Indonesia Travel

Bangunan Bambu Komposit adalah Kreativitas dan Kearifan Lokal yang Ramah Gempa dan Ekonomis

Sumber: http://www.indonesia.travel/ 31 October 2011

Liputan khusus Indonesia Travel dalam Peresmian Bangunan Ramah Gempa, Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. (Rabu 26 Oktober 2011) 

Pada Rabu 26 Oktober 2011 lalu, Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, resmi memiliki beberapa bangunan ramah gempa yang terbuat dari bambu. Bangunan-bangunan tersebut adalah Bale Pinter, Bale Desa, dan SD Singajaya. Untuk menyokong ketiga bangunan tersebut dibuat pula Bengkel Bambu sebagai pusat pengembangan dan pemanfaatan bambu oleh masyarakat setempat.

“Jawa Barat merupakan daerah yang paling kaya memiliki ragam jenis bambu. Budayanya sendiri lekat dengan pemanfaatan bambu, mulai dari alat keseharian, kerajinan, hingga alat musik seperti angklung.”

Ketiga bangunan yang diresmikan itu menggunakan pasak bambu komposit sebagai bahannya yang dipadukan dengan konsep kreativitas dan kearifan budaya lokal dari Kampung Naga. Bangunannya terlihat begitu cantik dimana mirip seperti resort mahal yang dibangun di Bali atau resort bernuasa ecotourism di tempat lain. Bahan bangunan dari bambu dan kayu sebenarnya merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Bambu digunakan sebagai bahan dasar konstruksi karena memiliki multifungsi dan bersifat lentur sehingga kekuatannya dapat disetarakan dengan baja. Harga pembangunannya pun setengah dari biaya konstruksi bangunan modern per meter perseginya. Untuk pembangunan satu meter persegi membutuhkan Rp 500.000, sedangkan bangunan konvensional sekitar Rp 1,5 juta.

Kecamatan Cigalontang sendiri tahun 2009 lalu luluh lantak diguncang gempa. Desa Jayapura terpilih karena mengalami kerusakan terparah saat gempa terjadi dan pembangunannya terhambat oleh dana. Saat itu tercatat 119 rumah rusak berat, 240 rumah rusak sedang, dan 77 rumah rusak ringan. Kerusakan cukup parah justu dialami oleh bangunan yang berbahan konvensional (batu bata, pasir, semen, dan genteng).

Oleh karena itu, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) menggagas bangunan ramah gempa sekaligus mangangkat bambu sebagai bahan alternatif bangunannya. Peresmian bangunan ramah gempa tersebut merupakan upaya mengembangkan model pusat pertumbuhan regional desa berbasiskan kearifan lokal. Selain itu, kegiatan tersebut juga merupakan transformasi pengenalan kembali nilai-nilai budaya dalam pengembangan kawasan pedesaan. DPKLTS juga memberikan pelatihan kepada warga mengenai mitigasi bencana dan upaya untuk menjaga ketahanan pangan.

Peresmian bangunan ramah gempa dihadiri oleh sesepuh masyarakat Jawa Barat yaitu Solihin G.P., Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, pengusaha Arifin Panigoro, Bupati Tasikmalaya UU Ruzhanul Ulum, Kepala Desa Jayapura E Yudarman, dan berbagai elemen masyarakat lainnya, termasuk perwakilan dari Kampung Adat Baduy. Pada kesempatan tersebut, Solihin G.P. menyerahkan bibit dan biji pohon aren yang dapat dimanfaatkan untuk ekonomi rumah tangga masyarakat desa. Acara peresmian dimeriahkan oleh arak-arakan hasil bumi penduduk desa, pawai budaya Reog Buncis dan Jempana, serta Cianjuran. Acara juga diramaikan dengan atraksi pertunjukan bersama yang dipimpin oleh Sam Udjo dari Saung Angklung Udjo.

Dalam sambutannya, Solihin G.P. mengingatkan agar masyarakat memanfaatkan bambu untuk bangunan ramah gempa dan kreativitas lainnya. “Bangunan tahan gempa ini adalah warisan dari karuhun Sunda. Lebih murah dan telah teruji selama ratusan tahun”. Mang Ihin (sapaan akrabnya) juga menekankan pentingnya hutan dan desa bagi negara, “Desa kuat maka negara kuat, jaga hutan dan lindungi untuk anak cucu, jika hutan rusak maka tinggal tunggu bencana”.

Bangunan SD Singajaya yang dibangun kembali dengan material bambu tampak mewah dan cantik. Atapnya berbahan ijuk, dinding gedek, dan tiang bambunya terlihat menyatu dengan alam. Dibandingkan dengan bangunan kelas lainnya yang terbuat dari bata dan semen, ruang kelas bambu ini diharapkan ramah gempa. Apabila ada kerusakan maka tidak akan separah yang menimpa bangunan berbahan konvensional (batu bata, pasir, semen, dan genteng).

Wagub Jabar Dede Yusuf dalam sambutannya dihadapan siswa-siswi SD Singajaya menyarankan agar bangunan sekolah lainnya di Jawa Barat mencontoh sekolah dengan material bambu ini. Sekolah berbahan bambu ini juga sekaligus bukti bahwa untuk membangun sekolah tidak perlu mahal tetapi dapat memanfaatkan bambu yang lebih ekonomis dan ramah gempa.

Bambu selain dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan, juga dapat dimanfaatkan untuk aneka kerajinan tangan. Buktinya di arena bazarnya saat acara peresmian tersedia aneka kerajinan dari bambu yang dijual seperti topi tudung dari bambu, angklung mini, mainan, aksesoris, alas meja, tempat tisu, dan sebagainya.

Bale Pinter sendiri yang dibangun di tengah-tengah Desa Jayapura berfungsi sebagai pusat informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. Warga desa dapat mendapatkan beragam sumber keilmuan seperti teknologi (ICT), pertanian, perkebunan, pembibitan, pengolahan bambu, serta kearifan lokal. Tersedia pula kursus komputer bagi masyarakatnya. (SUN-Sherfu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: