Andie Wicaksono

Bambu tak selamanya berlabel Arsitektur Hijau

Oleh: Andie Wicaksono

Sumber: http://www.andiewicaksono.com/2012/04/ 

Bambu yang selama ini menjadi favorit arsitek hijau, ternyata tidak selamanya merupakan bahan bangunan arsitektur hijau. Banyak yang melihat bambu dari sisi hijau karena mudah diperoleh, dan masa tanamnya singkat. Bambu memang merupakan bahan material yang masa tanamnya relatif singkat (3 – 5 tahun sudah membentuk rumpun, panen perdana tahun ke 8). Tapi bila dilihat dari penggunaannya (mass use), maka akan terlihat bahwa meskipun masa tanam cukup sigkat, tetap tidak menjamin populasi bambu tidak akan berkurang secara drastis.

Misalnya, sebuah rumah rata-rata menghabiskan 1000 batang bambu untuk pembangunannya. Bila dilihat di lapangan, prinsip tebang satu pohon, ganti satu bibit, untuk mengganti dengan cara menanam bambu 1000 batang juga butuh lahan yang sangat luas, dari satu rumpun yang ditanam pada lahan 4m2 (2×2 m2) paling banyak bisa tumbuh 5-10 batang. Misal lahan kita 100m2, berarti bisa jadi 25 rumpun.atau 250 batang bisa dipanen. Kita butuh lahan 400m2 untuk bisa mengganti 1000 batang bambu-bambu yang kita tebang tadi, dalam waktu 8 tahun. Bisa juga diterapkan di lahan sempit, tapi butuh masa panen yang sangat panjang (dua sampai tiga kali tanam).

Kedua, jangan lupa, proses pengawetan bambu juga merusak lingkungan. Pengawetan umumnya menggunakan bahan-bahan kimia, yang merusak lingkungan. Bila menggunakan cara organik (pun) teteeeep, masih merusak, misalnya dengan diasapkan. Jangan lupa, asap itu pembentuk zat carbon.

Terkecuali bila memang benar-benar konsisten untuk berarsitektur hijau, pakailah produk recycle! harusnya yang digunakan adalah bambu bekas, bukan bambu baru. Emang bisa jadi bagus bangunannya kalo pakai bahan bekas? Ya urusan elo, hehehe, alias pinter-pinter arsitek dan tukangnya yang masang.

Wah, ternyata bambu juga belum tentu arsitektur hijau yah, terus apa donk bahan/material yang ramah lingkungan?

Saya malah menganjurkan semen (concrete/cement). Bahan dasar semen adalah batu kapur, tanah liat, pasir besi dan pasir silica. Mudah didapat (ditoko sebelah juga ada), dan bahannya ada terus (biasanya campuran material vulkanik (gunung berapi) yang akan konsisten keluar selama daur waktu tertentu. Selain lebih kuat, kokoh, bahan bangunan dari semen pun masa pakainya lebih panjang dibanding bambu. Mari kita lihat. Contoh, untuk satu rumah, kamu butuh 1000 batang bambu. Ini hanya tahan paling lama 10 tahun dengan pengawetan. Berarti untuk memperpanjang usia bangunan, lets say, 50 tahun, kamu butuh 5000 batang bambu. Ini tidak efisien, karena ada variabel biaya tukang dan material lebih selama 50 tahun. Bandingkan dengan concrete, 50 tahun pun masih berdiri tegak, dan cukup sekali pasang.

Mudah-mudahan tulisan ini makin memperbijak cara pandang kita. Jaya arsitektur hijau Indonesia!

Andie Wicaksono
Climate change professional fellows, US department of state, burreau of education and cultural affairs.

One Response to “Andie Wicaksono”

  1. maria sns Says:

    dear Pak Andie,
    Ini Maria, dari Indonesia Career Center.
    Bisakah kami wawancara sehubungan dengan arsitektur Indonesia dan arsitektur ramah lingkungan.
    thank you
    maria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: