Anonim

Bambu Sekuat Jati

Sumber: http://bamboosaindonesia.multiply.com/ 24 November 2010 

Bambu layak sebagai bahan lantai dan papan rumah karena estetis serta mampu bertahan hingga 25 tahun. Setelah diolah, bambu bahkan sekuat kayu jati. Itu kabar baik di tengah laju penggundulan hutan yang kian kencang. Menurut Ir Soewarno Hasan Bahri MS dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, laju degradasi hutan mencapai 5,46 ha per menit. Menurut Dr Iskandar Zul Siregar, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Penebangan ilegal bisa 4 kali lipat dari angka itu.

Celakanya ketika hutan menyusut, kebutuhan kayu justru sangat tinggi. Bambu komposit menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan itu. Produk itu diperkenalkan oleh Prof Dr Bambang Subiyanto MSc, kepala Pusat Inovasi LIPI, Serpong, Tangerang, Provinsi Banten. Menurut Bambang Subiyanto, papan bambu dapat menggantikan kayu.

Sekuat baja

Bambang membelah vertikal batang bambu menjadi 2 bagian. Kemudian ia mengolahnya dengan tekanan 25 kgf per cm2 dan panas 150oC selama 30 menit. Sosok tanaman anggota famili Poaceae itu berubah menjadi papan, papan lapis, dan balok yang disebut bambu komposit dengan seabrek kelebihan. Bouw Technologie RDA BV, konsultan bangunan kenamaan di Rotterdam, Belanda, membuktikan kekuatan dan daya tahan bambu komposit setara kayu kelas I dan II seperti jati, merbau, atau bangkirai.

Di Rotterdam papan bambu komposit setebal 2 cm dimanfaatkan sebagai dinding tanggul kanal sedalam 2 m selama 6 bulan. Hasilnya, “Setelah diangkat strukturnya tetap bagus tanpa mengalami kerusakan,” ujar Bambang Subiyanto. Wajar bila bambu bisa digunakan sebagai bahan eksterior dan tahan sampai 25 tahun.

Nor Intang Setyo H dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman mengatakan serat bambu mempunyai kuat tarik tinggi, 2 kali kuat tarik baja tulangan. “Bila bambu dimanfaatkan sebagai balok komposit dapat menghemat penggunaan kayu dan biaya pun murah,” kata Intang. Bambu tahan lama lantaran kandungan silika dalam jaringan parenkim mencapai 0,1 – 1,78%.

Prof Dr Ir Morisco, periset di Laboratorium Teknk Struktur Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan molekul air tidak bisa masuk lantaran pori-pori struktur bambu yang diperkuat lem sangat rapat. Oleh karena itu bambu komposit bisa menggantikan kayu.

Sebanding

Menurut Dr Ir Subiyakto MSc – peneliti bambu di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI – ide membuat bambu komposit berawal dari kunjungannya ke China. Di negeri Tirai Bambu itu ia melihat bambu dijadikan pelapis lantai untuk menggantikan ubin teraso dan keramik.

Pengalaman itu terus terbayang dalam benaknya. Setelah tiba di tanahair, peneliti 51 tahun itu tertarik mencoba. Namun, “Belum ada mesin crusher (perata, red) yang sesuai untuk bambu,” kata Subiyakto.

Kebetulan ayah 3 anak itu melihat mesin penghancur kayu di Universitas Kyoto, Jepang. Ia lalu meniru desainnya. Mesin pertama selesai akhir 1997. Itu digerakkan motor listrik berkekuatan 7 tenaga kuda.

Kelemahannya, alur roda penggiling terlalu renggang sehingga pelupuh – belahan bambu yang diratakan – yang dihasilkan kurang halus. Akibatnya proses perataan mesti diulang sampai 7 kali. Oleh karena itu ia membuat mesin yang lebih sempurna pada 2000. Alur ketiga roda pengepres di dalamnya berbeda kerapatan, renggang di awal, agak rapat di tengah, dan paling rapat di bagian ujung. Perbedaan alur itu untuk menghaluskan dan memperbanyak retakan pada pelupuh.

Makin banyak dan halus retakan, lem makin baik tersebar sehingga komposit seragam kerapatan dan kekuatannya. “Kalau langsung menggunakan roda penggiling yang rapat, perlu mesin lebih kuat. Selain itu berisiko menghancurkan bambu,” kata Subiyakto. Dengan mesin baru itu proses cukup 3 – 4 kali. Untuk menghasilkan selembar papan bambu komposit berukuran 240 cm x 120 cm x 4 cm, perlu 5 – 7 batang bambu sepanjang 6 – 7 m.

Produksi papan selebar itu perlu lem 10% dari bobot kering bambu atau 33 – 42 kg. Jika menggunakan lem fenol formaldehid, total biaya produksi minus tenaga kerja dan investasi mesin hanya Rp510.000. Itu bila harga bambu Rp10.000 per batang dan lem Rp10.000 per kg. Lem fenol formaldehid (PF) untuk papan eksterior; papan interior, cukup lem urea formaldehid – separuh harga lem PF. Jadi biaya produksi papan bambu mencapai Rp4,4-juta; kayulapis Rp5,5-juta – Rp6,8-juta

Homogen

Dengan investasi mesin Rp100-juta – Rp150-juta, peluang memproduksi bambu komposit sangat lebar. Pasar dijamin terbuka. “Belanda berani membeli seharga US$400/m3,” kata Subiyakto. Pada prinsipnya semua jenis bambu bisa dibuat komposit. Namun, hasil terbaik diperoleh kalau menggunakan bambu berdiameter homogen dari pangkal sampai ujung seperti bambu sembilang Dendrocalamus giganteus dan bambu tali alias bambu apus Gigantochloa apus.

Bambu berdiameter homogen berpengaruh terhadap kerapatan komposit. Jika menggunakan bambu yang mengecil di ujung, “Ketebalan bisa diseragamkan dengan pemberian lem sebagai pengisi, tapi kerapatannya akan berbeda,” kata Subiyakto. Bambu yang digunakan berumur minimal 4 tahun yang memiliki kekuatan optimal. Bandingkan dengan umur pohon yang rata-rata puluhan tahun.

Menurut Ir Soewarno Hasan Bahri MS dari Perhimpunan Pecinta Bambu Indonesia (Perbindo), bambu sangat baik untuk merehabilitasi lahan. “Selain batangnya bernilai komersial, tanamannya juga bernilai konservasi,” kata Soewarno. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto

Bambu komposit asal Indonesia untuk dinding pagar di Belanda

Jadi Papan

Potong bambu sepanjang 2,4 m – ukuran panjang standar kayu lapis – lalu belah menjadi 2 bagian.

Masukkan bambu ke mesin crusher sehingga menghasilkan pelupuh – bentuk rata. Ulangi (masukkan kembali) pelupuh itu 3 – 4 kali sampai retakan pelupuh banyak dan halus.

Masukkan pelupuh ke mesin pengelem (glue spreader). Ada 2 jenis lem yang digunakan: urea formaldehd untuk membuat bahan interior, fenol formaldehd untuk membuat bahan eksterior.

Jemur papan sampai kadar air maksimal 5%. Lebih dari itu, lem sulit terdistribusi dan perlu waktu lebih lama pada tahap pengempaan panas. Susun papan dengan arah serat bersilangan untuk mempertinggi kekuatan. Jika serat papan pertama membujur, maka serat papan di atasnya melintang, dan seterusnya.

Pres papan dengan kempa panas pada tekanan 25 kgf/cm2. Bambu komposit untuk bahan interior dipanaskan pada suhu 130oC; eksterior 150oC.

Amplas bagian tepi papan dan digerinda untuk menghaluskan.

Ilustrasi: Bahrudin

Koleksi Bambang Subiyanto

Bambu Sekuat Jati

Oleh trubusid_admindb
Senin, Februari 01, 2010 13:35:23 Klik: 1410

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: