M. Charomaini Z

PERTUMBUHAN BAMBU PETUNG DARI BEBERAPA POPULASI ASAL PULAU JAWA

Growth performance of Petung Bamboo from Several Clump Sources in Java

M. Charomaini Z.
Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta

Download file: Bambu Petung (Wn benih Vol 9 No 1)  

ABSTRACT

Petung bamboo has been widely known as one of many bamboo species needed as raw material for building constructions as well as vegetables. The usefulness of the species accelerates clumps depletion when exploitation is not followed by right techniques. Additionally, other aspect such as low planting frequencies cause bamboo culm production depleted even more rapidly. Therefore, conservation of petung is about right decision to be implemented. Conserving petung in ex situ conservation garden was conducted several years ago. Three years old plantation has been measured to analyze the growth performance. Sixteen clone populations have been collected in Java mainly from Yogyakarta, Central, East and West Java. Clones were planted in Randomized Completely Block Design using 3 Blocks as replications. Each block is contained 16 clone source populations as treatments which were randomized. Three clones derived from every population and three ramets derived from every clone were planted in line plot using 5m x 5m planting space. Analysis of variance was conducted to compare the growth performance in the field. Result showed that blocking could increase experimental precision. Between clone sources, there were significantly differences on height, diameter and number of culm per clump, ramets and sources interaction, sources and ramets and clones interactions as well.

Key words : Clones, growth performance, petung bamboo, propagule source populations, ramets.

ABSTRAK

Bambu petung dikenal luas sebagai penghasil batang untuk konstruksi bangunan dan rebung (sayur). Kegunaannya yang sangat banyak mempercepat penurunan jumlah rumpun yang ada, terutama karena cara penebangan yang tidak benar. Ditambah lagi, aspek lain seperti rendahnya frekuensi penanaman rumpun. Sehingga kegiatan konservasi petung sangat tepat dilakukan. Kegiatan konservasi petung secara ex situ telah dilakukan beberapa tahun lalu. Tanaman berumur tiga tahun telah diukur dan diamati guna melihat performa pertumbuhannya. Enambelas klon populasi telah dikoleksi di Jawa terutama dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Klon ditanam menggunakan disain Acak Lengkap Berblok dengan 3 ulangan blok. Setiap blok berisi 16 sumber populasi klon tersebut sebagai perlakuan yang peletakannya diacak. Tiga klon dari setiap populasi dan 3 ramet dari setiap klon ditanam dalam plot jalur dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Analisa varians dilakukan untuk membandingkan antar populasi yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan, pembuatan blok ternyata dapat meningkatkan ketelitian. Terdapat perbedaan nyata antar sumber populasi klon, diameter dan jumlah batang per rumpun, interaksi antara ramet dan sumber klon, juga interaksi antara sumber klon, ramet dan klon.

Kata kunci : Klon, Performa pertumbuhan, bambu petung, populasi sumber
propagul, ramet,

I. PENDAHULUAN

Sekitar 75 genus dan 1.250 species bambu ditemui di seluruh dunia, sedangkan di Asia terdapat 14 genus dan 120 species (Mohamed, 1992). Bambu petung (Dendrocalamus asper) sebagai salah satu jenis dari genus Dendrocalamus, merupakan jenis bambu yang banyak dikenal karena berdiameter cukup besar bila dibandingkan dengan jenis bambu lain, sekitar 10 – 18 cm, berdinding tebal, 11 – 18 mm (Othman, 1995) sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku tusuk gigi, sumpit, bahan kerajinan tangan, konstruksi bangunan seperti usuk, reng, bahan baku kertas dan bubur kertas, lantai dan dinding komposit. Rebung petung berukuran besar dan rasanya manis, berat rata-rata 0,8 kg per batang, nilai kalorinya lebih rendah dari cendawan dan asparagus (Mohamed, 1992).

Sebagai jenis tanaman rumput-rumputan, bambu tumbuh menggunakan rimpang batang yang mengandung ruas dan mata cabang sehingga dapat menghasilkan batang baru atau rebung untuk tingkat pertumbuhan selanjutnya. Setiap rumpun menghasilkan 8 – 14 batang setiap tahun, sekitar 2 – 3 bulan rebung mencapai pertumbuhan dewasa, dan 3 bulan kemudian batang mencapai tinggi maksimum (Liese, 1985 dan Abd Razak, 1992). Fungsi kelestarian rumpun dapat dipertahankan dengan cara hanya menebang atau memanen batang yang telah dewasa. Sistem perakaran yang intensif dapat mempertahankan atau menutup butiran tanah sehingga tidak mudah tererosi oleh air hujan. Oleh karena itu bambu sering digunakan atau ditanam di pinggiran sungai sebagai penahan erosi tanah.

Keberadaan petung dirasakan mulai berkurang karena beberapa faktor. Penebangan batang yang tidak mengikuti teknik yang benar menyebabkan kelangsungan hidup rebung atau batang baru terganggu. Frekuensi penanaman rumpun bambu yang sangat rendah disebabkan beberapa faktor seperti kurang pengetahuan cara pembibitan yang benar, pengalihan fungsi lahan menjadi pemukiman dan lain-lain. Adanya kenyataan tersebut mendorong dibangunnya kebun konservasi bambu petung di Jawa. Koleksi kebun bambu telah dibangun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kebun Raya Bogor. Di Malaysia, usaha konservasi beberapa jenis bambu telah dilakukan yang meliputi studi diversitas, status sumber genetik dan pengembangan program dan strateginya (Mohamad, 1995).

Populasi rumpun bambu petung tidak merata, ditemui di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada kecenderungan penyebaran populasi tidak dijumpai di bawah 20 m dpl. (Charomaini, 2004). Nilai jual petung juga berbeda-beda di setiap lokasi tersebut. Nilai jual tertinggi adalah petung dari Jawa Tengah seperti Temanggung, mencapai Rp 25.000,- sampai Rp 30.000,- per batang. Di Lamongan Jawa Timur, masyarakat kurang menyenangi petung karena kurang tahan terhadap hama bubuk (Charomaini, 2004). Di Jawa Barat, nilai jual petung agak rendah karena jenis bambu lain seperti gombong/ andong (Gigantochloa arundinacea) lebih mendominasi (Charomaini, 2001).

Penelitian ini bertujuan membangun kebun konservasi bambu petung di Bondowoso, menganalisis pertumbuhan masing-masing populasi dengan cara mengumpulkan propagul dari berbagai populasi rumpun bambu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY yang dalam jangka panjang dapat memanfaatkan populasi yang berkualitas dalam produktivitas jumlah batang dan ukuran batang serta produksi rebung untuk tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

II. BAHAN DAN METODE

A. Lokasi

1. Lokasi Pengumpulan Propagul Vegetatif

Propagul vegetatif sebagai bahan stek batang bambu petung dikumpulkan dari 16 lokasi yang tersebar di Pulau Jawa. Propagul vegetatif dari Propinsi Jawa Tengah diambil di Ambarawa, Parakan, Klaten, Papringan Gede dan Linggasari (Purwokerto), sementara untuk Daerah Istimewa Yogyakarta diambil dari Kabupaten Sleman di Umbulmartani dan Umbulharjo. Di Kabupaten Kulon Progo propagul vegetatif diambil di Kokap dan Samigaluh. Di Jawa Tumur, propagul dikumpulkan dari Lamongan, Rogojampi (Banyuwangi), Walikukun (Ngawi) dan Wagir (Malang). Dari Jawa Barat dikumpulkan dari Sukabumi, Kuningan dan Sumedang.

Data kondisi lingkungan sumber propagul disajikan dalam Tabel di bawah ini.

2. Lokasi Pembibitan

Pembibitan stek batang untuk penyediaan bibit tanaman dilakukan di persemaian Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. Persemaian berada pada ketinggi 280 m dpl, topografi bergelombang ringan dengan jenis tanah regosol pasiran.

3. Lokasi Tanaman

Lokasi tanaman berada di Kebun Penelitian Sumberwringin, Bondowoso, Jawa Timur. Lokasi berada di ketinggian 800 m dpl. Merupakan daerah kaki Gunung Raung.

B. Bahan dan Alat

Bahan penelitian yang digunakan adalah tanah top soil untuk media bibit dalam polibag. Naungan paranet 60% untuk penaungan stek bambu ketika di persemaian pembibitan. Batang bambu untuk tiang naungan paranet, ajir tanaman dari bambu, label plastik, spidol, piloks, besi, tali rafia, paralon, papan nama, insektisida Lannate, pupuk NPK dan pupuk kandang.

Alat yang digunakan adalah cangkul, parang, gembor plastik, slang air, dan drum untuk cadangan air penyiraman.

C. Metode Penelitian dan Analisis Data

Penanaman di lapangan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok menggunakan 3 blok sebagai ulangan. Dalam setiap blok berisi perlakuan asal propagul vegetatif sebanyak 17 asal, tetapi hanya 11 asal saja yang dianalisis karena jumlah bibit yang tidak mencukupi. Dari setiap asal ditanam 3 klon dan dari setiap klon ditanam 3 ramet. Penanaman dilakuakan menggunakan sistim jalur (line plot) dengan jarak tanam 5 x 5m. Parameter yang diamati adalah jumlah tanaman tumbuh di lapangan, jumlah batang tumbuh per rumpun, diameter batang terbesar dan tinggi batang tertinggi.

Analisis data menggunakan Anilisis Keragaman (ANOVA)(Steel and Torrie, 1960).

D. Pelaksanaan Penelitian

Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pemilihan lokasi untuk pengambilan propagul vegetatif sebagai bahan stek batang untuk pembibitan. Ditentukan sebanyak 17 lokasi sebagaimana tersebut terdahulu. Sebagai bahan stek, bahan bambu dibeli dari masyarakat dengan cara menebang batang pada setiap rumpun.

Bibit yang digunakan berasal dari pembiakan vegetatif stek batang dengan satu mata tunas, yang ditanam secara mendatar dan diairi (genang) secara teratur setiap pagi hari. Tunas yang tumbuh sempurna beserta rimpang dan akarnya kemudian dipisahkan dari batang, disapih dalam polibag berisi media tanah dan dirawat dengan penyiraman teratur dan pembersihan gulma. Bibit siap ditanam di lapangan setelah berada 2 – 3 bulan dalam polibag.

Sebelum penanaman di lapangan, dilakukan penghitungan kebutuhan lahan untuk penanaman dan dibuat peta, lay-out tanaman di lapangan. Pengukuran lahan dilakukan setelah pembersihan semak dan penyiapan lahan diikuti dengan pembuatan lubang tanam dan pemasangan ajir tanaman. Untuk penanaman sejumlah 441 bibit bambu dengan jarak tanam per rumpun/ bibit 5m x 5m, dibutuhkan lahan seluas sekitar 1,5 ha.

Pengukuran pertumbuhan bambu di lapangan meliputi jumlah tanaman hidup atau mati, jumlah batang tumbuh, diameter dan tinggi batang tertinggi di ketiga blok tanaman. Pengambilan data dilakukan pada semua tanaman termasuk tanaman yang merupakan campur atau bulk, campuran ramet dari beberapa klon dalam satu asal. Misal: Smd 10.1.2**. Tidak berarti merupakan klon nomor 10 asal Sumedang (Smd), tetapi hanya merupakan pengisi (filler) untuk menghilangkan bias ukuran pertumbuhan karena perbedaan luas ruang hidup antar tanaman. Tanda ** adalah bulk/ campur, yang datanya tidak akan dianalisis. Ada dua klon bulk yaitu Sumedang (Smd**) dan Linggasari (Lgsr**) Purwokerto.

Contoh tallysheet, data primer hasil pengukuran seperti pada Tabel 2.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. H a s i l

Masing-masing data jumlah batang, diameter dan tinggi kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan menghasilkan Tabel 3 berikut.

B. Pembahasan

Diameter batang klon asal Purwodadi adalah yang terbesar (23,42 mm) bila dibandingkan dengan yang terkecil asal Sukabumi (9,81 mm). Meskipun demikian, asal Rogojampi, Parakan dan Lamongan tidak berbeda dengan asal Purwodadi. Asal Sukabumi tidak berbeda dengan asal Klaten, Ambarawa, Samigaluh dan Walikukun.

Tinggi batang klon asal Purwodadi masih merupakan yang tertinggi (340,48cm) bila dibandingkan dengan yang terpendek asal Sukabumi (207,04cm). Meskipun demikian, klon asal Parakan, Rogojampi, Umbulharjo dan Lamongan tidak berbeda dalam hal tinggi batang dengan yang berasal dari Purwodadi. Klon asal Klaten, Ambarawa, Samigaluh dan Kokap tidak berbeda dalam tinggi batang dengan Sukabumi.

Dalam hal jumlah batang, klon asal Rogojampi (Banyuwangi) menghasilkan jumlah rata-rata batang terbanyak (3,67) bila diandingkan dengan yang sedikit yaitu asal Sukabumi (2,30). Meskipun demikian, klon asal Kokap, Walikukun, Lamongan, Umbulharjo dan Purwodadi tidak berbeda dengan yang berasal dari Rogojampi. Kelompok asal yang menghasilkan jumlah batang sedikit adalah Sukabumi, Klaten, Ambarawa, Samigaluh, Kokap dan Walikukun.

Klon asal Purwodadi menampakkan pertumbuhan terbaik dalam diameter, tinggi dan jumlah batang. Ketinggian tempat penanaman di Bondowoso dengan kelembaban udara cukup berpengaruh baik terhadap pertumbuhan klon. Famili asal Lamongan dengan tempat tumbuh asal di bawah 100 m dpl ternyata pertumbuhannya di Bondowoso cukup baik dengan ukuran diameter besar. Disebutkan oleh Zachner’s 1968 (Kramer dan Kozlowski, 1979), 80 – 90% perbedaan dalam pertumbuhan pohon dapat disebabkan oleh tekanan atau stress karena kekurangan air. Pertumbuhan batang terhambat karena kekurangan air dalam tanaman yang besarnya bervariasi, tergantung jenis tanaman, parahnya masa kekeringan, lokasi batang pada tanaman, dan aspek pertumbuhan batang yang berbeda seperti pembentukan tunas, perpanjangan internoda, perluasan daun,dan pengguguran daun (Kramer dan Kozlowski, 1979).

Dari hasil analisis DNA protein daun, pola pita yang dihasilkan pada famili asal Purwodadi sangat berbeda dengan klon petung umumnya sehingga diperlukan identifikasi taksonomi di kemudian hari (Rimbawanto, 2004. Komunikasi personal).

Jumlah batang tumbuh per satuan waktu berbeda-beda antar asal klon dan antar populasi. Klon asal Parakan mempunyai dimensi paling besar di antara klon asal lokasi lain. Klon asal Parakan terbukti superior dalam ukuran diameter batangnya. Perbanyakan melalui teknik vegetatif makro memungkinkan semua sifat yang ada pada induk ada pula di keturunannya atau non additive genetic effect. Kebalikannya adalah additive genetic effect yaitu pengaruh yang umum terjadi pada keturunan dari hasil persilangan dimana pada keturunannya terkandung sifat-sifat yang merupakan campuran secara acak sifat dalam gen kedua orangtuanya. Perbanyakan vegetatif merupakan salah satu cara kegiatan pemuliaan untuk mempertahankan kualitas sifat pada keturunannya.

Untuk kepentingan usaha konservasi maka kecepatan penambahan jumlah batang per satuan waktu pada setiap rumpun adalah penting merupakan tolok ukur keberhasilan. Klon-klon dengan kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai induk-induk untuk sumber bahan propagul atau stek untuk pembibitan tanaman bambu.

IV. KESIMPULAN

1. Klon asal Rogojampi (Banyuwangi) dapat dikembangkan untuk memproduksi batang dan dalam jangka panjang untuk menghasilkan rebung dengan memperhitungkan proporsi kebutuhan jumlah rebung dan pertambahan batang.

2. Ukuran diameter, tinggi dan jumlah batang rata-rata klon asal Purwodadi terbesar dibandingkan klon asal lokasi lain, dan diperlukan identifikasi taksonomi lanjut pada jenis bambu asal Purwodadi tersebut.

3. Kelompok klon asal Kokap, Walikukun, Lamongan dan Umbulharjo dapat dikembangkan sebagai klon penghasil batang, sedangkan klon asal Parakan dalam jangka panjang dapat difungsikan sebagai penghasil rebung berukuran besar.

4. Pembuatan blok ternyata berhasil meningkatkan ketelitian karena dapat mengatasi permasalahan perbedaan kesuburan pada lahan penelitian.

5. Adanya keragaman pertumbuhan antar populasi memberi harapan baik guna usaha seleksi induk dengan sifat yang dikehendaki yang bermanfaat dalam usaha konservasi kergaman sifat dalam kebun konservasi ex situ bambu petung.

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Razak, Othman. 1992. Shoot production and culm growth of two commercial bamboo species in Peninsular Malaysia. Bamboo Information Centre India 2 (1): 5-7. dalam Research Pamphlet No. 118, 1995. Planting and Utilization of Bamboo in Peninsular Malaysia. By A.R. Othman; A. Latif Mohmod; Walter Liese; Norini Haron. FRIM Kepong. 52109 Kuala Lumpur.

Charomaini M. 2001. Pengalaman pribadi eksplorasi bamboo dalam rangka Pembangunan uji klonal bamboo di beberapa lokasi di Jawa. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Charomaini, M. 2004. pengalaman pribadi dalam rangka eksplorasi bahan propagul bamboo petung di Jawa. Kerjasama IPGRI dan Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Kramer, Paul J. and T. T. Kozlowski 1979. Physiology of Woody Plants. Academic Press Inc. Harcourt Brace Jovanovich, Publishers. Orlando San Diego New York Austin Boston London Syney Tokyo Toronto.

Liese, 1985. Bamboo-Biology, Silvics, Properties, Utilization. Schriftenreihe der GTZ, No 180: 132. dalam Research Pamphlet No. 118. Planting and Utilization of Bamboo in Peninsular Malaysia. By A. R. Othman; A. Latif

Mohmod; Walter Liese; Norini Haron. FRIM Kepong 52109. Kuala Lumpur.
Mohamad, Aminudin. 1995. Conservation, Status, Biodiversity Base and Its Strategic Programme. FRIM. Report No. 67. 1995. Forest Research Institute Malaysia, Kepong. 52109. Kuala Lumpur. Malaysia.

Mohamed, Azmy Hj. 1992. Potensi Rebung Buluh di Malaysia. Institut Penyelidikan Perhutanan Malaysia (FRIM) Kepong. 52109 Kuala Lumpur.

Othman, A. R.; A. L. Mohmod; W. Liese and N. Haron 1995. Planting and Utilization of Bamboo in Peninsular Malaysia dalam Research Pamphlet No. 118, 1995. Forest Research Institute Malaysia (FRIM). Kepong, 52109 Kuala Lumpur.

Rimbawanto, Anto 2005. Komunikasi personal. Pusat Litbang Pemuliaan Benih Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Steel, R. G. D. and James H. Torrie. 1960. Principles and Procedures of Statistics. A Biometrical Approach. Sec. Ed. McGraw-Hill Book Company. New York St. Louis San Francisco Auckland Bogota Hamburg Johanesburg London Madrid Mexico Montreal New Delhi Panama Paris Sao Paulo Singapore Sydney Tokyo Toronto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: