Iwan Suprijanto, dkk

STANDARDISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KAYU KONSTRUKSI

Oleh:  Iwan Suprijanto1, Rusli2, Dedi Kusmawan3

1 Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar dan Peneliti Madya Bidang Permukiman
2 Kepala Seksi Program dan Pelayan Teknis Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar dan Peneliti Muda Bidang Bahan Bangunan.
3 Staff Seksi Program dan Pelayan Teknis Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar

Prosiding PPI Standardisasi 2009 – Jakarta, 19 November 2009

Download file: STANDARDISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF  

Abstract

Every year, the availability of wood as raw material has been rapidly decreases and causes the destruction of rainforest in Indonesia which lead to least productivity of wood. One of the main causes is the unbalancing between the demands of raw materials to the availability of woods in the forest.

Tecnology of laminating bamboo soon to be expected as a friendly environment  solution as an alternative material to replace woods as raw materials for contruction and furniture.

Process of making laminating bamboo consists of: raw materials preparation; tools  preparation; cutting process; preserving process; laminating process; finishing process; it is  necessary to formulate stardardizatin for the process of making laminating bamboo. Formulation standar for the process of making laminating bamboo covers of: specifications technique; guidance of bamboo laminating preservation; guidance of bamboo laminating process.

Keywords: bamboo, laminate, standardize/guidance

I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketersediaan kayu konstruksi pada beberapa tahun terakhir mengalami penurunan  dan harga kayu konstruksi di pasaran juga terus meningkat. Di samping itu, semakin  menyempitnya hutan-hutan produksi di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan kayu konstruksi.

Pada saat ini diperlukan usaha melakukan reboisasi untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Tetapi reboisasi memerlukan waktu yang sangat lama sedangkan kebutuhan kayu konstruksi semakin meningkat yang menyebabkan terjadinya kesulitan kayu konstruksi dengan kualitas baik dan dimensi sesuai kebutuhan.

Dalam upaya mengatasi permasalahan di atas, perlu dikembangkan teknologi bahan alternatif pengganti kayu.

Salah satu bahan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti kayu adalah bambu. Bambu mempunyai beberapa keunggulan untuk dapat dijadikan pengganti kayu sebagai bahan konstruksi serta meubel. Pada tahun anggaran (TA)  2008 dan 2009 telah dilakukan pengembangan teknologi bambu laminasi oleh Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar.

Tujuan

Tujuannya adalah menyusun/merumuskan standardisasi tentang bambu laminasi sebagai pengganti kayu konstruksi.

Manfaat

Tersedianya alternatif bahan bangunan pengganti kayu konstruksi dan terbukanya lapangan kerja baru.

Ruang lingkup

Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini adalah:

a. Spesifikasi bambu laminasi
b. Proses produksi
c. Proses standardisasi

II LANDASAN TEORI

2.1 Bambu Laminasi

Teknologi bambu laminasi pada awalnya didasari oleh pemikiran dari balok glulam  (glue laminated beam). Balok glulam dibuat dari lapisan-lapisan kayu yang relatif tipis  yang dapat digabungkan dan direkatkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan balok kayu dalam berbagai ukuran dan panjang (Breyer, 1988:112-116).

Pemakaian bambu sebagai bahan kayu lapis telah diperkenalkan oleh  Guisheng (1985), Bamboo Information Centre (1994), serta Subiyanto dan Subyakto (1996). Bambu lapis mempunyai kekuatan yang tinggi terhadap abrasi serta momen  lentur. Ketahanan lantai bambu terhadap abrasi telah diteliti oleh Mohmod dan  kawan-kawan (1990). Dari eksperimen yang telah dilakukan diperoleh bahwa  ketahanan lantai bambu adalah sekitar 130 persen dari ketahanan lantai kayu  kempas (Koompasia Malaccensis), atau sekitar 5 kali ketahanan kayu karet. Menurut Guisheng (1985) kayu lapis yang dihasilkan jika diperbandingkan dengan papan  partikel secara acak, mempunyai MOR 4 – 7 kali, dan MOE 4 – 6 kali. Mengingat  kekuatan tersebut, bambu lapis cocok digunakan sebagai lantai bangunan gedung, lantai truk, dan bekisting beton (Morisco 2006).

2.2 Teknologi Perekatan Laminasi

Teknologi perekatan bambu laminasi merupakan teknik pengabungan bahan dengan  bantuan perekat, bahan bangunan berukuran kecil dapat direkatkan membentuk  komponen bangunan sesuai dengan keinginan. Teknik laminasi juga merupakan cara penggabungan bahan baku yang tidak seragam atau dari berbagai kualitas.

Menurut Morisco (2006), secara garis besar keuntungan yang dapat diperoleh dari teknologi laminasi antara lain :

1. Teknologi laminasi secara tidak langsung dapat mengatasi masalah retak,  pecah ataupun cacat akibat pengeringan karena lamina terdiri atas lembaranlembaran yang tipis sehingga pengeringan lebih cepat dan mudah.

2. Produk lamina yang berlapis-lapis memungkinkan untuk memanfaatkan  lamina berkualitas rendah untuk disisipkan diantara lapisan luar (face) dan lapisan belakang (back) seperti halnya produk kayu lapis.

3. Teknologi laminasi memungkinkan pembuatan struktur bangunan berukuran
besar yang lebih stabil karena seluruh komponen (lembaran) yang digunakan telah dikeringkan sebelum dirakit menjadi produk laminasi.

4. Arah serat lamina dapat dipasang saling bersilangan, sehingga susunan ini akan menjadikan kembang-susut produk tidak besar.

2.3 Sifat-Sifat Bambu Laminasi

Bambu laminasi sebagai bahan konstruksi perlu ditinjau sifat-sifatnya mengenai sifat
mekanis dan sifat fisiknya.

2.3.1 Sifat fisik

Sebagai bahan material alam, bambu mempunyai bermacam-macam sifat yang
tergantung pada jenis, lingkungan pertumbuhan dan asalnya. Adapun yang termasuk karakteristik fisika bambu, antara lain:

a. Berat jenis

Berat jenis bambu menunjukkan banyaknya massa bambu, dengan kata lain jumlah sel-sel penyusun bambu dengan berat sel masing-masing  menunjukkan berat total bambu. Berat jenis bambu dihitung sebagai nilai  perbandingan antara berat bambu kering dibagi berat air dengan volume sama dengan volume bambu tersebut.

b. Kadar air

Adalah nilai yang menunjukkan banyaknya air yang ada dalam bambu. Kadar air dihitung sebagai persentase perbandingan berat air dalam bambu dengan berat kering tanur. Berat bambu kering tanur adalah berat bambu total tanpa air akibat pengeringan dalam tanur pada suhu 101 – 105°C.

2.3.2 Sifat mekanis

Sifat – sifat mekanis bambu secara teoritis menurut Frick (2004) tergantung pada:

a. Jenis bambu yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan.
b. Umur bambu pada waktu penebangan.
c. Kelembaban (kadar air kesetimbangan) pada batang bambu.
d. Bagian batang bambu yang digunakan (bagian kaki, pertengahan, atau kepala).
e. Letak dan jarak ruasnya masing-masing (bagian ruas kurang tahan terhadap gaya tekan dan lentur)

Beberapa sifat mekanika bambu yang penting untuk perencanaan konstruksi bambu (Frick, 2004 dalam Sjelly Haniza, 2005), antara lain:

a. Kuat Tarik

Kekuatan bambu untuk menahan gaya tarik tergantung pada bagian batang yang digunakan. Bagian ujung memiliki kekuatan terhadap gaya tarik 12% lebih rendah dibandingkan dengan bagian pangkal.

b. Kuat Tekan

Kekuatan bambu untuk menahan gaya tekan tergantung pada bagian ruas  dan bagian antar ruas batang bambu. Bagian batang tanpa ruas memiliki kuat tekan (8 – 45)% lebih tinggi dari pada batang bambu yang beruas.

c. Kuat Geser

Kemampuan bambu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian bambu bergeser dari bagian lain di dekatnya disebut dengan kuat geser. Kuat geser bambu bergantung pada ketebalan dinding batang bambu. Bagian  batang tanpa ruas memiliki kekuatan terhadap gaya geser 50% lebih tinggi dari pada batang bambu yang beruas.

d. Modulus Elastisitas

Modulus elastisitas merupakan keteguhan lentur pada batas elastis bahan. Keteguhan lentur adalah rasio beban terhadap regangan dibawah proporsional. Peningkatan nilai modulus elastisitas seiring dengan peningkatan keteguhan lentur suatu bahan (Prayitno, 1995).

2.4 Landasan Teori Uji Bambu Laminasi

2.4.1 Kadar air dan kerapatan

Kadar air dihitung sebagai prosentase perbandingan berat air dalam bambu dengan  berat kering tanur, dengan menggunakan standar ISO 3130 – 1975 (E). Hasil yang diperoleh dihitung menggunakan persamaan:

2.4.2 Kuat lentur

Pada pengujian lentur statis specimen diberikan beban pada sisi radial atau tangensial. Akibat beban tersebut maka specimen akan mengalami tegangan yang terdistribusikan secara liniear pada penampangnya. Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 sebagai berikut.

Gambar 1 Tegangan pada Gelegar yang Diberi Beban P

Gambar 2 Grafik Hubungan Beban dan Deformasi

Bagian yang lurus dari kurva menunjukkan bahwa beban dalam keadaan sebanding dengan deformasi yang ditimbulkan. Jika beban itu dihilangkan maka specimen akan kembali ke bentuk semula. Jadi sepanjang garis lurus ini specimen bersifat elastis dan kurva yang lurus itu disebut garis elastis. Kemiringan garis elastis ini menunjukkan besarnya MOE, makin tegak garis elastis tersebut maka makin besar Moe atau makin kaku specimen. Untuk setiap specimen yang diberi beban, bagian yang lurus dari kurva beban – deformasi aqkhirnya akan mencapai suatu titik yang disebut batas proporsi, dan deformasi tidak lagi sebanding lurus. Deformasi naik lebih cepat daripada beban dan kurva saat ini berupa garis lengkung. Dengan demikian batas proporsi dapat didefinisikan sebagai beban per satuan luas dimana deformasi mulai naik lebih cepat daripada beban. Tegangan yang terjadi dalam specimen pada batas proporsi disebut tegangan serat (fiber stress at proportional limit). Untuk mengetahui sampai sejauh mana specimen mampu menahan beban yang diberikan maka dilakukan pengujian modulus elastisitas (MOE), dengan menggunakan standar SNI 03 – 3960 – 1995, dengan dimensi 50x50x760 mm.

Tujuan pengujian adalah untuk mengukur modulus kekenyalan dengan cara mengukur defleksi pada daerah perlengkungan selama pembebanan berlangsung pada kecepatan konstan.

Gambar 3 Uji Lentur Statis pada Gelagar Kecil

Hasil yang diperoleh dihitung dengan menggunakan persamaan :
dengan:
= modulus elastisitas lentur (MPa)
P = selisih pembebanan dari satu tahap pembeban ke tahap pembebanan
berikutnya (N)
b = lebar benda uji (mm)
h = tinggi benda uji (mm)
y = selisih lendutan dari satu tahap pembebanan ke tahap pembebanan
berikutnya (mm)
L = jarak tumpuan (mm)

2.4.3 Kuat tarik sejajar serat (Tension Pararel to Grain)

Yaitu ketahanan specimen terhadap beban yang meregang dan menarik specimen dalam arah serat. Pengujian ini menggunakan standar SNI 03 – 3399 – 1994, dengan dimensi specimen panjang 460 mm dengan tampang lintang 25 x 25 mm. Pengujian ini menggunakan mesin uji kuat lentur yang dilengkapi alat khusus yang memegang tiap ujjung specimen sampai ke pundak dengan kecepatan tarikan 0.25 inci/menit.

Gambar 4 Spesimen Uji Tarik Sejajar Serat

Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan :
dengan:
= kuat tarik sejajar serat (MPa)
P = beban uji maksimum (N)
B = lebar daerah uji (mm)
H = tinggi daerah uji (mm)

2.4.4 Kuat tarik tegak lurus serat (Tension Perpendiculer to Grain)

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan specimen terhadap beban tarik yang dikenakan perlahan-lahan tegak lurus serat. Adapun arah serat yang diuji adalah bidang radial dan bidang tangensial. Pengujian ini menggunakan standar SNI 03 – 3399 – 1994, dengan dimensi specimen 50x50x50 mm.

Gambar 5 Spesimen untuk uji tarik tegak lurus serat

Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
dengan:
= kuat tarik tegak lurus serat (MPa)
P = beban uji maksimum (N)
B = lebar daerah uji (mm)
H = tinggi daerah uji (mm)

2.4.5 Kuat tekan sejajar serat (Compression Pararel to Grain)

Uji tekan sejajar serat dilakukan untuk menentukan kekuatan kayu terhadap beban  aksial jika kayu digunakan sebagai kolom (tiang) pendek. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 27 – 1991 – 03, dengan dimensi berukuran 50x50x200 mm, Specimen dipasang pada suatu alat penjepit yang menjepit specimen 25 mm dari tiap ujung sehingga bentangan bebas 150 mm. Untuk menghindari tekanan yang eksentris terhadap spesimen, permukaan ujung harus benar-benar tegak lurus sumbu panjang spesimen. Selain itu spesimen disangga  dengan blok setengah bulatan sehingga beban terbagi merata diseluruh permukaan  ujung spesimen. Pemberian beban tekanan pada spesimen dilakukan dengan  kecepatan turunnya kapala mesin uji sebesar 0,024 inchi tiap detik dan defleksi   specimen diukur dengan alat kompresormeter sampai 0,0001”. Pembacaan beban  dan defleksi dicatat tiap kenaikan beban 1000-2000 lbs hingga beban maksimum dilampaui.

Gambar 6 Spesimen untuk Uji Tekan Sejajar Serat

Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
dengan:
= kuat tekan sejajar serat (MPa)
P = beban uji maksimum (N)
b = lebar benda uji (mm)
h = tinggi benda uji (mm)

2.4.6 Kuat tekan tegak lurus serat (Compression Perpendiculer to Grain)

Merupakan kemampuan bahan menahan beban tekan maksimal tegak lurus arah serat. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 27 – 1991 – 03, dengan  dimensi 50x50x150 mm. Seluruh panjangnya disangga oleh meja mesin penguji.  Beban diberikan pada spesimen melalui suatu plat baja lebar 50 mm yang  ditempatkan melintang panjang spesimen ditengah-tengah sehingga menutup panjang spesimen tepat ditengah-tengah.

Gambar 7 Spesimen untuk Uji Tekan Tegak Lurus Serat

Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan :
dengan :
= kuat tekan tegak lurus serat (MPa)
Prosiding PPI Standardisasi 2009 – Jakarta, 19 November 2009
10
P = beban uji maksimum (N)
b = lebar benda uji (mm)
h = tinggi benda uji (mm)

2.4.7 Kuat geser sejajar serat (Shear Pararel to Grain) 

Untuk mengetahui kekuatan atau keteguhan geser (ultimate Shearing stress)  spesimen terhadap gaya yang berusaha menggeser satu bagian dari  spesimensepanjang suatu bidang yang sumbunya sejajar serat. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 26 – 1991 – 03, dengan dimensi 35x50x65 mm.

Gambar 8 Spesimen untuk Uji Geser Sejajar Serat
Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan :
dengan:
= kuat geser (MPa)
P = beban uji maksimum (N)
b = lebar daerah uji (mm)
h = tinggi daerah uji (mm)

III METODOLOGI

Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah metode eksperimental dengan
melakukan beberapa pengujian di laboratorium.

Tahapan penelitian seperti terlihat pada Gambar 9 berikut ini.

Gambar 9 Bagan Alir Pelaksanaan Standardisasi

IV HASIL PENELITIAN

Proses Produksi Bambu Laminasi

Tahapan dalam proses produksi bambu laminasi, yaitu:

Penyiapan bahan baku

Adapun spesifikasi dari bahan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bambu

Bambu yang dipergunakan adalah bambu petung karena dinding batangnya yang tebal sehingga lebih hemat pada saat proses perekatan dengan ukuran batangan bambu dengan panjang 4000 mm, diameter 120 mm, dan tebal 15 mm.

2. Pengawetan

Bahan pengawet yang digunakan adalah boron, yaitu bahan kimia liquid yang berfungsi melindungi bambu dari serangan organisme perusak (kumbang bubuk).

3. Perekat

Perekat yang digunakan adalah jenis polymer yang merupakan perekat  berasal dari tumbuh-tumbuhan. Perekat jenis ini berbentuk cairan putih dan  agak kental. Perekat jenis ini mudah mengeras pada variasi suhu yang luas,  ramah lingkungan dan ekonomis. Sedangkan bahan pengeras (crosslinker) digunakan isocyanate.

Penyiapan alat

Alat yang digunakan untuk pengolahan dan pengawetan bahan baku, antara lain: parang, gergaji tangan, amplas dan bejana panjang sebagai bak perendaman  bambu. Alat dalam proses laminasi antara lain: timbangan digital, meteran, alat  kempa hidrolik, mesin serut (planner), ember plastik sebagai tempat perekat, klem penjepit, dan kuas.

Proses pemotongan

Bambu yang telah dipotong kemudian dibersihkan bagian kulit luar dan bagian
dalamnya serta bagian tonjolan pada buku-bukunya dengan cara dikuliti. Namun  pada waktu pembersihan bagian kulitnya diharapkan tidak habis dikuliti, karena kekuatan bambu terdapat pada bagian serat dindingnya. Setelah bambu bersih kemudian dibelah menjadi bilah-bilah dengan lebar 25-30 mm.

Proses pengawetan

Teknik pengawetan yang digunakan adalah perendaman dalam larutan kimia. Di  dalam bak perendam telah diisi campuran air dan larutan pengawet (boron) dengan  perbandingan larutan boron sebesar 5% dari jumlah volume air di dalam bak  perendam. Bak perendam dan air yang digunakan untuk merendam bambu harus  bersih dan terbebas dari kandungan minyak dan kotoran. Bambu yang telah dipotong-potong menjadi bentuk bilah atau berbentuk bulat utuh selanjutnya  dimasukkan ke dalam sebuah bejana/bak perendam. Proses perendaman dilakukan  selama 5-6 hari, setelah proses perendaman kemudian bambu dikeringkan dengan cara dijemur sampai kadar air mencapai 12-15%.

Proses pengeringan

Setelah proses pengawetan, dilanjutkan dengan proses pengeringan dengan cara dijemur hingga kadar air mencapai 12 -15%.

Proses laminasi

Proses laminasi dilakukan setelah bambu mengalami proses pengawetan dan pengolahan bambu menjadi bilah-bilah. Adapun tahapan-tahapan kegiatan laminasi adalah sebagai berikut:

a. Dipilih bilah-bilah bambu yang lurus dengan kadar air sudah mencapai 12- 15 %.

b. Agar dalam satu susunan lapis diperoleh dimensi bilah yang seragam, terlebih  dahulu bilah diserut. Kemudian bilah siap dilem, pada pengeleman bilah disusun melebar sekitar 5-7 bilah dengan lebar tiap lapis 30 mm.

c. Bilah dilem dengan cara dikuas pada kedua sisi lebarnya dengan campuran perekat dan hardener sesuai komposisi yang direncanakan. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan/klem untuk kemudian dikencangkan.

d. Setelah terkumpul 2 lapis susunan bilah dalam satu cetakan/klem, kemudian lapis bilah tersebut dikempa dengan tekanan kempa 2.0 Mpa.

e. Dilanjutkan dengan proses pengeringan/penjemuran selama + 2 jam.

f. Setelah itu lapisan bilah dikeluarkan dari cetakan.

Penyelesaian akhir

Balok-balok bambu laminasi yang sudah kering, diratakan setiap sisi-sisinya dan  dihilangkan bagian-bagian lem yang meleleh keluar. Dilanjutkan dengan penyerutan  dan pengampelasan bagian-bagian sisi-sisi balok hingga diperoleh permukaan yang halus dan rata.

Spesifikasi

Spesifikasi bambu laminasi diperoleh dari hasil pengujian sebagai berikut:

Hasil pengujian keteguhan geser bambu laminasi dengan variasi komposisi perekat polymer

Hasil pengujian kuat geser bambu laminasi dengan menggunakan perekat polymer isocyanate yang dibagi atas dua jenis kondisi yakni interior dan eksterior. Pada
kondisi interior diperoleh kuat geser maksimum dengan berat labur 225 gr/m2
sebesar 12.93 MPa (N/mm2), sedangkan pada kondisi eksterior diperoleh kuat geser  maksimum sebesar 10.08 Mpa dengan berat labur 225 gr/m2. Bambu petung yang  digunakan berdasarkan pengujian memiliki nilai kuat geser rata-rata 4.5 MPa. Hal ini  menunjukkan berat labur optimum menggunakan perekat polymer isocyanate terjadi  pada variasi berat labur 225 gr/m2, seperti ditunjukkan pada tabel 1 dan 2.

Tabel 1 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Berat Labur pada ondisi Interior

Tabel 2 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Berat Labur pada
Kondisi Eksterior

Untuk mengetahui kebutuhan berat labur optimal pada penggunaan bahan perekat  polymer isocyanate guna mencapai kuat rekat maksimum pada kondisi interior dan eksterior, maka dihitung kuat rekat maksimum melalui garis regresi pada grafik  keteguhan geser masing-masing kondisi, sehingga didapatkan berat labur optimum  (lihat gambar 2 di bawah ini). Kondisi interior didapatkan dengan berat labur 236.36  gr/m2 yang tidak terpaut jauh dengan kondisi eksterior didapatkan dengan berat labur 234.786 gr/m2.

Gambar 2 Grafik Keteguhan Geser Interior dan Eksterior dengan Variasi Berat
Labur

Hasil pengujian kuat geser bambu laminasi dengan variasi komposisi crosslinker isocyanate

Bahan perekat polymer isocyanate memiliki keunggulan dalam proses pengerasan  yang relatif cepat, yang berpengaruh terhadap waktu proses pengerjaan. Persentase  crosslinker dalam beberapa variasi berpengaruh pada kuat geser, daya rekat, dan  bahan perekat pada bambu laminasi. Kenyataannya kadar crosslinker yang kecil membuat kuat rekat yang yang rendah dan kuat rekat akan bertambah dengan  bertambahnya kadar crosslinker, namun semakin banyak kadar crosslinker belum tentu akan membuat kuat rekatnya semakin tinggi. Seperti terlihat pada tabel 3 dan 4.

pada kondisi interior rata-rata kuat rekat tertinggi pada kadar crosslinker 7.5%
dengan rata-rata kuat rekat sebesar 9.73 Mpa dan pada kondisi eksterior dengan rata-rata kuat rekat tertinggi sebesar 6.89 MPa pada variasi kadar crosslinker 10%.

Tabel 3 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Crosslinker pada
Kondisi Interior

Bahan baku bambu petung setelah dilakukan pengujian diperoleh kuat geser rataratanya  sebesar 4.5 Mpa. Dari gambar. 3 menunjukkan bahwa pada kondisi interior  semua variasi kadar crosslinker nilai keteguhan geser yang diperoleh di atas nilai  kuat geser bahan bambu petung, sedangkan pada kondisi eksterior tidak semua  variasi crosslinker mampu melampui nilai keteguhan geser bambu petung dan  crosslinker pada persentase 2.5 % tidak baik digunakan karena daya rekat yang dihasilkan hanya bersifat temporary dan durabilitasnya sangat kecil.

Tabel 4 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Crosslinker pada Kondisi Eksterior

Gambar 3 Grafik Keteguhan Geser Interior dan Eksterior dengan Variasi Crosslinker

Hasil pengujian sifat mekanika bambu laminasi dengan kadar perekat optimum polymer isocyanate

Hasil pengujian mekanika bambu laminasi perekat polymer isocyanate dengan menggunakan berat labur 225 gr/m2 dan crosslinker 10 % diperoleh data sebagai  berikut: rata kuat tekan sejajar serat 50.22 Mpa, kuat tekan tegak lurus serat 19.81 MPa, tarik sejajar serat 135.43 MPa, tarik tegak lurus serat 1,01 MPa, kuat geser  6.89 Mpa, kuat lentur 64.16 Mpa, dan MOE 46671.80 MPa ditunjukkan pada tabel 5 berikut.

Tabel 5 Nilai Pengujian Mekanika Bambu Laminasi (Mpa)

Hasil perbandingan bambu laminasi dengan perekat polymer isocyanate

Berdasarkan hasil perbandingan sifat mekanika bambu laminasi dengan nilai kuat  acuan sifat mekanis kayu kadar air 15 %, bambu laminasi dengan perekat polymer  isocyanate memiliki nilai karakteristik mekanika untuk Eb, Ft, Fc sejajar,dan Fv di  atas kode mutu E26, yang mana kode mutu E26 termasuk kedalam kelas kuat kayu I. Sedangkan Fb masuk dalam kode mutu E25, dan Fc tegak lurus masuk dalam kode mutu E22

Apikasi

Uji coba penerapan teknologi bambu laminasi telah dilaksanakan dengan pembuatan  bangunan tradisional Bali lumbung padi atau Jineng skala 1:1. Dari gambar 4  memperlihatkan dengan jelas bahwa 80% komponen struktural bangunan  menggunakan bambu laminasi, seperti pada bagian stuktur kolom, balok, dan  gelegar lantai, rangka atap, panel dinding, dan kaso yang dibuat melengkung.  Konstruksi bangunannya menggunakan sistem bongkar pasang (knock down) dan  setiap sambungannya menggunakan pasak dari bambu laminasi. Hal ini  menunjukkan bahwa bambu laminasi dengan polymer isocyanate mampu diterapkan pada bangunan tradisional dengan kekuatan dan penampakan visual yang baik,  sehingga produk bambu laminasi memiliki nilai yang sangat potensial sebagai bahan pengganti kayu di masa depan.

Gambar 10 Penerapan Teknologi Bambu Laminasi Pada Bangunan
Lumbung /Jineng

V PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian tersebut di atas dipandang perlu disusun 3 (tiga) standar/pedoman, yaitu:

1. Spesifikasi Teknis

Hal-hal yang diatur dalam spesifikasi teknis bambu laminasi antara lain: Modulus  elastisitas ; Kuat lentur; Kuat tarik sejajar serat; Kuat tekan sejajar serat; Kuat geser sejajar serat; Kuat tekan tegak lurus, untuk kondisi interior dan eksterior.

2. Tata cara

Ada 2 (dua) sandar/pedoman teknis tata cara yang akan disusun diantaranya

a. Tata cara Pengawetan Bambu untuk Bambu Laminasi

Dalam standar/pedoman teknis ini diatur hal-hal sebagai berikut :

  • Ruang lingkup yang diperlukan untuk menghindari organisme perusak.
  • Bahan yang digunakan adalah bambu petung, air, dan boron + 3%.
  • Alat yang digunakan berupa bejana dalam proses pengawetan.
  • Cara proses pengawetan dengan cara perendaman.
  • Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan.

b. Tata cara pembuatan Bambu Laminasi

Dalam standar/pedoman teknis ini diatur hal-hal sebagai berikut :

  • Ruang lingkup proses pembuatan bilah-bilah bambu menjadi balok-balok bambu laminasi.
  • Bahan yang digunakan bilah bambu dan polymer isocyanate.
  • Alat yang digunakan adalah mesin serut, mesin gergaji circular, pres hidrolik, klem, klem C, mesin ketam, kunci pas, timbangan digital, koas, dan tempat penakaran.
  • Cara/proses laminasi dengan cara kempa dingin.
  • Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan.

VI PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Guna menjamin mutu teknologi bambu laminasi sebagai pengganti kayu konstruksi perlu dilakukan perumusan standar/pedoman, antara lain :

  1. Spesifikasi Teknis.
  2. Tata cara Pengawetan Bambu untuk Bambu Laminasi.
  3. Tata cara Pembuatan Bambu Laminasi.

5.2 Rekomendasi

Perlu disusun standar/pedoman proses pembuatan bambu laminasi tentang spesifikasi dan tata cara.

VII DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. http://www.google.co.id/hutan-apriheri.pdf

2. ——-. http://www.morisco-bamboo.com

3. Balai Pengembangan Teknologi Pemukiman Tradisional. 2008. Peningkatan Kualitas & Pemanfaatan bahan Bangunan Lokal untuk Menunjang Pelestarian Arsitektur Tradisional. Laporan Akhir. Denpasar

4. Budi, Agus Setiya. 2006. Pengaruh Dimensi Bilah, Jenis Perekat dan Tekanan Kempa terhadap Keruntuhan Lentur Balok Laminasi bambu Peting. Tesis S2, Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta (tidak diterbitkan)

5. Eratodi, I Gusti Lanang Bagus. 2006. Kuat Tekan Bambu Laminasi dan Aplikasinya Sebagai Kolom Ukir Pada Rumah Tradisional Bali (Bale  Daje/Bandung). Tesis S2, Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta (tidak diterbitkan)

6. Frick, Heinz. 2004. Seri Konstruksi Arsitektur – Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu, Edisi Pertama. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.

7. Haniza, Sjelly. 2005. Perilaku Mekanika Papan Laminasi Bambu Petung Terhadap Beban Lateral. Tesis S2, Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta (tidak diterbitkan)

8. Morisco. 2006. Teknologi Bambu, Bahan Kuliah Magister Teknologi Bahan Bangunan, Program Studi Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

9. Oka, G. M., 2004, Pengaruh Pengempaan Terhadap Keruntuhan Geser Balok Laminasi Horisontal bambu Petung. Tesis S2, Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta (tidak diterbitkan)

10. Prayitno, T.A. 1995. Pengujian Sifat Fisika dan Mekanika Kayu menurut ISO, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: