Departemen Kehutanan

PETUNJUK TEKNIS PEMBIBITAN BAMBU

Lampiran Keputusan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Nomor : 77/Kpts/V/1997 tanggal 28 Juli 1997 tentang Petunjuk Teknis Pembibitan Bambu 

Sumber:http://www.indonesianforest.com/ 

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Bambu sebagai hasil hutan bukan kayu telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat. Pada awalnya pemanfaatan bambu masih tradisional dan terbatas seperti untuk rumah tangga, kerajinan, penunjang kegiatan pertanian, perikanan, perkebunan, perumahan dan lain-lain yang kebutuhannya masih dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Tetapi dengan perkembangan penduduk dan kemajuan pembangunan, pemanfatan bambu sudah memerlukan teknologi yang menghasilkan produk-produk seperti pulp dan kertas, sumpit (chopstick), flowerstick dan papan semen serat bambu.

Dimasa akan datang dimungkinkan sebagai subsitusi kayu seperti playbambo dan bambo particleboard. Produk-produk yang sudah ditangani dengan teknologi memerlukan bahan baku dalam jumlah besar dan lestari. Kebutuhan bambu yang besar tersebut tidak mampu dipenuhi oleh dua sumber bambu saat ini yaitu hutan bambu dan bambu rakyat. Oleh karena itu untuk menunjang kebutuhan bahan baku industri bambu diperlukan pengembangan tanaman bambu dengan konsekuensinya diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak.

Selama ini pengetahuan budidaya bambu oleh masyarakat masih terbatas pada pemilikan, penebangan dan pemeliharaan karena tanamannya merupakan warisan turun temurun. Pengembangan bambu membutuhkan bibit dalam jumlah banyak dan oleh karena itu, untuk memeproduksi bibit bambu yang baik diperlukan petunjuk teknis pembibitan bambu.

B. Pengertian

Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan :

1. Bambu adalah bambu jenis Bambusa vulgaris, Dendrocalamus asper, Gigantochloa pseudoarundinacea dan Gigantochloa robusta.

2. Bedeng tabur adalah bedeng untuk menabur biji atau menanam stek cabang, stek batang, atau stek rhizom.

3. Bedeng sapih adalah bedeng tempat pemeliharaan bibit bambu.

4. Persemain permanen adalah persemaian menetap untuk memproduksi bibit bambu sepanjang musim

5. Persemain musiman adalah persemain untuk memperoduksi bibit bambu hanya pada musim hujan.

6. Benih adalah bahan tanaman untuk dikembangbiakkan baik berupa bagian-bagian generatif (biji) maupun vegetatif (stek).

7. Biji adalah benih yang diperoleh dari tegakan bambu yang berbungan

8. Stek cabang adalah benih yang berasal dari batang.

9. Stek batang adalah benih yang berasal dari batang.

10. Stek rhizom adalah benih yang berasal dari rhizom.

C. Penjelasan umum

1. Bambu tergolong keluarga (famili) Gramineae atau rumput-rumputan berumpun yang terdiri dari beberapa batang (buluh).

2. Batang bambu bentuknya silindris, berbuku-buku, beruas-ruas yang berongga atau kadang masif, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang.

3. Cabang bambu bentuknya silindris, berbuku-buku, beruas-ruas yang berongga atau kadang masif, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau ranting.

4. Ranting bambu silidris, berbuku-buku, beruas-ruas yang berongga atau kadang masif, berdinding keras, pada setiap buku terdapat tangkai dan helai daun yang keras.

5. Tegakan rumpun bambu mempunyai daur (umur) tertentu dan sebelum mengakhiri, buku cabang akan mengeluarkan bunga yang akan menghasilkan biji.

6. Bunga bambu tersusun majemuk, bagian ujung bunga terdiri dari 1 lema, 1 palea, 3 lodikala, 3 atau 6 benang sari dan 1 bakal buah dengan 1 atau 3 kepala putik. Pembungaan tidak teratur, bunga yang muncul sering tidak menghasilkan biji.

7. Akar bambu terdiri dari rhizom (rimpang) yang berbuku-buku dan beruas-ruas, tanpa rongga atau masif. Pada buku akar ditumbuhi akar-akaran serabut dan tunas yang dapat tumbuh menjadi batang.

8. Berdasarkan percabangan rizhomnya terdapat 3 tipe bambu yaitu simpodial (pakimort), monopodial (leptomort) dan intermediate.

9. Tipe simpodial mempunyai pertumbuhan tunas rhizom mendatar, membentuk ruas pendek-pendek kemudian muncul ke permukaan tanah dan ujungnya tumbuh ke atas menjadi batang.

10. Tipe monopodial mempunyai pertumbuhan tunas rhizom mendatar membentuk ruas panjang-panjang dan pada beberapa buku ruas akan tumbuh hanya satu tunas yang menjadi batang.

11. Tipe intermediate mempunyai pertumbuhan tunas rhizom seperti pada monopodial tetapi setiap beberapa ruas tumbuh tunas lebih dari satu.

12. Didunia terdapat lebih dari 1250 jenis bambu yang berasal dari 75 marga. Dari jumlah tersebut di Indonesia terdapat 39 jenis yang berasal dari 8 marga yaitu Bambusa 8 jenis, Dendrocalamus 3 jenis, Dinochloa 1 jenis, Gigantochloa 15 jenis, Nastus 1 jenis, Schizostachyum 9 jenis, Phyllosstachys 1 jenis dan Thyrostachys 1 jenis. Daftar jenis-jenis bambu Indonesia dapat dilihat pada lampiran 1.

13. Pada umumnya jenis-jenis yang diperdagangkan adalah jenis-jenis bambu yang berdiameter besar dan berdinding tebal. Jenis-jenis tersebut adalah Bambusa bambos, Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Dendrocalamus asper, Dendrocalamus latiflorus, Gigantochloa apus, Gigantochloa atter, Gigantochloa atroviolacea, Gigantochloa levis, Gigantochloa pseudoarundinacea, Gigantochloa robusta, Gigantochloa manggong dan Gigantochloa schortechniil.

14. Dari jenis-jenis tersebut, 5 jenis berpotensi dibudidayakan secara massal untuk menunjang industri kertas, chopstick, flowerstick, playbamboo, particleboard dan papan semen serat bambu. Jenis-jenis tersebut adalah Bambosa vulgaris, Dendrocalamus asper, Gigantochloa levis, Gigantochloa pseudoarundinacea dan Gigantochloa robusta.

D. Maksud dan tujuan

Maksud penyusunan petunjuk teknis pembibitan bambu adalah sebagai acuan perencana dan pelaksana pembibitan bambu di lapangan. Sedangkan tujuannya adalah untuk membuat dan memproduksi bibit bambu berkualitas.

E. Ruang lingkup

Petunjuk teknis pembibitan bambu, ruang lingkupnya terdiri dari ;

1. Aspek teknis yaitu penentuan lokasi, pembersihan lapangan, pengadaan sarana dan prasarana, dan perencanaan.

2. Proses produksi bibit bambu jenis :

a. Bambusa vulgaris (bambu ampel, bambu kuning);

b. Dendrocalamus asper (bambu petung, bambu bitung);

c. Gigantochloa levis (bambu peting);

d. Gigantochloa pseudoarundinacea (bambu andong, bambu gondong, bambu surat);

e. Gigantochloa robusta (bambu mayan, bambu serit)

3. Benih (bahan tanaman) yang digunakan untuk memproduksi bibit :

1. Biji;

2. Stek cabang;

4. Stek batang;

4.  Stek rhizom;

4. Kapasitas produksi bibit dan standar kegiatan

II. PEMBUATAN PERSEMAIAN

A. Penentuan lokasi

Lokasi persemaian bambu di pilih daerah yang tidak mempunyai perubahan iklim yang menyolok. Hal ini disebabkan bambu sebagian besar dibiakkan dengan stek yang tidak tahan terhadap perubahan suhu dan kelembaban udara. Untuk itu lokasi pembibitan paling tidak mempunyai tipe iklim A dan B dan terletak di tempat-tempat yang tinggi. Dilokasi seperti ini dapat dibuat tempat persemain bambu permanen yang akan memproduksi bibit sepanjang musim. Sementara itu lokasi pembibitan paling tidak mempunyai tipe iklim A dan B dan terletak di tempat-tempat yang tinggi. Di lokasi seperti ini dapat dibuat tempat persemaian bambu permanen yang akan memproduksi bibit sepanjang musim. Sementara itu di lokasi yang bertipe iklim C atau D, persemaian bambu hanya dapat dilakukan selama musim hujan.

Setelah ditentukan lokasi persemaian, selanjutnya dipertimbangkan persyaratan tempat pembibitan yaitu :

1. Topografi datar, kemiringan < 5%;
2. Mempunyai iklim mikro yang selalu basah, tiupan angin tidak menyebabkan kekeringan;
3. Dekat sumber air yang mampu menyediakan air sepanjang musim karena bibit bambu memerlukan penyiraman terus-menerus. Sumber air dapat berasal dari sungai, mata air atau sumur artesis;
4. Untuk persemaian musiman diusahakan dekat tempat penanaman agar mudah memindahkan bibit ke lapangan penanaman.

B. Pembersihan lapangan

Lapangan tempat persemain harus dibersihkan dari semak dan tonggak-tonggak pohon pengganggu. Setelah bersih, lapangan dicangkul sedalam 30 – 40 cm dan dibebaskan dari batu atau sisa-sisa akar tumbuh-tumbuhan serta bongkahan-bongkahan tanah. Kegiatan selanjutnya adalah membuat jalan kontrol dengan lebar paling sedikit 1 (satu) meter membelah tengah-tengah areal atau menurut keadaan. Demikian juga harus dibuat saluran pembuangan air agar areal persemaian bebas dari banjir dan genangan air. Bibit bambu yang tergenang air terlalu lama, akar-akarnya akan busuk dan menyebabkan kematian.

C. Pengadaan sarana dan prasarana

1. Pembuatan batas dan pagar

Tempat persemain yang terpilih harus ditentukan batas-batasnya dan dipagar. Untuk itu perlu pemancangan batas dengan pal-pal kayu atau batang bambu. Tinggi pal 2,5 meter dan bagian atasnya dicat merah setinggi 0,75 meter. Jarak antara pal satu dengan lainnya 50 meter atau tergantung dari kebutuhan. Gambar situasi tempat persemaian dibuat untuk memudahkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Setelah pal-pal batas dipasang, dilanjutkan dengan pemagaran untuk memudahkan pengawasan dan pengamanan dari gangguan. Gangguan yang biasa timbul adalah masuknya hewan gembalaan seperti sapi, kambing atau kerbau yang menyukai daun bambu muda. Bahan pagar dapat terbuat dari kayu, batang bambu atau pagar hidup dari jenis tanaman lamtoro yang ditanam rapat.

2. Pembuatan gubug kerja

Gubuk kerja dibuat sebagai tempat berteduh, perencanaan kegiatan dan penyelesaian urusan administrasi. Dalam gubuk kerja perlu dilengkapi meja, kursi, lemari dan lain-lain termasuk perlengkapan dapur. Tempat ini selain berfungsi untuk menyelesasikan pekerjaan persemaian juga dapat berfungsi sebagai tempat mengatur pekerjaan penanaman di lapangan. Selain gubug kerja, dibuat pula tempat penyimpanan pupuk terutama pupuk kandang, obat-obatan dan lain-lain. Tempat ini sebaiknya terpisah dengan gubuk kerja agar pekerjaan tidak terganggu oleh bau yang tidak enak dari pupuk atau obat-obatan.

3. Bahan dan alat

a. Media

Media untuk persemain bambu dapat terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 7 : 3. Tanah untuk campuran media harus dihancurkan dan diayak untuk menghilangkan sisa-sisa akar, kerikil dan tanah keras. Media selain tanah yang dapat digunakan adalah gambut atau akar pakis dengan campuran sekam padi dan pupuk kandang dengan perbandingan 7 : 2 : 1.

b. Kantong plastik hitam (polybag) atau wadah/pot

Polybag harus diberi beberapa lubang di bagian bawahnya dan terdiri dari 4 (empat) ukuran tergantung dari jenis benih yang digunakan yaitu :

  • Benih dari biji, ukuran 10 x 15 cm;
  • Benih dari stek cabang, ukuran 20 x 20 cm;
  • Benih dari stek batang, ukuran 30 x 30 cm;
  • Benih dari stek rhizom, ukuran 50 x 50 cm;

Pot yang berfungsi sebagai wadah bibit selain polybag dapat digunakan potray atau polytube dengan ukuran sesuai kebutuhan.

c. Lain-lain

Peralatan lain-lain yang harus disediakan dalam pembibitan bambu adalah cangkul, parang, kampak, tali/meteran, kored, pipa plastik (slang), embrad, sprinkler otomatis, batang bambu atau kaso dan paranet. Cangkul, parang, kampak, tali/meteran digunakan untuk persiapan pembuatan bedeng tabur, bedeng sapih dan membuat stek. Kored untuk penyiangan, pipa plastik (slang), embrad dan sprinkler untuk penyiraman. Batang-batang bambu atau kaso dan paranet digunakan untuk membuat konstruksi bedeng persemaian.

D. Perencanaan

Tempat persemaian bambu dirancang terdiri dari 60-70 persen untuk bedeng tabur dan bedeng sapih sisanya 30-40 persen untuk keperluan lain seperti jalan kontrol, selokan, gubuk kerja, gudang dan bak persediaan air. Luas areal persemain harus disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang akan diproduksi untuk penanaman di lapangan. Persemaian bambu dapat bersifat sementara/musiman atau permanen tergantung tujuan menghasilkan bibit. Untuk tujuan memproduksi bibit secara massal dan terus menerus yang di komersilkan maka sifat persemaiannya adalah persemaian permanen. Sedangkan untuk tujuan memproduksi bibit sendiri berskala kecil, sifat persemaiannya adalah persemaian sementara. Persemaian permanen bambu dapat memproduksi bibit 2 kali lebih banyak dibanding persemaian sementara. Hal ini disebabkan untuk pembuatan bibit bambu hanya memerlukan waktu paling lama 6 bulan sudah tanam.

III. PEMBUATAN BIBIT

A. Pengadaan benih

1. Biji 

Pengadaan benih bambu berasal biji relatif sulit karena bambu jarang berbunga, berbuah atau berbiji. Tetapi beberapa jenis bambu yang pernah berbunga atau menghasilkan biji yaitu D. asper (bambu petung), G. pseudoarundinacea (bambu andong) dan G. robusta (bambu mayan). Jika ditemukan tegakan bambu yang berbunga dapat ditunggu 6-7 bulan untuk mendapatkan bijinya. Bunga dan benih bambu dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bunga dan benih bambu

2. Stek cabang

Batang yang diambil cabangnya sebagai stek cabang yaitu yang berumur 2-3 tahun dengan ciri seluruh cabang mengeluarkan ranting dan daun. Pengumpulan dan pengambilan stek dilakukan di musim hujan untuk menghindari penguapan. Caranya batang ditebang kemudian cabang yang dijadikan stek dipisah dari batang. Cabang yang diperoleh dipotong pada ruas ke 1-3 dari pangkal cabang, bagian atas dibuang dan bagian pangkal cabang dijadikan stek. Cabang-cabang yang diperoleh dikumpulkan, diikat dan disimpan di ember berisi air sebelum dibawa di tempat persemaian. Setiap batang bambu dapat diperoleh 12-16 stek tergantung jenis bambu. Stek cabang dari batang bambu dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Stek batang

3. Stek batang

Stek batang diperoleh dari batang yang berumur 2-3 tahun dengan ciri seluruh cabang sudah beranting dan berdaun. Untuk membuat stek, batang ditebang di bagian pangkal, kemudian di potong-potong menjadi stek berukuran panjang 2 buku. Setiap batang dapat diperoleh 8-10 stek batang yang masing-masing terdiri dari 2 mata tunas. Stek yang diperoleh dikumpulkan, diikat dan disimpan di tempat teduh dekat air dan sering disiram. Setelah itu segera dibawa ke tempat persemaian untuk di tanam. Stek batang bambu dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Stek batang

4. Stek rhizom (Rhizoma)

Stek rhizoma dibuat dari rhizom yang batang segarnya berumur 2-3 tahun. Caranya, batang ditebang setinggi 2-3 ruas, kemudian bagian pangkal digali sampai ditemukan rhizom dan selanjutnya dipisah dari induk dengan kampak. Stek rhizom yang diperoleh diikat dan dikumpulkan di tempat teduh dan sering disiram air sebelum diangkut ke tempat persemaian. Stek rhizom dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Stek rhizom

B. Penaburan / penanaman dan penyapihan

1. Biji

Benih bambu dari biji di kecambahkan di tempat lembab, dapat dibungkus karung atau kapas. Steleh 1 minggu dibuka dan kecambah yang tumbuh dipindah ke kantong-kantong plastik ukuran 10 x 15 cm yang sudah diisi media. Setelah disemai di kantong plastik, dipelihara di bedeng sapih selama 8 bulan. Bedeng sapih dibuat berukuran lebar 1 meter dan panjang 2-5 meter, diberi atap daun rumbia atau kelapa yang dianyam . Tinggi bedeng bagian depan 1,2 meter, belakang 1 meter dan bagian depan menghadap ke timur. Cara membuat bibit dari biji dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Cara membuat bibit dari biji

2. Stek cabang

Benih dari stek cabang ditanam di bedeng tabur dengan posisi tegak dan jarak tanam 10 x 20 cm. Setelah 3 bulan, stek yang bertunas dan berakar dibongkat kemudian dipindah kekantong plastik berukuran 20 x 20 cm yang sudah diisi media. Setelah itu, bibit dipelihara di bedeng sapih paling lama 4-5 bulan. Bedeng tabur untuk menanam stek cabang berbentuk cangkulan tanah yang digemburkan setinggi 20 cm dengan lebar 1 meter, panjang 2-5 meter dan di sekelilingnya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm dan tidak memerlukan naungan. Bedeng sapih untuk memelihara stek cabang yang sudah menjadi bibit, bentuknya persegi panjang, berukuran lebar 1 meter dan panjang 2-5 meter. Lantai bedeng sapih diturunkan 10 cm lebih rendah sehingga terlihat berbentuk cekungan dan diberi atap datar dari paranet atau anyaman bambu dengan cahaya masuk 50 % dan tingginya 180 cm. Cara membuat bibit dari stek cabang dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Cara membuat bibit dari stek cabang

3. Stek batang

Stek batang sebelum di tanam di bedeng tabur diberi lubang kecil +/- 4-5 kemudian diisi air separuhnya dan ditutup kembali. Bedeng tabur dibuat dengan ukuran lebar 1 meter dan panjang 2-5 meter, dicangkul dan ditinggikan +/- 20 cm dikanan kiri dikelilingi parit sedalam +/- 20 cm dan tanpa naungan. Setelah itu, bagian tengah dibuat liang dengan lebar 60 cm dan panjang 2-4 meter dan dalam +/- 20 cm, stek batang ditanam dengan posisi tidur berjejer dengan jarak antar stek 10 cm dan mata tunas/cabang kesamping. Selanjutnya ditutup tanah galian sampai seluruh permukaan stek tidak kelihatan, disiram tiap hari dan disiangi secara periodik. Setelah 3 bulan, stek cabang yang bertunas dan berakar dibongkar kemudian dipisahkan dari induk stek untuk ditanam di kantong plastik berukuran 20 x 30 cm yang sudah diisi media. Bibit yang sudah dikantongi dipelihara di bedeng sapi, selama 4-5 bulan. Bedeng sapih bentuknya persegi panjang, berukuran lebar 1 meter dan panjang 2-5 meter, lantainya diturunkan 10 cm lebih rendah sehingga terlihat berbentuk cekungan dan diberi atap dari paranet atau anyaman bambu 59 % dengan tinggi atap 180 cm. Cara membuat bibit dari stek batang dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Cara membuat bibit dari stek batang

4. Stek rhizom

Sebelum stek rhizom ditanam, bedeng tabur dibuat lubang tanam berukuran 20 x 20 x 20 cm dan jarak antar lubang 30 x 30 cm. Stek ditanam dengan posisi tegak kemudian diurug tanah dan dipelihara selama 3 bulan. Setelah menjadi bibit, dibongkar dan di pindah ke polybag berukuran 50 x 50 cm yang sudah diisi media. Cara membuat bibit dari stek rhizom dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Cara membuat bibit dari stek rhizom

C. Penggandaan bibit (proliferation)

Sering terjadi penanaman mengalami keterlambatan atau terdapat kelebihan bibit siap tanam. Bibit-bibit tersebut dapat disimpan dan dipelihara di bedeng sapih. Karena mengalami penyimpangan telatif lama (>5 bulan), bibit dalam kantong plastik mulai membentuk rumpun, keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk menggandakan bibit tersebut. Caranya, bibit dibongkar dari kantong plastik, kemudian dibelah/dipisah-pisah sesuai jumlah tunas dan ditanam di beberapa kantong plastik baru yang diisi media dan dipelihara kembali di bedeng sapi. Cara menggandakan bibit bambu dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Cara menggandakan bibit bambu

D. Pemeliharaan

1. Penyiraman 

Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore karena bibit bambu sangat membutuhkan air untuk pertumbuhan. Cara penyiraman dengan embrad atau slang-slang yang di alirkan air atau penyiraman otomatis dengan sprinkler.

2. Penyiangan 

Penyiangan persemaian bambu ditujukan untuk mengendalikan gulma yang umumnya rumput dan perdu dan dilakukan secara terus menerus dan rotasi. Penyiangan tidak terbatas di tempat persemaian tetapi juga di jalan-jalan kontrol untuk mendapatkan lingkungan yang bersih. Cara penyiangan dengan kored atau dicabut dengan tangan dan hasil siangan dikumpulkan di lubang sampah yang dapat dijadikan pupuk kompos. Dihindari penyiangan dengan herbisida karena bambu merupakan famili sejenis dengan rumput.

3. Pembersihan tempat persemaian. 

Pembersihan tempat persemaian bambu ditujukan untuk pemeliharaan atap bedeng sapih. Pada umumnya, di atap bedeng sapih secara periodik terkumpul rontokan daun dari pohon-pohon pelindung sekitar tempat persemaian. Kegiatan ini dapat dilakukan bersama-sama dengan kegiatan penyiraman atau penyiangan.

IV. KAPASITAS PRODUKSI BIBIT DAN STANDAR KEGIATAN

A. Kapasitas produksi bibit

Kapasitas produksi bibit tergantung dari benih yang digunakan. Benih dari biji memerlukan bedeng tabur ukuran kecil dan biji yang sudah berkecambah disapih di kantong plastik kecil sehingga kapasitasnya menjadi besar. Sementara itu, penggunaan benih dari stek cabang, stek batang dan stek rhizom mempengaruhi ukuran kantong plastik yang akan digunakan. Oleh karena itu, kapasitas produksi bibit bambu yang paling besar setelah biji yaitu stek cabang, stek batang dan paling sedikit stek rhizom seperti ditunjukkan Tabel 1.

 

B. Standar kegiatan

1. Membuat bibit bambu dari stek cabang

Pembuatan bibit bambu dengan stek cabang dilakukan untuk jenis-jenis B. vulgaris, D. asper dan G. Levis.

2. Membuat bibit bambu dari stek batang

Pembuatan bibit bambu dengan stek batang dilakukan untuk jenis-jenis G. pseudoarundinacea dan G. robusta. Dalam areal persemaian seluas 1 (satu) ha terdiri dari bedeng tabur 3.500 m2, bedeng sapih 3.500 m2, dan utnk lain-lain 3.000 m2. Standar volume kegiatan dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut :

V. PENUTUP

Dalam pembibitan bambu, pertama-tama harus diperhatikan jenis bambunya, karena jenis bambu berkaitan erat dengan benih yang akan digunakan. Setelah itu, yang harus diperhatikan adalah umur batang bambu yang akan diambil benihnya (biji, stek cabang, stek batang dan stek rhizom).

Setelah menjadi bibit dan ditanam di bedeng tabur, harus dilakukan pemeliharaan intensif terutama penyiraman. Bibit-bibit yang tumbuh segera dipindah sudah diisi media dan dipelihara di bedeng sapih. Seperti di bedeng tabur maka di bedeng sapih diperihara intensif terutama penyiraman. Jangan membiarkan bibit bambu berlama-lama (> 12 bulan) di tempat persemaian karena akan berumpun dan menambah biaya perawatan. Oleh karena itu, bibit yang di produksi harus sesuai dengan kebutuhan.

Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 28 Juli 1997
——————————

DIREKTUR JENDERAL

ttd.

HENDARSUN SURYASANUSIPUTRA
NIP. 080017396

disalin sesuai aslinya
http://www.indonesianforest.com

Sumber :
Lampiran Keputusan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Nomor : 77/Kpts/V/1997 tanggal 28 Juli 1997 tentang
petunjuk teknis pembibitan bambu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: