Mastok

PENGEMBANGAN KAWASAN HUTAN PULIH BAMBU TABUNGAN HIJAU HUTAN BAMBU

Oleh: Mastok 

Sumber: http://baltyra.com/2012/07/27/ 

1. PENDAHULUAN

Visi yang sekarang diemban dalam pengelolaan sumberdaya pengolahan hutan adalah “ HUTAN ADALAH TABUNGAN HIJAU, HUTAN UNTUK KEMAKMURAN GENERASI BANGSA MASA DEPAN ”. Dengan visi seperti ini upaya-upaya menciptakan kemakmuran masyarakat yg akan dating melalui pengelolaan hutan dilaksanakan secara adil, dan memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat.

Selanjutnya dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan, telah diberikan peluang bagi masyarakat untuk turut serta mengelola hutan melalui wadah koperasi untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui peningkatan pengusahaan hasil hutan non kayu oleh usaha kecil dan koperasi. Oleh karena itu kemampuan kelembagaan masyarakat dalam pengusahaan hasil hutan non kayu perlu ditingkatkan agar dapat memberikan keuntungan ekonomis dan ekologis yang berkelanjutan maksimal. Dalam konteks inilah maka perlu disusun Rancangan Model Pengusahaan terpadu Hasil Hutan Non Kayu (Bambu) oleh Usaha Kecil dan Koperasi dalam wadah komunitas yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, pring, Awi’ eru. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan baik masyarakat petani maupun nelayan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. Bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan. Bambu dalam bentuk bulat dipakai untuk berbagai macam konstruksi seperti rumah, gudang, jembatan, tangga, pipa saluran air, tempat air, serta alat-alat rumah tangga. Dalam bentuk belahan dapat dibuat bilik, dinding atau lantai, reng, pagar, kerajinan dan sebagainya. Beberapa jenis bambu akhir-akhir ini mulai banyak digunakan sebagai bahan utilitas, industri supit, alat ibadah, serta barang kerajinan, peralatan dapur, topi, tas, kap lampu, alat musik, tirai dan lain-lain.

Dari kurang lebih 1.600 species bambu dalam 80 negara, sekitar 200 species dari 20 negara ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995), sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 160 jenis. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 1500 m dpl. Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air.

Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali Daalam masyarakat kita jenis bambu adalah bamboo yang paling dikenal adalah, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam derta bamboo tali yang membunyai banyak fungsi dan mempunya nilai ekonimis tinggi.

Bambu mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

Dalam penggunaannya di masyarakat, bahan bambu kadang-kadang menemui beberapa keterbatasan. Sebagai bahan bangunan, faktor yang sangat mempengaruhi bahan bambu adalah sifat fisik bambu yang membuatnya sukar dikerjakan secara mekanis, variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya serta ketidakawetan bahan bambu tersebut menjadikan bambu tidak dipilih sebagai bahan komponen rumah. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari bambu yang dikuliti khususnya dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur biru dan bulukan sedangkan bambu bulat utuh dalam keadaan kering dapat diserang oleh serangga bubuk kering dan rayap kayu kering.

Tanaman bambu di Indonesia merupakan tanaman bambu simpodial, yaitu batang-batangnya cenderung mengumpul didalam rumpun karena percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul. Batang bambu yang lebih tua berada di tengah rumpun, sehingga kurang menguntungkan dalam proses penebangannya. Metode pemanenan tanaman bambu adalah dengan metode tebang habis dan tebang pilih. Pada metode tebang habis, semua batang bambu ditebang baik yang tua maupun yang muda, sehingga kualitas batang bambu yang diperoleh bercampur antara bambu yang tua dan yang muda. Selain itu metode ini juga menimbulkan pengaruh terhadap sistem perebungan bambu, sehingga kelangsungan tanaman bambu terganggu, karena sistem perebungan bambu dipengaruhi juga oleh batang bambu yang ditinggalkan. Pada beberapa jenis tanaman bambu metode tebang habis menyebabkan rumpun menjadi kering dan mati, tetapi pada jenis yang lain masih mampu menumbuhkan rebungnya tetapi dengan diameter rebung tidak besar dan junlahnya tidak banyak.

Metode tebang pilih pada tanaman bambu adalah menebang batang-batang bambu berdasarkan umur tumbuhnya. Metode ini dikembangkan dengan dasar pemikiran adanya hubungan batang bambu yang ditinggalkan dengan kelangsungan sistem perebungan bambu.

Bambu dapat diklasifikasikan ke dalam generasi-generasi yaitu :

  • generasi I (berumur lebih dari 4 tahun)mempunyai ciri fisik berjamur, padat kuning sampai lapuk di pohon
  • generasi II (berumur 2 – 3 tahun) mempunyai ciri fisik warna cerah dan rimbun
  • generasi III (berumur 1 – 2 tahun), buluh nya berbulu, warna cerah
  • generasi IV (berumur 0 – 1 tahun) rebung sampai keluar daun sempurna

Pengklasifikasian ini tidak menyertakan batang dalam suatu rumpun yang lebih dari 4 tahun, karena umumnya batang bambu pada umur tersebut sudah ditebang karena sudah masak tebang. Informasi yang diberikan adalah bahwa sistem tebang pilih yang disarankan untuk dilakukan adalah yang pertama menebang semua batang generasi I, kedua menebang batang generasi I + II + III dan yang ketiga menebang semua batang generasi I + II.

Selain itu perlu diperhatikan bahwa metode penebangan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perebungan suatu tanaman bambu, melainkan dipengaruhi juga oleh banyaknya batang yang ditinggalkan pada tiap rumpun. Batang yang sebaiknya ditinggalkan dalam suatu pemanenan adalah generasi II, III dan IV dari suatu rumpun yang dipanen, dengan perbandingan generasi IV lebih banyak yang ditinggalkan daripada generasi lainnya.

Pembangunan Kawasan Hutan bambu pada hakekatnya adalah kegiatan awal untuk memacu pembangunan ekonomi rakyat di wilayah pedesaan. Secara bertahap kegiatan produksi diupayakan untuk diikuti oleh muncul dan berkembangannya kegiatan ekonomi terkait, sehingga menumbuhkan perekonomian masyarakat.

Rancangan Tabungan Hijau, yang meliputi lima komponen utama,yaitu:

(1). Unit Pembibitan produksi bambu

(2). Unit kelembagaan Baik sekolah dan masyarakat pedesaan

(3). Unit industri dan Paska Produksi

(4). Unit Industri Pupuk Organik /Pakan ternak.

(5). Unit samping Kebun Teknologi, Lembaga Pendampingan dan Lembaga Investasi

2. RANCANGAN MODEL TABUNGAN HIJAU DAN KEMITRAAN

Bambu mempunyai banyak keunggulan untuk dijadikan pengganti kayu sebagai bahan bangunan serta mebel. Bambu mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Untuk melakukan budidaya bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi. Budidaya bambu dapat dilakukan sebarang orang, dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan bekal pengetahuan yang tinggi.

Bambu mudah tumbuh tanpa bantuan pestisida maupun pupuk kimia buatan. Bambu juga mempunyai struktur akar yang kuat untuk menahan terjadinya erosi sehingga bagus ditanam di lahan miring. Bambu mempunyai kecepatan fotosintesis 35% lebih dibanding tumbuhan yang lain sehingga dapat memproduksi oksigen lebih banyak. Sekali ditanam, bambu tidak perlu ditanami lagi karena otomatis beranak-pinak, tentu saja dengan pola panen yang teratur dan bijaksana disesuaikan dengan pertumbuhannya. Melihat keunggulan-keunggulan tersebut pohon bambu nampak dapat menjadi kandidat yang bagus untuk pelestarian lingkungan dan sekaligus sumber penghasilan.

Bambu merupakan jenis tanaman yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari bagi masyarakat khususnya di pedesaan. Meskipun sebagaitanaman penting, hingga saat ini bambu belum mendapat prioritas untuk dikembangkan oleh Pemerintah. Hingga saat ini bambu belum dibudidayakan secara intensif. Pada prakteknya petani masih menggunakan teknologi yang sederhana. Bambu betung (Dendrocal mus asper) adalah salah satu jenis yang mempunyai nilai potensi ekonomi. Tanaman ini dapat dijumpai tumbuh mulai dari daerah dataran rendah hingga dataran tinggi (2000 meter), dan akan tumbuh lebih baik bila ditanam di tanah subur pada lahan basah. Beberapa permasalahan dapat dijumpai di lapangan selama pertumbuhannya. Salah satu di antaranya adalah rendahnya teknologi budidaya yang dipraktekkan oleh petani. Untuk memecahkan permasalahan tersebut teknologi perbanyakan tanaman perlu dikembangkan.

Kelas 4 sekolah dasar (umur 10 tahun).. Menanan dan merawat

Kelas 1 Smp (Umur 13 Tahun) Penjarangan Rebung Bisa di ambil

Kelas 1 Sma (Umur 16 Tahun) Banbu sudah dapat di panen dengan metode 40 -60 artinya disisakan generasi ke dua- ketiga dan keempat

2.1. Unit Kelembagaan Pendidikan dan kemasyarakan

2.1.1. Sekala Usaha

Pengelolaan bambu dalam kawasan hutan dilakukan bekerjasama upun kelompok tani dan nelayan, secara kemitraan dengan Pemilik lahan baik Perhutahi. kai setempat dengan sistem bagi hasil yang disepakati bersama. Secara kelembagaan diperlukan adanya perjanjian kontrak kerja antara Pemilik lahan baik Perhutahi dengan Komunitas petani atau masyarakat penggarap lahan Bambu

Pertanaman bambu pada lahan milik (lahan pekarangan dan tegalan) diutamakan pada petrak-petak lahan yang miring (slope > 25%), bantaran sungai, batas pemilikan lahan, lahan pekarangan sekitar rumah.

2.1.2. Lokasi dan Potensi Lahan

Lokasi lahan yang disarankan untuk Tabungan Hijau (di lahan yang telah menjadi mita) tersebar di wilayah kecamatan sekitar kawasan hutan, Daerah aliran sungai, Batas desa.kampung yang tidak mngurangi lahan Produktif.

2.1.3. JENIS TANAMAN

A. Tanaman Utama: Bambu dengan aneka kultivar ekonomis.

1. Bambu Sembilang (Dendrocalamus giganteus), berwarna hijau muda hingga hijau tua, panjang ruas 50-60 cm, diameter batang hingga ketinggian 4 meter mencapai 20-25 cm, ketebalan di bagian pangkal 3 cm, cocok untuk bahan baku kertas, pulp, chopstick, particle board, pelapis dinding bangunan. Umur panen 1-1.5 tahun. Jenis bambu ini disarankan untuk ditanam di dalam kawasan hutan.

2. Bambu Petung, cocok untuk ditanam di kawasan hutan dan lahan-lahan milik yang curam

3. Bambu Apus, batangnya cocok untuk bahan anyaman

4. Bambu Jepang (Dracaena godseffiana), jenis bambu hias dalam ruangan, pertumbuhannya tahan naungan, mudah diperbanyak dengan stek.

5. Bambu taman (Arundinaria suberecta), bambu kerdil, bambu hias untuk taman-taman terbuka, daunnya kecil-kecil, tahan kering.

6. Bambu kuning (Bambusa vulgaris), batangnya kuning keemasan bergaris hijau, panjangnya mencapai 500 – 700 cm, diameternya 8-10 cm, cocok untuk bahan/ material bangunan

7. Bambu Jawa (Gigantochloa aspera), batangnya sangat cocok untuk bahan bangunan, warnanya hijau, panjangnya mencapai 12-15 m, diameternya 15-20 cm

8. Bambu Loreng (Ochlandra maculata), batangnya loreng coklat, panjangnya mencapai 20 m, daunnya besar-panjang-lebar, digunakan sebagai bahan meubeler (furniture)

Sifat Anatomi Bambu

Kolom bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) Dransfield dan Widjaja (1995). Parenkim dan sel penghubung lebih banyak ditemukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang.

Sifat Fisis dan Mekanis Bambu

Sifat fisis dan mekanis merupakan informasi penting guna memberi petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat fisis dan mekanis bambu telah diberikan oleh Ginoga (1977) dalam taraf pendahuluan. Pengujian dilakukan pada bambu apus (Gigantochloa apus Kurz.) dan bambu hitam (Gigantochloa nigrocillata Kurz.). Beberapa hal yang mempengaruhi sifat fisis dan mekanis bambu adalah umur, posisi ketinggian, diameter, tebal daging bambu, posisi beban (pada buku atau ruas), posisi radial dari luas sampai ke bagian dalam dan kadar air bambu. Hail pengujian sifat fisis mekanis bambu hitam dan bambu apus terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat fisis dan mekanis bambu hitam dan bambu apus
No.
Sifat
Bambu hitam
Bambu apus

1.
Keteguhan lentur statik

a. Tegangan pada batas proporsi (kg/cm2)
447
327

b. Tegangan pada batas patah (kg/cm2)
663
546

c. Modulus elastisitas (kg/cm2)
99000
101000

d. Usaha pada batas proporsi (kg/dcm3)
1,2
0,8

e. Usaha pada batas patah (kg/dm3)
3,6
3,3

2.
Keteguhan tekan sejajar serat (tegangan maximum, kg/cm2)
489
504

3.
Keteguhan geser (kg/cm2)
61,4
39,5

4.
Keteguhan tarik tegak lurus serat (kg/cm2)
28,7
28,3

5.
Keteguhan belah (kg/cm2)
41,4
58,2

6.
Berat Jenis

a. KA pada saat pengujian
0,83 KA : 28%
0,69 KA : 19,11%

b. KA kering tanur
0,65 KA : 17%
0,58 KA : 16,42%

7.
Keteguhan pukul

a. Pada bagian dalam (kg/dm3)
32,53
45,1

b. Arah tangensial (kg/dm3)
31,76
31,9

c. Pada bagian luar (kg/dm3)
17,23
31,5

Sumber : Ginoga (1977)

Pengujian dilakukan pada tiga jenis bambu, yaitu bambu andong (Gigantochloa verticillata), bambu bitung (Dendrocalamus asper Back.) dan bambu ater (Gigantochloa ater Kurz.) Hasilnya menunjukkan bahwa bambu ater mempunyai berat jenis dan sifat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan bambu bitung dan bambu andong. Nilai rata-rata keteguhan lentur maksimum, keteguhan tekan sejajar serat dan berat jenis tidak berbeda nyata pada buku dan ruas, sedangkan antar jenis berbeda nyata. Nilai rata-rata sifat fisis dan mekanis bambu terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai sifat fisis dan mekanis bambu
No.
Sifat fisis dan mekanis
Bambu ater kg/cm2
Bambu bitung kg/cm2
Bambu andong kg/cm2

1.
Keteguhan lentur maksimum
533,05
342,47
128,31

2.
Modulus elastisitas
89152,5
53173,0
23775,0

3.
Keteguhan tekan sejajar serat
584,31
416,57
293,25

4.
Berat jenis
0,71
0,68
0,55

Sumber : Hadjib dan Karnasudirdja (1986)

Sifat Kimia Bambu

Penelitian sifat kimia bambu telah dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988) meliputi penetapan kadar selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, serta kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar selulosa berkisar antara 42,4% – 53,6%, kadar lignin bambu berkisar antara 19,8% – 26,6%, sedangkan kadar pentosan 1,24% – 3,77%, kadar abu 1,24% – 3,77%, kadar silika 0,10% – 1,78%, kadar ektraktif (kelarutan dalam air dingin) 4,5% – 9,9%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam air panas) 5,3% – 11,8%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam alkohol benzene) 0,9% – 6,9%. Hasil analisis kimia 10 jenis bambu pada Tabel 3.

Keawetan dan Keterawetan

Penelitian keawetan bahan bambu telah dilakukan oleh para peneliti. Bambu ampel (Bambusa vulgaris) paling rentan terhadap serangan bubuk, kemudian bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae) dan bambu terung (Gigantochloa nitrocilliata). Sedangkan bambu atter (Gigantochloa atter) dan bambu apus/tali (Gigantochloa apus) relatif tahan terhadap serangan bubuk. Jenis bubuk bambu yang banyak ditemukan menyerang bambu adalah Dinoderus sp., sedangkan jenis bubuk yang paling sedikit ditemukan menyerang bambu adalah Lyctus sp. Kuantitas bubuk yang ditemukan pada bambu terdapat pada Tabel 4, sedangkan penyebaran jenis bubuk pada bambu terdapat pada Tabel 5.

Tabel 3. Analisis kimia 10 jenis bambu
Kelarutan dalam , (%)

No
Jenis Bambu
Selulosa(%)
Lignin(%)
Pentosan(%)
Abu (%)
Silika(%)
Air di-ngin
Air panas
Alkohol- benzene
NaOH1%

1.
Phyllostachys reticulata (bambu madake)
48,3
22,2
21,2
1,24
0,54
5,3
9,4
4,3
24,5

2.
Dendrocalamus asper (bambu petung)
52,9
24,8
18,8
2,63
0,20
4,5
6,1
0,9
22,2

3.
Gigantochloa apus (bambu batu)
52,1
24,9
19,3
2,75
0,37
5,2
6,4
1,4
25,1

4.
Gigantochloa nigrociliata (bambu batu)
52,2
26,6
19,2
3,77
1,09
4,6
5,3
2,5
23,1

5.
Gigantochloa verticillata (bambu peting)
49,5
23,9
17,8
1,87
0,52
9,9
10,7
6,9
28,0

6.
Bambusa vulgaris (bambu ampel)
45,3
25,6
20,4
3,09
1,78
8,3
9,4
5,2
29,8

7.
Bambusa bambos (bambu bambos)
50,8
23,5
20,5
1,99
0,10
4,6
6,3
2,0
24,8

8.
Bambusa polymorpha (bambu kyathaung)
53,8
20,8
17,7
1,83
0,32
4,9
6,9
1,9
22,4

9.
Chephalostachyum pergraciles (bambu tinwa)
48,7
19,8
17,5
2,51
0,51
9,8
11,8
6,7
29,3

10.
Melocanna bambusoides
42,4
24,7
21,5
2,19
0,33
7,3
9,7
4,0
28,4

Sumber : Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988)

Tabel 4. Bubuk yang ditemukan pada bambu
Jml srangga
Ttal srangga

No
Jenis Bambu
P (e)
T (e)
U (e)
S (e)
R (%)
Y (b)
DS (%)

1.
Bambusa vulgaris
415
375
800
30,48
2312
100
10

2.
Gigantochloa apus
125
25
156
5,94
252
40
6

3.
Gigantochloa atroviolaceae
257
295
554
21,10
997
90
2

4.
Gigantochloa atter
175
30
213
8,11
484
40
8

5.
Gigantochloa nigrocilliata
180
48
228
8,69
1176
70

6.
Gigantochloa robusta
177
60
237
9,03
655
70

7.
Gigantochloa pseodoarundinacea
227
202
457
16,65
1982
90
8

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)Keterangan :

P : pangkal e : ekor R : jumlah dalam %
T : tengah b : buah Y : lubang gerek
U : ujung S : jumlah individu DS: derajat serangan

Tabel 5. Penyebaran jenis bubuk pada bambu
Jenis bambu
Jumlah

No.
Jenis bubuk
A
B
C
D
E
F
G
H
I



+
+
+

+
327
12,33

2.
Lyctus sp.


+

+
+
+
35
1,32

3.
Dinodeus
+
+
+
+
+
+
+
1946
73,23

4.
Minthea sp.


+
+
+
+
+
369
13,93

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)
Keterangan :

A : bambu ampel
D : bambu atter
G : bambu andong

B : bambu apus (tali)
E : bambu terung
+ : ditemukan

C : bambu hitam
F : bambu mayan
– : tidak ditemukan

Keunggulan Bambu

1. Bambu mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Untuk melakukan budidaya bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi. Budidaya bambu dapat dilakukan sembarang orang, dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan bekal pengetahuan yang tinggi.

2. Pada masa pertumbuhan, bambu tertentu dapat tumbuh vertikal 5 cm per jam, atau 120 cm per hari. Bambu dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Berbeda dengan pohon kayu hutan yang baru siap ditebang dengan kualitas baik setelah berumur 40-50 tahun, maka bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun.

3. Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. Rumpun bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi, bahkan pada saat Hiroshima dijatuhi bom atom sampai rata dengan tanah, bambu adalah satu-satunya jenis tanaman yang masih dapat bertahan hidup.

4. Bambu mempunyai kekuatan cukup tinggi, kuat tariknya dapat dipersaingkan dengan baja. sekalipun demikian kekuatan bambu yang tinggi ini belum dimanfaatkan dengan baik karena biasanya batang-batang struktur bambu dirangkaikan dengan pasak atau tali yang kekuatannya rendah

5. Bambu berbentuk pipa sehingga momen kelembabannya tinggi, oleh karena itu bambu cukup baik untuk memikul momen lentur. Ditambah dengan sifat bambu yang elastis, struktur bambu mempunyai ketahan yang tinggi baik terhadap angin maupun gempa.

Kelemahan Bambu

Sekalipun bambu memiliki banyak keunggulan, kiranya perlu juga diingat bahwa upaya menjadikan bambu sebagai pengganti kayu menghadapi beberapa kendala, yaitu :

1. Bambu mempunyai durabilitas yang sangat rendah, bambu sangat potensial untuk diserang kumbang bubuk, sehingga bangunan atau perabot yang terbuat dari bambu tidak awet. Oleh karena itu rangka bangunan dari bambu, yang tidak diawetkan, hanya dipandang sebagai komponen bangunan sementara yang hanya tahan tidak lebih dari 5 tahun. Hal ini merupakan kendala yang sangat serius karena minat orang pada bambu jadi berkurang. Betapa ganasnya kumbang bubuk ini dapat diberikan contoh kejadian pengelolahan bambu kami yang berlokasi di Bandung selatan. Perusahaan ini tiap tahun mendatangkan bambu sampai sekitar 24 truk, tetapi hampir 30-40 persen dari bambu tersebut telah rusak diserang kumbang bubuk sebelum sempat dijadikan diolah. Mengingat produk bambu kini sudah mulai menjadi komoditi ekspor, maka upaya untuk mencegah serangan bubuk perlu memperoleh perhatian secara khusus agar barang-barang yang terbuat dari bambu tidak mengecewakan pemakainya.

2. Kekuatan sambungan bambu yang pada umumnya sangat rendah karena perangkaian batang-batang struktur bambu sering kali dilakukan secara konvensional memakai paku, pasak, atau tali ijuk. Pada perangkaian batang-batang struktur dari bambu yang dilakukan dengan paku atau pasak, maka serat yang sejajar dengan kekuatan geser yang rendah menjadikan bambu mudah pecah karena paku atau pasak. Penyambungan memakai tali sangat tergantung pada keterampilan pelaksana. Kekuatan sambungan hanya didasarkan pada kekuatan gesek antara tali dan bambu atau antara bambu yang satu dengan bambu lainnya Dengan demikian penyambungan bambu secara konvensional kekuatannya rendah, sehingga kekuatan bambu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada saat tali kendor sebagai akibat kembang susut karena perubahan temperatur, kekuatan gesek itu akan turun, dan bangunan dapat runtuh. Oleh karena itu sambungan bambu yang memakai tali perlu dicek secara berkala, dan tali harus selalu disetel agar tidak kendor.

3. Kelangkaan buku petunjuk perancangan atau standar berkaitan dengan bangunan yang terbuat dari bambu.

4. Sifat bambu yang mudah terbakar. Sekalipun ada cara-cara untuk menjadikan bambu tahan terhadap api, namun biaya yang dikeluarkan relatif cukup mahal.

5. Bersifat sosial berkaitan dengan opini masyarakat yang sering menghubungkan bambu dengan kemiskinan, sehingga orang segan tinggal di rumah bambu karena takut dianggap miskin. Orang baru mau tinggal di rumah bambu jika tidak ada pilihan lain. Untuk mengatasi kendala ini maka perlu dilibatkan arsitek, agar rumah yang dibuat dari bambu terlihat menarik. Upaya ini tampak pada bangunan-bangunan wisata yang berupa bungalo dan rumah makan yang berhasil menarik wisatawan mancanegara.

Komoditi Tanaman Penunjang: Tanaman Tahunan (Mangga, Pisang, Melinjo, dan lainnya); dan Tanaman Pangan (Jagung, Ubikayu, Kacang-kacangan, Sayuran).

bersambung…

Share This Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: