Ratih Putri R

KEBERTERIMAAN MASYARAKAT TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KAYU KONSTRUKSI

Societal Acceptance towards the Innovation of Laminated Bamboo Technology as an Alternative to Timber

Oleh: Ratih Putri R

Balai Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan Bidang Permukiman
Pusat Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan, Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum, Jl. Adisucipto no. 165 Yogyakarta, 55281; Email: rputrir@gmail.com

Jurnal Sosek Pekerjaan Umum, Vol.4 No.1, April 2012 hal 1- 65 

Download file: 41121522_2085-384X  

ABSTRACT

Five of the largest islands that have experienced the most severe deforestation in recent times were Sulawesi, Sumatera, and Borneo with more than 20% loss of forest area. The need of timber as construction material is one of the factors that threaten the existence of forestland in those islands. Thus, an alternative to timber becomes a vital necessity. The PTPT Office, Puskim Denpasar, Bali has developed the laminated bamboo technology that can be utilized as structural beams for construction. Bali, NTB, and NTT have highly potential forestry; this also applies in respect to bamboo forests. This research aims to measure the society’s acceptance rate towards the usage of laminated bamboo as a replacement for timber. The research method applied is survey using questionnaires and in-depth discussions with respondents. Data is analysed using descriptive statistics, qualitative, and quantitative. Looking at the environmental aspect, this research shows that all three regions accept laminated bamboo as a substitute of construction timber. The acceptance of Bali towards the technology’s aesthetics and architectural design achieves a 2.10 while NTB and NTT rates the bamboo’s physical rigidity as 2.40 and 1.90 respectively.

Keywords: construction timber, acceptance, technology, laminated bamboo, conversion, environment

ABSTRAK

Lima pulau besar yang mengalami deforestasi terberat selama kurun waktu belakangan adalah Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan yang secara keseluruhan kehilangan lebih dari 20% tutupan hutannya. Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan salah satunya, menjadikan keberadaan hutan terancam. Oleh karena itu, alternatif pengganti kayu menjadi sebuah kebutuhan. Balai PTPT, Puskim Denpasar, Bali telah mengembangkan teknologi bambu laminasi yang dapat digunakan sebagai balok struktur bangunan. Pulau Bali, NTB, dan NTT memiliki potensi hutan yang besar, begitu pula dengan hutan bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur keberterimaan masyarakat terhadap penggunaan bambu laminasi sebagai pengganti kayu. Metode penelitian adalah metode survei dengan menggunakan instrumen kuesioner dan diskusi mendalam dengan responden. Analisisnya menggunakan teknik statistik deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Ditinjau dari aspek lingkungan, penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga wilayah studi dapat menerima teknologi Bambu Laminasi sebagai pengganti kayu konstruksi. Keberterimaan masyarakat Bali (nilai 2,10) bercirikan estetika dan desain arsitektur, sedangkan NTB (nilai 2,40) dan NTT (1,90) aspek kekuatan bambu secara fisik.

Kata kunci : bahan kayu konstruksi, keberterimaan, teknologi, bambu laminasi, konversi, lingkungan hidup

PENDAHULUAN

Hutan Indonesia pada tahun 1990 seluas 1.185 juta km2 berkurang menjadi 944,32 juta km2 tahun 2010 (World Bank 2011). Indonesia secara keseluruhan telah kehilangan lebih 20 juta Ha tutupan hutannya antara tahun 1985 dan 1997 atau sekitar 17 persen dari kawasan hutan yang ada pada tahun 1985 (Kem-Hut 2010). Berdasarkan PP 24/2010 tentang penggunaan kawasan hutan, disebutkan fungsi hutan sebagai hutan produksi dan hutan lindung. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Sedangkan hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Namun, kenyataannya penggunaan hutan untuk memproduksi hasil hutan sering melewati batas sehingga terjadi deforestasi. Sebagai gambaran, pada tahun 1985–1997 hutan Indonesia seluas 95.628.800 ha mengalami deforestasi seluas 21.562.750 ha atau penghilangan 18% wilayahnya. Hasil hutan yang sering ditengarai sebagai penyebab utama adalah kayu. Salah satu penggunaan kayu adalah sebagai bahan bangunan.

Penduduk Indonesia meningkat dari 184,346 juta jiwa tahun 1990 menjadi 239,871 juta jiwa tahun 2010 (World Bank 2011). Oleh karena itu, pembangunan perumahan yang merupakan pemenuhan salah satu kebutuhan pokok papan akan meningkat pula. Krisis perumahan yang terjadi di Indonesia saat ini tidak dapat dicermati dengan baik karena minimnya basis data perumahan dan permukiman di Indonesia. Krisis perumahan di Indonesia, sebenarnya dipicu oleh baby boom yang terjadi sekitar 1974. Basis data juga bisa mendukung percepatan pemenuhan kebutuhan perumahan di Indonesia, tetapi dengan tetap mengutamakan efisiensi dan efektivitas wilayah. Salah satu basis data yang diperlukan dalam bidang perumahan dan permukiman adalah persediaan dan kebutuhan perumahan di masyarakat, luas lahan yang tersedia, kondisi wilayah yang pantas dikembangkan sebagai perumahan serta kemampuan masyarakat untuk membeli rumah (Kompas, Mei 2009). Pemanfaatan hutan sebagai penghasil produksi kayu untuk bahan bangunan perlu dibatasi. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif pengganti kayu sebagai bahan bangunan.

Pembangunan yang semata-mata hanya meng-ekspoitasi sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi akan menyisakan dampak negatif pada tatanan kehidupan manusia yang akhirnya akan menjadi bencana untuk kita semua. Pembangunan permukiman dan aktivitas bermukim ditengarai sebagai salah satu kontributor yang signifikan terhadap terjadinya degradasi lingkungan. Oleh karena itu, dalam segenap stakeholder harus mengembangkan dan menerapkan konsep permukiman berwawasan ekologis dengan teknologi hijau untuk prasarana (green infrastructure) dan bangunan gedung (green building) yang ramah lingkungan, rendah emisi CO2, hemat bahan baku, dan hemat energi (Puslitbang-Kim 2011).

Balai PTPT, Puslitbang Permukiman Denpasar, Bali telah mengembangkan teknologi bambu laminasi yang dapat digunakan sebagai balok struktur bangunan untuk menjawab tantangan ini. Proses teknologi ini terdiri dari penyiapan bahan, penyiapan alat pengolahan, alat pengawetan bahan baku alat yang dipergunakan untuk membuat bambu laminasi. Bambu laminasi dibuat dengan merekatkan bilah-bilah bambu dengan sistem kempa menjadi balok-balok kayu yang ukuran dan dimensinya dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan.

Dari hasil pengujian mekanika yang pernah dilakukan, bambu laminasi ini layak secara fisik. Berdasarkan hasil perbandingan sifat mekanika bambu laminasi dengan nilai kuat acun sifat mekanis kayu kadar air 15 %, bambu laminasi dengan perekat polymer isocyanate memiliki nilai karakteristik mekanika untuk MOE, Ft, Fc sejajar dan Fv di atas kode mutu E26, yang mana kode mutu E26 termasuk ke dalam kelas kuat kayu I. Sedangkan Fb masuk dalam kode mutu E25, dan Fc tegak lurus masuk dalam kode mutu E22 (Balai PTPT Denpasar 2010).

Persoalannya adalah apakah inovasi tersebut dapat diterima oleh masyarakat Bali, NTB, dan NTT? Sementara itu di Pulau Bali, NTB, dan NTT memiliki potensi hutan yang besar, begitu pula dengan potensi budidaya hutan bambu. Alih teknologi tentang penerapan inovasi teknologi tersebut juga telah dilakukan pada tahun 2010 oleh Balai PTPT Denpasar. Bahkan telah dihasilkan 1 kelompok usaha UKM pembuatan bambu laminasi di Kabupaten Bangli dengan nama kelompok usaha Surya Bali Bambu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, telah dilakukan penelitian untuk menilai kelayakan inovasi teknologi Bambu Laminasi di Propinsi Bali, NTB, dan NTT.

Makalah ini bertujuan untuk membahas sebagian hasil penelitian tersebut, khususnya aspek keberterimaan masyarakat terhadap penggunaan bambu laminasi sebagai pengganti kayu, khususnya ditinjau dari aspek-aspek lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei melalui penggunaan kuesioner dan diskusi mendalam dengan responden. Analisis dilakukan secara kuantitatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan pola keberterimaan di lokasi penelitian Bali, NTB, dan NTT.

KAJIAN PUSTAKA

Keberterimaan teknologi (Technology Acceptance Model-TAM) adalah teori sistem informasi yang memodelkan bagaimana pengguna (user) menerima dan menggunakan teknologi. Model ini menunjuk-kan bahwa jika pengguna diberi suatu teknologi, beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan mereka untuk menerima dan menggunakannya adalah perceived usefulness (PU) dan perceived ease-of-use (PEOU) (Davis 1989).

Unsur-unsur yang mempengaruhi keberterimaan teknologi adalah proses pengaruh sosial dan instrumen kognitif. Proses pengaruh sosial terdiri dari norma subjektif, sukarela, dan gambaran. Sedangkan instrumen kognitif terdiri dari keterkaitan pekerjaan, kualitas output, hasil yang dapat diaplikasikan, dan kemudahan penggunaan (Venkatesh dan Davis 2000). Proses pengaruh sosial merupakan hal internal yang ada pada individu, sedangkan instrumen kognitif merupakan unsur eksternal yang berasal dari teknologi yang menjadi objek. Gambar 1 menunjukkan unsur-unsur yang mempengaruhi keberterimaan teknologi.

Kegagalan penerapan teknologi dapat terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi tidak dipenuhi. Kegagalan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap aspek teknis, lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya (Suriadikarta 2009).

Secara bahasa, konversi adalah perubahan dari satu sistem pengetahuan ke sistem yang lain atau perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Konversi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Penelitian tentang konversi teknologi telah banyak dilakukan. Efisiensi proses adalah hasil akhir yang diharapkan dari konversi sehingga dihasilkan output yang lebih baik. Konversi teknologi densifikasi (membuat dalam bentuk briket/pellet) dan thermolisis/pirolisis hasil densifikasi dengan suhu pemanasan 300o C dapat meningkatkan nilai kalor biomassa kotoran kuda (Susana 2010).
Konversi penggunaan bambu laminasi dari kayu untuk konstruksi adalah upaya green infrastructure. Teknologi bambu laminasi dengan bahan baku bambu, tidak boleh mengesampingkan pelestarian hutan. Pengelolaan sumber daya alam hutan tidak hanya melibatkan aspek biofisik saja, melainkan harus memperhatikan pula aspek sosial, ekonomi, dan kelembagaan.

Green infrastructure (infrastruktur hijau) adalah interkoneksi jaringan ruang hijau yang melestarikan nilai-nilai dan fungsi ekosistem alami dan memberikan manfaat terkait dengan populasi manusia. Infrastruktur hijau adalah kerangka ekologi yang dibutuhkan untuk lingkungan, sosial, dan keberlanjutan ekonomi. Perencanaan berbasis infrastruktur hijau dengan perencanaan ruang terbuka secara konvensional belum mempertimbangkan nilai-nilai konservasi lahan, manajemen pertumbuhan, dan perencanaan pembangunan infrastruktur. Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan.

Terdapat tujuh prinsip dalam pelaksanaan infrastruktur hijau adalah (1) Berfungsi dalam kerangka konservasi dan pembangunan, (2) Membuat desain dan rencana infrastruktur hijau sebelum melaksanakan pembangunan, (3) Jaringan adalah kunci, (4) Infrastruktur hijau berfungsi lintas yuridiksi dan skala yang berbeda, (5) Dilandasi ilmu   pengetahuan dan peta guna lahan, (6) Infrastruktur hijau adalah investasi publik yang paling kritis, (7) Melibatkan peran swasta dan melibatkan berbagai stakeholders (Benedict and T. McMahon 2002). Konversi penggunaan kayu ke bambu laminasi sebagai kayu konstruksi diharapkan dapat mendukung keberlangsungan ekosistem hutan.

Dalam upaya menelusuri berbagai faktor yang terkait dan berpengaruh dalam pengelolaan sumberdaya alam setempat, maka patut dicermati faktor-faktor ekonomi-politik-hukum yang mempengaruhi terciptanya situasi-situasi pengambilan keputusan tertentu. Perlu pula disimak minat-minat dan kepentingan ekonomi berbagai pihak, termasuk penduduk setempat itu sendiri yang belum tentu sejalan dengan ‘harapan’ untuk ‘melestarikan’ kondisi relung mereka, atau dengan ‘harapan pihak pendamping’ dan stakeholder yang lain (Mawardi dan Sudaryono 2006).

Konversi penggunaan kayu ke bambu laminasi sebagai kayu konstruksi, diharapkan dapat mendukung keberlangsungan ekosistem hutan. Hasil penelitian yang dibahas pada tulisan ini menitikberatkan pada distribusi, dan rasio kesetujuan dan ketidaksetujuan masyarakat terhadap bambu sebagai bahan pengganti kayu konstruksi.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Penggunaan Kawasan Hutan, dijelaskan bahwa hutan kemasyarakatan (social forestry) dimaksudkan untuk mewujudkan kelestarian sumber daya hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat setempat. Di dalam Pasal 51 tentang ‘Pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan’ disebutkan pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan kelembagaan masyarakat dalam pemanfaatan hutan. Untuk meningkatkan kemampuan kelembagaan masyarakat sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan difasilitasi oleh Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian survei yang dilakukan melalui mekanisme penyebaran kuesioner dalam forum rapat diskusi terbatas. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan, kemudian didiskusikan untuk klarifikasi kepada responden. Responden adalah masyarakat dan aparat pemda/dinas terkait dari Bali, NTB, dan NTB yang hadir pada rapat. Pemilihan lokasi dilakukan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Balai PTPT, Puskim, Denpasar selama kurun waktu 2009 – 2010.

Pengisian kuesioner oleh peserta rapat menggunakan Skala Likert 1–5 (skala 1 menunjuk-kan sangat tidak setuju dan skala 5 menunjukkan sangat setuju sekali). Data yang digunakan untuk analisis keberterimaan masyarakat terhadap inovasi teknologi bambu laminasi dirangkum pada Tabel 1. Data tersebut menunjukkan jumlah responden yang menjawab untuk masing-masing pertanyaan. Pertanyaan nomor 6 dan 7 pada lokasi NTB berjumlah tidak sama dengan total responden. Begitu pula pada lokasi NTT, terjadi ketidakseragaman antara jumlah jawaban dengan jumlah responden. Oleh karena itu, jumlah responden dirata-ratakan untuk masing-masing lokasi sehingga diperoleh jumlah responden Bali, NTB, dan NTT yang masing-masing adalah 32, 20, dan 38.

Pertanyaan yang diajukan pada kuesioner adalah (1) Kayu adalah bahan wajib yang digunakan dalam setiap bangunan. (2) Kayu boleh tidak digunakan sebagai bahan wajib yang digunakan dalam setiap bangunan. (3) Jika terus menerus terjadi eksploitasi kayu yang berlebih, maka di masa mendatang kayu akan habis. (4) Dengan adanya butir nomer 2, maka jika inovasi bambu laminasi ini adalah bahan pengganti dari kayu maka saya tetap akan menggunakannya. (5) Jika saya menggunakan bambu laminasi ini, saya tidak akan mempermasalahkan nilai-nilai budaya/adat yang ada di dalam bambu laminasi ini sebagai pengganti kayu. (6) Saya tidak akan segan menggunakan bambu laminasi sebagai pengganti dari kayu. (7) Menurut saya bambu laminasi memiliki keunggulan kuat secara fisik. 8) Menurut saya bambu laminasi memiliki keunggulan murah dalam produksi. (9) Menurut saya bambu laminasi memiliki keunggulan di bidang estetika dan desain yang menarik. (10) Menurut saya bambu laminasi memiliki komponen-komponen komposisi bahan dimana komponen tersebut mudah didapatkan di pasaran.

Validasi instrumen kuesioner dilakukan dengan cara menyampaikan hasil isian kuesioner kepada responden melalui forum diskusi terbuka. Bagian-bagian jawaban yang mendapat respon berbeda dengan yang diharapkan mengindikasikan bahwa terdapat bias pada jawaban responden. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pertanyaan yang tertera pada kuesioner belum valid, sehingga harus diulang.

Analisis dilakukan setelah pertanyaan kuesioner dinyatakan valid dan hasil analisis dapat diterima oleh respondennya. Metode analisis menggunakan rasio perbandingan nilai kesetujuan terhadap ketidaksetujuan responden. Nilai lebih besar dari 1,00 menunjukkan keberterimaan responden. Nilai ini menunjukkan jumlah responden yang setuju lebih banyak dibandingkan yang tidak setuju. Selain itu, batas nilai ini menunjukkan 50% responden menerima dan sisanya tidak menerima. Semakin besar nilai rasio lebih dari 1,00 maka keberterimaan masyarakat semakin positif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2 menunjukkan distribusi jawaban responden di Bali. Lingkaran berwarna biru muda, ungu, dan hijau muda menunjukkan skala 5, 4, dan 3 pada kuesioner. Selanjutnya warna merah dan biru tua menunjukkan skala 2 dan 1. Sumbu “x” menunjukkan nomor pernyataan, yang terdiri dari 10 pernyataan. Sedangkan sumbu “y” menunjukkan jumlah responden yang menjawab.

Respon positif dari responden besar karena didominasi oleh lingkaran biru muda dan ungu di bagian atas grafik, artinya masyarakat menyetujui pernyataan-pernyataan dalam kuesioner. Respon negatif dari responden yang berupa lingkaran warna merah dan biru terdapat di bagian bawah grafik menunjukkan jumlah responden sedikit. Gambar 4 memiliki sebaran respon positif yang lebih kentara dibanding Gambar 2 dan Gambar 3.

Gambar 5 menunjukkan grafik batang perban-dingan antara kesetujuan dan ketidaksetujuan masyarakat di masing-masing daerah. Rata-rata nilai kesetujuan di masing-masing daerah lebih tinggi dibandingkan nilai ketidaksetujuan. Nilai ekstrim ketidaksetujuan didapat dari pernyataan 1, 2, 5, dan 8.

Pernyataan tersebut adalah bahwa kayu adalah bahan wajib yang digunakan dalam setiap bangunan, responden Bali tidak setuju dengan pernyataan ini, artinya bahan bangunan kayu dapat dikonversi. Namun, pada pernyataan kedua bahwa kayu boleh tidak digunakan sebagai bahan wajib yang digunakan dalam setiap bangunan, responden NTT menyatakan ketidaksetujuan.

Pernyataan kelima bahwa jika bambu laminasi digunakan responden tidak akan mempermasalahkan nilai-nilai budaya/adat yang ada, memperoleh ketidaksetujuan yang signifikan dari NTT. Hal ini sejalan dengan pernyataan kedua. Pernyataan kedelapan bahwa bambu laminasi memiliki keunggulan murah dalam produksi, memperoleh nilai ketidaksetujuan yang besar dari ketiga daerah. Hal ini wajar karena saat ini harga jual per balok bambu laminasi lebih mahal dari kayu sejenis. Keberterimaan diukur menggunakan rasio kesetujuan–ketidaksetujuan, seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Nilai ketidaksetujuan diperoleh dengan menjumlahkan jawaban skala 1–3, sedangkan kesetujuan menjumlahkan skala 3–5. Nilai ini kemudian dibagi dengan jumlah responden agar angka yang diperoleh homogen. Angka rasio > 1 menunjukkan keberterimaan positif. Nilai rasio seperti yang ditunjukkan Tabel 2 menunjukkan sebagian besar melampaui batas minimum, rasio > 1. Hanya 3 item dari 30 yang menunjukkan nilai 1,00. Sesuai dengan teori keberterimaan, unsur yang berpengaruh dari dalam diri responden atau pengaruh sosial adalah norma subjektif, sukarela, dan gambaran.

Norma dalam hal ini adalah tradisi yang diturunkan dalam pembangunan rumah. Di Bali dan NTB, unsur ini tidak bertentangan namun berkebalikan dengan NTT. Hal ini ditunjukkan dengan rasio 1,04 dan 1,00 untuk pernyataan nomor 2 dan 5.

Setelah dilakukan diskusi mendalam, hal ini bersumber dari tradisi membangun rumah yang mewajibkan penggunaan kayu tertentu.

Unsur sukarela, terkait erat dengan tingkat pendidikan responden. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan nomor 3 yaitu jika terus menerus terjadi eksploitasi kayu yang berlebih, maka di masa mendatang kayu akan habis. Nilai rasio terendah ditunjukkan oleh NTT, sedangkan untuk Bali dan NTB masing-masing 1,85 dan 2,5. Hal ini menunjukkan tingkat kepedulian pelestarian alam responden Bali, NTB, dan NTT secara tradisi turun menurun telah hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, mereka memiliki kepekaan lingkungan hidup yang tinggi. Unsur ini terkait erat dengan norma subjektif responden.

Pemahaman isu lingkungan responden dapat mendukung pelaksanaan infrastruktur hijau. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat dalam budidaya hutan bambu dalam hutan kemasyarakatan adalah hal penting. Menurut Benedict dan T. McMahon (2000), dalam pelaksanaan infrastruktur hijau harus melibatkan peran swasta dan berbagai stakeholder. Hutan bambu ini akan berfungsi baik dalam kerangka konservasi, maupun pembangunan.

Unsur gambaran dapat diartikan sebagai kemampuan responden untuk menyukai kondisi fisik. Kuesioner nomor 9 bahwa menurut responden bambu laminasi memiliki keunggulan di bidang estetika dan desain yang menarik, bernilai 5,67; 2,5; dan 2,38.

Unsur ini bernilai tinggi karena contoh yang ditunjukkan oleh Balai PTPT, Denpasar sesuai dengan ekspektasi responden. Sedangkan dari segi instrumen kognitif, unsur-unsur yang dikaji adalah keterkaitan pekerjaan, kualitas output, hasil yang dapat diaplikasikan, dan kemudahan penggunaan. Unsur kualitas output dapat diketahui dari rasio keberterimaan yang positif 2,08; 4,50; dan 6,00 untuk masing-masing Bali, NTB, dan NTT. Pertanyaan ini adalah menurut responden bambu laminasi memiliki keunggulan kuat secara fisik, artinya responden yakin dengan kekuatan fisik bambu laminasi.

Unsur hasil yang dapat diaplikasikan dan kemudahan penggunaan terkait dengan harga bambu laminasi. Jika harga terjangkau, bahkan dapat lebih murah dari kayu sejenis, maka penggunaan teknologi ini dapat terlaksana. Dari pernyataan nomor 8 bahwa menurut responden bambu laminasi memiliki keunggulan murah dalam produksi, memiliki nilai 1,00; 1,91; dan 1,53 untuk masing-masing lokasi. Nilai ini cukup rendah jika dibandingkan dengan unsur sebelumnya.

Karakteristik keberterimaan masyarakat Bali dicirikan dengan pernyataan ke-2, (nilai 2,5), dan pernyataan ke-9 (nilai 5,67) yang nilai keduanya diatas total rata-rata seluruh indikator keberterimaan, yaitu 2,10). Masyarakat Bali menegaskan bahwa bambu laminasi memang memiliki keunggulan estetika dan desain menarik (nilai 5,67). Selain itu ditegaskan pula bahwa kayu tidak digunakan sebagai bahan wajib untuk konstruksi. Tersirat dari kedua pernyataan tersebut bahwa masyarakat Bali sangat sadar lingkungan. Disisi lain, estetika dan desain bambu laminasi mendapat perhatian yang lebih baik dari masyarakat NTB dan NTT. Hal tersebut mengindikasikan bahwa apabila kayu menjadi wajib sebagai bahan konstruksi, maka konsekuensinya adalah kelangkaan kayu dan kerusakan hutan. Oleh karena itu, bambu laminasi yang desainnya mempertimbangkan nilai-nilai arsitektur tradisional akan mendapat peluang lebih besar untuk dikembangkan di Bali.

Karakteristik keberterimaan masyarakat NTB terhadap bambu laminasi dicirikan dari 5 (lima) pernyataan yang nilainya lebih besar dari rata rata 2,4; yaitu pernyataan ke-3 (nilai 2,5), pernyataan ke-4 (nilai 3,0), pernyataan ke-6 (nilai 3,5), pernyataan ke-7 (nilai 4,5), dan pernyataan ke-9 (2,5). Karakteristik tersebut mencerminkan bahwa masyarakat NTB mengakui bahwa bambu laminasi memiliki keunggulan kuat secara fisik (nilai 4,5), dan tidak segan menggunakan bambu laminasi sebagai pengganti kayu (nilai 3,5). Mereka sadar bahwa eksploitasi kayu secara terus menerus akan menghabiskan cadangan sumber daya kayu (nilai 3,0). Masyarakat NTB juga mengakui bahwa bambu laminasi memiliki esetika dan desain yang baik (nilai 2,5). Dari kelima pernyataan tersebut tersirat bahwa masyarakat NTB lebih memberi perhatian pada kekuatan fisik dari bambu laminasi. Aspek kekuatan fisik tersebut merupakan motivator masyarakat NTB untuk beralih dari menggunakan kayu menjadi bambu laminasi sebagai bahan konstruksi.

Karakteristik keberterimaan masyarakat NTT terhadap bambu laminasi dicirikan dari 3 (tiga) pernyataan, yaitu pernyataan ke-6, pernyataan ke-9, dan pernyataan ke-4 yang nilainya lebih besar dari 1,9 (nilai total rata-rata seluruh indikator keberterimaan yang digunakan). Masyarakat NTT menegaskan bahwa bambu laminasi memiliki keunggulan kuat secara fisik (nilai 6,0) tetapi juga memiliki nilai estetika dan desain yang menarik (nilai 2,38). Namun, kayu konstruksi masih tetap digunakan (nilai 2,50).

Ketiga masyarakat wilayah penelitian, pada dasarnya dapat menerima bambu laminasi sebagai bahan konstruksi pengganti kayu. Namun, karakteristik keberterimaannya sedikit berbeda. Masyarakat Bali lebih memberi perhatian pada estetika dan desain bambu laminasi, sedangkan masyarakat NTB dan NTT lebih pada aspek kekuatan bambu secara fisik. Ditinjau dari aspek konservasi, masyarakat Bali dan NTB termotivasi untuk tidak menggunakan kayu untuk bahan konstruksi, sedangkan masyarakat NTT masih akan menggunakan kayu.

KESIMPULAN

Secara umum, keberterimaan masyarakat wilayah penelitian terhadap inovasi teknologi bambu laminasi sebagai alternatif pengganti kayu konstruksi adalah positif. Masyarakat di ketiga wilayah penelitian dapat menerima bahwa aspek konservasi sumber daya kayu menjadi landasan keberterimaan teknologi bambu laminasi. Namun, masyarakat Bali dan NTB akan sepenuhnya menggunakan bambu laminasi, sedangkan masyarakat NTT masih menggunakan sebagian kayu sebagai bahan konstruksi. Masyarakat Bali lebih memperhatikan aspek estetika dan desain arsitektur, sedangkan masyarakat NTB dan NTT lebih memperhatikan aspek kekuatan bambu secara fisik. Penerapan teknologi bambu laminasi sebagai infrastruktur hijau harus dilaksanakan dengan pelibatan masyarakat dalam hutan kemasyarakatan. Masyarakat selain dapat berperan serta dalam pengadaan bahan bangunan bambu laminasi, juga memiliki andil dalam pelestarian hutan. Peran aktif Pemerintah dan Pemerintah Daerah setempat untuk mengaktifkan kelembagaan masyarakat perlu disoroti lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

[Balai Sosekling Kim]. Balai Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan bidang Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum. 2011. Kajian Kelayakan Sosekling dalam Penerapan Teknologi Bahan Bangunan untuk Perumahan Tradisional. Yogyakarta.

[Balai PTPT Denpasar]. Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Laporan Studi Bambu Laminasi. Denpasar.

Benedict, Mark A., T. McMahon, Edward. 2002. Green Infrastructure: Smart Conservation for the 21st Century. Renewable Resources Journal 20(3):12-17.
Davis, F.D. 1989. Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and Acceptance of Information System Technology. MIS Quarterly 13(3):319-339.
[Kem Hut]. Kementerian Kehutanan. 2010. Kondisi dan Perubahan Tutupan Hutan. http://www.pdf.wri.org/indoforest_chap2_id.pdf (diakses 22 Desember 2011).

Kompas. 2009. Basis Data Perumahan Belum Akurat. http://properti.kompas.com/read/2009/05/12/18054972/Basis.Data.Perumahan.Belum.Akurat (diakses 22 Desember 2011).

Mawardi, I dan Sudaryono. 2006. Konservasi Hutan dan Lahan melalui Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan. Jurnal Teknik Lingkungan 7(3): 317-324.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan.

[Puslitbang Kim]. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum. 2011. Pidato Menteri PU pada pembukaan kolokium Puslitbang Permukiman PU dengan tema Meningkatkan Kemanfaatan Hasil Litbang Perumahan dan Permukiman untuk Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi, Kesejahteraan Masyarakat dan Peningkatan Kualitas Lingkungan. Bandung.

Suriadikarta, Didi Ardi. Pembelajaran dari Kegagalan Penanganan Kawasan PLG Sejuta Hektar Menuju Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. 2009. Majalah Ilmiah Pengembangan Inovasi Pertanian 2(4): 229-242.

Susana, I. 2010. Peningkatan Nilai Kalor Biomassa Kotoran Kuda dengan Metode Densifikasi dan Thermolisis. Jurnal Teknik Mesin 11(2).

Venkatesh, Viswanath. Davis, Fred D. A. 2000. Theoretical Extension of the Technology Acceptance Model: Four Longitudinal Field Studies. Management Science 46(2):186-204.

World Bank. 2011. World Development Indicators. Last updated: Nov 2, 2011, http://www.google.co.in/publicdata/home (diakses 23 Desember 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: