Foragri

BUDI DAYA BAMBU UNTUK MENCEGAH LONGSOR

Sumber: http://foragri.blogsome.com/

Bulan Januari 2006, ditandai dengan bencana tanah longsor dan banjir. Badai (siklon) tropis yang terjadi di Australia Utara, telah mengakibatkan adanya curah hujan yang sangat tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Curah hujan yang sangat tinggi inilah sebenarnya penyebab utama datangnya bencana banjir dan tanah longsor. Namun bencana demikian, sebenarnya bisa dicegah. Seandainya hutan di Indonesia, khususnya di pulau Jawa tidak diobabat habis, maka bencana banjir dan longsor itu pasti bisa diminimalkan.

Selama 20 tahun terakhir, penghijauan lahan gundul memang banyak dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tanaman penghijauan favorit yang paling banyak dibudidayakan masyarakat adalah albisia, sengon alias jeungjing (Albizia falcataria). Minat masyarakat untuk membudidayakan albisia semakin tinggi, setelah beberapa pabrik pengolahan kayu modern berdiri. Pabrik ini akan mengolah kayu albisia hingga siap untuk diekspor ke Jepang. Di satu pihak, albisia memang telah berhasil menghijaukan lahan rakyat yang selama ini gundul. Namun di lain pihak, justru tanaman inilah yang menjadi salah satu penyebab bencana longsor.

Albisia merupakan tanaman kayu yang pertumbuhannya sangat cepat. Hingga umur di bawah 10 tahun, pasti sudah ditebang habis. Karena tidak pernah menjadi tua, maka akar tunggang albisia belum sempat untuk menembus lapisan tanah yang lebih keras. Tanah di bawah tegakan albisia, terutama tanah liat, akan menjadi jenuh air apabila curah hujan cukup tinggi. Beban batang dan tajuk tanaman di atas permukaan tanah, juga ikut mendorong terjadiya longsor. Terlebih kalau tingkat kecuraman lahan yang ditanamai albisia itu di atas 30°. Dari foto-foto dan tayangan tivi, tampak jelas bahwa bagian tanah yang lungsor itu banyak ditumbuhi albisia.

* * *

Sebenarnya masyarakat akan lebih diuntungkan, kalau lahan kritis itu ditanami bambu. Bukan albisia. Keuntungan yang diperoleh masyarakat dari tanaman bambu ada dua. Pertama, secara finansial hasil dari 1 hektar lahan yang ditanami bambu, lebih besar dibanding dengan lahan yang ditanami albisia. Sebab bambu sudah mulai bis dipanen pada tahun III, dan selanjutnya akan bisa dipanen terus tanpa perlu penanaman ulang. Hasil dari tanaman bambu bukan hanya berupa kayu (batang bambu), melainkan juga rebung. Asalkan, bambu yang dibudidayakan dari jenis yang rebungnya enak. Indonesia tercatat memiliki 142 jenis bambu yang sebagian besar rebungnya enak dimakan.

Keuntungan kedua dari budidaya bambu di lahan kritis adalah, lahan tersebut menjadi aman dari bencana tanah longsor. Sebab bambu akan membentuk rumpun, bukan merupakan tanaman tunggal seperti halnya albisia. Akar bambu juga merupakan akar serabut yang tumbuh sangat rapat. Akar bambu yang mati karena tanamannya telah ditebang, akan tetap membentuk serabut, hingga tanah itu menjadi sangat gembur dan menyerap air dengan sangar cepat. Dalam kondisi curah hujan sangat tinggi, tanah di sekitar rumpun bambu tidak akan jenuh air. Sebab air dari curah hujan yang sangat tinggi itu akan diresapkan dalam jangka waktu sangat cepat.

Dengan sifat perakaran demikian, bambu bisa sengaja dibudidayakan sebagai sabuk gunung (atau bukit), untuk mencegah longsor. Tanaman bambu yang dibudidayakan melingkari sebuah bukit, akan bisa dengan aman menahan gerakan tanah. Sifat menahan longsor ini akan lebih kuat kalau penanamannya dilakukan dalam tiga lapis atau lebih, kemudian ditanam pula deretan memenjang dari atas ke bawah. Hingga dari atas, bentuk deretan rumpun bambu itu akan tampak seperti anyaman tali, yang melingkari pinggang bukit. Jarak ke atas maupun menyamping antar deretan rumpun bambu ini bisa dibuat 30 sd. 60 m. hingga bagian tengahnya tetap bisa ditumbuhi tanaman semusim.

Dengan pola penanaman demikian, masyarakat akan sangat diuntungkan. Sebab bukit dengan tingkat kecuraman sampai lebih dari 45° pun akan tetap aman dari longsor. Warga masyarakat yang tinggal di bawah bukit tersebut tidak perlu khawatir tertimbun longsoran, meski hujan turun dengan intensitas sangat tinggi. Praktek menanami tebing terjal dengan bambu, selalu diterapkan oleh nenek-moyang kita. Kalau kita perhatikan tebing-tebing terjal (jurang) di pinggir kali, selalu ditumbuhi bambu. Sebab dengan adanya rumpun bambu yang saling bergandengan akarnya, maka tanah di bawahnya akan diikat dengan sangat erat.

* * *

Selama ini, faktor benih memang telah menjadi kendala utama budidaya bambu. Di Indonesia, bambu selalu ditanam dengan benih bonggol (batang dalam tanah) berikut satu meter batang dan ranting. Membongkar rumpun bambu untuk memperoleh bonggolnya cukup berat. Hasil benih yang didapat juga terbatas. Dari satu rumpun bambu dengan 10 batang, kalau dibongkar semua hanya akan menghasilkan 10 benih. Itu pun harus dengan mengorbankan rumpun yang produktif. Mengangkut 10 bonggol bambu juga makan tempat dengan bobot yang cukup besar. Hingga seluruh pekerjaan mulai dari membongkar, mengangkut dan menanam benih bonggol itu akan menjadi cukup berat.

Sebanarnya, bambu juga bisa dikembangbiakkan dengan biji serta kultur jaringan. Namun upaya menumbuhkan bunga dan biji bambu juga tidak mudah. Demikian pula dengan kultur jaringan. Selain itu, dua cara ini biayanya tinggi dan perlu waktu lama. Untuk mengecambahkan biji sampai dengan siap tanam, diperlukan waktu paling cepat 2 tahun. Kultur jaringan, makan waktu lebih lama lagi. Untuk mengatasi hal ini para petani Thailand biasa menggunakan benih “cangkokan” dari cabang (ranting). Cara yang mereka lakukan, mirip dengan petani Sleman, DIY, ketika mencangkok salak pondoh.

Selain mudah dan murah, teknik perbanyakan dengan memanfaatkan ranting ini, juga mampu mempercepat pengadaan benih secara massal. Sebab dari satu batang bambu bisa dihasilkan sekitar 10 benih, tanpa mengorbankan batang bambu tersebut dan produktifitas rumpun. Mengambil dan mengangkut benih ranting juga tidak makan tempat dan ringan. Tidak seperti pengambilan dan pengangkutan benih bonggol. Bahan yang digunakan petani Thailand untuk “mencangkok” bambu adalah kantung plastik bening 0,5 kg. atau 1 kg, dengan media gabus sabut kelapa (cocodush). Gabus sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik.

Setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantung berisi media tersebut disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan “dicangkok” dimasukkan ke bagian yang tersayat ini lalu diikat erat-erat. Dalam waktu kurang dari satu bulan akar sudah tumbuh. Cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna cokelat. Ujung cabang harus dipotong hingga tersisa 1,5 m sebelum disemai di polybag. Media semai paling ideal berupa tanah bercampur humus bambu. Tanah ini bisa diambil dari bawah tegakan rumpun bambu. Setelah benih dalam polybag tersebut menumbuhkan tunas dan anakan berupa rebung kecil), benih bisa ditanam di lapangan.

* * *

Dalam rubrik ini beberapa tahun silam, pernah ditulis peluang budidaya bambu, khusus untuk menghasilkan rebung. Jenis yang ditanam adalah bambu yang rebungnya enak seperti bambu ater (Gigantochloa atter), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu duri (Bambusa blumeana) dan bambu hitam (Gigantochloa atriviolacea). Dalam satu rumpun, secara konstan dipelihara hanya 5 batang bambu. Kalau satu batang ditebang, satu rebung harus dipelihara, agar menjadi individu tanman baru. Selebihnya rebung dipanen. Tiap 36 hari, satu rumpun akan menghasilkan satu rebung. Dengan jarak tanam 4 X 6 m, populasi per hektar mencapai 400 rumpun. Dari tiap hektar kebun bambu ini, tiap harinya dapat dipanen 10 rebung.

Tiap tahunnya, dari tiap hektar lahan dapat dipanen 4.000 rebung dan 800 batang bambu (satu rumpun ditebang 2 disisakan 3 batang). Setelah dibersihkan dan bagian pangkalnya dibuang, bobot satu rebung hanya sekitar 1 sd. 1,5 kg. Hingga hasil per hektar per tahun sekitar 20 sd. 30 ton rebung yang sudah terkupas dan dibuang bagian pangkalnya yang berkayu. Dengan harga sekitar Rp 2.000,- per kg. maka dari satu hektar lahan itu akan dapat diperoleh pendapatan kotor dari rebung Rp 40.000.000,- sd. Rp 60.000.000,- dalam setahun. Sebagian besar dari pendapatan tersebut akan digunakan untuk biaya penyusutan, tenaga kerja (pengambilan rebung dan pengupasan). Pendapatan bersih bisa separo dari pendapatan kotor tersebut.

Dengan adanya dua keuntungan tersebut, yakni keuntungan finansial dan keuntungan ideal, maka budidaya bambu untuk mencegah longsor menjadi sangat strategis. Sudah saatnya pemerintah melalui BUMNnya, baik Perum Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara (PTPN), mempelopori hal ini. Sebab lahan dengan tingkat kecuraman tinggi di Jawa, umumnya dikuasai oleh Perum Perhutani dan PTPN. Setelah melihat contoh, biasanya masyarakat akan dengan mudah mengukuti contoh tersebut. Bencana longsor dan banjir pada awal tahun 2006 ini sudah sangat meluas dan memprohatinkan. Sudah saatnya kita semua kembali membudidayakan bambu, memanfaatkan rebung dan batangnya, serta memperoleh perlindungan dari bencana longsor. (R) * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: