Gusti Made Oka

CARA PENENTUAN KELAS KUAT ACUAN BAMBU PETUNG

Oleh: Gusti Made Oka 

Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Palu

“MEKTEK” TAHUN VI NO. 18 JANUARI 2005

Download file: 05-gusti-made-oka-so-edit-mei-2005  

Abstract

Wood use in civil buildings has shown increasing demand whether for structural or non structural means. The demand itself can not be fulfilled because on the lack of lumber woods in large diameter. On the other hand, bamboo has not been optimally exploted althougth research results have shown that bamboo has strength and better performance compared to other building materials. This research was aimed to reveal the physical and mechanical properties of bamboo Petung. Preliminary research was made the physical and mechanical properties specimens bamboo Petung, which following the ISO 3129-197 standard test method. The result experiment showed that bamboo modulus of elasticity (MOE) obtained was 13257.65 MPa,
therefore could be classified as strength class E13. The result of mechanical way test showed that modulus of rapture(MOR), the tensile strength, compression strength parallel, compression strength upright, the shear strength were 29 MPa, 27 MPa, 33 MPa, 11 MPa and 5 MPa.

Keyword: bamboo Petung, modulus of elasticity, modulus of repture

1. Pendahuluan

Bambu merupakan salah satu hasil hutan non kayu dari jenis tanaman rumput-rumputan yang memiliki karakteristik dasar yang tidak jauh berbeda dengan kayu, bahkan dalam beberapa hal memiliki keunggulan dan karakteristik yang khas yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pengganti atau bahan baku alternatif dalam industri pengolahan yang berbasis kayu. Selain itu penggunaan jenis-jenis non kayu akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku kayu sehingga dapat mengurangi laju degradasi hutan dan menunjang kelestarian hutan.

Beberapa sumber bahan baku baru telah diperkenalkan dan mulai dimanfaatkan, misalnya jenis kayu cepat tumbuh (fast growing) dari hutan tanaman, jenis kayu kurang dikenal (lesser known/used species) dan penggunaan jenis non kayu yang memiliki karakteristik dasar yang mirip dengan kayu. Penggunaan bahan baku industri dan dan jenis non kayu yang kurang diperhatikan dan masih sangat terbatas dalam penggunaannya, Pada hal jika ditinjau lebih mendalam beberapa jenis non kayu memiliki karakteristik dasar yang tidak jauh berbeda dengan kayu, bahkan dalam beberapa hal memiliki keunggulan dan karakteristik khas yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pengganti atau bahan baku alternatif dalam industri pengolahan berbasis kayu. Selain itu penggunaan jenis-jenis non kayu akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku kayu sehingga dapat mengurangi laju degradasi hutan dan menunjang kelestarian hutan.

Bambu merupakan salah satu hasil hutan non kayu dan jenis tanaman rumput-rumputan yang tumbuh hampir di seluruh dunia baik di daerah yang beriklim panas maupun beriklim dingin. Keberadaan bambu dapat dikelompokan kedalam 75 genera dan 1250 jenis bambu tumbuh didunia Morisco, 1995, hal 13-15) dalam Nassend (1995) melaporkan terdapat 56 jenis bambu yang asli tumbuh di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan . Komunitas peneliti internasional telah mengidentifikasi 10 jenis prioritas untuk dikembangkan dimana empat jenis diantaranya bambu asli dari Indonesia.

Bila dibandingkan dengan jenis bambu yang ada, bambu petung lebih memiliki peluang untuk menjadi bahan baku pembuatan hasil produksi laminasi. Bambu petung memiliki dinding batang yang relatif lebih tebal bila dibandingkan dengan jenis bambu lainnya yaitu mencapai 10 – 15 mm. Selain itu bamboo petung telah lama menjadi salah satu jenis yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai material konstruksi. Potensi bambu petung di Indonesia cukup besar, hal ini dapat dilihat dari penyebaran bambu petung di wilayah Indonesia meliputi daerah dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 2000 m dari muka laut dan mecakup  pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi (Dransfield, 1980, hal 126).

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas kuat acuan bambu terhadap sifat fisika dan mekanika bambu petung meliputi kadar air (moisture content), kuat tekan (compressive strength), kuat lentur (modulus of rapture), modulus elastisitas (modulus of elasticity) dan kuat geser (shearing strength). Sehingga rekomendasi yang diberikan tentang sifat fisika dan mekanika harus didukung dengan data yang valid dan menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaan bamboo petung sebagai material konstruksi.

1.2 Tujuan penelitian

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini meliputi (a) untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika bambu petung (b) untuk mengetahui kelas kuat acuan dalam aplikasi sebagai material konstruksi.

1.3 Manfaat penelitian

Melalui penelitian diharapkan dapat (a). menumbuhkan kreatifitas dengan menggali dan mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada untuk ditingkatkan dayaguna dan nilai ekonominya (b). memberi peluang sumber bahan baku dan memanfaatkan bahan baku non kayu yang memiliki karakteristik dasar seperti kayu (c). memberi informasi tentang kelas kuat acuan bambu petung sebagai material konstruksi

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Sifat bambu secara umum

Bambu yang dikenalo secara umum merupakan tanaman yang dibudidayakan ataupun yang tumbuh secara alami dalam ilmu botani merupakan anggota dari sub famili rumputrumputan (Graminae) dan tersusun ruas-ruas sepanjang batangnya. Beberapa keunggulan yang dimiliki bambu antara lain adalah mudah ditanam, pertumbuhannya cepat, tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus, mempunyai ketahanan terhadap berbagai gangguan, rumpun bambu yang sudah terbakar masih bisa hidup dan potensial sebagai bahan pengganti kayu.

Dilihat darisifat mekanikanya bamboo mempunyai beberapa kelebihan antara lain adalah kuat tariknya mendekati dua kali kuat tarik baja, momen kelembamannya besar karena penampangnya berbentuk bulat, bahaya terhadap tekuk lokal cukup rendah dengan adanya ruas-ruas (nodia) dan sifat bambu yang ringan dan lentur, jika dirangkai antar batang-batangnya maka akan dapat diperoleh struktur yang mempunyai ketahanan terhadap gempa (Janssen, 1987 : 84-86).

Kekuatan bambu sebagai bahan struktur bangunan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain adalah umur bamboo saat dipotong, lingkungan dimana bamboo tumbuh yaitu bambu yang tumbuh dilereng gunung mempunyai kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bambu yang ditanam di daerah lembah, posisi atau letak potongan (pangkal, tengah dan ujung). Bambu mempunyai kekuatan tarik sejajar serat yang tinggi namun kekuatan gesernya rendah (Janssen, 1991 : 94-101).

Penelitian lebih lanjut oleh Morisco (1999:14-16) memperlihatkan kekuatan tarik bambu dua kali kekuatan tarik baja. Selain itu, disarankan untuk menilai kekuatan bambu bukan dari letak potongan pangkal, tengah dan ujung, namun didasarkan pada ketebalan sehingga diperoleh hasil yang konsisten. Untuk menjelaskan kurang konsistennya kekuatan bambu perlu diperhatikan beberapa hal tentang karakteristik bamboo. Bagian terkuat dari bambu adalah kulitnya. Kekuatan kulit ini sangat jauh lebih tinggi dari pada kekuatan bambu bagian dalam. Tebal kulit relatif seragam sepanjang batang, sedangkan tebal bamboo sangat bervariasi dari pangkal sampai ujung. Oleh karena itu bamboo yang tipis mempunyai porsi kulit besar, sehingga mempunyai kekuatan rata-rata menjadi tinggi, sedangkan bambu yang tebal mempunyai porsi kulit luar yang tipis sehingga mempunyai kekuatan rata-rata yang rendah. Sehingga untuk menilai kekuatan bambu sebaiknya berdasarkan ketebalannya, sehingga diperoleh hasil yang konsisten.

Selama ini penggunaan bambu sebagai material konstruksi dapat dilihat pada struktur bangunan berupa kap, kuda-kuda, jembatan, dinding penahan tanah, saluran air dan sebagainya. Permasalaha yang umumnya dihadapi dalam penggunaan bambu adalah teknik penyambungan dengan memperhatikan kekuatan geser yang rendah. Teknik penyambungan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tali maupun pasak, bahkan sekarang mulai dikembangkan teknik penyambungan menggunakan pelat baja dan bahan pengisi kayu maupun beton.

2.2 Sifat bambu petung

Bambu petung dalam ilmu botani dapat dikelompokan kedalam divisio spermatopyta, sudivisio angiospermae, kelas monococtyledoneae, ordo poales, famili poaceae, genus bambusae, subgenus dendrocalamus dan spesies dendrocalamus asper (Pulle, 1952 dalam Setyadi, 2002: 15-16).

Bambu petung (Dendrocalamus sp) berbagai daerah di Indonesia dikenal dengan nama tiying petung, buluh petung, pring petung, awi petung, buluh swanggi, jajang petung, au petung, bulo lotung dan lainnya (Morisco, 1999:2-4). Bambu jenis ini mempunyai rumpun agak rapat, dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 2000 m diatas permukaan laut. Pertumbuhannya cukup baik khususnya daerah yang tidak terlalu kering. Warna kulit batang umumnya warna hijau kekuningkuningan. Panjang batang dapat mencapai antara 10 sampai 14 meter, panjang ruas berkisar antara 40 sampai 60 centimeter dengan diameter antara 6 sampai 15 centimeter dan tebal dindingnya antara 10 sampai 20 milimeter.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Morisco (1999:6-8) kekuatan tarik rata-rata daalam keadaan kering oven bambu petung adalah 1900 kg/cm 2 (tanpa buku) dan 1160 kg/cm 2 (dengan buku). Ditinjau dari posisi potongan bambu, kekuatan tarik rata-rata bambu petung pada bagian pangkal 2278 kg/cm 2 , bagian tengah 1770 kg/cm 2 dan bagian ujung 2080 kg/cm2 . Berdasarkan pengujian kuat tekan rata-rata bamboo petung bulat pada bagian pangkal 2769 kg/cm2 , pada bagian tengah 4089 kg/cm2 dan pada bagian ujung 5479 kg/cm2

2.3 Kelas kuat acuan

Berdasarkan SNI-2002 untuk kayu, penentuan kelas kuat acuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kuat acuan berdasarkan atas pemilahan secara mekanis dan kuat acuan berdasarkan pemilahan secara visual.

a. Kuat Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara Mekanis

Pemilahan secara mekanis dimaksudkan  untuk mendapatkan modulus elastisitas lentur harus  dilakukan dengan mengikuti standar pemilahan  mekanis yang baku. Berdasarkan modulus  elastisitas lentur yang diperoleh secara mekanis,  kuat acuan lainnya dapat diambil mengikuti Tabel  2.1. Kuat acuan yang berbeda dengan Tabel 2.1  dapat digunakan apabila ada pembuktian secara  ekperimental yang mengikuti standar-standar  eksperimen yang baku. Menurut Blass dkk  (1984:A4/16) untuk menentukan modulus  elastisitas lentur pada kadar air 15% dengan factor  koreksi 1,5. Setelah nilai modulus elastisitas lentur  diperoleh, maka kuat acuan lain yaitu kuat lentur  (Fb), kuat tarik sejajar serat (Ft), kuat tekan sejajar  serat (Fc), kuat geser (Fv) dan kuat tekan tegak lurus serat ( c⊥ F ) dapat diambil pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Kuat acuan (MPa) berdasarkan pemilahan secara mekanis
Kode
Mutu
Modulus
Elastisitas
Lentur (Ew)
Kuat
Lentur
(Fb)
Kuat Tarik
Sejajar Serat
(Ft)
Kuat Tekan
Sejajar Serat
(Fc)
Kuat
Geser
(Fv)
Kuat Tekan
Tegak Lurus
Serat ( c⊥ F )
E26 26000 71 65 54 6.9 24
E25 25000 67 63 53 6.8 23
E24 24000 64 60 52 6.7 22
E23 23000 61 57 50 6.5 21
E22 22000 58 54 48 6.4 20
E21 21000 54 51 47 6.2 19
E20 20000 51 48 45 6.1 18
E19 19000 48 45 43 5.9 17
E18 18000 45 42 41 5.7 16
E17 17000 41 39 40 5.6 15
E16 16000 38 36 39 5.4 14
E15 15000 35 33 36 5.3 13
E14 14000 32 30 35 5.1 12
E13 13000 29 27 33 5.0 11
E12 12000 25 24 31 4.8 11
E11 11000 22 21 29 4.7 10
E10 10000 19 18 28 4.5 9
E9 9000 16 15 26 4.3 8
E8 8000 12 12 24 4.2 7
E7 7000 9 9 22 4.1 6
Cara Penentuan Kelas Kuat Acuan Bambu Petung
“MEKTEK” TAHUN VI NO. 18 JANUARI 2005 102
b. Kuat Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara
Visual
Pemilahan secara visual harus mengikuti
standar pemilahan secara visual yang baku. Apabila
pemeriksaan visual dilakukan berdasarkan atas
pengukuran berat jenis, maka kuat acuan untuk
bambu berserat lurus tanpa cacat dapat dihitung
dengan menggunakan langkah-langkah sebagai
berikut :
1. Menentukan kerapatan bambu (ρ )
Kerapatan pada kondisi basah (berat dan
volume) diukur pada kondisi basah, tetapi
kadar airnya lebih mkecil dari 30% dan
dihitung mengikuti prosedur yang baku.
Gunakan satuan kg/m3 untuk ρ .
2. Kadar air (m〈 30%)
Kadar air dapat diukur menggunakan prosedur
yang baku.
3. Menentukan berat jenis kayu pada kadar air
m% (Gm) dengan rumus :
[1000 (1 /100 )]
G m + m
=
ρ ……………………..(1)
4. Menetukan berat jenis dasar ( b G ) dengan
rumus:
[ ] (30 ) /30
1 0.265. .
Gb a m
aG
G
m
m → = −
+
=
………………………..…………………(2)
5. Menentukan berat jenis pada kadar air 15%
( 15 G ) :
[ ] b
b
15 1- 0.159 G
G
G = ……………………(3)
6. Menentukan kuat acuan berdasarkan berat jenis
pada kadar air 15% ( 15 G ):
􀂃 Modulus elastisitas lentur Ew (MPa):
0.7
15 Ew = 16.500 G …………..…….(4)
􀂃 Kuat lentur Fb (kPa):
1.13
b 15 F =17 .130 G …………………….(5)
􀂃 Kuat tarik sejajar serat Ft (kPa ):
0.89
t 15 F = 7.600 G ……………………..(6)
􀂃 Kuat tekan sejajar serat Fc (kPa):
0.89
t 15 F =7.600G ……………………………….(7)
􀂃 Kuat geser sejajar serat Fv (kPa):
1.13
v 15 F = 2.190G …………………………(8)
􀂃 Kuat tekan tegak lurus serat c⊥ F (kPa)
2.09
c 15 F = 2.160 G ⊥ ………………………..(9)
3. Metode penelitian
3.1 Ruang lingkup penelitian
Pada penelitian ini meliputi pengujian
kadar air, kuat tarik, kuat tekan, kuat lentur,
modulus elastisitas dan kuat geser balok laminasi
bambu Petung. Pengambilan bahan uji dilakukan
secara acak dan pengambilan bagian bambu yaitu
pangkal, tengah dan ujung. Pengamtan dan
pengambilan sample bambu mengenai umur bambu
dilakukan secara visual.
3.2 Bahan dan alat
Bambu yang dipergunakan dalam
penelitian ini adalah bambu Petung
(Dendrocalamus sp) diambil pada bagian pangkal,
tengah dan ujung. Penanganan pengeringan
dilakukan didalam ruangan melalui pengeringan
udara dengan cara menyusun bamboo secara
vertikal.Proses pengeringan secara manual ini
dilakukan kurang lebih satu bulan, sebelum
dilakukan pengeringan dilakukan dengan oven.
Peralatan yang dipergunakan untuk
pengujian kadar air mengunakan oven dengan
merek Memmert Gmbh, D8540 Schwabach Western
Germany. Untuk pengujian sifat mekanika bambu
Petung menggunkan UTM (Universal Testing
Machine) dengan merek United Model SFM-30 seri
989540 dengan kapasitas 13 ton.
Ukuran dan jumlah benda uji untuk
pengujian sifat fisika dan mekanika bambu Petung
mengikuti standar ISO (International Standard
Organization) meliputi benda uji kadar air,
kerapatan, tekan sejajar serat, tekan tegak lurus
serat, tarik sejajar serat, lentur, modulus elastisitas
dan geser sejajar serat. Benda uji sifat fisika dan
mekanika bambu Petung yang lengkap dapat dilihat
dalam Tabel 3.1.
3.3 Prosedur penelitian
Penyiapan bambu dilakukan dengan
mengambil bambu yang telah berumur 3 tahun
setelah ditebang dibagi-bagi menjadi ukuran
panjang 120 cm. Kemudian bambu dibuat dalam
bentuk bilah dan dibuang kulit luarnya dengan lebar
bilah 2,5 cm. Untuk mencapai kering dengan kadar
air 12% dilakukan dengan mendudukan bilah kayu
secara vertical didalam ruang tidak kena matahari
lansung.
Bilah-bilah bambu Petung dilabur dengan
perekat urea formaldehyde sesuai dengan berat
terlabur yang direncanakan dengan system MDGL.
Cara Penentuan Kelas Kuat Acuan Bambu Petung
“MEKTEK” TAHUN VI NO. 18 JANUARI 2005 103
Untuk meratakan perekat dipermukaan bambu
digunakan skap. Bilah-bilah tersebut disusun
dengan arah sejajar serat dengan bentuk balok yang
terdiri dari empat lapisan bilah bamboo dengan tiga
garis perekatan. Selanjutnya balok tersebut
dikempa dingin dengan besar tekanan sesuai
dengan yang direncanakan, kemudian diklem
selama 24 jam. Setelah klem dibukakemudian balok
dikeringkan selama kurang lebih 7 hari agar
terbentuk ikatan yang lebih kuat. Balok laminasi
kemudian dilakukan finishing dengan
menggunakan mesin planer seperti bentuk akhir
benda uji. Balok laminasi selanjutnya dibentuk
menjadi benda uji sifat fisika dan mekanika yang
dibuat mengikuti standar ISO.
4. Analisis dan Pembahasan
4.1 Kadar air
Pada pengujian kadar air pada sampel
bamboo petung yang diamati berkisar antara
12.11% sampai 13,39%, dengan kadar air rata-rata
12.63%. Sedangkan pemeriksaan kadar air dengan
menggunakan moisture meter menunjukkan angka
rata-rata sebesar 14%, dengan demikian berarti
ketelitian alat cukup baik untuk dipergunakan untuk
menentukan kadar air benda uji tanpa perlu
diadakan faktor koreksi. Hasil lengkap hasil
pengujian kadar air bamboo petung dapat dilihat
pada Tabel 4.1. Dengan demikian berarti kadar air
benda uji telah sesuai dengan syarat-syarat
perencanaan yakni kondisi kering dengan kadar air
setimbang 6% sampai 16% untuk kayu yang
digunakan untuk konstruksi (LPMB, 1961:13).
4.2 Kerapatan
Kerapatan sampel benda uji bambu petung
yang diamati berkisar antara 0.770 gr/cm3 sampai
dengan 0.876 gr/cm3 dengan nilai rata-rata 0.818
gr/cm3 . Hasil lengkap hasil pengujian kadar air
bambu petung dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 3.1 Benda uji sifat fisika dan mekanika
No. Jenis benda uji Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kerapatan dan kadar air
Tekan sejajar serat
Tekan tegak lurus serat
Lentur (MOR) dan modulus elastisitas (MOE)
Tarik sejajar serat
Geser sejajar serat
3
3
3
3
3
3
Tabel 4.1 Kadar air bambu petung
No. Kode
Benda Uji
Ukuran Penampang
Volume
(cm3 )
Berat Kadar
Air
Lebar
(cm)
Tinggi
(cm)
Panjang
(cm)
Awal
(gram)
Akhir
(gram) (%)
1. FBP-1 2.027 0.871 2.325 4.1048 2.88 2.54 13.39
2. FBP-2 1.971 0.903 2.263 4.0277 2.87 2.56 12.11
3. FBP-3 1.927 1.091 2.290 4.8144 3.81 3.39 12.40
Rerata 12.63
Tabel 4.2 Kerapatan bambu petung **
No. Kode
Benda
Uji
Ukuran Penampang Volume
(cm 3 )
Berat Kera-
Patan
(gr/cm 3 )
Lebar
(cm)
Tinggi
(cm)
Panjang
(cm)
Awal
(gram)
Akhir
(gram)
1. FBP-1 1.827 0.771 2.125 2.993 2.96 2.42 0.808
2. FBP-2 1.571 0.803 2.063 2.603 2.64 2.28 0.876
3. FBP-3 1.627 0.901 2.090 3.064 3.12 2.36 0.770
Rerata 0.818
** pada kadar air rerata 12.63%
Cara Penentuan Kelas Kuat Acuan Bambu Petung
“MEKTEK” TAHUN VI NO. 18 JANUARI 2005 104
Tabel 4.3 Hasil pengujian sifat mekanika bambu petung **
No.
Benda Uji
Sifat Mekanika
Tekan //
(F ) C
Tekan ⊥
(F ) C⊥
Tarik //
(F ) t
Geser //
(F ) V
Lentur
(F ) b
Elastisitas
(E ) W
(MPa) (MPa) (MPa) (MPa) (MPa) (MPa)
1. 50.11 45.11 421.44 8.06 110.79 15099.406
2. 41.80 46.74 409.51 6.98 98.38 11394.589
3. 58.06 61.33 375.58 7.83 177.23 14744.994
50.29 51.06 402.18 7.62 128.80 13746.330
** pada kadar air rerata 12.63%
4.3 Sifat mekanika
Dari hasil pengujian bamboo petung
terhadap sifat mekanika bahan, maka diperoleh
hasil yang disajikan dalam Tabel 4.3.
4.4 Penentuan Kuat acuan Bambu petung
a. Berdasarkan pemilahan secara mekanis
Pemilahan secara mekanis merupakan
penentuan kelas kuat acuan berdasarkan nilai
elastisitas lentur yang diperoleh melalui
pemgujian mekanis. Menurut Blass dkk
(1984:A4/16) untuk menentukan modulus
elastisitas lentur pada kadar air 15% dengan
faktor koreksi 1.5, maka diperoleh nilai
modulus elastisitas lentur ( w E ) sebesar
13257.65 Mpa. Berdasarkan Tabel 5.1 SNI-
2002 menunjukkan bahwa bambu petung
sebagai bahan penelitian diklasifikasikan ke
dalam kelas kuat acuan E13, dengan nilai-nilai
standar sebagai berikut yaitu kuat lentur (F ) b =
29 MPa, kuat tarik sejajar serat (F ) t = 27 MPa,
kuat tekan sejajar serat (F ) c = 33 MPa, kuat
geser V (F ) = 5,0 MPa, kuat tekan tegak lurus
serat (F ) C⊥ = 11 MPa.
b. Berdasarkan pemilahan secara visual
Penentuan kelas kuat acuan berdasarkan
pemilahan secara visual mengikuti SNI-2002
pasal 5.2 dilakukan berdasarkan pengukuran
berat jenis, maka kuat acuan bambu berserat
lurus tanpa cacad dapat dihitung dengan
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
􀂃 Kerapatan bambu petung ( ρ ) = 818 kg/m3
􀂃 Kadar air bambu petung (m) = 12.63%
􀂃 Berat jenis bambu petung ( m G ) pada kadar
air 12.63%
[ ] [ ] 0.726
1000(1 12.63/100)
818
1000(1 /100)
Gm =
+
=
+
=
m
ρ
􀂃 Berat jenis dasar bambu petung ( b G ):
[ ] 0.579
30
30 12.63
30
30
1 0.265.aG
G G
m
m
b =

=

→ =
+
= a m
[ ] 0 .653
1 0.265 (0.579) (0.726)
0.726 =
+
=
􀂃 Berat jenis bamboo petung pada kadar air
15% (G ) 15 :
[ ] [ ] 0.729
1 0.159(0.653)
0.653
1-0.159G
G
G
b
b
15 =

= =
􀂃 Estimasi kuat acuan berdasarkan berat jenis
bambu petung pada kadar air 15% (G ) 15
untuk berbagai sifat mekanika bambu petung
adalah sebagai berikut :
o Modulus elastisitas lentur
(E ) 16500 (0.729 )0.7 13.224 ,92 MPa
w = =
o Kuat lentur:
(F ) 17130(0.729)1.13 11.985,04kPa 12MPa
b = = =
o Kuat tarik sejajar serat
(F ) 7600(0.729)0.89 5736.42kPa 5.7MPa
t = = =
o Kuat tekan sejajar serat
(F ) 7600(0.729)0.89 5736,42kPa 5.7MPa
c = = =
oKuat geser sejajar serat
(F ) 2190(0.729)1.13 1532,24kPa 1.5MPa
V = = =
o Kuat tekan tegak lurus serat
(F ) 2160(0.729)2.09 1115.76kPa 1.1MPa
c = = = ⊥
5. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan terhadap hasil penelitian,
maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1. Berdasarkan atas pemilahan secara mekanis
bambu petung dapat diklasifikasikan kedalam
Cara Penentuan Kelas Kuat Acuan Bambu Petung
“MEKTEK” TAHUN VI NO. 18 JANUARI 2005 105
kelas kuat acuan E13 dengan nilai-nilai standar
yaitu modulus elastisitas ( w E ) = 13257,65
MPa, kuat lentur ( b F ) = 29 MPa, kuat tarik
sejajar serat ( t F ) = 27 MPa, kuat tekan sejajar
serat (F ) c = 33 MPa, kuat geser sejajar serat
(F ) V = 5.0 MPa, kuat tekan tegak lurus serat
(F ) c⊥ = 11 MPa.
2. Berdasarkan atas pemilahan secara visual bambu
petung dapat diklasifikasikan kedalam kelas kuat
acuan E13 dengan nilai-nilai standar yaitu
modulus elastisitas ( w E ) = 13224.92MPa, kuat
lentur ( b F ) = 12 MPa, kuat tarik sejajar serat
( t F ) = 5.7 MPa, kuat tekan sejajar serat (F ) c =
5.7 MPa, kuat geser sejajar serat (F ) V = 1.5
MPa, kuat tekan tegak lurus serat (F ) c⊥ = 1.1
MP
6. Daftar Pustaka
Blass,H.J., P. Aune, B.S. Choo, R. Gorlacher, D.R.
Griffiths, B.O. Hilso, P. Raacher dan G.
Steek, (Eds), 1995, Timber Engineering Step
1, First Edition, Centrum Hout, The
Nedherlands.
Janssen, J.J.A, 1981, Bamboo in Building
Structures, Ph.D. Thesis, University of
Technology og Eindhoven, Netherland
(tidak diterbitkan).
Kollman, F.F.P. dan W.A. Cote, Jr., 1984,
Principles 0f Wood Science and Technology,
Vol I, Solid Wood, Springer-Verlag, Berlin.
LPMB, 1961, Peraturan Konstruksi Kayu
Indonesia NI-5 PKKI-1961, Yayasan
Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.
Morisco, 1999, Rekayasa Bambu, Nafiri Offset,
Yogyakarta.
Prayitno, T.A., 1996, Perekatan Kayu, Fakultas
Kehutanan, Universitas Gadjah Mada,
Yoyakarta.
SNI 2002, Tata Cara Perencanaan Konstruksi
Kayu Indonesia, Badan Standarisasi
Nasional, Jakarta.
Serano, E. dan J.H. Larsen, 1999, Numerical
Investigations of the Laminating Effect in
Laminated Beams, Journal of Structural
Engineering, 125 (7); 740-745.
Somayaji, 1995, Civil Engineering Materials,
Prentice Hall, Englwood Cliffs, New Jersey.
Soltis, L.A. dan D.R. Rammer, 1997, Bending to
Shear Ratio Approach for Beam Design,
Forest Product Journal, 47( I ); 104-108.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: