Berita Bambu Ampel

September 2005

Budi Dayakan Bambu Muda untuk Layani Penjual Lumpia

Sumber:http://www.suaramerdeka.com/  12 September 2005 

MAKANAN khas Semarang yang cukup terkenal adalah lumpia. Makanan itu banyak dijajakan di toko makanan khas, Jalan Pandanaran, Gajahmada, dan di kawasan Pasar Johar Semarang. Lumpia asal Semarang relatif berbeda dari lumpia daerah lain. Lumpia ini terasa lebih enak, terlebih jika disantap selagi masih hangat.

Untuk menghasilkan lumpia yang enak, diperlukan bahan baku yang baik dan racikan bumbu yang tepat. Di antara bahan baku utama yang diperlukan untuk pembuatan lumpia adalah bambu muda.

Tidaklah mudah untuk memperoleh bambu muda yang berkualitas dan enak. Sehubungan dengan itu, sejumlah pedagang lumpia yang cukup besar di Semarang menyempatkan diri “berburu” bambu muda sampai ke Wonosobo. Di daerah pegunungan itu, bambu muda yang berkualitas berasal dari Desa Timbang Kecamatan Leksono.

Banyak petani di Desa Timbang yang sejak puluhan tahun silam mengembangkan pohon bambu. Selain untuk berbagai keperluan, mereka secara khusus mengolah bambu muda untuk sayuran. Bambu muda produksi Desa Timbang pada masa lalu hanya dipasarkan di Wonosobo. Namun kini, produk mereka mulai merambah ke luar daerah.

Slamet Pramudyo (54) yang ditemui Suara Merdeka mengatakan, dirinya sudah menggeluti atau menanam bambu muda sejak 20 tahun silam. Dia menyatakan setiap minggu bisa memanen minimal 50 kg bambu muda. Bambu muda itu dia setorkan atau jual ke pedagang pengepul di desa setempat. Sekarang, harga bambu muda mentah di tingkat petani Rp 1.000 – Rp 1.200/kg.

Menurut Slamet yang juga bekerja sebagai penjaga SD Timbang 1, penghasilan dari bambu muda itu bisa menopang kehidupan keluarganya. Dengan hasil itu pula dia bisa menyekolahkan dua anaknya sampai lulus SMA dan kini sudah berumah tangga semua.

Bambu muda yang baik dan berkualitas, kata Slamet, adalah yang tingginya lebih kurang 20 cm atau baru berumur dua atau tiga hari. Bambu muda yang dibudidayakan adalah jenis bambu “ampel”. Keuntungan membudidayakan bambu ampel, antara lain bisa dipanen tiap hari. Masa panen bambu jenis lain, misalnya welat dan petung relatif lebih lama.

Keluarga Rusmeni sebagai pedagang pengepul bambu muda secara terpisah mengatakan, bambu muda yang mereka kumpulkan itu dicari pedagang lumpia dari Semarang. Para pedagang, secara periodik datang ke Desa Timbang. Rata-rata, dia bisa menjual 1,5 ton/minggu.

Ny Pariyah asal Desa Timbang menyebutkan, tiap hari dia bisa mengumpulkan 300 kg sampai 400 kg bambu muda mentah dari para petani setempat. Bambu muda mentah itu direbus terlebih dahulu dengan air dicampur tawas sampai matang. Selanjutnya, bambu yang sudah matang itu disimpan dalam drum plastik.

“Jika disimpan dengan baik, bambu muda yang sudah matang mampu bertahan hingga beberapa bulan. Warnanya pun tetap putih. Namun bila penyimpanan kurang baik, warna bambu muda itu bisa berubah menjadi kemerahan dan rasanya pun kurang enak,” ungkap Ny Pariyah.

Perempuan muda itu mengaku tidak berani menyetor atau mengirimkan langsung ke luar daerah. Namun dia lebih senang bila pedagang yang datang atau mencari sendiri ke desa. Pada umumnya, pembelian yang dilakukan di desa dilakukan secara tunai. Kini, harga bambu muda yang matang bisa mencapai Rp 2.000-Rp 2.500/kg. (Sudarman-39m)

September 2006 

Pohon Bambu Bermanfaat Untuk Tahan Erosi DAS

Sumber:http://www.merdeka.com/ 15 September 2006

Kapanlagi.com – Peneliti pohon bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Elizabeth A Widjaja mengatakan, pohon bambu memiliki manfaat besar dalam menahan terjadinya erosi di Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Pasalnya pohon bambu memiliki akar tunjang dan akar serabut yang menutupi tanah dan terikat dengan tanah, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi di pinggiran sungai,” katanya di sela-sela acara “Jambalaya 2006” yang diselenggarakan PT Indonesia Power di PLTA Saguling, Kabupaten Bandung, Kamis.

Oleh karena itu ia berharap Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dapat memanfaatkan pohon bambu guna mencegah terjadinya kerusakan lingkungan, seperti erosi di pinggiran sungai.

Dikatakannya, kelebihan lain dari pohon bambu adalah memiliki kemampuan untuk menyerap air dan kuat dari terjangan arus sungai, bahkan dapat menampung air sebagaimana sering digunakan oleh para petani di tanah air.

“Penanamannya sendiri dapat dilakukan di kemiringan lereng pinggiran sungai antara 70 sampai 80 derajat,” katanya seraya menyebutkan bahwa dari pengalaman musibah tsunami di Aceh pada 2004 tampak bahwa pohon bambu kuat dari terjangan gelombang tersebut.

Proses pertumbuhan dari pohon bambu itu sendiri terbilang cepat, asalkan saat penanamannya dilakukan pada musim penghujan, antara November dan Desember saat curah hujan cukup tinggi.

Ia mengatakan, kehandalan dari pohon bambu sebagai penahan terjadinya erosi di pinggiran sungai juga sudah terbukti di Sungai Ayung, Denpasar, Bali.

“Jenis bambu yang dapat digunakan untuk penahan erosi itu di antaranya bambu ampel yang sangat mudah didapatkan di tanah air,” katanya.

Di bagian lain, ia mengemukakan, Indonesia memiliki kekayaan pohon bambu cukup besar dibandingkan negara lainnya, dan saat ini sepuluh persen atau 157 jenis pohon bambu dari total 1.500 jenis pohon bambu di dunia ada di Indonesia.

“Biasanya ada pembedaan antara jenis bambu yang ada di Indonesia bagian barat dengan bagian timur. Bambu di Indonesia bagian barat memiliki batang yang besar, sedangkan di Indonesia bagian timur memiliki batang yang kecil,” katanya.

Dalam acara Jambalaya 2006, PT Indonesia Power melakukan penanaman pohon bambu di DAS Citarum untuk mencegah terjadinya erosi di areal sungai tersebut. (*/lpk)

Januari 2007

Pohon Bambu Penahan Erosi 

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/  15 Januari 2007   

PADA musim penghujan seperti sekarang ini, ancaman tanah longsor harus terus diwaspadai. Lebih-lebih di daerah yang tanahnya mudah bergerak atau retak akibat tiadanya pohon penahan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan suatu solusi dengan menanam pohon bambu, terutama di pinggir sungai yang tanahnya potensial terkena gerusan air (erosi).

Dr Elizabeth A Widjaja, peneliti dari LIPI mengatakan bahwa pohon bambu mempunyai manfaat besar dalam menahan terjadinya erosi di daerah aliran sngai (DAS).

Pasalnya, pohon bambu memiliki akar tunjang dan akar serabut yang menutupi tanah dan terikat dengan tanah, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi di pinggiran sungai.

Dia pun mengharapkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bisa memanfaatkan pohon bambu untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Kelebihan lain dari pohon bambu adalah kemampuannya menyerap air dan kuat menerima terjangan arus sungai. Bahkan dapat menampung air sebagaimana sering digunakan oleh para petani. “Penanamannya dapat dilakukan di kemiringan lereng pinggiran sungai antara 70 sampai 80 derajat,” tutur dia.

Tentang kekuatan bambu sebagai penahan erosi ataupun longsoran, dia ketahui pula dari pengalaman pada musibah tsunami di Aceh pada akhir 2004. Di banyak tempat ditemukan pohon bambu kuat menerima terjangan gelombang air laut yang amat dahsyat yang menewaskan 200 ribu orang lebih. Pohon-pohon bambu itu tetap menancap di tempatnya tumbuh.

Cara Menanam Mudah

Menurut dia, pertumbuhan pohon bambu juga terbilang cepat dan cara menanamnya pun mudah. Asalkan penanamannya dilakukan pada musim penghujan antara November dan Desember, yakni saat curah hujan cukup tinggi.

Selain itu, keandalan pohon bambu sebagai penahan terjadinya erosi di pinggiran sungai juga dia temukan di Sungai Ayung, Denpasar, Bali.

“Jenis bambu yang bisa digunakan untuk penahan erosi, di antaranya bambu ampel. Jenis ampel sangat mudah didapatkan di negeri kita. Jika kita pergi ke desa, hampir dipastikan akan menemukan pohon bambu jenis itu,” ujarnya.

Indonesia memang tercatat sebagai negara yang memiliki kekayaan pohon bambu cukup besar dibandingkan dengan negara lain.

Dewasa ini di Indonesia terdapat sepuluh persen atau 157 jenis pohon bambu dari total 1.500 jenis pohon bambu di dunia. (Silvi-68)

November 2011

DAS Cisadane Ditanami 2.000 Bambu Hejo

Sumber: http://poskota.co.id/24 November 2011 

BOGOR (Pos Kota) – Sekitar 2000 batang Bambu Haur Hejo atau biasa disebut Bambu Ampel siap ditanam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane Kelurahan Cilendek Barat Kecamatan Bogor Barat, Kamis (24/11/).

Penanaman dilakukan untuk mencegah erosi dan mengurangi bahaya banjir menjelang musim penghujan tiba.

Penanaman 2000 batang bambu dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Dinas Pertanian Kota Bogor Lucy Angelia, Kepala Bidang Perkotaan Kementrian Lingkungan Hidup Teddy S. Mahendra dan jajaran muspida Kota Bogor.

Ketua LSM Pemerhati Pembangunan dan Lingkungan Hidup Bogor Moh. Nurman mengatakan bahwa bambu dipilih mengingat bambu memiliki akar yang kuat. Sehingga bambu dapat menahan erosi di sekitar bantaran kali. Panitia memilih bambu karena bambu juga masuk kategori tanaman yang mudah ditanam.

“Apalagi ciri khas tanah sunda adalah pohon bambu. Kita pilih bambu haur hejo,” jelas Nurman.
Lanjut Nurman, upaya yang dilakukan kali ini merupakan salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap kerja pemerintah. Dengan menjaga lingkungan di sekitar Kota Bogor dan sejalan dengan program pemerintah. “Kita tentunya tidak hanya menanam, tetapi juga memantau perkembangan pohon yang ditanam,” lanjut Nurman.

Sekretaris Dinas Pertanian Lucy Angelia menyambut baik upaya penanaman bambu untuk mencegah erosi yang dilakukan hari ini. Menurutnya, langkah tersebut merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan untuk mencegah banjir.

“Penanganan banjir harus dilakukan dari hilir ke hulu. Apa yang dilakukan sekarang merupakan langkah untuk mencegah banjir, dengan memperbaiki daerah di kawasan hulu,” kata Lucy.

Lanjutnya, masyarakat bersama dengan pemerintah harus bersungguh-sungguh melakukan kegiatan semacam ini untuk mengurangi pengrusakan lingkungan. Pemilihan bambu dirasa tepat, karena bambu banyak digunakan untuk mencegah kerusakan tebing sungai karena peningkatan debit air.

Hal senada dikatakan Kepala Bidang Perkotaan Kementrian Lingkungan Hidup Teddy S. Mahendra. Ia menyambut baik upaya yang dilakukan hari ini. Menurutnya, hal ini menunjukkan kerja sama dalam rangka peningkatan kesadaran masyarakat.

Banyaknya bencana alam menunjukkan tanda fungsi lingkungan mengalami penurunan. (Yopi/dms)

Desember 2011

Cegah Erosi, Hulu Sungai Ditanami Pohon Bambu

Sumber: http://brebeskab.go.id/  16 Desember 2011 

PanturanNews (Brebes) – Daerah Aliran Sungai (DAS) Keruhbehet yang ada di Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Brebes, Jawa Tengah, ditanami bibit pohon bambu. Penanaman bambu dimaksudkan untuk memperkuat tekstur tanah di pinggir sungai agar tidak mudah terkikis erosi.

“Penanaman bibit pohon bambu ampel ini sudah lama direncanakan, untuk mencegah terjadi longsor akibat erosi sungai,” kata Kepala Desa Sridadi, Wastomo SPd kepada PanturaNews.Com, Kamis 15 Desember 2011 di lokasi penanaman.

Menurutnya, Sungai Keruhbehet merupakan bagian hulu dan juga salah satu mata air dari Sungai Keruh yang alirannya melintasi Kecamatan Sirampog dan Bumiayu. Sungai Keruhbehet ini melintasi hampir sebagian besar wilayah Desa Sridadi dan sering mengalami erosi yang berdampak terjadinya longsor dan pergerakan tanah. Kondisi itu mengakibatkan rusaknya perumahan warga yang ada di dekat DAS. “Erosi seungai mengakibatkan pergerakan tanah perkampungan dan bangunan rumah serta jalan rusak,” tutur Wastomo.

Dikatakan, penanaman pohon bambu di kanan kiri sungai (kakisu) sepanjang tiga kilometer, mulai dari Dukuh Pengasinan hingga Dukuh Limbangan. Penanaman dilakukan oleh perangkat desa dan warga setempat. “Secara bergiliran kami kerahkan perangkat desa dan warga untuk melakukan penanaman,” ujar Wastono.

Bibit pohon bambu jenis ampel sebanyak 4000 batang yang ditanam merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Kabupaten Brebes. Selain bantuan bibit juga ada bantuan ongkos penanamannya. “Sebelumnya kami mengajukan proposal ke Pemkab melalui Dinas Kehutanan, meminta bantuan bibit bambu,” ungkap Wastomo.

Camat Sirampog, Nono Nartono SIP yang ditemui terpisah mendukung penanaman bambu untuk mencegah erosi sungai tersebut. Diharapkan bibit bambu bantuan dari Pemkab itu bisa tumbuh subur dan memperkokoh tekstur tanah DAS Keruhbehet. “Setelah ditanam selanjutnya juga harus dipelihara agar subur dan bisa mencegah erosi,” katanya.

Penanaman Bambu Ampel Untuk Cegah Erosi

Sumber: http://tabloidberitajatengnews.wordpress.com/ 29 Desember 2011

Jateng News, Brebes

Penanaman pohon bambu dilakukan, Kamis (15/12) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Keruhbehet Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog.

Hal ini dimaksudkan agar tekstur tanah dibantaran sungai tidak mudah erosi. Kepala Desa Sridadi, Wastomo, Spd. kepada wartawan menga-takan penanaman bibit pohon bambu ampel ini sudah lama direncanakan.

Masih kata Wastomo, Sungai Keruhbehet adalah bagian hulu dan mata air dari Sungai Keruh yang alirannya melintasi Kecamatan Sirampog dan Bumiayu.

Sungai Keruhbebet sendiri saat ini rawan longsor. Apalagi tanahnya juga tidak stabil, kondisi ini juga yang menyebabkan rumah warga rusak.

“Erosi sungai mengakibatkan pergerakan tanah perkampungan dan bangunan rumah serta jalan rusak,” tutur Wastomo.

Lebih lanjut Wastomo mengatakan, penanaman pohon bambu di kanan kiri sungai (kakisu) sepanjang tiga kilometer, mulai dari Dukuh Pengasinan hingga Dukuh Limbangan dilakukan oleh perangkat desa dan warga setempat. Sebanyak 4000 batang bibit pohon bambu jenis ampel merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Kabu-paten Brebes.

Sementara itu, Camat Sirampog, Nono Nartono, SIp. menyatakan mendukung dengan kegiatan tersebut. Diharapkan bibit bambu bantuan dari Pemkab itu bisa tumbuh subur dan memperkokoh tekstur tanah DAS Keruhbehet. (Supeno)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: