Adi Marsiela

Sudah Waktunya Pemerintah Membudidayakan Bambu

Oleh: Adi Marsiela  / Pembaruan

Sumber: http://www.opensubscriber.com/ 19 September 2006 

Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap tanaman serbaguna itu hanya pohon kelapa. Padahal di Indonesia ini masih ada yang namanya bambu, yang fungsinya tidak kalah banyak dari pohon kepala. Hanya sayangnya, potensi tersebut masih belum disadari.

Peneliti tanaman bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Elizabeth A Widjaja menuturkan, sampai dengan hari ini ada sekitar 1.500 jenis bambu di seluruh dunia. Indonesia sendiri memiliki 157 jenis yang 60 hingga 70 jenisnya merupakan khas asli Indonesia dan tidak ada di negara lain.

“Kita ini memiliki 10 persen jenis bambu di dunia. Hanya saja, kita itu terlalu terfokus untuk menggunakan kayu yang memang banyak di Indonesia. Seharusnya kita sudah beralih untuk lebih menggunakan bambu,” ungkapnya.

Berdasar perkiraan potensinya di Indonesia, sekitar 13 jenis tanaman bambu tumbuh dan telah lama dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pedesaan, terutama jenis-jenis Gigantochloa, Bambusa dan Dendrocalamus. Namun potensi yang besar ini kurang diperhatikan, sehingga sedikit sekali data dan informasi yang bisa didapat.

“Kalau sekarang ditanya berapa besar lahan bambu di Indonesia, saya yakin tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Bahkan dari Perhutani sekalipun,” tutur dia.

Bambu mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi bila dibudidayakan. Sekarang ini yang sudah ada baru usaha-usaha kecil seperti membuat anyaman, topi, dan juga kursi. Kalau di China, mereka membuat laminating bamboo atau sering disebut play bamboo yang kemudian jadi dinding, jadi atap dan sebagainya.

“Kalau saja kita mau beralih ke bambu, maka kayu yang ada di hutan bisa tidak ditebang. Kelemahan dari kayu itu kan sekali ditebang habis, sedangkan bambu itu bisa tumbuh terus dan baik untuk kesinambungan. Kita harus sadar akan itu,” tukasnya.

Selain itu, bambu juga memiliki kelebihan lain seperti seratnya yang panjang serupa dengan serat pinus. Sehingga bagus untuk dijadikan pulp atau bahan dasar kertas.

Jika digarap dengan baik, maka kertas itu bisa dijual dengan harga US$ 30 per meternya seperti yang sering dipakai di Jepang dan Amerika.

“Yang bagus untuk kertas seperti berasal dari bambu duri, kita punya itu dahulu di Gowa. Hanya saja untuk dapat menebangnya karena ada duri, biayanya menjadi lebih mahal,” urainya.

Sayangnya, sambungnya, sampai sekarang baru ada satu industri saja di Karawang, Jawa Barat, yang memproduksi bambu itu menjadi askaboard. Olahan itu dihasilkan dari bambu yang dicacah dengan semen, sehingga mampu tahan api dan memiliki daya resonansi yang membuatnya kedap suara jika dipasang sebagai sekat-sekat ruangan.

“Masalahnya kalau sudah industri itu kebutuhannya perlu banyak bambu. Berarti butuh areal yang luas, sedangkan kita tidak tahu berapa banyak areal bambu itu. Askaboard yang ada di Karawang itu harganya menjadi mahal dan dijual secara ekspor ke Jepang,” katanya.

Fungsi lain dari bambu itu ialah sebagai penahan erosi di daerah lereng seperti pinggiran sungai. Meski bambu tidak memiliki akar tunggang, tumbuhan yang bisa dimakan saat usianya masih muda itu memiliki akar serabut yang dapat menutupi permukaan tanah dan mengikat serta bisa menyimpan air tanah.

“Kalau mau tahu soal itu, tanya saja petani di desa. Mereka pasti bilang kalau di bawah bambu ada mata airnya,” paparnya.

Selain itu, bambu juga dapat digunakan sebagai bahan dasar dari alat kesenian. Contohnya di Jawa Barat saja terdapat lebih dari 20 jenis alat-alat musik bambu yang dibagi dalam tiga kelompok sesuai dengan metode-metode yang digunakan untuk menghasilkan suara-suara.

Masing-masing kelompok adalah Idiophone (instrumen pukul) dengan alat musiknya angklung, calung, gambang dan lainnya, Aerophone (instrumen tiup), alat musiknya hatong, suling, taleot. Kelompok yang terakhir adalah Chordophones (instrumen petik/tali), alat musiknya Celempung. Species bambu yang digunakan untuk pembuatan alat musik ini adalah jenis bambu Schizostachyum blumei, Gigantochloa apus.

Jika memang banyak fungsinya dan bisa diberdayakan, mengapa kita tidak coba lebih berkonsentrasi mengembangkan budidaya bambu. [Pembaruan/Adi Marsiela]

Memopulerkan Kembali Manfaat Bambu

Sumber: http://bamboosaindonesia.multiply.com/ 12 Agustus 2010

Percaya atau tidak, tanaman bambu bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Setidaknya, obsesi itulah yang diyakini oleh Jatnika, pakar bambu dari Sukahati, Cibinong.

eyakinannya akan hal itu, membuat pria kelahiran 2 Oktober 1956 ini menolak tawaran orang Malaysia untuk melatih dan mendidik orang-orang di sana tentang pemanfaatan dan budi daya ta- naman bambu.

“Saya tolak, tapi mereka bilang mau datang saja dan belajar di Indonesia. Berapa pun biayanya, pasti dibayar. Tapi saya keberatan,” ungkapnya.

Keberatan Jatnika bukan tanpa alasan. Dia berargumentasi bahwa transfer budaya dan kebiasaan untuk menggunakan bambu di Indonesia belumlah dimiliki oleh banyak orang Indonesia. Jatnika khawatir orang asing justru lebih dulu terampil soal bambu daripada orang Indonesia.

Pasalnya untuk dapat belajar menganyam tikar atau bilik, Jatnika harus pergi ke daerah terpencil di Leuwiliang, Bogor. Dari jalan raya itu, dia masih harus menggunakan ojek setengah hari.

“Belajarnya dari nini-nini (nenek-nenek) atau aki-aki (kakek-kakek) yang ada di sana. Kalau mereka sudah tidak ada lagi, bisa jadi kebiasaan membuat boboko (tempat nasi), aseupan (untuk memasak nasi) hilang juga. Ini ilmu turun temurun, tidak ada sekolahnya, maka harus dikembangkan,” pria yang semenjak tahun 1967 sudah membuat kipas dan ayakan dari bambu itu menjelaskan. Saat itu dia baru duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Peneliti tanaman bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Elizabeth A Widjaja menuturkan sampai dengan hari ini ada sekitar 1.500 jenis bambu di seluruh dunia. Indonesia sendiri memiliki 157 jenis yang 60 hingga 70 jenisnya merupakan khas asli Indonesia dan tidak ada di negara lain.

“Kita ini memiliki 10 persen jenis bambu di dunia. Hanya saja, kita itu terlalu terfokus untuk menggunakan kayu yang memang banyak di Indonesia. Seharusnya kita sudah beralih untuk lebih menggunakan bambu,” ujar Jatnika.

Berdasar perkiraan potensinya di Indonesia, sekitar 13 jenis tanaman bambu tumbuh dan telah lama dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pedesaan, terutama jenis-jenis dari marga (genus) Gigantochloa, Bambusa dan Dendrocalamus. Namun potensi yang besar ini kurang diperhatikan, sehingga sedikit sekali data dan informasi yang bisa didapat.

“Kalau sekarang ditanya berapa besar lahan bambu di Indonesia, saya yakin tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Bahkan dari Perhutani sekalipun,” tuturnya.

Nilai Ekonomis

Bambu, sambung dia, mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi bila dibudidayakan. “Sekarang ini yang sudah ada baru usaha-usaha kecil seperti membuat anyaman, topi, dan juga kursi. Kalau di China, mereka membuat laminating bamboo atau sering disebut play bamboo yang kemudian jadi dinding, jadi atap dan sebagainya.”

“Kalau saja kita mau beralih ke bambu, maka kayu yang ada di hutan bisa tidak ditebang. Kelemahan dari kayu itu kan sekali ditebang habis, sedangkan bambu itu bisa tumbuh terus dan baik untuk kesinambungan. Kita harus sadar akan itu,” ujarnya.

Menurut Jatnika, di Jawa Barat paling tidak ada 95 jenis bambu. Jika dirunut lagi, mulai dari keperluan rumah tangga hingga keperluan sehari-hari dan juga untuk lingkungan ada 1.511 fungsi bambu.

Jatnika menjelaskan fungsi bambu dalam dunia kedokteran. Ada satu jenis bambu yang disebut bambu tamiang. Bambu ini bisa digunakan sebagai pisau bedah operasi karena memang steril dan memiliki zat lilin, antibiotik, dan kandungan solfatilamin yang dapat membuat luka lebih cepat sembuh. “Sayangnya bambu ini sudah tidak pernah digunakan,” tuturnya.

Untuk dapat melestarikan budaya dan keahlian serta tanaman bambunya, Jatnika bercita-cita ingin membuat satu kampung dengan 41 penghuni.

Setiap delapan orang, dijadikan satu kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran dan fungsi masing-masing.

Kelompok pertama khusus mengolah tanaman bambu. Kelompok dua, khusus membuat anyaman dari bambu. Kelompok tiga, mengembangkan alat musik dari bambu. Yang keempat, khusus membuat makanan dari bambu. Kelompok terakhir, membuat mebel dari bambu.

“Sementara satu orang lagi menjadi koordinator pembuatan rumah dari bambu yang memang menjadi muara dari kampung dengan area sekitar lima hektare itu. Itu cita-cita saya, barangkali ada yang berminat. Karena itu juga bisa dijadikan museum sekaligus menjadi tempat untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bambu,” katanya.

Rumah Bambu

Lebih lanjut, Jatnika merasakan pergeseran budaya yang terjadi di Indonesia, membuat kebiasaan menggunakan bambu tidak berkembang. Banyak orang yang merasa terhina kalau punya rumah dari bambu.

Padahal, lanjut dia, Emil Salim yang mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, pernah mengatakan kalau orang yang sudah lama kaya pasti rumahnya dari bambu. Sementara orang yang rumahnya masih tembok bertingkat itu belum benar-benar kaya.

“Contohnya saja di Baduy yang masih menggunakan bilik bambu, malah dikunjungi tamu-tamu asing dari luar negeri. Bambu itu juga kan tahan lama, asalkan memang tahu cara mengolah dan memperlakukannya,” kata dia.

Jatnika menambahkan, jika orang ingin menebang pohon bambu, sebaiknya jangan dilakukan saat bambu itu tengah mengeluarkan rebung. “Karena bisa mematikan rumpun yang lain,” ujarnya.

Ada juga pantangan untuk menebang bambu di hari Selasa dan Sabtu. Menebang bambu di pagi hari juga tidak dianjurkan, apa-lagi di saat bulan sedang terang. Pantangan itu akan mempengaruhi kualitas bambu di kemudian hari.

“Semuanya sama untuk mencegah kandungan air yang terlalu tinggi di dalam bambu. Itu akan berdampak pada kekuatannya nanti,” paparnya, seraya menerangkan bambu yang mengeluarkan aroma tapai, sarat dengan kadar gula, sedangkan yang aman untuk digunakan adalah bambu yang aromanya netral. Perawatan bambu, tambahnya, cukup sederhana. Walau tidak disiram, bambu punya cadangan air, dan daun menjadi pupuknya sendiri.

Sekarang ini, Jatnika tengah berkonsentrasi untuk mengajak masyarakat kembali pada bambu sebagai bahan dasar membuat rumahnya.

Selain lebih murah harganya, daya tahan rumah bam- bu ini lebih baik dibandingkan dengan rumah dari tembok.

“Rumah paling bagus Rp 1,2 juta per meter dari bambu sedangkan rumah dari tembok Rp 1,5 juta per meter. Rumah bambu kelas dua standar Rp 900 ribu per meter, ada yang Rp 750 ribu per meter untuk rumah panggung, plus atas dan atap serta memasangnya. Untuk tipe 30 itu Rp 21 juta (dengan tipe rumah panggung),” katanya.

Selain bisa menyesuaikan suhu dengan cuaca, kalau dingin jadi hangat, kalau panas jadi teduh, rumah dari bambu juga tahan gempa. “Sudah sangat layak huni rumah dari bambu itu.”

Lebih lanjut, menurut Jatnika, hidup itu haruslah sesuai dengan perilaku bambu. Bambu memberikan banyak manfaat bagi orang lain, bisa menjadi kuat sekaligus fleksibel saat terkena tiupan angin.

“Hidup juga harus teratur seperti bambu yang jelas panjang ruas dan buku-bukunya,” imbuh Jatnika. [Pembaruan/Adi Marsiela]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: