Festival Dunia Bambu

April 2005

Bambu Mancanegara akan Meriahkan Festival Bambu

Sumber:  http://arsip.gatra.com/7 April 2005 

Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jateng akan menggelar Festival Dunia Bambu di Semarang pada Agustus mendatang, yang diharapkan juga akan dimeriahkan kedatangan aneka bambu dari mancanegara.

Sekretaris DKJT Jateng Djawahir Muhammad di Semarang, Kamis mengatakan, panitia Festival mengundang peserta dari Jepang, Vietnam, Cina, dan Malaysia untuk memamerkan aneka jenis bambu khas negara itu, baik yang masih berbentuk tumbuhan hidup maupun yang sudah diolah menjadi barang seni dan furnitur.

Jateng sendiri, menurut dia, akan memajang sekitar 28 jenis bambu hidup selain aneka kerajinan bambu. Di Jateng, sedikitnya terdapat 100 jenis bambu.

Aneka bambu yang dipamerkan dalam Festival itu bukan hanya dalam bentuk tumbuhan yang masih hidup atau sudah berupa barang seni dan furnitur, ada pula yang akan dipamerkan dalam bentuk instrumen musik yang semuanya menggunakan bahan baku bambu. Pertunjukan musik beralat bambu juga didengungkan dalam Festival.

“Seni pertunjukan dalam Festival itu juga menggunakan media bambu,” kata Djawahir, mantan anggota DPRD Jateng dari PPP tersebut.

Perhelatan Festival Dunia Bambu ini merupakan yang pertama di Jateng. Selain mengundang peserta dari manca negara, sejumlah daerah yang memiliki keragaman bambu juga diundang, namun belum bisa dipastikan berapa jumlah peserta dan jenis bambu yang akan dipajang dalam Festival itu.

Ketua DKJT Prof Ir Eko Budihardjo MSc mengatakan, Jateng dan Indonesia merupakan lahan sumbur bagi pohon bambu dan selama ini tanaman ini telah memberi manfaat besar bagi masyarakat, baik untuk makanan maupun bangunan.

“Tetapi sayangnya, sampai saat ini masih sangat sedikit arsitek yang secara khusus mendalami kekuatan bambu untuk konstruksi rumah bertingkat,” katanya.

Eko pernah menyaksikan di Inggris bangunan bertingkat tiga yang semuanya menggunakan bahan bambu, namun di negeri kaya jenis bambu ini justeru tidak ditemui rumah bertingkat terbuat dari bambu.

“Ada kesan bahan bangunan dari bambu kurang bergengsi. Dibutuhkan keberanian dari para arsitek untuk merancang rumah berbahan bambu,” kata Eko yang arsitek ini. [EL, Ant]

Agustus 2005

Festival Dunia Bambu DKJT

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/  08 Agustus 2005 

SEMARANG – Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) akan menggelar Festival Dunia Bambu 2005. Acara akan dilaksanakan di Kompleks Perumahan Graha Estetika, kawasan Tembalang Semarang, 10-14 Agustus 2005. Peresmiannya akan dilakukan Gubernur Jateng, H Mardiyanto pada 10 Agustus, pukul 17.00.

Acara menampilkan beragam produk (pakai maupun hias) berbahan bambu, festival yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah tersebut juga menampilkan karya seni instalasi dari beberapa perupa dan aneka lomba, seperti baca puisi, geguritan, karaoke, rebana, egrang, layang-layang, mercon bambu, meniup seruling, dan fashion show.

Selain itu, ditampilkan pula aneka kesenian tradisional, seperti barongan (Kabupaten Demak), jaran kepang (Kabupaten Kendal), topeng losari (Kabupaten Brebes), emprak, sintren, wayang pring (STSI Surakarta), thek-thek (Purbalingga), calung (Banyumas), baca puisi, macapatan, dan geguritan.

Menurut ketua pelaksana, Djawahir Muhammad, program DKJT yang dibiayai Pemprov Jateng itu merupakan bentuk ikhtiar mengangkat kembali popularitas bambu di mata masyarakat.

Sebab, ada kecenderungan tanaman berbuku-buku tersebut tak banyak lagi digunakan.

Padahal bisa dikatakan, bambu mampu memenuhi kebutuhan separuh lebih kehidupan. Selain benda-benda hias bernilai estetika, jika diolah, bambu juga menghasilkan barang-barang bernilai guna. Lalu jika ditanam dalam jumlah besar, juga bisa menopang paru-paru dunia.

Bagi masyarakat yang berminat, bisa menghubungi sekretariat Panitia Festival Dunia Bambu 2005 di Kompleks GOR Trilomba Juang lantai II, Jalan Trilomba Juang Mugas Semarang. Telepon Umy (0817455882) atau Djawahir Muhammad (081665 9189). (H6-60a)

Serba Serbi Festival Dunia Bambu 2005

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/  13 Agustus 2005  
Rezeki Penjual Makanan

MEMASUKI hari ketiga Festival Dunia Bambu, memberi berkah bagi penjual makanan di sekitar area pelaksanaan. Banyaknya peserta yang mengikuti lomba baca puisi, geguritan, serta karaoke, berimbas pada meningkatnya penjualan. Sido (44), penjual bakso di salah satu stan mengaku meraup hampir Rp 300.000 setiap harinya. Dia berjualan mulai pukul 12.00 – 19.00 dengan harga per mangkuk Rp 4.000. Pembeli paling ramai pada sore hingga malam hari. (sjs-37)

Tiga Instalasi Bambu

ADA tiga karya seni yang kurang mendapat animo penonton selama festival. Bukan karena karya yang kurang bagus, melainkan penonton umumnya lebih berkonsentrasi pada acara hiburan yang disuguhkan selama Festival Dunia Bambu. Gunungan dari bambu karya Widodo, srumbung kreasi Bowa Kajangan, dan langit tanpa tonggak karya Djawahir Muhammad, sebenarnya indah untuk dinikmati. Menurut Djawahir Muhammad, bila masuk ke dalam ruangan langit tanpa tonggak yang dibungkus kain hitam di sekelilingnya, disediakan sebuah cermin. Bila dilihat malam hari dan ada sinar bulan masuk melalui celah kecil di atas, maka kita akan kaget karena melihat diri sendiri. Langit tanpa tonggak dan sumur tanpa dasar istilahnya. Bila dilihat ke atas tanpa batasan, sedangkan ke bawah dalam sekali. (sjs-37)

FESTIVAL DUNIA BAMBU 2009 

Semarang, 10 s/d 13 Agustus 2009

Sumber: http://dunia-bambu.host22.com/ 

Bambu merupakan tanaman tropis yang tumbuh pada seluruh wilayah Indonesia. Rumpun bambu berfungsi sebagai penahan erosi. Akar, batang dan daunnya berguna untuk kehidupan manusia. Karena itu diperlukan konservasi bambu melalui berbagai medium agar kelestariannya selalu terjaga.

Di Dunia terdapat lebih dari 100 varietas pohon bambu, 60 varietas diantaranya terdapat di Indonesia dan dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan.

Bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan karena dapat di manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari diantaranya ;

  • Sebagai perkakas dapur seperti kukusan, tenong, bakul dan lain-lain.
  • Pengganti fungsi kayu baik untuk konstruksi rumah maupun bahan baku industri kerajinan.
  • Permainan tradisionil anak-anak contohnya; mercon bumbung, egrang dan sumpit.
  • Kesenian dengan medium bambu bentuk dan jenisnya bergam, terdapat di seluruh Nusantara, dari Aceh sampai Papua. Ada seruling, angklung dan kulintang. Juga thek-thek dam lodong.
  • Pada beberapa daerah bambu diperlukan sebagai medium pengobatan dan mantera, misalnya bambu pethuk untuk pengobatan dan welit (kulit bambu) untuk mengkhitan anak-anak (di jaman embah buyut masih jejaka).

Festival Dunia Bambu merupakan ssuatu bentuk ikhtiar mengembalikan popularitas bambu di masyarakat, karena ada kecenderungan bambu tak banyak lagi digunakan. Padahal, tanaman berbuku-buku tersebut mampu memenuhi separuh lebih kebutuhan hidup. Di samping menjadi bahan untuk membuat benda-benda hias bernilai estetika, bambu jika diolah dapat menghasilkan barang-barang bernilai guna. Selain itu, kalau ditanam dalam jumlah besar, bambu bisa menopang paru-paru dunia.

Pendaftaran

Untuk pendaftaran peserta pameran / eksposisi maupun peserta lomba dapat menghubungi Panitia Festival Dunia Bambu pada Sekretariat Panitia pada jam kerja, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

  • Tersedia stand ukuran 3 X 4 dan atau 2 X 3 M2 sejumlah 30 buah.
  • Untuk sponsor //kontributor syarat-syarat sponsorship dapat  dirundingkan
  • Dinas / instansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan
    diberikan prioritas

Acara yang akan di tampilkan pada festival kali ini adalah:

Festival Dunia Bambu;  

Mempresentasikan segala kreativitas dengan medium bambu dan pameran beragam varietas tanaman bambu

Pembukaan Hutan monokultur bambu;

Pembudidayaan dan pengembangan bambu sebagai tanaman komoditas yang bernilai ekonomis dan media konservasi lingkungan hidup.

Melalui program pembukaan hutan monokultur bambu akan diupayakan konservai hutan bambu dengan penanaman bambu di lahan kritis dan kanan kiri sungai, sehigga keberdaan hutan bambu dapat memberikan manfaat untuk manusia dan kehidupannya di alam semesta

Seminar

Akan diselenggarakan seminar dengan topik ”Bambu sebagai Ekspresi Kebudayaan, Media Konservasi Lingkungan Hidup dan

Peningkatan Ekonomi Rakyat”. Informasi seminar dapat diperoleh di Sekretariat Paniitia.

Lomba 

Selain itu akan diadakan berbagai lomba yaitu:

  • Lomba Naik Egrang
  • Lomba Menyulut Mercon Bumbung
  • Menggambar dan Fashion
  • Show khusus anak-anak
  • Dan lomba merangkai bunga khusus untuk ibu-ibu dan remaja putri.

Pameran dan eksposisi 

Berbagai produk kerajinan bambu akan didukung oleh para pengrajin bambu dari Purworejo, Klaten, Kab. Semarang, kota Semarang serta kota/kabupaten lainnya di Jawa Tengah dan Dekranasda Jateng.

Agustus 2009

Semarang Gelar Festival Dunia Bambu

Sumber: http://www.republika.co.id/ 11 Agustus 2009

SEMARANG–Semarang menggelar Festival Dunia Bambu ketiga kalinya. Festival ini diikuti oleh beberapa daerah untuk memamerkan karya kerajinan daerahnya yang terbuat dari bambu di Museum Ranggawarsita Semarang pada 10-14 Agustus 2009.

Ketua Panitia Festival Dunia Bambu, Djawahir Muhammad, di Semarang, Senin (10/8) mengatakan festival ini sebenarnya merupakan kegiatan tahunan yang digelar sejak 2005, namun sempat absen selama 2007 dan 2008. Festival baru diselenggarakan lagi pada tahun ini.

Ia mengatakan, lewat penyelenggaraan festival tersebut, panitia ingin menunjukkan bahwa potensi bambu, baik sebagai sarana konservasi lahan kritis maupun komoditas kerajinan, sangat besar. Menurut dia, bambu merupakan komoditas unggulan yang memiliki banyak kegunaan dan nilai jual yang tinggi, antara lain dapat dijadikan sebagai sarana penghijauan dan konservasi lahan kritis, terutama lahan yang berada di pinggir sungai.

“Kami melalui Yayasan Digdaya Nusantara berencana untuk menghijaukan lahan kritis pinggir sungai dengan media pohon bambu, di antaranya daerah tepi sungai Banjir Kanal Timur dan Kali Serayu Semarang seluas 100 hektar,” kata budayawan Semarang tersebut. Selain itu, kata dia, bambu juga dapat dijadikan komoditas kerajinan dengan berbagai variasi bentuk yang yang memiliki nilai jual tinggi.

Oleh karena itu, lewat festival yang diikuti oleh sekitar 18 stan dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Blora, Kabupaten Cilacap, dan Kota Semarang tersebut, pihaknya ingin menyadarkan masyarakat tentang kegunaan bambu yang bersifat multifungsi.

Sementara itu, Kepala Balai Lingkungan Hidup (BLH) Jateng, Djoko Sutrisno yang hadir dalam kesempatan tersebut juga mengungkapkan hal serupa. “Masyarakat selama ini belum menyadari kegunaan bambu yang beraneka ragam,” kilahnya. ant/rif

Pemerintah Belum Optimalkan Potensi Bambu 

Sumber: http://suaramerdeka.com/  12 Agustus 2009

SEMARANG- Festival dunia bambu yang ketiga dengan tema ’’Bambu dan Kearifan Lokal’’ digelar di Museum Ronggowarsito, 10-14 Agustus. Pameran yang ditujukan untuk mengembangkan potensi bambu dalam berbagai sektor ini diikuti beberapa kabupaten dan kota di Jateng, seperti Wonosobo, Klaten, Cilacap, Kendal, Boyolali, Semarang, dan Sragen.

Ketua Panitia, Drs Djawahir Muhammad mengatakan, bambu yang dimiliki Indonesia bisa dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari aspek lingkungan hidup, ekonomi, dan seni budaya. Sebab lebih dari 100 varietas pohon bambu di dunia sebagian besar ada di Indonesia.

’’Dari aspek lingkungan, bambu bermanfaat untuk mengatasi erosi, banjir dan tanah longsor. Sementara dari segi ekonomi, mempunyai potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai kerajinan, alat-alat rumah tangga, rumah bambu,’’ jelas Djawahir.

Untuk kegiatan kesenian, bambu banyak yang dimanfaatka sebagai alat musik seperti angklung, kulintang, tek tek, seruling hingga gamelan bambu. Pendek kata, semua elemen bambu mulai dari akar hingga daun bisa dimanfaatkan semua. Namun sayangnya hal itu kurang disadari dan belum dioptimalkan oleh pemerintah maupun bangsa ini.

Belum Memadai

Meskipun ada itikad baik dari pemerintah provinsi dan pusat, dukungan yang diberikan kepada perajin bambu masih belum memadai, terutama dari segi biaya. Padahal pasar di luar negeri masih terbuka, khususnya kerajinan gazebo.
’’Sebenarnya banyak yang ingin ikut festival. Tapi mereka terkendala dana. Banyak perajin yang menanyakan, apakah pameran tersebut ada biayanya atau tidak,’’ kata Djawahir.

Hal itu wajar, karena sebelumnya mereka sudah mengeluarkan dana untuk pameran seperti di PRPP, Bengawan Solo Fair, Borobudur Internasional Festival, Soropadan Agro Ekspo.

Roni, peserta festival bambu dari Limbangan, Kendal mengatakan, semua kerajinan bambu yang dibuat hanya dipasarkan lokal di wilayahnya. Kondisi tersebut terjadi, karena dalam pemasaran masih terbentur dana. (J12,K14-18) (/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: