Oleh Farida Indriastuti

Gerakan Arsitektur, Merajut Bambu Seribu Candi

Oleh Farida Indriastuti
Foto : dokumentasi Green Architecture

Sumber: http://satulingkar.com/

 

Memulai gagasan sederhana tidaklah mudah. Green Architecture mewujudkan ide-ide sederhana tentang keselarasan arsitektur dengan lingkungan sekitarnya. Sebuah kumpulan Green Architecture berlokasi di pulau Bali– sering menggelar diskusi publik dan workshop gratis di Jakarta maupun Bali.

Green Architecture adalah sebuah pendekatan desain arsitektur yang berbasis pada kesadaran, pemahaman hingga tindakan yang meminimalkan efek negatif terhadap manusia, alam dan lingkungan. Hingga mampu mendorong kelangsungan hidup manusia, alam serta lingkungannya. Tak lepas dari keterkaitan konteks sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain-lainnya.

Komunitas digagas oleh Gede Kresna, Rahadiyanto, Adam Fenton dan Nadin Asmarandjani. Pada April 2012, Green Architecture menggelar “Merajut Bambu Seribu Candi” di jalur sepanjang tujuh kilometer, dari desa Wanurejo hingga desa Tegalarum– sejalur dengan keberadaan candi Borobudur di Yogyakarta.

Mengapa mengandalkan bambu sebagai material? Bambu merupakan material utama dalam peradaban rakyat. Digunakan dalam beragam fungsi sebagai alat pertanian, kerajinan, rumah, jembatan dan fungsi-fungsi lainnya. Bahkan bambu muda alias rebung dijadikan sebagai bahan makanan (campuran sayur) khas Nusantara.

Di Jawa, Bali dan daerah lainnya, bambu menjadi penopang hidup manusia. Saat hutan-hutan hampir musnah, bambu menjadi harapan hidup rakyat di berbagai daerah. Bagi Green Architecture, sebatang bambu mewakili puluhan anak negeri yang peduli, bergerak dan andil bagi Nusantara.

Bambu memiliki sifat lentur, mampu bertahan dari cuaca ekstrem sekalipun. Lalu apa hubungannya dengan candi Borobudur? Borobudur dianggap sebagai karya peradaban manusia. Sekaligus menjadi titik awal dan bambu sebagai material.

Bila Borobudur dan deretan stupanya menjadi saksi murka alam seperti pasir vulkanik dari muntahan Gunung Merapi. Karena itu keduanya bertemali; Borobudur dan bambu, perlu dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk peradaban manusia.

Berawal di candi Borobudur, lambang sekaligus saksi sejarah kemanusiaan lokal hingga universal, gerakan para profesional didukung masyarakat yang peduli menggelar kegiatan ini. Gagasan dilontarkan pertama kali oleh maestro tari Suprapto Soeryadarmo, dari Padepokan Lemah Putih, di Solo, Jawa Tengah. Selain orang-orang muda Solo; Paulus Mintarga dari Rempah Rumah Karya. Ide sederhana pun menjalar hingga ke seniman, arsitek, aktifis kampus, akademis seperti Prof. Josef Prijotomo

Sepanjang tujuh kilometer jalan dari desa Wanurejo hingga ke desa Tegalarum, adalah garis lurus menuju Borobudur. Dusun-dusun dikawasan ini dihuni para petani, pengrajin, peseni hingga pasar pengrajin bambu. Maka itu di jalur desa itu akan digelar “Pasar dan Gelar Seni Rakyat” pada 22-29 April 2012. Di jalur yang sama, dulunya masyarakat selalu menyediakan air minum kendi untuk para pengguna jalan. Keramahan dan kebudayaan masyarakat desa yang sangat arif dan patut diteladani.

Rencananya, jalur yang menghubungkan dua desa akan dipasang “instalasi” atau “media ruang” berbahan bambu yang mencitrakan candi– selain membuat gapura yang melambangkan kebangkitan kemanusiaan. Sebelumnya, juga digelar “Workshop Bambu” pada 6-7 April 2012. Bambu merupakan simbol kultural, sosial dan eco-sustainability rakyat.

Workshop bambu akan menghadirkan narasumber ahli bambu lokal dan nasional, selain melibatkan masyarakat sebagai peserta workshop. Begitu juga keikutsertaan para mahasiswa dan dosen, arsitek dan pelaku seni rupa. Meski belum tahap akhir. Kegiatan workshop mengambil tema “Arsitek-Masyarakat Bersenyawa sebagai Pengrajin Ruang”. Kegiatan ini menggabungkan lintas disiplin ilmu; arsitektur, seni rupa, dan pengetahuan lainnya—yang ikut berkontribusi aktif.

Para arsitek yang berpengalaman akan merealisasikan karya instalasi diantaranya: Yori Antar, Budi Purnomo, Yu Sing, Eko Pranowo, Bambang Suprijadi dan MADcahyo. Bergabung pula kalangan akademis seperti Prof. Josef Prijatomo dan DR. Galih W. Pangarsa. Selain para volunteer yang bergabung dan terlibat menyukseskan gelar “Seribu Bambu Seribu Candi”.

Bagi Anda yang tertarik aktifitas kreatif yang menggugah ini, bisa berkontribusi memberikan donasi minimal Rp. 10 ribu (mewakili satu bambu) dan kelipatannya, melalui Bank BCA a/c. 392-0243-141 an. Suprapto Surya Darma (atau) Ir. Paulus Mintarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: