Berita Budidaya Bambu

Juni 2009

KEBUTUHAN TERUS MENINGKAT, SAATNYA BUDIDAYA BAMBU

Ditulis Oleh : Ganjar Andriansyha

Sumber:http://www.antarajawabarat.com/  25 Juni 2009 

Bandung , 25/6 (ANTARA) – Bambu memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kebutuhan terhadap jenis tanaman yang bisa tumbuh subur disembarang tempat itu semakin besar.

Bahkan kalangan sektor konstruksi juga mulau membutuhkan bambu untuk keperluan konstruksi selain selama ini lebih banyak digunakan kalangan industri furniture dan kerajinan selain juga budaya seperti produksi angklung dan lainnya, kata Priandono Nurhadi, selaku Ketua Green Desain Saung Angklung Udjo, Kamis.

Dia menyayangkan trend peningkatan kebutuhan bambu yang semakin meningkat dan tinggi, justru tidak dapat diimbangi produksi bambu itu sendiri.

Selama ini produsen bambu mengandalkan bambu-bambu yang tumbuh liar, dan sudah saatnya produksi bambu dari budidaya agar bisa dipastikan target produksi.

“Saat ini masih belum ada budidaya pohon bambu, dan kebanyakan masih mengandalkan pohon-pohon atau hutan bambu yang liar atau telah ada,” ucapnya.

Hal itu sebenarnya dapat menjadi prospek yang cukup baik, maka dari itu haruslah ada pembudidayaan atau membuat lahan untuk pohon bambu dan hal itu juga dapat menyerap masyarakat disekitar lahan tersebut untuk bekerja.

Dijelaskan, budidaya bambu juga terbilang mudah, karena dalam 3-5 tahun sudah dapat ditebang. Dan akan tumbuh lagi secara alami. Untuk sektor konstruksi bandingkan saja dengan pohon kayu yang memerlukan waktu puluhan tahun dan biaya yang mahal.

Selain itu bambu merupakan solusi untuk menghindari kerusakan lingkungan. Konstruksi atau pembangunan ialah untuk menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman, namun faktanya malah merusak lingkungan.

Priandono mencontihkan, kondisi hutan semakin gundul dengan penebangan kayu, erosi, banjir, dan lainnya.

Namun dengan membuat lahan untuk bambu selain dapat menjadi solusi untuk penghijauan, ternyata bambu merupakan pohon penghasil oksigen paling tinggi, dan lahan bambu tersebut dapat menjadi pelindung untuk menghindari erosi, dan banjir.

Tentu hal itu merupakan bahan yang ramah lingkungan, dibandingkan dengan bahan-bahan konstruksi lainnya seperti produksi baja, penebangan pohn untuk kayu dan lainnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk mewujudkan program untuk lahan bambu tersebut ada empat tahapan yang pertama, dari Pemerintah itu sendiri harus ada support dan dukungan, kemudian yang kedua dari akademisi, ketiga, praktisi, dan keempat pebisnis.

“Tentunya ini hal yang menjanjikan, khsusnya untuk bidang konstruksi dan pembangunan dapat menekan cost atau biaya hingga 30 persen”, kata Priandono. ***2***

November 2009

Bali: Gubernur Akan Pimpin Gerakan Tanam 500.000 Rumpun Bambu

Sumber: http://www.sigapbencana-bansos.info/ 05 November 2010 

Jakarta, 5/11 (SIGAP) – Gubernur Bali Made Mangku Pastika akan memimpin gerakan penghijauan berupa penanaman 500.000 rumpun bambu yang dilakukan secara serentak di berbagai tempat di Pulau Dewata.

Demikian dikatakan Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Kamis (4/11).

Lebih lanjut dirinya mengatakan, Gubernur Pastika akan melakukan gerakan penghijauan itu dipusatkan di Desa Nangka, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali timur pada hari Minggu (7/11).

Dirinya mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan peran serta masyarakat setempat serta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) tingkat Provinsi Bali dan Pemkab Karangasem.

Kegiatan tersebut dimotori Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Dinas Kehutanan Provinsi Provinsi Bali sebagai upaya mewujudkan Bali hijau dan bersih.

Kegiatan serupa pada tujuh kabupaten dan satu kota lainnya di Bali juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan melibatkan seluruh pihak antara lain pelajar dari berbagai jenjang sekolah, Lembaga Swadaya masyarakat (LSM), masyarakat desa serta dukungan pemerintah setempat.

Dipilihnya pohon bambu sebagai tanaman reboisasi terutama di daerah aliran sungai (DAS) menurut Kepala BLH Provinsi Bali, AA Gede Alit Sastrawan, karena bambu memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah secara nyata.

Selain itu bambu mempunyai nilai ekonomis tinggi, yakni banyak digunakan masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari meliputi kebutuhan pangan rumah tangga, bahan kerajinan, konstruksi bangunan dan untuk kepentingan adat istiadat.

Dengan demikian Bambu memiliki multi fungsi pemanfaatan sebagai bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, dan aneka kerajinan dengan berbagai tujuan penggunaan, mulai dari cinderamata, mebel, tas, kotak serba guna hingga alat musik serta konstruksi untuk pembuatan jembatan, aneka sekat, konstruksi rumah meliputi tiang, dinding, atap dan lainnya.

“Manfaat lainnya adalah sebagai kebutuhan adat istiadat, bambu biasa digunakan dalam upacara adat Hindu antara lain untuk kepentingan upacara kremasi jenazah,” jelasnya.

Alit menambahkan, pohon bambu juga sangat efektif untuk reboisasi wilayah hutan terbuka atau gundul akibat penebangan, berkat pertumbuhan rumpun bambu sangat cepat dan toleransinya terhadap lingkungan sangat tinggi serta memiliki kemampuan memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat efektif.

Demikian pula bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam, tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tidak membutuhkan investasi besar, pertumbuhannya cepat dan dapat dipanen setiap tahun tanpa merusak rumpunnya,” ujar Alit Sastrawan.

Sebelumnya, di bulan Juni lalu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali menanam 2.600 rumpun bambu di sekitar kawasan suci Pura Jati, Kintamani, Kabupaten Bangli, sebagai upaya mendukung program Bali hijau.

Selain penanaman rumpun bambu, BLH Bali juga melepas 80 ekor burung, antara lain jenis kutilang, cerukcuk, dan tekukur, dengan harapan dapat berkembang biak di sekitar kawasan suci tersebut. (laporan rusman/ant)

November 2011

Budidaya Bambu Dorong Industri Kreatif RI

Sumber: http://economy.okezone.com/  12 November 2011  

NUSA DUA – Pemerintah terus menggalakkan budidaya pohon bambu di masyarakat karena bisa mendorong industri kreatif di Indonesia.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum (PU) bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Grahita Sutadi mengatakan, di 2012 mendatang pemerintah akan mengembangkan budidaya bambu seperti di Jawa Barat.

“Pohon bambu sebenarnya mampu mendorong ekonomi kreatif berbasis masyarakat,” kata Grahita usai membuka stand Kementerian PU, di ASEAN Fair 2011, Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11/2011).

Pasalnya, bambu punya nilai tinggi di masyarakat karena bisa disajikan untuk bangunan rumah, homestay, cottage, dan sektor ekonomi kreatif lainnya.

Bambu merupakan potensi ekonomi cukup besar di Tanah Air sehingga patut disyukuri. “Bambu masa depan teknologi rumah kita,” tambahnya.

Pemerintah saat ini sedang mengembangkan 11 tipe rumah tradisional yang ada di Bali dan Nusa Tenggara untuk terus disosialisasikan menjadi rumah tinggal atau pemukiman. Adapun bahan baku yang dibuat berasal dari bambu dengan sentuhan teknologinya lewat proses laminasi.

Usut punya usut, ternyata bambu hasil laminasi dapat diaplikasikan pada hampir seluruh komponen bangunan kecuali bagian atapnya. Potensi budidaya bambu cukup besar apalagi di wilayah Indonesia timur yang mudah didapat dengan harga relatif murah.

Kualitas bambu Indonesia timur bahkan disebut-sebut terbaik di dunia. “Harus diakui saat ini persepsi masyarakat masih banyak beranggapan rumah bambu cermin keterbelakangan secara ekonomi,” ucapnya.

Padahal dari hasil penelitian tercatat ada 49 spesies bambu ada di Indonesia. Ada beberapa jenis bambu di Bali yang belum memiliki nama namun kualitasnya luar biasa sebagai bahan bangunan sehingga secara ekonomi sangat menguntungkan. (ade)

Maret 2012

Tanaman Bambu Hasilkan Rp 60 Juta Per Hektar

Sumber: http://buanasumsel.com/ 7 Maret  2012 

PALEMBANG, Buanasumsel.com – Sebagai Provinsi yang berbasis agro. Bambu dinilai bisa memiliki nilai ekonomi yang cukup luar biasa untuk dikembangkan di Sumsel. Hasil penelitian Balitbangda, perhektarnya bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp 60 juta.

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan inovasi daerah (Balibangnovda) Sumsel, Ekowati Ratna Ningsih mengatakan, selain memiliki prospek ekonomis, lingkungan dan sosiologis lebih tinggi, dibandingkan jenis tanaman perkebunan karet dan kelapa sawit, yang telah terlebih dahulu menjadi primadona di Sumatera Selatan.

Oleh sebab itulah, pihaknya terus melakukan penjajakan serius untuk mengembangkan komoditi ini. Apalagi lahan di Sumsel relative cocok mengembangkan tanaman ini. Apalagi jika dilakukan di lahan-lahan marjinal yang masih banyak yang tersebar di wilayah provinsi Sumsel.

Sampai hari ini pasar ekspor masih sangat menjanjikan. Mulai dari bambu setengah jadi hingga industry hilirnya cukup menjajikan. Ditambah lagi, konsumsi bamboo di tingkat lokal masih cukup tenar, khususnya sebagai furniture dan alat hias.

Potensi dan peluang pengembangan budidaya bamboo di Sumsel sebenarnya berawal dari isu yang berkembang belakangan, terkait sector perkebunan di Sumsel, hingga penawaran dari Pusat Bisnis Aplikasi Science dan Teknologi (PBAST), untuk mulai mengagas budidaya bamboo di Sumsel.

Saat ini Pemprov Sumsel mulai membahas secara detail masalah buluh atau bambu, mulai dari hulu hingga ke industry hilirnya. Sementara ini, konsep awal tetap kerjasama antara PBAST dengan mitra yang saling menguntungkan.

“ Siapapun boleh invest, sebagai gambaran dalam waktu satu tahun produksi 1 hektar (ha) kebun bambu mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp 58 hingga Rp 60 juta. Dengan modal hanya sekitar Rp 4 juta saja, dengan asumsi dibutuhkan 400 bibit bambu untuk 1 hektar lahan, yang berharga Rp 10 ribu tiap satu batang bibit bamboo,”jelas Ekowati.

Budidaya bambu ini cukup menjanjikan karena berbeda dengan karet dan kelapa sawit, yang membutuhkan peremajaan, bamb tumbuh dan berkembang biak secara alamiah, tanpa peremajaan.

Pemprov Sumsel sangat mendukung pembudidayaan tanaman yang memiliki banyak nama ilmiah, tergantung varietas dan jenisnya ini. Rencanya ini akan dibahas detail dalam seminar, peranana serta MoU dengan corporate terkait pada April mendatang.

Direktur PT Bambus Jajang Agus Sonjaya salah satu corporate yang akan bekerjasama dengan Pemprov Sumsel mengakui, kelebihan bamboo ini sangat banyak. Selain tanpa replanting dan pasar ekspor yang terbuka lebar. (vie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: