JFE-Project

Masa Depan Perkebunan Bambu Adalah Energi Terbarukan dan Pemurnian Air

Sumber: http://jfe-pyroproject.blogspot.com/2011/12/ 


Cadangan bahan bakar fossil yang semakin menipis sementara kebutuhan energi terus meningkat, fenomena perubahan iklim, rusaknya lingkungan akibat pencemaran dan semakin menipisnya luas hutan di permukaan bumi membuat manusia berpikir untuk mencari solusi. Diperkirakan bumi membutuhkan hutan baru seluas 70 juta ha dalam waktu 2 tahun ke depan, yang berarti setiap negara perlu membuat 320 ribu ha. Tanaman bambu memiliki prospek yang sangat menjanjikan di masa depan, ditengah perhatian dunia yang lebih, terhadap perubahan iklim, perlindungan hutan dan sejumlah issue penting seperti tersebut diatas.

Bambu adalah tanaman sumber penghasil kayu yang dapat tumbuh dengan cepat di bumi. Dan merupakan tanaman pengganti kayu dari hutan tropis yang saat ini sudah sangat berkurang akibat dari permintaan yang sangat besar dari industri, oleh karena itu perhatian terhadap produksi bambu mulai meningkat di semua benua baik Asia, Afrika, Eropa maupun Amerika. Di abad 21 ini bambu akan terus menjadi komoditas industri yang semakin berharga. Bahkan benua Afrika telah melihat bambu sebagai sumber energi terbarukan yang potensial. Eropa juga telah melihat bambu sebagai sumber bioenergy potensial.Sedangkan di India, salah satu negara di Asia sedang membangun pembangkit listrik menggunakan bahan bakar dari bambu.

Bambu merupakan tanaman yang mampu meregenerasi dirinya sendiri secara alami. Saat tangkai bambu dipanen, maka tunas baru akan muncul dan menggantikanya dalam waktu beberapa bulan. Jika di bandingkan dengan pohon yang hanya dapat dipanen dengan rotasi beberapa tahun, bambu dapat dipanen secara rutin pertahun. Pertumbuhan bambu yang cepat berarti menjamin kelangsungan untuk memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.

Tergantung dari jenisnya, perkebunan bambu dapat produktif lebih dari 50 tahun. Panen perdana tanaman bambu di perkebunan biasanya dimulai pada usia setelah 5-7 tahun. Proses pemanenan dapat dilakukan dengan peralatan yang cukup sederhana dan murah. Seperti gergaji tangan, dan peralatan sederhana lainnya yang sering di butuhkan.

Di perkebunan, bambu akan menghasilkan biomass yang dapat mendukung untuk memelihara lingkungan yang hijau. Perkebunan bambu seluas 1.000 hektar dapat menghasilkan kira-kira 30 ribu ton sumber penghasil kayu. Biaya untuk membuat perkebunan yang baru tergantung dari biaya tenaga kerja, persiapan tanah, fertilizer, pengairan, dan tanaman. Biayanya hampir sama dengan membuat perkebunan kayu. Akan tetapi ada perbedaan yang sangat besar pada periode pengembalian modal, kayu membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkebunan bambu. Investasi pada perkebunan bambu akan kembali hanya dalam waktu kurang lebih 10 tahun. Dan karena alasan tersebutlah maka perkebunan bambu menghasilkan keuntungan yang lebih cepat dari pada kayu. Perkebunan bambu akan menjadi sangat menguntungkan setelah 5 tahun.

Bambu potensial sebagai bahan baku energi terbarukan antara lain arang dan torrified wood. Dengan menggunakan teknologi pirolisis kontinyu maka produk tersebut bisa dihasilkan. Arang bambu selanjutnya bisa diolah lebih lanjut menjadi arang aktif untuk pemurnian air. Akibat kerusakan lingkungan yang semakin parah akibat pencemaran tanah oleh industri dan rumah tangga, maka kebutuhan arang aktif untuk pemurnian air akan semakin besar.
Posted 29th December 2011 by JFE Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: