Nurul Sumiasri dan Ninik Setyowati-Indarto

TANGGAP STEK CABANG BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper) PADA PENGGUNAAN BERBAGAI DOSIS HORMON IAA DAN IBA

Nurul Sumiasri *) & Ninik Setyowati-Indarto **)
*) Puslitbang Bioteknologi – LIPI, Cibinong
**) Puslitbang Biologi – LIPI, Bogor

Jurnal Natur Indonesia III (2): 121 – 128 (2001) 

Download file: 4  

ABSTRACT

Study on IAA and IBA at 0 (control), 0.20, 0.30 and 0.40% were carried out to know response of branch cutting growth of ‘bambu betung’. At 3 months age, the result showed that the effect of IBA was better than IAA and control on all of parameters observed i.e. growth percentage, total shoots, high plant, total leaves and length of the leaf. The influence of IBA 0.40% showed the highest results compared to control and other dosages.

Keywords: Response branch cutting, growth, Dendrocalamus asper, IAA & IBA

PENDAHULUAN

Di Indonesia, bambu merupakan jenis tanaman yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari bagi masyarakat khususnya di pedesaan (Sumarna, 1987). Meskipun sebagai tanaman penting, hingga saat ini bambu belum mendapat prioritas untuk dikembangkan oleh Pemerintah (Widjaja, 1997). Hingga saat ini bambu belum dibudidayakan secara intensif. Pada prakteknya petani masih menggunakan teknologi yang sederhana (Sumiasri, 1998).

Bambu betung (Dendrocalamus asper) adalah salah satu jenis  yang mempunyai nilai potensi ekonomi.  Tanaman ini dapat dijumpai  tumbuh mulai dari daerah dataran  rendah hingga dataran tinggi (2000  meter), dan akan tumbuh lebih baik  bila ditanam di tanah subur pada  lahan basah (Soedjono & Hartanto,  1994). Beberapa permasalahan dapat  dijumpai di lapangan selama  pertumbuhannya. Salah satu di antaranya  adalah rendahnya teknologi  budidaya yang dipraktekkan oleh  petani (Widjaja, 1998). Untuk memecahkan  permasalahan tersebut  teknologi perbanyakan tanaman perlu dikembangkan.

Pada penelitian ini perbanyakkan  tanaman menggunakan stek cabang  buluh yang dipacu dengan  menggunakan hormon tumbuh. Ada  pun tujuan dari penelitian adalah  untuk mengetahui tanggap pertumbuhan  stek cabang buluh di pesemaian.  Data yang dihasilkan diharapkan  dapat digunakan sebagai masukan  tentang perbanyakan bambu  betung secara vegetatif dengan menggunakan stek cabang buluh.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan di Kebun  Botani Puspiptek Serpong, dimulai  pada bulan Agustus s/d November 2000.

Bahan yang digunakan adalah  stek cabang tua (pangkal cabang)  pada kisaran diameter 2-3 cm. Bahan  tersebut diperoleh dari Kebun  Botani Puspiptek Serpong. Stek  terdiri dari 2 mata tunas. Hormon  tumbuh yang digunakan adalah IAA  (indole acetic acid) & IBA (3-indole butiric acid).

Media tumbuh yang digunakan  adalah campuran antara tanah dan  sekam padi pada perbandingan 1 : 1  yang ditaruh pada kantong plastik hitam.

Stek direndam dalam larutan  hormon selama 1 jam, kemudian ditanam  secara horizontal pada media  yang telah disediakan. Penelitian  dilakukan di dalam rumah paranet  pada intensitas penyinaran matahari 60%.

Metode yang digunakan adalah  rancangan petak terpisah (Split Plot  Design), dengan ulangan sebanyak  tiga kali, setiap ulangan terdiri dari  10 sampel stek bambu. Sebagai  petak utama (Main Plot) adalah  hormon tumbuh dengan dua level  faktor yaitu (1) IAA, (2) IBA. Sebagai  anak petaknya (Sub Plot) adalah  dosis hormon terdiri dari empat  level faktor yaitu (1) 0% (kontrol),  (2) 0.20%, (3) 0.30%, (4) 0.40%.  Parameter yang diamati adalah  persentase tumbuh, jumlah tunas,  tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbanyakan secara vegetatif  atau aseksual merupakan alternatif  yang dapat dilakukan untuk tanaman  yang sulit dibiakkan dengan biji.  Kasus yang terjadi pada bamboo  betung, jarang dijumpai tanaman  yang berbiji. Oleh karena itu penelitian  dilakukan dengan menggunakan  stek cabang buluh. Tanaman  yang dihasilkan dengan cara ini  akan mewarisi sifat genetik dari tanaman  induknya. Berdasarkan pada  pertumbuhannya, bambu betung ter123  golong tanaman tumbuh lambat  (Sastrapradja dkk, 1977), oleh karena  itu agar pertumbuhannya lebih  cepat, dapat dipacu dengan berbagai  perlakuan, salah satu cara yang  dapat dilakukan adalah dengan  menggunakan hormon tumbuh (Lakitan,  1995). Perbanyakan tanaman  bambu dengan menggunakan stek  cabang di Thailand digunakan untuk  perbanyakan tanaman dalam skala  besar/masal (Prosea, 1995). Di Indonesia  pada umumnya bambu betung  diperbanyak dengan stek batang  atau akar rimpang (Sastrapradja dkk,  2000), meskipun teknik biak sel dan jaringan telah dilakukan.

Dengan menggunakan stek  cabang tua yang dipacu dengan hormon  IAA dan IBA diharapkan dapat  mempercepat pertumbuhan stek. Hal  ini disebabkan karena IAA dapat  memacu pertunasan dan IBA dapat  memacu pembentukan akar stek  (Hartmann, et al, 1990) dan memacu  pertumbuhan panjang akar (Sebanek  & Jesko, 1989). Hal ini didukung  oleh pendapat Rismunandar (1988)  yang menyatakan bahwa IBA dapat  mempercepat tumbuhnya akar baru  pada tanaman (bibit yang baru dipindahkan  dari persemaian pada  beberapa jenis tanaman keras. Bibit yang akan dipindahkan dimasukkan  ke dalam larutan tersebut selama 48  jam. Penelitian ini bertujuan untuk  mencari jenis dan dosis hormon  yang optimum pada pertumbuhan  stek bambu betung. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa perlakuan yang  dipacu oleh hormon, pertunasannya  lebih cepat dibandingkan dengan  kontrol. Dengan menggunakan  kedua jenis hormon tersebut setelah  berumur satu minggu pada umumnya  stek tersebut sudah mulai bertunas,  sedangkan kontrol pada  umumnya bertunas pada saat stek  berumur 15 hari sejak tanam. Pengamatan  dilakukan sampai dengan  bibit berumur 3 bulan. Secara  umum, pengaruh hormon IBA lebih  baik dibandingkan IAA dan kontrol  pada semua parameter yang diamati.  Hasil analisa secara statistik disajikan pada Tabel 1 berikut.

1. Persentase tumbuh

Aplikasi hormon IBA berpengaruh  lebih baik dibandingkan hormon  IAA. Hal ini terlihat dari rataan  persentase tumbuh yang dihasilkan  oleh pemakaian hormon IBA  (90.00%), sedangkan IAA (74.17%) (Tabel 1).

Pada perlakuan tunggal, dosis  hormon yang memberikan pengaruh  terbaik adalah 0.40% yaitu 93.33%  sedangkan terendah adalah 0.20%  yaitu 71.63%. Sedangkan pada perlakuan  interaksi, penggunaan hormon  IBA dengan dosis 0.40% memberikan  pengaruh terbaik yaitu  100%, namun tidak berbeda nyata  dengan pemakaian IBA dosis 0.30%  (Tabel 1). Semakin tinggi dosis IBA  yang digunakan, semakin baik pengaruhnya  terhadap persentase tumbuh.  Hal ini sesuai dengan pendapat  Lakitan (1995) bahwa aplikasi IBA  pada stek batang berkayu (hardwood)  memerlukan dosis tinggi,  sedangkan batang lunak (softwood)  memerlukan dosis rendah. Hartmann  et al (1990) menyatakan bahwa  IBA selain mempunyai sifat  tidak meracuni tanaman, dapat segera menyembuhkan luka pada tanaman.

Demikian pula halnya pada  penggunaan hormon IAA semakin  tinggi dosis yang digunakan semakin  baik pengaruhnya terhadap persentase  tumbuh. Persentase tumbuh  tertinggi (86.67%) ditunjukkan oleh  dosis 0.40% sedangkan terendah (63.33%) ditunjukkan oleh kontrol.

2. Jumlah tunas

Pada perlakuan tunggal, jenis  hormon tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas (Tabel 1),  namun demikian rataan jumlah tunas  tertinggi (6.05) masih ditunjukkan  oleh aplikasi hormon IBA sedangkan  terendah ditunjukkan oleh  aplikasi hormon IAA (5.85) (Tabel  1). Pemakaian dosis hormon 0.40%  memberikan pengaruh terbaik pada  jumlah tunas yang dihasilkan (7.43)  sedangkan terendah (5.09) ditunjukkan oleh kontrol (Tabel 1).

Pada perlakuan interaksi, aplikasi  hormon IBA pada dosis 0.40%  menghasilkan jumlah tunas tertinggi  (7.67) sedangkan terendah (5.10)  ditunjukkan oleh kontrol (Tabel 1).  Tidak berbeda dengan aplikasi hormon  IBA, pada dosis 0.40% IAA  menunjukkan jumlah tunas tertinggi  (7.20), sedangkan terendah (5.07) ditunjukkan oleh kontrol.

Beberapa penelitian terdahulu  menyebutkan bahwa pada tanaman  berkayu aplikasi dosis IBA yang  terlalu tinggi dapat menghambat  pertunasan, sedangkan bila terlalu  rendah tidak efektif untuk merangsang  pertumbuhan akar (Lakitan,  1995). Disebutkan oleh Hartmann et  al (1990) bahwa aplikasi hormon  IAA pada dosis terlalu tinggi justeru  dapat menurunkan jumlah tunas  yang terbentuk. Oleh karena itu  mengetahui dosis optimum dari IAA  sangat diperlukan. Secara umum  yang memberikan pengaruh terbaik  pada jumlah tunas yang dihasilkan  adalah hormon IBA pada dosis 0.40%.

3. Tinggi tanaman

Ciri-ciri yang khas pada suatu  jenis tanaman yang sedang tumbuh  nampak pada perubahan tingginya,  membesarnya batang pokok dan  lainnya (Rismunandar, 1988). Pada  penelitian ini pengaruh perlakuan  tunggal menunjukkan bahwa aplikasi  hormon IBA memberikan rataan   tertinggi (10.44 cm) pada tinggi  tanaman, sedangkan IAA (9.31 cm),  namun secara statistik hal tersebut  tidak menunjukkan perbedaan nyata (Tabel 1).

Dosis hormon 0.40% memberikan  pengaruh tertinggi pada tinggi tanaman (12.64 cm) (Tabel 1).

Pengaruh perlakuan interaksi  menunjukkan bahwa aplikasi hormon  IBA pada dosis 0.40% menghasilkan  angka rataan tertinggi pada  parameter tinggi tanaman (12.87  cm) sedangkan aplikasi IAA pada  dosis 0.40% menghasilkan rataan  tinggi tanaman adalah 12.42 cm  (Tabel 1). Angka-angka tersebut  setelah diuji secara statistik tidak menunjukkan perbedaan nyata.

4. Jumlah daun

Pengaruh perlakuan tunggal  menunjukkan bahwa rataan jumlah  daun tertinggi (6.70) ditunjukkan  oleh aplikasi hormon IBA, sedangkan  aplikasi hormon IAA menghasilkan  rataan jumlah daun 6.49.  Setelah diuji secara statistik kedua  hormon tersebut tidak menunjukkan  perbedaan nyata. Dosis 0.40%  menunjukkan angka rataan tertinggi (7.52) pada jumlah daun (Tabel 1).

Pada pengaruh perlakuan interaksi  aplikasi hormon IAA maupun  IBA pada berbagai dosis menunjukkan  perbedaan nyata. Aplikasi hormon  IBA pada dosis 0.40% menghasilkan  angka rataan tertinggi  (7.93), sedangkan aplikasi hormon  IAA pada dosis 0.40% menghasilkan  rataan jumlah daun 7.11 (Tabel 1).

5. Panjang daun

Pada Tabel 1 dapat dilihat  pengaruh perlakuan tunggal macam  hormon menunjukkan perbedaan  nyata antara hormon IAA dan IBA.  Rataan panjang daun terpanjang  ditunjukkan oleh perlakuan dosis  0.40%. Pada pengaruh perlakuan  interaksi, aplikasi bermacam-macam  jenis hormon IAA tidak menunjukkan  perbedaan nyata meskipun rataan  tertinggi (3.65 cm) ditunjukkan  oleh perlakuan dosis 0.40%. Sedangkan  aplikasi IBA 0.40% menunjukkan  rataan tertinggi panjang daun.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

1. Pengaruh hormon IBA lebih baik  dibandingkan dengan IAA pada  semua parameter yang diamati  (persen tumbuh, jumlah tunas,  tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun).

2. Konsentrasi 0.40% baik IAA  maupun IBA memberikan angka  rataan tertinggi pada semua parameter yang diamati.

3. Persentase tumbuh tertinggi  (100%), ditunjukkan oleh aplikasi  IBA 0.40% dan 0.30% namun secara  statistik tidak menunjukkan  perbedaan nyata, sedangkan terendah  63.33% ditunjukkan oleh kontrol.

4. Jumlah tunas teringgi (7.67) ditunjukkan  oleh aplikasi IBA  0.40% sedangkan terendah (5.07) ditunjukkan oleh kontrol.

5. Tinggi tanaman tertinggi (12.87  cm) ditunjukkan oleh aplikasi  IBA 0.40% sedang terendah (7.97  cm) ditunjukkan oleh aplikasi IAA 0.20%.

6. Jumlah daun tertinggi (7.93) ditunjukkan  oleh aplikasi IBA  0.40% sedangkan terendah (5.48) ditunjukkan oleh kontrol.

7. Panjang daun terpanjang (5.50  cm) ditunjukkan oleh aplikasi  IBA 0.30% dan pada 0.40%  menghasilkan panjang daun 5.20 cm.

DAFTAR PUSTAKA

Dransfield, S & E. A Widjaja. 1995.  Dendrocalamus asper in Bamboos.  Plant Resources of South-  East Asia 7 Prosea. Bogor Indonesia : 80-83.

Hartmann, H.T; D.E Kester & F.E  Davies. 1990. Plant propagation  principles and practices. Fift  edition. Prentice Hill International, Inc. New. Jersey.

Lakitan, B. 1995. Hortikultura.  Teori Budidaya & PascaPanen. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Prosea. 1995. Bamboos. Plant  Resources of South East Asia 7. Prosea. Bogor. Indonesia.

Rismunandar, 1988. Hormon tanaman dan ternak. PS Penebar Swadaya. Jakarta.

Sastrapradja, S; E. A Widjaja; S.  Prawiroatmodjo & S. Soenarko  1977. Beberapa Jenis Bambu.  Lembaga Biologi Nasional LIPI. Bogor.

Sebanek, J. & T. Jesko. 1989. Hormonal  control of growth and  development of the root and the  shoot in Kolek, J. & V.  Kozinka. 1989. Physiology of  the plant root system. Kluwer  Academic Publisher. The  Netherlands: 27-30.

Soedjono & H. Hartanto. 1994.  Budidaya Bambu. Penerbit Dahara  Prize. Semarang. 95 hal.  Sumarna, A. 1987. Bamboo. Angkasa  Bandung. Indonesia. 207 p.

Sumiasri, N. 1998. The cultivation  and utilization of bamboo in  Indonesia. Paper presented at  The International Training  Course on Cultivation and Utilization  of Bamboo. Fuyang, China. 5-20 October 1998.

Widjaja, E. A. 1997. Jenis-jenis  bambu endemic dan konservasinya  di Indonesia. Prosiding  Seminar Nasional Biologi XV.  Diselenggarakan bersama Perhimpunan  Biologi Indonesia  Cabang Lampung dan Universitas  Lampung. Bandar Lampung: 203-206.

Widjaja, E.A. 1998. Indonesian Traditional  Knowledge of Bamboo  in the Modern Life. Seminar for  the Safe – guarding and Promosion  of Traditional Techniques  of Bamboo Modern Life. Unesco. Hanoi: 75-88.

One Response to “Nurul Sumiasri dan Ninik Setyowati-Indarto”

  1. Download Prosiding Hortikultura | Terbaru 2015 Says:

    […] PDF File Name: Nurul sumiasri dan ninik setyowati-indarto | bambu indonesia Source: bamboeindonesia.wordpress.com » DOWNLOAD « […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: