Dwi Sulistyawati

BAMBU SEBAGAI KOMPONEN YANG MENDUKUNG EKSPRESI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

Author: Dwi Sulistyawati

Sumber:  http://dwiagri.com/2010/12/28/

Abstract

Bamboo is one of our fascinating building materials. As a fast renewable and ecological resource it possesses enormous properties. Its characters that grow and mature fast, low maintenance, comfortable, easy to adapt to the occupants changing needs, so bamboo became an important material for sustainability. Characteristic of this material

Keywoords:  Bamboo material, support to sustainable architecture, design expression of bamboo

Pendahuluan

Rumah-rumah sederhana tempo dulu pada dasarnya menggunakan bahan-bahan alami yang mudah diperoleh salah satunya adalah menggunakan material bamboo, tetapi pada jaman modern ini bangunan–bangunan yang menggunakan material bambu di Indonesia sangatlah jarang kita temukan, kemungkinannya bahwa bangunan yang menggunakan bambu sering dianggap sebagai rumah murah yang dikonotasikan dengan rumah sederhana yang tidak mempertimbangkan estetika, tidak layak, dan cenderung kumuh. Tetapi kini manusia mulai menyadari kembali untuk menghadirkan bahan alami (salah satunya bambu) untuk dapat mewujudkan ekspresi rancangan bangunannya.

Didalam tulisan ini akan dibahas tentang bagaimana material bamboo dapat mendukung ekspresi para perancang dalam mewujudkan suatu bentuk arsitektur berkelanjutan.

Peranan bambu

Bambu merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan, dari akar hingga daunnya sebagai keperluan hidup baik untuk bahan bangunan, perabot rumah, kerajinan, kesenian, dan bahan makanan, akan tetapi pemanfaatannya masih belum maksimal hal tersebut sangatlah disayangkan, padahal begitu mudahnya tanaman bambu tersebut dapat ditemukan dan di budidayakan kembali.

Bambu juga merupakan salah satu jenis tanaman yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia tetapi bambu tidak mendapatkan perhatian khusus dalam penanganannya, hal ini karena bambu belum menjadi prioritas pengembangan oleh sebab masyarakat masih enggan menggunakan bambu sebagai bahan alternatif untuk bangunannya.

Bambu merupakan bahan bangunan biologi, sebagai bahan bangunan yang dapat dibudidayakan kembali (regenaratif) menurut keperluan, karena bambu sebagai bahan bangunan biologik sehingga bambu dapat menjadi bahan pengganti kayu, bahkan dilihat dari masa panen bambu lebih cepat dibanding kayu.

Bambu juga dapat menggantikan bahan bangunan lain untuk kegunaan yang sama. Jika dilihat dari harga, bambu relatif murah dibanding kayu, dan sifat bambu lebih lentur dibandingkan kayu, walaupun kelemahan bambu yang tidak tahan terhadap serangga [rayap), lapuk, gampang dibelah secara melintang, dan daya dukung yang relatif kecil. Tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan pengolahan yang baik dan benar dari cara menanam, memanen, dan mengolah hasil panennya, agar kelemahan bambu tersebut menjadi berkurang bahkan relatif menjadi sangat kecil.

Hasil panen bambu yang baik dapat dioleh menjadi bahan untuk berbagai macam keperluan, salah satunya sebagai bahan pendukung bangunan, antara lain adalah:

Bambu Lapis

Dari sayatan bambu/pelepuh (seperti kayu lapis)

Bambu Lamina

Potongan-potongan bambu dengan ukuran panjang tertentu yang direkatkan (untuk papan atau tiang)

Papan Semen

Bambu diserut ditambah semen, air kapur dan direndam 2 hari kemudian dibentuk papan pada suhu 56 C selama 9 jam

Bambu Plester

Dinding anyaman sasak atau bilik ditempel dengan adukan semen

Bambu Parquet

Bambu yang diolah untuk lapis lantai, bisa berupa lembaran atau tile.

Sudah sejak jaman dulu bambu dijadikan salah satu bahan bangunan (terutama untuk struktur) rumah tradisional dengan menggunakan teknologi yang masih sangat sederhana

Tetapi kini pada perkembangan jaman modern banyak desain yang mengacu pada suatu bentukan ekspresi yang lebih banyak menuntut teknologi konstruksi yang lebih maju, untuk itu banyak percobaan-percobaan dengan membuat bentukan bambu yang dimodifikasi dengan menggunakan konstruksi modern.

Bambu pendukung Ekspresi Arsitektur bekelanjutan

Membuat bangunan bambu, selain dapat membangun suasana baru, kesan atau citra alam, bambu juga merupakan bahan pendukung arsitektur berkelanjutan, karena bambu merupakan salah satu material ramah ekologis, dapat mengefisiensikan energi, dan dapat menyesuaikan/adaptasi iklim setempat. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan adanya potensi arsitektur nusantara dengan bangunan vernakular/tradisional yang salah satunya menggunakan material bambu yang terbukti mampu menghasilkan karya arsitektur yang berkelanjutan.

Bambu dapat mendukung arsitektur yang memerlukan pemikiran baru dan mempunyai inovasi perancangan tinggi, selain itu menuntut pemahaman nilai-nilai ekologis dan etika arsitektur akan permasalahan ’kontekstual’ seiring dengan perubahan dan tuntutan globalisasi yang tidak hanya menekankan pada permasalahan Fungsional, Teknologi, dan Estetika yang berlaku secara global tetapi juga perlu ada pemahaman nilai-nilai ke’lokal’annya.

Proses keberlanjutan arsitektur meliputi keseluruhan siklus masa suatu bangunan, mulai dari pengadaan material, proses pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan. Proses tersebut sudah dapat terakomodasi oleh bambu sebagai pendukung ekspresi berkelanjutan yang berkaitan dengan aspek lingkungan dan estetika.

Diskusi

Saat ini bambu hanya dipergunakan sebagai suatu pembentuk dan elemen konstruksi saja, padahal bambu telah diperkenalkan ke Eropa melalui beberapa percobaan dan sporadis perancangan didaerah di mana bambu berasal. Hal tersebut menunjukan bahwa arsitek dari daerah ini (Eropa) jadi lebih tertarik mempresentasikan kualitas material bambu kepada kita.

Bambu mempunyai image sebagai material untuk membangun bangunan kelas masyarakat miskin, sebagai contoh di Kolumbia kaum atas sangat menyukai beton. Di India kasta/suku bangsa yang paling tinggi membangun dengan batu, kasta/suku bangsa pertengahan menggunakan kayu dan hanya kasta/suku bangsa yang paling rendah menggunakan bambu. Demikian halnya dengan negara Indonesia sebagian besar masyarakat di pedesaan lah yang menggunakan material bambu untuk digunakan pada bangunananya.

Material bambu yang mempunyai banyak variasi ukuran tidaklah standar, maka orang-orang Eropa dihadapkan dengan berbagai macam kesulitan pada saat mereka ingin membangun dengan material bambu.

Kesalahan utama yang dilakukan oleh beberapa arsitek adalah menggunakan dan memperlakukan bambu seperti kayu. cara dari beberapa arsitek terkenal adalah dengan melakukan percobaan, sebab ia selalu mencoba untuk merencanakan dengan menghormati bambu dari keanehan nya (kelebihan dan kekurangan bambu).

Meskipun demikian beberapa insinyur dan arsitek terkenal telah membuat eksperimen dengan produk alami ini . Kualitas bambu juga dihargai oleh Renzo Piano. Ia tertarik akan mengkombinasikan unsur-unsur logam ringan [tabung / papan] dengan bambu. Dengan cara ini akan memunculkan perpaduan antara bambu dengan konstruksi logam ringan modern, Arata Isozaki, Buckminster Fuller dan Frei Otto.

Bambu pada satu sisi mempunyai suatu arti yang penting terhadap struktur statis suatu bangunan tinggi dan sangatlah sering bambu diuji pada tekanan, tetapi mutu yang riil ada di dalam kemampuan nya untuk menyeimbangkan tegangan gunting yang cukup besar. Salah satu percobaan yang di lakukan oleh Simon Vélez adalah menggunakan konstruksi kerangka ini, yang bisa menopang lebih dari 9 meter dan dengan bentang sepanjang 27 meter.

Tower in the Parque de la Cafetera in Montenegro/Colombia. Vélez/Villegas (1993) height= 19m

Pada tahun 1998 Simón Vélez mengambil bagian dalam suatu summer-workshop di Boisbuchet/ prancis, yang telah diatur oleh Vitra Musium Disain dan the center Georges Pompidou. Pada kesempatan ini ia merealisasikan proyek pertama nya di Eropa- yang berupa suatu paviliun kebun. Satu tahun kemudian ia menyediakan suatu prototipe a’low-cost-house’, yang bisa dibangun oleh penduduk/penghuni. Bangunan ini bersifat sangat menentang gempabumi dan didasarkan pada bambu dan tanah liat. Di bangun dengan luas 60 meter persegi, dan terbagi menjadi dua lantai di Kolombia.

Kebanyakan dari bangunan Vélez menyiratkan kesan menciptakan suatu gambaran bambu yang baik bahkan di kelas sosial Kolumbia yang lebih tinggi. Ini mungkin adalah jalan/cara untuk mengintegrasikan dan menetapkan bambu menjadi material bangunan selanjutnya setelah beton, baja, kayu dan batu.

Factory hall in Pennsylvania, Colombia [1993] by Simon Velez

Michael McDonough adalah salah satu arsitek dan perancang mebel, yang menemukan bambu sebagai bahan ide beberapa tahun yang lalu. Sejak itu ia beksplorasi dengan berbagai kemungkinan terhadap material bambu ini. Michael McDonough merealisasikan proyek nya ‘ Jembatan Bambu Mendocino high-tech ‘ pada tahun 2000.

Ini merupakan suatu demonstrasi kualitas bambu yang bersifat membangun. Kerangka Konstruksi ini bisa membentang sepanjang 33 meter dan juga mampu menopang 60 kali berat bebannya sendiri. Struktur yang statis ini didasarkan pada prinsip ‘tensegrity’, yang dikembangkan lebih lanjut oleh Buckminster Fuller dan Robert Le Ricolais.

( “Synergetics”, by R. Buckminster Fuller )

Shoei Yoh dilahirkan pada 1940 di kota Kumamoto/Japan.pada tahun 1970 ia mendirikan kantor ‘ Shoeiyoharchitects’ . Sepanjang kariernya ia telah banyak menangkan sayembara arsitektur dan pada waktu itu ia mengajar di Universitas Keio. Di dalam dua proyeknya ia menggunakan bambu sebagai struktur statis utama. Ia juga merancang suatu kubah geodetic [ 1989]. Ia juga menggunakan konstruksi ikatan kulit/kerang . Di dalam Chikuho-Fukuoka yang diilhami oleh seniman lokal.

Rancangan arsitek terkenal (Antoon Versteegde) dengan menggunakan bambu dalam menciptakan struktur transisi atau yang bersifat temporer dapat memberikan atau memperkenalkan keuntungan-keuntungan bangunan bamboo yang sangat ekspresif sebagai material green/sustainable.

Dan masih banyak lagi para seniman, desainer dan arsitek dari luar yang melakukan berbagai macam percobaan dengan material bambu ini. Eksplorasi dari berbagai macam karya yang menggunakan bambu ini menunjukan bahwa, bambu merupakan material yang sangat menarik dan merupakan tantangan untuk menciptakan sebuah karya desain yang mendukung ekspresi arsitektur berkelanjutan.

Kesimpulan

Arsitektur bambu tidak sekedar fungsional tetapi juga dapat mempertimbangkan masalah teknologi dan estetika, karena bambu merupakan;

  • Penentuan bahan bangunan yang digunakan dengan bahan lokal dan harga terjangkau, seiring dengan perkembangan jaman maka pengolahan bahan memanfaatkan teknologi baru
  • Proses pembangunan dapat dilakukan dengan teknologi yang sederhana (knok down) bongkar pasang.
  • Sistem perawatan yang tidak sulit (aspek sustainable);
    • Kesederhanaan permukaan bidang, bentuk dan struktur
    • Ketahanan terhadap iklim tropis dengan kelembaban tinggi
    • Bahan pengganti sangat mudah didapatkan karena bahan ini bersifat
    • regeneratif (dapat dibudidayakan kembali)
  • Kekokohan, yaitu dengan mencari substitusi material penguat (alternatif bahan struktural), dengan struktur konstruksi yang baik, memungkinkan bambu sebagai salah satu material yang dapat digunakan untuk bangunan ’tahan gempa’
  • – Dapat merupakan efisiensi terhadap pemanfaatan ruang (meminimalkan ruang (meminimalkan ruang secara horizontal dan memaksimalkan ruang secara vertikal).
  •  Didalam diskusi dapat dilihat berbagai macam inovasi rancangan bambu telah banyak dilakukan oleh para arsitek-arsitek luar dalam berekspresi. Hal tersebut merupakan suatu tantangan bagi kita untuk dapat mengekspresikan, menumbuhkan dan mengembangkan ide-ide rancangan arsitektur dengan menggunakan material bambu yang merupakan pendukung arsitektur berkelanjutan.

One Response to “Dwi Sulistyawati”

  1. Dwi Sulistyawati Says:

    ❤ BamBoo❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: