2012: Workshop Bambu: Rekonstruksi Tapak Bumi Village

Buku Panduan Workshop Bambu: Rekonstruksi Tapak Bumi Village, Banten, Juli – September 2012

Sumber: http://indonesianvillage.com/

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kegiatan

“Workshop Bambu : Rekonstruksi Tapak Bumi Village” diselenggarakan sebagai bagian rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Habitat Dunia yang diadakan setiap Senin pertama di bulan Oktober dimana tahun ini mengambil tema “Many Homes, One Community”. Selain itu, workshop bambu ini juga dalam rangka rekontruksi fasilitas yang ada di Tapak Bumi Village Karangantu Serang Banten yang akan menjadi tempat kunjungan peserta seminar internasional tentang Eco Settlement yang diselenggarakan oleh Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum di bulan November 2012. Kegiatan Workshop ini dilaksanakan 2 (dua) tahap, yaitu :

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan ini dilaksanakan dengan cara diskusi dan sharing mengenai bambu yang dipandu oleh para narasumber ahli bambu.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan ini merupakan praktek dari hasil tahap persiapan yang dilaksanakan di lokasi Tapak Bumi Village Karangantu Serang Banten dan dipandu oleh ahli konstruksi bambu.

B. Maksud dan Tujuan

a. Maksud

Workshop Bambu dimaksudkan untuk memberikan pembelajaran kepada seluruh lapisan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang ramah lingkungan dan tersedia melimpah di bumi nusantara ini, yaitu bambu dalam bentuk konstruksi bangunan.

b. Tujuan

Workshop Bambu diselenggarakan dengan harapan bahwa akan timbul pemberdayaan masyarakat untuk memanfaatkan bambu secara baik dan benar sehingga peran masyarakat untuk mengurangi dampak pemanasan global bisa ditingkatkan.

C. Manfaat Pelaksanaan Kegiatan

Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi seluruh lapisan masyarakat tentang bambu dan konstruksinya yang memang sangat jarang sekali diadakan di Indonesia.

II. Penyelenggaraan

1. Tahap Persiapan

a. Waktu dan Tempat

Penyelenggaraan acara workshop akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu-Kamis, 11-12 Juli 2012

Tempat : Kampus UPH Karawaci Tangerang

Hari/Tanggal : Jumat, 13 Juli 2012

Kampus UNTIRTA Serang

2. Tahap Pelaksanaan

Bulan Agustus – September 2012

Tahap pelaksanaan ini merupakan praktek dari hasil tahap persiapan yang dilaksanakan di lokasi Tapak Bumi Village Karangantu Serang Banten dan dipandu oleh ahli konstruksi bambu. Di tahap ini, para peserta secara bergotong royong membangun fasilitas jembatan, menara pandang, gerbang, gubug serba guna, selasar, rumah apung dan tempat makan yang nantinya menjadi pilot project monumental untuk bangunan konstruksi bambu di wilayah pesisir.

III. Peserta

Peserta kegiatan Workshop Bambu adalah :

  1. Masyarakat
  2. Tukang
  3. Mahasiswa/i
  4. Akademisi
  5. Arsitek
  6. Ahli lainnya

IV. Susunan Acara

V. Materi dan Pembicara

a. Prof. Elizabeth Anita Widjaja – Ahli Taksonomi Bambu, Pengenalan Bambu

b. Ir Edhi Sandra Msi, Dosen di Lab Konservasi Tumbuhan, Dep Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fahutan IPB, Bogor; Ahli Fisiologi Tumbuhan dan Kultur jaringan

c. Zulmahdi Darwis, ST. M. Eng., Dosen Teknik Sipil UNTIRTA, Serang – Ahli Laminasi Bambu

d. Ir. Pon S. Purajatnika, IAI, Arsitek Senior, Ketua Kehormatan IAI Jawa Barat – Komunitas Cinta Bambu

e. Purwito, Puskim Bandung – Research Institute for Human Settlements

f. Ir. Yoyo Budiman Mukti [Jalak Harupat], IPB – Enclave Conservation, Pakar Lapangan Pembibitan Bambu

g. Ir. Heru Sutiastomo Hernowo – Arsitek Senior, Ahli Konstruksi Bambu

h. Mastok Setyanto, UKI, ITB – Komunitas Bengkel Hijau, Green Saving, Renewable Energy Potential, Clean Energy Rural Development

i. dan banyak lagi ahli-ahli bambu nusantara yang saat ini masih di konfirmasi.

VI. Tapak Bumi Village

UPDATE JADWAL WORKSHOP BAMBU DAN PETA LOKASI

Sumber: http://indonesianvillage.com/


JADWAL ACARA

A. AKSES KE SANGGAR KREATIF ANAK BANGSA (SKAB) CIPUTAT KOTA TANGSEL

TOL TB SIMATUPANG (JORR)-EXIT LEBAK BULUS CIPUTAT PONDOK INDAH-JALAN IR. H. JUANDA- (ADA SPANDUK WORKSHOP BAMBU)-JALAN LEGOSO- (ADA SPANDUK WORKSHOP BAMBU)-JALAN TARUMANAGARA-LOKASI SKAB DEKAT SMK NUSANTARA

B. AKSES KE AULA KANTOR PELABUHAN KARANGANTU (AKPK) KOTA SERANG

TOL JAKARTA MERAK – EXIT TOL SERANG TIMUR – BELOK KANAN MENUJU BANTEN LAMA – BELOK KIRI MENUJU JALAN BANTEN – PELABUHAN KARANGANTU – LOKASI AKPK (12 KM ARAH UTARA KOTA SERANG)

ANGKUTAN :

1. BUS JURUSAN MERAK BERHENTI DI PATUNG (KEMANG) – NAIK ANGKOT JURUSAN PASAR LAMA – NAIK ANGKOT JURUSAN BANTEN KARANGANTU

2. KERETA API JAKARTA – RANGKASBITUNG NAIK DARI TANAH ABANG TURUN DI STASIUN KARANGANTU – JALAN KAKI/NAIK BECAK MENUJU PELABUHAN KARANGANTU

C. AKSES KE SEKRETARIAT BANTEN CREATIVE COMMUNITY (BCC) – LOKASI PRAKTEK PENGAWETAN BAMBU

TOL JAKARTA MERAK – EXIT TOL SERANG TIMUR – BELOK KANAN MENUJU BANTEN LAMA – BELOK KIRI MENUJU JALAN BANTEN – SEBELUM TEROWONGAN TOL UNYUR BELOK KIRI – IKUTI JALAN KELAPA DUA – LOKASI SEKR. BCC

KONTAK PERSON PANITIA :

1. M. RIDWAN 08179162883

2. OJI MUNTAJI 087871401557

3. FIRDAUS GHOZALI 08179168611

Catatan Hari Pertama

Sumber:  http://indonesianvillage.com 

Sanggar Kreatif Anak Bangsa, Ciputat Rabu, 11 Juli 2012 Workshop Bambu : Rekonstruksi Tapak Bumi Village Pembicara pertama adalah Prof. Elizabeth A. Widjaja. Beliau adalah peneliti LIPI bidang Botani dengan judul materi “Bambu Indonesia, Budi Daya dan Cara Panennya”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Bambu dalam budaya di Indonesia : potong tali pusat, sunatan, perang kemerdekaan/bamboo runcing, budaya Bali untuk penjor, Banten, dalam upacara ngaben.

2. Indonesia memiliki 160 jenis bambu dari 1200 – 1500 jenis bambu dunia, 122 species asli Indonesia, 88 species endemic, 38 species introduksi dan 65 species berpotensi dikembangkan. Dari 160 species, 80 sp tersebar di Sumatra, Java 58 sp, Bali 44 sp, Papua 31 sp, Sulawesi 25 sp, Kalimantan 23 sp, Nusa Tenggara 17 sp dan Maluku 14 sp.

3. Bahan tanam budi daya bambu : biji, cabang, rimpang dan stek.

4. Cara memilih benih bambu : benih baru, bernas, tidak hampa, tidak berjamur dan tidak dimakan bubuk.

5. Memilih stek cabang : rumpun sehat, cabang sehat dan cabang berasal dari batang umur 2.5-4 tahun.

6. Memilih stek batang : rumpun sehat dan subur, tidak sedang berbunga, tidak berpenyakit, rumpun cukup untuk diambil bibitnya.

7. Memilih rimpang : rumpun sehat, buluh berumur 1.5-2.5 tahun, mata tunas segar dan sehat, potongan batang di atas akar, satu ruas, dekat buku-buku.

8. Cara memotong batang bambu yang benar adalah dipotong kira-kira 10 cm dari permukaan tanah, untuk stek cara memotongnya tidak boleh terlalu dekat dengan buku-buku, cara memotong cabang tidak boleh terlalu dekat dengan batang utama.

9. Cara mengangkut bibit : potongan stek di ikat, terlindung dari matahari, direndam di air dengan posisi berdiri, bila jumlah ikatan stek banyak tutup dengan karung goni basah, mengangkat ikatan stek tidak boleh dilempar, jika jaraknya jauh maka ikatan stek harus ditutup dengan karung goni basah.

10. Persiapan lahan persemaian meliputi memilih letak lahan persemaian dan mengukur lahan persemaian.

11. Model lahan persemaian : persemaian dengan membuat saluran parit sekeliling bedengan, penutupan mulsa plastic.

12. Memelihara persemaian : irigasi, penyiangan gulma dan perbaikan guludan.

13. Menyiapkan media tanam : campur tanah dan pasir, berikan kompos atau pupuk organic TSP, KCL, Urea.

14. Perbanyakan tanaman : dibiarkan dalam guludan lebih dari 3 bulan, ketika dipanen bisa dipotong lebih dari 1 bibit.

15. Cara pemanenan : tebang pilih, tebang habis dan tebang habis bakar.

Pembicara kedua adalah Ir. Pon S Purajatnika, IAI. Beliau adalah Ketua Kehormatan IAI Jawa Barat dan founder Komunitas Cinta Bambu (KOCIBA) dengan judul materi “Identifikasi dan Dokumentasi Arsitektur Bangunan Tradisional di Jawa Barat, Tinjauan dari Perspektif Arsitektur Budaya Sunda”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Keadilan untuk semua atau Justice for All, demikian hasil dari earth summit tahun 1992. Namun faktanya tidak demikian, karena realisasinya hanya menguntungkan negara-negara maju saja dan menambah miskin negara-negara berkembang secara sistematis dan terstruktur. Fakta bahwa sekitar 80% populasi dunia itu ada di negara berkembang sedangkan negara maju yang populasinya hanya sekitar 20% tapi mengkonsumsi sumber daya alamnya itu sekitar 40 kali konsumsi negara berkembang.

2. Berbicara lebih riil lagi untuk di negara kita Indonesia, ketersediaan sumber daya air, terutama di Pulau Jawa sudah sangat kritis. Dari jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sekitar 136, 31% DAS sangat kritis, 41% DAS kritis dan 28% DAS agak kritis. Bagaimana dengan hutan di Indonesia? Dari data yang ada, kehancuran hutan kita itu sekitar 51 km2/hari, rentang waktu tahun 2000-2005 sekitar 1,8 juta Ha/tahun sehingga bisa disimpulkan kehancuran hutan kita itu no 2 di dunia berdasarkan luas dan no 1 di dunia berdasarkan prosentase.

3. Dengan kondisi yang sudah dijelaskan di atas, maka peran bambu begitu sangat penting karena sekitar 12% jenis bambu dunia yaitu 160 spesies berada di Indonesia. Bambu juga memiliki beberapa keunggulan yaitu : kecepatan tumbuhnya 12”-36” per hari, lebih fleksibel dibanding kayu, dapat dipergunakan dalam umur tumbuh 3-5 tahun, multiguna,bisa menghindari dan menahan erosi, memperbaiki kandungan air tanah, renewable-sustainable, budi daya yang mudah serta bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak. Di sisi lain, produksi biomassa bambu juga lebih baik dibanding kayu, yaitu 7x lebih banyak dari pada pohon lainnya, bertambah 10-3-% per tahun dibanding 2-5% pertahun untuk pohon lainnya, memproduksi antara 50-100 ton per Ha dan terbagi atas 60-70% batang, 10-15% ranting,, 15-20% daun-daunan. (Liese, 1985).

4. Dalam kaitannya dengan konservasi, sebuah penelitian di China, hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240% dibandingkan hutan pinus. Penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara di India mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam 4 tahun. Berdasarkan laporan penelitian tentang hutan di China, dedaunan bambu yang berguguran di hutan bambu terbuka paling efisien di dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain. Penelitian Prof. Koichi Ueda dari Kyoto University menyatakan bahwa sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 62 ton/Ha/Thn sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/Ha/Thn. Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil foto sintesis 355 lebih banyak dari pohon yang lain.

5. Pemanfaatan biomassa bambu ini sangat beragam sekali, yaitu sebagai bahan bangunan hunian, jembatan, bambu laminasi, parket, perancah, perabotan, peralatan dapur, kerajinan, alat musik, kemasan, rebung, makananan ternak, obat, kertas, tekstil, bahan bakar, pupuk, kompos dan pompa air . (David Farelly – Book of Bamboo menyebutkan 1000 manfaat bambu dari A (acupuncture needles, airplane skins) sampai Z (zithers). Dalam hal konsumsi energi, perbandingan energi yang diperlukan untuk memproduksi bahan bangunan (N/m2) adalah beton 240, baja 1500, kayu 80 dan bambu 30. (J.A. Janssen, Bamboo Research at the Eindhoven University of Technology). Di daerah tropis dengan lahan 20×20 m2 kita dapat menanam bambu dalam 5 tahun untuk membangun 2 rumah @8×8 m2, dengan kebun bambu 60 Ha, setiap tahun dapat dibangun 1000 rumah dari bambu (costarica).

Pembicara ketiga adalah Purwito Dipl. HE. Ing. Beliau adalah peneliti dari puslitbangkim Bandung dengan judul materi “Bambu dan Produk Turunannya, Pengawetan Bambu”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dampak dari kerusakan hutan adalah keberadaan kayu jarang, jika ada mahal atau kualitasnya kurang baik. Persediaan kayu 7 m3 pertahun dari 35 juta m3 yang dibutuhkan pertahun. Mempengaruhi usaha pengolahan kayu dan usaha konstruksi bangunan. Usaha pemerintah adalah dengan mengimpor dari China, Malaysia, Jepang dan negara tetangga lain. Munculnya berbagai produk baru seperti baja ringan (light weight steel), aluminium, PVC dan lain-lain dengan harga masih mahal.

2. Bambu : ramah lingkungan, murah, mudah diperbarukan karena mudah tumbuh dan kuat.

3. Merupakan produk hasil hutan non kayu yang telah dikenal bahkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat umum karena pertumbuhannya ada di sekeliling kehidupan masyarakat. Tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

4. Walaupun sudah dikenal, potensi berlimpah, murah dan mempunyai kelebihan lain, bambu belum maksimal dimanfaatkan. Hanya sebatas produk furniture, alat music, perabotan dapur dan konstruksi bangunan (rumah jembatan) dan lain-lain.

5. Belum hilangnya konotasi masyarakat bahwa bambu dikenal sebagai bahan untuk orang miskin karena produk-produknya yang berpenampilan sederhana.

6. Hampir tidak ada fasilitas kredit dari perbankan, karena kurang yakinnya pihak perbankan.

7. Sampai saat ini teknologi untuk membangun serta menambah umur pakai bambu masih dilakukan dengan cara tradisional.

8. Belum ada standar nasional bambu.

9. Masalah mendasar adalah bambu punya kelemahan yaitu rentan terhadap serangan hama perusak kayu (rayap, bubuk dan jamur) yang mengakibatkan umurnya pendek, rentan terhadap api, panjang dan ukuran tidak seragam sehingga menjadi kendala dalam system sambungan pada konstruksi.

10. Teknologi dan Rekayasa : saat ini, bambu dapat diproduk menjadi bahan jadi seperti panel bambu, balok, bambu lapis dan lain-lain dengan bentuk lebih modern.

11. SIFAT BAMBU : Titik jenuh serat bambu 20-30%. Bagian dalam bambu lebih banyak mengandung lengas (air bebas), daripada bagian luar. Bagian buku-buku (Knots) mengandung +10% lebih sedikit kadar airnya dari pada bagian ruasnya. Bambu kurang tahan jika dipergunakan sebagai tulangan beton karena daya serap airnya bisa mencapai 300%. Bambu perlu diawetkan agar dapat mencapai mutu dan umur yang diharapkan. Penggunaan pada konstruksi bangunan harus dihindarkan dari hujan dan panas matahari langsung, agar tidak mudah rapuh dan membusuk.

12. Kekuatan tarik (tegangan patah untuk tarik bumi) 1.000 – 1000 Kg/cm2. Kekuatan tekan (tegangan patah untuk tekanan) 250 – 1000 Kg/cm2. Modulus kenyal untuk tarikan 100.000 – 300.000 Kg/cm2. Tegangan izin tarik = 300 kg cm2, tekan 80 kg cm2 dan lentur 100 kg cm2.

13. Keuntungan pengusahaan bambu dibandingkan dengan kayu : Kayu menyebabkan pemanasan bumi dan erosi, ditebang sekali dalam 10 tahun, pekerja tidak menentu dan pendapatan tidak menentu. Bambu bisa untuk konservasi alam, ditebang 3 kali dalam 10 tahun, pekerja intensif dan pendapatan menentu. Cara pengawetan bambu : perendaman dalam air mengalir, metoda boucherie, perendaman, difusi, vakum – tekan, boucherie modifikasi, gravitasi dan tekanan.

Catatan Hari Kedua

Sumber:http://indonesianvillage.com/    

Sanggar Kreatif Anak Bangsa, Ciputat,  Kamis, 12 Juli 2012

Pembicara pertama adalah Ir. Yoyo Budiman Mukti. Beliau adalah praktisi dari Enclave Conservation dengan judul materi “Teknik Perbanyakan Tanaman Bambu”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Berani Panen, Berani Tanam

2. Kerangka logika :

  • SDM : terampil, terlatih dan taat SOP
  • Alat Kerja : memadai, bersih, steril dan tajam
  • Bahan Utama : segar dan segera dikerjakan,
  • Bahan penunjang : cukup dan sesuai peruntukan
  • Metode : teruji dan tersedia SOP

3. Teknik perbanyakan bambu

  • Vegetatif (non biji) : stek batang, stek cabang, stek rhizome, cangkok akar, cangkok batang, cangkok cabang, runduk.
  • Generatif (biji) : kultur jaringan, konvensional – laboratorium
  • Semuanya merupakan pembibitan yang akan menjadi perkebunan bambu

4. Alat dan bahan standar : alat utama, harus tajam, tumpul=mati, garden tool kit, sungkup plastic, zat pengatur tumbuh, shading net, media tanam, anti jamur, plastic polybag.

5. Pengenalan bambu : batang, daun, pucuk, bakal tunas cabang, tunas cabang, bunga bambu, tunas batang dan rebung akar.

CLOSING STATEMENT Ir. YOYO : “BAMBU MENGGAPAI LANGIT MERAIH CITA-CITA”

Pembicara kedua adalah Ir. Edhi Sandra, MSi. Beliau adalah Kepala Unit Kultur Jaringan Lab. Konservasi Tumbuhan DKSH Fahutan IPB Bogor dengan judul materi “Kultur Jaringan”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kultur jaringan adalah metode isolasi bagian tanaman (protoplasma, sel, kumpulan sel, jaringan), serta menumbuhkannya kembali dalam kondisi aseptic sehingga bagian-bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenasi menjadi tanaman yang lengkap kembali”. (Gunawan, 1988).

2. Perbanyakan tanaman – vegetative dan generative – kultur jaringan – laboratorium – pembibitan – kebun.

3. Bisa lihat di video nya.

Pembicara ketiga adalah Prof. Elizabeth A. Widjaja. Beliau adalah peneliti LIPI bidang Botani dengan judul materi “Pengembangan Masyarakat dengan Bambu”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

Memberdayakan/mengembangkan masyarakat dengan bambu

1. bambu dan masyarakat sudah sangat mengakar, di dieng buat ponco, makanan dari rebung, boboko, kaos kaki bambu – serat bambu (anti bacterial – tapi punya long life) enaknya itu karena dingin jika merasa panas, dan panas jika merasa dingin.

2. bambu sudah banyak digunakan untuk kebutuhan hidup

3. bambu itu dari pucuk sampai akar terpakai, cabangnya kalo disusun2 jadi sapu, pucuknya dipotong2 dikasih air panas jadi oenurun kolesterol

4. rumah bambu masih dianggap rumah orang miskin, imb saja masih belum ada, bangunan ramah gempa.

5. segala sesuatu yang dimintakan dengan benar pasti dikabulkan

6. gedek sudah ditutup pakai polimer yang terbuat dari jagung dan singkong dijadikan lem lalu di press panas, 30 m2 harga 39 jt, ternyata bambu bilik ini menghantarkan udara yang dingin.

7. bambu itu selolus nya tinggi, kalo bisa polimernya dari bambu sendiri

8. kalo orang eropa anggur winenya dari bambu

9. bambu paling bagus di tanah asam, tapi bukan berarti harus mengasamkan tanah karena adaptable, cuman apakah kualitasnya sesuai dengan yang diinginkan.

10. yang punya alat atau teknologi itu ya kampungnya seperti di china atau di jalanan ke genting island malaysia

11. arang bambu termasuk karbon aktif sehingga bisa seperti norit

12. cukanya bisa untuk pupuk, untuk shampoo

13. jika bilik itu dibuat dengan teknologi

14. kertas budaya yang dipakai oleh china untuk sembahyang dan dibuat oleh masyarakat bukan pabrik

15. dibuat rangka untuk tenda buat pameran

16. untuk obat bambu eul-eul

17. jarak tanam utk btg 10 m, utk rebung 5 m

18. dinding batang licinnya disayat (jepang dan pilipin) memudahkan sisitem pengawetan

19. kandungan kimia selulosanya tinggi utk biofuel

20. memimpikan ada satu desa menggunakan biofuel dari bambu

21. menggunakan bambu banyak ragamnya

22. bambuindonesia.net, data base untuk bambu

Strategi untuk penanaman bambu seperti apa :

Baca bukunya bu Elizabeth budi daya bambu, perpustakaan puslit biologi di cibinong disitu ada hitungan ekonomisnya, yang banyak peminatnya adalah bambu jawa, bambu bali bambu nusa tenggara.

Foto regeun di gn. Sibayak (berbulu lebat) bulog, di banten yg khas bambu mayan di jl jasinga, di pandeglang bentuk garis2

23. wongso jowo juni-september, pengawetan pakai cukanya bambu

Pembicara keempat adalah Mastok Setyanto. Beliau adalah pendiri Bengkel Hijau dengan judul materi “Tabungan Hijau”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

JAMAAH BAMBU

TABUNGAN HIJAU

1. tabungan alam, kita tinggal menjalani, semuanya sudah dikasih sama yang maha kuasa, tinggal bagaimana menjalani

2. bengkel hijau artinya memperbaiki lingkungan

3. 20% daerah yg belum terjangkau sekolah formal

4. 34rb desa belum terjangkau listrik

5. tabungan hijau untuk ketahanan pangan, papan, utility semuanya sudah ada tinggal bagaimana mengembangkan.

6. 17 rakaat cara mengerjakan sholat, bertani, rumah dari pondasi sampai naek

7. jend. Sudirman berkata, hutan adalah pertahanan terakhir dan dicontolah sama Vietnam

8. tabungan hijau hanya 4 tahap – umur 19 thn sdh punya daerah konservasi, semuanya ada di bambu

9. mindsetnya berubah, filosofinya dirubah, bambu bkn utk bambu runcing tp

10. berani menebang harus berani menanam

Catatan Hari Ketiga

Aula Kantor Pelabuhan Karangantu dan Sekretariat BCC Serang Banten

Jumat, 13 Juli 2012

Workshop Bambu : Rekonstruksi Tapak Bumi Village

Pembicara penutup adalah Zulmahdi Darwis, ST. M.Eng. Beliau adalah dosen Teknik Sipil UNTIRTA dengan judul materi “Teknologi Laminasi Bambu”. Dari paparan beliau dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi – kebutuhan kayu yang sangat besar – mengakibatkan kerusakan hutan.

2. Bahan pendamping kayu adalah bamboo dengan teknik laminasi

3. Keunggulan bambu :

  • Bambu mudah ditanam dan dapat tumbuh di lahan basah maupun kering
  • Bambu adalah bahan terbaharui dan murah
  • Bambu dapat ditebang setiap tahun tanpa merusakkan
  • Bambu tahan terhadap gangguan
  • Bambu menghasilkan banyak O2 dan dapat berfungsi sebagai peredam suara yang baik
  • Pertumbuhan bambu sangat cepat, bambu dengan kualitas prima dapat diperoleh pada umur 3—5 tahun

4. Dari diagram tegangan – regangan bambu pak Morisco, bambu lebih unggul disbanding baja.

5. SNI 2002 untuk kayu tidak cocok diterapkan pada bambu.

6. Image bamboo masih terkesan kumuh dan berkonotasi sebagai rumah orang miskin.

7. Saat ini peningkatan persepsi tentang bamboo sudah membaik.

8. Kekurangan bamboo adalah perlu diawetkan agar dapat dipakai lama.

9. Menurut Liese (1980), ketahanan bamboo tanpa pengawetan, langsung berhubungan dengan tanah dan tidak terlindung terhadap cuaca kurang dari 1-3 tahun. Bamboo yang terlindung terhadap cuaca dapat tahan lebih dari 4-7 tahun. Tetapi untuk lingkungan yang ideal, sebagai rangka kuda-kuda, bamboo dapat tahan lebih dari 10-15 tahun. Di temanggung Jawa Tengah rangka atap dari bamboo yang diawetkan secara tradisional, masih dapat bertahan pada umur lebih dari 20 tahun.

10. Faktor-Faktor yang mengurangi kualitas bamboo :

  • Abiotik : retakan, cuaca, api, kadar air dan lembab.
  • Biotik : jamur, serangga dan kumbang bubuk

11. Penanganan pasca panen dengan diawetkan

  • Bahan alami : daun nimba, daun biduri, gadung, cuka arang kayu/bamboo.
  • Bahan kimia : Boron (borax dan Boric acid), Copper chrome arsenic, coal tar creosote, berbagai jenis pestisida dan termisida.

12. Upaya untuk memperoleh bamboo yang awet :

  • tatakala penebangan bamboo.
  • perendaman bamboo dalam air.
  • pemakaian bahan kimia.

13. Kuat geser bamboo lemah

14. Teknologi Laminasi : balok glulam (balok laminasi) dibuat dari lapisan-lapisan kayu yang relative tipis yang dapat digabungkan dan direkatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan balok kayu dalam berbagai ukuran dan panjang (breyer, 1988:112-116).

15. Beberapa kelebihan yang dimiliki struktur laminasi antara lain : ukuran dapat dibuat lebih tinggi, bentangan yang lebih panjang, bentuk penampang dapat dibuat lengkung dan konfigurasi bentuk lonjong dapat dipabrikasi dengan mudah dapat dikurangi perubahan bentuk dan reduksi kekuatan oleh cacat kayu dapat dibuat lebih acak (blass dkk, 1995).

16. Pembuatan balok bamboo laminasi, bahan pembuatan : bamboo petung, bahan perekat polyvinyl acetate, urea formaldehyde dan pengawet borax.

17. Proses pembuatan balok bamboo laminasi : mulai – pengadaan bamboo – pembelahan bamboo – pembuatan bilah bamboo – pengawetan bilah – penjemuran bilah – kadar air < 12% – penyerutan bilah – permukaan bilah rata – pemotongan bilah sesuai dengan kebutuhan l

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: