Usman Daras dan Juniaty Towaha

Potensi Bambu Sebagai Tanaman Konservasi Daerah Aliran Sungai

Oleh: Usman Daras dan Juniaty Towaha

Sumber: http://balittri.litbang.deptan.go.id/ 18 Juli 2011 

Degradasi lahan di Indonesia, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada bagian hulu dan terlebih lagi pada bagian hilir lajunya terus meningkat dan bahkan terkesan tidak terkendali. Yang berdampak merusak pada tatanan siklus hidrologi, sehingga ketika musim penghujan sering terjadi banjir, dan saat musim kemarau terjadi krisis air. Harus disadari bahwa tindakan konservasi alam dalam rangka pemulihan hutan dan lahan serta fungsi DAS dengan menggunakan tanaman kayu sangat mahal dan membutuhkan perawatan maupun waktu yang lama. Menyikapi kondisi demikian, pemerintah perlu melakukan kebijakan jangka pendek untuk mengatasinya, adapun langkah bijaksana yang dapat diambil dalam jangka pendek terutama untuk melindungi DAS adalah dengan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi.

Selain memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan water storage (cadangan air bawah tanah) secara nyata, maka pertimbangan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi adalah karena bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam serta memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tidak membutuhkan investasi besar, sudah dewasa pada umur 3 – 5 tahun dan dapat di panen setiap tahun tanpa merusak rumpun serta memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan kebakaran. Disamping itu, bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan menghasilkan banyak oksigen sehingga dapat ditanam di daerah pemukiman maupun dipinggir jalan raya.

Tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat, meskipun berakar serabut pohon bambu sangat tahan terhadap terpaan angin kencang. Perakarannya tumbuh sangat rapat dan menyebar ke segala arah, serta memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga tidak mudah putus dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, disamping itu lahan di bawah tegakan bambu menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan air. Dengan karakteristik perakaran seperti itu, memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis yang menjaga ekosistem tanah dan air, sehingga dapat dipergunakan sebagai tanaman konservasi.

Kecepatan pertumbuhan bambu dalam menyelesaikan masa pertumbuhan vegetatifnya merupakan tercepat dan tidak ada tanaman lain yang sanggup menyamainya. Dari beberapa hasil penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm tergantung dari jenis- nya. Sebuah keajaiban pertumbuhan yang tidak dapat ditemukan pada tanaman lain. Selain itu, bambu memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya, dapat mencapai 30 – 100 tahun bahkan lebih tergantung dari jenisnya.

Bambu juga tahan kekeringan dan bisa tumbuh baik di lahan curam, sehingga bambu mempunyai potensi untuk menahan long- sor. Walaupun kadang-kadang dijumpai banjir atau tanah longsor yang menghanyutkan rumpun bambu. Itu bisa terjadi pada rumpun bambu yang tumbuh soliter (rumpun tersendiri). Kalau bambu ditanam berderet menyerupai teras pada sebuah lereng dan membentuk sabuk gunung, dimana akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun, maka kekuatannya sangat luar biasa. Rumpun bambu berikut serasah di bawahnya juga mampu menahan top soil hingga tidak hanyut tergerus run off air hujan. Sehingga kemampuan tanaman bambu untuk mencegah erosi maupun longsor dapat diandalkan.

Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis, sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Adapun syarat tumbuh yang baik untuk pertumbuhan bambu adalah sebagai berikut : (1) pada semua jenis tanah terutama jenis tanah dengan tekstur berpasir sampai berlempung, berdrainase baik, pH tanah yang dikehendaki antara 5,6 – 6,5; (2) pada dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 1.500 m dpl; (3) dengan iklim tipe A hingga C (Schmidt – Ferguson) dengan suhu udara 270 – 360 C dan kelembaban udara ± 80 %, walaupun demikian bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering dengan tipe iklim D seperti di kepulauan Nusa Tenggara Timur.

Perbanyakan tanaman bambu yang biasa dilakukan adalah dengan cara vegetatif melalui stek batang atau stek rhizoma. Adapun untuk mendapatkan bibit secara massal dalam waktu relatif singkat dengan cara mudah dan biaya murah adalah dengan menggunakan metoda perbanyakan cangkokan cabang/ranting. Bahan untuk mencangkok berupa kantong plastik bening ukuran 0,5 kg dengan media sabut kelapa. Sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik,. setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantong berisi media disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan dicangkok dimasukkan ke bagian yang tersayat lalu diikat erat-erat. Dalam waktu kurang dari satu bulan akar sudah tumbuh, dan cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna coklat, ujung cabang dipotong tinggal 1,5 meter sebelum disemai di polybag.

Berdasarkan sifat karakteristik tanaman bambu tersebut, maka beberapa negara Asia seperti China dan India telah menggunakannya sebagai tanaman utama konservasi tanah dan air, yang selain untuk memperbaiki dan meningkatkan sumber tangkapan air serta mencegah erosi, juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui aneka kerajinan serta kebutuhan konstruksi. Hasil studi Akademi Kehutanan Beijing (1998) yang melakukan studi banding pada hutan pinus dan bambu pada beberapa DAS di China, mendapatkan bahwa hutan bambu mampu menambah 240% air bawah tanah lebih besar dibanding hutan pinus. Saat ini dari seluas 4,3 juta ha hutan bambu yang telah ditanam di China, telah mampu menghasilkan bambu sebanyak 14,2 juta ton/tahun yang memberi kontribusi yang positif terhadap perekonomian masyarakatnya.

Utthan Centre sebuah LSM di India, pada tahun 2004 telah melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha dalam upaya konservasi pada lahan bekas penambangan batu, dimana dalam jangka waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter dan seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat melalui industri kerajinan bambu. Dengan demikian, dari sisi ekologis tanaman bambu memiliki kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan karena sistem perakarannya dapat mencegah erosi dan mengatur tata air. Dan dari sisi ekonomi, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitarnya dalam waktu 3-5 tahun setelah tanam, waktu yang relatif cepat apabila dibandingkan dengan komoditas kayu.

Oleh karena itu, keberhasilan upaya konservasi tanah dan air melalui penanaman bambu di China maupun India, sudah seharusnya memberikan dorongan bagi Indonesia untuk melakukan gebrakan secara nasional untuk menyelamatkan sumber daya alam hutan dan lahan khususnya DAS dan sumber tangkapan air lainnya, dengan melakukan gerakan konservasi menggunakan tanaman bambu, sehingga kedepan ancaman banjir maupun longsor dimusim penghujan serta krisis air dimusim kemarau dapat dieliminir, berikut dapat meningkatkan nilai tambah pendapatan masyarakat disekitarnya melalui pengembangan industri berbasis bambu (Usman Daras dan Juniaty Towaha/Email:balittri@gmail. com).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: