Negeri Pejuang

ARANG BAMBU SEBAGAI FORMULA PEMBERSIH GIGI 

Sumber: http://negeripejuang.blogspot.com/ 04 Mei 2010 

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan obat tradisional sudah sejak dulu mengambil peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, jauh sebelum ada dokter dan obat modern. Dari kulit sampai bagian vital tubuh tersedia resep yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi berbagai kesulitan, terutama dibidang kesehatan dan kecantikan.

Banyaknya produk-produk pasta gigi yang ditawarkan berpengaruh langsung terhadap konsumen untuk memilih tanpa melihat kualitas dari pasta gigi tersebut untuk menggunakannya. Kesehatan gigi menjadi sangat penting diera yang serba modern ini, namun banyak juga yang kurang peduli terhadap kesehatan gigi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena daerah yang terisolir hingga ketidakmampuan untuk membeli pasta gigi yang memiliki kualitas yang baik.

Dahulu, sebelum ada dokter dan pasta gigi para nenek moyang kita menggunakan arang kayu atau arang bambu sebagai formula pembersih gigi. Arang bambu merupakan senyawa yang memiliki potensi untuk membersihkan plak-plak atau kotoran pada gigi. Itu menurut kepercayaan nenek moyang kita. Arang juga dipercaya sebagai formula pembersih yang ampuh pada saat itu. Itulah sebabnya penulis ingin mengulas hal yang dipercayai nenek moyang kita pada jaman dahulu itu.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang digunakan dalam karya tulis ini adalah:

1. Apakah arang itu?

2. Apa sajakah sifat-sifat dan kandungan arang itu?

3. Bagaimana cara membuat dan menggunakan arang untuk formula pembersih gigi?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan karya tulis yang berjudul “ Pemanfaatan Arang Bambu untuk Pembersih gigi ” ini adalah:

1. Mengetahui pengertian arang.

2. Mengetahui sifat-sifat dan kandungan arang.

3. Mengetahui cara membuat dan menggunakan arang untuk formula pembersih gigi.

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam penulisan karya tulis adalah telaah pustaka, yaitu memperoleh dan mengumpulkan data dari berbagai sumber yang berkaitan dengan judul ini, baik melalui buku-buku atau melalui internet.

1.5 Manfaat Penulisan

Manfaat karya tulis ini adalah agar pembaca mengetahui bahwa membersihkan gigi tidak hanya bisa menggunakan pasta yang dibeli ditoko-toko namun juga dapat dibuat dan diaplikasikan sendiri yaitu menggunakan arang bambu.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Arang Bambu

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. Bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.

Bambu dalam bentuk bulat dipakai untuk berbagai macam konstruksi seperti rumah, gudang, jembatan, tangga, pipa saluran air, tempat air, serta alat-alat rumah tangga. Dalam bentuk belahan dapat dibuat bilik, dinding atau lantai, reng, pagar, kerajinan dan sebagainya. Beberapa jenis bambu akhir-akhir ini mulai banyak digunakan sebagai bahan penghara industri supit, alat ibadah, serta barang kerajinan, peralatan dapur, topi, tas, kap lampu, alat musik, tirai dan lain-lain.

Dari kurang lebih 1.000 species bambu dalam 80 genera, sekitar 200 species dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995), sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dpl. Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air. (http://www.kapanlagi.com)

Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam.

Seperti halnya tebu, bambu mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

Dalam penggunaannya di masyarakat, bahan bambu kadang-kadang menemui beberapa keterbatasan. Sebagai bahan bangunan, faktor yang sangat mempengaruhi bahan bahan adalah sifat fisik bambu yang membuatnya sukar dikerjakan secara mekanis, variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya serta ketidakawetan bahan bambu tersebut menjadikan bambu tidak dipilih sebagai bahan komponen rumah. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari bambu yang dikuliti khususnya dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur biru dan bulukan sedangkan bambu bulat utuh dalam keadaan kering dapat diserang oleh serangga bubuk kering dan rayap kayu kering. (http://www.wikipedia.com)

Arang merupakan suatu padatan Kristal hitam yang dihasilkan dari pembakaran bahabn-bahan organic seperti sekam padi,kayu,bambu dan lain sebagainya. Untuk menghasilkan arang, bahan-bahan tersebut dibakar dengan cara pembatasan jumlah oksigan pembakaran. Pada proses pembakaran terjadi reaksi antara karbon (C) yang berada didalam bahan tersebut dengan udara yaitu unsure oksigen (O2). Pembakaran tersebut menghasilkan asap hitam yang sering disebut karbondioksida (CO2).

Proses pembakaran yang sempurna terjadi ketika suplai oksigen untuk pembakaran cukup atau berlebih. Pembakaran sempurna akan mengubah bentuk bahan menjadi abu. Jika suplai oksigen dibatasi, pembakaran akan menghasilkan karbondioksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Selain itu, bahan yang dibakar tidak menjadi abu, melainkan sebuah kristal hitam berpori atau yang disebut dengan arang.

Pada zaman penjajahan Belanda bubuk arang dalam bidang kefarmasian dibedakan menjadi tiga jenis yaitu dipakai sebagai bahan baku obat, yaitu arang yang terbuat dari tulang-tulang hewan (Carbo-Animalis), arang kayu dan bambu (Carbo-ligni), dan arang aktif (Carbo-adsorbens).

Di Indonesia yang dipergunakan sebagai obat adalah arang aktif yang dikemas dalam bentuk tablet dengan komposisi tunggal karbon aktif 250 mg/tablet dan dalam bentuk kombinasi lain. Bubuk karbon aktif ini merupakan bahan baku resmi sediaan obat, seperti yang pernah tercantum dalam buku Farmakope Indonesia dengan nama resmi Carbo-adsorbers atau nama populernya adalah Norit.

Arang bambu adalah sisa pembakaran bambu yang belum menjadi abu, berwarna hitam, biasanya tidak berbau dan tidak terasa. Arang bamboo telah lama dikenal serta banyak manfaatnya bagi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan sebagai bahan bakar, penyala tungku dan obat kesehatan.(http://www.farmakope.com)

2.2 Sifat-sifat dan Kandungan Arang Bambu

Untuk lebih mengenal arang bambu harus diketahui dahulu sifat-sifat dari arang tersebut. Sifat arang yang paling penting adalah daya serap (adsorpsi). Dalam hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap arang, yaitu:

1. Temperatur

Dalam pemakaian arang bambu, dianjurkan untuk menyelidiki temperatur proses adsorpsi adalah viskositas dan stabililtas termal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna ataupun dekomposisi, perlakuan dialkukan pada titik didihnya. Untuk senyawa yang mudah menguap (volatil), adbsorpsi dilakukan pada temperatur kamar atau jika memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah.

2. Derajat Keasaman (pH)

Untuk asam-asam organik adsorbsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Hal ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organic tersebut. Sebaliknya, jika pH asam organic dinaikkan dengan cara penambahan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.

3. Waktu Singgung

Jika arang ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selain ditentukan oleh dosis arang, pengadukan juga mempengauhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk membri kesempatan pada partikel arang untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang memilki viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.

Penelitian sifat kimia bambu telah dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988) meliputi penetapan kadar selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, serta kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar selulosa berkisar antara 42,4% – 53,6%, kadar lignin bambu berkisar antara 19,8% – 26,6%, sedangkan kadar pentosan 1,24% – 3,77%, kadar abu 1,24% – 3,77%, kadar silika 0,10% – 1,78%,. Hasil analisis kimia 10 bambu terdapat pada Tabel dibawah ini.


1.7 Cara Membuat dan Menggunakan Arang Bambu Untuk Formula Pembersih Gigi

Arang bambu dikenal memilki daya serap yang tinggi, jika diaplikasikan dalam rongga mulut, bahan ini akan membersihkan bakteri, toksin dan infeksi yang menyebabkan gusi berdarah, serta akumulasi plak.

Adapun cara membuat Formula atau pasta gigi menggunakan arang adalah sebagai berikut.

A. Bahan yang diperlukan adalah :

1. Arang Bambu secukupnya,

2. Air secukupnya,

3. Baking Soda secukupnya.

B. Alat-alat yang diperlukan adalah :

1. Penggerus

2. Tempat Arang

3. Sikat gigi

4. Kain kasar

Adapun cara membuat dan mengaplikasikannya dalam gigi adalah sebagai berikut :

1. Gerus Arang bambu hingga halus, bersihkan jika ada kotoran,

2. Tambahkan baking soda hingga arang menjadi kental,

3. Oleskan pada gigi,

4. Diamkan selama 2-3 menit,

5. Sikati gigi dengan menggunakan sikat gigi atau menggunakan kain kasar,

6. Berkumur-kumur,

7. Jika diperlukan sikatlah gigi dengan menggunakan pasta gigi.

Arang akan menyerap Nikotin, yaitu salah satu bahan aditif yang membuat rasa ketergantungan pada senyawa tersebut. Arang tidak akan membuat permukaan gigi menjadi hitam, justru arang bersifat adsorpsi yang artinya campuran arang dan baking soda justru akan menyerap plak hitam pada gigi, Nikotin, toksin, bakteri, dan juga arang tidak akan melekat pada rongga mulut dan air liur.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan :

1. Arang adalah sisa pembakaran yang belum menjadi abu

2. Arang bersifat adsorpsi yaitu penyerap

3. Kandungan terbesar dalam bambu adalah selulosa

4. Arang bambu bila dicampurkan dengan baking soda dan diaplikasikan dalam gigi maka gigi tidak akan menjadi hitam, justru arang bersifat adsorpsi yang artinya campuran arang dan baking soda justru akan menyerap plak hitam pada gigi, Nikotin, toksin, bakteri, dan juga arang tidak akan melekat pada rongga mulut dan air liur.

3.2 Saran

Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca dan juga dapat memberi motivasi untuk melakukan penelitian-penelitian ilmiah demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://www.farmakope.com, kegunaan arang, diakses pada 23 Januari 2010.

Anonim. http://www.kapanlagi.com, bambu dan arang diakses pada 25 Januari 2010.

Anonim. http://www.wikipedia.com, kandungan arang dan sifatnya, diakses pada 1 Februari 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: