Bagai Aur dengan Tebing

May 29, 2012

Ketika berkunjung ke Indonesia dan berpidato di Istana Merdeka Jakarta pada 9 November  2010,  Presiden Barack Obama menggambarkan hubungan Amerika Serikat dan Indonesia, dengan mengutip peribahasa: “bagai aur dengan  tebing“. Dan, ternyata, peribahasa sejenis juga dikenal di dunia Barat, sebagaimana dikutip juga oleh Obama: “Like the bamboo and the river bank“. (http://www.whitehouse.gov/)

Bambu dengan tebing atau bambu dengan sempadan sungai memang merupakan realitas lanskap, tidak hanya di Indonesia, tapi di banyak tempat di dunia. Dari makna harfiah peribahasa ini, maka seharusnya ada dorongan yang kuat untuk memanfaatkan bambu dalam mengkonservasi lahan-lahan miring (tebing-tebing). Kita juga harus mempertahankan vegetasi bambu yang memang menjadi vegetasi khas di sempadan-sempadan sungai.

Secara maknawi, pepatah itu menggambarkan hubungan yang sedemikian erat antara satu dengan yang lain sehingga melahirkan sikap saling membantu, tolong menolong. Sikap itulah yang akan membangun modal sosial.

Dalam konteks Indonesia, bambu dan nusantara merupakan hal yang tak terpisahkan. Boleh dikata, hampir semua orang Indonesia pernah bersentuhan dengan bambu dalam perjalanan hidupnya. Dua dasawarsa yang lalu, ketika Departemen Perindustrian meminta daerah-daerah mengirimkan produk-produk  kerajinan, 80% daerah di Indonesia mengirimkan produk kerajinan dari bambu.

Kini, dengan usaha berbagai pihak, bambu tidak lagi menjadi produk pinggiran. Pemanfaatan bambu tidak lagi hanya menjadi dinding rumah warga pra sejahtera, tapi telah menjadi life style yang diidentikan dengan ramah lingkungan. Terakhir, bambu dipakai menjadi casing hand phone dan laptop.