Filosofi Bambu

Filosofi Pohon Bambu

Sumber: http://lifestyle.okezone.com/  18 September 2009  

POHON BAMBU tak hanya menarik ketika ditata untuk menghias taman. Pohon berbatang ramping itu juga mengandung filosofi hidup yang berguna untuk manusia. Kita dapat menjumpai pohon bambu dengan murah di sekitar lingkungan.

Penampakannya sangat khas, rimbun berumpun dengan batang yang panjang serta daun yang bentuknya mirip rumput. Saat angin berembus, suara dari gesekan daun bambu memancarkan ciri tersendiri. Pohon yang dapat menyejukkan taman rumah ini menyimpan filosofi yang bisa jadi belum diketahui banyak orang. Bambu, yang perubahan “wujudnya” terbilang lambat, sebetulnya memiliki kekuatan pada akar. Satu hingga tiga tahun, pertumbuhan pohon ini dirasa lambat.

Namun, sebenarnya selama kurun waktu tersebut, akar bambu sedang tumbuh dengan pesat sehingga memiliki kekuatan yang luar biasa. Pertumbuhan bambu baru terlihat secara signifikan setelah empat tahun, dengan akar-akarnya yang juga tumbuh subur. Pada tahun kelima, setelah pertumbuhan akarnya selesai, barulah batang bambu akan muncul.

Tumbuh menjulang ke langit. Proses kehidupan pohon bambu mengandung arti filosofis buat manusia, yakni betapa fondasi yang kuat sangat diperlukan. Menurut klasifikasinya, bambu tergolong tanaman rumput. Namun, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya bisa terentang dari 30 cm hingga 30 meter. Bambu sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya.

Kegunaan dan cara bambu mengekspresikan diri, menjadikannya tanaman rumput yang berbeda. Dalam kehidupan pun latar belakang, kita sebenarnya bukanlah penentu, melainkan bagaimana kita berupaya mengekspresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang kita.

Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi luar biasa. Pohon bambu juga mengajari kita soal fleksibilitas. Kita jarang menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap tegar berdiri.

Selain karena akar yang kuat, batangnya juga mampu bergoyang bersama angin. Alhasil, dalam cuaca buruk dan angin kencang, pohon bambu bisa bergoyang dan mengeluarkan desis suara mengikuti irama angin. Sementara pohon-pohon lain yang memiliki batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin. Inilah yang disebut fleksibilitas.

Bambu tergolong keluarga gramineae, disebut juga dengan giant grass berumpun dan terdiri atas sejumlah batang yang tumbuh secara bertahap. Mulai rebung, batang muda, hingga umur dewasa yang mencapai 4?5 tahun. Bentuk batang bambu berbuku-buku atau beruas. Dia juga berdinding keras, dan di tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas atau cabang.

Akar bambu berbentuk rimpang berbuku dan beruas. Setiap buku akan ditumbuhi serabut dan tunas yang dapat tumbuh sebagai batang.

Menurut arsitek lanskap Bintang Nugroho, pohon bambu adalah tanaman unik yang hampir sama dengan jenis rumput. Pertumbuhannya bertahap, tetapi sangat cepat. “Pohon tersebut mempunyai batang tinggi. Daunnya yang seperti rumput mempunyai kesan unik tersendiri,” jelas Bintang.

Bintang menambahkan, bila kita menanam pohon tersebut di taman, nuansa tropis akan tercipta. Hunian pun tentu akan terasa lebih sejuk dan nyaman. Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Elizabeth A Widjaja, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu. Sebanyak 88 jenis di antaranya merupakan bambu endemik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah. Semua jenis bambu itu memiliki berbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. “Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan bahwa setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air,” katanya.

Begitu banyak keunikan pohon bambu yang kita temui. Menurut jenisnya, bambu ada yang berjenis bambu tali, pohon bambu rebung, bambu gombong, bambu wulung, bambu jepang, dan bambu china.

Arsitek Ridwan Kamil mengungkapkan, biasanya pohon bambu jepang mempunyai batang yang pendek, cenderung jarang-jarang atau tidak berumpun. “Tingginya pun mudah untuk kita atur,” imbuh Ridwan.
(nsa)

Sekokoh dan Selentur Bambu

Oleh : Achmad Siddik Thoha

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/ 01 February 2012

Semua orang tak ada yang tak mengenal bambu. Tumbuhan dengan batang lurus menjulang sering disebut juga dengan pohon bambu. Bambu sebenarnya berasal dari keluarga rumput-rumputan. Namun ia memiliki batang yang seperti layaknya pohon. Bambu juga dijuluki raja dari masyarakat rerumputan.

Bambu ada yang tumbuh secara berumpun (Simpodial) dan ada pula yang secara individual (monopodial). Bambu hidup di hampir seluruh kawasan Asia. Bahkan China dijuluki sebagai negeri tirai bambu karena luasnya areal tanaman bambu yang tumbuh disana. Demikian juga negeri Jepang, sangat terkenal dengan bambunya, karena telah menjadi bagian dari budaya dan kebutuhan hidup.

Dari sisi pertumbuhan, bambu terbilang lambat di awal pertumbuhannya. Bukan tanpa maskud, bambu terlebih dulu membentuk sruktur akar yang kuat mengeraskan tanah dan mengambil ruang bersaing dengan tanaman lain selama tiga tahun. Baru sekitar tahun keempat, akar bambu mulai tumbuh subur dan memiliki kekuatan luas biasa. Tahun kelima barulah batang bambu muncul.

Bambu tergolong keluarga gramineae, disebut juga dengan giant grass berumpun dan terdiri atas sejumlah batang yang tumbuh secara bertahap. Mulai rebung, batang muda, hingga umur dewasa yang mencapai 45 tahun. Bentuk batang bambu berbuku-buku atau beruas. Dia juga berdinding keras, dan di tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas atau cabang. Meski berasal dari keluarga rerumputan, bambu memiliki ekspresi yang berbeda dari tanaman rumput lain. Bambu memiliki batang yang besar dan panjang menjulang hingga mencapai 30 m. Bambu memiliki batang yang lentur, selentur tanaman rerumputan lain. Daunnya yang seperti rumput mempunyai kesan unik tersendiri.

Dengan akar yang kuat dan batang yang lentur, bambu memiliki ketahanan yang tinggi dari terpaan angin. Saat angin kencang bertiup dan banjir melanda, bambu tetap bisa bertahan. Dia melambai gemulai mengikuti kecepatan angin. Akarnya yang kokoh tetap bertahan menahan gerusan banjir yang akan menghayutkannya. Saat pohon-pohon lain bertumbangan, bambu tetap tegak berdiri dan berayun gemulai.

Manfaat bambu sangatlah banyak. Bahan bangunan, peralatan makan, jembatan, bahan makanan, perabotan rumah tangga, hiasan dan souvenir adalah deretan manfaatnya. Namun manfaat terbesar terletak pada fungsi pelestari lingkungan yang paling baik. Bisa kita buktikan bahwa setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air. Bambu tumbuh baik ditepi sungai atau aliran air sekaligus pelindung tebing dan sisi sungai yang kokoh. Bambu mampu melindungi tanah dari benturan tetes air dan gerusan aliran permukaan saat hujan lebat dan banjir.

Bambu menyimpan banyak inspirasi bagi manusia. Latar belakang bambu yang berasal dari keluarga rumput yang dikesankan sebagai tumbuhan lemah dan diremehkan tidaklah menghalanginya berekspresi. Bambu mampu mengekspesikan diri menjadi sosok yang kokoh namun lentur dan kaya manfaat. Dengan kemampuan ekspresi yang kuat dan unik maka kita akan berhasil menjadi yang terbaik, minimal di komunitas kita.

Fleksibilitas atau kelenturan bambu mengajari manusia bagaimana mampu beradaptasi pada lingkungan yang ekstrim sekaligus. Saat arus masalah datang, kita perlu bersikap lentur, tidak menentang atau hanyut atau bahkan lari darinya. Penentangan yang keras akan berakibat robohnya ”tubuh” kehidupan kita, sebaliknya hanyut dan lari dari masalah akan menghilangkan eksistensi diri. Maka bersikap lentur, menyesuaikan dengan keadaan adalah pelajaran berharga dari bambu untuk terus bisa eksis dan bermanfat. Saat orang lain bertumbangan dalam menghadapi masalah, maka manusia berkarakter bambu akan tetap eksis, menampilkan lambaian indah dan terus memberi manfaat.

Hanya manusia yang tetap eksis jati dirinya dan kokoh pendiriannya yang bisa memberi banyak manfaat bagi lingkungan. Bila kita ingin mampu memberi manfaat sebanyak mungkin bagi lingkungan kita, maka keberanian berekspresi secara maksimal, fleksibilitas menghadapi tantangan dan tak peduli dengan masa lalu, yang merupakan karatkter bambu bisa kita contoh.

Jadilah Seperti Pohon Bambu

Oleh:  Octa Dwinanda

Sumber: http://octadwinanda.com/ 21 Mei 2012

Anda tahu panda ? Ya, itu loh binatang asli dari negerinya Wong Fei Hung, Cina. Saat ini saya tidak ingin menuliskan tentang panda, tapi makanan utamanya, yaitu pohon bambu. Ya, saya tertarik menuliskan tentang pohon bambu, setelah beberapa hari yang lalu di salah satu sesi di pelatihan soft skill yang diadakan oleh kantor dimana saya bekerja, menyinggung sedikit tentang filosofi pohon bambu. Saya pikir akan bermanfaat juga bagi yang lain seandainya saya share di sini.

Dijelaskan bahwa pohon bambu itu, dari akar sampai daunnya mempunyai fungsinya masing-masing. Ini menggambarkan bahwa pohon bambu mempunyai manfaat yang luas bagi kehidupan. Semisal akarnya, dikarenakan memiliki sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang kuat, memungkinkan tanaman bambu dapat menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi.

Kemudian batangnya. Untuk batang bambu muda bisa dijadikan masakan khas dengan cita rasa tinggi. Bahkan di beberapa daerah menjadi makanan mahal. Selain itu batang bambu juga bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan biasa juga dijadikan sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan.

Lalu daunnya. Diberbagai buku-buku herbal, daun bambu bisa dijadikan obat untuk penyembuhan. Dipercaya bahwa daun bambu mampu menyembuhkan batuk, haus, dahak, radang tenggorokan, dan menghilangkan rasa panas.

Anda bisa melihat bahwa tidak ada satu bagianpun dari pohon bambu yang tidak mempunyai manfaat. Kita sebagai manusia yang mempunyai perasaan dan pikiran, bisakah seperti pohon bambu. Bisakah setiap perkataan yang keluar dari mulut kita tidak merupakan hal yang sia-sia, tapi perkataan yang selalu mempunyai nilai manfaat bagi orang yang mendengarnya ? Bisakah setiap perbuatan yang kita lakukan tidak merupakan hal yang mubazir, tapi perbuatan yang selalu mempunyai daya guna bagi lingkungan ?

Mari kita simak perkataan Buya Hamka berikut :

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”

Dalam berbagai kalimat bijak, pohon bambu banyak dijadikan perumpamaan.

Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, dia akan merunduk. Setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali. Seperti perjalanan hidup seorang manusia, pastilah tidak lepas dari cobaan dan rintangan. Jadilah seperti pohon bambu. Yakinlah bahwa cobaan dan rintangan itu akan berlalu. Setelah itu segeralah bangkit dan berdiri tegak, seperti pohon bambu yang kembali tegak setelah angin berlalu.

Anda bisa menyimak salah satu cerita inspiratif dan motivatif tentang pohon bambu di artikel yang saya dapatkan dari hasil googling di internet dengan judul : Jadilah Seperti Sebatang Pohon Bambu.

Terakhir, mungkin saya hanya bisa mengingatkan kembali bahwa hidup itu hanya sekali, kawan. Sejarah akan mencatat kita sebagai apa. Tidak perlulah untuk menjadi orang besar, cukuplah jadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya, walaupun mungkin hanya sebatas lingkungan keluarga saja. Jadilah seperti pohon bambu.

Terakhir dari yang terakhir, sebelum saya menutup artikel ini, ada sedikit pesan…. renungkanlah apa yang dikatakan Buya Hamka diatas, kawan. Renungkanlah… Renungkanlah !

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

NB : Secuil tulisan dari hasil renungan untuk bisa menjadi seperti sebatang pohon bambu yang bisa memberikan manfaat untuk lingkungan, walaupun hanya sekedar tulisan sekedarnya, seadanya.

Ilmu Sebatang Bambu 

Sumber: http://www.gatra.com/  18 Maret 2012

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi di antara bambu-bambu lainnya.

Suatu hari sang petani berkata kepada bambu tersebut, ”Wahai bambu, maukah engkau kujadikan pipa saluran air untuk mengairi sawahku?”

Bambu menjawab, ”Tentu aku mau bila dapat berguna bagi Tuan. Tapi apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran itu?”

Kata sang petani, ”Pertama, aku akan menebangmu, lalu aku akan membuang cabang-cabang yang dapat melukai orang yang memegangmu. Lalu aku akan membelah-belah engkau sesuai keperluanku. Terakhir, aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, agar air dapat mengalir dengan lancar. Apabila sudah selesai, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air utk mengairi sawah, sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh subur”.

Mendengar hal itu, batang bambu terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata, ”Tuan, aku akan merasa sangat sakit saat kau menebang, membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah batangku, dan pasti tak tertahankan sakitnya ketika engkau mengorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu?”

Petani menjawab, ”Engkau pasti kuat melalui semua ini, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah”.

Akhirnya batang bambu itu menyerah. Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yg dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah, sehingga padi dapat tumbuh subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yang kita hadapi, Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapanNya?

Sama seperti batang bambu tadi, kita sedang ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan takkan memberi beban yang tak mampu kita pikul.

Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan? Biarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi sesama. (HP)

Belajar dari Filosofi Bambu Bali

Sumber: http://sains.kompas.com/  20 Juli 2010 

KOMPAS/BENNY DWI KOESTANTO
Penjor-penjor bambu yang dilengkapi dengan hiasan yang dibuat dari daun janur dan enau dipasang di sejumlah jalan di Bali dua hari menjelang hingga sebulan setelah hari raya Galungan. Dua perempuan berjalan di jalan Desa Penglipuran, Bangli, Bali.

KOMPAS.com — Bambu merupakan salah satu jenis tanaman yang paling banyak digunakan masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari. Hampir di setiap upacara keagamaan, bambu pasti digunakan, baik daun maupun batangnya. Bambu juga menjadi salah satu bagian bangunan adat di Bali. Bagi masyarakat Bali, bambu memang memiliki filosofi yang sangat mendalam.

Sifat-sifat baik dan keunggulan bambu dibandingkan tanaman lainnya menjadi spirit dan semboyan hidup bagi masyarakat Bali, terutama penganut agama Hindu. “Bambu adalah tanaman yang memang serba guna. Semasa kecilnya, saat masih mudah tegak. Tapi, saat tua akan menunduk. Ini lambang sebuah filosofi Hindu yang selalu menjaga sopan santun,” kata Ida Bagus Ketut Arinasa, ahli etnobotani dari Kebun Raya Bogor di sela-sela Association for Tropical Biology and Conservation 2010 di Bali, Selasa (20/7/2010).

Ia menambahkan, filosofi lain dari bambu adalah sifatnya yang semakin lama semakin kuat, baik batang maupun akarnya, yang membentuk kesatuan rumpun. Bambu juga tidak membutuhkan pemeliharaan yang sangat intensif sehingga bisa tumbuh di mana saja. Bahkan dari segi kegunaan, hampir setiap bagian bambu berguna.

Ketut Arinasa mengatakan, saat ini ada lima jenis bambu endemik yang masih digunakan umat Hindu Bali, baik dalam upacara keagamaan maupun kebutuhan sehari-hari. Tak sembarang bambu yang digunakan sehingga kelima jenis bambu ini masih dijaga baik oleh masyarakat. Masing-masing jajang aya (Gigantochloa aya), jenis bambu ukuran besar yang bisa setinggi 15 meter dan diameter 12 sentimeter. Bambu jenis ini digunakan untuk atap bangunan suci.

Kedua, jenis bambu yang disebut jajang taluh (Gigantochloa taluh) yang khas dengan batang berwarna hijau keputih-putihan. Bambu jenis ini biasa dipakai untuk gedek atau dinding dalam upacara dengan kualitas paling bagus. Ketiga, bambu yang disebut tiying ooh (Bambuca ooh) yang unik dengan morfologi ruas agak panjang, warna batang hijau, dan tebal buluhnya tidak mencapai setengah sentimeter. Bambu jenis ini dipakai untuk tempat sesajen atau sanggar pucuk saat upacara agama.

Keempat, bambu kedampal (Sahizostachyum cestaneum) yang memiliki batang lebih pendek dan buluh tipis, tapi panjang. Buluh kedampal dipakai untuk tempat air suci dan alat musik khas Bali, gerantang. Kelima, bambu tiying alas atau Dinochroa sepang. Di antara bambu endemik itu, hanya jenis ini satu-satunya jenis bambu yang masih tumbuh di tempat aslinya, yakni hutan alam Sepang Buleleng dan Jembrana.

Menurut Ketut Arinasa, kebutuhan yang banyak terhadap bambu dalam berbagai keperluan di Bali bukannya membuat tanaman ini punah. Justru, karena sadar terhadap kebutuhan terebut, masyarakat bahu-membahu untuk menjaga kelestariannya.

Jadilah Seperti Pohon Bambu 

Sumber: http://www.dakwah.web.id/2012/05/

Alkisah di suatu desa yang begitu sejuk dinaungi pepohonan rindang, tumbuhlah sebatang pohon mahoni yang begitu besar, menjulang tinggi seolah-olah ingin memberitahukan dunia betapa kuatnya dia. Tampak dia   begitu memancarkan pesona wibawa bagi siapapun yang melihatnya.

Tak jauh dari tempat pohon mahoni itu berada, tumbuhlah serumpun kecil bambu. Dilihat kasat mata, sungguh suatu pemandangan yang  begitu kontras, bagaikan langit dan bumi. Pohon mahoni yang begitu gagah dengan  ranting-ranting besar, dan bambu yang begitu ramping, dengan dahan yang melengkung ke bawah.

Walaupun berbeda, mereka selalu hidup berdampingan. Sang bambu yang rendah  hati selalu menyapa pohon mahoni setiap hari, hampir setiap waktu mereka  berbincang dan berbincang.

Pohon mahoni selalu menyombongkan diri, betapa besar dan hebatnya dia, namun sang bambu tidak pernah jenuh mendengarkan kesombongan si pohon mahoni sambil tersenyum. Dia selalu mengomentari segala ucapan mahoni dengan pujian, dengan tulus hati.

Suatu malam, hujan deras menguyur desa tersebut disertai angin yang  berhembus kencang. Suara gemuruh guntur turut menambah suasana semakin  mencekam. Banyak pohon bertumbangan karena tidak kuat menghadapi hembusan  angin kencang. Si pohon mahoni dan bambu pun turut terkena terpaan angin  kencang, mereka mencoba bertahan dan berusaha untuk tidak tumbang.

Sang pohon mahoni yang panik, berusaha menahan angin kencang tersebut dengan badan nya yang besar. Namun badannya tidak cukup besar untuk menahan laju angin yang begitu kencang, dan akhirnya tumbanglah pohon mahoni  tersebut.

Sang bambu yang berada disampingnya, tak terelakkan juga harus menghadapi
tiupan angin kencang. Berbeda dengan mahoni yang mencoba menahan deruan
angin kencang dengan dahannya yang kokoh, bambu hanya mengikuti kemana pun  arah tiupan anginnya. Dengan fleksibelnya dia bergemulai dengan hembusan angin.

Angin kencang pun berlalu, sang bambu tetap berdiri di atas tanah, di  samping pohon mahoni yang tumbang akibat terpaan angin kencang.

Dalam pencapaian sukses, manusia selalu dihadapi oleh realitas masalah yang selalu datang silih berganti. Untuk mencapai sukses, kita harus mampu menghadapinya dengan cara yang paling fleksibel. Kita harus mengetahui sumber permasalahan dan mencari jalan keluar terbaik.

Seperti sebatang bambu yang mengikuti terpaan angin, kita juga harus menyikapi masalah secara fleksibel, terbuka, tidak terpaku pada satu macam penyelesaian. Karena bila kita bersikap kaku, menggangap diri kita paling hebat dan kuat, tidak peduli dengan orang lain, niscaya kita akan tumbang  seperti pohon mahoni yang besar. []

Filosofi Bambu Dalam Falsafah Jawa 

Oleh:   JB Judha Jiwangga

Sumber: http://asji.info/ 

Apakah filosofi bambu dalam falsafah Jawa? Orang Jawa selalu dekat dengan bambu karena bambu sudah menjadi bagian dari hidup orang Jawa. Bambu memberikan banyak manfaat. Karena kedekatannya dengan bambu, oran Jawa mampu mengambil refleksi dari bambu untuk dijadikan nilai-nilai luhur yang dihidupi. Filosofi bambu dijadikan sebuah simbol untuk mengajarkan nilai-nilai moral yang baik. Dalam falsafah Jawa, filosofi bambu disesuaikan dengan unsur sentral kebudayaan Jawa yaitu rila (ikhlas), nrima (bersyukur), dan sabar.

Rila atau eklas berarti kesediaan menyerahkan segala milik, kemampuan, dan hasil karya kepada Tuhan. Nrima berarti merasa puas dengan nasib dan kewajiban yang telah ada, tidak memberontak tetapi mengucapkan terima kasih. Sabar menunjukkan ketiadaan hasrat, ketiadaan ketaksabaran, ketiadaan nafsu yang bergolak (Suwardi Endraswara. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Cakrawala. hal 43-44).

Filosofi bambu ini diangkat dalam sebuah lagu hip-hop yang berjudul ngelmu pring yang diciptakan oleh G.P Sindhunata, SJ. Lagu ini ditenarkan oleh kelompok musik Jogja Hip-Hop Foundation. Dalam lagu ini banyak sekali nilai-nilai moral yang diajarkan melalui simbol bambu. Karena dikemas menggunakan lagu hip-hop yang sesuai dengan selera anak muda, maka lagu ini dapat menjadi pembelajaran nilai-nilai moral bagi kaum muda yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pring deling tegese kendel lan eling, kendel marga eling timbang nggrundel nganti suwing.

Hidup itu berani dan ingat. Berani disini berarti berani membela yang benar karena ingat bahwa hal itu memang benar. Kebanyakan dari anak muda sekarang melakukan tindakan yang jelek hanya karena sebuah gengsi. Mereka hanya sedang ikut-ikut dengan trend yang ada. Ketika blackberry sedang menjadi trend di masyarakat maka banyak yang membelinya. Jika tidak membelinya maka dikatakan akan ketinggalan zaman padahal handphone fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi dan untuk membantu pekerjaan tetapi mereka hanya berlomba untuk mencari prestise.

Di tengah trend diatas, itu masih ada anak Indonesia yang berani melakukan hal berbeda. Mereka tidak ikut arus perkembangan zaman yang membawa dampak negatif. Banyak dari mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menimba ilmu daripada harus mencari sebuah gengsi. Uang yang mereka miliki mereka gunakan untuk membeli buku agar menambah wawasan atau juga mereka gunakan untuk membantu mereka yang berkekurangan dengan bakti sosial daripada digunakan untuk membeli yang tidak berguna.

Jadi mengapa kita harus ikut membuang-buang uang dan waktu hanya untuk mengejar sebuah gengsi? Lebih baik kita gunakan uang dan waktu kita untuk mempersiapkan masa depan kita. Gengsi hanya bersifat sementara. Jika kita ingin mencari sebuah pengakuan maka kita tunjukkan dengan bakat dan kemampuan kita untuk membuat sesuatu yang berguna.

Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg, rejeki seret, rasah dha buneg.

Bambu hanya sebuah rumput tetapi bisa berdiri tegak. Perumpamaan ini ingin mengajarkan bahwa kita hendaknya memiliki mental yang kuat ketika menghadapi cobaan. Kita harus tangguh dan tidak mudah menyerah sebelum menyelesaikannya. Seperti sebuah slogan pada saat masa perjuangan yang menunjukkan tekad untuk berjuang yaitu merdeka atau mati.

Bermental tangguh itu harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat mempersiapkan ulangan, kita harus belajar dengan baik agar kita dapat mengerjakan ulangan dengan baik tanpa mencontek. Saat kita diberi kepercayaan sebagai pengurus OSIS, kita menjadi pelayan yang baik bagi teman-teman yang lain walaupun banyak tugas yang harus di selesaikan. Dewasa ini banyak pelajar Indonesia yang bekerja untuk mencukupi biaya sekolah sendiri. Itulah semangat yang hendaknya kita tanamkan pada diri kita masing-masing karena kita adalah masa depan Indonesia yang harus membangun Indonesia menuju arah yang lebih baik.

Pring ori, urip iku mati, kabeh sing urip mesti bakale mati.

Segalanya yang hidup pasti akan untuk mati. Hidup itu hanya sekali maka dari itu isilah dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada artinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang terus. Lebih baik melakukan tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan sesama.

Saat terjadi bencana alam letusan gunung Merapi banyak sukarelawan dari kalangan anak-anak SMA yang turun membantu korban bencana. Seperti contohnya posko pengungsian di SMA Van Lith Muntilan, banyak sekali siswa-siswi SMA yang menjadi sukarelawan mulai dari SMA Seminari Mertoyudan, SMA Van Lith, SMA De Britto, dll yang membantu korban bencana alam. Mereka mencurahkan waktu dan tenaga mereka untuk membantu orang-orang yang berkesusahan akibat bencana Merapi. Mengapa mereka mau bersusah-susah demi korban bencana Merapi? Mereka bisa saja hanya diam dirumah dan tidak ikut menolong. Namun nyatanya mereka memilih untuk tetap menolong korban bencana alam.

Itu hanyalah sedikit gambaran dari angkatan muda Indonesia yang memiliki kehendak baik. Sebenarnya kita bisa melakukannya jika kita hidup dalam solidaritas tanpa mementingkan diri sendiri. Jika kita hidup saling bahu-membahu maka kita bisa membangun Indonesia bersama-sama sebagai armada muda Indonesia.

Pring apus, urip iku lampus, dadi wong urip aja seneng apus-apus.

Hidup yang damai adalah hidup dalam kejujuran. Kejujuran adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Banyak orang sukses karena mereka jujur. Tetapi saat ini menghidupi nilai kejujuran di tengah kebobrokan Indonesia rasanya menjadi hal berat.

Pengalaman saya menjadi seorang pelajar saat ulangan pasti saya mencontek. Saat SMP saya sering sekali mencontek. Bagi saya menghidupi kejujuran sebagai pelajar itu berat sekali. Tetapi saya sadar apa gunanya mencontek jika itu tidak mengembangkan diri saya. Saya mendapat nilai baik tetapi tidak berkembang. Akhirnya saat SMA saya menghidupi nilai kejujuran itu. Sudah 3 tahun saya tidak mencontek dan nilai-nilai saya tetap baik walaupun kadang mendapat nilai jelek juga tetapi saya tetap senang karena itu hasil jerih payah saya sendiri.

Coba bayangkan jika setiap generasi muda bisa hidup dalam kejujuran pasti Indonesia yang bobrok akan berubah. Mungkin koruptor-koruptor penghisap uang rakyat tidak akan lagi di Indonesia karena semua bertindak dengan jujur. Mari kita wujudkan armada Indonesia yang jujur.

Pring petung, urip iku suwung, sanajan suwung nanging aja padha bingung.

Dalam perjalanan hidup, manusia kadang menemui kehampaan. Kadang kita bingung ketika hidup rasanya hampa. Ingin melakukan sesuatu tetapi kok tidak ada tastenya. Karena merasa sepi maka banyak dari kita yang mencari pelarian agar merasa tidak sendirian dengan pergi ke dugem, menyibukkan diri dengan dunia maya, dll. Ketika merasa kesepian maka kita akan menyenangkan diri kita sendiri agar kita bisa menghilangkan rasa sepi.

Saat-saat kita mengalami kesepian sebenarnya adalah waktu kita untuk berhenti dan melihat kebelakang, merefleksikan perjalanan hidup kita. Ketika merasa sepi janganlah bingung akan kehidupan kita.kita hendaknya berefleksi dan melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita. Setelah kita menyadarinya maka kita menyusun rencana apa yang akan kita lakukan untuk besok. Biarkanlah kamu melewati kesepian itu dan ingatlah bahwa kamu masih memiliki Tuhan yang selalu menyertai kamu. Jadi jangan putus asa dan bingung ketika kamu merasa dunia ini hampa.

Pring wuluh, urip iku tuwuh, aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh.

Kita hidup sebagai mahluk sosial yang saling melengkapi. Dewasa ini banyak dari kita yang hidup sebagai mahluk individualis. Kita menganggap bahwa kita hanya hidup sendiri dan bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Di bulan Ramadhan sering kita lihat para pelajar SMA yang berbagi nasi bungkus pada para pengemis di jalanan untuk berbuka puasa. Atau para pelajar yang mengadakan konser amal yang hasilnya nanti diserahkan ke panti asuhan. Mereka peduli kepada sesama mereka yang berkesusahan. Jika kita hidup dalam kepeduliaan maka tidak akan orang yang hidup dalam kesusahan.

Kita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Kita diciptakan Tuhan dengan kelemahan dan tidak sempurna. Ketika ada yang berkesusahan maka sudah selayaknya kita membantu yang berkesusahan. Kita hendaknya peduli dengan sesama kita jangan bersikap acuh tak acuh pada sesama.

Pring cendani, urip iku wani, wani ngadepi, aja mlayu marga wedi.

Berani berbuat, berani bertanggungjawab itulah sifat seorang ksatria. Hidup jika hanya lari dari masalah sama halnya dengan seorang pengecut. Ketika kita berani melakukan sesuatu, maka kita juga harus berani menghadapi semua resiko atas pilihan kita.

Dewasa ini banyak sekali anak muda yang hanya berani berbuat sesuatu tetapi tidak berani bertanggungjawab. Misalnya banyak sekali problematika tentang remaja yang hamil dan yang menghamili tidak mau bertanggungjawab. Itulah mentalitas pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas segala tindakannya. Namun tidak semua orang seperti itu. Masih banyak orang yang berani bertanggungjawab atas perbuatannya.

Berani berbuat, berani bertanggungjawab. Jangan hanya lari karena takut untuk bertanggungjawab. Bagaimana nasib Indonesia jika banyak orang yang tidak bertanggungjawab? Apakah selamanya negara kita akan penuh kebobrokan karena banyak oknum yang tidak berani bertanggungjawab?

Pring kuning, urip iku eling, wajib padha eling, eling marga Sing Peparing.

Kadang kita diberi tetapi kita lupa untuk bersyukur atas apa yang telah kita terima. Tuhan itu sudah memberikan kepada kita banyak sekali, entah itu sebagai orang miskin atau kaya. Yang jelas Tuhan sudah memberikan kita hidup maka dari itu harus disyukuri.

Tahukah kalian sekolah Mangunan di Kalasan, Yogyakarta dan sekolah informal yang didirikan Romo Mangun di bantaran sungai Code, Yogyakarta? Sekolah itu didirikan untuk membantu anak-anak bantaran Code yang tidak bisa bersekolah. Kita sudah bisa mengenyam ilmu hingga sekarang karena kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk belajar.

Di daerah Ethiopia masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan. Sementara kita sering tidak bersyukur atas makanan yang bisa kita makan. Malahan kita ingin makan yang enak-enak terus tetapi pada akhirnya makanan yang tidak dimakan, dibuang begitu saja. Kita sudah diberi rejeki oleh Tuhan, maka kita hendaknya bersyukur.

Tuhan itu Maha Pemberi. Tuhan itu murah hati. Tuhan telah memberikan segalanya kepada kita: kekayaan alam, pendidikan yang bermutu, dan fasilitas yang lengkap sudah diberikan kepada kita. Maka dari itu, kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan. Jika kita memiliki rejeki berlebih, hendaknya kita berbagi kepada yang berkekurangan. Mari kita bangun generasi muda Indonesia yang penuh syukur.

Daftar pustaka:

Syair lagu Ngelmu Pring oleh G.P Sindhunata, SJ

Endraswara, Suwardi, 2003, Falsafah Hidup Jawa, Yogyakarta, Cakrawala

Suseno, SJ, Franz Magnis, 1984, Etika Jawa, Jakarta, Gramedia

Naskah ini ditulis oleh JB Judha Jiwangga, siswa Seminari Mertoyudan dan merupakan pemenang pertama lomba esai yang diselenggarakan UNICEF

Filosofi Bambu

Sumber:http://www.beritaunik.net/ 29 April 2012

Suatu hari dalam kondisi yang putus asa seseorang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bahkan berhenti dari hubungannya dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasnya. Maka dia pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti” katanya.

Tuhan memberi jawaban yang mengejutkannya. “Lihat ke sekelilingmu”, kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabnya.

Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, dan pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”

“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”

“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ”

“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, yang kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”

“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.

Tuhan berkata, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”
“Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadanya. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi.”

“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyanya. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” dia bertanya.

“Ya.” jawabNya “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu dia pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadapnya dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.

Ps: Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman, kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu, ingatlah No one is perfect, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-tingginya.
(anonim)

Berbisnis dengan Filosofi

Sumber:http://amirfauzi.blogspot.com/2008/08/   

Bambu  Pernah dengar sebuah istilah negeri tirai bambu, yup! Pasti terbayang negeri China. Mengapa mereka menamainya negerinya dengan sebuah pohon, yang sepertinya tidak begitu terlihat istimewanya.

Kita sering melihat pohon bambu saat dalam sebuah perjalanan. Pohon ini seringkali kita lihat dihutan belukar, ngarai, tepi sungai atau didataran rendah yang panas. Kalau dimusim hujan, nampak begitu rimbun menyedapkan mata. Saat musim panas, daunnya sebagaian menguning tatkala rumput sekitarnya terbakar matahari.

Ada beraneka pohon bampu, mulai dari jenis petung, apus, tulup, bambu kuning dan banyak lagi variannya. Nah, mari kita lihat, apa istimewanya pohon bambu ini.

Pohon bambu adalah pohon yang filosofis, yang filosofinya bisa kita pakai dalam kehidupan maupun bisnis. Lao Tse pernah bilang tentang pohon bambu “Sekalipun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegangan, akarnya menghujam ketanah”.

Tanaman bambu akan tumbuh pada empat tahun pertama menanam, tidak ada pertumbuhan signifikan, karena pada empat tahun pertama tersebut bambu memperkuat system pengakarannya kedalam tanah yang dalam. Mencengkeram tanah untuk menopang batang pohon yang semakin meninggi keatas.Setelah pertumbuhan tahun kelima, bambu baru menunjukkan pertumbuhannya keatas yang sangat cepat dan sangat tinggi. Lalu ketika orang menebang pohon bambu itu maka orang hanya dapat memotong dan menggergaji bagian pangkalnya, tapi tidak akan bisa mencabut akarnya.

Pelajaran filosofis yang dapat kita ambil dari bambu dalam bisnis adalah membangun fundamental terlebih dahulu. Misal, membangun kerjasama, memperkuat system, dan sebagainya. Sehingga, sukses dikemudian hari menjadi sukses yang sesungguhnya karena dibangun dengan kesabaran dan kegigihan. Kebanyakan orang kini menginginkan kesuksesan isnta dan tidak sabar dalam menjalani proses dan kegagalan.

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari pohon ini adalah :

1. Bambu adalah tanaman rumput, tapi bambu dapat mengekspresikan diri sedemikain rupa sehingga mampu menghadirkan manfaat. Ini menunjukkan latar belakang tidaklah mempengaruhi kesuksesan seseorang, selama terus berkomitmen untuk sukses.

2. Konon, setelah Hiroshima & Nagasaki dibom, bambu adalah pohon yang pertama kali tumbuh. Ini menunjukkan, tentang betapa pentingnya untuk selalu bangkit dari keterpurukan dan kehancuran. Bambu membuktikan hal itu.

3. Bambu memiliki fleksibilitas tinggi. Jarang dijumpai bambu roboh diterjang badai. Dalam dunia bisnis, penting banget kesehatan mental. Salah satu kematangan mental adalah pribadi yang fleksibel, tidak kaku, berbesar hati, bersabar dan lapang dada. Sikap ini akan menjadi obor disaat gelap menerpa dan disaat terjangan badai menimpa.

Ada baiknya, kini kita belajar kearifan pada sebuah rumpun bambu. Yang seringkali kita lihat keindahannya, jangan hanya mengagumi lambaian rimbun lidah daunnya yang diterpa angin. Mari kita belajar yang lebih esensi, bagaimana pohon bambu mengelola kehidupannya.

Wassalam, Amir Fauzi

Filosofi Bambu

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/ 31 January 2010

1.Sebelum tumbuh akar bambu lebih dulu mengutkan dirinya sendiri, meskipun berakar serabut, pohon bambu tahan terhadap terpaan angin kencang, dengan kelenturannya dia mampu bergoyang bak seorang penari balet, fleksibilitas itu lah bambu. gerak yang mengikuti arus angin …tetapi tetap kokoh berdiri di tempatnya mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup walau penuh cobaan dan tantangan, namun tidak kaku.

2.Akar Bambu memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga dia tidak mudah ptah dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, hikmah yang dapat kita ambil adalah bahwa agar kita mampu berguna baik untuk diri kita sendiri dan orang lain, sehingga akan membuat hidup kita lebih bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan kita.

3.Bambu juga dapat di simbolkan sebagai sebuah siklus hidup manusia, contohnya setelah tunas tumbuh lalu keluar lah rebung, ini mengajarkan bagaimana kita perlu proses untuk menjadi lebih baik, dengan kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam berusaha itu lah yang akan menjadi pintu kesuksesan seseorang, yah walaupun mungkin standar kesuksesan berbeda setiap orang, tapi itu bisa mengajarkan kita bagaimana cara berproses, hidup bukan sesuatu yang instan tapi dia berproses, tinggal bagaimana kita bisa menjadikan proses ini menjadi lebih berguna bagi kita semua.

4.Kemampuan bambu untuk tumbuh ditempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang diantara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan. Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda, sumpit di kawasan Asia Timur seperti jepang dan korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan, ini mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, dimana bumi dipijak, senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita, sesulit apapun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

5.Dari klasifikasinya, bambu tergolong dalam tanaman rumput. Tapi, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya terentang dari 30 cm sampai 30 meter. Ia sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya. Kegunaan dan caranya bambu mengekspresikan dirinya menjadikan bambu sebagai rumput yang berbeda. Dalam kehidupan pun, latar belakang kita sebenarnya bukanlah penentu. Tetapi, bagaimana kita berupaya mengekpresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya, membuat kita menjadi pribadi yang luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: