Berita Arsitektur Bambu

Arsitektur Gereja Bambu di Bantul Dapat Penghargaan

Sumber: http://www.christianpost.co.id/ 10 Desember  2008 

Arsitektur bangunan gereja darurat Klodran, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang seluruh bangunannya terbuat dari bambu, masuk empat besar tingkat nasional untuk memperoleh penghargaan tingkat nasional kategori karya arsitektur, Pradipta dan teman-temannya.

“Sebelum dievaluasi oleh tim tingkat nasional, kami mengadakan presentasi di DPU Pusat, ternyata karya kami mendapat nominasi untuk memperoleh penghargaan karya konstruksi kategori karya arsitektur,” kata salah satu anggota tim arsitektur dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Pramana Gentur Sutapa di Bantul, Kamis, Antara memberitakan.

“Masuknya empat besar tingkat nasional tersebut menurutnya diperoleh setelah tim dari Jakarta mengeveluasi bangunan gereja darurat tersebut pada minggu lalu,” katanya.

Keempat besar yang diusulkan untuk memperoleh penghargaan tingkat nasional tersebut masing-masing Aceh (bangunan bendungan), Jakarta (bangunan gedung Departemen Keuangan ), Bali (bangunan PAM), serta Bantul, Yogyakarta (bangunan gereja darurat).

Tim evaluasi dari Jakarta yang mengevaluasi gereja darurat Klodran Bantul tersebut dipimpin Eko Budiharjo.

“Dalam evaluasinya pada gereja Katolik Klodran Bantul, saya dan tim sangat terkesan atas konstruksi bangunan darurat gereja Klodran Bantul itu,” katanya.

Bangunan gereja bambu Klodran Bantul sangat khas dengan desain baru, serta semua material bangunannya terbuat dari bambu.

“Bangunan gereja itu terkesan sederhana dengan luas bentangannya mencapai 18 meter tanpa tiang,” katanya.

Bambu, “Teman” Alternatif Pengganti Kayu

Sumber: http://properti.kompas.com/ 9 Juni 2011 

Green School
Salah satu bangunan bambu di Green School.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kayu mutlak dibutuhkan dalam pembangunan rumah sehingga bisa dilihat eksplorasi luar biasa, seperti penebangan pohon di hutan-hutan Kalimantan. Prihatin dengan penebangan pohon dan penggundulan hutan, arsitek Effan Adhiwira mengatakan harus ada pilihan lain untuk menyelamatkan kayu.

“Kita tahu bahwa material kayu sangat disukai, sangat laku, bahkan hutan Kalimantan sudah selesai dirambah dan akan ganti merambah hutan Papua. Ini karena ada permintaan pasar yang tinggi terhadap kayu,” kata Effan dalam diskusi yang digelar oleh komunitas Green Architecture di Jakarta, akhir pekan lalu.

Effan mengatakan, pasar membutuhkan pilihan lain yang tidak kalah dengan material kayu untuk membangun rumah. Pilihan ini juga ramah lingkungan, tetapi utamanya memberikan pilihan agar dapat mengurangi produksi kayu.

“Kami mencoba menawarkan bambu sebagai alternatif pilihan material pembangun rumah,” ujarnya.

Bambu memang sudah lama didengungkan sebagai material alternatif karena produksinya lebih murah. Struktur bambu juga kuat. Namun, kurangnya sosialisasi dan bukti-bukti bahwa rumah berbahan bambu itu kuat menjadikan peminatnya sedikit.

Hal itu dibuktikan oleh John Hardy dengan mendirikan Green School dan hunian Green Village di Bali. Green School merupakan sekolah yang bangunannya terbuat dari bambu. Di sini, para peserta didik diajarkan cara mengenal dan menyayangi lingkungan.

Sementara Green Village adalah hunian bagi orangtua siswa tinggal di dekat sekolah. Sekolah yang sudah berdiri sejak 2008 ini memprioritaskan material alam di sekitar lingkungan sekolah menjadi bahan utamanya.

“Di sana diajarkan bahwa di alam ini tidak ada yang berwujud kotak sempurna, karenanya bangunan mengikuti dan beradaptasi terhadap apa yang sudah diberikan alam. Bangunan di Green School tidak memaksakan atau memotong pohon yang sudah ada,” kata Effan.

Hasilnya, bangunan yang tercipta terlihat menakjubkan meskipun berbahan bambu. Begitu juga dengan teknik-teknik perencanaan bangunan yang dibuat secara matang dan mengutamakan unsur keselamatan komunitas di dalamnya.

“Desainnya dibuat secara bijaksana, yakni menggunakan material yang tersedia di alam, tetapi tetap berpikir kreatif untuk memaksimalkan karakteristik material itu,” katanya.

Meskipun demikian, penggunaan bambu untuk membangun rumah patut memperhitungkan pemrosesan yang tepat. Sebutlah, misalnya, proses pengeringan yang sangat lama agar kekuatan bambu tahan lama dan antihama.

Kelak, dalam pemakaiannya, bambu juga tak boleh bersentuhan langsung dengan tanah. Agar semakin kuat dan memerhatikan aspek keselamatan, lanjut Effan, pemakaian bambu bisa dipadukan dengan penggunaan beton sebagai fondasi. Namun, lepas dari berbagai kekurangannya, pendekatan penggunaan bambu sebagai alternatif pendamping kayu akan mengajak masyarakat memikirkan isu-isu lokalitas.

“Material apa pun dapat dikembangkan. Proses ini sebagai salah satu pendekatan untuk membangun dunia yang berkelanjutan,” katanya.

Bahan Mudah Ditemukan, Sayang Kerap Disepelekan

Percaya Kekuatan Bambu, Dua Arsitek Indonesia Diganjar Emas

Sumber: http://www.lensaindonesia.com/ 29 November 2011 

Arsitektur rumah bambu untuk properti keluarga menengah. *ist

LENSAINDONESIA.COM: Indonesia kembali dibanggakan dengan diraihnya penghargaan di ajang kompetisi bergengsi di bidang sustainable construction, Holcim Awards, oleh Yandi Andri Yatmo (Dosen Arsitektur Universitas Indonesi dan Dian Ariffianto Budi Susilo Arsitek). Keduanya meraih penghargaan pengakuan khusus (Acknowledgement prize) pada malam penghargaan di Singapura.

Dengan proyek struktur kemasyarakatan sebagai pendorong pembangunan dan ikatan sosial Yandi dan timnya berupaya mempererat semangat kekeluargaan dan gotong royong masyarakat di desa Cepogo dan Ngargorejo, Boyolali dan Desa Bongkok di Sumedang dengan membangun sarana umum bersama sama dan memanfaatkan bahan bangunan yang tersedia di derah asal mereka.

Penghargan kepada Dian Ariffianto Budi Susilo diberikan untuk kategori proyek sekolah alam di Sukoharjo untuk anak-anak yang ingin belajar secara langsung di ruang terbuka.

Selain Yandi dan Dian salah satu proyek di indonesia yang juga mendapatkan Acknowledgement Prize Yaitu tim dari Belanda yang beranggotakan, Steven Brunsmann, Johan krol, Tanja Van Laan dan Joao Bentes de Oliveira yang mengusung proyek daur ulang sampah Jakarta mereka adalah 3 dari enam peraih penghargaan pengakuan khusus (AcknowledgementPrize) di ajang Holcim Awrds tingkat Asia Fasifk.

“Melalui Holcim Awards, kami berharap semakin banyak proyek-proyek konstruksi yang dapat di manfaatkan generasi sekarang,” ungkap Ranidia Leeman Holcim Awards Coordinator untuk Indonesia pada lensaindonesia.com, Selasa (29/11/2011) di Jakarta. Acknowledgement Prize Hocim Awards juga diberikan pada proyek yang berada di Pakistan, Thailand dan Malaysia.

usai meraih penghargaan, Yandipemenang dari Indonesia mengatakan, “Desainnya sebenarnya sederhana dan mudah ditemukan. Kami bisa belajar lebih banyak bagaimana cara masyarakat untuk mengawetkan bambu agar bisa tahan lama,” pungkasnya. kasiyan/LI-11

Simon Velez Menggelar Workshop Arsitektur Bambu

Sumber:http://www.journalbali.com/  18 January 2012 

JournalBali.com, DENPASAR- Enviromental Bamboo Foundation dan Popo Danes Architect mempersembahkan sebuah workshop arsitektur bambu dengan menghadirkan Simon Velez, pelopor penggunaan bambu dalam arsitektur modern asal Kolombia di Bali. Sampai saat ini, Velez telah mendesain bangunan bambu di Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Brazil, Meksiko, Cina, Jamaika, Kolombia, Panama, Ekuador, dan India. Velez, arsitek asal Kolombia menciptakan sistem penyambungan (joinery system) yang memanfaatkan bambu sebagai sebuah elemen struktur permanen dalam struktur bangunan komersial maupun residensial.

Penggunaan bambu sebagai sebuah elemen struktur permanen dalam struktur bangunan komersial maupun residensial memiliki tantangan tersendiri, khususnya dalam teknik penyambungan bambu karena bambu memiliki rongga, jarak ruas yang berbeda antar batang satu dengan lainnya, besar batang yang tidak sama dari ujung ke ujung, dan juga tidak bulat sempurna.

Workshop akan menyoroti dan mempraktekkan teknik penyambungan bambu oleh Simon Velez. Peserta yang dibagi dalam grup yang terdiri dari arsitek, engineer, dan mastercraftsman juga akan diajak untuk membahas mengenai pembangunan modern bangunan bambu versus arsitektur tradisional bambu di Bali, bambu: 5W 1 H, dan perawatan serta pengawetan bambu oleh Arief Rabik.

Workshop diadakan di Linda Garland’s Panchoran Estate, Nyuh Kuning, Ubud, Bali selama 4 hari, mulai 20 Januari sampai dengan 23 Januari 2012 mulai pukul 09:30 sampai dengan 15:00 WITA. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: