Festival Bambu Nusantara

Oktober 2009

Pergelaran Musik 

Festival Bambu ke Pentas Internasional

Sumber:http://oase.kompas.com/  1 Oktober 2009 

Bandung, Kompas – Pelaksanaan Festival Bambu Nusantara 3 diharapkan mampu memperkenalkan khazanah musik Indonesia ke dunia internasional. Harapannya, musik bambu tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga digemari masyarakat negara lain.

“Selama ini musik Indonesia hanya dikenal oleh bangsanya sendiri. Banyak masyarakat negara lain belum mengetahui apa saja kekayaan musik Indonesia meski sering kali sudah mendengarkan atau melihatnya dalam berbagai kesempatan,” kata penata musik Festival Bambu Nusantara (FBN) 3, Ismet Ruhimat, Rabu (30/9) di Bandung.

FBN 3 adalah pergelaran musik bambu yang diikuti puluhan pemusik Indonesia dan negara asing. Festival itu berlangsung 17-18 Oktober 2009 di Paris van Java, Bandung. Penyelenggaraan kali ini adalah yang ketiga kali setelah dua tahun sebelumnya berturut-turut juga digelar di Bandung. Acara yang menjadi bagian dari Visit Indonesia Year 2009 ini diselenggarakan atas kerja sama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Republic of Entertainment, dan Maharani Esa Sejati.

Ibarat klimaks

Ismet mengatakan, pelaksanaan FBN 3 ini ibarat klimaks dari pelaksanaan sebelumnya. Pasalnya, pelaksanaan FBN pertama dan kedua lebih ditujukan pada pengenalan dan penekanan kualitas pelaku musiknya. Untuk pelaksanaan tahun ini Ismet berencana memperkenalkan musik bambu ke dunia internasional.

Salah satu hal yang telah dilakukan adalah mengundang sejumlah pemusik dari luar negeri untuk ikut serta dalam FBN 3. Beberapa negara yang diundang adalah Swedia, Afrika Selatan, Taiwan, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

“Saya berharap kehadiran mereka bisa memberikan kabar bagi pemusik di belahan dunia lain untuk datang ke FBN 3 sehingga tahun selanjutnya FBN bisa menjadi agenda tahunan para musisi dari berbagai macam negara,” kata Ismet.

Perwakilan Republic of Entertainment, Wawan Juanda, mengatakan, FBN 3 adalah perwujudan masyarakat Indonesia yang selama ini mencintai musik bambu sebagai aset budaya Indonesia. Dengan acara ini, masyarakat diharapkan semakin mencintai musik bambu.

Wawan mengatakan, segala jenis permainan musik bambu akan dimainkan dalam acara ini, di antaranya parade angklung, bambu karawitan, seruling nusantara, dan bambu variety. Selain itu juga akan disajikan penampilan musik bambu tradisional yang dikolaborasikan dengan musik orkestra, genre musik pop, rock, samba, dan hip hop.

Selain pementasan musik, dalam acara ini akan digelar pameran mainan anak dari bambu, alat rumah tangga, pertunjukan busana, seminar tentang bambu, hingga penanaman bambu. “Dalam musik, semua bisa saja terjadi. Jangan berhenti mengeksplorasi musik bambu hanya karena bentuknya yang kuno atau tradisional,” ujar Wawan. (CHE)

Oktober 2009

Bambu, Cermin Kesadaran Mengakar Budaya 

Sumber: http://oase.kompas.com/ 24 Oktober 2009  

ARUM TRESNANINGTYAS DAYUPUTRI/KOMPAS
Ilustrasi: “Selain unik alat musik tersebut memiliki makna yang kuat dan dapat dipelajari oleh siswa, sehingga sekolah di negara itu mengharuskan siswa-siswinya mempelajari lebih dalam tentang kesenian asal Indonesia,” kata Yose, di Jakarta, Sabtu, (13/6).

KOMPAS.com- Festival Bambu Nusantara III telah berakhir pekan lalu. Penampilan musisi kelas dunia atau suasana mall Parijs van Java yang disulap menjadi perkampungan elit ketika itu bisa jadi merupakan pengalaman yang tidak terlupakan untuk para pengunjung.

Akan tetapi, bukan itu sebetulnya tujuan Festival Bambu Nusantara yang untuk kali pertama dilakukan bukan di gedung pertunjukan mewah atau tempat tertutup macam Sasana Budaya Ganesha maupun Pekan Raya Jakarta seperti peyelenggaraan di dua tahun sebelumnya.

Di balik kemeriahan acara, ratusan juta rupiah yang terhambur, antusiasme ratusan siswa dan mahasiswa bermain angklung serta kesukarelaan musisi dunia yang dibayar ala kadarnya, muncul satu pesan besar yang tersirat: Mari kita (warga) ramai-ramai peduli dan kembali mengakar kepada budaya sebagai asal-asul kita.

Mengusung bambu sebagai ikon budaya nusantara-bukan hanya satu atau beberapa daerah, Festival Bambu Nusantara III yang diadakan 17-18 Oktober lalu adalah representasi dari kampanye budaya di tengah-tengah masyarakat urban, apalagi kaum muda di Bandung, yang kini tunggang-langgang (kadang kehilangan arah) menyesuaikan dengan modernisasi.

Misinya, memperkenalkan bambu bukan hanya sebagai musik ladang. Ini adalah bentuk semangat budaya di tengah-tengah modernisasi, tutur Wawan Juanda, Presiden Republic of Entertainment, y ang menjadi konseptor dan koordinator penyelenggaraan acara yang disponsori Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI ini.

Dengan semangat ini, tidak heran jika ruang publik, khususnya Mall Parijs van java dipilih sebagai venue acara yang menampilkan 60 jenis musik ini. Seperti kita ketahui, mall terbesar yang ada di utara Kota Bandung ini adalah simbol dari gemerlapnya dunia kosmopolis kaum urban Bandung, terutama anak-anak muda.

Public attack

Diakui, kaum muda adalah kelompok yang paling sulit dipenetrasi dan dijangkau pertunjukan musik bergenre bambu yang diusung di Festival Bambu Nusantara selama ini. Untuk itu, dalam festival yang kali ini mengusung jargon public attack! melalui jingle Bambu Bukan Sekedar Musik Ladang, anak-anak muda Bandung disuguhkan pertunjukkan musik yang tidak biasa-kalau tidak bisa dibilang mencengangkan.

Tidak percaya? Tengok saja penampilan yang disuguhkan grup Sambasunda featuring Patrick Shaw Iversen. Musik y ang mereka sajikan adalah representasi dari begitu harmonisnya perpaduan musik tradisional sunda dan langgam barat. Alunan musik pentatonis yang dimainkan anak-anak Sambasunda menyatu apik dengan efek musik tekno yang disajikan Patrick lewat laptopnya.

Ratusan anak muda, bahkan ABG, tertegun menyaksikan penampilan mereka ini. Plaza Puerta Vallarta di Mall PvJ yang menjadi panggung penampilan musik kontemporer ini pada S abtu (17/10) malam itu penuh sesak anak muda. Sebagian, bahkan, sampai rela berdiri dan berdesak-desakan.

“Keren banget. Baru dengar musik yang seperti ini. Ternyata bambu bisa juga gak kuno,” tutur Bella Citra (19), mahasiswi yang sengaja datang ke mall PvJ bersama seorang kawannya untuk memuaskan rasa penasarannya akan Festival Bambu Nusantara III.

Kaum metal

Pada saat sama, d i luar PvJ-tepatnya di Lapangan Yon Zipur Ujung Berung sesuatu yang tidak lazim tengah terjadi. Di tengah ingar-bingar musik cadas yang melantun, terdengar pula nada-nada suara dari musik bambu yang kini nyaris punah yaitu karinding dan celempung.

Anak-anak metal yang selama ini dikenal kental dengan stereotip western minded saja mau memainkan musik bambu dan melestarikannya. Siapa pun kita, apa pun pilihan musiknya, kita tidak boleh menanggalkan asal-usul, budaya, kita, tutur Mohammad Rohman yang biasa dikenal Man Jasad .

Festival Bambu Nusantara III dan anak-anak death metal dari Ujung Berung telah memberikan pelajaran kepa da kita : Seperti halnya tanaman bambu, kita harus tetap mengakar kuat pada budaya. Sehingga, meskipun diterpa angin-angin, bahkan badai bernama budaya luar dan modernisme, kita tetap tidak roboh terbawa angin!…

September 2010

Festival Bambu Nusantara di Sabuga 2 Oktober

Sumber:http://bisnis-jabar.com/   27 September 2010   

JAKARTA: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Festival Bambu Nusantara (World Music Festival) IV, di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, 2-3 Oktober 2010, untuk mempromosikan budaya musik bambu dan kekayaan sumber daya alam Indonesia.

Festival ini akan dimeriahkan oleh musisi terkenal, seperti Dwiki Darmawan, Andi Rif, Gita Gartina dan Yuki TendoStar dengan iringan orkestra bambu.

“Dengan tema festival Re-Invention Bamboo Music and Culture, semua hal yang berhubungan dengan musik dari bambu akan ditampilkan, mulai dari angklung, tarian hingga seminar,” ujar Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, hari ini.

Potensi seni musik bambu lainnya yang dimiliki berbagai daerah juga akan digelar, di antaranya Tari Giring-Giring dari Kabupaten Lamadau Kalteng, Sasando Gong Pulau Rote NTT dan Rampak Kentongan dari Purbalingga Jateng.

Sapta menjelaskan dalam seminar bambu ini akan menampilkan pembicara pakar bambu Marc Peeters dan Chamim Marka dengan lembaga risetnya Bambu Nusa Verde (BNV) di Yogyakarta.

BNV akan melakukan transfer teknologi tentang tanaman bambu melalui teknologi kultur jaringan yang dikembangkan oleh perusahaan Belgia, Oprins Plant Company.

“Musik bambu sebagai musik universal dan tanaman bambu sebagai kekayaan alam Nusantara akan menjadi soft power dalam mempromosikan pariwisata Indonesia ke mancanegara,” ungkapnya.

Ratusan musisi meriahkan Festival Musik Bambu

Sumber: http://bisnis-jabar.com/ 29 September 2010 

BANDUNG: Sejumlah musisi dari berbagai provinsi di Indonesia akan berperan serta dalam festival musik bertemakan bambu nusantara.
Festival akan berlangsung di Sasana Budaya Ganesha ITB, 2–3 Oktober 2010 yang merupakan kegiatan ke-empat kalinya.

Panitia festival Argus Firmansah mengemukakan kegiatan ini merupakan sebuah upaya untuk mendorong Bandung sebagai pusat kreasi bambu.

“Ini merupakan kegiatan kultural untuk mempertemukan seniman yang peduli akan bambu nusantara,” katanya hari ini.

Dia mengatakan acara ini sekaligus mengenang almarhum Wawan Juanda, Presiden Republic of Entertainment, yang merupakan penggagas festival bambu di Bandung.

Musisi atau grup musik yang hadir a.l Samba Sunda, Ebith Beat A, Saratus Persen, Shagara, Dwiki Darmawan, dan lain-lain.

Penampilan mereka akan berpadu dengan grup musik yang mengusung alat musik bambu a.l Giring-giring dari Kab. Lamandau(Kalimantan Tengah), Sasando Gong Pulau Rante (Nusa Tenggara Timur), Rampak Kentongan (Purbalingga/Jawa Tengah), Angklung Carub (Banyuwangi/Jawa Timur), Saung Angklung Udjo, dan beberapa musisi dari luar negeri seperti Jepang.

Selain pagelaran musik, kegiatan ini juga akan diisi seminar dan work shop yang membahas seputar bambu

Bandung jadi pusat kreasi bambu

Sumber: http://bisnis-jabar.com/ 30 September 2010

BANDUNG (bisnisjabar.com): Sejumlah kalangan mengusulkan Kota Bandung sebagai pusat kreasi bambu, karena posisinya sebagai salah satu kota wisata utama di Indonesia.

Dadang Johari, Presiden Republic of Entertainment, mengemukakan cukup banyak komunitas seni maupun perajin di Jabar, yang menjadikan bambu sebagai bahan baku utama dalam kegiatannya.

Komunitas tersebut, kata dia, memerlukan sebuah wadah dan lokasi yang mampu menampung eksistensi mereka.

Dia menilai Bandung layak menjadi pusat kreasi bambu sejalan dengan visi kota ini sebagai kota wisata.

Menurut dia, festival musik bambu yang digelar pada 2—3 Oktober 2010 merupakan upaya untuk menjadikan Bandung sebagai pusat kebudayaan bambu.

“Sejumlah musisi dari berbagai provinsi di Indonesia akan berperan serta dalam festival musik bertemakan bambu nusantara,” katanya, kemarin.
Dia mengatakan sejumlah musisi yang mengusung alat musik bambu akan tampil dalam festival a.l Giring-giring dari Kalimantan Tengah, Sasando Gong Pulau Rante (Nusa Tenggara Timur).

Kemudian Rampak Kentongan (Jawa Tengah), Angklung Carub (Jawa Timur), Saung Angklung Udjo, dan beberapa musisi dari luar negeri seperti Jepang. Kegiatan ini juga akan diisi seminar dan workshop yang membahas seputar bambu.

Kasie Musik Kontemporer Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Adja Sondari mengemukakan cukup banyak aset Pemprov Jabar yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan pariwisata.

Menurut dia, pihaknya juga akan mendorong upaya sejumlah kalangan yang berniat memunculkan potensi kesenian daerah.

Oktober 2010

Festival Bambu Nusantara 4 “World Music Festival 2010” di Sabuga

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 02 Oktober 2010 

RETNO HY/”PRLM”
500 anak sekolah dari SMP dan SMU se Kota Bandung yang memainkan alat musik angklung secara bersamaan di Sasana Budaya Ganesha dalam pembuka Festival Bambu Nusantara 4 (FBN 4) “World Music Festival 2010”.*

BANDUNG, (PRLM).- Sebanyak 500 anak sekolah dari SMP dan SMU se Kota Bandung yang memainkan alat musik angklung secara bersamaan menciptakan suara membahana memenuhi setiap sudut Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) saat intro dari repertoir “Ignorance” menjadi pembuka Festival Bambu Nusantara 4 (FBN 4) “World Music Festival 2010”. Ratusan penonton rela berdesakan dan menahan hawa panas pada hari pertama FBN 4, Sabtu (2/10).

Nada-nada suara yang dihasilkan sesekali ditimpali pukulan perkusi jimbe yang dimainkan delapan orang anak laki-laki hingga menambah kuat aksen warna pop rock repertoar yang dimainkan Penonton bukan hanya disuguhi repertoar pop rock “Ignorance”, tapi juga pada nomor “Histeria” yang lebih semarak dan kaya komposisi kordnya lewat sentuhan irama samba.

“Luar biasa dan sangat mengagumkan, alat musik angklung yang begitu sangat sederhana terbuat dari bambu, mampu menciptakan kekayaan nada suara tidak ubahnya alat musik elektronik. Ini semakin menunjukan betapa kayanya bunyi yang dapat dihasilkan oleh musik angklung,” ujar Dirjen Promosi Dalam Negeri, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Fathul Bachri Wijaya.

Grup musik asal Kota Bandung yang terdiri dari anak-anak mahasiswa maupun alumni STSI Bandung, Saratus Persen, seakan tidak mau kalah dalam menarik simpati pengunjung. Memainkan sederetan komposisi dengan menggunakan alat musik gamelan dan tiup tradisional serta beberapa alat musik bambu menjadikan komposisi “Brastagi”, “Kicir-Kicir”, dan “Goes To Nyi Roro Kidul” dimainkan dalam warna musik rancak dan mendapat sambutan luar biasa dari fans grup yang tengah naik daun ini.

Dirjen Promosi Dalam Negeri, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Fathul Bachri, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para seniman dan seniwati diajang FBN 4 menunjukan dedikasi dan keseriusan para seniman dan seniwati untuk menunjukan pada dunia internasional akan kekayaan khasanah seni budaya bangsa.

“Para seniman dan seniwati selama ini sudah begitu banyak berusaha untuk menunjukan kekayaan khasanah seni budaya bangsa dimata dunia internasional, tapi sayang masyarakat sendiri belum begitu memberikan penghargaan. Diharapkan melalui kegiatan (FBN 4) ini rasa memiliki masyarakat akan kekayaan seni budaya bangsa, khususnya seni budaya bambu dapat tumbuh,” ujar Fathul.

Dikatakan Fathul, FBN untuk keempatkalinya diselenggarakan untuk menghargai kreativitas masyarakat tradisional Indonesia yang begitu menghargai bambu serta berbagai keunikan lainnya, dimana masyarakat Indonesia sangat kreatif dalam menciptakan alat musik dari bambu. “Bahkan, beberapa diantaranya sudah bisa go internasional. Angklung salah satu musik bambu yang sudah mendunia dan dikenal oleh hampir seluruh negara di dunia,” ujar Fathul. (A-87/A-26).***

Festival Bambu Diharapkan Berlanjut

Sumber: http://oase.kompas.com/ 5 Oktober 2010 

BANDUNG, KOMPAS – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menargetkan Festival Bambu Nusantara dijadikan kalender tahunan di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kegiatan ini juga diusulkan terus diadakan di Jabar lantaran provinsi ini diklaim sebagai penghasil bambu terbesar di Indonesia.

“Hal itu sekaligus sebagai penghargaan terhadap kesenian angklung yang berasal dari Jabar. Dalam waktu dekat angklung sebagai salah satu jenis alat musik dari bambu juga akan diusulkan sebagai warisan budaya dunia,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Herdiwan, Senin (4/10) di Bandung.

Menanggapi usulan itu, Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Fathul Bahri berjanji akan mempertimbangkannya. Berkaca dari festival pada 2-3 Oktober, perajin dan seniman bambu yang terlibat dalam kegiatan ini tidak hanya terbatas warga Jabar.

“Artinya, ada potensi bambu di daerah lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Oleh karena itu, apakah kegiatan ini tahun depan akan tetap dilakukan di Jabar atau daerah lain, masih akan dipikirkan,” katanya.

Sejak diselenggarakan pada 2007, festival ini sudah tiga kali digelar di Bandung, yakni pada 2008, 2009, dan 2010. Festival bambu yang pertama digelar di Jakarta.

Kegiatan ini digagas oleh pegiat seni asal Bandung, Wawan Juanda, melalui lembaganya, Republic of Entertainment, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Setelah Wawan meninggal dunia Juli lalu, adiknya, Dadang Johari, meneruskan penyelenggaraan acara ini.

Fathul menegaskan, pada dasarnya ia tidak berkeberatan jika acara ini dimasukkan ke dalam kalender tahunan wisata nasional.

Antusiasme besar

Dadang Johari mengatakan, antusiasme peserta mengikuti festival ini cukup besar. Hal itu bisa dibuktikan dengan kedatangan kelompok musik bambu dari berbagai daerah dan negara. Tahun ini ada dua negara asing yang berpartisipasi, yakni Jepang dan Norwegia.

“Ada yang datang dari Sulawesi Utara hanya untuk bermain semalam dan esok harinya sudah kembali ke daerah asal. Padahal, mereka kehabisan tiket pesawat dan rela menyusul dengan keberangkatan berikutnya. Peserta dari Jepang juga begitu,” ujar Dadang.

Untuk mendukung pengembangan seni budaya bambu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar akan membangun panggung seni terbuat dari bambu di area Monumen Perjuangan Rakyat Jabar pada November 2010. Panggung seni itu juga diproyeksi untuk terus dikembangkan menjadi gedung kesenian dari bambu.

“Menurut hasil penelitian, bambu bisa tahan 100 tahun dan kekuatannya melebihi baja, lentur, dan tahan gempa. Karena bambu banyak ditemui di Jabar, kenapa tidak dibangun sebuah gedung kesenian dari bambu yang nantinya bisa menjadi tempat berkreasi seniman dan perajin Jabar,” kata Herdiwan. (REK)

September 2011

Hargai Seniman Bambu lewat Festival Bambu Nusantara

Sumber: http://travel.okezone.com/  27 September 2011

BAMBU merupakan salah satu bahan baku pembuatan alat musik tradisional Indonesia. Sebuah perhelatan budaya digelar guna memberi apresiasi bagi seniman bambu.

Alat musik terbuat dari bambu, misalnya kolintang, angklung, suling, dan masih banyak lainnya. Untuk mengapresiasikan bambu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menghelat Bambu Nusantara (World Music Festival) di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, 1-2 Oktober 2011.

Festival yang digelar untuk kali kelima ini akan disemarakkan oleh parade angklung, bambu indigenous, seruling Nusantara, bambu klasik, bambu rkythm/string, bambu kontemporer, serta kegiatan pendukung lainnya, seperti workshop, pameran, seminar bambu, dan kuliner dari bambu.

Kegiatan Bambu Nusantara akan menampilkan potensi seni budaya musisi bambu yang ada di Tanah Air, antara lain dari Banten, Kalimantan Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Semua seni bambu, termasuk seni musik dan kuliner turut ditampilkan di Bambu Nusantara ke-5.

Ketua Penyelanggara Festival Bambu Nusantara Dadang Johari mengatakan, penyelenggaraan tahun ini berbeda dengan kehadiran kaum muda yang mengambil peran sangat besar.

“Hal itu akan menjadi daya tarik anak muda lainnya untuk datang. Selain itu, penyelenggaraan tahun sebelumnya tidak dipungut biaya. Tapi untuk tahun ini dipungut biaya untuk panggung utama, sedangkan dua panggung lainnya tidak,” ungkap Dadang kepada wartawan saat jumpa pers Festival Bambu Nusantara, Selasa (27/9/2011).

Sementara itu, Dirjen Promosi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Menurut Sapta Nirwandar mengatakan, event World Music Festival bertema “Bambu dengan Seniman dan Musisi andal dan Kreatif dari Indonesia dan Luar Negeri” ini menjadi media efektif dalam mempromosikan kekayaan seni budaya Indonesia ke dunia internasional.

“Musik bambu sebagai musik universal menjadi soft power dalam mempromosikan pariwisata Indonesia ke mancanegara,” sahutnya.

Selain menampilkan pertunjukan tari dan musik bambu, juga diadakan bambu talk berupa seminar. Pada puncak acara, Minggu (2/11) malam, akan dihelat sebuah performance untuk mengenang seorang kreator Bambu Nusantara, almarhum Wawan Juanda dengan menampilkan sejumlah musisi seperti Dwiki Darmawan. (ftr)

Festival Bambu Nusantara 2012 Butuh Biaya Besar

Sumber:  http://travel.okezone.com/ 28 September 2011 

Festival bambu (Foto: Dok Mendbudpar)

PENYELENGGARAAN Festival Bambu Nusantara ke-6 di 2012 ini akan dihelat di Jakarta Convention Center (JCC). Perhelatan ini akan membutuhkan biaya yang besar. Untuk itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, tahun depan akan mengajukan dana ke DPR.

“Karena kalau dananya minta sama sponsor, akan sulit. Biasanya sponsor itu pelit,” kata Dirjen pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar saat jumpa pers Festival Bambu Nusantara, Selasa (27/9/2011).

Menurut Sapta, perhelatan Festival Bambu Nusantara harus diperhatikan oleh DPR sebagai wakil rakyat.

“Pasalnya, salah satu alat musik dari Bambu, Angklung Indonesia sudah di kukuhkan oleh UNESCO (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya) pada sidang kelima Komite Antar Pemerintah tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda-UNESCO di Nairobi, Kenya pada 16 November 2010 lalu,” jelasnya.

Sebagai bagian dari budaya bangsa, pengukuhan angklung akan menambah Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

“Pengukuhan itu menandakan Angklung Indonesia kini resmi masuk dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity),” tutupnya. (nsa)

Oktober 2011 

Festival Bambu Nusantara Digelar di Bandung

Sumber: http://oase.kompas.com/ 1 Oktober 2011

BANDUNG, KOMPAS.com- Festival Bambu Nusantara kembali digelar di Bandung pada 1-2 Oktober ini. Festival yang sudah menginjak tahun ke-5 ini dibuka Sabtu (1/10/2011) sore ini di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Sejak Sabtu siang, berbagai kelompok musik sudah beraksi di panggung utara dan panggung selatan, yang disiapkan di arena festival. Penonton bebas menyaksikan pertunjukan yang digelar di panggung terbuka itu. Adapun panggung tengah yang tertutup digunakan untuk pertunjukan utama.

Penonton harus membeli tiket untuk menyaksikan pertunjukan sejumlah penampil, di antaranya gitaris Balawan dan pesinden Sruti Respati. Selain itu, ada juga stan yang menampilkan beragam produk bambu. Misalnya, peralatan rumah tangga tradisional dari bambu, angklung, dan permainan anak tradisional berbahan dasar bambu.

Budi, salah seorang pengunjung festival terlihat menikmati pertunjukan musik yang disajikan kelompok dari Banten. “Suara yang ditimbulkan oleh alat musik itu sangat menarik,” kata Budi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: