2012: Merajut Bambu Seribu Candi

Latar Belakang Acara 

Sumber: http://bambuseribucandi.wordpress.com/ 17 Maret 2012 

Bangkit Memperbaiki Negeri Bencana

Borobudur bukan hanya lahan industri wisata. Dua tahun yang lalu ia menjadi saksi jerit vulkanik Merapi mengguncang bumi Jawa. Alam Nusantara pun kini tak lagi mau bersahabat. Bahkan di atas bentang tanah air ini, masyarakat Indonesiaikut memberi bukti-nyata. Antar pribadi warga negeri ini, makin gigih saling peras dan tindas dalam keterpecah-belahan. Lengkaplah sudah, Negeri Nusantara yang berfitrah makmur-bersahaja ini menjadi Negeri yang sering dilanda bencana.

Borobudur hanya salah satu saksi ketika bencana demi petaka merajam pertiwi Indonesia. Apakah keadaan dapat diperbaiki? Jawabannya terletak pada keyakinan. Bukankah manusia dan alam adalah biasan kemaha-pemurahan Sang Pencipta? Maka, manusia berketuhanan pasti yakin, bahwa keadaan bisa diperbaiki. Jika ia berketuhanan, ia pasti berperi-kemanusiaan. Hanya manusia berperi-kemanusiaan saja yang tergerak ikut melestarikan kehidupan di ruang hunian sesamanya. Itulah fitrah manusia. Saling-beri, bukan saling-minta.

Borobudur sebagai Titik Awal, Bambu sebagai Material

Mari kita kembali ke fitrah kita masing-masing. Kita mulai dari Borobudur, lambang sekaligus saksi sejarah kemanusiaan lokal-universal. Bagaimana menerapkan dorongan tersebut sesuai dengan sifat-keadaan kekinian dusun-dusun di sekitarBorobudur?

Sepanjang 7 kilometer jalan dari Desa Wanurejo ke Desa Tegalarum, adalah garis lurus menuju Borobudur. Dusun-dusun di kawasan ini adalah dusun petani, peseni (topeng ireng, pitutur-shalawat, batik, patung batu, dan sebagainya), juga perajin dan pasar kerajinan bambu (di Tegalarum). Ada hal yang tampak sepele yang dahulu kala pernah ada, yang sangat perlu dicatat. Di jalur ini, masyarakat selalu menyediakan air minum di kendi untuk para pemakai jalan . Itulah bukti nyata keramah-tamahan Nusantara, bukan hospitality culture rekayasa untuk industri wisata. Kita mengambil jalur tersebut untuk bersama warga setempat, merakit lambang kebangkitan kemanusiaan –berwujud “gapura”, yang bisa saja berupa “instalasi” atau “media ruang” berbahan dasar bambu.

Bukan saja rebung-nya menjadi salah satu bahan lauk Nusantara, tetapi bambu juga material utama peradaban rakyat: alat pertanian, kerajinan, rumah, jembatan, dan lain-lain.

Ketika hutan hampir musnah, bambulah harapan rakyat. Bambu adalah simbol cultural, social, dan eco- sustainability rakyat. Itu sebabnya kita memakai bambu sebagai simbol potensi rakyat. Sebatang bambu mewakili puluhan anak negeri yang peduli, dan jutaan lagi yang menanti, untuk ikut andil memperbaiki pertiwi Nusantara.

Merajut Bambu Seribu Candi
Satu permohonan pada yang Ilahi
Setitik peduli untuk membangun negri
Antara kemanusiaan dan keberdayaan
Tentang kebersamaan dan keberdayaan bersama

Sepuluh ribu bambu mewakili puluhan ribu anak negri yang peduli, dan
Jutaan lagi menanti, ikut andil berdayakan nusantara, Ibu pertiwi
Ingin Indonesia merdeka sekali lagi, bangkit, mandiri dan berjati diri
Bangkitlah Indonesia, wahai ibu nagari, ibu dari segala nagari
Untuk berdaya dan tetap peduli

Gerakan Arsitektur, Merajut Bambu Seribu Candi

Oleh Farida Indriastuti
Foto : dokumentasi Green Architecture

Sumber: http://satulingkar.com/detail/ 27 Maret 2012

Memulai gagasan sederhana tidaklah mudah. Green Architecture mewujudkan ide-ide sederhana tentang keselarasan arsitektur dengan lingkungan sekitarnya. Sebuah kumpulan Green Architecture berlokasi di pulau Bali– sering menggelar diskusi publik dan workshop gratis di Jakarta maupun Bali.

Green Architecture adalah sebuah pendekatan desain arsitektur yang berbasis pada kesadaran, pemahaman hingga tindakan yang meminimalkan efek negatif terhadap manusia, alam dan lingkungan. Hingga mampu mendorong kelangsungan hidup manusia, alam serta lingkungannya. Tak lepas dari keterkaitan konteks sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain-lainnya.

Komunitas digagas oleh Gede Kresna, Rahadiyanto, Adam Fenton dan Nadin Asmarandjani. Pada April 2012, Green Architecture menggelar “Merajut Bambu Seribu Candi” di jalur sepanjang tujuh kilometer, dari desa Wanurejo hingga desa Tegalarum– sejalur dengan keberadaan candi Borobudur di Yogyakarta.

Mengapa mengandalkan bambu sebagai material? Bambu merupakan material utama dalam peradaban rakyat. Digunakan dalam beragam fungsi sebagai alat pertanian, kerajinan, rumah, jembatan dan fungsi-fungsi lainnya. Bahkan bambu muda alias rebung dijadikan sebagai bahan makanan (campuran sayur) khas Nusantara.

Di Jawa, Bali dan daerah lainnya, bambu menjadi penopang hidup manusia. Saat hutan-hutan hampir musnah, bambu menjadi harapan hidup rakyat di berbagai daerah. Bagi Green Architecture, sebatang bambu mewakili puluhan anak negeri yang peduli, bergerak dan andil bagi Nusantara.

Bambu memiliki sifat lentur, mampu bertahan dari cuaca ekstrem sekalipun. Lalu apa hubungannya dengan candi Borobudur? Borobudur dianggap sebagai karya peradaban manusia. Sekaligus menjadi titik awal dan bambu sebagai material.

Bila Borobudur dan deretan stupanya menjadi saksi murka alam seperti pasir vulkanik dari muntahan Gunung Merapi. Karena itu keduanya bertemali; Borobudur dan bambu, perlu dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk peradaban manusia.

Berawal di candi Borobudur, lambang sekaligus saksi sejarah kemanusiaan lokal hingga universal, gerakan para profesional didukung masyarakat yang peduli menggelar kegiatan ini. Gagasan dilontarkan pertama kali oleh maestro tari Suprapto Soeryadarmo, dari Padepokan Lemah Putih, di Solo, Jawa Tengah. Selain orang-orang muda Solo; Paulus Mintarga dari Rempah Rumah Karya. Ide sederhana pun menjalar hingga ke seniman, arsitek, aktifis kampus, akademis seperti Prof. Josef Prijotomo

Sepanjang tujuh kilometer jalan dari desa Wanurejo hingga ke desa Tegalarum, adalah garis lurus menuju Borobudur. Dusun-dusun dikawasan ini dihuni para petani, pengrajin, peseni hingga pasar pengrajin bambu. Maka itu di jalur desa itu akan digelar “Pasar dan Gelar Seni Rakyat” pada 22-29 April 2012. Di jalur yang sama, dulunya masyarakat selalu menyediakan air minum kendi untuk para pengguna jalan. Keramahan dan kebudayaan masyarakat desa yang sangat arif dan patut diteladani.

Rencananya, jalur yang menghubungkan dua desa akan dipasang “instalasi” atau “media ruang” berbahan bambu yang mencitrakan candi– selain membuat gapura yang melambangkan kebangkitan kemanusiaan. Sebelumnya, juga digelar “Workshop Bambu” pada 6-7 April 2012. Bambu merupakan simbol kultural, sosial dan eco-sustainability rakyat.

Workshop bambu akan menghadirkan narasumber ahli bambu lokal dan nasional, selain melibatkan masyarakat sebagai peserta workshop. Begitu juga keikutsertaan para mahasiswa dan dosen, arsitek dan pelaku seni rupa. Meski belum tahap akhir. Kegiatan workshop mengambil tema “Arsitek-Masyarakat Bersenyawa sebagai Pengrajin Ruang”. Kegiatan ini menggabungkan lintas disiplin ilmu; arsitektur, seni rupa, dan pengetahuan lainnya—yang ikut berkontribusi aktif.

Para arsitek yang berpengalaman akan merealisasikan karya instalasi diantaranya: Yori Antar, Budi Purnomo, Yu Sing, Eko Pranowo, Bambang Suprijadi dan MADcahyo. Bergabung pula kalangan akademis seperti Prof. Josef Prijatomo dan DR. Galih W. Pangarsa. Selain para volunteer yang bergabung dan terlibat menyukseskan gelar “Seribu Bambu Seribu Candi”.

Bagi Anda yang tertarik aktifitas kreatif yang menggugah ini, bisa berkontribusi memberikan donasi minimal Rp. 10 ribu (mewakili satu bambu) dan kelipatannya, melalui Bank BCA a/c. 392-0243-141 an. Suprapto Surya Darma (atau) Ir. Paulus Mintarga.

Materi Workshop (09 – 10 April 2012) 

Sumber : http://bambuseribucandi.wordpress.com/13 April 2012

Berikut adalah beberapa materi dari workshop yang bisa didownload

1. Materi Hari Pertama Workshop (09 April 2012)

Pemaparan mengenai materi pengetahuan dasar mengenai bambu oleh Pak Sutopo (ahli bambu lokal)

Pemaparan mengenai pengawetan bambu oleh Sahabat Bambu (Pak Jajang)

Pemaparan mengenai materi sayembara dari Pak Galih Widjil Pangarsa

2. Materi Hari Kedua Workshop (10 April 2012)

Pemaparan mengenai desain bambu oleh Effan Adhiwira

Design review untuk candi pawon dan taman posko, 13 april 2012 

Sumber:http://bambuseribucandi.wordpress.com/   17 April 2012 

Salam semua,

Berikut saya sampaikan reportase hasil kunjungan hari jumat tanggal 13  april supaya bisa menjadi catatan yang lebih jelas. Sepertinya  terpaksa ada intervensi yang agak banyak. Hal ini semata-mata reaksi  dari situasi yang dihadapi di lapangan (pak Paulus barangkali bisa  menjelaskan situasinya dengan lebih rinci). Harus bisa dilaksanakan  semudah mungkin adalah pertimbangan utama, yang bahkan dengan situasi tidak ada tukang atau tenaga ahli sekalipun masih mempunyai peluang untuk dilaksanakan. Hal pertama yang dilakukan haruslah mempersiapkan bahan karena yang didapat bukan bambu yang sudah bersih dari ranting dan bulu bambu. Inipun membutuhkan waktu. Kemudian membersihkan dan treatment lain yang diperlukan. Lalu masih memilah pengelompokan berdasar panjang. Ini bisa memakan beberapa hari. Mendirikan jajaran bambu pun ternyata bukan hal yang mudah untuk orang yang awam dengan bambu.

Detil dari reaksi atas situasi yang ada adalah seperti ini (dengan
gambar terlampir) :

01. Di Candi Pawon, hanya membuat bangku-bangku panjang dari tiga  bambu (bisa dibuat sepanjang mungkin, maksimal 6m) yang bisa dipakai  sebagai tempat duduk yang menonton pertunjukan. Konfigurasinya bisa  bebas, asalkan membentuk ruang panggung dan penonton. Sisa potongan  ujung kecil bisa disusun untuk menutup pagar brc, disandarkan saja,  bisa dicampur juga dengan bambu yang besar karena mungkin jumlahnya  kurang. Pada dasarnya hanya “membersihkan” obyek-obyek kecil didepan  candi, sehingga candi bisa menjadi background utama dengan lebih kuat, sekaligus membuat ruang panggung lebih ter-definisi.

pawon 1
halaman depan candi pawon yang digunakan untuk ruang pertunjukan seni

pawon 2

pawon 3lincak/bangku yang digunakan untuk duduk penonton pertunjukan dan rangkaian potongan pucuk bambu untuk “menghubungkan” candi pawon dan ruang halaman candi pawon

02. Depan Posko. Tempat ini dijadikan titik utama karena beberapa  alasan. Bambu tidak harus diangkut dengan mobil pick-up karena  ternyata membutuhkan waktu bolak-balik yang cukup lama dan tenaga naik  turun yang cukup besar. Jajaran bambu untuk membentuk ruang penonton  dan pertunjukan membelakangi jalan utama dengan jarak 15 cm. Instalasi arsitektur yang sudah dirancang teman-teman yang lain bisa ditaruh dalam dua titik, Kegiatan pertunjukan dan acara lain juga akhirnya   difokuskan dititik ini sekaligus. Hal ini juga karena pada akhirnya kita hanya berinteraksi dengan wilayah RT ini.

posko 1. berada di taman depan posko wanurejo, sebagai ruang selebrasi

posko 2. sebuah celah besar ditujukan tidak menutup sebuah stupa di ujung timur taman


 posko 3. penjor bambu yang memberi batas dan menciptakan ruang dengan bambu, mempertegas rajutan bambu di wanurejo

posko 4
perspektif dilihat dari ujung barat, membentuk sebuah gerbang
dan ada tambahan instalasi arsitektur 1 berupa shelter yang memanfaatkan tiang bendera dan rangkaian bambu
instalasi arsitektur 2 bisa memasang rajutan sisa bambu yang dipasang menggunakan penjor bambu melengkung di atas gerbang

03. Bale Ajar Tegal Arum. Sepertinya belum ada rancangan atau  pemikiran disini. Saya akan usahakan memikirkan sesuatu sebagai backup saja jika sampai selasa nanti belum ada usulan apapun.

[hari Senin 16 april 2012. pak Mad Cahyo kembali meninjau lokasi di desa Tegalarum, dan ada beberapa hal terkait kemungkinan menggunakan sebuah rumah di sebelah mushola yang sudah tidak terpakai. sehingga bambu yang sudah ada bisa dioptimalkan untuk membuat fasilitas lain untuk melengkapi sebuah fungsi balai ajar]

Kira-kira seperti itu reaksi yang ada dari kunjungan kemarin. Mungkin  bisa dijadikan referensi untuk pengambilan-pengambilan keputusan di  lapangan selanjutnya. Hasil briefing yang lebih lengkap mungkin pak  Paulus juga bisa menambahkan jika ada yang belum tersampaikan dalam email ini. Demikian yang bisa saya sampaikan.

Terimakasih,
salam

mamo

Kebersamaan Merajut Bambu Seribu Candi dan Warga Wanurejo 

Sumber: http://bambuseribucandi.wordpress.com/ 22 April 2012

Secara sangat kebetulan, ternyata apa yang disiapkan oleh aktivis merajut bambu seiring sejalan dengan warga Wanurejo yang akan menyelenggarakan event Gelar Budaya pada tanggal 23 Mei 2012. Maka media ruang yang disiapkan merajut bambu secara langsung terestafetkan atau dapat dilanjutkan oleh warga Wanurejo.Persiapan-persiapan untuk keberlanjutan itu terus akan digodhog dan disempurnakan.

Sumbu antara pertigaan Wanurejo yang berupa ruang hijau dan candi pawon mudah-mudahan akan menjadi saksi kebersamaan antara aktivis merajut bambu, yaitu para relawan mahasiswa dan para arsitek, dengan masyarakat Wanurejo.

 

Sementara itu, di ujung yang lain, yaitu di Desa Tegalarum, malam ini Yu Sing dibantu belasan relawan mahasiswa entah mendapat semangat dari mana, mereka memutuskan menyelesaikan media ruang gagasan Yu Sing sampai pagi.

Yang menarik, Yusing “menyembarakan” desain itu di kalangan relawan. Desain yang disepakati bersama, itulah yang dibangun.

Media ruang ini, cukup unik karena memanfaatkan pohon nangka eksisting. Batang-batang bambu dipasang mengelilingi, sehingga membentuk payung. Warga sangat senang melihat rencana ini dan mengusulkan pemanfaatannya untuk tempat bermain anak, untuk bercengkrama, tempat ibu-ibu mengasuh anak dll. Terdapat perubahan besar, semula media ruang itu akan ditempatkan di lahan mushola. Namun, sekarang dibangun di lahan kebun salak yang sudah tidak produktif. Di posko, pukul 21.30 saat ini beberapa relawan memberitakan 20-an warga ikut bersama relawan mahasiswa gotong royong membangun media ruang tersebut.

Hal itu mudah-mudahan terjadi pula di Wanurejo. Tadi sore Eko Prawoto beserta relawan mahasiswa bereksperimen untuk membuat satu jenis instalasi. Entah mengapa ide itu sangat dekat dengan ide Yu Sing. Kedua jenis media ruang ini, akan mulai dilaksanakan besok.

Untuk segala kelancaran dan kemudahan yang telah kami alami, kami yakin sebagian berkat doa anda semua. Terima kasih. Semoga Tuhan membalas dengan yang lebih baik dan melimpah. Untuk relawan yang belum hadir, kegotongroyongan Borobudur menanti anda semua.

Salam Bambu..!!

Merajut bambu, komunitas belajar arsitek muda 

Sumber:  http://bambuseribucandi.wordpress.com/26 April 2012 

Selain mengenal dengan dekat material bambu dan alat-alat konstruksi ikat dan pasak, relawan dari berbagai kampus memanfaatkan malam hari sebagai waktu untuk berbagi pengalaman berarsitektur.

Pada hari senin, 23 April 2012, Sri Suryani alumni ITB lulusan 2012 menyajikan dokumen presentasi sayembara architecture for humanity penataan bantaran sungai di kampung danukusuman, Solo. Di mana dia dianugerahi sebagai pemenang pertama.

Selasa, 24 April 2012, seluruh panitia rapat dengan beberapa LSM, dan warga lokal, sehingga kembali Sri Suryani dimintai bantuan untuk memoderatori diskusi atas 3 video pemenang sayembara penataan kembali sungai missisipi di mineapolis, tahun 2011.

Rabu, 25 April 2012, Mas Yu Sing berbagi tentang pengalamannya dalam kemasan judul arsitektur untuk semua. Pada setiap malam, berlangsung diskusi yang meriah dalam suasana santai dan akrab.

Diskusi bersama Yu Sing

Bagi relawan yang akan datang di borobudur, kami mengimbau untuk berbagi rejeki desain bagus yang dipunyai masing-masing. Kami menunggu, salam bambu!

 Proses treatment bambu sederhana

Sumber:  http://bambuseribucandi.wordpress.com/ 26 April 2012 

Sebelum proses konstruksi dan pembuatan instalasi dilakukan, beberapa bambu ditreatment agar lebih awet untuk beberapa waktu. Treatment yang digunakan di dalam kegiatan ini ada 2 macam, dengan menggunakan larutan boraks dan borik, dan treatment kedua dengan pengolesan minyak dan pembakaran.

Berikut adalah tahap yang dilakukan di dalam proses treatment dengan menggunakan minyak dan pembakaran:

1..Disiapkan campuran bensin dan solar dengan perbandingan 2liter bensin dan 7 liter solar.

2. Lap dibasahi dengan campuran minyak tersebut, kemudian dioleskan pada bambu-bambu yang sudah disiapkan.

Teman-teman volunteer sedang mengolesi bambu dengan campuran bensin dan solar

 3.  Setelah diolesi, bambu dibakar di atas bara api sambil diputar-putar dan dilap dengan kain beberapa kali.

Membakar bambu sekaligus mengolesi bambu

4. Bambu siap digunakan

Bambu yang sudah dibakar dan digunakan untuk instalasi

“Merajut Bambu Seribu Candi”, Mengobarkan Kembali Semangat Berbagi

Oleh: Indra Zaka Permana

Sumber:http://www.ideaonline.co.id/  29 April 2012

Masyarakat, tokoh arsitek, dan mahasiswa arsitektur bersama-sama membangun wadah solusi untuk masyarakat kawasan Borobudur. Kebersamaan menjadi kunci pemaknaan baru pada material lama, bambu.

Nama Candi Borobudur bukan hanya candi tempat wisata. Candi Borobudur merupakan bangunan suci berbukit sebagai peninggalan sejarah agama Buddha Mahayana. Dari prasasti tahun 842 Casparis menyimpulkan bahwa nama lengkap monumen sejarah itu adalah Bhumisambharabhuddhara yang berarti “Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva”. Sosok Candi Borobudur tak hanya menjadi tempat berhubungan dengan Sang Pencipta, tapi juga pembangunannya menjadi solusi mengikat rasa kebersamaan dan semangat berbagi bagi warga di sekitar Bukit Menoreh, Magelang, tempat Borobudur dibangun.

Semangat berbagi, dan saling tenggang rasa, adalah kunci dari semangat memaknai material bambu, yang mulai beralih makna dan nilainya di masyarakat kawasan Candi Borobudur, dan di Indonesia secara umum. Bambu seolah menjadi material murah dan tak bisa diandalkan. Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch. yang menjadi penasihat di acara ini mengatakan, bambu tak banyak dibahas di dunia perkuliahan, padahal bambu adalah tanaman yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat di masa lalu.

Penggagas acara “ Merajut Bambu Seribu Candi”, Galih Widjil Prakarsa mengemukakan, acara ini adalah ajang untuk menjembatani masyarakat, arsitek, dan pemahaman arsitektur yang dimiliki mahasiswa akan pentingnya bambu. Mengapa bambu? Menurut Adi Purnomo, Koordinaor Desain di acara ini dan salah satu tokoh arsitek yang terjun langsung membangun bersama warga, bambu menjadi tumbuhan utama yang tumbuh di sekitar Candi Mendut.

Bambu adalah material yang sangat potensial untuk digali kelebihannya, dan dijadikan pengganti kayu. Memaknai bambu sebagai material utama tak hanya menjadi tugas pemerintah dan arsitek. Masyarakat yang notabene menjadi pengelola kawasan pun bisa menjadi sosok terpenting dalam mengembalikan makna bambu sebagai material yang murah, namun bernilai tinggi. Iwan Suprijanto, Head of Denpasar Experimental Station for Traditional Housing Technology, dari Departemen Pekerjaan Umum mengungkapkan, bambu kini menjadi incaran negara-negara maju. “Jangan sampai kita tertinggal lagi dalam mengembangkan bambu sebagai material paling ramah lingkungan,” ujar Iwan. Ya betul, jangan sampai nasib bambu seperti gas alam Indonesia, atau nasib sumber daya alam lain, yang justru tak memberikan added value maksimal untuk bangsanya sendiri.

Foto: iDEA/Indra Zaka Permana

Baleajar tegalwangi, 10 mei 2012 

Sumber: http://bambuseribucandi.wordpress.com/ 11 Mei 2012 

setelah 29 april…

masih tetap berjalan proses pembangunan baleajar di dusun tegalwangi, tegalarum. desain partisipatif yang dilakukan bersama-sama disempurnakan seiring berjalan waktu dan setelah 29 april, pelaksanaan didampingi mas hairil. berikut foto-foto proses baleajar. berikut apa yang disampaikan mas hairil:

Balai Ajar Tegal Arum per kamis 10 Mei 2012

ada sedikit perubahan pada detail, misalnya seperti yang terlihat pada foto nomor 8, itu kan awalnya langsung diikatkan pada pohon, saya rubah seperti itu dengan alasan teknis saja, meratakan bambu agar nantinya mempermudah pemasangan reng atau bilah…

penjor pada payung bagian depan saya tambahkan lagi agar kesan pembentukan bidang atap lebih terasa…

lalu rencananya payung bagian belakang dijadikan ruang tertutup untuk menggantikan dome yang sebelumnya dibongkar…

lincak yang pada awalnya agak melengkung di bagian belakang diratakan, ini atas saran dari warga, agar duduknya lebih nyaman saja…

Wawancara Khusus dengan Penggagas Even “Merajut Bambu Seribu Candi” 

Sumber: http://bambuseribucandi.wordpress.com/ 18 Mei 2012 

Liputan Khusus oleh tim IDEA da Tabloid Rumah:

Tim iDEA dan RUMAH berkesempatan untuk mewawancari tokoh arsitek penggagas even “Merajut Bambu Seribu Candi” yang berlangsung di sekitar Candi Borobudur, Magelang.

Galih Widjil Pangarsa, Prof. DR. Ir. Josef Prijotomo M.Arch, Adi Purnomo, Paulus Mintarga, dan Yu Sing hadir dalam kesempatan ini. Merekalah yang menggagas dan terjun langsung bersama masyarakat dan mahasiswa, membangun beberapa objek bangunan berbahan dasar bambu.

Bambu direpresentasikan kembali menjadi alat pemersatu, dan material utama yang layak dikembangkan dan dipilih masyarakat. Even ini menjadi “jembatan” yang menyatukan arsitek, mahasiswa, dan masyarakat untuk merasakan manfaat besar gotong-royong, bekerja, dan mencari solusi bersama.

Liputan ini merupakan bagian dari acara “Tour de Architecture” yang sedang dilangsungkan oleh Tim iDEA dan RUMAH. Liputan lengkaptnya bisa dinikmati di http://www.ideaonline.co.id, Majalah iDEA dan Tabloid RUMAH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: