Budi Irawan, dkk

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI KABUPATEN SUMEDANG  JAWA BARAT

DIVERSITY OF BAMBOOS IN SUMEDANG DISTRICT WEST JAVA

Oleh: Budi Irawan, Sri Rejeki Rahayuningsih, Joko Kusmoro

Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA UNPAD

Dibiayai oleh Dana DIPA PNBP Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2006 Berdasarkan SPK No. 204/J06.14/LP/PL/2006 Tanggal 29 Maret 2006

Download file: Keanekaragaman Bambu Jabar  

ABSTRAK

Studi taksonomi terhadap jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang telah dilakukan berdasarkan pengamatan karakter Morfologi dan Anatomi Epidermis
buluh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang meliputi eksplorasi, koleksi, preparasi, serta pengamatan morfologi dan anatomi epidermis buluh. Hasil penelitian di Kabupaten Sumedang diperoleh 16 jenis (spesies) dan 2 varietas bambu yang termasuk ke dalam 6 marga, yaitu Bambusa glaucophylla Widjaja, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vittata A.riviere, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vulgaris, B.tudoides Munro, B.multiplex (Lour.) Raeusch, Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex. Heyne, D.giganteus Munro, Gigantochloa apus (J.A.&J.H.Schultes) Kurz, G.atter (Hassk.) Kurz, G.atroviolaceae Widjaja, G.kuring Widjaja, G.pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja, Phyllostachys bambusoides Siebold et Zuccarini, Schyzostachyum brachycladum Kurz, S. Iraten Steud, S.silicatum Widjaja, dan Thyrsostachys siamensis Gamble. Kunci determinasi bambu disusun untuk mengidentifikasi jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang berdasarkan karakter morfologi dan anatomi.

Kata kunci : Taksonomi, Bambu, Sumedang

ABSTRACT

Taxonomic study of the Bamboos in Sumedang is presented here, based on morphologycal and culm epidermal anatomical characters. The descriptive methode that included exploration, collection, preparation, observation of morphological and anatomical characters was used. Sixteen spesies and two variety had recognized. There are Bambusa glaucophylla Widjaja, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vittata A.riviere , B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vulgaris, B.tudoides Munro, B.multiplex (Lour.) Raeusch, Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex.Heyne, D.giganteus Munro, Gigantochloa apus (J.A.&J.H.Schultes) Kurz, G.atter (Hassk.) Kurz, G.atroviolaceae Widjaja, G.kuring Widjaja, G.pseudoarundinacea (Steud.)Widjaja, Phyllostachys bambusoides Siebold et Zuccarini, Schyzostachyum brachycladum Kurz, S.Iraten Steud, S.silicatum Widjaja, and Thyrsostachys siamensis Gamble. An identification key and description for those sixteen spesies are given.

Keywords : Taxonomy, The Bamboos, Sumedang

PENDAHULUAN

Bambu banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan secara luas karena memiliki batang yang kuat, lentur, lurus dan ringan sehingga mudah diolah untuk berbagai produk (Permadi, 1992 dalam Purnobasuki, 1995). Dalam kehidupan modern, bambu dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga daun dan dapat digunakan untuk produk-produk dekoratif, alat rumah tangga, bahan bangunan, bahan alat kesenian, dan lain-lain (Widjaja, 2001). Bambu juga digunakan dalam upaya konservasi tanah dan air, karena memiliki sistem perakaran yang banyak sehingga menghasilkan rumpun yang rapat dan mampu mencegah erosi tanah (Dahlan, 1994 dalam Widjaja, dkk, 1994).

Menurut Widjaja (2001), di dunia terdapat sekitar 1200-1300 jenis bambu sedangkan menurut data lapangan dan laboratorium bahwa bambu di Indonesia diketahui terdiri atas 143 jenis. Di Pulau Jawa diperkirakan hanya ada 60 jenis, 14 jenis diantaranya hanya tumbuh di Kebun Raya Bogor dan Cibodas sedangkan 9 jenis merupakan endemik pulau Jawa (Widjaja, 2001).

Berdasarkan data di atas dapat dipastikan bahwa bambu merupakan sumber daya yang sangat melimpah dan memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi. Namun, kenyataan yang terjadi adalah tidak semua jenis bambu dikenal oleh masyarakat dengan baik (Widjaja, 2001).

Pada umumnya kunci identifikasi tumbuhan didasarkan pada perbedaan bunga. Akan tetapi, kebanyakan bambu hanya berbunga satu kali sepanjang hidupnya  (pada akhir rentang hidupnya), oleh karena itu sampai saat ini pendapat tentang  taksonomi bambu masih berbeda-beda. Untuk itu, struktur vegetatif perlu  diperhatikan sebagai salah satu kriteria identifikasi bambu (Rao, 1989 dalam  Purnobasuki, 1995). Selain itu, sifat anatomi seperti struktur epidermis merupakan  data yang sangat berharga bagi identifikasi bambu (Liese, 1989 dalam Purnobasuki, 1995).

Agar pengetahuan tentang bambu bisa terus berkembang dan informasi jenis
tidak diragukan lagi keakuratannya, maka perlu dilakukan kajian taksonomi terhadap jenis-jenis bambu yang terdapat di Kabupaten Sumedang berdasarkan struktur morfologi dan anatomi epidermis buluh bambu.

Kabupaten Sumedang merupakan salah satu penghasil bambu yang cukup besar di Jawa Barat. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumedang, hampir semua Kecamatan di Kabupaten Sumedang memiliki luas talun bambu atau kebon awi yang tidak kurang dari 10 hektar (DisHutBun Sumedang,  2001). Pada penelitian ini, lokasi pengambilan sampel hanya dibatasi pada empat  kecamatan yang memiliki luas talun bambu terbesar, dan juga memiliki  keanekaragaman bambu tertinggi. Adapun lokasi pengambilan sampel tersebut adalah di Kecamatan Jatinangor, Sumedang Selatan, Jatigede dan Tomo.

Hampir semua bagian bambu dapat dimanfaatkan. Namun, walaupun manfaat dan peranan bambu cukup banyak, penghargaan masyarakat terhadap sumberdaya ini  masih kurang, bahkan berbagai aspek pengetahuan tentang bambu banyak yang  belum tergali secara optimal dan sampai saat ini pendapat tentang taksonomi bambu pun masih berbeda-beda (Rifai, 1994 dalam Widjaja, dkk, 1994). Permasalahan  tersebut di atas dapat diatasi dengan dilakukannya kajian taksonomi secara menyeluruh tentang bambu.

Backer dan Bakhuizen (1968) telah menyusun kunci identifikasi bambu dalam buku Flora of Java. Kunci identifikasi genus yang dibuat Backer dan Bakhuizen (1968) hanya berdasarkan pada karakter morfologi bunga dan pelepah buluh saja.  Padahal karakter morfologi vegetatif lainnya, seperti tipe rimpang, rebung, buluh,  percabangan, pelepah buluh dan daun dapat dijadikan dasar dalam membedakan  jenis-jenis bambu (Widjaja, 2001). Selain karakter morfologi, karakter epidermis  buluh juga dapat membedakan jenis-jenis bambu. Penelitian Tabrani, dkk (1989)  menunjukan bahwa karakter epidermis buluh juga dapat membedakan jenis-jenis  bambu dari marga Schyzostachyum. Penelitian anatomi epidermis buluh bambu juga  telah dilakukan oleh Alam, et. al (1998) untuk membedakan jenis-jenis bambu di  Bangladesh. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian taksonomi terhadap jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang.

Permasalahan yang menjadi batasan penelitian ini, yaitu :

1. Jenis-jenis bambu apa saja yang tumbuh di Kabupaten Sumedang
2. Apakah karakter morfologi dan anatomi epidermis buluh bambu dapat dijadikan dasar dalam membedakan jenis-jenis bambu

Maksud penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman jenis bambu di Kabupaten Sumedang. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bambu  berdasarkan karakter morfologi tumbuhan maupun anatomi epidemis buluh dengan menyusun pertelaan dan kunci identifikasi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang meliputi eksplorasi, koleksi, preparasi serta pengamatan morfologi dan anatomi epidermis buluh. Metode  eksplorasi, koleksi dan pengamatan morfologi mengacu pada metode-metode yang  dibuat oleh Vogel (1987) dan Rugayah,dkk (2004). Sedangkan, pengamatan anatomi  epidermis buluh mengacu pada metode Tabrani, dkk (1989) dan Alam, et.al (1998).  Untuk penentuan nama-nama jenis bambu yang diperoleh digunakan beberapa buku sebagai acuan, yaitu buku Flora of Java, vol III (Backer and Bakhuizen, 1968),  Identikit Jenis-jenis Bambu di Jawa (Widjaja, 2001), Bamboos (Prosea, 1995), The Bamboos (McClure, 1993) dan The Amazing Grass (Wong, 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keanekaragaman Jenis Bambu di Kabupaten Sumedang

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumedang (2003) menyebutkan bahwa di Kabupaten Sumedang terdapat 9 jenis bambu yang dikelompokkan berdasarkan nama lokal, yaitu : awi tali, haur, gombong, surat, betung, tamiyang,  ampel hideung, talo dan awi wulung. Sedangkan, berdasarkan eksplorasi di empat  Kecamatan (Jatinangor, Sumedang Selatan, Jatigede dan Tomo), diperoleh 20 jenis  bambu berdasarkan nama lokal, yaitu : Bambu Najin, Haur Hejo, Haur Koneng,   Pring Cendani, Mrengenani, Awi Bitung, Betung, Gombong, Awi Tali, Awi Hideung,  Awi Wulung, Gombong Hideung, Awi Ater, Awi Kekes, Awi Temen, Awi Belang, Awi Surat, Bambu Bali, Tamiyang dan Bambu Jepang. Dari 20 jenis bambu tersebut,  secara ilmiah dapat dikelompokkan menjadi 16 jenis (spesies) dan 2 varietas bambu yang termasuk ke dalam 6 marga (Tabel 1).

Berikut ini adalah tabel nama-nama jenis bambu yang ditemukan di Kabupaten Sumedang.

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa Kecamatan Jatinangor memiliki keanekaragaman bambu tertinggi, yaitu terdapat 12 jenis bambu (B.glaucophylla, B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris var vulgaris, B.vulgaris var vittata, G.apus, G.atroviolacea, G.atter, G.pseudoarundinacea, P.bambusoides, S.brachycladum, S.silicatum dan T.siamensis). Dari 12 jenis tersebut, 8 jenis diantaranya (B.vulgaris, G.apus, G.atroviolacea, G.atter, G.pseudoarundinacea, P.bambusoides, S.silicatum, B.tuldoides) terdapat di Arboretum UNPAD yang merupakan kawasan konservasi dan koleksi berbagai jenis tumbuhan. Irawan (1998) menyebutkan bahwa di Kampus Unpad Jatinangor terdapat 6 jenis bambu, yaitu B.glaucophylla, B.vulgaris, G.apus, P.aurea, S.brachycladum dan T.siamensis. Penambahan jenis bambu ini karena adanya penambahan koleksi bambu di Arboretum UNPAD.

Masyarakat Sumedang mengelompokkan bambu menggunakan nama lokal, informasi jenis bambu berdasarkan nama lokal menimbulkan kesulitan dan kerancuan  dalam proses identifikasi. Setiap jenis bambu mempunyai nama lokal yang berbeda  pada setiap daerah, adakalanya satu nama bambu (nama lokal) digunakan untuk dua  jenis yang berbeda pada daerah yang berlainan, contohnya haur hejo (B.vulgaris  var.vulgaris dan B.tuldoides), pring cendani (P.bambusoides dan B.multiplex), awi  bitung (D.asper dan D.giganteus), bahkan umumnya terjadi penamaan yang berbeda  (nama lokal) untuk jenis yang sama, contohnya B.multiplex (Pring Cendani, Mrengenani) dan G.atter (Awi temen, Awi kekes, Awi Ater).

Jenis bambu yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat Sumedang adalah jenis bambu dari marga Gigantochloa. Hal ini sejalan dengan pendapat Widjaja (1986) yang menyatakan bahwa marga Gigantochloa memiliki peranan yang   sangat penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat pedesaan.  Pada umumnya, jenis-jenis Gigantochloa digunakan sebagai bahan baku pembuatan rumah, bahan dasar anyaman, furniture dan sebagai bahan makanan (rebungnya).

Dari kelima jenis Gigantochloa, yang paling banyak tumbuh di Kabupaten Sumedang adalah G.apus (awi tali). Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan bambu  jenis ini sebagai bahan dasar untuk pembuatan kerajinan tangan atau bahan dasar  anyaman (bongsang tahu, bilik, bakul, dll), sehingga masyarakat Sumedang sengaja  membudidayakan bambu ini.  Selain Awi Tali, jenis bambu lain yang banyak dibudidayakan di Kabupaten  Sumedang adalah Awi Surat (G.pseudoarundinacea). Bambu jenis ini banyak  digunakan untuk bahan bangunan atau langsung dijual mentah kepada para pemborong bambu di Indramayu.

Karakter Morfologi Bambu

Secara morfologi, jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang menunjukan keanekaragaman pada ciri-ciri :

a. Rimpang, meliputi : tipe monopodial atau simpodial

b. Rebung, meliputi : bentuk rebung, warna pelepah rebung, warna bulu pada pelepah, bentuk kuping pelepah rebung dan pinggiran daun pelepah rebung

c. Buluh, meliputi : tipe buluh, tinggi buluh, warna buluh (tua dan muda), tekstur permukaan buluh (tua dan muda), panjang ruas buluh, diameter buluh, ketebalan dinding buluh dan karakter buku

d. Percabangan, meliputi : jarak percabangan dari tanah, jumlah percabangan, tipe cabang dan ujung percabangan

e. Pelepah buluh, meliputi : luruh/tidaknya pelepah buluh, panjang pelepah buluh, permukaan abaksial dan adaksial pelepah, warna pelepah, bentuk kuping pelepah, lipatan ujung kuping pelepah buluh, ada atau tidaknya bulu kejur pada kuping pelepah buluh, tinggi ligula, pinggiran ligula, ada tidaknya ligula pada ligula, posisi daun pelepah buluh, tinggi daun pelepah dan pangkal daun pelepah buluh.

f. Daun, meliputi : ukuran daun, warna daun, tekstur permukaan atas dan bawah  daun, ada tidaknya bulu pada pelepah daun, bentuk kuping pelepah daun, ada  tidaknya bulu kejur pada kuping pelepah daun, tinggi ligula, pinggiran ligula, serta ada atau tidaknya bulu kejur pada ligula.

Rimpang

Karakter rimpang dapat digunakan untuk membedakan marga bambu. Tipe rimpang yang ditemukan dalam penelitian ini ada dua bentuk, yaitu simpodial dan  monopodial. Tipe rimpang ini sesuai dengan pendapat Widjaja (2001) dan Mc Clure  (1966). Pada penelitian ini, tipe rimpang simpodial terdapat pada marga Bambusa,  Dendrocalamus, Gigantochloa, Schizostachyum, Thyrsostachys, sedangkan tipe rimpang monopodial hanya terdapat pada marga Phyllostachys.

Tipe rimpang simpodial membentuk rumpun bambu yang rapat dengan arah  tumbuh rimpang yang tidak teratur, sedangkan rimpang monopodial membentuk rumpun yang tidak rapat karena rimpang tumbuh ke arah samping atau horizontal.

Rebung

Karakter rebung dapat digunakan untuk membedakan setiap jenis bambu, yaitu : bentuk rebung, warna pelepah rebung, warna bulu pada pelepah rebung, posisi daun pelepah rebung, bentuk kuping pelepah dan pinggiran daun pelepah rebung.

Bentuk rebung terdiri dari bentuk mengerucut dan bentuk ramping. Bambu
yang berdiameter lebih dari 10 cm, umumnya memiliki bentuk rebung mengerucut,  sedangkan bambu yang berdiameter kurang dari 10 cm memiliki bentuk rebung yang  ramping. Bentuk rebung mengerucut terdapat pada jenis D.asper, D.giganteus dan G.pseudoarundinacea, G.apus, G.atroviolacea dan G.atter, sedangkan bentuk  ramping terdapat pada jenis B.glaucophylla, B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, S.brachycladum, S.silicatum dan T.siamensis.

Warna pelepah rebung umumnya hijau, kecuali pada S.brachycladum yang berwarna kuning kecoklatan. Warna pelepah rebung hijau muda sampai hijau tua  (G.apus dan S.silicatum), hijau kecoklatan (P.bambusoides, B.tuldoides dan B.vulgaris var.vulgaris), hijau kecoklatan dan bergaris kuning (G.pseudoarundinacea), hijau keunguan (D.asper, D.giganteus dan T.siamensis),  hijau kehitaman (G.atroviolacea dan G.atter), hijau kekuningan (B.multiplex) dan hijau dengan 3-4 garis kuning (B.vulgaris var.vittata).

Pelepah rebung umumnya ditutupi oleh bulu-bulu (miang) kecuali pada B.multiplex dan P.bambusoides. Bulu (miang) yang berwarna putih terdapat pada  S.silicatum dan T.siamensis, bulu coklat tua terdapat pada B.vulgaris var.vulgaris,  B.vulgaris var.vittata, B.tuldoides, D.asper dan G. Pseudoarundinacea, bulu coklat  kemerahan terdapat pada S.brachycladum, bulu hitam terdapat pada D.giganteus, G.apus, G.atroviolaceae dan G.atter.

Kuping pelepah rebung dari semua jenis bambu yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari dua bentuk, yaitu bentuk membundar dan menggaris. Namun, ada beberapa jenis bambu yang tidak memiliki kuping pelepah rebung. Bentuk kuping pelepah rebung membundar terdapat pada jenis B.vulgaris var.vulgaris, B.vulgaris var. vitata, B.tuldoides, G.atroviolacea, dan G.atter, sedangkan bentuk kuping pelepah rebung menggaris terdapat pada jenis D.asper,  D.giganteus, G.apus, G.pseudoarundinacea, S.brachycladum dan S.silicatum.  Beberapa jenis bambu yang tidak memiliki kuping pelepah rebung adalah  B.multiplex, P.bambusoides dan T.siamensis. Bentuk kuping pelepah rebung tidak  mengalami perubahan seiring dengan perkembangan rebung menjadi buluh, sehingga  dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan jenis. Para  peneliti sebelumnya (Mc Clure, 1966; Widjaja, 2001; dan Wong, 2004) tidak  menggunakan bentuk kuping pelepah rebung sebagai karakter pembeda dalam mengelompokkan jenis-jenis bambu.

Posisi daun pelepah rebung umumnya tegak, kecuali pada P.bambusoides, S.silicatum dan G.pseudoarundinacea posisinya terlekuk balik. Pinggiran daun pelepah rebung umumnya rata, kecuali pada G.atroviolacea, G.pseudoarundinacea dan P.bambusoides pinggiran pelepahnya bergelombang. Karakter posisi daun  pelepah rebung dan pinggiran daun pelepah rebung belum pernah digunakan oleh  McClure (1966), Widjaja (2001), dan Wong (2004) untuk membedakan jenis-jenis  bambu. Posisi daun pelepah rebung dan pinggiran daun pelepah rebung mengalami  perubahan seiring dengan perkembangan rebung menjadi buluh, misalnya pada G.pseudoarundinacea, posisi daun pelepah rebung terlekuk balik dengan pinggiran  yang bergelombang, namun setelah rebung berkembang menjadi buluh, posisi daun pelepah buluhnya berkembang tegak atau terlekuk balik dengan pinggiran yang rata.

Buluh

Karakter buluh bambu dapat dijadikan sebagai karakter yang baik dalam mengelompokkan jenis-jenis bambu ke tingkat marga dan jenis. Karakter buluh yang  dapat digunakan dalam membedakan jenis-jenis bambu adalah tipe buluh, tinggi  buluh, warna buluh (muda dan tua), permukaan buluh (muda dan tua), panjang ruas buluh, diameter buluh, ketebalan dinding buluh dan karakter buku.

Tipe buluh bambu yang ditemukan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu tegak dan berbiku-biku. Tipe buluh dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu  ke dalam tingkatan marga. Marga Dendrocalamus, Gigantochloa, Phyllostachys,  Schizostachyum dan Thyrsostachys memiliki tipe buluh tegak, sedangkan marga Bambusa memiliki tipe buluh tegak sampai berbiku-biku.

Tinggi buluh umumnya lebih dari 5m kecuali B.glaucophylla hanya mencapai 3-4m. B.multiplex, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, P.bambusoides,  S.iraten, S.silicatum dan T.siamensis, tingginya antara 5-8m, sedangkan G.apus,  G.atroviolacea, G.atter, G.kuring, dan S.brachycladum tingginya antara 9-15m dan jenis D.asper, D.giganteus dan G.pseudoarundinacea, tingginya antara 15-30m.

Diameter buluh cukup bervariasi, pada B.glaucophylla, B.multiplex, P.bambusoides, S.iraten, S.silicatum dan T.siamensis diameternya hanya mencapai  5cm, sedangkan pada B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris,  D.asper, G.apus, G.atter, G.atroviolacea, G.kuring, G.pseudoarundinacea, dan  S.brachycladum diameternya antara 5-15 cm, dan pada D.giganteus diameternya mencapai 20 cm.

Berdasarkan tinggi dan diameter buluh, marga Dendrocalamus memiliki ukuran yang terbesar, tingginya mencapai 30 m dan berdiameter 30 cm atau lebih.  Oleh karena itu, marga Dendrocalamus dikelompokkan sebagai Giant Tropical Clumping Bamboos oleh Haubrich (1981).

Buluh bambu umumnya berwarna hijau, namun ada perbedaan dalam tingkatan warna. Karakter warna buluh bambu mengalami perubahan seiring perkembangan buluh. Hal ini sesuai dengan pernyataan Banik (1993) yang menyatakan bahwa karakter morfologi buluh muda dan buluh tua memiliki perbedaan yang cukup jelas dalam hal warna dan tekstur permukaan buluh.

Warna buluh muda umumnya hijau (hijau muda sampai hijau tua), kecuali pada jenis B.vulgaris var.vittata dan S.brachycladum buluhnya berwarna kuning. Permukaan buluh muda umumnya ditutupi oleh bulu kecuali pada B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata dan B.vulgaris var.vulgaris.

Buluh tua umumnya berwarna hijau kecuali B.vulgaris var.vittata dan S.brachycladum berwarna kuning mengkilat, sedangkan G.atroviolacea berwarna  hitam keunguan. Buluh tua B.glaucophylla, B.multiplex, D.giganteus dan T.siamensis  berwarna hijau kusam, pada B.tuldoides, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper, G.atter, dan S.silicatum berwarna hijau tua, sedangkan pada G.apus, berwarna hijau  kekuningan, pada G.kuring, G.pseudoarundinacea berwarna hijau bergaris kuning,  dan pada S.iraten berwarna hijau muda. Permukaan buluh tua cukup beragam, pada  B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper,  D.giganteus, G.apus, G.kuring, S.brachycladum, S.iraten dan T.siamensis  permukaannya tidak berbulu, pada B.multiplex permukaannya berlilin putih, pada  G.atter, G atroviolacea dan S.silicatum berbulu putih, pada P.bambusoides kadang bertutul hitam.

Bambu yang memiliki panjang ruas buluh terpendek adalah P.bambusoides yaitu antara 5-17 cm. Pada B.glaucophylla, B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris
var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper, G.atter, G.atroviolacea, G.apus, G.kuring, G.pseudoarundinacea, S.brachycladum dan T.siamensis panjang ruasnya  15-50 cm, sedangkan pada D.giganteus, S.silicatum dan S.iraten panjangnya lebih dari 50 cm.

B.glaucophylla, B.multiplex, P.bambusoides, S.brachycladum, S.silicatum dan
S.iraten memiliki ketebalan dinding buluh kurang dari 0,5 cm, pada B.tuldoides,  B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, G.apus, G.atroviolacea dan G.kuring ketebalannya antara 0,5-1,5 cm, sedangkan pada D.asper, D.giganteus, G.atter, G.pseudoarundinacea dan T.siamensis ketebalannya lebih dari 1,5 cm.

Bambu jenis S.silicatum dan S.iraten memiliki panjang ruas lebih dari 50 cm, berdiameter kurang dari 5 cm dan ketebalan dinding buluh yang tipis yaitu kurang  dari 0,5 cm. Sesuai dengan pernyataan Widjaja (1980) kedua jenis bambu ini cocok untuk dijadikan sebagai bahan dasar alat musik angklung.

Karakter buku pada buluh cukup beragam dan sesuai pernyataan Widjaja (2001) karakter buku dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan marga dan jenis. Buku pada marga Dendrocalamus dan Gigantochloa  memiliki akar udara, perbedaannya pada marga Gigantochloa akar udara hanya ada  sampai ruas 3 atau 4, sedangkan pada marga Dendrocalamus akar udara muncul dari  ruas bawah sampai ruas atas. Buku pada marga Bambusa, Phyllostachys,  Schizostachyum dan Thyrsostachys tidak memiliki akar udara. Selain akar udara, karakter buku lain yang dapat digunakan untuk membedakan jenis-jenis bambu  adalah adanya cincin atau gelang putih yang melingkari buku, misalnya pada  G.atroviolacea dan G.atter (pada bagian atas dan bawah buku, cincin bagian bawah  ditutupi oleh bulu-bulu berwarna coklat) dan S.brachycladum (pada bagian bawah  buku). Karakter buku yang menonjol serta bercincin putih terdapat pada P.bambusoides, sedangkan jenis-jenis lainnya memiliki buku polos, yang tidak berakar udara maupun bercincin putih.

Percabangan

Karakter percabangan dapat digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis bambu ke dalam tingkat marga dan jenis bambu. Perbedaan dalam percabangan meliputi : tipe percabangan, jumlah cabang, bentuk cabang dan jarak percabangan dari tanah.

Tipe percabangan pada marga Phyllostachys terdiri dari 2 cabang yang tidak sama besar disebut dikotome, marga Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa dan  Thyrsostachys memiliki 5-15 cabang dengan satu cabang utama yang lebih besar,  disebut polykotome unequal, sedangkan pada marga Schizostachyum umumnya  memiliki percabangan dengan jumlah lebih dari 20 cabang yang ukurannya sama,  disebut polykotome equal.

Jarak percabangan dan bentuk cabang dapat mengelompokkan bambu ke dalam tingkat jenis yang berbeda. Pada B.glaucophylla, B.multiplex, B.tuldoides,  G.kuring dan P.bambusoides, percabangannya muncul pada ruas 1-3; pada B.vulgaris  var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, S.brachycladum, S.silicatum, S.iraten dan  T.siamensis, percabangannya muncul pada jarak 1-2 m dari permukaan tanah;  sedangkan pada D.asper, D.giganteus, G.apus, G.atroviolacea, G.atter dan G.pseudoarundinacea percabangan muncul pada jarak 2-4 m dari permukaan tanah.

Pelepah buluh

Karakter pelepah buluh adalah karakter yang baik untuk mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan jenis. Perbedaan dalam pelepah buluh bambu meliputi : luruh tidaknya pelepah buluh, panjang pelepah buluh, permukaan adaksial dan  abaksial pelepah buluh, warna pelepah, bentuk kuping pelepah, lipatan ujung kuping  pelepah, ada tidaknya bulu kejur pada kuping pelepah, tinggi ligula, pinggiran ligula,  ada tidaknya bulu kejur pada ligula, posisi daun pelepah, tinggi daun pelepah, dan pangkal daun pelepah.

Pelepah buluh bambu jenis B.galucophylla, B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper, D.giganteus, G.atter, G.atroviolacea, G.pseudoarundinacea, P.bambusoides, dan S.brachycladum mudah  luruh, sedangkan pada jenis G.apus, G.kuring, S.silicatum, S.iraten dan T.siamensis tidak mudah luruh.

Para peneliti bambu umumnya menggunakan pelepah buluh sebagai karakter
pembeda dalam mengelompokkan jenis-jenis bambu, namun baik Mc Clure (1966),  Widjaja (2001) dan Wong (2004) tidak menggunakan ukuran panjang pelepah buluh  dan warna pelepah buluh untuk membedakan jenis-jenis bambu. Ukuran panjang  pelepah buluh belum tentu sama dengan panjang ruas buluh, contohnya pada jenis  S.silicatum panjang pelepah buluhnya hanya mencapai 30 cm padahal panjang ruas  buluh mencapai 120 cm (tidak menutupi seluruh permukaan buluh) dan pada jenis  D.giganteus panjang pelepah buluh mencapai 60 cm dan panjang ruas buluhnya  mencapai 70 cm, jadi hampir menutupi seluruh permukaan buluh. Pada jenis lainnya,  misalnya pada P.bambusoides kurang dari 10 cm, pada B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, G.atroviolacea, S.brachycladum, S.iraten dan T.siamensis tingginya antara 10-25 cm, pada B.multiplex, D.asper, G.apus, G.atter, G.kuring dan G.pseudoarundinacea tingginya antara 25-45 cm.

Warna pelepah buluh dari setiap jenis bambu berbeda-beda namun, umumnya
berwarna coklat muda, contohnya pada B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris
var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper, D.giganteus, G.apus, G.atter, G.kuring,  G.pseudoarundinacea, S.brachycladum, S.silicatum, S.iraten dan T.siamensis. Pada  jenis B.multiplex berwarna putih kecoklatan, pada G.atroviolacea berwarna coklat kehitaman dan pada P.bambusoides berwarna coklat kekuningan dan bertutul hitam.

Permukaan adaksial (dalam) dari semua jenis bambu licin (tidak berbulu), sedangkan permukaan abaksial (luar) ada yang berbulu dan ada yang tidak. Jenis  bambu yang memiliki permukaan abaksial berbulu hitam adalah B.glaucophylla,  D.giganteus, G.atter, G.pseudoarundinacea, dan G.apus; yang berbulu coklat sampai  hitam adalah B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, G.atroviolacea, G.kuring,  S.iraten, dan S.silicatum; sedangkan yang berbulu pirang sampai coklat adalah  B.tuldoides, D.asper, dan S.brachycladum; dan yang berbulu putih adalah T.siamensis. Jenis B.multiplex dan P.bambusoides pelepahnya tidak berbulu.

Kuping pelepah buluh pada B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.asper, G.atter dan G.pseudoarundinacea  bentuknya membundar, pada D.giganteus, G.apus, G.kuring, G.pseudoarundinacea dan S.brachycladum bentuknya menggaris dan pada jenis B.multiplex, P.bambusoides, S.iraten, S.silicatum dan T.siamensis tidak teramati karena tidak memiliki kuping pelepah.

Karakter ujung kuping pelepah bambu ada dua macam, yaitu tidak  melengkung dan melengkung keluar. Ujung kuping pelepah yang melengkung keluar terdapat pada jenis B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris , G.atter dan G.atroviolacea; yang tidak melengkung terdapat pada jenis B.glaucophylla, D. asper, D.giganteus, G.apus, G.kuring, G.pseudoarundinacea, dan  S.brachycladum, sedangkan pada jenis B.multiplex, P.bambusoides, S.silicatum,  S.iraten dan T.siamensis tidak dapat diamati karena kuping pelepah tidak berkembang.

Bambu yang memiliki bulu kejur pada kuping pelepahnya adalah B.tuldoides, D.asper, G.kuring, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, S.brachycladum, S.iraten, S.silicatum dan T.siamensis, sedangkan yang tidak memiliki bulu kejur  adalah B.glaucophylla, D.giganteus, G.pseudoarundinacea, G.atter, G.atroviolacea, G.apus, dan P.bambusoides.

Panjang ligula semua jenis bambu kurang dari 1 cm. Pinggiran ligula yang  rata terdapat pada D.asper, S.brachycladum dan T.siamensis; pinggiran rata sampai menggerigi terdapat pada jenis B.vulgaris var.vittata, dan yang pinggirannya menggerigi terdapat pada B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris var.vulgaris, D.giganteus, G.apus, G.atter, G.atroviolacea, G.kuring, G.pseudoarundinacea, P.bambusoides, S.silicatum, dan S.iraten. Umumnya ligula pada semua jenis bambu tidak berbulu kejur kecuali pada G.kuring, S.silicatum, dan S.iraten.

Posisi daun pelepah buluh pada bambu yang ditemukan pada penelitian ini  ada tiga macam, yaitu menyandak, tegak dan terlekuk balik (gambar 11). Posisi daun  pelepah pada B.glaucophylla adalah menyandak, pada B.multiplex, B.tuldoides,  B.vulgaris var.vstriata, B.vulgaris var.vulgaris, P.bambusoides, S.brachycladum, dan  T.siamensis adalah tegak, pada D.asper, D.giganteus, G.atroviolacea, G.atter, G.kuring, G.pseudoarundinacea dan S.silicatum adalah terlekuk balik.

Panjang daun pelepah buluh dari jenis B.glaucophylla, B.multiplex, G.apus, G.kuring, P.bambusoides, S.brachycladum, S.iraten dan T.siamensis umumnya
kurang dari 10 cm, pada B.tuldoides, B.vulgaris var.vulgaris, B.vulgaris var.vittata,  G.atter, G.atroviolacea, , G.pseudoarundinacea dan S.silicatum panjangnya antara 10-30 cm dan pada D.asper dan D.giganteus panjangnya lebih dari 30 cm.

Daun pelepah buluh memiliki pangkal yang melebar atau menyempit.  Pangkal daun pelepah yang melebar terdapat pada jenis B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaria var.vittata, B.vulgaris var.vulgaris, D.giganteus, G.apus, P.bambusoides, S.brachycladum, dan S.iraten, sedangkan yang pangkalnya menyempit terdapat pada jenis B.galucophylla, D.asper, G.atter, G.atroviolaceae, G.kuring, G.pseudoarundinacea, dan S.silicatum.

Daun

Karakter daun dapat digunakan dalam mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan jenis (spesies). Adapun karakter pembeda daun dari masing masing bambu  adalah ukuran, warna daun, permukaan atas dan bawah daun, ada tidaknya bulu pada  pelepah, bentuk kuping pelepah daun, tinggi kuping pelepah, tinggi ligula, pinggiran ligula dan ada tidaknya bulu kejur pada ligula.

Ukuran daun bambu umumnya 4,4-8×5-40cm. Ukuran daun terkecil yaitu pada jenis B.multiplex (1-1,5×5-10cm) dan yang terbesar adalah pada D.asper (5- 10×5-40cm).

Warna daun bambu umumnya hijau, kecuali pada B.glaucophylla berwarna hijau bergaris putih. Permukaan atas daun bambu umumnya tidak berbulu kecuali  pada G.kuring (berbulu halus). Permukaan bawah daun bambu yang tidak berbulu  terdapat pada jenis B.glaucophylla, B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris var.vulgaris,  G.atter, G.kuring, G.pseudoarundinacea dan T.siamensis; yang berbulu halus adalah D.asper, D.giganteus, G.apus, G.atroviolacea, P.bambusoides, S.brachycladum,
S.iraten dan S.silicatum.

Kuping pelepah daun umumnya kecil berukuran 0,1-0,2 cm dengan bentuk menggaris, kecuali pada G.kuring bentuknya membundar. Kuping pelepah daun yang  berbulu kejur terdapat pada jenis B.multiplex, B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata,  P.bambusoides, S.brachycladum, S.iraten, dan S.silicatum, sedangkan pada jenis lainnya tidak berbulu kejur.

Karakter warna daun telah dipakai oleh Widjaja (2001) untuk mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan takson jenis, sedangkan karakter  permukaan atas daun, dan bentuk kuping pelepah daun belum digunakan sebagai  karakter pembeda, padahal kedua karakter inipun dapat digunakan dalam  membedakan bambu ke dalam jenis yang berbeda. Hal ini dapat terlihat dari lima  jenis bambu marga Gigantochloa, hanya G.kuring yang permukaan atas daunnya berbuluh halus dan bentuk kuping pelepah daunnya membulat, jenis Gigantochloa  lainnya memiliki permukaan atas daun yang gundul dan bentuk kuping pelepah daun kecil dan menggaris.

B.glaucophylla, B.multiplex, D.asper, G.apus, G.atter, G.kuring, G.pseudoarundinacea, P.bambusoides, dan T.siamensis permukaan pelepah daunnya tidak berbulu; sedangkan pada B.tuldoides, B.vulgaris var.vittata, B.vulgaris  var.vulgaris, D.giganteus, G.atroviolaceae, S.brachycladum, S.silicatum, S.iraten, permukaan berbulu.

Panjang ligula pelepah daun umumnya 0,05-1 cm. Ligula dengan pinggiran yang rata terdapat pada B.glaucophylla, B.tuldoides, B.vulgaris var.vulgaris, B.vulgaris var.vittata, D.asper, G.apus, G.kuring, G.pseudoarundinacea, S.silicatum,  S.iraten dan T.siamensis; dan yang pinggirannya menggerigi yaitu D.giganteus,  G.atter, G.atroviolacea, P.bambusoides dan S.brachycladum; sedangkan pada  B.multiplex ligulanya tidak berkembang. Ligula pelepah daun umumnya tidak berbulu kejur kecuali pada S.silicatum.

Anatomi Epidermis Buluh

Karakter epidermis buluh dapat diamati dari bentuk dan ukuran sel pendek, bentuk dan ukuran sel panjang, pinggiran sel panjang, serta tipe dan kerapatan stomata.

Sel panjang

Karakter bentuk sel panjang dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke dalam tingkat marga. Marga Bambusa, Gigantochloa, Dendrocalamus dan Phyllostachys memiliki bentuk sel panjang yang memanjang (elongated), pada marga  Schyzoztachyum sel panjangnya memanjang sampai heksagonal, dan pada marga  Thyrsostachys berbentuk heksagonal. Karakter bentuk sel panjang ini sesuai dengan  penelitian Alam, et. Al (1998) mengenai anatomi epidermis buluh berbagai jenis bambu di Bangladesh.

Karakter pinggiran sel panjang bukan karakter yang bagus untuk  membedakan takson ke tingkat jenis, tetapi dapat digunakan untuk membedakan varietas, contohnya pada B.vulgaris var.vulgaris pinggiran sel panjangnya rata sampai bergelombang, sedangkan pada B.vulgaris var.vittata pinggirannya rata.

Ukuran sel panjang setiap jenis bambu umumnya 2-8×10-70μm. Jenis B.tuldoides memiliki ukuran sel pendek terkecil, yaitu 4-5×15-28 μm, sedangkan  S.silicatum memiliki ukuran sel pendek terbesar, yaitu 3-4×30-70 μm.  Alam, et. al (1998) tidak mengungkapkan mengenai ukuran sel panjang, namun hanya mengungkapkan mengenai perbandingan panjang dan lebar sel panjang saja.

Sel pendek

Jumlah sel pendek yang terletak diantara sel panjang yaitu satu sampai empat,
namun umumnya satu. Bentuk sel pendek beranekaragam, yaitu bundar, kotak,
persegi panjang sampai jajaran genjang. Ukuran sel pendek umumnya 1-3×2-7 μm.  Jenis G.kuring memiliki sel pendek dengan ukuran terkecil, yaitu 1×2-3 μm,  sedangkan jenis P.bambusoides memiliki ukuran terbesar yaitu 5-6×5-6 μm. Marga  Schizostachyum (S.brachycladum, S.iraten, S.silicatum) memiliki ukuran sel pendek  antara 2-3 μm, sedangkan berdasarkan penelitian Tabrani, dkk (1989) ukurannya antara 3,5-18 μm (S.brachycladum, S.longispiculatum, S.blumei dan S.caudatum).

Stomata

Bentuk stomata umumnya berbentuk halter kecuali pada S.brachycladum yang stomatanya berpapilla (gambar 12). Hal ini sesuai dengan pernyataan Esau (1965), Johnson, et. al (1983), Fahn (1991), Estiti (1995), dan Alam, et. al (1998)  yang menyatakan bahwa stomata Graminea umumnya berbentuk halter dan terdapat  di bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara, yaitu pada daun, batang dan rhizome.

Ukuran stomata bukan karakter yang baik untuk membedakan tingkatan takson jenis, karena memiliki variasi ukuran antara 4-9×5-15 μm. Jenis bambu yang  memilki ukuran stomata terbesar yaitu D.giganteus (4-7×10-15 μm), sedangkan yang terkecil yaitu B.multiplex (4-6×6-8 μm).

Gambar 12. Stomata bambu : (a) berpapilla, pada S.brachycladum;
(b) bentuk halter, pada G.apus

Kerapatan stomata dihitung dengan membandingkan jumlah stomata terhadap
jumlah sel panjang per satuan luas pandang. Kerapatan stomata dari marga Bambusa, Gigantochloa dan Dendrocalamus umumnya lebih dari 10%, bahkan pada  D.giganteus kerapatannya mencapai 51,8%. Sedangkan pada marga Phyllostachys,  Schyzosyachyum dan Thyrsostachys kerapatan stomata kurang dari 10% dan yang  paling rendah kerapatannya adalah P.bambusoides, yaitu 0,4%. Kerapatan stomata dipengaruhi oleh faktor lingkungan, misalnya cahaya (Fahn, 1991; Estiti, 1995).  D.giganteus memiliki kerapatan stomata terbesar karena habitatnya di talun bambu  dengan intensitas cahaya yang rendah, sedangkan P.bambusoides umumnya ditanam di halaman rumah (tanaman hias) dengan intensitas cahaya yang tinggi.

Tumbuhan parenial umumnya berkayu, terdiri dari segmen-segmen berongga, percabangan, pelepah buluh, dan daun yang berpelepah serta rhizome yang bercabang  atau tidak. Buluh berasal dari percabangan system rhizome; ada dua tipe rhizome  yaitu tipe rhizome pakimorf (simpodial) dan leptomorf (monopodial). Panjang buluh antara 3-30 m. Buku polos, berakar udara atau bercincin putih.

Percabangan terdapat pada buluh, mulai dari ruas bawah atau dasar sampai ruas atas tergantung spesies. Pelepah terdiri atas helaian pelepah, kuping pelepah  yang berbulu kejur atau tidak (gundul), dan ligula. Pelepah ini ada yang tetap  menempel (sessile) pada buluh, atau ada juga yang luruh (absessile) jika buluh telah dewasa. Bulu (miang) pada batang seperti tangkai.

Epidermis terdiri atas sel-sel panjang dan pendek yang tersusun secara bergantian. Bentuk sel panjang adalah memanjang, belah ketupat sampai heksagonal  dengan ujung meruncing dan pinggiran yang rata atau bergelombang. Ukuran sel panjang 2-8×10-70  μm. Bentuk sel pendek adalah bundar, kotak, persegi panjang atau  jajaran genjang. Ukuran sel pendek 1-3×2-7  μm. Bentuk stomata halter atau  berpapilla. Ukuran stomata 4-9×5-15 μm. Sel penutup terdiri dari sepasang sel yang terletak sejajar dengan sel penutup. Kerapatan stomata 0,4%-51,8%.

 

KESIMPULAN

1. Keanekaragaman bambu di Kabupaten Sumedang setidaknya terdiri dari 16 jenis dan 2 varietas bambu yaitu Bambusa glaucophylla Widjaja, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var. vitata A.riviere, B.vulgaris Schard ex. Wendl. var. vulgaris, B.tuldoides Munro, B.multiplex (Lour.) Raeusch, Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex. Heyne, D.giganteus Munro, Gigantochloa apus (J.A.&J.H.Schultes) Kurz, G.atter (Hassk.) Kurz, G.atroviolaceae Widjaja, G.kuring Widjaja, G,pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja, Phyllostachys bambusoides Siebold et Zuccarini, Schyzostachyum brachycladum Kurz, S. Iraten Steud, S.silicatum Widjaja, dan Thyrsostachys siamensis Gamble.

2. Karakteristik bambu dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologi (yaitu tipe rimpang, bentuk rebung, bentuk kuping pelepah rebung, karakter buluh, karakter percabangan, karakter pelepah buluh dan warna daun) dan anatomi epidermis buluh (yaitu karakter bentuk sel panjang).

a. Karakter rimpang terdiri dari 2 bentuk yaitu simpodial dan monopodial. Karakter rimpang ini dapat membedakan tingkatan marga bambu.

b. Karakter bentuk rebung dapat digunakan untuk membedakan marga bambu. Marga Dendrocalamus dan Gigantochloa memiliki bentuk  rebung mengerucut, sedangkan marga Bambusa, Phyllosyachys, Schyzostachyum dan marga Thyrsostachys memiliki bentuk rimpang yang ramping.

c. Bentuk kuping pelepah rebung dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke tingkat jenis.

d. Karakter buluh yang dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke tingkat marga yaitu tipe buluh dan karakter buku, sedangkan  karakter yang dapat membedakan tingkat jenis adalah warna buluh dan permukaan buluh.

e. Karakter percabangan yang dapat digunakan untuk membedakan tingkat marga yaitu tipe percabangan dan jumlah cabang, sedangkan  yang dapat membedakan tingkat jenis adalah bentuk cabang dan jarak percabangan.

f. Semua karaketer pelepah buluh dapat membedakan tingkat jenis bambu.

g. Karakter daun yang dapat digunakan untuk membedakan tingkat jenis bambu yaitu warna daun, bentuk kuping pelepah daun, dan ada tidaknya bulu kejur pada kuping pelepah daun.

h. Karakter epidermis buluh bambu yang dapat digunakan untuk mengelompokkan bambu ke tingkat marga yaitu karakter bentuk sel panjang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada, Ketua Lembaga Penelitian UNPAD yang  telah memberikan dana penelitian melalui DIPA PNBP Tahun Anggaran 2006, Tetty Fatriaty dan Mellia Savlona yang membantu dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alam M K, M Mohiuddin, M A Hassan. 1998. Culm Epidermical Micromorphology  of Bamboos from Bangladesh. Bangladesh Journal of Forest Science 27(1): 31-41.

Banik, R. L. (1993). Morphological Charachter For Culm Age Determination of Different Bamboos of Bangladesh. Bangladesh Journal of Forest Science (Formely Bano Biggyah Patrika) 22 (1 & 2).

Backer Dsc, A and RC Bakhuizen Van Den Brink Jr,. 1968. Flora of Java vol III. (Spermatophytes Only). Wolter-Noordhoff, Groningen. The Nethertlands. Brenneck. 1980. K. A Survey of U.S.D.A. Bamboo Introductions. American Bamboo Soc. Vol1 No.1 (10). USA

Dahlan, Z. 1994. Penelitian Biologi, Budidaya dan Pemanfaatan Bambu di Universitas Sriwidjaja. Dalam Widjaja, EA, M.A Rifai., B Subiyanto, D  Nandika (Penyunting). Strategi Penelitian Bambu Indonesia. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari.Bogor.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumedang. 2001. Potensi Hutan Rakyat Bambu di Kabupaten Sumedang. Sumedang.

Dransfield, S dan E A. Widjaja (Editor). 1995. Plant Resources of South-East Asia- (Prosea)No. 7. Bamboos. Backhuys Publishers. Leiden.

Haubrich, R. 1980. Handbook of Bamboos Cultivated in the United States. Part 1: The Genus Phyllostachys. American Bamboo Soc. Vol 1 No 4 (51)

Haubrich, R. 1981. Handbook of Bamboos Cultivated in the United States. Part II : The Giant Tropical Clumping Bamboos. American Bamboo Soc. Vol 2 No 4.

Hidayat, E. 1995. Pengantar Anatomi Tumbuhan. ITB. Bandung.

Irawan, B.1998. Flora Kampus Universitas Padjadjaran Jatinagor : Monokotil. Skripsi.Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Universitas Padjadjaran. Jatinagor Johnson, M.K., H. Wofford, H.A. Pearson. 1983. Microhistological Techniques for Food Habits Analyses. United States Departement of Agriculture. Lousiana.

Li, D.Z..2005. Taxonomy and Biogeografi of The Bambuseae. International Network Bamboo And Rattan. China

McClure, FA.1966. The Bamboos. Harvard University Press. Boston. Purnobasuki, H. 1995. Perkembangan Batang bambu Ampel (Bambusa vulagris Schard). Tesis Magister Sains (biologi). ITB. Bandung.

Rifai, MA. 1994. Ke arah keterpaduan Penelitian Bambu di Indonesia. Dalam Widjaja, EA, M.A Rifai,  B Subiyanto, D Nandika (Penyunting), Strategi Penelitian Bambu Indonesia.Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Bogor.

Rugayah, E.A Widjaja., Praptiwi. 2004. Pedoman Pengumpulan Data Keanekaragaman Flora. Pusat Penelitian Bilogi. Bogor.  Soderstrom, T.R and Ellis,R.P.1986.The Position of Bamboo genera and Allies in a  System of grasses classification In Grass-Systematics and  Evolution.(T.R.Soderstrom,K.W.Hilu, C.S.Campbell, M.E.Backworth, eds). Smithsonian Institution Press. Washington DC and London

Sultoni, A. 1994. Permasalahan Sumber daya Bambu di Indonesia. Dalam Widjaja,  E.A., M.A Rifai, BSubiyanto., D Nandika. Strategi Penelitian Bambu Indonesia. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Bogor.

Tabrani,G, S. Setiawan,. E.A Widjaja. 1989. Anatomi Buluh Jenis-jenis Schizostachyum koleksi kebun Raya Bogor. Floribunda. 1(11) : 41-44

Vogel, E.F.D. 1987. Manual of Herbarium Taxonomy Theory and Practice. Rijksherbarium Leiden. Netherlands.

Widjaja, EA. 1980. The Angklung and Other West Javanese Bamboo Musical Instruments. Dalam Lessard D, Chouinard A (Editors). Bamboo Research in Asia : Proceedings of a Workshop Held in Singapore. Singapore : International Development Research Centre and the International Union of Forestry Research Organizations. 201-204.

Widjaja, E.A. 1984. Ethnobotanical Notes on Gigantochloa in Indonesia with Special Reference to G. apus. American Bamboo Society Journal 5 (3 ) : 57-68.

Widjaja, E.A. 2001. Identikit Jenis-jenis bambu di Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bilologi. LIPI. Bogor

Wong, KM. 2004. Bamboos The Amazing Grass. International Plant Generic Resources Institute (IPGRI) and University Malaya. Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: