Karnita Yuniarti

TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN ROTAN DAN BAMBU1)

Oleh : Karnita Yuniarti

Peneliti pada Pusat Litbang Hasil Hutan 

 Makalah Utama pada Ekspose/Diskusi Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Bali-Nusa Tenggara. Kupang, 12 Desember 2006

Download file: teknologi-budidaya-rotan-dan-bambu  

ABSTRAK

Rotan dan bambu merupakan beberapa jenis hasil hutan bukan kayu yang cukup marak dikembangkan. Untuk pengembangan lebih lanjut di tingkat industri, sumberdaya rotan dan bambu sudah seyogyanya tidak lagi tergantung pada alam. Proses budidaya rotan dan bambu perlu dikembangkan. Selain itu, informasi mengenai teknologi pengolahan rotan dan bambu juga penting untuk peningkatan kualitas produk olahan kedua jenis hasil hutan bukan kayu tersebut.

Kata kunci : Budidaya, pengolahan, rotan, bambu

I. PENDAHULUAN

Hutan Indonesia memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang cukup tinggi. Walaupun demikian, hasil hutan bukan kayu (HHBK) masih kurang optimal dimanfaatkan karena pengusahaan hutan selama ini cenderung terorientasi pada hasil hutan kayu. Di sisi lain, produk HHBK merupakan salah satu sumberdaya hutan yang memiliki keunggulan komparatif di samping paling bersinggungan dengan masyarakat sekitar hutan, serta telah terbukti dapat memberikan dampak pada peningkatan penghasilan masyarakat sekitar hutan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi penambahan devisa negara (Sumadiwangsa dan Setyawan, 2001).

Tercatat jenis-jenis HHBK yang memiliki potensi untuk dikembangkan antara lain resin, minyak atsiri, minyak lemak, tanin, getah, tanaman obat, tanaman hias, hasil hewan, jasa hutan hingga rotan dan bambu. Sampai dengan saat ini, rotan dan bambu merupakan jenis-jenis HHBK yang memiliki prospek cukup tinggi untuk dikembangkan. Secara khusus, rotan bahkan dikenal sebagai primadona HHBK asal Indonesia yang mampu memberikan sumbangan cukup berarti terhadap devisa negara (Januminro, 2000). Di Indonesia terdapat delapan genera rotan yang terdiri atas 306 jenis (Jasni et al., 2000). Walaupun demikian, hanya 51 jenis dari 306 jenis tersebut yang telah dimanfaatkan (Jasni et al., 2000). Ke delapan genera rotan yang terdapat adalah Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Plectocomiopsis, Calopspatha, Bejaudia, dan Ceratolobus (Menon, 1979 dalam Alrasjid, 1989). Dari delapan genus tersebut hanya rotan dari genus Calamus dan Daemonorops yang memiliki nilai komersial tinggi (Jasni et al., 2000).

Bambu merupakan jenis HHBK yang cukup dikenal dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia. Sutiyono (2004) dalam Novriyanti dan Nurrohman (2005) memperkirakan terdapat sekitar 76 spesies bambu di Indonesia. Umumnya pemanfaatan bambu oleh masyarakat adalah untuk bahan konstruksi dan barang kerajinan. Di Cina, bambu bahkan telah lama digunakan sebagai bahan baku kertas (Krisdianto et al., 2000).

Untuk pengembangan lebih lanjut, terutama pada tingkat industri dan bernilai komersial, sumberdaya rotan dan bambu selayaknya tidak lagi tergantung pada hutan alam. Proses budidaya kedua jenis HHBK ini perlu dikembangkan, terutama untuk jenis-jenis yang memang dibutuhkan industri dalam jumlah besar. Selain itu, teknik pengolahan juga seyogyanya mendapat perhatian tersendiri dalam rangka peningkatan kualitas produk olahan dari kedua jenis HHBK tersebut. Makalah ini menyajikan hasil review mengenai teknik-teknik budidaya serta pengolahan rotan dan bambu yang dapat diterapkan untuk pengembangan lebih lanjut dari kedua jenis HHBK tersebut.

III. BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN BAMBU

A. Budidaya

Usaha budidaya bambu mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Teknik pembibitan

Teknik pembibitan bambu dapat dilakukan secara generatif (dengan biji) dan secara vegetatif (dengan bagian selain biji). Permasalahan dalam pembibitan bambu dari biji yang dijumpai di Indonesia adalah tidak ditemukannya jenis bambu berbunga dan menghasilkan biji. Sampai saat ini, hanya ditemukan 2 jenis bambu yang diketahui menghasilkan bunga, akan tetapi tidak menghasilkan biji yaitu bambu andong) dan bambu batu. Selain itu, pembibitan dengan biji umumnya akan memerlukan waktu lebih dari 10 tahun untuk mencapai tingkat perumpunan normal (Sutiyono et al., 1999).

Teknik pembibitan dengan menggunakan stek dari bagian-bagian tanaman bambu seperti batang, cabang, dan akar lebih banyak diteliti dan diterapkan. Menurut Sutiyono et al. (1999), penggunaan stek rimpang (akar-akar yang mampu memberikan pertumbuhan tunas sebagai calon tanaman muda) untuk pembibitan bambu sudah biasa dilakukan dibandingkan dengan stek batang atau cabang. Walaupun demikian, buku batang dan cabang merupakan sumber potensial untuk menghasilkan tunas dan akar sehingga dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk proses budidaya tanaman bambu (Sutiyono et al., 1999).

Pembibitan dengan menggunakan stek rimpang adalah sebagai berikut (Sutiyono et al., 1999):

  • Pemilihan batang bambu yang akan digunakan rimpangnya. Umumnya yang digunakan adalah batang bambu yang berusia + 2 tahun. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pengeringan di lapangan apabila bibit yang digunakan berasal dari tanaman muda.
  • Setelah batang yang akan digunakan rimpangnya ditentukan, dilakukan pemotongan pada buku ketiga – keempat atau berukuran + 100 cm dari bawah. Selanjutnya dilakukan pembongkaran rimpang dan memisahkannya dari induk rimpang.
  • Stek rimpang yang diperoleh dibersihkan dari akar-akar serabut dengan cara dipotongi dan ditempatkan pada air mengalir untuk merangsang munculnya akar baru.

Pembibitan dengan menggunakan stek batang adalah sebagai berikut (Sutiyono, 1995; Sutiyono et al., 1999) :

  • Batang terpilih berusia sekitar 1 tahun – 2 tahun.
  • Batang kemudian dipotong-potong berukuran 10 cm dari bawah dan atas buku yang terdapat tunas atau calon tunas, dengan demikian panjang stek batang adalah + 20 cm.
  • Stek batang kemudian disemaikan dengan cara ditancapkan pada guludan sehingga bagian mata tunas atau tunas tertutup tanah.

Pembibitan dengan menggunakan stek cabang adalah sebagai  berikut (Sutiyono et al., 1999):

  • Untuk pembuatan stek cabang, dipilih dari cabang yang menempel pada batang induk berumur + 3 tahun.
  • Dari cabang yang dipotong tersebut, dipotong bagian ujung sehingga diperoleh panjang stek cabang + 75 cm.
  • Stek kemudian ditancapkan di kantong plastik yang sudah disiapkan.

2. Teknik penanaman

Sebagaimana halnya dengan proses pembibitan, kegiatan persiapan lahan tanam dan penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan. Lubang tanam dibuat berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 40 cm x 40 cm dan ditaburi pupuk kandang sebanyak 1 kg/ lubang (Sutiyono et al., 1999). Sutiyono et al. (1999) menjelaskan lebih lanjut proses penanaman ini :

  • Penanaman untuk bibit yang berasal dari stek cabang (dan biji) dilakukan dengan memasukkan bibit bersama kantong plastiknya ke dalam lubang tanam yang telah disiapkan, selanjutnya kantong plastik ini disobek pada bagian samping sampai terlepas.
  • Untuk bibit yang berasal dari stek batang dan rimpang, bibit ditempatkan pada posisi tunas atau anakan ke arah atas dan ditimbun
    tanah. Di sekitar leher bibit, tanahnya dipadatkan dan ditinggikan + 10 cm dari tanah sekitar agar tidak tergenang air hujan.

3. Teknik pemeliharaan

Sutiyono et al. (1999) menjelaskan bahwa pemeliharaan tanaman bambu yang dilakukan terdiri atas dua tahap yaitu pada tahap sebelum mencapai perumpunan normal dan setelah perumpunan normal. Bentuk pemeliharaan pada tahap pertama adalah penyiangan dan penggemburan tanah sekitar tanaman, dan pemeliharaan tahap kedua adalah berupa pemangkasan cabang-cabang bawah setinggi 2 m – 3 m serta penimbunan dasar rumpun dengan tanah (Sutiyono et al., 1999).

B. Pengolahan

Bambu yang telah ditebang dapat ditingkatkan kualitasnya melalui penerapan beberapa teknologi pengolahan berikut (Krisdianto et al., 2000):

1. Pengeringan

Bambu perlu dikeringkan untuk menjaga stabilisasi dimensinya, perbaikan warna permukaan, pelindung terhadap serangan jamur, bubuk basah, dan memudahkan dalam pengerjaan lebih lanjut. Pengeringan bambu dapat dilakukan secara alami, dengan pengasapan, dalam bangunan pengeringan tenaga surya (solar collector), dan dalam dapur pengering.

Pengeringan bambu dengan metode pengasapan dilakukan dengan cara menempatkan potongan bambu pada posisi saling menyilang atau ditumpuk secara horisontal di atas tempat pembakaran. Untuk mempercepat pengeluaran air ditempatkan kipas angin di dekat bambu-bambu tersebut.

Proses distribusi panas dalam bangunan pengeringan tenaga surya dilakukan dengan menggunakan inhaust fan dengan jumlah dan ukuran data disesuaikan dengan luas ruangan. Ruangan dengan kapasitas bambu basah 3 m3 memerlukan 2 buah kipas angin dengan daya masing-masing 1 PK (HP) dan putaran 1.600 RPM. Suplai energi untuk malam hari atau pada saat cuaca mendung/berhujan dapat berasal dari tungku limbah kayu atau tungku bakar dengan bahan bakar minyak tanah/solar.

2. Pengawetan

Pengawetan merupakan suatu cara untuk meningkatkan daya tahan bambu terhadap serangan hama penyakit dan memperpanjang masa pakainya. Secara tradisional, masyarakat telah lama melakukan pengawetan bambu dengan cara merendamnya di dalam air mengalir, air tergenang, lumpur atau di air laut, dan/atau pelaburan dengan kapur atau kotoran sapi.

Proses pengawetan dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan metode rendaman dingin dan metode boucheri. Dengan metode rendaman, bambu dapat diawetkan dengan cara disusun menghampar atau berdiri. Beberapa bahan kimia yang dapat dipakai untuk proses rendaman dingin antara lain pestisida, boron 3%, larutan asam borat dan boraks 10%, larutan Wolmanit CB 10%, Koppers F7 5%, dan lain-lain. Batang bambu yang telah dibelah pada umumnya akan menyerap bahan pengawet lebih baik daripada bambu utuh. Bambu yang direndam dengan posisi tegak berdiri pada bagian pangkal batangnya dapat dikuliti sepanjang 10 cm untuk memperluas permukaan dan batang yang sudah dikuliti segera dimasukkan ke dalam larutan pengawet.

Lama pengawetan bambu dengan metode rendaman umumnya berkisar antara 1 hari – 7 hari tergantung dari jenis bambu yang diolah dan apabila bambu diletakkan horisontal. Apabila bambu direndam dengan posisi vertikal, lama rendaman yang menghasilkan penetrasi tertinggi sekitar 4 minggu. Umumnya absorpsi bahan pengawet akan meningkat seiring dengan bertambahnya waktu rendaman.

Metode pengawetan boucheri dilakukan dengan memberikan bahan pengawet pada bagian bawah batang bambu segar yang masih berdiri serta tidak memotong daun dan ranting bambu. Dengan demikian, proses asimilasi dan penyerapan bahan makanan tetap berlangsung. Bahan pengawet yang digunakan antara lain boraks dengan konsentrasi 5%. Dengan cara boucheri, diperoleh informasi bahwa bambu andong lebih mudah diawetkan dibandingkan dengan bambu tali.

3. Stabilisasi warna

Sesuai permintaan, kadang-kadang bambu perlu diputihkan atau dijaga agar warna hijau kulit bambu tetap bertahan lama. Untuk pemutihan warna kulit bambu, dapat digunakan larutan hidrogen peroksida (H2O2); sedangkan untuk mengawetkan warna hijau kulit bambu dapat digunakan campuran larutan terusi dan nikel sulfat serta dikeringkan selama 14 hari – 28 hari.

Selain digunakan sebagai bahan konstruksi dan barang kerajinan, dari bambu dapat pula dihasilkan beberapa produk inovatif seperti bambu lamina dan pulp. Bambu lamina diperoleh dari belahanbelahan bambu yang direkat ke arah samping dan vertikal. Jenis bambu yang telah diteliti oleh Sulastiningsih et al. (1998) untuk pembuatan bambu lamina adalah bambu andong (Gigantochloa arundinaceae) dengan macam perekat yang digunakan adalah urea formaldehida. Menurut Sulastiningsih et al. (1996), kerapatan, keteguhan lentur, dan keteguhan tekan bambu lamina dapat disejajarkan dengan kayu kelas kuat II.

Menurut Krisdianto et al. (2000), bambu memiliki kandungan selulosa yang cocok untuk dijadikan bahan kertas dan rayon. Bambu yang dapat digunakan antara lain bambu duri, bambu paring, bambu popop, dan bambu banoa. Dalam pemanfaatan bambu menjadi bahan kertas, kendala yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku bambu sehingga dalam proses pembuatan pulp acapkali dicampur dengan jenis-jenis kayu seperti jabon dan kemiri (Krisdianto et al., 2000).

IV. KESIMPULAN

Budidaya tanaman rotan umumnya dilakukan secara generatif atau menggunakan biji. Di sisi lain, budidaya bambu justru umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik vegetatif seperti stek rimpang, batang, dan cabang.

Pengolahan rotan cukup kompleks karena telah dilakukan mulai rotan dipanen di dalam hutan. Langkah-langkah utama dalam mengolah rotan di industri meliputi penggorengan, pencucian/penggosokan, penjemuran, dan pengasapan untuk memperoleh rotan kualitas WS (washed and sulphurized). Pengawetan, pembengkokan, pelurusan maupun pemutihan merupakan kegiatan pengolahan yang umumnya dilakukan sesuai kebutuhan industri atau permintaan konsumen. Peningkatan kualitas bambu dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan pengeringan serta pengawetan. Stabilisasi warna bambu juga dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan kimiawi.

DAFTAR PUSTAKA

Alrasjid, H. 1989. Teknik Penanaman Rotan. Informasi Teknis No. 1. Pusat Litbang Hutan. Bogor.

Anonim. 2003. Budidaya Rotan. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta.

Januminro, CFM. 2000. Rotan Indonesia. Kanisius. Yogyakarta. Jasni. 1992. Cara Pengolahan Rotan dan Pencegahan Serangan Organisme pada Rotan di Semarang dan Sekitarnya. Prosiding Pengembangan Bioteknologi, LIPI. Bogor.

Jasni, D. Martono dan N. Supriana. 2000. Sari Hasil Penelitian Rotan. Dalam Sari Hasil Penelitian Rotan dan Bambu. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Krisdianto, G. Sumarni dan A. Ismanto. 2000. Sari Hasil Penelitian Bambu. Dalam Sari Hasil Penelitian Rotan dan Bambu. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Krisdianto dan Jasni. 2006. Pelengkungan dalam Industri Pengolahan Rotan. Info Hasil Hutan 12 (1). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Novriyanti, E. dan E. Nurrohman. 2005. Pembuatan Stek Cabang Bambu dengan Penambahan Hormon Tumbuh. Info Hutan II (4):249-260. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Rachman, O. 1984. Pengaruh Kondisi Penggorengan Terhadap Kualitas Rotan Manau (Calamus manan). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 1 (4). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Rachman, O. 1990. Pedoman Penggorengan Rotan 2 (2). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Rachman, O. dan A. Santoso. 1996. Pengupasan dan Pengeringan Bahan Baku Rotan Segar. Laporan Proyek Penelitian. Puslitbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.

Rachman, O., S. Harjo dan M. Suwirman. 1997. Perbaikan Teknik Pelengkungan
Rotan melalui Perendaman dengan Larutan Dimetil Sulfoksida. Buletin Penelitian Hasil Hutan 15 (4). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Rachman, O., E. Basri dan D. Martono. 2000. Pedoman Pengolahan Rotan Lepas Panen. Perum Perhutani. Jakarta

Rachman, O. dan H. Hermawan. 2005. Pedoman Penggorengan Rotan : Suatu Cara Menghasilkan Rotan Mutu Prima. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Sulastiningsih, I. M., N. Hadjib dan P. Sutigno. 1996. Pengaruh Jumlah Lapisan terhadap Sifat Bambu Lamina. Buletin Penelitian Hasil Hutan 14 (9). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Sulastiningsih, I. M., A. Santoso dan T. Yuwono. 1998. Effect of Position Along The Culm and Number of Preservative Brushing on Physical and Mechanical Properties of Laminated Bamboo. The 4th Pacific Rim Bio-based Composites Symposium.

Sumadiwangsa, S. dan D. Setyawan. 2001. Konsepsi Strategi Penelitian Hasil Hutan Bukan Kayu di Indonesia. Buletin Penelitian Hasil Hutan 2 (2). Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Sutiyono. 1995. Percobaan Stek Batang Enam Jenis Bambu Gigantochloa sebagai Bahan Tanaman. Buletin Penelitian Hutan 596 : 29-32. Puslitbang Hutan. Bogor.

Sutiyono, Hendromono, M. Wardani dan I. Sukardi. 1999. Teknik Budidaya Tanaman Bambu. Info Hutan 114. Puslitbang Hutan. Bogor.

Yuniarti, K. dan E. Basri. 2005. Rekayasa Alat Kontrol Suhu dan Kelembaban untuk Bangunan Pengeringan Kombinasi Tenaga Surya dan Panas Tungku. Laporan Hasil Penelitian. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: