikultur!! <3

  3. hilwa Says:

    dimana bisa beli bibit sawi, slada, bayam, kangkung, dll itu ya? di daerah jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: