Enclave Conservation

Aneka Jenis Bambu Indonesia 

Bambu Indonesia Memerlukan Perhatian Khusus & Serius.

Sumber: http://www.enclaveconservation.com/bambu.html 

Kebun Bambu Tradisional Di Pedesaan

Bambu sejak dahulu kala merupakan tumbuhan yang akrab dengan kehidupan masyarakat, terutama di pedesaan, karena bambu banyak manfaatnya, yang paling dominan adalah sebagai komponen bahan bangunan. Perumahan di pedesaan komponen terbesarnya umumnya bambu, mulai dari tiang, kasau & reng genteng, serta dinding (populer dengan istilah bilik atau gedek, bilik/gedek adalah bambu yang dibelah tipis kemudian dirangkai/anyam menjadi lembaran besar, umumnya 3×4 meter) serta lantai (di Jawa Barat dikenal dengan nama Talupuh, talupuh adalah lantai bambu, dimana bambu bulat dibelah hanya pada satu bagian, kemudian buku-buku bambu dibersihkan dan bambu dicintang mendatar searah serat, tetapi tidak dipisahkan, lalu dibentang sebagai lantai). Bagian terbesar rumah adalah yang menggunakan bambu adalah Bilik/gedek, kasau & reng genteng, sementara tiang lebih banyak menggunakan kayu, demikian juga lantai, lebih banyak dipergunakan kayu, namun demikian sampai dengan tahun 1970-an komponen utama adalah bambu. Dimana hampir setiap bagian rumah terdiri dari bambu. Dahulu lantai yang dipergunakan terdiri dari dua jenis, yaitu Talupuh dan Gedek berkulit, lantai talupuh merupakan lantai yang paling kuat, tetapi kelemahannya sulit dirapatkan, sehingga terdapat bagian-bagian yang bolong pada lantai. Lantai seperti ini umumnya dipasang pada rumah-rumah panggung.

Selain sebagai bahan rumah bambu sangat banyak manfaatnya, penduduk di pedesaan menggunakan bambu untuk berbagai kepentingan, baik berupa peralatan bantu kerja seperti Tampah/tampi (berbentuk bulat untuk membersihkan beras), Bubu (alat penangkap ikan), Ayakan (Alat penyaring), Hihid (kipas bambu), Tudung Saji, dan banyak lagi yang lainnya, termasuk barang-barang kerajinan tangan untuk kepentingan rumahan sampai komersial.

Seiring dengan berjalannya waktu, berkurangnya komponen kayu pelengkap bangunan perumahan, posisi bambu kembali dilirik sebagai bahan utama rumah, karena lebih mudah didapat dan harganya relatif murah. Dalam kurun waktu tahun 2000 keatas, kebutuhan bambu terus meningkat, sehingga banyak sekali kebun-kebun bambu yang dipanen, bahkan dalam keadaan muda, sehingga populasinya kian hari kian berkurang. Berkurangnya bambu di alam diperparah karena bambu relatif sulit ditanam, memerlukan perlakuan dan keahlian khusus.

Dapat diduga bahwa dengan eksploitasi yang terus meningkat sementara perkebunan bambu belum dilakukan secara komersial, komoditas ini dapat terus berkurang, sehingga diperlukan upaya konservasi, rehabilitasi, dan penanaman bambu di berbagai sentra eksplotasi. Diperlukan upaya-upaya khusus agar bambu mudah ditanam, aplicable di tingkat masyarakat pedesaan.

JENIS-JENIS BAMBU DI INDONESIA

Indonesia kaya akan plasma nutfah bambu, jumlahnya bahkan diatas seratus jenis. Berikut disajikan beberapa jenis bambu yang umum dikenal dan posisinya penting di tengah-tengah masyarakat. Tulisan ini masih berupa sebuah “teratas”, masih sangat banyak kekurangan, kelemahan. Pendekatan penulisan dibuat populer dan terbalik dari tulisan ilmiah sebuah buku, dimana dalam penulisan ini lebih banyak diangkat dari fakta lapangan. Seluruh foto adalah asli, bukan saduran atau diambil dari internet dan sumber lain, kecuali sebagai bahan perbandingan atau ilustrasi dengan menyertakan keterangan sumbernya.

001. BAMBU GOMBONG

Bambu Gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea maxima) adalah salah satu jenis bambu yang banyak terdpat di Indonesia. Gombong berukuran besar, diameter rata-rata adalah 12 cm, tetapi ukurannya bisa mencapai lebih besar dari itu. Ukurannya yang besar menjadikannya sebagai bambu yang paling banyak dipergunakan sebagai “tiang” pada konstruksi rumah, saung, bangsal dan lain-lain bangunan dengan komponen utama bambu. Tinggi Gombong rata-rata adalah 12 meter dan bisa lebih dari itu, tergantung usia dan kesuburan tanaman.

 

002. BAMBU TAMIANG

BAMBU TAMIANG ( Schizostachyum blumei Nees. Syn. Melocanna zollingeri Steudel var. longispiculata Kurz. ex Munro, Schizostachyum longispiculatum Kurz ex Munro. Kurz. Di China dikenal sebagai Zhao wa si lao zhu. di England dikenal sebagai Borneo schizostachyum, di Francis dikenal sebagai Schizostachyum de Borneo. Di Malaysia dikenal Bongulungul, Tombotuon, Buloh anap, di Brunei Darussalam Buluh lacau, Di Indonesia Buluh Tamiang, Pring wuluh atau Pring jawa. Di Jawa Barat dikenal sebagai Awi Tamiyang. Dalam website ini dipergunakan istilah Bambu Tamiang atau Tamiang saja.

Bambu Tamiang sangat akrab dengan masyarakat Jawa Barat. Bambu ini banyak dipakai sebagai bahan untuk pembuatan Seruling dan Sumpit atau Paser (Alat berburu dengan menggunakan senjata bambu, mirip anak panah yang bagian depannya runcing dan bagian belakangnya diberi gulungan kapas, cara menggunakannya adalah dengan ditiup). Tamiang juga banyak dipergunakan sebagai bahan kerajinan lain. Ciri khas tamiang batangnya kecil, diameter 2-5cm, batang umumnya lurus, daging batang tipis, namun demikian dia kokoh dan stabil serta menghasilkan gaung bunyi yang baik, oleh karenanya dia sering dipakai bahan seruling dan sumpit.

Dahulu bambu ini banyak tumbuh dan ditanam di kalangan masyarakat pedesaan Jawa Barat, seiring dengan perkembangan jaman, seruling dan sumpit kini jarang ditemukan, jarang ada permintaan. Sunpit atau Paser nyaris sudah sangat sulit ditemukan, sejata sederhana ini nyaris punah, sementara seruling masih ada tetapi jumlahnya relatif sedikit, sudah banyak tergeser oleh seruling plastik. Saat ini Tamiang masih ada tetapi jumlahnya sudah sangat terbatas, perlu upaya konservasi agar Tamiang tidak punah. Tanggal 28 April 2012, Enclave Conservation mengadakan eksplorasi kecil di dua tempat di Cianjur, dan berhasil ditemukan dalam jumlah sangat sedikit, seperti tampak pada gambar-gambar di bawah ini.

4 dan 5 Mei 2012 Enclave Conservation akan mengadakan uji coba perbanyakan dan penanaman Tamiang di daerah Cianjur, sebagai upaya konservasi agar tanaman ini bertambah populasinya di alam. Kegiatan konservasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat, teknik masyarakat sebagai sebuah kearifan lokan turun-temurun.

One Response to “Enclave Conservation”

  1. Lintang Says:

    Thanks atas artikelnya,

    request jenis bambu lainnya donk
    boleh nggak????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: