Adi Murdani

“Bamboo Rafting” Petualangan Primitif Ala Dayak Loksado (KalSel) 

Sumber:  http://aditraveller.blogspot.com/2011/04/

Alkisah zaman dahulu di antara rimbanya hutan tropis pegunungan meratus yang membentengi sebagian wilayah Kalimantan Selatan hiduplah suku dayak bukit yang bermukim di sana. Suburnya tanah pulau Borneo (Kalimantan) menjadikan kawasan tersebut sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat bermukim mereka. Berada jauh di dalam rimbanya hutan pulau Borneo dengan segala berkah hasil alamnya membuat kehidupan suku dayak bukit kawasan pegunungan meratus damai dari gangguan dunia luar. Dahulu mereka hidup terasing jauh di antara gunung dan di dalam hutan belantara….

pemukiman suku dayak

Suku dayak bukit yang merupakan suku asli Kalimantan ini tersebar di beberapa tempat yang berdekatan dengan pegunungan dan hutan di Kalimantan, salah satunya di kecamatan Loksado kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan. Jaraknya kurang lebih lima jam jalur darat dari kota Banjarmasin.

Loksado merupakan daerah pegunungan berhawa sejuk di mana barisan pegunungan meratus dan hutan tropis pulau Kalimantan membentenginya serta di lalui oleh sungai amandit berair jernih yang berasal dari mata air alami yang terdapat di sana. Sebagai salah satu tujuan utama wisata di Kalimantan Selatan, Loksado bukan hanya menawarkan pemandangan alam dan kehidupan suku dayaknya. Tetapi juga menawarkan petualangan berbeda yang hanya ditemukan di sana…

sungai amandit

“Bamboo Rafting” itulah nama petualangannya. Sebuah petualang menyusur sungai amandit yang berjeram sambil menikmati eksotisnya alam Kalimantan dengan menggunakan rakit bambu. Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke kawasan Loksado tanpa mencoba jenis petualangan ini.

bamboo rafting melintasi eksotisnya alam kalimantan

Rakit bambu yang digunakan dalam “bamboo rafting” bahannya berasal dari pohon-pohon bambu yang banyak terdapat di sekitar kawasan Loksado. Setelah dipilih bambu yang kokoh dan kuat kemudian di susun satu persatu dengan jumlah bervariasi antara 12 – 18 buah batang bambu lalu di ikat kuat sampai menjadi sebuah rakit.

hutan bambu di loksado

Dahulu kala masyarakat suku dayak menggukan rakit bambu tersebut sebagai transportasi menuju kota. Mereka melintasi sungai berhari-hari untuk menjual hasil bumi termasuk menjual bambu-bambu tersebut.

Penasaran dengan Bamboo Rafting akhirnya aku putuskan untuk mencoba langsung jenis petualangan primitif ini. Dengan biaya sebesar Rp.200.000,- untuk satu buah rakit bambu (termasuk joki). Satu buah rakit bambu bisa diisi oleh empat orang yaitu tiga orang penumpang dan satu orang joki sebagai pengemudi rakit bambu tersebut. Start dari kecamatan Loksado menuju desa Tanuhi kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) KalSel dengan jarak antara 6 – 8 km dengan waktu tempuh 2 – 3 jam.

joki bamboo rafting

Pertama kali mencoba bamboo rafting ada rasa deg deg an khawatir rakit bambu terbalik maupun ikatan nya lepas karena tertabrak batu-batu sungai yang banyak terdapat di sungai amandit. Tapi itu hanya berlangsung sebentar!!! Setelah beberapa menit mengarungi sungai maka kita akan terbiasa dan siap merasakan sensasinya. Petualangan segera dimulai kawan, Lets Go……

me (baju merah) ketika bamboo rafting

Duduk santai di atas rakit bambu sambil menikmati pemandangan indah yang tersaji di depan mata. Satu per satu hijaunya hutan tropis khas alam Kalimantan cukup membuat segar mata penduduk kota yang jarang menikmati alam. Ditambah gemericik suara sungai dan hewan-hewan liar menciftakan harmonisasi instrument musik alam yang enak buat didengar. Sesekali percikan air sungai amandit yang sejuk membuat diri ini semakin terbius oleh suasananya.

Dari kejauhan ku lihat sebuah ladang perkebunan/pertanian yang letaknya di lereng bukit yang curam. Itulah “Manugal” yaitu sistem berkebun/bertani tradisional masyarakat suku dayak yang letaknya di lereng bukit yang curam. Mereka membuka lahan di lereng-lereng bukit tersebut kemudian menanaminya dengan hasil alam di sana. Entah bagaimana cara mereka melakukannya??? Yang pasti jika dipikir secara logika sangat susah melakukannya tanpa memiliki keahlian khusus. Hanya masyarakat suku dayak yang tahu rahasianya. Hee…..

melewati ladang suku dayak di lereng bukit

Setelah melewati ladang tradisional suku dayak, rakit bambu melintasi perkampungan suku dayak. Nampak terlihat rumah-rumah yang terbuat dari kayu alam. Sesekali juga terlihat ibu-ibu yang mencuci pakaian di sungai dan anak-anak kecil yang asyik bermain air mandi di sungai. Mereka tersenyum ramah juga terlihat beberapa orang yang melambaikan tangan ke pada kami.

Tak beberapa lama kemudian pak joki berkata agar aku menyimpan kamera dan barang-barang berharga lainnya ke dalam plastik kresek yang dibawa karena sebentar lagi rakit bambu akan segera melintasi sebuah jeram yang lumayan besar. Di sinilah sensasi bamboo rafting lebih berasa.

melintasi jeram kecil

Arus sungai amandit semakin deras, rakit bambu pun bergerak lebih cepat. Sekarang kami melintasi jeram!!!!! Detak jantung berdetak lebih kencang. Dan… Woooooooooooooyyyyyyy……semua berteriak kencang ketika rakit bambu sudah melintasi jeram yang dimaksud. Cipratan cipratan air sungai amandit yang jernih dan sejuk menambah nilai lebih sensasi bamboo rafting hari itu. Nikmat sekali rasanya ketika sudah berhasil melewati jeram. Bukannya takut malah kami semua ketagihan ingin segera melewati jeram lagi. Beberapa jeram sudah kami lewati….

Satu setengah jam kemudian rakit bambu kami melintas di kawasan yang berarus tenang. Di sini lah kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan petualangan mengarungi sungai amandit. Waktu istirahat ini juga digunakan joki bamboo rafting yang dari tadi mengayuh rakit bambu untuk memulihkan tenaga. Selagi pak joki beristirahat kami malah asyik bermain mencoba rakit bambu dan tentunya foto-foto narsis. Hahahaha…..

di tempat istirahat sebelum lanjut menyusur sungai

Perjalanan kembali dilanjutkan……
Banyak akitivitas suku dayak sudah kami lihat, pemandangan eksotis alam Kalimantan sudah kami saksikan. Ternyata Nusantara itu sangat indah, kaya dan beragam kawan!!! Bangga aku menjadi warga negara Indonesia.

2,5 jam kemudian kami sudah sampai di desa Tanuhi yang merupakan finish dari Bamboo Rafting. Sebentar lagi petualangan kami menyusuri sungai amandit akan segera berakhir.

finish bamboo rafting

Pak joki merapatkan rakit bambu ke tepi sungai. Itu artinya kami sudah sampai di tujuan dan bamboo rafting sudah selesai. PUASS!!!! Itu yang ku rasa ketika sudah mencoba petualangan primitif mengarungi sungai ala suku dayak ini.

Meskipun bamboo rafting sudah selesai namun petualangan ku di Loksado masih akan berlanjut mencoba mencari keunikan dan masih banyak hal lain yang bisa ditemukan di sini. Sampai bertemu di petualangan selanjutnya dan salam petualang…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: