Bogi Sukmono

BAB 2 BAMBU LAMINASI

Oleh: Bogi Sukmono, FE UI, 2008

Download file: 127607-T 26374-Business plan-Tinjauan literatur  

2.1 Pengertian Bambu Laminasi

Bambu Laminasi adalah balok/papan yang terdiri dari susunan bilah bambu yang melintang dengan diikat oleh perekat tertentu. Pada tahun 1942 bambu laminasi telah digunakan sebagai papan ski di daerah Amerika Serikat. Seiring dengan perkembangan teknologi, bambu laminasi telah dapat digunakan sebagi lantai, kursi, dan furnitur lainnya. [Bogi, Tugas Akhir. 2006] Balok laminasi ini memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibanding balok biasa, karena pada proses pembuatannya bambu tersebut sudah disortir terlebih dahulu untuk mengurangi bagian yang tidak bagus.

Gambar 2.1 Bambu Laminasi
Sumber: Bogi Sukmono, Tugas Akhir ITS Surabaya, 2006

2.2 Pembuatan Bambu Laminasi

Berikut merupakan proses pembuatan bambu laminasi:

Uraian mengenai detail proses pembuatan bamboo laminasi ini dapat dilihat sebagai berikut [Sumber: Bogi Sukmono, Tugas Akhir, 2006]:

1) Pemotongan Batang Bambu

Sebelum memotong bambu, kita harus memperhatikan umur dari bambu tersebut. Pada umumnya waktu yang tepat untuk memotong bambu adalah setelah 1,5 ~ 2 tahun dan dilakukan pada waku subuh pada saat bulan tua (seperempat terakhir sebelum bulan genap), karena batang bambu pada waktu tersebut adalah yang paling kering. Hal ini memberikan dua keuntungan, yaitu bambu menjadi tidak berat,sehingga mempermudah pemindahan batang bambu dari tempat pemotongan ke storage; dan juga lebih mempercepat proses pengeringan.

Batang bambu yang dipotong sekitar 15 – 30 cm di atas tanah, langsung pada bagian atas sebuah ruas. Hal ini dilakukan supaya air tidak berkumpul pada tinggi ruas yang terbuka, yang akan merusak akar rimpangnya. Untuk menebang batang bambu harus selalu digunakan parang.

Batang bambu yang baru dipotong sebaiknya disandarkan dalam keadaan berdiri pada bambu yang belum dipotong (ditempat yang teduh). Batang bambu tersebut dilindungi terhadap kelembaban tanah yang akan naik, sebaiknya dengan menggunakan sebuah batu di bagian bawah batang yang telah dipotong. Batang dalam kondisi ini dibiarkan selama 1 – 2 bulan.
Untuk perawatan batang bambu secara tradisonal dapat dilakukan dengan merendam batang bambu sebelum digunakan selama 1 bulan didalam air tawar atau payau, baik yang tenang atau mengalir, sehingga kandungan kanji akan dicuci atau hilang. Karena didalam air, bakteri anaerob menyerang kanji dalam batang bambu dan mengubahnya menjadi zat yang kurang disukai hama ataupun jamur [Frick,Heinz. 2004].

Setelah selesai perendaman, batang bambu tersebut di simpan dalam storage dalam posisi horisontal. Tempat penyimpanan (strorage) ini harus dapat melindungi batang bambu dari sinar matahari, hujan dan kelembaban. Dalam menyusun rak untuk batang bambu juga harus diperhatikan masalah sirkulasi udara yang cukup.

2) Proses Cross Cutting

Batang bambu dari storage dipotong sesuai kebutuhan mendapatkan ukuran bambu laminasi nantinya dengan menggunakan mesin cross cutting. Dalam proses ini, batang bambu dipotong dengan ukuran panjang 115 cm. Sehingga dari satu batang bambu petung yang panjangnya hingga 20 m didapatkan 17 potong batang bamboo.

Gambar 2.3 Cross Cutting Pada Batang Bambu

3) Splitting

Batang bambu yang telah dipotong-potong selanjutnya akan di rajang, yaitu membuat batang bambu menjadi bilah-bilah dalam arah memanjang. Untuk satu batang bambu yang telah dipotong sebelumnya, dirajang menjadi bilah-bilah berjumlah 6. Sehingga bila satu batang bambu pada awal pemotongan didapatkan menjadi 17 potong bambu, maka pada proses splitting ini didapatkan 102 bilah bambu.

Gambar 2.4 Splitting Batang Menjadi Bilah

Setelah batang bambu dirajang menjadi bilah-bilah, maka perlu dilakukan penyortiran mengenai ukuran dari hasil proses perajangan tersebut. Karena Ukuran diameter batang bambu bisa tidak seragam dalam pembelian ataupun penyimpanannya. Tujuan dari penyortiran ini adalah memudahkan dalam proses pengeleman nantinya. Sehingga dapat membantu kemudahan memperoleh ukuran yang dibutuhkan dalam membuat bambu laminasi.

4) Four-side planning

Pada proses ini, bilah bambu dibentuk menjadi empat persegi. Hal ini dilakukan agar pada proses pengeleman selanjutnya, bilah tidak mengalami gap. Sehingga proses pengeleman akan lebih baik dan rapi. Pada proses ini juga bentuk dari bilah disesuaikan dengan ukuran bambu laminasi yang akan dicapai.

5) Pengawetan Bilah Bambu

Proses pengawetan yang dilakukan adalah dengan perendaman dalam larutan bahan pengawet. Bilah bambu dimasukkan ke dalam palungan yang berisi larutan bahan pengawet. Bahan pengawet bambu yang ramah lingkungan adalah 2.5% boraks (Natriumtetraborat) yang dilarutkan dalam air [Frick,Heinz. 2004]. Tumpukan bilah-bilah yang direndam dalam larutan pengawet ini ditahan dengan batu alam pada permukaan larutan agar bilah bambu tidak mengapung. Di atas permukaan palungan diberi penutup plastik untuk melindungi terhadap air hujan. Kedua sisi plastik ini dirapatkan dengan batu alam. Dan untuk menjaga kestabilan palungan diberi batu alam sebagai penahan. Proses ini memerlukan waktu 2 – 5 hari.

Proses pengeringan dilakukan setelah perendaman, bilah bambu diletakkan di atas permukaan palungan dengan bantuan batang melintang sebagai alas. Untuk mengetahui kadar kesetimbangan air dalam bilah bambu, digunakan alat ukur kadar air elektronik. Prinsip kerja alat ini berdasarkan perhitungan hambatan listrik (resistan), yang terjadi antara jarum yang satu dengan jarum lainnya. Bila kedua jarum atau paku alat ukur tersebut dibenamkan ke bilah bambu, besar kandungan air dalam bilah akan
berfungsi sebagai konduktor yang mengantarkan listrik dari jarum positif ke jarum negatif. Besarnya nilai kandungan air sangat mempengaruhi besarnya muatan listrik yang dapat dialirkan ke jarum yang satu.

Struktur zat padat bilah bambu dan kandungan kadar air bilah merupakan hambatan listrik yang dapat diukur. Perbedaan hambatan listrik ini kemudian dikonversikan dalam nilai kadar air bilah bambu yang ditampilkan dalam skala digital analog/jarum.

Bila ternyata kadar air yang ada belum memenuhi standar kebutuhan yang diizinkan, maka perlu dilakukan pengeringan ulang dengan menggunakan oven.

6) Sorting & Gluing

Bilah bambu yang telah dikeringkan disortir kembali berdasarkan ukuran dan warna. Hal ini dilakukan untuk penyeragaman bentuk dan warna sebelum perekatan. Untuk material perekat serta penguat digunakan jenis Resornicol Phenol Formaldehyde (RPA-401) yang diproduksi oleh PT Pamolite Adhesive Industry Probolinggo [Tarkono, 2005]. Sesuai kebutuhan bidang perkapalan, RPA-401 mempunyai kemampuan rekat yang cukup tinggi dan tahan terhadap air serta segala cuaca.

Adhesive ini digunakan untuk kayu dengan sistem pengeleman tempa dingin (cold press) atau juga bisa dengan menggunakan klem.

Dalam penggunaannya harus dicampur dengan hardener jenis HRP-1, dengan komposisi pencampuran 1 : 1. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penggunaan di lapangan [Bachtiar Fauzi, PT PAI]. Pengadukan campuran lem hanya membutuhkan waktu 3 -5 menit. Waktu pengeleman lem realtif singkat yaitu sekitar 1- 5 jam, tergantung suhu ruangan pada saat bekerja. Jika pencampuran telah rata, maka lem tersebut sudah dapat digunakan untuk pengeleman.

Pada saat membuat campuran hendaknya mempertimbangkan luas permukaan yang akan dilem. Sebab jika terlalu banyak dan berlebih, maka dalam waktu 4 jam lem tersebut berubah menjadi gel, sehingga tidak bisa digunakan.

Kebutuhan RPA-401 adalah 40-50 gram/. Sehingga jika ingin membuat balok laminasi berukuran 2.5 x 1 x 100 cm, diasumsikan bahwa tiap layer mempunyai ketebalan 10 mm, maka luas permukaan yang hendak dilem adalah 15.1 gram/.

Gambar 2.5 Proses Pengeleman Bilah Bambu

7) Cold Press

Proses tempa dingin dilakukan dengan gaya tekan vertikal 10 kg/ serta beban samping 2.5 kg untuk laminasi arah horisontal. Dan juga 10 kg/cm2 untuk gaya tekan samping serta 2.5 kg gaya tekan vertikal untuk vertikal laminasi. Lamanya proses tekan panas ini tergantung dari ketebalan yang ingin dicapai dari laminasi.

8) Board Shaping

Pada tahap ini bambu laminasi telah terbentuk, namun perlu dilakukan pengecekan terhadap bentuk yang dihasilkan. Bila ternyata masih terdapat bentuk pada laminasi dimana mesih terdapat sudut-sudut yang kurang baik, maka dilakukan pembentukan kembali dengan bantuan mesin four-side grinding. Dan kedua ujung laminasi dipotong untuk kemudian dibentuk lagi dalam shaping machine.

9) Sanding

Bambu laminasi yang berupa papan permukaannya diperhalus, untuk kemudian dilakukan proses finishing yaitu pengecatan.
Business plan…, Bogi Sukmono, FE UI, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: