M. Charomaini Z, dkk

PRODUKTTVITAS BATANG/ REBUNG KLON BAMBU PETUNG DARI BERBAGAI ASAL PROPAGUL DI DAS SERAYU OPAK PROGO

Tim Peneliti:  Ir. M. Charomaini Z, Ir. Ari  Fiani, MSc., Dra. Yelnititis, M.Si.

Download file: 444  

PENDAHULUAN

Tanaman bambu termasuk dalam keluarga rumput-rumputan. Ukuran yang besar dan model pertumbuhannya yang berbeda dengan pohon hutan pada umumnya menyebabkan jenis ini mempunyai ciri khas tersendiri untuk pemanfaatannya.  Banyak jenis bambu yang ditemui di Indonesia sangat besar manfaatnya, salah satunya adalah bambu petung (Dendrocalamus asper).

Balai Besar PeneJitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta telah membangun kebun konservasi bambu petung di KHDTK Sumberwringin, Bondowoso.  Rumpun bambu petung yang ditanam di kebun konservasi Sumberwringin, Bondowoso sudah berumur lebih dari 5 tahun. Jumlah batang dalam rumpun sebagian besar sudah terlalu rapat (Gam bar 1.) sehingga perlu perlakuan penjarangan. Penjarangan yang dimaksudkan adalah mengurangi jumlah batang supaya tercipta ruang hidup yang lebih luas dalam rumpun sehingga tidak mendorong berkembangnya hama dan penyakit, yang merugikan pertumbuhan rebung dan batang. Keuntungan lain dari penjarangan adalah pemanfaatan batang hasil penjarangan sebagai bahan baku arang bambu yang bemilai ekonomi tinggi. Nilai porositas batang yang tinggi menyebabkan batang bambu mampu digunakan sebagai bahan baku arang nano yang bernilai komersial tinggi sebagai bahan baku industri modem baju, dan bahan sanitasi. Pemanfaatan lain adalah dengan cara mengambil batang yang berumur tidak terlalu tua, untuk bahan propagul stek.

Persen keberhasilan pembibitan bambu petung khususnya masih sangat rendah. Dari pengalaman, pembibitan cara stek atau makro hanya mencapai persen keberhasilan sekitar 50% bahkan kurang sehingga dibutuhkan bahan propagul dalam jumlah banyak dan teknik propagasi yang memungkinkan keberhasilan tinggi.  Diketahui harga bambu petung per batang cukup tinggi, Rp 25.000,-sampai Rp 40.000,-sehingga ini merupakan tantangan lain dalam penyediaan bahan stek. Teknik perbanyakan mikro kultur jaringan  juga belum banyak berhasil dalam memproduksi plantlet dalam jumlah banyak. Hal ini berkaitan dengan metode, campuran (kombinasi hormon dan substansi kimiawi lain) yang diaplikasikan pada materi kultur yang sesuai untuk memproduksi plantlet atau tanaman mini yang lengkap. Semua kegiatan tersebut adalah tantangan untuk keberhasilan dalam memproduksi stek bambu petung sebagai bahan tanaman sebelum ditanam ke lapangan

TINJAUAN PUSTAKA

Bambu petung (Dendrocalamus asper) termasuk dalam famili Bambusoidae, merupakan jenis yang dianggap memenuhi syarat untuk keperluan penanaman di daerah aliran sungai (DAS). Di samping sebagai penghasil batang maka rebung bambu atau tunas batang muda yang merupakan sayuran bertekstur khas, sangat disukai masyarakat Asia, Eropa maupun Amerika. Petani di Cina menyatakan bahwa penanaman rimpang atau akar bambu Ma (Dendrocalamlls latiflorus) menguntungkan berlipat ganda karena rebungnya bernilai jual tinggi (Dedolph, 2003). Di Indonesia, Malaysia, rebung bambu petung sangat disukai karena rasa dan ukurannya yang relatif besar (Mohamed, 1992). Selain rebung, arang bambu juga dapat digunakan sebagai sumber energi (bioenergi) yang bemilai kalor lebih tinggi dari jenis tanaman hutan seperti Ekaliptus. Penelitian di Eropa menunjukkan bahwa dampak sosial ekonomi yang dihasilkan bambu bernilai sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar fosil (Gielis).

Perbanyakan cara klonal stek batang dikombinasi dengan cara proliferasi telah dilakukan di Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta (Charomaini 2004). Cara proliferasi adalah pelipatgandaan jumlah batang melalui pemisahan batang beserta akar rimpang pada bibit hasil dari stek maupun dari benih (biji). ) Biji sulit diperoleh sehingga digunakan cara stek dan perbanyakan proliferasi merupakan kombinasi yang bagus untuk pelipatgandaan jumlah bibit. Di lndia, proliferasi bibit asal biji berhasil dilakukan dengan cara memisahkan batang muda dan rimpangnya (Kumar, 1990).

Dendrocalamus latiflorus di Indonesia sebagian peneliti menyebut sebagai bambu Taiwan. Jenis ini telah ditanam di Kaliurang dan berkembang baik pertumbuhannya. Kalau umumnya bambu sulit berbiji, diketahui jenis ini suatu saat berbiji dan menghasilkan anakan yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetatif  (Sutiyono,2010).

Cara kultur jaringan dapat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak meskipun dibutuhkan biaya besar dan waktu lama untuk mendapatkan komposisi hormon atau campuran nutrisi yang sesuai. India sebagai negara penghasil bambu terbesar di Asia telah berhasil melakukan perbanyakan bibit bambu menggunakan teknik kultur jaringan pada jenis Dendrocalamlls strictus, Bambusa arundinacea dan B. vulgaris (Nadgir et a1. 1984)

III. TUJUAN DAN MANFAAT

a. Tujuan dad kegiatan penelHian ini adalah:
I. Mencari dengan cara seleksi, famili atau rumpun yang produktif menghasilkan batang dalam jumlah banyak per rumpun, batang berukuran besar dan relatif tahan dari serangan hama dan penyakit. Produktivitas rebung akan berkaitan dengan produktivitas batang dengan memperhatikan kualitas lingkungan seperti kelembaban yang berkaitan dengan kerapatan batang dan sanitasi lingkungan rumpun
2.
Mencari teknik propagasi/ perbanyakan stek dan kultur jaringan yang dapat menghasilkan bibit dalam Jumlah banyak dalam waktu singkat
3.
Menanam bibit hasil perbanyakan stek ke lapangan/ areal DAS Serayu Opak P rogo.
h.
Manfaat dari kegiat.an penelitian ini adalah:
Diperolehnya teknik propagasi/ perbanyakan stek dan kultur jaringan yang dapat menghasilkan bibit banyak dalam waktu singkat.
2.
Diketahuinya rumpun/ famili yang produktif di Japangan yang menghas ilkan rumpun dalam ukuran dan jumlah yang besar sehingga dapat m mproduksi rebung banyak dan berukl.lran besar yang akan berpengaruh pada penghasilan masyarakat sekitar karena batang yang dapat dipanen dari hasil penjarangan dan rebung yang dlpanen dari pengelolaan rumpun yang benar.
3
3.
Penurunan tingkat erosi lahan kritis DAS dengan adanya penanaman rumpllo bambu jenis petung dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar karen a rebung dan batang yang dihasilkan.
IV. METODOLOGI
Beberapa teknikl metode akan digunakan dalam usaha lIntuk mendapatkan bibit dalamjumlah banyak an tara lain adalah
4.1. Metode Pl’opagasi Makl’o Stek Batang Cara pertama adalah metode propagasi makro stek batang berrnata tunas satu. Cara kedua dengan menggunakan dua buku tunas dan diisi air eli antara bukunya, ini diharapkan lebih tinggi persen jadinya daripada cara pertama karena ada jaminan kelembaban pada batang stek. Cara menanam stek batang bermata tunas dua, diisi air di antara buku tunas dapat ditanam el i persemaian atau ditanam langsung eli \apangan tanaman.
4.2. Metode Propagasi Mikl’o Kultur Jal’ingan
4.2.1. Bahan tanaman Bahan tanaman yang akan digunakan dalam kegiatan ini diambil dari Bonelowoso. Bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan ada!ah tunas atau potongan batang yang masih muda.
4.2.2. Bahan kimia • -kandungan hara makro dan mikro dari media MS -Zat pengatur tumbuh BA dan kinetin dengan beberapa konsentrasi. -Vitamin yaitu myo-inositol, glysine, asam nikotin dan lain-lain.
4.2.3. Bahan pembantu •
-alkohol, bayclin, NaOH, He!, alumunium foil, cling wrap, sukrosa, agar, tween 20, deterjen, fungisida, betadine dan lain-lain.
4
4.2.4. Pel”alatan
-Gunting stek, cutter, parang, gergaj i, plastik, ice box, tali, label dan
… lain-lam. Metode kultur jaringan lebih mmit dan memerlukan waktu relatif lama terutama untuk mendapatkan teknik terbaik dalam menghasilkan plantlet dalam jumlah banyak, yang meliputi perbandingan kandungan honnon dan penanganan yang memerlukan keahlian dan kebersihan penanganan serta laboratorium kultur yang memadai.
4.3. P.’osedul’ kegiatan Kegiatan penelitian terdiri dari : Kegiatan di laboratorium meliputi persiapan bahan kim ia, pembuatan larutan stok, pencucian dan sterilisasi bahan dan alat, pembuatan media, sterilisasi media, sterilisasi dan penanaman eksplan pada media tumbuh dan pemeliharaan serta pengamatan kultur. Kegiatan di pesemaian berupa pengisian polibag, penanaman stek tanaman sebagai sumber eksplan dan pemeJiharaannya. Kegiatan di lapangan mencakup pemilihan rumpun produktif (jumlah batang banyak), seleksi batang sehat dan pengambilan stekl tunas sebagai sumber eksplan. Penelitian ini akan diarahkan kepada perbanyakan melalui pembentukan tunas adventif Adapun proses perbanyakan melalui tunas adventif adalah sebagai berikut: 4.3,1. Induksi tunas Eksplan ditanam dalam media dasar yaitu !>viS. Perlakuan yang diuji adalah BAP dengan beberapa konsentrasi dan tanpa zat pengatur tumbuh sebagai kontrol. Selanjutnya eksplan yang tumbuh baik pada tahap induksi akan disubkultur pada media terbaik sampai jumJah mencukupi selajlltnya diberikan perlakllan untuk tahapan perbanyakan.
5
4.3.2. Perbanyakan tunas.
Perlakuan yang diberikan adalah penambaban BAP pada beberapa konsentra-si zat pengatur tumbuh yang berbeda.
4.3.3. Perakaran Perlakuan yang diuji adalah penambahan zat pengatur tumbuh IAA atau IBA dengan beberapa konsentrasi pada media MS.
4.3.4. Aklimatisasi Aklimatisasi dilakukan di rumah kaca dengan menggunakan m dla tanah dicampur pupuk kandang.
d. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 kali ulangan. Parameter yang diamati pada ta11apan perbanyakan adalah persentase tumbuh, jumlah tunas yang terbentuk dan penampakan biakan secara visual. Pada tahap perakaran dilakukan pengamatan terhadap waktu inisiasi akar dan persentase perakaran serta isual akar yang terbentuk Sedangkan pada tahap aklimatisasi plantlet dilakukan pengamatan terhadap persentase hidup serta visual tanaman sampai beberapa bulan.
e. Analisa Data
Data hasil pengamatan dianalisa dengan analisis sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan akan dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT).
v. BASIL DAN PEl\’mAHA.SAN
5.1. Kegiatan pel’sL:’lpan dan eksplo.·asi bahan propagul stek dan kultur jal’ingan
Bulan Februari dilakukan kegiatan persiapan penelitian yang umum dilakukan dengan melakukan studi pus taka mengenai bambu dan persiapan fisik persemaian pembibitan untuk propagasi stek bambu di Yogyakarta. Kegiatan meliputi pembersihan lahan dari semak dan rumput serta perapihan bed eng persemaian
6

pembibitan, penYlapan polibag plastik sebagai tempat stek yang akan ditanam langsung dalam media dalam polibag. Pembersihan dilakukan seeara manual mekanis tidak menggunakan herbisida untuk menghmdari kerusakan lingkungan.
Kegiatan bulan Maret meliputi kegiatan penyiapan media tanah sebagai bahan isian polibag untuk penanaman stek Jangsung dalam polibag. Polibag dlpersiapkan dengan membeli daTi toko pertanian. Media tanah dipersiapkan dengan mengambil bagian topsoil, kemudian menyaring sehingga batu besar tidak terikut Akar rumput dan gulma juga dibuang agar memperingan pekerjaan perawatan bibit stek setelah tumbuh dari gangguan rumput dan gulma
Penyiapan bedeng pembibitan dengan mengisi tanah sekitar tebal 10 em sebagai media pertumbuhan stek. Tanah menggunakan topsoil dengan membersihkan dari akar rumput dan gulma agar memperingan pekerjaan perawatan stek di bedeng pembibitan.
Kegiatan bulan April meliputi orientasi lokasi rump un bambu di sekitar Yogyakarta yang dimungkinkan menjadi lokasi sumber bibit untuk dieksplorasi. Penyiapan lokasi pembibitan dengan menambah naungan paranet 60% untuk memperteduh lingkungan stek agar membantu persen keberhasilan tumbuh stek. Paranet disamping sebagai bahan peneduh bedeng, juga dapat berfungsi uotuk menghindarkan dari kontaminasi jamur patogen dari tanaman di sekitar bedeng pembibitan.
Mulai bulan Mei dan seterusnya sampai dengan bulan September 2010 dilakukan kegiatan tahap ke il, meliputi penyiapan bedeng propagasi dan bedeng pembibitan untuk propagasi makro dan mikro (kultur jaringan). Kegiatan dilakukan d i Y ogyakarta.
Bulan Juni 2010, dilakukan pembabadan, pembersihan lokasi bedeng dari gulma, penyiapan media tanah, pasir untuk biak makro dan kultur jaringan Kegiatan ini dilakukan di Yogyakarta dan persemaian Kaliurang (Kultur Jaringan).
Bulan Juli 2010, dliakukan penyiapan polibag, pengisian, pencampuran media tanah, pasir dalam polibag untuk biak makro dan pembuatan campuran konsentrat ZPT dan bahan lain untuk kultur jaringan. Kegiatan ini dilakukan di persemaian Yogyakarta dan di laboratorium kultur jaringan di Kaliurang
7

Bulan Agustus 2010, dilakukan penyiapan nomor, kode, disain penanaman, penggalian lubang tanam untuk penanaman stek batang dan penyiapan ballan kimia, 2PT dan perubuatan media kultur janngan. Kegiatan dilakukan di persemaian Yogyakarta dan laboratorium kultur Jaringan di Kaliurang Kegiatan pengumpulan propagul vegetatif bahan stek batang (kegiatan biak makro) dilakukan dengan pengumpulan batang di Bondowoso, dan Boyolali. Untuk bahan biak mikro (Kultur jaringan), bahan propagul dikumpulkan dari Temanggung dan Klaten, Jawa Tengah. Bahan propagul ditumbuhkan (cabang dan tunas cabang) unruk diambi1 eksplantnya untuk dikultur pada media agar.
Bulan September 2010 dilakukan penyiapan, pengetriman cabang stek dan penanaman stek batang, penanaman bahan eksplant kultur jaringan ke dalam tabung media kultur. Penyemaian stek batang dilakukan di Yogyakarta (Purwobillangun) sedangkan penanaman eksplan kultur Jaringan dilakukan di laboratorium kultur jaringan Kaliurang, Yogyakarta.
Bulan Oktober 2010 dilakukan pekerjaan perawatan stek batang dan pengamatan pertumbuhan. PekeIjaan tersebut dilakukan pada pekeIjaan propagasi vegetatif dan propagasi mikro kultur Janngan. Di persemaian, dilakukan pembersihan guima, penyiraman dan pemberantasan hama dan penyakit, pengamatan pertumbuhan, dan pertambahan batang pada setiap bonggol rumpun. Di laboratorium kultur jaringan, dilakukan pengamatan, perkembangan eksplan dalam media kultur.
Bulan November 2010 dilakukan penanaman bibit asal stek dan penanaman langsung stek batang ke lapangan tanaman. Di lokasi Kabupaten Banyumas (Desa Pekuncen, Jatilawang) ditanam bibit asal stek yang sudah siap tanam dan pada 2 lokasi lain yaitu DAS Kulon Progo dan Sleman, akan ditanam stek batang langsung ke lapangan untuk membandingkan kemampuan bibit asal stek di persemaian dan di lapangan
5.2. Pengumpulan bahan propagul stek dan bahan kultur jariogan
Dari kegiatan di lapangan berupa pengambilan bahan tanaman yang dilakukan di Bondowoso, Jawa Timur diperoleh hasil berupa stek sebanyak 165 dari 6 klon.
8
Dari pengamatan yang dilakukan di pesemaian tunas muda diamati mulai sepuluh han setelah ditanam. Dari 165 stek yang ditumbuhkan baru 50 stek yang dapat membentuk tnnas atau sekitar 30 % Tunas muda yang diperoleh digunakan sebagai eksplan untuk tahapan selanjutnya. Dan dari tunas-tunas yang dihasilkan tidak semuanya dapat digunakan sebagai eksplan. Sampai saat ini jumlah eksplan yang diperoleh dan ditumbuhkan pada media tumbuh bam sebanyak 35 eksplan.
Kegiatan di laboratonum sampai saat ini belum banyak yang dapat dilaporkan karena baru berjalan beberapa waktu. Kegiatan di laboratorium diawali dengan pengambilan stek dan dan jeda waktu menunggu tunas yang dihasilkan dati setek tersebut setelah diturnbuhkan di pesemaian dan tunas tumbuh tidak pada saat yang sarna.
Bulan Mei dimulai kegiatan eksplorasl ke lokasi sumber propagul vegetatif di Bondowoso. Kebun konservasi bambu petung di Bondowoso berisi rumpun dari 17 populasi rump un bambu petung yang tumbuh di Jawa. Sehingga kebun ini merupakan kebun konservasi genetik bambu petung yang cukup memadai untuk sumber bibit asal stek untuk pengembangan pertanaman.
Kegiatan yang dilakukan di Bondowoso, Jawa Timur adalah pemotonganl penebangan batang bambu petung (Dendrocalamus asper) di Bondowoso yang memenuhi syarat untuk bahan stek batang. Batang bambu dipilih yang berumur tidak terIalu muda dan tidak terIalu tua. Dmur batang sekitar 1,5 -2 tahun. Batang dipotong menggunakan kapak dan gergaji kemudian ditarik keluar dari mmpun (gambar 2.).
9
-
.
Gambar 1. Kerapatan batang yang tinggi dalam satu Gambar 2 Pemilihan batang sebagai bahan stek dan perumpun bambu dewasa. narikan batang keluar dari rumpun setelah dlpotong
Karena pertumbuhan batang muda berada atau tumbuh di bagian luar atau tepi rumpun sedangkan yang lebih tua berada di bagian tengah sehingga umumnya ekstraksi batang agak sulit atall memakan waktu dan tenaga. Batang yang dipil ih harus sesuai untuk bahan stek, umur yang ditentukan tidak lebih dari dua tahun. Umumnya batang tersebut mempunyai tanda-tanda sebagai berikut
1.
Batang belWama alami, bersih, hijau agak keputihan, belum ditumbuhi jamur pad a pemlukaan batang.
2.
Masih banyak mengandung cabang dan mata tunas pad a setiap buku ruas batang.
3.
Pelepah yang menutupi tunas pad a buku ruas sudah luruh.
4.
Meskipun beberapa ruas batang bag ian bawah sudah tidak mengandung mata tunas tetapi bagian tengah dan atas masih dijumpai banyak tunas dan cabang.
Batang kemudian dipotong-potong menggunakan gergaji kayu atau parang pada ruas batang, menyisakan tunas cabang sebagai ballan stek. Cabang yang tumbuh panjang beserta daun dibuang atau dipotong menyisakan satu mata tunas pada setiap cabang (Gambar 3a dan 3b).
10
Gambar 3a. Pemotongan batang menjadi bagian-bagian Gambar 3b. Batang sudah terpotong sesliai ukuran yang lebih keeil Pemotongan batang stek dilakukan pada sekitar 5 em di bagian kin dan kanan buku ruas batang Dengan eara ini, pengangkutan bahan stek menjadi lebih mudah, jumlah lebih banyak daripada mengangkut batang berukuran panjang. Propagul tersebut dimasukkan dalam karung plastik (Gam bar 4) dan disiram air setiap saat untuk menghindari pengeringanl penguapan. Bahan stek ini harus selalu dalam keadaan segar sehingga harus selalu disiram atau disemprot air menggunakan sprayer. Propagul selalu diperiksa agar tidak kering karena waktu pengangkutan yang terlalu lama
Gambar 4. Potongan batang bambu bahan stek dimasllkGambar 5. Propagul diJetakkan mendatar daJam bedeng kan dalam karung plastik, siap diangkut. kemudian ditutup tanah.
1 1
• ‘>
Gambar 6. Mengeillarkan batang dari rumplln Gambar7. Memotong batang menjadi 2 bllkll tunas
Gambar 8, Potongan batang 2 buhl tunas sebagai propagul Gambar 9, Perlu alat angkut sepeda motor karena stek batang dimensi bambu petung besar
Gambar 10. Batang dikelompokkan per rumpun sebelum Gambar 11. Penanaman stek batang bam bu petung masuk ke kendaraan pengangkut
12

·
Gam bar 12. Batang muda terserang penyakit (iamur) Gambar 13. Batang terserang jam ur (mati) masih berdiri dalam rumpun
Gam bar 14. Selainjalllur, penggerek batang juga Gambar 15. Ruas batang melllendek karena serangan Illenyerang bambu petung penggerek batang
Sampai di persemaian pembibitan stek, batang diturunkan dan diangkut ke dekat bedeng propagasi, diletakkan dalam tempat teduh. Tanah media yang dlpersiapkan sebelumnya kemudian diisikan ke dalam bedeng dengan tebal sekitar
13

15 em secara merata di bedeng stek (Gam bar 5). Stek batang kemudian diletakkan seeara mendatar dengan mata tunas menghadap ke atas. Stek kemudian ditutup kembali denga1’l tanah setebal batang dan mata tuna . Penutupan tanah tidak boleh terlalu tebal agar mempercepat muneu lnya tunas cabang atau tunas bonggol
Penyiraman dilakukan setiap hari dua kali. pagi sekitar jam 7.00 -9.00 dan sore jam 4.00 -6.00. Penyiraman berlebih Uenuh) dilakukan pada awal penanaman stek dan semakin dikurangi pada hari berikutnya Untuk menghindari kekurangan atau keterlambatan penyiraman, disediakan drum air di persemaian dan penyiraman dapat dilakukan menggunakan gembor secara merata.
Penyemprotan minggu pertarna menggunakan larutan Rootone-F dengan maksud menghindarkan stek dari jamur penyakit dan membantu merangsang pertumbuhan akar stek Penyemprotan minggu berikut menggunakan pestis ida ketika daun tunas sudah mulai tumbuh banyak dengan maksud menghindarkan daun dari hama belalang
Setelah satu minggu ditanam, stek mulai bertunas, tunas cabang muncul dari setiap buku cabang dan batang rneskipun tunas dorrnan pada buku batang belum terlihat tumbuh (Gambar 6).
Pekerjaan pengumpulan propagul batang di Temanggung, Jawa Tengah dilakukan dengan cara yang sarna dengan pengumpulan propagul batang di Bondowoso. Dikumpulkan propagul dari 5 rumpun bambu, dari masing-masing rumpun dipotong 2 batang bambu. Dari setiap batang diperoleh sekitar 12 -15 propagul. Sehingga diperoleh total sekitar 120 -150 propagul bahan stek batang bambu petung. Propagul diangkut dan disemail ditanam di persemaian pembibitan di Y ogyakarta.
5.2. Pertumbuhan Stek di Persemaian Daun mulai muncul setelah stek ditanam berumur 1 minggu. Meskipun daun tumbuh tetapi ini belum menandakan keberhasilan pertumbuhan akar sehingga belum dapat dikatakan stek berhasil menjadi bibit Untuk menumbuhkan akar, diperlukan waktu sekitar 1 -2 bulan. Untuk kultur jaringan diperlukan waktu lebih lama untuk penumbuhan akar, di samping terkadang terjadi kegagalan sewaktu
14
.
·
memindahkan bahan kultur dari media penllmbllh pertama ke media penllmbuh akar.
A B Gambar 16 A dan B . Bibit asaJ slek slldah disapu1 dan ditumbllhkan dalam polibag
A B Gambar 17 A dan B. Bibil asaJ sIck masih ditumbuhkan dalam bedeng persemaian
5.3. Pe”banyakanl Pelipatgandaan Bibit di Persemaian Perbanyakan batang dengan cara pemisahan batang akan dilakukan setelah akar terbentuk sempurna sehingga jumlah bibit dapat dilipat gandakan. Meskipun demikian, diperlukan perawatan karena masih harus ditanam dalam polibag selama satu bulan sebelum ditanam ke lapangan. Apabila waktu tidak memungkinkan
15
tetapi intensitas hujan sudah mulai besar (bulan Desember) maka penanaman stek
cara batang berbuku 2 dengan ditsi air dt an tara buku ruas, dan penanaman setelah
pemisahan lapangan.
bcttang
di
persemaian,
dapat
dilakukan penanaman langsung ke
5.4. Hasil kegiatan kultur jaa-ingan Dari kegiatan
di
laboratorium
sampai
saat
ini
belum
banyak
yang
dapat
dilaporkan karena barn berjalan beberapa waktu. Kegiatan di laboratorium diawa i dengan pengambilan stek dan dan jeda waktu menunggu tunas yang dihasilkan dari setek tersebut setelah ditumbuhkan di pesemaian dan tunas tumbuh tidak pada saat yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapatkan eksplan seperti pada gambar 7 yang steril sangat sulit dan membutuhkan suatu teknik yang sangat cermat karena eksplan diambil dari daerah yang dekat dengan permukaan tanah.
16
.~
·
A B
Gambar 19 A dan B. Dua tipe eksplan yang berbeda
Gambar 20. Stek batang sudah berakar. Tunas Gambar 21. Tunas cabang ditanam pada media kultur agar. sebagai bahan tanaman kultur jaringan
A B
17
c D Gambar 22. A. Eksplan batang satu buku. B,C dan D Tunas dari perlakuan Bl\ UI11ur 28 hari.
Eksplan yang dihlmbuhkan pad a media agar memberikan r spon mulai 4 hari setelah dikulturkan. Pertumbuhan eksplan diawali dengan pemanjangan (Gam bar 7) dan t r1ihat tumbuh segar.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1.
Sampai dengan saat ini, bibit sudah siap tanam untuk keperluan penanaman di DAS Banyumas. Dntuk DAS Progo dan Opak, masih diperlukan waktu agar bibit siap tanam ke lapangan, meskIpun akan di akukan juga penanaman stek langsLLng ke lapangan.
2.
Perbanyakan / pelipatgandaan bibit dengan cara proliferasi atau pemisahan batang dapat dilakukan setelah akar terbentuk sempuma.
3.
Perbanyakan vegetatif dengan cara kultur jaringan masih memerlukan waktu untuk keberhasilan menjadi calon tanaman.
Sar’an-saran
1.
Untuk perbanyakan dengan kedlla cara, makro (stek) dan kultur jaringan tersebut, disarankan untuk memperbanyak bahan atau materi genetik untuk pembibitan karena kedlla cara perbanyakan tersebut termasuk sulit menghasilkan persen keberhasilan tinggi Temtama kultur jaringan.
18

2.
Bambu petllng merupakan bambu yang bentkuran besar yang diminati masyarakat sehingga perbanyakan lIntuk pembibitan hams dilakukall dengan skala besar untuk keblltuhall pemcrsyarakatan bambu petung untuk ketahanan pangan dan penghasil energi terbarukan bemilai tinggi
19
DAFTAR PUSTAKA
Dedolph, C 2003. Ma Bamboo (Dendrocalamlls latijl017JS). Soil Saver Income Raiser. In. INB~ ews 10 (2).
Mohamed, Hj Azmy.1992. Potensi Rebung Buluh dl Malaysia Institute Penyelidikan Perhutanan Malaysia (FRIM). Kepong, K uala Lumpur.
Gieiis, J. Future Possibilities for Bamboo in European Agriculture. Opnnt Plant. Rijkevorsel.
Charomami, M. 2004. Pembangunan Kebun Konservasi Bambu Pettmg dJ Sumberwringin, Bondowoso. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman R utan. Y ogyakarta.
Nadgir, A.L.; Phadke; C H. Gupta, P.K ; Parsharami, V A.; Nair, Sand Mascarenhas, A.F, 1984. Rapid Multiplication of Bamboo by Tissue Culture. Silvae Genetica. 33 (6): 219-223.
Kumar, A. 1990. Technology for Mass Propagation of Bamboo Developed. Tree Breeding and Propagation News 2 (2). Vivekana.ndan (ed)
Sutiyono, 2010. Dendrocalamlls latiflol7ls atau Bambu Taiwan di Kaliurang. Komunikasi personal 2010.
20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: