Soemarno

MODEL PERENCANAAN KAWASAN AGROFORESTRY BAMBU

Diabstraksikan oleh Prof Dr Ir Soemarno MS 

Bahan kajian MK. Perencanaan Lingkungan dan Wilayah PM PSLP PPSUB oktober 2010 diabstraksikan oleh Prof Dr Ir Soemarno MS

1. PENDAHULUAN

Bambu, merupakan hasil hutan non kayu yang potensial untuk dikembangkan menjadi sumber bahan bakuindustri. Di bidang kehutanan tanaman bambu dapat meningkatkan kualitas hutan yang selama ini menjadi bahan bakuindustri perkayuan nasional melalui substitusi atau keanekaragaman bahan baku, mengingat potensi hutan kayu semakin langka sedangkan industri sudah telanjur ada dengan kapasitas besar, maka tuntutan pemenuhan bahan bakuindustri kehutanan menjadi agenda prioritas penyelamat aset kehutanan nasional.

Sebetulnya perhatian pemerintah terhadap tanaman bambu muncul setelah kebakaran hutan besar tahun 1997 di Kalimantan yang meluluh lantakkan lebih dari 1 juta ha.

Di masa yang akan datang tanaman bambu dapat mendukung selain sebagai bahan baku sarana tradisional (bangunan, alat rumah tangga, kerajinan, kesenian dll.) dapat pula mendukung kapasitas dan kualitas hutan alam/hutan tanaman yang selama ini menjadi sumber bahan baku industri perkayuan nasional. Bentuk dukungan tersebut melalui substitusi produk atau keseragaman sumber bahan baku industri, mengingat potensi kayu semakin langka, memerlukan waktu yang relatif panjang rehabilitasinya, sedangkan bambu pada umur 4-5 tahun sudah memenuhi persyaratan yang layak.

Besarnya kebutuhan bahan baku bambu tidak mampu lagi dipenuhi oleh hutan alam bambu dan bambu rakyat, karena itu untuk menunjang kebutuhan bahan baku industri bambu diperlukan pengembangan hutan tanaman bambu yang dikelola secara profesional.

Dalam pada itu gejala yang dihadapi adalah masalah bibit yang secara tradisional memerlukan waktu yang cukup lama dan berkaitan dengan jenis bambu yang diinginkan. Dalam hal ini jalan pintas yang terbaik sejak dini didirikan Laboratorium Kultur Jaringan Bambu yang dapat memenuhi penyediaan bibit bambu yang memiliki persyaratan yang diperlukan jenis, kualitas, kuantitas dan waktu.

Sasaran lahan kritis yang perlu direhabilitasi dengan bambu adalah sebagian lahan kritis masyarakat yang disatupadukan dengan GERHAN dan GRLK yang berlokasi di pedesaan. Pemasyarakatan bambu kepada petani di pedesaan tersebut dinilai tidak terlalu penting karena sifat komoditi bambu sudah merupakan bagian dari kehidupannya, bahkan dalam forum internasional dikatakan “Bamboo is timber of the poor” (bambu adalah kayu kaum duafa) sehingga bambu merupakan produk hasil hutan yang murah.

Pada Kongres Bambu Internasional bulan Juli 1995 di Denpasar Bali, istilah itu dihapus karena masyarakat modern kota pun menghargai bambu dan bambu dapat menjadi bahan baku industri maju seperti untuk kertas, papan lapis, papan serat atau bahan konstruksi bangunan.

Tingkat keterlibatan masyarakat akan semakin tinggi bila rumpun bambu tumbuh di lahan milik masyarakat dengan sistem keterpaduan antara tanaman pertanian dan tanaman bambu (sistem tumpangsari/sisipan atau tanaman lorong).

Keterlibatan masyarakat dalam skema ekonomi menjadi persyaratan pokok dan dapat dikembangkan melalui perpaduan antara usaha tani perkebunan inti rakyat (PIR), pola hutan tanaman industri (PHTI) dan pola pemberian kredit, di mana di dalamnya terlibat masyarakat, pemerintah dan penjamin pemasaran produk.

Selain produk batang bambu, hutan tanaman bambu juga menghasilkan produk rebung. Selama satu tahun penanaman dapat dihasilkan 10-20 tunas tiap rumpun, sehingga apabila dalam 1 ha terdapat = 30 rumpun, maka dapat dihasilkan sekira 6.000 rebung yang dapat menghasilkan sedikitnya Rp 15 juta, yang merupakan hasil tambahan masyarakat penggarap.

Bambu- Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  4,73 juta rumah tangga yang mengusai tanaman bambu dengan populasi  yang dikuasai mencapai 37,93 juta rumpun atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 8,03 rumpun. Dari total sebanyak 37,93 juta rumpun tanaman bambu, sekitar 27,88 juta rumpun atau 73,52 persen diantaranya adalah merupakan tanaman bambu  yang siap tebang.

Bambu- apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman akasia, tanaman bambu lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 29,14  juta rumpun  atau sekitar 76,83 % dari total populasi bambu Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 8,79 juta rumpun (23,17 %)  berada di luar Jawa. Tanaman bambu di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Barat (28,09 %), Jawa Tengah (21,59 %), dan Jawa Timur (19,38  %), sementara di Luar Jawa di propinsi Sulawesi Selatan (3,69 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman bambu di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 75,69 persen  dari total Indonesia, tetapi  rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga  baik di Jawa maupun di Luar Jawa tidak ada perbedaan yang berarti yaitu 8,15 rumpun (di Jawa) dan 7,65 rumpun (di Luar Jawa).  Sedangkan untuk kondisi tanaman bambu, di Jawa persentase tanaman bambu yang siap tebang terhadap total jumlah rumpun seluruhnya mencapai sekitar 72,62 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya sedikit lebih besar mencapai 76,50 persen.

Bambu-  Rumah tangga  pertanian tanaman bambu di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 521,52 ribu dengan populasi rumpun yang diusahakan sebanyak 22,84 juta. Dari 521,52 ribu rumah tangga pertanian bambu, sekitar 74,62 persen (389,17 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 132,35 ribu di Luar Jawa.  Populasi bambu yang diusahakan mencapai 22,84 juta rumpun, sekitar 71,67 persen atau 16,37 juta rumpun diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi bambu yang diusahakan mencapai 17,97 juta rumpun dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 12,62 juta rumpun, sementara di Luar Jawa populasi bambu yang diusahakan hanya sekitar 4,86  juta  dimana sekitar 3,75  juta rumpun diantaranya tanaman yang siap tebang.

BUDI DAYA BAMBU UNTUK MENCEGAH LONGSOR

Bulan Januari 2006, ditandai dengan bencana tanah longsor dan banjir. Badai (siklon) tropis yang terjadi di Australia Utara, telah mengakibatkan adanya curah hujan yang sangat tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Curah hujan yang sangat tinggi inilah sebenarnya penyebab utama datangnya bencana banjir dan tanah longsor. Namun bencana demikian, sebenarnya bisa dicegah. Seandainya hutan di Indonesia, khususnya di pulau Jawa tidak diobabat habis, maka bencana banjir dan longsor itu pasti bisa diminimalkan.

Selama 20 tahun terakhir, penghijauan lahan gundul memang banyak dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tanaman penghijauan favorit yang paling banyak dibudidayakan masyarakat adalah albisia, sengon alias jeungjing (Albizia falcataria). Minat masyarakat untuk membudidayakan albisia semakin tinggi, setelah beberapa pabrik pengolahan kayu modern berdiri. Pabrik ini akan mengolah kayu albisia hingga siap untuk diekspor ke Jepang. Di satu pihak, albisia memang telah berhasil menghijaukan lahan rakyat yang selama ini gundul. Namun di lain pihak, justru tanaman inilah yang menjadi salah satu penyebab bencana longsor.

Albisia merupakan tanaman kayu yang pertumbuhannya sangat cepat. Hingga umur di bawah 10 tahun, pasti sudah ditebang habis. Karena tidak pernah menjadi tua, maka akar tunggang albisia belum sempat untuk menembus lapisan tanah yang lebih keras. Tanah di bawah tegakan albisia, terutama tanah liat, akan menjadi jenuh air apabila curah hujan cukup tinggi. Beban batang dan tajuk tanaman di atas permukaan tanah, juga ikut mendorong terjadiya longsor. Terlebih kalau tingkat kecuraman lahan yang ditanamai albisia itu di atas 30°. Dari foto-foto dan tayangan tivi, tampak jelas bahwa bagian tanah yang lungsor itu banyak ditumbuhi albisia.

* * *

Sebenarnya masyarakat akan lebih diuntungkan, kalau lahan kritis itu ditanami bambu. Bukan albisia. Keuntungan yang diperoleh masyarakat dari tanaman bambu ada dua. Pertama, secara finansial hasil dari 1 hektar lahan yang ditanami bambu, lebih besar dibanding dengan lahan yang ditanami albisia. Sebab bambu sudah mulai bis dipanen pada tahun III, dan selanjutnya akan bisa dipanen terus tanpa perlu penanaman ulang. Hasil dari tanaman bambu bukan hanya berupa kayu (batang bambu), melainkan juga rebung. Asalkan, bambu yang dibudidayakan dari jenis yang rebungnya enak. Indonesia tercatat memiliki 142 jenis bambu yang sebagian besar rebungnya enak dimakan.

Keuntungan kedua dari budidaya bambu di lahan kritis adalah, lahan tersebut menjadi aman dari bencana tanah longsor. Sebab bambu akan membentuk rumpun, bukan merupakan tanaman tunggal seperti halnya albisia. Akar bambu juga merupakan akar serabut yang tumbuh sangat rapat. Akar bambu yang mati karena tanamannya telah ditebang, akan tetap membentuk serabut, hingga tanah itu menjadi sangat gembur dan menyerap air dengan sangar cepat. Dalam kondisi curah hujan sangat tinggi, tanah di sekitar rumpun bambu tidak akan jenuh air. Sebab air dari curah hujan yang sangat tinggi itu akan diresapkan dalam jangka waktu sangat cepat.

Dengan sifat perakaran demikian, bambu bisa sengaja dibudidayakan sebagai sabuk gunung (atau bukit), untuk mencegah longsor. Tanaman bambu yang dibudidayakan melingkari sebuah bukit, akan bisa dengan aman menahan gerakan tanah. Sifat menahan longsor ini akan lebih kuat kalau penanamannya dilakukan dalam tiga lapis atau lebih, kemudian ditanam pula deretan memenjang dari atas ke bawah. Hingga dari atas, bentuk deretan rumpun bambu itu akan tampak seperti anyaman tali, yang melingkari pinggang bukit. Jarak ke atas maupun menyamping antar deretan rumpun bambu ini bisa dibuat 30 sd. 60 m. hingga bagian tengahnya tetap bisa ditumbuhi tanaman semusim.

Dengan pola penanaman demikian, masyarakat akan sangat diuntungkan. Sebab bukit dengan tingkat kecuraman sampai lebih dari 45° pun akan tetap aman dari longsor. Warga masyarakat yang tinggal di bawah bukit tersebut tidak perlu khawatir tertimbun longsoran, meski hujan turun dengan intensitas sangat tinggi. Praktek menanami tebing terjal dengan bambu, selalu diterapkan oleh nenek-moyang kita. Kalau kita perhatikan tebing-tebing terjal (jurang) di pinggir kali, selalu ditumbuhi bambu. Sebab dengan adanya rumpun bambu yang saling bergandengan akarnya, maka tanah di bawahnya akan diikat dengan sangat erat.

* * *

Selama ini, faktor benih memang telah menjadi kendala utama budidaya bambu. Di Indonesia, bambu selalu ditanam dengan benih bonggol (batang dalam tanah) berikut satu meter batang dan ranting. Membongkar rumpun bambu untuk memperoleh bonggolnya cukup berat. Hasil benih yang didapat juga terbatas. Dari satu rumpun bambu dengan 10 batang, kalau dibongkar semua hanya akan menghasilkan 10 benih. Itu pun harus dengan mengorbankan rumpun yang produktif. Mengangkut 10 bonggol bambu juga makan tempat dengan bobot yang cukup besar. Hingga seluruh pekerjaan mulai dari membongkar, mengangkut dan menanam benih bonggol itu akan menjadi cukup berat.

Sebanarnya, bambu juga bisa dikembangbiakkan dengan biji serta kultur jaringan. Namun upaya menumbuhkan bunga dan biji bambu juga tidak mudah. Demikian pula dengan kultur jaringan. Selain itu, dua cara ini biayanya tinggi dan perlu waktu lama. Untuk mengecambahkan biji sampai dengan siap tanam, diperlukan waktu paling cepat 2 tahun. Kultur jaringan, makan waktu lebih lama lagi. Untuk mengatasi hal ini para petani Thailand biasa menggunakan benih “cangkokan” dari cabang (ranting). Cara  yang mereka lakukan, mirip dengan petani Sleman, DIY, ketika mencangkok salak pondoh.

Selain mudah dan murah, teknik perbanyakan dengan memanfaatkan ranting ini, juga mampu mempercepat pengadaan benih secara massal. Sebab dari satu batang bambu bisa dihasilkan sekitar 10 benih, tanpa mengorbankan batang bambu tersebut dan produktifitas rumpun. Mengambil dan mengangkut benih ranting juga tidak makan tempat dan ringan. Tidak seperti pengambilan dan pengangkutan benih bonggol. Bahan yang digunakan petani Thailand untuk “mencangkok” bambu adalah kantung plastik bening 0,5 kg. atau 1 kg, dengan media gabus sabut kelapa (cocodush). Gabus sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik.

Setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantung berisi media tersebut disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan “dicangkok” dimasukkan ke bagian yang tersayat ini lalu diikat erat-erat. Dalam waktu kurang dari satu bulan akar sudah tumbuh. Cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna cokelat. Ujung cabang harus dipotong hingga tersisa 1,5 m sebelum disemai di polybag. Media semai paling ideal berupa tanah bercampur humus bambu. Tanah ini bisa diambil dari bawah tegakan rumpun bambu. Setelah benih dalam polybag tersebut menumbuhkan tunas dan anakan berupa rebung kecil), benih bisa ditanam di lapangan.

* * *

Dalam rubrik ini beberapa tahun silam, pernah ditulis peluang budidaya bambu, khusus untuk menghasilkan rebung. Jenis yang ditanam adalah bambu yang rebungnya enak seperti bambu ater (Gigantochloa atter), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu duri (Bambusa blumeana) dan bambu hitam (Gigantochloa atriviolacea). Dalam satu rumpun, secara konstan dipelihara hanya 5 batang bambu. Kalau satu batang ditebang, satu rebung harus dipelihara, agar menjadi individu tanman baru. Selebihnya rebung dipanen. Tiap 36 hari, satu rumpun akan menghasilkan satu rebung. Dengan jarak tanam 4 X 6 m, populasi per hektar mencapai 400 rumpun. Dari tiap hektar kebun bambu ini, tiap harinya dapat dipanen 10 rebung.

Tiap tahunnya, dari tiap hektar lahan dapat dipanen 4.000 rebung dan 800 batang bambu (satu rumpun ditebang 2 disisakan 3 batang). Setelah dibersihkan dan bagian pangkalnya dibuang, bobot satu rebung hanya sekitar 1 sd. 1,5 kg. Hingga hasil per hektar per tahun sekitar 20 sd. 30 ton rebung yang sudah terkupas dan dibuang bagian pangkalnya yang berkayu. Dengan harga sekitar Rp 2.000,- per kg. maka dari satu hektar lahan itu akan dapat diperoleh pendapatan kotor dari rebung Rp 40.000.000,- sd. Rp 60.000.000,- dalam setahun. Sebagian besar dari pendapatan tersebut akan digunakan untuk biaya penyusutan, tenaga kerja (pengambilan rebung dan pengupasan). Pendapatan bersih bisa separo dari pendapatan kotor tersebut.

Dengan adanya dua keuntungan tersebut, yakni keuntungan finansial dan keuntungan ideal, maka budidaya bambu untuk mencegah longsor menjadi sangat strategis. Sudah saatnya pemerintah melalui BUMNnya, baik Perum Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara (PTPN), mempelopori hal ini. Sebab lahan dengan tingkat kecuraman tinggi di Jawa, umumnya dikuasai oleh Perum Perhutani dan PTPN. Setelah melihat contoh, biasanya masyarakat akan dengan mudah mengukuti contoh tersebut. Bencana longsor dan banjir pada awal tahun 2006 ini sudah sangat meluas dan memprohatinkan. Sudah saatnya kita semua kembali membudidayakan bambu, memanfaatkan rebung dan batangnya, serta memperoleh perlindungan dari bencana longsor.

2.  TANAMAN BAMBU

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat . Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam.

2.1. Ekologi Bambu

Sebaran jenis bambu. Di dunia terdapat lebih dari 1.250 jenis bambu yang berasal dari 75 marga. Dari jumlah tersebut di Indonesia terdapat 39 jenis bambu yang berasal dari 8 marga. Bambu tumbuh di daerah tropis, sub tropis dan beriklim sedang kecuali di Eropa dan Asia Barat, dari dataran rendah sampai pada ketinggian 4.000 m dpl. Tempat tumbuhnya pada tanah aluvial dengan tekstur tanah berpasir sampai berlampung, berdrainase baik, beriklim A/B (tipe FS) dengan ketinggian optimal 0-500 m dpl.

Ada lima factor ekologis yang sangat berpenagartuh terhadap kehidupan tanaman bamboo, yaitu: iklim, radiasi matahari, tanah, angin, dan ruang.

Karakteristik bambu

Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 4-5 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga kadang-kadang masif, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang. Akar bambu terdiri dari rimpang (rhizon) berbuku dan beruas, pada buku akan ditumbuhi oleh serabut dan tunas yang dapat tumbuh menjadi batang.

2.3. Fungsi dan manfaat bambu

Menurut Rivai, Suryo Kusumo dan Nugoro (1994), kegunaan dan manfaat bambu bervariasi mulai dari perabotan rumah, perabotan dapur dan kerajinan, bahan bangunan serta peralatan lainnya dari yang sederhana sampai dengan industri bambu lapis, laminasi bambu, maupun industri kertas yang sudah modern. Dari sekilas gambaran manfaat tersebut menyiratkan suatu harapan, bahwa kebutuhan terhadap bambu akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan masyarakat.

Manfaat Ekologis

Tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat. Karakteristik perakaran bambu memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidronologis sebagai pengijat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi. Rumpun bambu di Tatar Sunda disebut dapuran awi juga akan menciptakan iklim mikro di sekitarnya, sedangkan hutan bambu dalam skala luas pada usia yang cukup dapat dikategorikan sebagai satu satuan ekosistem yang lengkap. Kondisi hutan bambu memungkinkan mikro organisme dapat berkembang bersama dalam jalinan rantai makanan yang saling bersimbiosis.

Manfaat Sosial, ekonomi, budaya

Tanaman bambu baik dalam skala kecil maupun besar mempunyai nilai ekonomi yang meyakinkan. Budaya masyarakat menggunakan bambu dalam berbagai aktivitas kehidupan sehingga bambu dapat dikategorikan sebagai multipurpose free species (MPTS = jenis pohon yang serbaguna). Pemanfaatan bambu secara tradisional masih terbatas sebagai bahan bangunan dan kebutuhan keluarga lainnya (alat rumah tangga, kerajinan, alat kesenian seperti angklung, calung, suling, gambang, bahan makanan seperti rebung dll.).

Pada umumnya jenis-jenis bambu yang diperdagangkan adalah jenis bambu yang berdiameter besar dan berdinding tebal. Jenis-jenis tersebut diwakili oleh warga Bambusa (3 jenis), Dendrocalalamus (2 jenis) dan Gigantochloa (8 jenis).

Dari jenis-jenis tersebut dapat dibudidayakan secara massal untuk menunjang industri kertas, chopstick, flowerstick, ply bamboo, particle board dan papan semen serat bambu serta kemungkinan dikembangkan bangunan dari bahan bambu yang tahan gempa dll.

Dalam kehidupan sosial budaya masyarakat bambu menjadi salah satu kelengkapan yang tidak bisa ditinggalkan, misalnya dalam upacara adat, upacara perkawinan, hajatan keluarga bahkan bahan baku bambu menjadi alat musik khas komunitas tertentu. Lebih dari itu perkembangan sosial budaya masyarakat ditandai dengan perkembangannya aksesori bambu dalam pembuatan perabot rumah tangga dan cindera mata yang bernilai seni tinggi. Di beberapa tempat species bambu tentu menjadi bagian mitos dan kelengkapan ritual masyarakat yang bernilai magis.

Analisis ekonomi hutan tanaman bambu

Berdasarkan penelitian PT Persada Alnita Lestari (2003), pembangunan Hutan Tanaman Bambu pada tahun pertama memerlukan, biaya Rp 10.137.000,00 dari mulai perencanaan sampai pemeliharaan. Pada tahun ke 2 sampai tahun ke 4 diperlukan biaya sebesar Rp 1.402.900,00 per ha. Apabila daur pengusaha hutan bambu selama 20 tahun, maka kebutuhan dana total mencapai Rp 87.960.100,00 per ha. Dengan perolehan hasil sebesar Rp 767.520.000,00. (Bambu, Tanaman Tradisional yang Terlupakan; OTJO DANAATMADJA, 2006.  http:// http://www.pikiran-rakyat.com /cetak / 2006/092006/02/10wacana. htm).

Secara analisis finansial investasi pembangunan hutan tanaman bambu dengan indikator interest 18% per tahun dan dengan metode discounting dari tahun pertama sampai tahun akhir daur perusahaan (20 tahun) menghasilkan Net Present Valute (NPV) sebesar 56% sehingga pengusaha bambu ini dikategorikan layak.

Ditinjau dari perhitungan B/C ratio didapat hasil 5,65 dengan payback period dicapai pada tahun ke-4

3. POLA DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA

3.1. Tanaman Utama: Bambu

Bambu tumbuh hampir di semua daerah dan memiliki banyak manfaat penting bagi masyarakat.  Secara garis besar, bambu terbagi menjadi 2 jenis: bambu rumpun (sympodial) dan bambu rambat (monopodial). Bambu rumpun tumbuh di daerah tropis dan umumnya ada di daerah kita, sedangkan bambu rambat tumbuh di daerah sub-tropis.

Bambu memberikan:

• Pendapatan.

• Bahan bangunan.

• Bahan furnitur.

• Makanan, bagi manusia dan ternak.

• Sebagai pagar, pagar hidup atau teralis.

• Penahan angin.

• Pipa irigasi.

• Arang bambu untuk mememasak.

• Bahan alat musik.

• Bahan wadah.

• Bahan kerajinan tangan masyrakat, dan banyak lagi.

Proses menanam dan mengelola rumpun bambu secara benar merupakan langkah pertama untuk menghasilkan batang berkualitas tinggi dan memudahkan pemanenan.

Perbanyakan Bambu

Ada beberapa teknik untuk memperbanyak bambu, yaitu perbanyakan rimpang (rhizoma), potongan batang, atau menggunakan cabang dan biji untuk beberapa jenis bambu besar. Teknik mana yang akan Anda pakai tergantung pada jenis bambunya, dan untuk apa bambu itu akan digunakan. Untuk daerah kering, awal musim hujan adalah waktu terbaik untuk perbanyakan bambu. Namun, jika tersedia cukup air, perbanyakan ini bisa dilakukan kapan saja.

Perbanyakan dengan Rimpang (Rhizoma)

Perbanyakan dengan rimpang cocok untuk penanaman skala kecil karena tingkat keberhasilannya tinggi. Namun, cara ini sedikit lebih sulit dan memerlukan waktu yang lebih banyak. Perbanyakan dengan rimpang bisa dilakukan pada hampir semua jenis bambu, namun rimpang dari spesies bambu yang besar biasanya terlalu sulit untuk digali. Oleh karenanya, perbanyakan dengan rimpang paling cocok diterapkan pada spesies-spesies bambu yang kecil dengan banyak rimpang dan rumpun.

Langkah-langkah perbanyakan dengan rimpang:

1.   Pilihlah rimpang dan rumpun bambu yang ingin Anda perbanyak, batang berumur satu tahun dari rumpun bambu bagian luar adalah yang paling gampang dan paling baik.

2.   Potonglah batang itu tiga atau empat buku di atas permukaan tanah.

3.   Potong lagi pada rimpang, di bagian rimpang itu menyatu dengan rimpang berikutnya. Biasanya ini mengarah ke tengah rumpun. Galilah akar dan tanahnya sekitar 10-15 cm dari pangkalnya sehingga ketika Anda mencabut rimpangnya, masih ada akar dan tanah yang melekat.

4.   Jagalah agar rimpang dan akarnya tetap basah hingga penanaman, atau sebaiknya langsung ditanam. Basahi juga daunnya dengan air. Jagalah agar rimpang dan akarnya tidak terkena sinar matahari.

5.   Tanamlah rimpang itu sedalam kira-kira 15 cm, dan sirami dengan air.

Berikan pupuk atau kompos dan lapisan mulsa di sekitarnya.

Daun dan cabang yang baru akan tumbuh dari ruas-ruas bambu dan pada awal musim hujan akan tumbuh tunas baru dari rimpan tersebut. Terkadang tunas baru akan langsung tumbuh.

Menanam bambu dengan bahan tanam berupa rimpang-bambu

Perbanyakan dengan Potongan Batang

Perbanyakan dengan potongan batang baik untuk perkebunan besar dan untuk penahan angin karena lebih mudah dan memerlukan waktu yang lebih singkat. Namun, tingkat keberhasilan teknik perbanyakan ini lebih kecil. Teknik ini paling cocok untuk jenis bambu besar, yang terlalu sulit untuk diperbanyak dengan rimpang.

Langkah-langkah perbanyakan dengan batang:

1.   Pilihlah batang bambu yang berumur sekitar 2-3 tahun dan memiliki banyak cabang.

2.   Potonglah sedekat mungkin dengan tanah, dan kemudian potong-potonglah batangnya sepanjang 1,5 sampai 2 meter.

3.   Bersihkan cabang-cabang dan daunnya setelah buku pertama pada tiap potongan, tapi sisakan 2 atau 3 cabang pada satu sisinya.

4.   Galilah parit dan kuburlah batang bambu itu sedalam kira-kira 15 cm. Setelah penanaman, potonglah cabang-cabang yang tersisa pada 2 buku di atas tanah. Ini akan membantu Anda mengetahui di mana bambu itu ditanam.

5.   Sirami setiap hari selama satu minggu pertama. Setelah itu, sirami dua kali seminggu selama satu bulan. Ketika batang bambu itu sudah mulai bertunas, batang itu sudah siap untuk digali, dipotong, dan ditanam kembali ke tempat yang telah ditetapkan.

Menyiapkan bahan tanam bambu dari batang bambu

Perbanyakan dengan Cabang

Beberapa cabang bambu yang besar dapat dipilih untuk bahan tanam, mereka biasanya ada diujung atas bambu dewasa. Potong cabang ini sedekat mungkin dengan batang utama, sepanjang kira-kira 1m (minimum ada 3 mata tunas). Perlakukan cabang ini seperti menanam stek pada tanah yang subur. Sebaiknya ditanam sedikit miring.

Pembibitan Bambu

Perbanyakan dengan potongan batang dan cabang dapat juga digunakan untuk menanam bambu di koker. Perbanyakan dengan rimpang tidak cocok untuk ditanam di koker, sebaiknya harus ditanam langsung ke lahan.

Pengaturan Tanaman Monokultur

Beberapa cara pengaturan tanaman dalam hutan/kebun bambu monokultur yang disarankan adalah :

(1). Cara bujung sangkar

A*   B*   *    *   * *   *    *    *    *    *
D*   C*   *    *   *   *   *   *   *   *    *
*    *    *    *    *   *    *   *   *   *    *
*     *    *    *    *   *    *   *   *   *    *
*    *    *    *    *   *    *   *   *   *    *
*     *    *    *    *   *    *   *   *   *    *

Pengaturan cara bujursangkar lebih mudah dibanding­kan cara yang lain.PanjangAB= BC = CD = AD. Seandainya jarak tanaman bambu  8 – 10 m, luas ABCD = 64 – 100 m2.

(2). Cara diagonal

A* B* * * * * * * * * *
D* C* * * * * * * * * *
E* F* * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * *

Panjang AB = BC = CD = AD, titik E terletak pada titik potong diagonal. Cara ini sebenarnya sama dengan cara bujursangkar, hanya pada titik potong diagonal diberi tanaman berumur pendek yang kemudian hari tanaman tersebut dibongkar. Jarak tanam yang dianjurkan 10-12.5 m.

(3). Cara Garis Tinggi (Contour)

Cara garis tinggi ini dikerjakan bila tanah untuk perkebunan bambu terletak pada tanah yang miring. Saat penanaman sebaiknya tanah dibuat teras lebih dahulu. Karena tanahnya miring maka sulit untuk dibuat cara bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Jarak dalam baris pada tinggi yang sama dapat ditentukan misalnya  10-15 m, tetapi jarak dari teras yang satu ke teras yang lain mungkin sulit disamakan. Dalam hal ini perlu disesuaikan dengan keadaan.

Jarak Tanam

Jarak tanam bambu tergantung beberapa faktor di antaranya jenis tanah, berat ringannya tanah, kesuburan tanah, dan varietas tanaman bambu. Pada tanah yang tan­dus, pertumbuhan tanaman kurang subur sehingga dapat ditanam pada jarak yang lebih dekat. Tanaman yang berasal dari biji pada umumnya lebih besar daripada yang berasal dari semai atau stek, sehingga ditanam dengan jarak yang lebih lebar. Jarak tanam bambu yang baik adalah 8 – 10 m, sehingga pada waktu tanaman bambu sudah besar tidak akan berdempetan dan akan mengurangi timbulnya penyakit .

Pembuatan Lubang Tanam

Setelah ajir dipasang sesuai dengan cara tanam yang dikehendaki, kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm. Pada waktu penggalian lubang,  titik tengahnya tepat pada ajir. Tanah bagian bawah dipisahkan dari tanah bagian atas, karena pada saat pengisian lubang, yang dimasukkan terutama adalah tanah bagian atas yang baik, sedangkan tanah bawah tidak perlu dimasukkan tetapi telah diganti dengan kompos atau pupuk kandang yang telah jadi, dan dicampur dengan tanah bagian atas, superphosphat dan abu bakar. Tanah bagian bawah yang tidak digunakan, dibiarkan diatas tanah diseki­tar lubang dan akan menjadi tanah yang baik karena pelapu­kan. Pemberian superphosphat + 300 – 500 gram tiap lubang dan abu kayu bakar + 3 – 5 kg. Pupuk kandang sebanyak dua kaleng minyak tanah yang dicampurkan pada kedua macam tanah galian. Kemudian tanah bagian bawah dikembalikan ke bawah, dan yang atas ditaruh kembali diatasnya. Setelah diisi, lubang diberi air kompos air pupuk kadang secukup­nya. Pembuatan lubang sebaiknya dilakukan pada musim kemarau sehingga akan mendapat banyak sinar matahari yang dapat mematikan penyakit yang ada.

Penanaman bibit stek

Penanaman sebaiknya dilakukan sore hari pada musim hujan, sehingga tidak perlu menyiram dan udara tidak terlalu panas pada siang hari. Hal ini akan mengurangi kematian bibit tanaman yang baru ditanam. Sebelum bibit ditanam, lubang yang telah diisi tanah dibiarkan beberapa hari sampai tanah betul- betul tidak turun lagi. Kalau tanah masih turun di tambah tanah lagi yang telah dicampur kompos, pupuk kandang dan superphosphat. Pemberian tanah sedikit lebih tinggi dari tanah disekitarnya sehingga tidak tergenang air hujan. Di tempat ajir, dibuat lubang yang sedikit lebih besar dari keranjang bibit, kemudian ditaburi dengan furadan, curaterr, temik atau mipzinon + 10 – 25 gram tiap lubang guna mencegah gangguan rayap atau semut yang mungkin ada. Waktu penanaman sebaiknya keran­jang  dilepas supaya tidak didatangi rayap. Pada waktu menanam diusahakan leher akar tetap seperti  pada waktu di pesemaian dan tempat mata tempel atau sambung jangan sampai tertimbun tanah. Setelah tanam segera disiram sampai betul-betul basah lalu dibuat peneduh yang terbuat dari daun kelapa, alang-alang atau yang lainnya sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Peneduh (kalau perlu) tetap dipakai selama 2 – 3 minggu, setelah itu peneduh dibuka sedikit demi sedikit. Apabila yang ditanam bibit stek cabutan, akar yang rusak atau sakit  dipotong sampai di tempat yang sehat, dan luka diolesi obat luka. Pada waktu menanam diusahakan akar tersebar seperti keadaan aslinya, apabila akar terlalu panjang bisa dipotong sehingga tidak bengkok waktu dita­nam. Bila terdapat hama putih pada akar harus dibersihkan jangan sampai ikut ditanam, demikian pula hama yang lain.  Daun dipotong 1/3 sampai 2/3 bagian dari panjangnya untuk menghidari penguapan yang berlebihan. Pada waktu menanam, tanah diberikan sedikit demi sedikit sehingga bisa masuk di antara akar.

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman. Bibit yang baru ditanam sebaiknya disiram secara teratur setiap hari, lebih-lebih yang berasal dari stek cabutan. Disamping itu juga diperlukan naungan untuk melin­dungi dari terik sinar matahari sehingga daun dan batang tidak kering .

Pengendalian gangguan hama, penyakit dan gulma. Karena penanaman dilakukan pada musim hujan di mana keadaan udara selalu berawan dan lembab, sehingga selalu ada kemungkinan timbul penyakit. Untuk pencegahannya bisa disemprot dengan fungisida misalnya dengan Bubur Burdeaux (BB). BB ini melekat lebih kuat dibandingkan fungisida lainnya, tidak lekas larut bila terkena hujan, dan masih bisa melekat beberapa lama. Bila ada tumbuhan epifit walaupun bukan parasit segera dihilangkan karena mungkin menjadi inang hama atau penyakit. Gulma harus segera disiang karena dapat menyaingi tanaman bambudalam meny­erap makanan, sehingga mungkin bambukalah cepat  apalagi bila tanaman bambumasih muda. Selain itu gulma dapat menjadi inang penyakit yang kemudian bisa menyerang tana­man bambu.

Pengelolaan Rumpun

Pengelolaan rumpun bambu yang baik akan menghasilkan batang bambu berkualitas tinggi, serta memudahkan pemanenan. Satu rumpun bambu yang dikelola dengan baik akan memiliki batang umurnya bervariasi, dari umur 3, 2, dan 1 tahun, serta tunas-tunas baru. Sebaiknya terdapat 6-8 batang yang seumur pada tiap rumpunnya, jadi ada sekitar 24-32 batang per rumpun. Semuanya harus mendapatkan ruang yang cukup untuk bisa tumbuh dengan baik dan mudah dipanen.

Membuka Rumpun Bambu

Rumpun bambu yang dikelola dengan baik akan terlihat terbuka dan sehat sehingga memudahkan kita untuk memilih dan menata mana bambu yang siap dipanen dan mana yang masih muda. Rumpun yang tidak dikelola akan terlihat padat dan semrawut, sulit untuk memilih dan mencapai mana batang yang siap dipanen, dan sering ada batang yang mati atau kering di tengah rumpun. Situasi seperti ini akan menyulitkan kita ketika memanennya. Langkah pertama dalam mengelola rumpun adalah dengan memotong semua batang yang sudah tua atau mati. Ini memang sulit dilakukan karena letaknya kadang di tengah-tengah rumpun. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan memotong satu sisi rumpun hingga ke tengahnya, kemudian memotong batang yang tua atau mati. Potonglah sedekat mungkin dengan permukaan tanah. Ini akan menciptakan bentuk yang memungkinkan kita untuk memanen batang yang tua dari tengah rumpun tanpa merusak tunas baru yang biasanya berada di luar rumpun.

Membuka rumpun dengan jalan menebang sejumlah batang bamboo

Penjarangan rumpun bambu

Menghilangkan batang-batang yang rusak, bengkok, atau terlalu berdekatan satu sama lain. Jika rumpun itu pernah dipanen sebelumnya, akan ada banyak bekas-bekas pangkal bambu, sisa-sisa ini sebaiknya dibersihkan dengan memotongnya sedekat mungkin dengan permukaan tanah. Ini akan memudahkan kita untuk mencapai bagian tengah rump[un bambu.

Pemangkasan Cabang

Pangkaslah cabang-cabang yang lebih rendah untuk memudahkan akses ke dalam rumpun. Pemotongan sebaiknya di buku kedua atau ketiga pada cabang yang dipangkas sehingga dapat mencegah jamur untuk mencapai batang.

Pemangkasan tunas.

Bila tanaman muda sudah mulai tumbuh sebaiknya jumlah junas dikurangi. Ranting / cabang yang kering atau terkena penyakit sebaiknya dipotong, tetapi jangan terlalu banyak memangkas daun yang masih sehat, karena akan mengurangi fotosintesis sehingga pertumbuhan akan terhambat .

Memilih dan Menandai Tunas

Saat musim tunas, pilihlah 6-8 tunas yang sehat dan berada dalam posisi yang baik. Tunas lainnya bisa dihilangkan, ini akan merangsang pertumbuhan tunas baru kemudian hari. Tunas yang dihilangkan dapat dimanfaatkan sebagai sayur rebung atau pakan ternak. Tunas baru bisa ditandai untuk mengetahui umurnya kelak. Batang bambu yang kuat, keras, dan tahan terhadap serangga adalah batang yang dipanen pada saat berumur 3 tahun atau lebih. Cara menandai batang adalah dengan menggoresnya pada tunas sebelum memiliki daun, goresan ini akan meninggalkan bekas yang permanen. Tandai semua tunasnya pada ketinggian yang sama, sekitar 1 meter di atas permukaan tanah. Misalnya, untuk tahun 2000, tandai dengan 4, bambu ini akan siap panen pada tahun 2003. Maka pada tahun 2003, akan diketahui batang mana saja dengan tanda 4 yang telah berumur 3 tahun.

Penggemburan Tanah. Apabila tanah padat sebaiknya digemburkan, sehingga dapat terjadi pertukaran udara dalam tanah. Akar tanaman yang mendapat cukup udara akan tumbuh sehat dan dapat menyerap makanan cukup banyak sehingga tanaman akan tumbuh pesat. Penggemburan tanah jangan terlalu dalam karena dapat memutuskan akar .

Pemangkasan (kalau dianggap perlu). Pemangkasan daun tua sebagai pemeliharaan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Pemangkasan ini ditujukan untuk membuang daun tua yang patah, rusak, yang mengganggu cabang lain, atau cabang yang tidak dikehendaki. Sedangkan pemangkasan peremajaan dilakukan dengan memangkas semua cabang yang kecil-kecil, kecuali satu batang paling atas untuk memelihara kelanjutan hidup tanaman. Tunas-tunas baru yang tumbuh disisakan 2 – 3 batang.

Pemupukan. Program pemupukan yang dianjurkan untuk kebun bambu adalah :

(a).  Tanaman muda

1.     Pada permulaan tanam : pupuk kandang 2 – 3 kg/tanaman

2.     Kemudian :           0.25 – 1.25 kg ZA (20 %)

0.0 – 0.5 kg Superphosphat (18 % P2O5)

0.1 – 0.25 kg Kaliumsulphat (50 % K2O)

(b).  Tanaman Desawa:

1.1 – 5.0 kg ZA;

0.4 – 0.8 kg Superphosphat;

0.5 – 0.75 kg Kalisulphat;

Disamping itu dapat juga diberikan pupuk campuran dengan aturan sebagai berikut :

a. pada tanaman muda : 0.5 – 1.5 kg (15 N : 5 P : 15 K)

b. pada tanaman tua  : 2 – 3 kg ( 12 N : 8 P : 18 K)

Tanaman sela. Di sela-sela tanaman bambu muda dapat ditanami aneka tanaman sayuran sewaktu tanaman bambu tersebut masih kecil (hingga umur 5 tahun). Jenis tanaman sela yang dapat digunakan yaitu  sayuran, kedelai, kacangtanah atau jagung.

Panen Bambu.

Tanaman bambu yang berasal dari bibit stek diharapkan panen setelah umur + 1-1.5 tahun, dan hasil terbanyak diberikan oleh rumpun tanaman bambu yang berumur lebih dari 5 – 6 tahun. Tanaman bambu dapat dipanen bila kulit batang yang semula berwarna hijau muda sudah berubah menjadi hijau tua atau kebiru-biruan, dan kulit seakan-akan tertutup oleh lapisan lilin yang akhirnya akan menghilang. Batang yang demikian keadaannya masih keras tetapi sudah cukup tua.

Batang Bambu Berkualitas Tinggi

Batang bambu berkualitas tinggi tergantung pada beberapa hal, antara lain:

1. Spesies bambu.

2. Usia batang bambu.

3. Waktu panen.

4. Perawatan dan penyimpanan.

5. Pengawetan.

1. Spesies Bambu

Beberapa jenis bambu secara alamiah lebih kuat dan lebih tahan terhadap hama penggerek daripada jenis bambu lainnya. Di Indonesia, jenis-jenis bambu yang umum ditanam dan dimanfaatkan, antara lain: bambu betung/petung, bambu tali/apus, bambu gombong, bambu item, bambu ampel, bambu duri, bambu santong, bambu tutul, bambu kuning, dan masih banyak lagi.

2. Umur Batang Bambu

Bambu sebaiknya dipanen setelah berumur 3 tahun. Untuk beberapa jenis bambu, bahkan harus dipanen saat berumur 4, 5, atau 6 tahun. Jenis bambu tali/apus paling baik dipanen setelah 3 tahun, jenis bambu petung setelah 4 atau 5 tahun. Bila batang bambu masih berumur 1-2 tahun, kandungan bubuk gula/bubuk patinya banyak sehingga hama penggerek atau kutu bubuk (Dinoderus sp.) sangat menyukainya. Setelah 3 tahun, bubuk itu akan berkurang dan silikanya akan menjadi dominan. Silika merupakan suatu mineral yang membuat batang bambu menjadi lebih keras dan tidak disukai hama. Bambu yang dipanen pada umur kurang dari 3 tahun akan mudah mengkerut dan patah, serta memiliki kutu bubuk dan hama penggerek yang lebih banyak. Bambu yang dipanen pada umur 3 tahun atau lebih akan lebih kuat dan tahan hama.

3. Waktu Panen

Waktu pemanenan yang baik adalah selama musim kemarau. Pilihlah waktu ketika tunas baru yang ada di rumpun berada dalam kondisi ketinggian maksimum dan mulai mengembangkan daun-daunnya di bagian atas. Pada saat seperti ini batang bambu dewasa dalam kondisi yang paling kuat. Ada suatu kebiasaan umum di Asia, yaitu melakukan pemanenan bambu di saat bulan purnama. Ini bertujuan untuk membantu mencegah hama penggerek pada bambu dan juga bambu berkurang kadar airnya ketika bulan purnama. Kebiasaan ini akan menghasilkan bambu yang berkualitas baik. Hindari pemanenan di saat musim rebung karena bambu sedang ‘menyusui’ anaknya pada waktu ini. Saat ini kandungan air dan gula pada bambu sedang tinggi. Di samping itu, penebangan bambu akan merusak rebung-rebung tersebut.

4.  EKOSISTEM HUTAN BAMBU

4.1. Konservasi Tanah dan Air

Selama tahun 2010 banyak terjadi bencana tanah longsor dan banjir. Perubahan iklim global, telah mengakibatkan adanya curah hujan yang sangat tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Curah hujan yang sangat tinggi inilah sebenarnya penyebab utama datangnya bencana banjir dan tanah longsor. Namun bencana demikian, sebenarnya bisa dicegah. Seandainya hutan di Indonesia, khususnya di pulau Jawa tidak diobabat habis, maka bencana banjir dan longsor itu pasti bisa diminimalkan.

Selama 20 tahun terakhir, penghijauan lahan gundul memang banyak dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tanaman penghijauan favorit yang paling banyak dibudidayakan masyarakat adalah albisia, sengon alias jeungjing (Albizia falcataria). Minat masyarakat untuk membudidayakan albisia semakin tinggi, setelah beberapa pabrik pengolahan kayu modern berdiri. Pabrik ini akan mengolah kayu albisia hingga siap untuk diekspor ke Jepang. Di satu pihak, albisia memang telah berhasil menghijaukan lahan rakyat yang selama ini gundul. Namun di lain pihak, justru tanaman inilah yang menjadi salah satu penyebab bencana longsor.

Albisia merupakan tanaman kayu yang pertumbuhannya sangat cepat. Hingga umur di bawah 10 tahun, pasti sudah ditebang habis. Karena tidak pernah menjadi tua, maka akar tunggang albisia belum sempat untuk menembus lapisan tanah yang lebih keras. Tanah di bawah tegakan albisia, terutama tanah liat, akan menjadi jenuh air apabila curah hujan cukup tinggi. Beban batang dan tajuk tanaman di atas permukaan tanah, juga ikut mendorong terjadiya longsor. Terlebih kalau tingkat kecuraman lahan yang ditanamai albisia itu di atas 30°. Dari foto-foto dan tayangan tivi, tampak jelas bahwa bagian tanah yang lungsor itu banyak ditumbuhi albisia.

Sebenarnya masyarakat akan lebih diuntungkan, kalau lahan kritis itu ditanami bambu. Keuntungan yang diperoleh masyarakat dari tanaman bambu ada dua. Pertama, secara finansial hasil dari 1 hektar lahan yang ditanami bambu, lebih besar dibanding dengan lahan yang ditanami albisia. Sebab bambu sudah mulai bis dipanen pada tahun III, dan selanjutnya akan bisa dipanen terus tanpa perlu penanaman ulang. Hasil dari tanaman bambu bukan hanya berupa kayu (batang bambu), melainkan juga rebung. Asalkan, bambu yang dibudidayakan dari jenis yang rebungnya enak. Indonesia tercatat memiliki 142 jenis bambu yang sebagian besar rebungnya enak dimakan.

Keuntungan kedua dari budidaya bambu di lahan kritis adalah, lahan tersebut menjadi aman dari bencana tanah longsor. Sebab bambu akan membentuk rumpun, bukan merupakan tanaman tunggal seperti halnya albisia. Akar bambu juga merupakan akar serabut yang tumbuh sangat rapat. Akar bambu yang mati karena tanamannya telah ditebang, akan tetap membentuk serabut, hingga tanah itu menjadi sangat gembur dan menyerap air dengan sangar cepat. Dalam kondisi curah hujan sangat tinggi, tanah di sekitar rumpun bambu tidak akan jenuh air. Sebab air dari curah hujan yang sangat tinggi itu akan diresapkan dalam jangka waktu sangat cepat.

Dengan sifat perakaran demikian, bambu bisa sengaja dibudidayakan sebagai sabuk gunung (atau bukit), untuk mencegah longsor. Tanaman bambu yang dibudidayakan melingkari sebuah bukit, akan bisa dengan aman menahan gerakan tanah. Sifat menahan longsor ini akan lebih kuat kalau penanamannya dilakukan dalam tiga lapis atau lebih, kemudian ditanam pula deretan memenjang dari atas ke bawah. Hingga dari atas, bentuk deretan rumpun bambu itu akan tampak seperti anyaman tali, yang melingkari pinggang bukit. Jarak ke atas maupun menyamping antar deretan rumpun bambu ini bisa dibuat 30 sd. 60 m. hingga bagian tengahnya tetap bisa ditumbuhi tanaman semusim.

Dengan pola penanaman demikian, masyarakat akan sangat diuntungkan. Sebab bukit dengan tingkat kecuraman sampai lebih dari 45° pun akan tetap aman dari longsor. Warga masyarakat yang tinggal di bawah bukit tersebut tidak perlu khawatir tertimbun longsoran, meski hujan turun dengan intensitas sangat tinggi. Praktek menanami tebing terjal dengan bambu, selalu diterapkan oleh nenek-moyang kita. Kalau kita perhatikan tebing-tebing terjal (jurang) di pinggir kali, selalu ditumbuhi bambu. Sebab dengan adanya rumpun bambu yang saling bergandengan akarnya, maka tanah di bawahnya akan diikat dengan sangat erat.

Selama ini, faktor benih memang telah menjadi kendala utama budidaya bambu. Di Indonesia, bambu selalu ditanam dengan benih bonggol (batang dalam tanah) berikut satu meter batang dan ranting. Membongkar rumpun bambu untuk memperoleh bonggolnya cukup berat. Hasil benih yang didapat juga terbatas. Dari satu rumpun bambu dengan 10 batang, kalau dibongkar semua hanya akan menghasilkan 10 benih. Itu pun harus dengan mengorbankan rumpun yang produktif. Mengangkut 10 bonggol bambu juga makan tempat dengan bobot yang cukup besar. Hingga seluruh pekerjaan mulai dari membongkar, mengangkut dan menanam benih bonggol itu akan menjadi cukup berat.

Sebanarnya, bambu juga bisa dikembangbiakkan dengan biji serta kultur jaringan. Namun upaya menumbuhkan bunga dan biji bambu juga tidak mudah. Demikian pula dengan kultur jaringan. Selain itu, dua cara ini biayanya tinggi dan perlu waktu lama. Untuk mengecambahkan biji sampai dengan siap tanam, diperlukan waktu paling cepat 2 tahun. Kultur jaringan, makan waktu lebih lama lagi. Untuk mengatasi hal ini para petani Thailand biasa menggunakan benih “cangkokan” dari cabang (ranting). Cara  yang mereka lakukan, mirip dengan petani Sleman, DIY, ketika mencangkok salak pondoh.

Selain mudah dan murah, teknik perbanyakan dengan memanfaatkan ranting ini, juga mampu mempercepat pengadaan benih secara massal. Sebab dari satu batang bambu bisa dihasilkan sekitar 10 benih, tanpa mengorbankan batang bambu tersebut dan produktifitas rumpun. Mengambil dan mengangkut benih ranting juga tidak makan tempat dan ringan. Tidak seperti pengambilan dan pengangkutan benih bonggol. Bahan yang digunakan petani Thailand untuk “mencangkok” bambu adalah kantung plastik bening 0,5 kg. atau 1 kg, dengan media gabus sabut kelapa (cocodush). Gabus sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik.

Setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantung berisi media tersebut disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan “dicangkok” dimasukkan ke bagian yang tersayat ini lalu diikat erat-erat. Dalam waktu kurang dari satu bulan akar sudah tumbuh. Cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna cokelat. Ujung cabang harus dipotong hingga tersisa 1,5 m sebelum disemai di polybag. Media semai paling ideal berupa tanah bercampur humus bambu. Tanah ini bisa diambil dari bawah tegakan rumpun bambu. Setelah benih dalam polybag tersebut menumbuhkan tunas dan anakan berupa rebung kecil), benih bisa ditanam di lapangan.

Budidaya bambu dapat dilakukan secara khusus untuk menghasilkan rebung. Jenis bambu yang dapat ditanam untuk tujuan ini adalah bambu yang rebungnya enak seperti bambu ater (Gigantochloa atter), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu duri (Bambusa blumeana) dan bambu hitam (Gigantochloa atriviolacea). Dalam satu rumpun, secara konstan dipelihara hanya 5 batang bambu. Kalau satu batang ditebang, satu rebung harus dipelihara, agar menjadi individu tanman baru. Selebihnya rebung dipanen. Tiap 36 hari, satu rumpun akan menghasilkan satu rebung. Dengan jarak tanam 4 X 6 m, populasi per hektar mencapai 400 rumpun. Dari tiap hektar kebun bambu ini, tiap harinya dapat dipanen 10 rebung.

Setiap tahun, dari setiap hektar lahan dapat dipanen 4.000 rebung dan 800 batang bambu (satu rumpun ditebang 2 disisakan 3 batang). Setelah dibersihkan dan bagian pangkalnya dibuang, bobot satu rebung hanya sekitar 1 sd. 1,5 kg. Hingga hasil per hektar per tahun sekitar 20 sd. 30 ton rebung yang sudah terkupas dan dibuang bagian pangkalnya yang berkayu. Dengan harga sekitar Rp 2.000,- per kg. maka dari satu hektar lahan itu akan dapat diperoleh pendapatan kotor dari rebung Rp 40.000.000,- sd. Rp 60.000.000,- dalam setahun. Sebagian besar dari pendapatan tersebut akan digunakan untuk biaya penyusutan, tenaga kerja (pengambilan rebung dan pengupasan). Pendapatan bersih bisa separo dari pendapatan kotor tersebut.

Dengan adanya dua keuntungan tersebut, yakni keuntungan finansial dan keuntungan ideal, maka budidaya bambu untuk mencegah longsor menjadi sangat strategis. Sudah saatnya pemerintah melalui BUMNnya, baik Perum Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara (PTPN), mempelopori hal ini. Sebab lahan dengan tingkat kecuraman tinggi di Jawa, umumnya dikuasai oleh Perum Perhutani dan PTPN. Setelah melihat contoh, biasanya masyarakat akan dengan mudah mengukuti contoh tersebut. Bencana longsor dan banjir pada awal tahun 2006 ini sudah sangat meluas dan memprohatinkan. Sudah saatnya kita semua kembali membudidayakan bambu, memanfaatkan rebung dan batangnya, serta memperoleh perlindungan dari bencana longsor.

4.2. Pelestarian Hutan BAMBU

4.2.1. Kelebihan Bambu

Bambu merupakan tanaman yang secara botanis dapat digolongkan pada famili Gramineae (rumput). Bambu mudah menyesuaikan diri dengan kondisi tanah dan cuaca yang ada, serta dapat tumbuh pada ketinggian sampai dengan 3800 m di atas permukaan laut. Bambu tumbuh berumpun dan memiliki akar rimpang, yaitu semacam buhul yang bukan akar maupun tandang. Bambu memiliki ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini, tumbuh akar-akar yang memungkingkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

Bambu merupakan tanaman yang memiliki banyak kegunaan mulai dari benda kerajinan, bahan makanan, bahan industri, sampai kepada bahan konstruksi. Diantara pemanfaatan bambu antara lain digunakan sebagai topi, kursi, meja, lemari, alat musik angklung, sayur (rebung), kertas, dan bahan bangunan. Kegunaan ini tidak hanya dikenal dibeberapa negara saja melainkan hampir di seluruh dunia sejak dahulu kala. Setidaknya ada tiga kelebihan bambu jika dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan antara lain:

1.   Pertumbuhannya Cepat

Bambu merupakan tanaman yang dapat tumbuh dalam waktu yang singkat dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan. Dalam sehari bambu dapat bertambah panjang 30-90 cm. Rata-rata pertumbuhan bambu untuk mencapai usia dewasa dibutuhkan waktu 3-6 tahun. Pada umur ini, bambu memiliki mutu dan kekuatan yang paling tinggi. Bambu yang telah dipanen akan segera tergantikan oleh batang bambu yang baru. Hal ini berlangsung secara terus menerus secara cepat sehingga tidak perlu dikhawatirkan bambu ini akan mengalami kepunahan karena dipanen. Berbeda dengan kayu, setelah ditebang akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggantinya dengan pohon yang baru.

2.   Tebang Pilih

Bambu yang telah dewasa yakni umur 3-6 tahun dapat dipanen untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Dalam pemanenan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode tebang habis dan tebang pilih. Tebang habis yaitu menebang semua batang bambu dalam satu rumpun baik batang yang tua maupun yang muda. Metode ini kurang menguntungkan karena akan didapatkan kualitas bambu yang berbeda-beda dan tidak sesuai dengan yang diinginkan, selain itu akan memutuskan regenarasi bambu itu sendiri. Metode tebang pilih adalah metode penebangan berdasarkan umur bambu. Metode ini sangat efektif karena akan didapatkan mutu bambu sesuai dengan yang diinginkan dan kelansungan pertumbuhan bambu akan tetap berjalan.

3.   Meningkatkan Simpanan Air Tanah

Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat. Struktur akar ini menjadikan bambu dapat mengikat tanah dan air dengan baik. Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40% air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %.

4.2.2. Penanggulangan Illegal Logging dengan Hutan Bambu

Sebagaimana kita ketahui bahwa illegal logging telah mengakibatkan rusaknya hutan di Indonesia. Hingga tahun 2005, Indonesia telah merusak 61 juta hektar hutan. Perusakan hutan tersebut banyak terjadi Papua, Kalimantan, Jambi, dan Sulawesi. Berbagai upaya telah dilakukan utuk memberantas illegal logging sampai kepada akar-akarnya, tetapi hasilnya tak kunjung terselesaikan.

Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam memberantas pelaku-pelaku illegal logging sehingga pengrusakan hutan akibat pembalakan liar ini dapat dihentikan. Akan tetapi, hal yang tak kalah pentingnya dilakukan adalah bagaimana mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan mahluk hidup di muka bumi. Fungsi hutan yang telah hilang yaitu sebagai tempat hidup berbagai hewan dan tempat persediaan air tanah dan udara bersih. Untuk mengembalikan fungsi hutan yang telah rusak tersebut dapat dilakukan dengan melestarikan tanaman bambu sebagai tanaman reboisasi dan rehabilitasi. Dengan melestarikan bambu, hutan yang telah rusak akan kembali memberikan fungsinya dengan baik dalam waktu yang cukup cepat.

Rusaknya hutan akibat illegal logging mengakibatkan sebagian hewan hampir punah. Hal ini karena hutan merupakan tempat hidup mereka. Untuk mengembalikan tempat hidup hewan tersebut, pelestarian hutan bambu merupakan alternatif yang sangat tepat. Hutan bambu tumbuh berumpun sehingga akan membuat hutan kembali lebat.

Fungsi hutan yang kedua yaitu sebagai tempat persediaan air tanah dan udara bersih. Akibat rusaknya hutan, kita menjadi kekurangan air bersih di dalam tanah apalagi saat musim kemarau, sedangkan saat musim hujan terjadi longsor dan banjir karena air tersebut tidak lagi terserap ke dalam tanah. Fungsi hutan ini akan dicapai dengan melestarikan hutan bambu. Bambu rata-rata menyerap air hujan hingga 90%. Ini merupakan jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40 % air hujan.

4.2.3. Penanggulangan Global Warming dengan Hutan Bambu

Pemanasan global merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan kehidupan di bumi. Beberapa fakta menunjukkan akan kebenaran hal ini diantaranya es di kutub utara dan selatan telah mencair, naiknya permukaan air laut, perubahan iklim, terjadinya gelombang panas, dan habisnya sumber air bersih dunia. Semua itu akibat dari pemanasan global.

Penyebab terbesar terjadinya pemanasan global yaitu gas Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4), Nitrogen Oksida (NO), dan Chlorofluorocarbon (CFC). Hutan yang diharapkan menjadi tempat penimbunan gas CO2 telah rusak. Bahkan rusaknya hutan ini menambah jumlah CO2 di udara. Pohon-pohon yang telah mati akan menghasilkan gas CO2 dan melepasnya ke atmosfer. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah menghilangkan Karbon Dioksida di udara yang dapat menumpuk di lapisan atmosfer. Untuk menghilangkan gas Karbon Dioksida di udara dilakukan penghijauan yaitu memperbanyak menanam pohon sehingga gas-gas CO2 dari berbagai sumbernya dapat diserap dan tidak sampai ke atmosfer. Gas-gas CO2 tersebut diserap dalam proses fotosintesis yang dilakukan oleh tanaman hijau tersebut.

Berkaitan dengan upaya penghijauan maka tanaman hijau yang sebaiknya ditanam adalah tanaman bambu, bukan tanaman kayu-kayuan ataupun buah-buahan. Alasan ini berdasarkan pada prediksi seorang ahli iklim NASA bernama dr. H. J. Zwally yang mengatakan bahwa hampir semua es di kutub utara akan lenyap pada akhir musim panas 2012 akibat pemanasan global. Tanaman bambu dapat tumbuh dengan cepat yang hanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun saja, dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan yang memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai usia dewasa. Selain itu, dalam hal penyerapan Karbon Dioksida, bambu lebih banyak menyerap Karbon Dioksida dari pada tanaman kayu-kayuan ataupun buah-buahan. Studi menunjukkan bahwa satu hektar tanaman bambu dapat menyerap lebih dari 12 ton karbon dioksida di udara. Ini merupakan jumlah yang cukup besar. Dengan melestarikan hutan bambu, berarti kita telah memiliki mesin penyedot karbon dioksida dalam kapasitas yang besar.

Pelestarian hutan bambu merupan langkah yang sangat efektif dan efisien dalam upaya penanggulangan masalah pemanasan global dan pembalakan liar. Pelestarian hutan bambu seyogianya dilakukan di seluruh dunia. Dengan hutan bambu, fungsi hutan sebagai penopang kehidupan mahluk hidup di muka bumi dapat dikembalikan dengan cepat. Dalam pelestariannya tidak dibutuhkan waktu yang cukup lama karena bambu dapat mencapai usia dewasa pada umur 3-6 tahun. Selain itu, penanaman bambu tidak memerlukan biaya yang cukup besar seperti kayu-kayuan karena tanaman bambu merupakan tanaman rakyat yang mudah dan murah didapatkan dibandingkan dengan kayu-kayuan.

5. Kelembagaan Pengelola Sistem Produksi

5.1. Jenis dan Sebaran Kelompok Usaha Bersama (KUBA)

a. DASAR-DASAR PEMBENTUKAN KELOMPOK

a.1. Dasar Filosofis

Manusia ditakdirkan Tuhan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat  hidup sendiri. Sejak lahir manusia membutuhkan  kasih sayang, persau­daraan dan kerjasama dengan orang lain untuk dapat berkembang. Pada sisi lain, setiap orang ingin agar kebutuhan ekonomi terpenuhi.  Manusia mengejar kepuasan dan kemakmuran  bagi diri sendiri.  Naluri untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya juga menjadi fitrah manusia yang normal.  Secara utuh manusia memang harus diterima dalam fitrahnya  sebagai insan sosial yang haus kasih sayang dan persauda­raan, sekaligus juga makhluk ekonomi yang mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.

a.2. Mengapa Kelompok diperlukan?

Secara sendiri-sendiri tidak mudah bagi penduduk miskin untuk mengem­bangkan  kehidupan ekonomi keluarganya.  Keterbatasan pengeta huan,  kelangkaan sumberdaya dan sempitnya pelkuang, membelenggu mereka tetap dalam kemiskinannya.  Kerjasama, saling membantu, terbukti dapat memeperkuat posisinya, meningkatkan kepercayaan diri dan  kepercayaan orang lain.  Saling menolong dan bekerjasama  memperkuat penum pukan  sumber pelayanan ekonomi  dan memperluas kesempatan untuk mencapai kemajuan.  Oleh karenanya pendekatan kelompok diperlukan agar:

a. memperoleh persahabatan dan kerjasama

b. mewujudkan semangat saling membantu

c. melatih diri berfikir bersama dan bermusyawarah

d. mengembangkan sikap dan motivasi untuk maju

e. belajar memimpin dan bertanggung-jawab

f. belajar memutuskan tujuan dan rencana hidup yang jelas

g. mengembangkan sikap dan kebiasaan menabung

h. mengembangkan usaha produktif

i.   memperoleh pelayanan pinjaman untuk modal usaha

j.   meningkatkan pelayanan pihak lain (misalnya Bank)

k.  memperluas hubungan pergaulan dan kesempatan-kesempatan

l.   memperoleh bimbingan dan pembinaan.

b. Kelompok Sasaran

POKSAR progarm ini adalah penduduk yang bermukim di desa lahan kering di sekitar kawasan hutan.  Mereka merupakan kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah dan terbatas kemampuan serta  aksesnya dalam mendapatkan pelayanan, pra-sarana, dan permodalan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya atau menghadapi masalah khusus dan mendesak yang segera memerlukan penanganan dan bantuan.

b.1. Pengertian kelompok

Kelompok merupakan kumpulan penduduk setempat yang menyatukan diri dalam usaha di  bidang sosial-ekonomi untuk meningkatkan kesejahte­raan, keswadayaan, dan kegotong-royongan mereka.  Kelompok merupakan milik anggota, untuk mengatasi masalah bersama serta mengembangkan usaha bersama anggota.  Kelompok beranggotakan sekitar 20-30 KK dan berada di desa/kelurahan, atau di bawah tingkat desa/ kelurahan yaitu dusun, lingkungan, RW, atau RT.  Dalam satu desa/kelurahan dapat tumbuh beberapa kelompok seusai dengan kebutuhan.  Kelompok dapat tumbuh dari kelompok tradisional yang telah ada,  seperti kelompok arisan, aseptor KB, kelompok sinoman, kelompok paketan, dan kalau belum ada segera ditumbuhkan dan dibina secara khusus.

Kelompok dapat dipandang sebagai wadah kebersamaan dalam mengelola kegiatan sosial-ekonomi. Dalam melaksanakan prinsip kebersamaan setiap anggota ikut bertanggung-jawab, saling mempercayai dan saling melayani.  Dalam kebersamaan terbuka peluang  untuk menghimpun dana dari anggota, mengelola dana secara bersama oleh anggota, dan meman­faatkan dana tersebut untuk kepentingan seluruh anggota. Kebersamaan ini menunjukkan semangat  dan kegiatan kooperatif yang menjadi dasar bagi gerakan koperasi yang mandiri dan handal.

b.2. Pembentukan kelompok

Untuk memperlancar dan mengefektifkan  upaya mempercepat  penanggu­langan kemiskinan, penduduk miskin diharapkan  membentuk kelompok.  Pembentuk kelompok sebagai wadah usahatani bambu dimaksudkan agar penan­ganan tenagakerja dapat terarah, interaksi di antara  masyaraat dapat ditingkatkan dan kesetia-kawanan serta kegotong-royongan  dapat dibangun  dan dikembangkan.  Kesatuan dan persatuan  di dalam kelom­pok bermanfaat untuk mengenali permasalahan bersama serta  merumuskan langkah  penanganan masalah di antara anggota.  Kehadiran kelompok memungkinkan terjadinya pengawasan pelaksanaan program agribisnis bambu oleh masyarakat sendiri.

Ketetapan dalam penentuan KUBA akan sangat menentukan keberhasilan program tsb.  Oleh karena itu, pembentukan KUBA harus melibatkan  pihak yang paling  mengetahui mengenai penduduk yang tergolong miskin di lingkungan setempat.  Pembentukan kelompok  penduduk miskin yang menjadi sasaran program pertama- tama diprakarsai oleh kepala desa/lurah dengan dibantu LKMD, PKK, KPD, dan para pemuka masyarakat setempat.

Dalam rangka pembentukan  kelompok, perlu dilakukan pendataan pendu­duk/keluarga miskin dengan memakai kriteria yang disepakati penduduk setempat dan dibahas dalam musyawarah desa dalam wadah LKMD.  Penda­taan keluarga miskin dilaksanakan oleh kepala desa/lurah denagn dibantu LKMD, PKK, KPD dan dilakukan  sedini mungkin sehingga pada saat program dimulai,  telah terbentuk  kelompok di setiap desa/kelurahan tertinggal.  Pendataan keluarga sejahtera  oleh BKKBN, jika  telah dilakukan di desa yang bersangkutan dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan, sesuai dengan kondisi setempat.

Pembentukan kelompok sebaiknya dilaukan pula melalui musyawarah desa/dusun/lingkungan/RW/RT dan disarankan pada daftar penduduk miskin yang telah dibuat dan disepakati bersama.  Dalam pembentukan kelompok, rujukan berikut ini dapat digunakan:

a.     Pembentukan kelompok didasarkan pada kebutuhan keluarga miskin untuk meningkatkan kesejahteraan anggota

b.    Harus dihindari pembentukan kelompok yang dipaksakan

c.     Dalam wadah kelompok diselenggarakan kegiatan sosial ekonomi, yaitu usaha produktif, pemupukan modal dan  tabungan, sehingga ber­manfaat bagi semua anggota secara berkelanjutan

d.    Kelompok dapat merupakan kelompok yang sudah ada, atau dapat pula disiapkan, ditumbuhkan dan dibina secara khusus oleh aparat desa/kelurahan dan masyarakat setempat.

Dalam pembentukan kelompok, keluarga miskin dapat digolongkan  menja­di ependuduk yang sudah mempunyai usaha produktif meskipun kecil- kecilan dan penduduk yang benar-benar tidak mempunyai pekerjaan tetap dan dengan demikian juga tidak mempunyai penghasilan tetap.  Bagi mereka yang mempunyai usaha produktif, kelompok dibentuk dengan memilih pengurus yang kemudian bersama anggota merencanakan  kegiatan simpan-pinjam dengan modal kerja  dari sumberdana.  Bagi pendu­duk lainnya diupayakan untuk menciptakan  lapangan usaha  dan lapan­gan kerja, dengan bantuan pendamping, baik yang ditugaskan oleh camat, dari aparat desa dan kalangan petugas lapangan berbagai in­stansi yang ada di desa, maupun dari kalangan masyarakat desa yang telah lebih sejahtera dan berhasil dalam kehidupan ekonominya.  Untuk ini perlu ditemukenali kegiatan stimulan yang dapat membuka lapangan usaha dan lapangan kerja penduduk miskin.

Mengingat dana program yang jumlahnya terbatas, apabila belum semua kelompok masyarakat dapat menggunakannya, maka perlu mengatur prioritas kelompok miskin yang didahulukan memperolehnya.

b.3. Pembinaan kelompok

Untuk mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi, dalam kelompok perlu diupayakan peningkatan pendapatan, peningkatan keterbukaan wawasan dan sikap bekerjasama, dan peningkatan sifat demokratis- partisipatif dalam  penyelenggaraan kelompok.  Adanya upaya peningka­tan pendapatan ditandai dengan dilenggara kannya pemupukan modal, tabungan, serta usaha produktif anggota.  Adanya keterbukaan ditandai dengan kesediaan anggota kelompok untuk menerima gagasan dan kelemba­gaan baru.  Adanya kegotong-royongan  ditandai dengan upaya pemberian  bantuan dari keluarga yang sudah sejahtera kepada keluarga yang belum sejahtera.  Adanya demokrasi ditandai dengan kepemimpinan  kelompok yang dipilih dari dan oleh anggota, dan pengambilan keputusan yang dilakukan  secara musyawarah.

Kelompok yang disiapkan dan dibina secara baik akan berfungsi sebagai wahana proses belajar-mengajar anggotanya,wahana untuk menajamkan masalah bersama yang dihadapi, wahana pengambilan keputusan untuk menentukan strategi menghadapi masalah bersama, dan wahana mobilisasi sumberdaya para anggota.  Kelompok sebagaimana dimaksud belum tentu telah ada di semua desa/kelurahan. Oleh karena itu, dalam rangka pelaksanaan program di desa/kelurahan yang bersangkutan, perlu ditumbuh-kembangkan kelompok masyarakat dengan memanfaatkan  kelompok nyang sudah ada seperti kelompok akseptor KB, kelompok tani/nelayan, kelompok pendengar-pembaca-pemirsa (kelompencapir) sebagai wahana kebersamaan penduduk miskin.

c. Manfaat KUBA

a.     Meningkatkan kesejahteraan para anggota

b.    Mengembangkan  sikap hidup hemat, ekonomis dan berpandangan ke depan

c.     Memberikan pelayanan modal kepada anggota

d.    Mengembangkan usaha produktif anggota

e.     Melatih diri berfikir dan bermusyawarah

f.     Belajar memimpin  dan mengembangkan  tanggung-jawab

g.     Mengembangkan sikap dan kebiasaan menabung

h.    Meningkatkan kepercayaan pihak lain (seperti Bank).

d.  PERSYARATAN PEMBENTUKAN  KUBA

KUBA yang dicirikan oelh adanya sekelompok orang yang saling menge­nal dan bersepakat untuk saling membantu satu sama lain akan alhir kalau syarat berikut ini terpenuhi:

a.     Adanya ikatan pemersatu yang jelas, yaitu salah satu atau beberapa unsur berikut ini:

– Kesamaan tempat tinggal

– Kesamaan tempat pekerjaan

– Kesamaan jenis pekerjaan atau profesi

– Kesamaan hobi atau kesenangan

– Kesamaan organisasi

– Kesamaan tempat asal (paguyuban)

– Kesamaan status (pemuda, wanita, dll)

b.    Ada kesamaan kebutuhan ekonomi tertentu, seperti:

– Kebutuhan modal usaha

– Kebutuhan bahan baku atau barang dagangan tertentu

– Kebutuhan sarana tempat usaha

– Kebutuhan kelancaran penjualan barang produksi/jasa.

c.     Adanya pemrakarsa atau sekelompok kecil orang inti yang memiliki peranan paling berpengaruh  dan dipercaya  orang lain di sekeliling­nya

d.    Ada orang yang dengan sukarela bersedia  mengelola dan melakukan  kegiatan pelayanan kepada para anggota

e.     Ada lembaga atau perorangan yang memberikan  bimbingan dalam pengembangan program kegiatan kepada kelompok

f.     Ada tujuan bersma yang disepakati dan memberikan manfaat nyata kepada  anggotanya.

e. Prinsip Dasar KUBA

a.     KUBA bekerja atas dasar dari, oleh dan untuk anggota

b.    Keanggotaan KUBA berdasarkan  kesadaran, dan terbuka untuk umum

c.     KUBA bergerak dalam bidang sosial-ekonomi, khususnya pelayanan tabungan  dan kredit bagi para anggota

d.    Menyelenggarakan pertemuan secara teratur

e.     Menyelenggarakan ependidikan serta epengembangan pengetahuan  anggota secara terus menerus

f.     Manajemen KUBA Bersifat terbuka

Kelompok usaha bersama mempunyai ciri-ciri:

1. Merupakan kelompok kecil yang efektif untuk bekerjasama dalam hal:

a. belajar teknologi, manajemen usahatani dan lainnya

b. mengambil keputusan dan bertanggung-jawab atas pelaksanaannya

c. berproduksi dan memelihara kelestarian sumberdaya lahan

d. kegiatan lainnya yang menyangkut kepentingan bersama

2. Anggotanya adalah petani-petani yang mempunyai minat dan kepentingan yang sama, terutama dalam hal agribisnis

3.  Para anggotanya biasanya memiliki kesamaan-kesamaan dalam hal radisi/kebiasaan, domisili, lokasi, usahatani, status ekonomi, bahasa, pendidikan dan usia.

4.  Dipimpin oleh salah seorang anggota terpilih

5.  Bersifat informal, artinya:

a. Kelompok terbentuk atas keinginan dan pemufakatan mereka sendiri

b. Memiliki peraturan, sanksi dan tanggung-jawab, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis

c. Ada pembagian tugas/kerja yang jelas

d. Hubungan antar anggota luwes, wajar, saling mempercayai dan terdapat solidaritas.

Ciri-ciri kelompok yang baik, yaitu sudah menguasai 10 macam kemampuan:

1.    Meningkatkan kemampuan menyerap pengetahuan dan ketrampilan

2.    Membimbing dalam menyusun rencana kerja agribisnis

3.    Meningkatkan kemampuan kerjasama

4.    Mengembangkan kemampuan pemilikan sarana kerja

5.    Mendorong usaha pemupukan modal

6.    Meningkatkan kesadaran dalam melaksanakan dan mentaati perjanjian

7.    Meningkatkan kerjasama dalam menghadapi keadaan darurat

8.    Merintis kader kepemimpinan dan keahlian dari anggota kelompok

9.    Menyadarkan pentingnya melembaga dengan Koperasi

10.  Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok dalam rangka peningkatan produktivitas anggota yang bersangkutan.

f. Kesepakatan Kekompok Dalam Pengelolaan Usaha

Dalam rangka meningkatkan uisaha bersama dalam KUBA, perlu diambil suatu kesepakatan  bersama yang dapat dipakai sebagai ketentuan/ aturan yang harus dipatuhi oleh semua  anggota kelompok.

Kesepakatan ini harus  dibuat untuk menjaga  dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan  di kemudian hari. Kesepakatan tersebut diambil atau diputuskan dalam rapat anggota, a.l.

– Kesepakatan tentang besarnya pinjaman, simpanan, angsuran dll

– Kesepakatan tentang jadwal  pertemuan rapat anggota

– Kesepakatan tentang musyawarah kelompok untuk pengambilan keputusan

– Kesepakatan tentang pemanfaatan bantuan teknik.

g. Prinsip Dasar Organisasi KUBA

a.     Kekuasaan tertinggi dalam KUBA berada pada rapat anggota (RA)

b.    Pengurus dan badan pemeriksa dipilih dari , oleh dan di dalam rapat anggota

c.     Pengurus dan badan pemeriksa hanya dapat diberhentikan  melalui rapat anggota

d.    Pengurus dan badan pemeriksa bertanggung-jawab  kepada rapata anggota

e.     Organisasi KUBA hanya dapat dibubarkan oleh rapat anggota

f.     Tugas dan wewenang pengurus diatur dalam anggaran dasar dan angga­ran rumah tangga

g.     Tugas tanggungjawab pengurus: mengelola organisasi usaha kelompok, melakukan segala perbuatan  hukum untuk dan atas nama  KUBA, dan mewakili KUBA di luar dan dihadapan pengadilan.

h.    Masa jabatan pengurus hendaknya diatur secara jelas, misalnya dua atau tiga tahun.

i.     Pengurus minimal eterdiri atas tiga orang, di antaranya sekretaris dan bendahara.

j.     Jika dipandang perlu pengurus dengan persetujuan  RA dapat men­gangkat seksi-seksi, seperti seksi kredit, seksi usaha, dll.

k.    Kewajiban anggota: menghadiri pertemuan anggota, menabung secara teratur, membayar kembali pinjaman sesuai dengan ketentuan, mengha­diri/melibatkan  diri dalam kegiatan KUBA.

4.2. Pembinaan Kelembagaan KUBA

a. Pengertian

Pembinaan / pemberdayaan juga sering disebut dengan supervisi, pada dasarnya merupa­kan proses kegiatan yang bersifat tindak lanjut.  Hal ini karena  ada proses kegiatan sebelumnya yang menmdahului proses pembinaan. Proses kegiatan yang mendahului pembinaan adalah kegiatan pemantauan.   Ini berarti kegiatan pembinaan dilakukan apabila ada sejumlah  data atau informasi hasil pemantauan yang dipandang tidak  sesuai dengan penam­pilan  prohgram yang diharapkan.  Misalnya data atau informasi hasil pemantauan  terhadap cara penilaian calom KUBA tidak sesuai dengan prosedur dan kriteria yang sudah ditetapkan.   Memperoleh data dan informasi semacam ini perlu ditindak-lanjuti dengan kegiatan pembi­naan terhadap pelaksanaan pemilihan calon KUBA tersebut.

Dengan contoh ini, pengertian pembinaan adalah  suatu proses kegiatan sebagai tindak lanjut kegiatan pemantauan, dengan tujuan untuk memp­erbaiki atau  meningkatkan dan mendidik penampilan bagian-bagian program agar sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan.

b. Sasaran Pembinaan

Sasaran pembinaan adalah manusia yang digolongkan menjadi panitia pelaksana dan khalayak sasaran dari program

(a). KUBA.  Siapa saja yang termasuk ke dalam KUBA, apa peran dari setiap anggota KUBA.

(b). Khalayak sasaran.  Siapa saja yang terlibat dalam program terse­but dan apa peranannya.

c. Syarat-syarat pembinaan

(a). Data masalah

Pembinaan dapat dilakukan  apabila ada sejumlah data atau informasi yang berupa masalah dari hasil pemantauan

(b). Data penyebab masalah

Penyebab masalah harus digali melalui pemantauan, karena kegiatan pembinaan tidak terlebih dahulu mengetahui penyebabnya akan sulit mengadakan pembinaan atau dengan kata lain pembinaan tidak didasari oleh penyebab maslaah maka kegiatan pembinaan akan dikira-kira.

(c). Alternatif pemecahan masalah/penyebab masalah

Dalam pembiaan diperlukan beberapa alternatif pemecahan masalah. Hal ini dimaksudkan apabila alternatif yang satu gagal dapat dicoba alternatif lain sehingga masalah dapat dipecahkan.

d. Sifat Pembinaan

(a).  Memperbaiki: Memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh para pelaksana, sehingga program dapat berjalan sesuai dengan yang diha­rapkan

(b).  Meningkatkan, yaitu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pelaksana  program

(c).  Mendidik: pembina sebagai pendorong memberi bantuan pemilihan apabila ada masalah yang dihadapi oleh para  pelaksana. Sehingga pembina bukan sebagai man dor, tetapi sebagai manajer.

e. Arti Motivasi

Kata motivasi berasal to motive, yang berarti dasar, alasan, doron­gan, rangsangan atau sebab.  Sehingga istilah motivasi diartikan sebagai dasar pikiran atau alasan bagi seseorang untuk bebruat atau melakukan sesuatu untuk mencapai harapan atau tujuan yang diinginkan.

f. Tujuan motivasi

Memotivasi adalah  mempengaruhi orang lain agar ia mau melakukan sesuatu yang dianggap  sebagai kebutuhan, baik untuk dirinya atau untuk orang lain.  Misalnya memotivasi KUBA dengan berbagai alasan untuk meningkatkan taraf hidup. Dengan demikian, yang dimotivasi mau berfikir dan berusaha melakukannya.

g. Cara Memotivasi

(a). Cara yang bersifat menyadarkan.

Cara ini juga disebut cara persuasif.  Motivator  lebih banyak ber­dialog dengan kelompok sasaran dan bahkan mendiskusikan berbagai masalah atau kebutuhan yang hendak dipecahkan atau dipenuhi melalui motivasi.

(b). Cara yang bersifat memberikan imbalan atau janji

Dalam pelaksanaan cara ini, disamping menyadarkan juga dibayang- bayangi dengan imbalan atau janji tertentu.  Cara ini disebut cara dengan pemberian insentif.

(c). Cara yang bersifat memaksa.

Penggunaan cara ini biasanya memanfaatkan  kekuasaan yang ada pada diri motivator atau atasannya yang berpengaruh atau memiliki kekua­saan. Pemaksaan ini dapat bersifat “halus” atau “keras”.

h. Langkah-langkah memotivasi

Kegiatan memotivasi tidak lepas  dari suatu rangkaian program-program yang sedang dilaksanakan.  Kegiatan memotivasi  merupakan bagian  program yang bermaksud untuk mendukung tercapainya tujuan program yang akan atau sedang dilaksanakan.

Agar pelaksanaan motivasi dapat terarah, motivator perlu menempuh langkah-langkah berikut:

(a). Identifikasi: tujuan program, masalah yang dihadapi, dan kebutu­han motivasi yang diperlukan

(b). Penentuan tujuan motivasi, isi kegiatan, kelompok sasaran, waktu, tempat, cara dan sarana motivasi.

(c). Persiapan lokasi dan kelompok sasaran

(d). Penilaian motivasi dan penilaian prosesnya.

(e). Penilaian hasil motivasi dan tindak lanjutnya, dan dalam hal ini lihatlah kaitannya dengan program.

i.  Teknik Pencatatan dan Pelaporan

Pada prinsipnya pengawasan pelaksanaan program KUBA dilakukan sendiri oleh masyarakat dalam wadah kelompok.   Pelaksana kelompok membuat catatan-catatan harian  yang berisi kegiatan yang dilaksanakan.  Catatan harian ini mencakup: nama kelompok, jenis usaha, jumlah rumahtangga dalam kelompok, rincian penerimaan dan pengeluaran kelom­pok.

Berdasarkan catatan harian tersebut, ketua kelompok  dibantu pendamp­ing menyusun laporan dan mengirimkannya kepada KOPERASI.  Dari formulir  tersebut diperoleh  informasi tentang  jenis usaha setiap  kelompok, jumlah keluarga yang menjadi anggota kelompok, besarnya alokasi dana, rincian penerimaan dan pengeluaran, serta masalah yang ditemui dan alternatif pemecahannya.  Pengurus KOPERASI menyusun laporan bulanan .  Laporan bulanan tersebut memberikan  informasi: nama kelompok, lokasi desa, jenis usaha yang dilakukan oleh kelompok, jumlah keluarga yang mene­rima dana, alokasi dana, perkembangan poenggunaan dana (penerimaan dan pengeluaran) dan maslaah serta alternatif pemecahannya.

j.  Mekanisme Pelaporan Kegiatan

Pelaporan pelaksanaan program KUBA dilakukan secara berjenjang mulai dari anggota kelompok, ketua kelompok , dan KOPERASI menyusun laporan bulanan dan menyampaikannya kepada pihak-pihak yang terkait.  Rangkuman laporan bulanan dari KOPERASI dijadikan bahan  laporan Triwulan kepada pihak-pihak yang terkait .

4.3. Organisasi dan Manajemen: KOPERASI

A. Model Pembinaan dan Pemberdayaan

a.1. Pembinaan oleh KANDEP Perindustrian dan Perdagangan

Pembinaan yang dilakukan tidak hanya pada produsen agribisnis/agroindustri (KUBA), namun juga pada industri kecil lainnya yang produknya berkaitan.  Pembinaan terhadap usaha agribisnis/agroindustri dilak­ukan pada unit-unit usaha (KUBA) yang sudah ada dengan melalui pendekatan daerah sentra produksi (SPAKU).  Akibatnya usaha agribisnis yang belum ada ataupun belum berkembang juga harus menjadi perhaitan dalam pembinaannya.

a.2. Pembinaan oleh Mitra Kerja Teknis: Dinas PKT

Pembinaan oleh mitra teknis di wilayah pedesaan dapat dilakukan oleh Dinas PKT dan Instansi teknis terkait. Mereka dapat membina usaha-usaha agroindustri yang terkait dengan KIMHUT-BAMBU. Aspek yang dibina adalah mengenai teknologi produksi, budidaya tanaman, konservasi sumberdaya, dan pemasaran, serta pembinaan kelembagaan.

Pendekatan yang dilakukan melalui pendekatan wilayah  daerah sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan BAMBU. Model pembinaannya adalah langsung kepada sasaran agribisnis tanpa melibatkan Dinas perindustrian ataupun instan­si lain yang terkait. Umumnya usaha yang dibina adalah jenis agroindustri yang potensial ditinjau dari segi permintaannya serta mem­punyai nilai ekonomi yang tinggi.

a.3. KEMITRAAN Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi mempunyai potensi untuk melakukan pembinaan, walaupun sifatnya insidentil. Pembinaan yang dilakukan umumnya dalam aspek informasi inovasi-teknologi. Teknologi yang ditransfer kepada masyarakat, baik pada usaha agribisnis/ agroindustri yang telah ada maupun usaha yang belum ada.  Kelemahan isstem pembinaan yang dilakukan umumnya : (a). Tidak rutin; (b) Kurang memikirkan aspek pemasaran; (c) kurang melibatkan instansi lain yang terlibat.

a.4. Pembinaan Instansi Lainnya

Instansi lain yang juga terlibat seperti PEMDA, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan,  dll.  Pembinaan yang dilakukan umumnya bersifat insidentil. Pembinaan dalam bidang agribisnis bagi Dinas/Instansi tersebut tampaknya sebagai tugas sampingan, sehingga menimbulkan kesan dalam pembinaannya tidak serius.

a.5. Dinas  Koperasi dan Pengusaha Kecil & Menengah

Koperasi dalam pembinaan usaha agribisnis/agroindustri selama ini bertumpu pada Model Kopinkra. Sehingga dalam pembinaannya, Koperasi pesantren hanya ditekankan pada kegiatan pengadaan pangan. Namun dengan adanya perubahan tugas Departemen Kopera­si & PKM, dimana saat ini bertugas pula dalam pengembangan dan pembinaan pengu­saha  kecil, koperasi mulai terlibat dalam pembinaan usaha agribisnis/agroindustri.

Sejalan dengan adanya kebijakan pengembangan agribisnis /agroindustri Di Jawa Timur dimana  sebelumnya pengembangan kurang mendapat perha­tian, maka saat ini telah ada langkah-langkah kongkrit dalam pengembangan agribisnis/ agroin­dusri Di Jawa Timur.  Pembinaan dimulai dengan perenca­naan  yang dikoordinasikan oleh Bappeda Tk I dengan cara membuat peta wilayah pengembangan agribisnis/agroindustri di Wilayah Kecamatan.  Dalam pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya pada Bappeda Tk II. Direncanakan dalam pelaksanaan pembinaan dilakukan dengan jalur :

(a). Dinas Perindustrian  & Perdagangan sebagai pembina Teknologi

(b). Dinas Koperasi & PKM sebagai  Pembina dalam perkreditan, kelembagaan, dan pemasaran.

(c).  Bappeda sebagai perencana jalinan dengan dengan Bapak angkat, serta segabai koordinasi dengan sektor terkait.

(d). Dinas pertanian terkait sebagai pembina dalam aspek penyediaan bahan baku

B. Pendekatan

Tujuan sistem managemen Unit Usaha otonom KOPERASI  untuk menangani usaha agribisnis/agroindustri di pedesaan ini diuraikan sebagai berikut :

(a).  Pengentasan kelompok masyarakat miskin di pedesaan melalui kegiatan usaha di bidang agribisnis/agroindustri komoditas unggulan.

(b).  Peningkatan peran KOPERASI  sebagai badan usaha ekonomi rakyat, khususnya dalam pengembangan agribisnis/agroindustri.

(c).  Memudahkan pembinaan dalam pengembangan agribisnis/ agroindustri pedesaan, bagi instansi terkait baik dalam segi transfer teknologi, perkreditan, pengor­ganisasian, pemasaran, dll.

(d). Meningkatkan nilai tambah hasil-hasil pertanian.

Konsepsi Rekayasa Managemen Unit Usaha Otonom KOPERASI guna menangani usaha agribisnis/agroindustri di wilaayh pede­saan sebagaimana digambarkan sebagai berikut :

(1). Komponen Kegiatan Utama

Komponen kegiatan utama disain managemen KOPERASI guna menangani KIMHUT Bambu adalah :

(a). Disain sistem pengorganisasian Kelompok Usaha Bersama (KUBA)

(b). Disain sistem usaha agribisnis BAMBU.

(c). Disain sistem Lembaga Keuangan/Simpan-pinjam

(d). Disain sistem pemasaran / Warung Pengecer/WASERDA

(e). Disain sistem pembinaan dan transfer teknologi

(f). Disain Paket Tekhnologi

(2). Komponen Kegiatan Penunjang

(a). Disain koordinasi Instansi Terkait

(b). Disain peranan tenaga pendamping

C. Rancangan Sistem

c.1. Disain sistem pengorganisasian

Strukrur organisasi sebagaimana di atas secara operasional fungsinya diuraikan sebagai berikut :

(a). Pada KOPERASI ada unit usaha agribisnis/agroindustri, yang terdiri dari bagian bina usaha dan teknologi, pemasaran, dan bagian modal dan kerjasa­ma.  Fungsi dari unit usaha ini adalah :

–   mencari jenis-jenis usaha agribisnis/agroindustri yang akan dikembangkan.

–   membina kelompok masyarakat miskin dalam usaha agribisnis/ agroindustri.

–   mengusahakan modal/ peralatan dan kerjasama dengan pihak luar

–   Sebagai wahana dalam transfer teknologi dari pihak luar.

–   mengusahakan adanya sistem pemasaran

–   Sebagai pengontrol penentuan kwalitas dan harga

–   mengembangkan perguliran kelompok yang mampu bagi masyarakat miskin yang lain baik pada usaha yang sejenis amaupun usaha agribisnis/agroindustri baru.

(b). Pada KOPERASI terdiri Kelompok Agribisnis dapat sejenis atau berbeda. Kelompok ini terdiri dari masyarakat miskin yang berusaha di bi­dang agribisnis/agroindustri. Paling sedikit kelompok ini  terdiri dari 5 orang yang terbagi dalam bagian produksi dan bagian pemasaran, serta seorang ketua kelompok.

Keberhasilan KOPERASI guna mengembangkan agribisnis/ agroindustri ini sangat tergan­tung pada kelompok ini. Penambahan jumlah anggota kelompok dimungkinkan dilakukan apabila usaha yang dilakukan memang meningkat skala usahanya sampai mencapai 10 orang. Apabila usaha yang dilakukan berkembang, maka dimungkinkan adanya pembentukan kelompok agroindustri baru dimana ketuanya adalah dari sala­hasatu kelompok yang telah berhasil.

(c).  Hubungan antara KOPERASI dengan Kelompok-kelompok usaha agribisnis/ agroindustri adalah sebagai mitra kerja . Oleh karenanya ukuran keberhasilan KOPERASI dalam penan­gani usaha agribisnis / agroindustri ini adalah sejauhmana keberhasilan berkembangnya kelom­pok usaha bersama agribisnis/ agroindustri tersebut.

c.2. Disain sistem usaha agribisnis bagi KUBA

Disain sistem usaha agribisnis bambu bagi kelompok masyarakat ini dirancang dengan  tujuan penengentasan kelompok masyarakat perdesaan dengan usaha pengembangan agribisnis berbasis bambu.  Operasionalisi sistem usaha ini dapat diurai­kan sebagai berikut :

(a).  Masyarakat perdesaan yang dimaksudkan adalah masyarakat dengan sumber pendapatan utamanya sektor pertanian dan tinggal di lokasi.

(b).  Setiap 25-30 orang petani berkelompok dalam satu usaha bersama kegiatan agribisnis berbasis bambu, yang terbagi dari bagian produksi dan bagian pemasaran. Pada tahap awal dibatasi hanya beberapa kelompok, masing-masing kelompok dengan satu orang ketua.  Ketua kelompok diutamakan yang telah mempunyai usaha di bidang agribisnis/agroindustri.

(c).  Modal usaha merupakan modal bersama bukan modal individu. Modal diperoleh dari kredit lunak melalui KOPERASI dan tanggung jawabnya adalah per individu anggota kelompok.

(d).  Jenis usaha yang dilakukan adalah jenis agribisnis komoditas unggulan wilayah berbasis bambu

(e). Pemilihan jenis usaha agribisnis ditentukan secara bersama-sama dalam satu anggota kelompok usaha bersama, melalui musyawarah dengan tenaga pendamping dan KOPERASI.

(f).   Sebelum usaha agribisnis dilakukan, maka diperlukan terlebih dahulu adanya pelatihan dari instansi terkait.

(g).  Kelompok-kelompok usaha agribisnis harus mengikuti pembinaan produk. Serta diusahakan mendapatkan Nomor Sertikat Pembinaan (SP). Sehingga produk yang dihasilkan dapat dipasarkan ke pusat-pusat pengolahan produk bambu.

(h).  Sistem pembagian keuntungan antara anggota kelompok diatur berdasar­kan musyawarah KUBA.

(i).   Setelah dipandang kelompok ini berhasil pada waktu tertentu oleh KOPERASI, maka  dimungkinkan dilakukan  Penambahan jumlah anggota kelompok apabila usaha yang dilakukan memang meningkat skala usahanya. Apabila usaha yang dilakukan berkembang, maka dimung­kinkan adanya pemben tukan kelompok agroindustri baru dimana ketuanya adalah dari salaha satu kelompok yang telah berhasil.

(j).   Hubungan antara Kelompok-kelompok usaha bersama agribisnis/ agroindustri jenis adalah sebagai mitra  bukan kompetisi. Oleh karenanya harus ada koordinasi baik dalam segi proses produksi maupun pemasaran.

(k). Dalam segi pemasaran produk yang dihasilkan adalah pemasaran kelom­pok yang dapat dilakukan langsung, ataupun melalui KOPERASI.

c.3. Disain sistem perkreditan/bagi hasil

Disain sistem perkreditan/bagi hasil pengembangan usaha agribisnis / agroindustri ini diuraikan sebagai berikut :

(a).  KOPERASI khususnya Unit Usaha pengembangan usaha agribisnis /agroindustri bertanggung jawab terhadap kredit yang berasal dari pihak luar. Sumber kredit dari pihak luar harus diusahakan yang bersifat lunak, dengan prioritas kredit yang berasal dari Perusahaan negara atau Swasta Besar.

(b).  Pemberian kredit pada kelompok usaha agribisnis/agroindustri akan diberikan setelah kelompok usaha bersama tersebut dilakukan pelatihan serta mempunyai rencana yang jelas.

(c). Kredit usaha merupakan kredit bersama namun dalam pertanggung jawab­nya adalah per individu anggota kelompok.

(d).  Cicilan kredit ditarik ketua kelompok dari hasil kentungan setiap hasil penjualan, dan dibayarkan ke KOPERASI setiap bulan. Tingkat Bunga kredit adalah tingkat bunga umum. Sedangkan KOPERASI membayar cicilan kepada pihak luar pemberi kredit diatur melalui perjanjian yang telah disepakati. Kredit diberikan dengan masa sesuai kesepatan dari anggota kelompok usaha agribisnis berbasis bambu.

(e). Apabila modal yang berasal dari pinjaman dimungkinkan dilakukan melalui sistem bagi hasil usaha per bentuk bagian produk yang dihasilkan. Besarnya bagi hasil produk  diatur antara kelompok usaha agribisnis/agroindustri dengan KOPERASI.  Hal ini dapat dilakukan apabila ada perusahaan swasta besar/ negara atau KOPERASI yang mampu menangani pemasaran.

c.4. Disain sistem pemasaran

Disain sistem pemasaran produk agribisnis bambu dilakukan untuk menjangkau pasaran yang luas.  Pemasaran yang dilakukan pada jangkauan pasar yang luas perlu diarahkan pada seluruh segmen pasar sehingga menuntut adanya tuntutan desain sebagai berikut :

(1). Adanya jaminan kualitas dan kontinyuitas suplai dengan harga yang bersaing

(2).  Adanya diversifikasi produk berdasarkan kwalitas, ukuran dan bentuk

(3). Sistem Pengkemasan yang baik

(4). Adanya sistem pemasaran berkelompok

(5). Adanya jalinan kerja sama dengan lembaga pemasaran potensial.

Dalam rangka memenuhi disain tersebut peranan KOPERASI  melalui Unit Usaha Agribisnis Bambu memegang peranan kunci. Usaha yang perlu dilakukan adalah mencari jalinan kerjasama dengan lembaga pemasaran milik suasta yang mempunyai jaringan pemasaran handal.

c.5. Disain sistem Pembinaan dan transfer teknologi

Disain Sistem Pembinaan dan Transfer Tekhnologi agribisnis diuraikan sebagai berikut:

(a). Pembentukan Kelompok-kelompok Usaha Bersama

Pada tahap awal ditentukan sejumlah orang yang telah menangani usaha agribisnis bambu dan potensial untuk dikembangkan. Orang-orang ini merupakan calon ketua KUBA. Pada setiap orang tersebut diharapkan mencari 25-30 orang yang mau berusaha di bidang agribisnis bambu. Dengan demikian akan terdapat beberapa kelompok usaha agribisnis bambu yang beranggotakan masing- masing 25-30 orang.

(b). Pembentukan KUBA tidak lewat formal dari atas, namun dibentuk dari bawah. Mekanisme dilakukan melalui pemilihan dari ketua-ketua kelompok yang telah berkembang.

(c). Sistem pembinaan yang dilakukan langsung kepada kelompok-kelompok usaha agribisnis. Paket materi pembinaan yang diperlukan adalah : (1). Paket tekhnologi proses produksi agroindustri; (2). Paket tekhnologi kemas; (3). Paket sistem pemasaran; (4). Paket sistem administrasi keuangan; (5). Paket sistem pengorganisasian; (6). Paket kesehatan produk untuk memeproleh Sertikat Pembinaan (SP) agar dapat dipasarkan di supermaket; (7). Paket perencanaan dan pengembangan usaha.

Dalam jangka panjang jika KOPERASI diharapkan dijadikan wahana untuk mengembangkan usaha agribisnis/agroindustri, maka Kantor Koperasi & PKM harus mampu secara aktif melakukan pembinaan usaha agribisnis.  Pembinanan yang diperlukan untuk Instansi Koperasi (Dinas/Kanwil) adalah :

(a).  Mencari Bapak angkat/mitra kerja bagi KUBA.

(b).  Perencanaan pengembangan agribisnis /pengusahaan bambu melalui sistem pemetaan wilayah pengembangan (SPAKU-KOPERASI).

(c).  Pembinaan organisasi/kelembagaan SPAKU-KOPERASI

(d).  Pembinaan pemasaran produk melalui mekanisme kemitraan dengan suasta

(e).  Pembinaan perkreditan formal yang dapat diakses oleh anggota koperasi

c.6. Disain Paket Teknologi

Disain paket teknologi untuk agribisnis / pengusahaan bambu yang layak dikembangkan untuk tujuan pengentasan kemiskinan di wilayah perdesaan haruslah memenuhi kreteria sebagai berikut:

(a).  Skala usaha kecil namun memenuhi kelayakan ekonomis

(b).  Cepat mendatangkan keuntungan; produknya mampu bersaing di pasaran bebas: harganya murah, kualitasnya baik, atau mempunyai keunikan yang khas.

(c).  Bersifat rutin dan berkelanjutan

(d).  Bahan-bahan/sarana/prasarana penunjang mudah dicari

(e). Tidak memerlukan keahlian yang rumit

(f).  Dapat dilakukan di sekitar rumah tempat tinggal.

c.7. Disain Koordinasi dengan Instansi Terkait

Disain Kooordinasi instansi terkait dalam suatu wilayah kabupaten dapat diurai­kan sebagai berikut:

(1).  Dinas Koperasi  sebagai penanggung Jawab pengembangan agroindustri dengan motor penggerak Koperasi. Dalam segi perencanaan dan pelaksanaan­nya Koperasi dalam suatu wilayah Kabupaten  dalam pengorganisasiannya dengan instansi terkait dilakukan melalui Jalur tangan Bappeda.

(2). Dalam pelaksanaan perencanaan pengembangan Agribisnis pengusahaan bambu dilakukan berdasarkan peta wilayah pengembangan sentra agroindustri dalam suatu wilayah KOPERASI. Dalam pelaksanaannya langsung dibawahi oleh Bappeda. Sedang­kan Instansi Koperasi dan Perindustrian adalah sebagai pelksana utama, sedangkan instansi terkait sebagai pembantu.

(3). Kantor Dinas Koperasi & PKM perlu menjalin hubungan dengan pihak Peru­sahaan negara/ swasta besar untuk mencari bapak angkat dari jenis-jenis agribisnis pengusahaan bambu.

(4).  Sumber permodalan bagi KOPERASI dalam menangani usaha pengusahaan bambu di pedesaan dilaku­kan kerjasama dengan Bank Pemerintah ataupun dengan pihak BUMN/BUMS .

(5). Dalam segi pembinaan kepada KOPERASI ataupun kelompok usaha agribisnis bambu dilakukan dengan pembagian sebagai berikut:

a). Dinas Koperasi & PKM  bertanggung Jawab terhadap pembinaan:

– Pengorganisasian/kelembagaan

– Pemasaran

– Perkreditan

– Pengembangan usaha bersama (KIMHUT-BAMBU)

– Jalinan Kerjasama Kelompok (KUBA)

b).Dinas Perindustrian & Perdagangan bertanggung jawab terhadap pembinaan teknologi

c). Dinas Kesehatan bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan produk

d).Dinas Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Peternakan bertanggung jawab terhadap suplai bahan baku, dan pembinaan teknologi agroindustri yang terkait.

c.8. Disain Peranan Tenaga Pendamping

Keberadaan tenaga pendamping dalam tahap-tahap awal sangat diperlukan untuk menen­tukan keberhasilan pengembangan KOPERASI dalam mengembangkan usaha agribisnis/agroindustri di pedesaan. Peranan tenaga pendamping adalah sebagai jembatan antara pembina dengan kelompok usaha agroindustri.  Jumlah tenaga pendamping diperlukan satu orang untuk beberapa KUBA.  Peranan tenaga pendamping ini diuraikan sebagai berikut:

(a). Membantu perencanaan usaha agribisnis/agroindustri yang akan dikembangkan

(b).  Membimbing dalam segi kegiatan usaha kelompok agribisnis/ agroindustri oleh KUBA.

(c). Membantu menjalin kerjama dengan pihak luar baik dalam segi permoda­lan maupun pemasaran.

(d). Membimbing dalam pengorganisasian

(e). Membimbing dalam segi administarasi keuangan.

(g).  Memotivasi kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam usaha agribisnis/agroindustri

Insentif dari tenaga pendamping ini diambilkan dari dana pembinaan yang ada di Instansi terkait, disamping itu dimungkinkan melalui keterlibatan langsung tenaga pendamping dalam usaha agribisnis/agroindustri.

D. Landasan Operasional

Landasan operasional pengembangan usaha agribisnis/ agroindustri dengan memfungsikan Koperasi diuraikan sebagai berikut:

d.1. Aspek Potensi Sumberdaya Alam dan Manusia

Potensi sumberdaya pertanian yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri di Jawa Timur sangat melimpah, namun penyerapan tenaga kerjanya dalam usaha agroindustri masih sangat rendah. Sementara itu jumlah penduduk miskin di pedesaan masih cukup besar. Dengan demikian usaha agribisnis/agroindustri di pedesaan memberikan peluang untuk dijadi­kan usaha pengentasan masyarakat miskin.

d.2. Aspek Kelayakan Usaha

Banyak terdapat jenis usaha agribisnis/agroin­dustri yang layak dikembangkan untuk pengentasan kelompok masyarakat miskin di wilayah perdesaan. Namun usaha yang dilakukan umumnya bersifat sambilan, teknologi sangat sederhana, pemasarannya lokal dan pemasarannya kurang kompetitif di pasaran kota.  Di lain pihak dijumpai usaha agroindustri di kota dalam skala pabrik dimana sebenarnya dapat dilakukan dalam skala rumah tangga di pedesaan. Dengan demikian pengembangan agribisnis/ agroindustri di pedesaan masih mempunyai peluang cukup besar.

d.3. Aspek Kelembagaan

Koperasi KOPERASI saat ini masih belum sepenuhnya menangani pengemban­gan usaha agribisnis/agroindustri, di lain pihak adanya tuntutan melalui kantor Departemen Koper­asi , Pengusaha Kecil dan Menengah yang diberi tugas dalam mengembangkan pengusaha kecil termasuk pengembangan usaha agribisnis/agroindustri.

d.4.Aspek Keterpaduan Instansi terkait

Instansi terkait seperti Kantor Departemen Pertanian, Koperasi & PKM, Perindus­trian & Perdagangan, Departemen Dalam Negeri, Perbankan, maupun Perguruan Tinggi mempu­nya tekad yang sama untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian mela­lui sistem usaha agribisnis/agroindustri.

d.5. Tolok Ukur Keberhasilan

(a).  Terbentuk Unit Usaha Otonom KOPERASI di bidang agribisnis / agroindustri, dengan indikator :

(1). Terlibat dalam penyediaan kredit untuk pengembangan usaha agribisnis/agroindustri.

(2). Terlibat dalam pemasaran produk  agribisnis/agroindustri.

(3). Mempunyai jenis-jenis usaha agribisnis/agroindustri.

(b).  Terbentuknya Kelompok-kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) yang beranggotakan petani, dengan indikator:

(1). Adanya usaha yang bersifat kontinyu

(2). Usaha yang dilakukan bersifat kelompok

(c).  Peningkatan pendapatan Kelompok Masyarakat anggota KUBA dibandingkan sebelum berusaha di bidang agribisnis/agroindustri.

(d).  PEMDA diharapkan dapat menyusun peta perencanaan pengembangan agribisnis komoditas unggulan dan mempunyai akses kepada berbagai sumber anggaran khusus untuk pengembangan agribisnis.

E.  Rancangan Koperasi Agribisnis Produk Unggulan Bambu

Pengembangan produk-produk unggulan wilayah dalam rangka untuk memberdayakan ekonomi rakyat setempat dapat dilakukan melalui pendekatan pemberdayaan Koperasi Agribisnis sebagai “LEMBAGA EKONOMI RAKYAT YANG MENGAKAR & MANDIRI”. Koperasi seperti ini dapat dikembangkan dari lembaga-lembaga ekonomi tradisional yang telah ada, atau melalui rekayasa sosial yang sesuai.  Konsep pemberdayaan Koperasi agribisnis dapat diabstraksikan dalam bagan berikut.

Sumber                   Sumber                      Birokrasi

Informasi                  Modal/Kapital

                           TOKOH PANUTAN / KEPERCAYAAN                   RAKYAT

——————————————————-

                                MANAJEMEN  PROFESIONAL

RAKYAT                                                                                           RAKYAT

  KOPERASI AGRIBISNIS BAMBU

UNIT

PERMODALAN

UNIT  USAHA                                  UNIT LEMBAGA

PRODUKTIF:                                   DISTRIBUSI:

               – Agribisnis (SPAKU)                                       – Waserda

– Agroindustri  (KUBA)                                    –  Grosir

– Industri RT / kerajinan                                   –  Pengecer

Kelompok sasaran dan Lingkup Kegiatan

Kelompok sasaran:

a.   Kelembagaan sosial -tradisional yang ada di masyarakat, seperti koperasi, kelompok tani, kelompok peternak, Paguyuban dan lainnya

b.   Lembaga Kelompok tani komoditas yang telah ada.

c.   Warung pengecer bahan pokok, baik milik perorangan, kelompok (pra koperasi), maupun waserda milik koperasi untuk diberdayakan / dikembangkan usahanya.

d.   Pengusaha dan Pengusaha Kecil, baik perorangan maupun kelompok, terutama jama’ah masjid/Kopontren yang bersangkutan yang bergerak di bidang produksi agribisnis/agroindustri dan sektor lainnya untuk diberdayakan/dikembangkan, sehingga pada gilirannya dapat memperluas  kesempatan kerja (menyerap tenaga kerja).

e.   Tenaga Kerja Terampil untuk dilatih dan ditempatkan sebagai pendamping dan atau tenaga profesional / pengelola unit-unit usaha.

Lingkup Kegiatan:

a.   Sosialisasi konsep pemberdayaan ekonomi rakyat dan identifikasi kelompok sasaran yang akan mengembangkan unit usaha produk unggulan,

b.   Rekruitmen  tenaga terampil terdidik (yang nganggur ) untuk dijadikan   petugas pendamping lapangan (PPL)

c.   Pelaksanaan kegiatan pelatihan dengan thema:

(a)    Pengembangan KUBA pengelola SPAKU produk unggulan wilayah

(b)    Pra-koperasi simpan-pinjam pola perkreditan sederhana

(c)    Usaha di berbagai sektor riil seperti agribisnis/agroindustri,

d.   Penyaluran modal bergulir dan pendampingan untuk: (a) unit  simpan-pinjam; (b) modal kerja penyalur (grosir dan sub grosir) dan (c) modal kerja untuk mendukung usaha masyarakat di berbagai sektor riil, terutama kelompok usaha bersama Agribisnis/agroindustri (KUBA).

e.   Penyaluran dana, sesuai dengan tahapan pelaksanaan program, dilakukan langsung pengelola KUBA melalui Bank yang ditunjuk setelah persetujuan diberikan oleh Tim Pembina atas usulan tim teknis daerah.

f.    Tim Pembina dan Tim Teknis melaksanakan koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan program dan menyampaikan laporan kemajuan program secara periodik (bulanan dan triwulanan).

5.  RANCANGAN KEBUN TEKNOLOGI BAMBU:

PUSAT INFORMASI DAN PELAYANAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA

Penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu pengembangan usaha produksi produk unggulan di wilayah pedesaan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Beberapa kriteria yang dikemukakan oleh para pakar agar supaya suatu teknologi dapat disebut “TEPAT GUNA” adalah:

1. Mampu menciptakan lapangan kerja atau kesempatan kerja

2. Menggunakan lebih banyak tenaga manusia

3. Pemeliharaannya mudah

4. Menggunakan lebih banyak bahan baku lokal

5. Pemanfaatan modal setempat

6. Pemanfaatan teknologi menengah/madya

7.  Tidak boros sumberdaya alam dan tidak mengganggu lingkungan hidup.

Proses alih teknologi yang efektif mensyaratkan beberapa hal penting, a.l.:

1.  Peran-serta secara aktif semua instansi terkait dan masyarakat penerima/pengguna untuk menghadapi dan mengatasi kendala yang ada

2. Kerjasama dan komunikasi yang terprogram dalam suatu forum dialogis yang melibatkan semua komponen yang terkait

3.  Tersedianya wadah bagi forum dialogis antara masyarakat, pembawa, dan sumber teknologi yang berada dekat dengan masyarakat dan mudah diakses oleh segenap masyarakat.

4.  Adanya kelembagaan yang akomodatif dan partisipatif, didukung oleh adanya iklim inovatif dan tenaga yang terlatih, serta dilengkapi dengan fasilitas penunjang dan sistem informasi yang memadai.

5.  Adanya tokoh panutan masyarakat yang mampu menggalang segenap potensi masyarakat untuk diarahkan dan disiapkan untuk mengadopsi teknologi.

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, tampaknya keberadaan “KEBUN TEKNOLOGI” di bawah kendali Koperasi Agribisnis Bambu dan bermitra dengan Perguruan Tinggi dan Instansi teknis terkait , mampu menjadi wahana yang efektif dalam proses alih teknologi tepat guna di wilayah pedesaan. Kebun Teknologi ini dapat  berfungsi ganda sebagai:

(1). Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknologi Tepat-guna, yang dapat diakses oleh para santri  dan oleh masyarakat sekitar

(2).  Pusat Penyuluhan, DEMOPLOT Ujicoba Penerapan Teknologi, dan Kaji Tindak

(3). Pusat Pelayanan dan Informasi IPTEK yang mampu menjalin hubungan dengan jaringan informasi IPTEk yang lebih luas..

Kebun ini secara operasional berada di bawah koordinasi dari KOPERASI Agribisnis Bambu yang ada di wilayah. Kebun ini dapat melibatkan beberapa divisi penting seperti:

I. DIVISI TEKNOLOGI BENIH DAN BIBIT UNGGUL

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1. Teknik-teknik penanganan/ penyimpanan benih/ bibit

2.  Teknologi perbanyakan benih dan bibit

3.  Teknologi pembibitan dengan cara cepat

4.  Teknologi penanaman benih dan bibit

5.  Teknologi pengelolaan kebun bibit dan kebun induk/koleksi.

II. DIVISI AGROTEKNOLOGI DAN AGROBISNIS /AGROINDUSTRI

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1.  Teknologi budidaya tanaman/ Silvikultur

2.  Teknologi pengelolaan lahan dan konservasi tanah

3.  Teknologi Industri / Kerajinan Bambu

4.  Teknologi Pengolahan /pascapanen komoditas penunjang

5.  Teknologi pemasaran hasil pertanian basis bambu

III. DIVISI TEKNOLOGI PASCAPANEN DAN PENGEMASAN

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1. Teknologi penanganan panen dan pasca panen Bambu

2. Teknologi pengolahan pangan nabati

3.  Teknologi pengolahan pangan hewani

4.  Teknologi mekanisasi pertanian

5.  Teknologi pengemasan hasil panen.

IV. DIVISI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK DAN PAKAN TERNAK

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1. Teknologi inseminasi buatan (Sapi)

2.  Teknologi perkandangan

3.  Teknologi produksi Pakan hijauan

4.  Teknologi ransum pakan alternatif

5.  Teknik perawatan kesehatan ternak

V. DIVISI TEKNOLOGI LIMBAH DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1. Teknologi penyediaan air bersih, pembuangan dan pengelolaan limbah domestik rumahtangga

2. Teknologi jamu /obat tradisional/TOGA

3. Teknologi daur ulang/pemanfaatan limbah pertanian

4. Teknologi pengolahan pangan dengan nilai gizi tinggi

5. Teknologi penyuluhan kesehatan yang efektif

6. Teknologi pemutusan rantai penularan penyakit, dan lainnya

VI. DIVISI TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN INFORMASI

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1.  Teknik komunikasi massal

2.  Teknologi komputer / komputasi dan informatika

3.  Teknik rekayasa sosial

4.  Manajemen sistem informasi

5.  Teknik dokumentasi dan publikasi.

VII. DIVISI TEKNOLOGI AKUNTANSI DAN MANAJEMEN KEUANGAN

Lingkup Kerja Divisi ini adalah:

1. Teknik pembukuan keuangan sederhana

2.  Teknik analisis usahatani

3.  Teknik penyusunan kelayakan proyek/kegiatan produktif

4.  Perkreditan

5.  Baitul Ma’al/Perkoperasian/kelompok usaha bersama.

KOPERASI PENGELOLA KIMHUT BAMBU

UNIT USAHA KEBUN TEKNOLOGI

ANGGOTA                                                  MASYARAKAT

LITBANG

DEPT.                       KEBUN TEKNOLOGI                   PERG.

        BPPT

BLK-BLK              DIVISI-DIVISI TEKNOLOGI               TINGGI

       SUASTA

                   POKMAS                        ANGGOTA                    KUBA

KOPERASI

BAHAN BACAAN

Chihongo, A.W., Kishimbo, S.I., Kachwele, M.D. dan Y.M.  Ngaga. 2000. Bamboo production-to consumption systems in Tanzania. [Internet] INBARs Bamboo and Rattan Development Programmes. http://www.in ar.int/ publication/txt/ INBAR_Working_Paper_No28.htm. Accessed May 2007.

Dransfield, S. dan E.A. Widjaja. 1995. Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland. In: Dransfield, S. & Widjaja, E.A. (Editors). Plant Resources of South-East Asia No 7. Bamboos. Backhuys Publishers, Leiden, Netherlands. pp. 74–78.

Liese, W.  2004. Preservation of bamboo structures. Ghana Journal of Forestry 15–16: 40–48.

Seethalakshmi, K.K. dan M.S. Muktesh Kumar. 1998. Bamboos of India: a compendium. Technical Report No 17. Kerala Forest Research Institute, Peechi, Kerala, India & International Network for Bamboo and Rattan (INBAR), Beijing, China. 342 pp.

CAB International, 2005. Forestry Compendium. Bambusa vulgaris. [Internet] http://www.cabicompendium.org/ fc/datasheet.asp?CCODE=BAM_VU.

Duriyaprapan, S. dan P.C.M. Jansen. 1995. Bambusa bambos (L.) Voss. In: Dransfield, S. & Widjaja, E.A. (Editors). Plant Resources of South-East Asia No 7. Bamboos. Backhuys Publishers, Leiden, Netherlands. pp. 56–60.

Khristova, P., Kordaschia, O., Patt, R. & Karar, I., 2006. Comparative alkaline pulping of two bamboo species from Sudan. Cellulose Chemistry and Technology 40(5): 325–334.

Koshy, K.C. & Jee, G., 2001. Studies on the absence of seed set in Bambusa vulgaris. Current Science 81(4): 375–378.

Ndiaye, A., Dialoo, M.S., Niang, D. & Gassama-Dia, Y.K., 2006. In vitro regeneration of adult trees of Bambusa vulgaris. African Journal of Biotechnology 5(13): 1245–1248.

Papadopoulos, A.N., Hill, C.A.S., Gkaraveli, A., Ntalos, G.A. dan S.P. Karastergiou. 2004. Bamboo chips (Bambusa vulgaris) as an alternative lignocellulosic raw material for particleboard manufacture. Holz als Roh- und Werkstoff 62: 36–39.

Rugalema, G.H., Okting’ati, A. dan F.H. Johnsen.  1994. The homegarden agroforestry system of Bukoba district, north-western Tanzania. 1. Farming system analysis. Agroforestry Systems 26(1): 53–64.

Sarpong, M.K. 2000. Evaluation of bamboo utilization in Kumasi. BSc thesis, Institute of Renewable Natural Resources, Kwame Nkrumah University of Science and Technology, Kumasi, Ghana. 40 pp.

2 Responses to “Soemarno”

  1. sutawi Says:

    sekarang yang menjadi masalah petani bukan menanam bahan baku tapi pemasaran hasil hutan. kalau ada datang untuk beli pasti petani mau nanam

  2. Sejarah Bambu Says:

    Bambu tanaman paling memiliki arti besar bagi bangsa ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: