Bambu Ampel

Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland

Sumber: http://www.proseanet.org/  

Spesies : Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland

Nama Inggris : Common bamboo

Nama Indonesia : Bambu kuning (berumpun kuning), bambu ampel (berumpun hijau)

Nama Lokal : Domar (Ambon)

Deskripsi :

Rumpun tegak, tinggi 10 – 20 m, diameter 4 – 10 cm, permukaan batang hijau mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45 cm, permukaan batang berambut hitam dan dilapisi lilin putih ketika muda dan berangsur-angsur menjadi halus tak berambut dan mengkilap; nodus tenggelam. Cabang-cabang muncul dari nodus tengah dan atas dari rumpun. Selubung rumpun berbentuk segitiga lebar; daun lurus, berbentuk segitiga lebar (broadly triangular), panjang 4-5 cm dan lebar 5-6 cm, ujung daun meruncing, berambut pada kedua permukaan daun dan di tepi-tepi daun; panjang ligula 3 mm, bergerigi.

Distribusi/Penyebaran :

Bambusa vulgaris merupakan tumbuhan yang berasal dari Dunia Lama, khususnya dari kawasan Asia tropis. Jenis ini diyakini sebagai bambu yang paling banyak dibudidayakan di seluruh penjuru kawasan tropis dan sub-tropis. Di kawasan Asia Tenggara, bambu jenis ini banyak dibudidayakan, sering dijumpai di desa- desa, di pinggir-pinggir sungai, dan sebagai tanaman ornamnetal di perkotaan.

Habitat :

Bambusa vulgaris dapat dijumpai tumbuh di seluruh kawasan pantropikal, pada ketinggian di atas permukaan laut hingga 1200 m dpl. Bambusa ini tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan kondisi kelembapan udara dan tipe tanah yang luas. Di Asia Tenggara, tumbuhan berumpun hijau ini telah tumbuh luas secara alami di tepi-tepi sungai, di pinggir jalan, dan di tanah-tanah lapang. Di Semenanjung Malaysia, Bambusa vulgaris tetap dapat tumbuh baik di lahan-lahan terdegradasi yang mengandung timah.

Perbanyakan :

Bambusa vulgaris dapat diperbanyak dengan menggunakan rhizoma, stek rumpun atau cabang, cangkok dan kultur jaringan. Stek rhizoma yang diambil dari rumpun berusia 1 – 2 tahun selalu memberikan hasil bagus. Cara termudah dan sering dilakukan adalah stek rumpun atau cabang. Umumnya, rumpun yang akan di stek adalah rumpun yang tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua. Penanaman pada akhir periode musim hujan dianjurkan, dengan jarak penanaman 6-12 m x 6-12 m.

Manfaat tumbuhan :

Seperti bambu lainnya, Bambusa vulgaris dapat digunakan sebagai bahan bangunan, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran air dan berbagai peralatan rumah tangga. Selain itu, tunas mudanya (rebung) dapat dimakan serta dapat digunakan sebagai obat liver atau hepatitis. Rumpun bambu mempunyai potensi dalam melestarikan lingkungan; pertumbuhannya cepat dan akarnya mampu mengawetkan tanah dan mengurangi erosi.

Sinonim :

Bambusa thouarsii Kunth (1822), Bambusa surinamensis Ruprecht (1839), Leleba vulgaris (Schrader ex Wendland) Nakai (1933).

Sumber Prosea :

7: Bamboos p.74-78 (author(s): S. Dransfield & E. A. Widjaja)

Kategori :

Tumbuhan perintis/reklamasi

Bambu Ampel (Bambusa vulgaris)

Download file: kea_bambu_ampel_bambusa_vulgaris 

Klasifikasi :

Kingdom :     Plantae (Tumbuhan)
Divisi :  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Klas :   Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo :  Poales
Famili :  Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus :  Bambusa
Spesies :    Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C

Nama Daerah :

Jawa : Bambu ampel, awi ampel (Sunda), pring ampel (Banyuwangi); Pereng ampef (Madura)

Bali : Tiing ampel

Maluku : Domar (Ambon) Aulote (Halmahera) Ampel kuning (Ternate

NT : Tereng dendeng (Sasak)

Sulawesi  : Taaki (Minahasa) Gading (Makasar) Awo logading (Bugis)

Sinonim : Bambusa thouarsii Kunth (1822), Bambusa surinamensis Ruprecht (1839), Leleba vulgaris (Schrader ex Wendland) Nakai (1933).

Perawakan

Tegak tidak terlalu rapat.

Buluh & Percabangan

Buluh : Buluh muda hijau mengkilat atau kuning bergaris hijau. Panjang buluh mencapai 25-45 cm, diameter 5-10 cm, tebal 7 -15 mm

Percabangan : Percabangan 1,5 diatas permukaan tanah setiap ruas terdiri 2 – 5 cabang, termasuk Un equal

Daun, Pelepah Buluh & Rebung

Daun : gundul, berseting, berpelepah, kuping pelepah buluh kecil, lanset, ujung meruncing, tepi rata, pangkal membulat, panjang 15-27 cm, lebar 2-3 cm, pertulangan sejajar, hijau

Pelepah buluh : Mudah luruh tertutup bulu hitam dan coklat, kuping pelepah buluh membulat dengan ujung melengkung keluar

Rebung : Berwarna kuning atau hijau tertutup bulu coklat hingga hitam

Sebaran :

Dunia

Bambusa vulgaris merupakan tumbuhan yang berasal dari Dunia Lama, khususnya dari kawasan Asia tropis. Jenis ini diyakini sebagai bambu yang paling banyak dibudidayakan di seluruh penjuru kawasan tropis dan sub-tropis. Di kawasan Asia Tenggara, bambu jenis ini banyak dibudidayakan, sering dijumpai di desa- desa, di pinggir-pinggir sungai, dan sebagai tanaman ornamnetal di perkotaan.

Kawasan TNAP :

Ditemukan diblok Pancur

Manfaat :

Seperti bambu lainnya, Bambusa vulgaris dapat digunakan sebagai bahan bangunan rumah, pondok, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran air, alat peraga, mebel dan berbagai peralatan rumah tangga serta sebagai bahan baku untuk pulp kertas. Selain itu, tunas mudanya (rebung) dapat dimakan serta dapat digunakan sebagai obat liver atau hepatitis/sakit kuning dan obat bengkak. Rumpun bambu mempunyai potensi dalam melestarikan lingkungan; pertumbuhannya cepat dan akarnya mampu mengawetkan tanah dan mengurangi erosi. Daun dari Bambusa vulgaris ini biasanya digunakan sebagai obat penurun panas dan agen sudorific. Sedangkan getahnya untuk mengobati demam dan hematuria.

Penelitian :

Umum

  • Dewi, Syukria, 2001. “Sifat Fisis-Mekanis Papan Semen Partikel Bambu Ampel (Bambusa vulgaris Schrad): Pengaruh Macam Larutan Perendam dan Kadar Semen”. Institut Pertanian Bogor, Bogor
  • Purnobasuki, H., 1998. “Studi struktur serat Bambusa vulgaris Schrad. sebagai dasar pengembangan untuk bahan pembuatan kertas”. Universitas Airlangga, Surabaya
  • Koffi, N. et.al., 2009. “Hypotensive Effect of Aqueous Extract of Bambusa Vulgaris Sheets on the Arterial Pressure of Rabbits”. American Journal of Scientific Research ISSN 1450-223X Issue 2 (2009), pp.60-72
  • Sekyere, D , 1994. “Potential of bamboo (Bambusa vulgaris) as a source of raw material for pulp and paper in Ghana”. Ghana Journal of Forestry 1:49-56
  • Azizl, Sandra A., 1997. “Pengaruh Jumlah Buku dan Takaran Pupuk Kandang Ayam Terhadap Keberhasilan Pindah Tanam Setek Cabang Bambu Ampel Hijau (Bambusa vulgaris) Dari Kultur Air Kelapa”. Jurnal Agronomi Indonesia, Vol 25 (3) 15-19 (1997)
  • I N.S. Miwada, I. M. Wirapartha dan I. N. Wirayasa, 2008. “Kualitas Susu Sapi Terfermentasi Dalam Bambu Ampel Dengan Penambahan Lactobacillus bulgaricus Dan Streptococcus thermophilus”. Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar

TNAP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: