Berita

Juni 2010

BAMBU UNTUK KONSERVASI TANAH DAN AIR

Sumber: http://dmadjmoe.blogspot.com/ 27 Juni 2010 

Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahu ke depan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai budidaya. Kenyataan ini, jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Penelitu Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6). Menurutnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan kepeduliannya.

“Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi,” kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu. Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya.

“Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang,” kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air. Selain upaya tersebut, lanjut perempuan yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. “Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya,” katanya. Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena semakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri.

Di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah. Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air, ya kan? sumber: kompas.com

Oktober 2010

Palu: Pemkab Tanam Ribuan Bambu Di Bantaran Sungai 

Sumber: http://sigapbencana-bansos.info/  10 Oktober 2010 

Jakarta, (10/10) SIGAP – Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, akan menanam ribuan pohon bambu di sepanjang bantaran sungai untuk menahan laju erosi.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Sigi, Syahrial Chalik, di Palu, Minggu (10/10) mengatakan, bambunisasi bantaran sungai tahap pertama dilaksanakan di Kecamatan Palolo, Nokilalaki, dan Dolo Selatan.

Setiap kecamatan akan mendapatkan 1.000 bibit bambu dengan berbagai jenis. Selain memiliki akar serabut yang dapat menahan laju erosi, tanaman bambu juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Syahrial, program bambunisasi ini bertujuan melindungi lahan pertanian dan permukiman warga yang berada di sepanjang bantaran sungai dari ancaman erosi.

“Penghijauan bantaran sungai ini disinergikan dengan program pembinaan usaha kecil dan menengah (UKM) oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sigi.

UKM yang dibina Disperindagkop adalah industri kerajinan berbahan baku bambu sehingga dengan adanya program penghijauan ini diharapkan para pengrajin bambu tidak kesulitan bahan baku.

Syarial mengatakan, ketiga wilayah kecamatan yang dipilih merupakan lokasi percontohan dan diharapkan bisa ditiru oleh masyarakat kecamatan tetangga.

“Ke depan, kami berharap masyarakat Sigi dapat melakukan bambunisasi secara swadaya,” katanya.

Kabupaten Sigi yang baru dua tahun mekar dari Kabupaten Donggala dialiri puluhan sungai di antaranya Sungai Wuno, Paneki, Ngata Baru, dan Lewara.

Peneliti pohon bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Elizabeth A Widjaja mengatakan, pohon bambu memiliki manfaat besar dalam menahan terjadinya erosi di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Dikatakannya, kelebihan lain dari pohon bambu adalah memiliki kemampuan untuk menyerap air dan kuat dari terjangan arus sungai, bahkan dapat menampung air sebagaimana sering digunakan oleh para petani di tanah air.

“Penanamannya sendiri dapat dilakukan di kemiringan lereng pinggiran sungai antara 70 sampai 80 derajat,” katanya seraya menyebutkan bahwa dari pengalaman musibah tsunami di Aceh pada 2004 tampak bahwa pohon bambu kuat dari terjangan gelombang tersebut.

Proses pertumbuhan dari pohon bambu itu sendiri terbilang cepat, asalkan saat penanamannya dilakukan pada musim penghujan, antara November dan Desember saat curah hujan cukup tinggi.

“Jenis bambu yang dapat digunakan untuk penahan erosi itu di antaranya bambu ampel yang sangat mudah didapatkan di tanah air,” katanya.

Di bagian lain, ia mengemukakan, Indonesia memiliki kekayaan pohon bambu cukup besar dibandingkan negara lainnya, dan saat ini sepuluh persen atau 157 jenis pohon bambu dari total 1.500 jenis pohon bambu di dunia ada di Indonesia, seperti pada kapanlagi.com. (wa prasetya/ant)

Oktober 2011

Menanam bambu pada musim hujan

Sumber: http://standardisasi.wordpress.com/  10 Oktober 2011

Sekitar 400 warga di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen, Jawa Tengah, akan menanam bambu pada musim hujan yang diprekdisi mulai pada pertengahan November 2011. Penanaman dilakukan sebagai upaya konservasi sekaligus bernilai jual tinggi.

Ketua Tim Kegiatan dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPLH-LPPM) Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Eko Hendarto, Senin (10/10/2011), mengatakan, tiga kabupaten itu dipilih berdasarkan karakteristik geografisnya.

Banjarnegara mewakili daerah pegunungan, Kebumen mewakili dataran rendah dan pantai, sementara Purbalingga mewakili keduanya.

“Kegiatan akan dilaksanakan mulai September sampai Desember 2011 berupa sosialisasi, pengumpulan informasi, dan puncaknya nanti penanaman bambu di sekitar daerah aliran sungai oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Eko.

Menurut dia, bambu merupakan media konservasi yang lama dilupakan orang. Padahal, secara ilmiah, bambu memiliki multifungsi di antaranya fungsi ekonomi karena memiliki nilai jual dan sebagai media konvervasi yang sangat baik.

“Orang selama ini melupakan bambu. Padahal, bambu merupakan media konservasi yang baik, ramah lingkungan, dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Program penanaman bambu menjadi bagian dari kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Peran Masyarakat Perdesaan dalam Pengendalian Kerusakan, Pencemaran Lingkungan, dan Perubahan Iklim di Purbalingga, Kebumen, dan Banjarnegara”. Program tersebut kerja sama PLH LPPM Unsoed dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Secara keseluruhan, anggaran kegiatan ini dialokasikan hingga Rp 90 juta.

Eko menambahkan, tujuan akhir kegiatan ini menjadikan upaya pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan sebagai kebudayaan dan kebiasaan yang tak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan, khususnya di sekitar DAS tiga kabupaten itu.

Menurut Eko, hal ini sesuai dengan amanah Pasal 70 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Salah satunya tentang pelibatan masyarakat dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Februari 2012

Selamatkan DAS Pemkab tanam Pohon Bambu 

Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/ 1 Februari 2012 

Pemerintah kabupaten karanganyar kian serius menyelamatkan daerah bantaran sungai yang kini mulai terkikis oleh hunian. Kepla Dinas Pertanian, Perkunan, tanaman pangan dan kehutanan Karanganyar Siti Maesyaroch, ia mengatakan akan melakukan gerakan terpadupenyelamatan daerah resapan air, terutama daerah aliran sungai DAS atau bantaran. Penyelamatan bantaran sungai ini dilakukan karena semakin banyaknya hunmian yang berkembang didaerah tersebut.

Daerah bantaran sungai sudah banyakterkikis oleh hunian. Padahal sesuai UU Konservasi bantaran tidak boleh untuk hunian. Tapi selama ini warga nekat tetap membangunnya. Pihaknya akan menanam pohon bambu disejumlah DAS. Selain itu , pihaknya juga memprihatinkan kurangnya fungsi konservasi pohon di daerah bantaran. Jenis pohon yang cocok untuk ditanam di daerah bantaran, pohon bambu dan aren sebagai tanaman yang tahan hantaman air. Selama ini tutur siti, meski banyak manfaatnya , bambu dan aren lebih diangap sebagai tanaman liar yang kurang dipedulikan,kelestarian juga kurang diperhatikan dengan ditebangitiada henti. Padahal pohon bambu dan aren memiliki manfaat bagi ekosistem DAS Dasar.

Rumpu bambu yang kuat bisa menjadi penangkal erosi dan banjir serta memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar DAS. Penanaman pertama sebagai obyek percontohan akan dilakukan di bantaran sungai di ngringo, jaten dalam waktu dekat ini. Penanaman ini akan dilakukan Bupati Rina Iriani.

Maret 2012

Ribuan Bibit Bambu Ditanam di Matra 

Sumber:  http://www.fajar.co.id/3 Maret 2012

FARISTANTO/FAJAR
PENGHIJAUAN. Sekretaris Komisi II DPRD Sulbar ikut menanam bibit bambu di bantaran sungai di Mamuju Utara. Kegiatan ini untuk mengantisipasi terjadinya erosi.

PASANGKAYU, FAJAR — Perusahaan perkebunan PT Unggul Widya Teknologi Lestari menanam 5.000 bibit pohon bambu. Bibit bambu itu ditanam di bantaran sungai di Kabupaten Mamuju Utara untuk mengantisipasi erosi.
Menurut Direktur Utama PT Unggul Widya Teknologi Lestari, Tjokro Putro Widodo, kondisi sungai di Matra sebenarnya masih terbilang aman dari ancaman erosi. “Namun lebih baik mencegah daripada menanggulangi bencana akibat erosi,” ujarnya, Jumat, 2 Maret.

Tjokro mengatakan, sejumlah daerah di Indonesia sering kali terjadi musibah banjir akibat erosi pada aliran sungai. Hal itulah yang mendorong perusahaannya mengambil sikap untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon bambu agar memperkecil erosi sekaligus mewujudkan program nasional penanaman satu milar pohon untuk menanggulangi pemanasan global.

“Tanaman pohon bambu salah satu tanaman yang dianggap mampu mencegah erosi pada bantaran sungai. Selain itu, bambu juga bisa memberikan nilai tambah untuk perekonomian rakyat karena bisa dijadikan bahan baku untuk kerajinan maupun industri lainnya,” kata Tjokro.

Sementara itu, Bupati Matra, Agus Ambo Djiwa menyambut positif apa yang dilakukan PT Unggul Widya Teknologi Lestari. Menurutnya, kerja sama yang dibangun antara Badan Lingkungan Hidup dengan PT Unggul Widya Lestari selaku perwakilan dari empat perusahaan sawit yang beroperasi di Matra sangat bagus.

“Kita menyadari bahwa Kabupaten Matra dikelilingi puluhan sungai sehingga rawan terjadinya erosi apabila bantaran sungai tidak dilakukan penanaman pohon. Aliran sungai kita sangat banyak dan bahkan ada yang sangat besar seperti sungai Lariang yang hulunya berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah. Maka sangat diharapkan partisipasi semua pihak dalam rangka melestarikan hutan yang ada di Matra,” harapnya. (far/ars)

Warga Cijulang Tanam Bambu Demi Kelimpahan Air Masa Depan

Sumber:  http://www.engagemedia.org/  7 Maret  2012 

Setelah sukses melakukan aksi penanaman bambu pada Januari dan Februari lalu, 60 lebih warga Kampung Cijulang RT 01 RW 08, Desa Sukaharja Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor, Minggu (6/3/2011) kemarin kembali melakukan penanaman bambu di hulu Kali Cipinang Gading, salah satu kali dikawasan hutan Gunung Salak. Persediaan air gunung yang semakin menipis dan keringnya beberapa mata air menjadi pemicu aksi mereka. Hal ini mereka lakukan mengingat bambu adalah tanaman yang bisa menangkap air.

April 2012

Bambu Efektif untuk Antisipasi Longsor

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/ 10 April 2012 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL – Mengantisipasi bencana alam tananh longsor, Camat Gedangsari Huntoro Purbo Wargono, meminta masyarakat di daerah rawan menanam pohom bambu, Menurut perakaran bambu cukup kuat dan efektif mengantisipasi longsor..

“Akar bambu sangat kuat dan efektif. Maka apabila terjadi longsor akan ada tanda bunyi yang keras sehingga masyarakat di sekitar bisa segera menyelamatkan diri,” jelasnya, Selasa (10/4/2012).

Huntoro juga menjelaskan bahwa 90% wilayah Gedangsari merupakan bukit dengan kemiringan 45 derajat. Kondisi tersebut rawan tanah longsor.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Hj Badingah, S.Sos berharap bahwa masyarakat untuk tanggap dan segera melaporkan pada pihak kecamatan supaya lebih cepat untuk melaporkan bila terjadi bencana. Apalagi daerah Gedangsari merupakan salah satu kawasan rawan bencana. “Maka, agar cepat ditangani. Mohon langsung dilaporkan,” jelasnya.

Data korban meninggal akibat bencana ada empat orang di Kabupaten Gunungkidul. Dua orang merupakan warga Gedangsari, satu orang warga Patuk dan satu orang lagi merupakan warga Nglipar. Pihaknya juga mengaku terus mengantisipasi tumbangnya korban dengan beberapa program. (www.tribunjogja.com)

Penulis : Igt Agung Ismiyanto || Editor : Hanan Wiyoko

One Response to “Berita”

  1. jeffry Says:

    dimana bisa mendapatkan bibit bambu hitam dan bambu betung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: