Saefudin

PERBANYAKAN BAMBU HIAS LEMANG-KUNING (Schyzostachyum brachycladum Kurz) MELALUI STEK BATA NG DAN STEK CABANG

Oleh: Saefudin
Puslitbang Biologi-LIPI, JL. Jakarta-Bogor km 46, Cibinong, Bogor

Download file:  375-1217-1-PB 

ABSTRACT

Exotic lemang – yellow bamboo (Schyzostachyum brachycladum Kurz) usually propagated by separating its rizome from its tools. Present research was conducted to know three rate of its propagation, successful by growing rizom, stem and branch.grafting. We used factorial design with three origins of gtafting criteria (rizom, stem and brunch), each kinds consist of (2, 3 and 4) nodes with fivereplications. As the base propagation, rate growth of interaction between stem grafting materials and 3 nodes was 64,4%.

Key words: vegetative propagation, material grafting, node

PENGANTAR

Perbanyakan tanaman bambu dapat dilakukan melalui stek cabang, stek batang, stek rizom, dan kultur jaringan. Cara perbanyakan yang lazim dilakukan oleh petani dan penggemar tanaman hias saat ini adalah dengan stek rizom. Selain dapat menghasilkan tunas dan anakan yang lebih cepat, stek rizom juga menghasilkan sistem perakaran yang mampu menopang bibit tanaman bambu yang lebih kuat dan lebih cepat tumbuh.

Bambu lemang kuning termasuk salah satu jenis
tanaman hias komersial yang sulit diperbanyak. Dalam percobaan pendahuluan, perbanyakan bambu lemang dengan stek batang menghasilkan prosentase tumbuh yang belum memuaskan karena hanya berkisar antara 10,2-19,5%. Faktor yang menyebabkan bambu ini sulit diperbanyak antara lain ketidakmampuan bahan tanam membentuk akar (Saefudin, 2002).

Pembentukan akar dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar dari bahan stek (Kramer dan Theodore, 1960). Kedua faktor ini bekerjasama saling mempengaruhi sampai membentuk keseimbangan yang paling menguntungkan
untuk pembentukan akar. Faktor yang paling menentukan  adalah genetik, sedangkan faktor lainnya adalah suhu  dan kelembaban tempat tumbuh, media dan hormon penyeimbang (Omura,1967).

Faktor yang mempengaruhi daya pembentukan  akar pada suatu jenis tanaman ketika distek antara lain  tersedianya cadangan makanan, terutama karbohidrat dan keseimbangan hormon dalam bahan stek itu sendiri  (Curtis dan Clair, 1963, Mahstade dan Ernes, 1962). Bahan  stek yang memiliki calon tunas akan memiliki peluang  pembentukan akar lebih baik terutama bila tunas sedang mulai aktif tumbuh. Kondisi bahan yang memiliki hormon  seimbang pengaruhnya lebih nyata dalam merangsang pembentukan akar (Meyer dan Anderson, 1952).

Percobaan perbanyakan melalui stek cabang dan batang  bertujuan untuk mengetahui prosentase tumbuh tunas,  pertumbuhan dan sistem perakaran bambu hingga tingkat keberhasilannya sampai tumbuh menjadi bibit.

BAHAN DAN CARA KERJA

Sebanyak 45 petak lahan untuk uji coba dengan ukuran  masing-masing (1 × 1) m2 disiapkan di lahan percobaan  CSC di Cibinong, Bogor. Stek cabang, batang, dan rizom  (sebagai pembanding) bambu lemang dengan ukuran  diameter 4–5 cm ditanam dengan cara dibenam sedalam  7 cm. Setiap petak percobaan ditanami 5 bahan stek yang  sebelumnya telah direndam dalam perangsang tumbuh akar.  Pada tahap awal penanaman untuk setiap petak diberikan pupuk dasar N-P-K 20 gr dan kompos 2 kg.

Pelaksanaan percobaan dilakukan pada musim  hujan.. Selama percobaan pemberantasan hama penyakit  dengan pestisida tidak dilakukan, hanya menjaga sanitasi.  Pemeliharaan tanaman terutama ditujukan untuk penyiangan dan pemeliharaan kelembaban.

Pertumbuhan vegetatif diamati secara berkala setiap  dua sampai minggu ke-14. Parameter yang diamati meliputi  kelangsungan tumbuh, banyaknya tumbuh tunas, dan  panjang tunas. Sistem perakaran diamati umur 14 minggu  Parameter yang diamati meliputi panjang akar dan jumlah akar.

Analisa statistik yang digunakan dalam percobaan  ini adalah rancangan faktorial dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali.

HASIL

Pertumbuhan Tunas

Prosentase tunas tumbuh dihitung berdasarkan ruas  yang terus tumbuh sampai tanaman siap dipindahkan ke polibag pada minggu ke-14.

Gejala mata tunas mulai tampak pada minggu ke-3 dan  jumlahnya bertambah pada setiap pengamatan Mata tunas  membentuk tonjolan kecil yang dalam perkembangannya  akan tumbuh menjadi tunas. Dari setiap mata tunas akan terbentuk 2–6 tunas tumbuh.

Pada pengamatan ke-5, tunas yang terus tumbuh  tampak stabil namun di pengamatan ke-6 dan seterusnya  sebagian tunas mengering dan mati. Bagian tunas yang  mengering adalah pada stek cabang, terutama di bagian  paling atas dari ruas ke 3 dan 4. Jumlah tunas tumbuh stabil sejak minggu ke-14 dan dipindah ke polibag.

Stek batang dan stek rizom menunjukkan prosentase  hidup tertinggi yaitu antara 41–64% dan 57–87%,  sedangkan stek cabang hanya 14–16%. Jumlah tunas  tumbuh dan panjang tunas pada stek rizom dan batang juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan  stek cabang. Secara statistik perbedaan tersebut sangat nyata (Tabel 1).

Perlakuan jumlah mata tunas 2 dengan jumlah mata  tunas 3 dan 4, masing-masing 41,3%; 64,4%; 65,1% (Tabel  2). Pengaruh yang serupa juga terjadi pada panjang tunas,  tetapi hanya berbeda nyata antara panjang tunas asal 2 mata  tunas dengan 3 mata tunas. Sedangkan panjang tunas antara perlakuan 3 dan 4 mata tunas tidak mencolok.

Cadangan makanan pada stek rizom dan stek batang  lebih banyak, ukuran steknya lebih panjang dan lebih berat  dibanding stek cabang. Pada stek batang, cadangan makanan  terutama karbohidrat berkisar antara 14,20–15,02%, lemak 3,13–3,57% dan protein 0,20–0,43%.

Sistem Perakaran

Pengamatan awal di minggu ke-2 belum tampak adanya  gejala tumbuh akar pada stek cabang, batang maupun rizom. Yang baru muncul hanya mata tunas.

Sebagian besar bahan stek baru mulai tumbuh akar  di minggu ke-4 dengan jumlah akar berkisar antara  1–3 dan panjang 0,4–3,1 cm. Pada pengamatan ke-6 dan  ke-7 diketahui bahan stek yang tidak tumbuh akar telah mengering dan akhirnya mati.

Pada minggu ke-14 yaitu saat menjelang pemindahan  bibit ke dalam polibag, hasil pengukuran bibit lemang  kuning menunjukkan peningkatan dengan jumlah akar  rata-rata menjadi 12,5 cm dan panjang akar rata-rata  3,90 cm (Tabel 3). Akar buku atau adventif/nodal muncul  pada bagian bawah buku berjumlah antara 3–8 dan panjang  7–11 cm, banyak bercabang tetapi tidak sehalus akar seminal.

PEMBAHASAN

Keberhasilan bahan stek membentuk tunas sangat  ditentukan oleh bahan pembangun, antara lain cadangan karbohidrat yang terdapat pada bahan stek. Bahan stek  rizom dan batang memiliki cadangan karbohidrat yang  cukup, sehingga lebih berhasil dibanding stek cabang.  Selain itu penentuan tumbuhnya tunas sangat ditentukan  keseimbangan hormon tumbuh, terutam hormon yang  dihasilkan oleh daun dan tunas itu sendiri (Curtis dan Clair, 1963, Shimazu dan Tajima, 1972).

Keberhasilan stek rizom dan stek batang dalam  prosentasi tumbuh dan pertumbuhan tunas selain dipengaruhi  oleh faktor dari bahan stek juga karena kemampuannya  dalam membentuk akar. Banyaknya mata tunas aktif yang  didukung hormon tumbuh, khususnya auxin yang ada  dalam bahan stek juga sangat mendukung pertumbuhan  stek batang dan rizom, sehingga memberi kesempatan  terbentuknya akar yang lebih banyak (Meyer dan Anderson,  1952). Faktor hormon dan bahan stek sangat menentukan  keberhasilan dalam pemecahan tunas tumbuh, terutama  bila perakaran sudah berkembang (Omura,1967, Saefudin,  2007). Tunas yang sedang aktif tumbuh memiliki hormon  yang seimbang, sehingga memacu pembentukan akar (Curtis dan Clair, 1963, Mahstade dan Ernes, 1962).

Banyaknya mata tunas pada stek batang sangat  menentukan jumlah tunas tumbuh. Pengaruh ini serupa  dengan percobaan perbanyakan jenis bambu yang lain,  sebagai contoh bambu apus dan bambu ampel.  Perbanyakan bambu lemang asal stek batang pada  percobaan ini lebih berhasil dibandingkan percobaan  pendahuluan. Pada percobaan pendahuluan tingkat  keberhasilan 2 ruas (internode) tanpa pemberian perangsang  akar hanya berkisar antara 10,1-19,5% atau rata-rata 15,7%.  Penggunaan stek batang 3 ruas dengan ditambahkan hormon  perangsang akar dinilai lebih meningkatkan prosentase tumbuh hingga mencapai 64,4%.

Keunggulan perbanyakan bambu lemang melalui stek  batang dibanding stek cabang adalah ukuran bibit yang  dihasilkan lebih besar, 3.bibit dapat langsung ditanam di  lapangan ketika dipisahkan dari ruas-ruas yang ditumbuhi  tunas, memiliki sistem perakaran yang lebih panjang dengan  percabangan yang lebih banyak tanpa melalui perlakuan khusus.

Interaksi jumlah mata tunas dan asal bahan stek,  berkorelasi sangat nyata pada pertumbuhan bibit, khususnya  dalam prosentase tumbuh stek dan banyaknya tunas.  Interaksi 3 dan 4 mata tunas dengan stek batang dan rizom  cenderung memberi pengaruh lebih positif, khususnya pada  prosentase tumbuh dan jumlah tunas yaitu 64,5 dan 85,6%.  Sebaliknya interaksi jumlah mata tunas dengan stek cabang  bambu lemang tidak berpengaruh nyata yaitu hanya 15,9%  (Tabel 2). Keberhasilan persentase tumbuh stek batang  dengan 3 mata tunas juga terjadi pada jumlah tunas umbuh  dan panjang tunas dengan masing-masing 3,2 cm dan  14,9 cm, dan pada 4 mata tunas adalah 3,6 cm dan 14,9 cm.

Dibandingkan dengan interakasi stek cabang, maka  keberhasilan stek batang menjadi sangat mencolok. Hal ini  berhubungan dengan kemampuannya membangun sistem  perakaran, terutama setelah tumbuh tunas. Hasil yang  serupa juga terjadi pada perbanyakan bambu jenis lain yaitu  betung dan apus. Perbanyakan dengan bahan stek batang  lebih berhasil dibandingkan dengan bahan stek cabang (Saefudin, 2002, 2007).

Bila jumlah dan panjang akar yang tumbuh minimal,  maka peluang tunas untuk terus tumbuh menjadi berkurang.  Hal ini sering dialami bibit yang berasal dari 2 mata  tunas. Sistem perakaran menjadi sangat penting dalam  perbanyakan dengan stek karena sangat erat kaitannya  dengan kelangsungan tumbuh bibit tersebut. Tanaman  bambu tidak memiliki akar tunggang sehingga untuk  tumbuh optimal perlu sistem perakaran yang panjang,  rapat dan dalam jumlah yang banyak. Dengan kondisi  yang demikian menurut Nanavaty (1965) kemampuan akar  menyerap air dan hara dari dalam tanah akan lebih baik.  Kemampuan stek batang dan rizom untuk membentuk  akar lebih banyak dibandingkan stek cabang. Secara visual  stek rizom lebih padat sistem perakarannya dan lebih tahan bila dipindahkan ke lapangan.

Stek rizom menghasilkan prosentase tumbuh yang  terbaik, khususnya pertumbuhan tunas dan sistem perakaran.  Sedangkan perbanyakan dengan bahan stek batang, lebih  efisien karena setiap buku dapat diperbanyak lagi.dengan cara memisahkan setiap ruas.

Asal bahan stek dan banyaknya mata tunas sangat  mempengaruhi kemampuan tumbuh dan pertumbuhan stek lemang kuning.

Banyaknya mata tunas pada setiap bahan stek berkorelasi  dengan persentase tumbuh, jumlah tunas tumbuh dan pertumbuhan akar.

Perbanyakan bambu lemang dengan bahan stek  batang lebih efisien karena dapat diperbanyak dan tanpa membongkar rumpun.

KEPUSTA KAAN

Curtis OP and Clair DG, 1963. An Introduction to Plant Physiology,  Mc. Graw Hill Book Co. Inc, New York, Toronto, London, 752.

Kramer PY and Theodore TK, 1960. Physiology of Trees,  McGraw- Hill Book Co., New York, Toronto, London, 634.

Mahstade JP and Ernes S, 1962. Plant Propagation. John Willey and Son, New York, 413.

Meyer BS and Anderson DB, 1952. Plant Physiology, Manuren Co. Tokyo, 784p.

Nanavaty MM, 1965. Silk from Grub to Glamour, Paramount Publishing House, Bombay, 114–116.

Omura S, 1967. Introduction of Silkworm Rearing, The Japan Silk Associations, Inc., Tokyo.

Saefudin, 2002. Perbanyakan Vegetative Lima Jenis Bambu  Setelah Perlakuan Indole Butiric Acid, Laporan Teknik Puslit Biologi, 89–92.

Saefudin, 2007. Percobaan Budidaya Bambu dalam Sistem  Reklamasi Lahan Marjinal DAS Ciapus Hulu, Seminar  Nasional. Mapeki X, Pontianak, 162–167.

Shimazu M and Tajima J, 1972. Handbook of silkworm rearing The Japan Silk Associations, Inc. Tokyo.

One Response to “Saefudin”

  1. mazmur Says:

    keren bro, tugas selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: