Bambu Tabah

Gigantochloa Nigrociliata

Oleh:  Dr.Ir. P K Diah Kencana, MS

Sumber:http://drdiahkencana.wordpress.com/

Bambu pada awalnya merupakan tumbuhan liar, tidak dibudidayakan banyak ditemukan di hutan, dilereng pegunungan berbukit, lereng curam sampai landai, dapat tumbuh di ketinggian 0 – 4000 dpl, tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di daerah beriklim dingin, serta dapat berkembang baik di daerah beriklim lembab dan panas, tapi tidak cocok pada tanah becek. Ada sinar matahari 60 % dengan iklim suhu 8–360C, RH min 80 %, curah hujan minimal 1000 mm/tahun.

Ada 1500 species bambu dan 75 genera yang sudah diketahui saat ini. Dari jumlah tersebut, 147 jenis tumbuh di Indonesia (± 10 %), 35 jenis tumbuh di Bali. Saat ini bambu banyak ditanam dan tersebar di seluruh dunia terutama di berbagai negara Asia termasuk Indonesia.
Masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan bambu adalah bambu belum merupakan prioritas Ilmu pengetahuan dan teknologi. Keterbatasan informasi, terutama keterbatasan peneliti dan kegiatan penelitian serta keterbatasan modal.

Bambu digolongkan hasil hutan non kayu dan ditanam hanya 1 (satu) kali, kemudian dilakukan tebang pilih dan pemeliharaan terus menerus. Apabila dipelihara dengan baik bambu dapat bertahan hidup sampai ± 40 th. Bambu sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat, dan dikenal sebagai tanaman ajaib karena fungsinya yang multiguna, mulai dari pemenuhan bahan perumahan, sandang dan juga pangan, serta dapat menjaga keseimbangan lingkungan hidup alam, disamping lingkungan hidup keanekaragaman hayati. Untuk pangan tidak semua jenis bambu dapat dikonsumsi rebungnya, hal ini disebabkan karena kandungan HCN nya sehingga rasanya pahit disamping itu juga ada yang keras, jadi rebung yang bisa dikonsumsi tergantung dari jenis dan tempat hidupnya.

Usaha budidaya bambu untuk produksi rebungnya saat ini khususnya di Indonesia belum ada yang melakukan. Pada umumnya tujuan utama penanaman bambu hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan industri yang berbasiskan bahan baku dari bambu, misalnya kerajinan, bahan bangunan dan alat-alat dapur, sehingga pada saat musim hujan, rebung yang tumbuh hanya dipanen untuk dikonsumsi sendiri dan kelebihannya dijual. Bambu tabah adalah salah satu jenis bambu dari 35 jenis bambu yang banyak tumbuh di Bali, terutama di daerah Pupuan Tabanan Bali, dimana rebungnya sangat enak, lembut, crispy dan manis. Rebung tabah mengandung air (92,2 %), protein (2,29 %), lemak (0,23 %), pati (1,68 %), serat (3,07 %) dan HCN 7,97 ppm.

Melihat dari komposisi kimia rebung bambu tabah cukup tinggi nilai gizinya, sangat bagus dikembangkan untuk rebungnya, mengingat belum ada yang membudidayakan bambu rebung dari jenis ini, disamping itu pula permintaan akan rebung untuk eksport sangat tinggi. Indonesia sampai saat ini belum bisa memenuhi permintaan export walaupun ada permintaan rebung dari Indonesia rata-rata 4500 ton/tahun. Negara tujuan eksport rebung adalah Korsel, Jepang, Taiwan, Amerika, Kanada, Australia, Malaysia, Singapura dan Hongkong. Dari data statistik yang ada, Jepang membutuhkan rebung sebanyak 30.000 ton/th, Taiwan 80.000 ton/th dan Australia 12.000 ton/th. Jadi untuk memenuhi permintaan rebung eksport tersebut minimal disiapkan lahan kebun bambu untuk rebung seluas 1.125 ha. Hal ini sangat memungkinkan pemberdayaan SDA dan SDM di Indonesia, khususnya di Bali untuk mengembangkan industri pedesaan yang berbasis bambu rebung dari jenis bambu tabah. Malihat permasalahan diatas, TOP (Tani Organik Pupuan) akan pertama kali merintis pengembangan bambu untuk rebung dari jenis bambu tabah, yang sudah dimulai sejak tahun 2004, dari kajian Disertasi, kemudian pendataan rumpun bambu di masyarakat, pembibitan dengan stek dan kultur jaringan, penanaman, pengolahan rebung dalam bentuk kemas vakum segar dan steam, pembotolan, pengalengan, kering, fermentasi dan acar, serta pemasaran lokal, luar daerah maupun export dalam bentuk kemitraan terpadu dengan masyarakat dan pemerintah.

Hijaukan Desa Kerta dengan 7.500 Bambu Tabah

Sumber: http://drdiahkencana.wordpress.com/ 19 Juni 2010

Setelah beberapa waktu lalu melakukan penghijauan 5.000 bibit Klengkeng di Payangan, Pemkab. Gianyar kembali melakukan penghijauan dengan menanam 7.500 bibit Bambu Tabah di lahan seluas 15 hektar di Desa Kerta Payangan Gianyar (18/6).

Bupati Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati selepas melakukan penanaman bibit Bambu Tabah, menyampaikan, dipilihnya jenis ini karena Bambu Tabah memiliki nilai ekologi dan nilai ekonomi yang tinggi. Sehingga selain berfungsi untuk menjaga kelestarian lingkungan juga memiliki manfaat bagi kemakmuran masyarakat sekitar. Nilai ekonomi yang dimiliki bambu jenis ini, selain batangnya dapat digunakan untuk keperluan upacara, industri kerajinan, alat rumah tangga dan sebagainya. Akar bambu dan duan dapat dijadikan bahan kerajinan dan pupuk organik. Bagian dari bambu ini yang sangat istimewa dan memiliki nilai ekonomis tinggi adalah bagian rebung yang dapat dimanfaatkan untuk makanan dengan nilai ekspor yang cukup tinggi. “Penghijauan dengan pembudidayaan jenis Bambu Tabah merupakan kegiatan kali pertama yang dilakukan di Indonesia, bahkan di dunia. Tentunya keberadaan tanaman ini dapat dijaga dan dipelihara dengan baik oleh masyarakat sekitar sehingga dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat sekitar,” ungkap Bupati Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati.

Sementara Pioner Pembudidaya Bambu Tabah, Dr. Ir. Diah Kencana, M.S menerangkan keunggulan yang dimiliki Bambu Tabah adalah, jenis tanaman ini dapat tumbuh pada tanah dataran rendah dan tinggi dengan ketinggian 0-4000 dpl, suhu 8-36 C. Selain itu pemiliharan jenis ini sangat mudah dan sangat tahan terhadap hama penyakit. Bagian yang paling istimewa dari jenis bambu ini adalah rebung bambu yang memiliki rasa khas dan kandungan vitamin yang tinggi. Berdasarkan informasi permintaan rebung segar pertahun mencapai 4.500 ton. Adapun negara-negara pengimpor rebung adalah, Korea Selatan, Taiwan, Amerika, Kanada, Jepang, Australia, Malaysia dan Singapura. Selama ini kebutuhan rebung masih dipenuhi oleh Cina, Indonesia sendiri sangat berpeluang menjadi pengekspor rebung bila mendapat dukungan dari pembudidayaan yang dimulai di Payangan ini, ungkap Dr. Diah Kencana.

Penanaman Bambu Tabah pada lahan seluas 15 hektar dengan 7.500 bibit berasal dari DAK Lingkungan Hidup Tahun 2010 dan bantuan Go Green. Adapun lokasi penanaman akan disebar di seluruh Kecamatan Payangan, yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sampai Agustus 2010. Jangka panjang dari kegiatan ini adalah diadakan penanaman mencapai luas 500 hektar.

Adapun strategi yang diterapkan dalam pembudidayaan adalah pada luas penanaman 10 sampai dengan 15 hektar akan dibentuk 1 kelompok komunitas bambu yang terdiri dari 10 orang anggota dan dibangun pula 1 tempat pertemuan agar memudahkan di dalam memonitor dan evaluasi kegiatan penanaman yang di garap dari hulu ke hilir, ungkap Plt. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kab. Gianyar, I Wayan Arthana. ”Kita tidak menanam saja, akan tetapi pangsa pasar juga akan di bantu oleh pioner Dr. Ir. Diah Kencana, MS yang akan dikemas dalam bentuk kerjasama koperasi,” ungkap Arthana.(Humas Gianyar)

2 Responses to “Bambu Tabah”

  1. Yuni Hariyati Says:

    bagaimana mendapatkan bibit bambu tabah?kami di magelang

  2. rebecca Says:

    thanks for your information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: