Elizabeth A. Widjaja dan Karsono

Keanekaragaman Bambu di Pulau Sumba Bamboo Diversity in Sumba Island

ELIZABETH A. WIDJAJA♥, KARSONO
“Herbarium Bogoriense”, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor 16002

♥ Alamat korespondensi: Jl. Ir. H. Juanda 22, Bogor 16002. Tel.: +62-251-322035.  Fax.: +62-251-336538. e-mail: ewidjaja@indo.net.id 

BIODIVERSITAS  ISSN: 1412-033X, Volume 6, Nomor 2 April 2005, Halaman: 95-99 

Download file: D060205   

ABSTRACT

Bamboo is one of the economic plant which grow widely in the villages and have been used by the local people in the villages. Indonesia has about 10% of the world bamboo, 50% among them was endemic to Indonesia. According Widjaja (2001) Lesser Sunda Island which consists of Lombok, Sumbawa, Flores, Timor, Sumba and other small island eastern of Flores has 14 bamboo species, however, the information from the Sumba Island was lacking because of lacking data from this area except one species which was proposed by S.

Soenarko in 1977 where the type specimens was collected by Iboet 443 in 1925. To fullfill data from the Sumba Island, an exploration to this area has been conducted on July 2003. The observation was done in West Sumba and East Sumba District, especially in two natioal parks at both districts. According to this inventory study in the Sumba Island, there were 10 bamboo species in Sumba Island, 1 species among them (Dinochloa sp.) was a new species which has not been collected before, whereas the other species (Dinochloa kostermansiana) has a new addition record from this area. The bamboo species in Sumba Island were Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Dendocalamus asper, Dinochloa kostermansiana, Dinochloa sp., Gigantochloa atter, Nastus reholtumianus, Phyllostachys aurea, Schisotachyum brachycladum and Schizostachyum lima. From 10 recorded species, the genera Dinochloa and Nastus grow wild in the forest, whereas another species grow widly or cultivated in the garden. Furthermore, the genus Dinochloa was the only genus grow climbing. The endemic species found in Sumba Island was Nastus reholttumianus, whereas Dinochloa kostermansiana was also found in Flores Island.

© 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Keywords: biodiversity, bamboo, Sumba Island.

PENDAHULUAN

Bambu merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang banyak tumbuh di hutan sekunder dan hutan terbuka, walaupun ada diantaranya yang tumbuh di hutan primair.  Bambu juga merupakan salah satu tanaman ekonomi  Indonesia yang banyak tumbuh di kebun masyarakat dan di  pedesaan. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan oleh  masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan secara  intensif, namun tumbuhan ini belum menjadi tumbuhan yang dapat meningkatkan nilai devisa negara.

Indonesia diperkirakan memiliki 157 jenis bambu yang  merupakan lebih dari 10% jenis bambu di dunia. Jenis  bambu di dunia diperkirakan terdiri atas 1250-1350 jenis. Di  antara jenis bambu yang tumbuh di Indonesia, 50% di  antaranya merupakan bambu endemik dan lebih dari 50%  merupakan jenis bambu yang telah dimanfaatkan oleh penduduk dan sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Menurut Widjaja (2001) bambu di Kepulauan Sunda  Kecil yang termasuk di antaranya Lombok, Sumbawa,  Flores, Timor, Sumba dan pulau-pulau di sebelah timur  Flores terdiri atas 14 jenis, namun sebenarnya informasi  dari P. Sumba belum direkam dengan teliti karena  kurangnya data dari daerah ini kecuali jenis yang diusulkan  oleh S. Soenarko pada tahun 1977 yang dikoleksi oleh  Iboet 443 tahun 1925. Selain P. Sumba, flora termasuk  bambu di pulau-pulau kecil disebelah timur P. Flores  sangatlah sedikit diketahui. Jenis Nastus reholttumianus ini  dilaporkan dikoleksi dari daerah Mangiliwari dekat Mao  Marroe, P. Sumba dan jenis ini dideskripsi hanya dari tipe  specimen tanpa ada informasi lagi sejak tahun 1925.  Karena kurangnya informasi dari P. Sumba maka penelitian  di daerah sangat diperlukan untuk melengkapi data jenisjenis  bambu di Kepulauan Sunda Kecil. Diharapkan data  yang diperoleh dapat dipergunakan untuk melengkapi  inventarisasi keanekaragaman bambu Kepulauan Sunda  Kecil secara umum dan P. Sumba secara khusus. Koleksi  dilakukan ke seluruh pelosok P. Sumba, dengan harapan  keanekaragaman jenis bambu di pulau ini dapat terekam dengan baik.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2003, dengan  mengadakan eksplorasi keseluruh daerah P. Sumba.  Perjalanan dilakukan ke kabupaten Sumba Barat terutama  di daerah Taman Nasional (TN) Manupeu-Tanah Daru, dan  Kabupaten Sumba Timur di daerah TN Laiwangi-  Wanggameti. Masing-masing taman nasional tersebut  mempunyai luas 87,984.09 ha dan 47,014 ha. Selain pada  kedua taman nasional tersebut, perjalanan juga dilakukan  ke daerah pedesaan di bagian barat, utara, timur dan  selatan. Hasil eksplorasi di bawa ke Herbarium Bogoriense,  Bogor untuk dilakukan penelitian melalui pengamatan  morfologi dan menggunakan acuan spesimen herbarium  maupun pustaka yang ada, yaitu: Widjaja (1998, 2001), dan Soenarko (1977).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi lokasi penelitian

Perjalanan ke P. Sumba diawali dengan pengumpulan  data yang diperoleh dari penduduk setempat. Secara garis  besarnya, P. Sumba terbagi dalam 2 kabupaten yaitu  Sumba Barat dan Sumba Timur. Kedua kabupaten tersebut  sangat berbeda baik dari segi iklimnya maupun budaya  setempat. Di Sumba Barat, kebudayaannya sangat  bervariasi karena hampir setiap kecamatan mempunyai  suku yang sangat berbeda dengan kecamatan lain,  demikian pula bahasanya. Karena itu tidaklah  mengherankan bila diketemukan pula penduduk yang  masih menganut agama animisme. Di P. Sumba Timur  hanya ada satu kebudayaan dan bahasa. Sumba Barat  mempunyai curah hujan yang lebih tinggi dari pada Sumba  Timur karena itu di Sumba Barat tampak lebih banyak  hutan dan lebih subur dibanding Sumba Timur. Walaupun  di Sumba Barat juga dijumpai beberapa areal padang  rumput tetapi tidak seluas di Sumba Timur. Di kedua  kabupaten tersebut masing-masing mempunyai taman  nasional yang baru saja dibentuk pada tahun 1998 yaitu TN  Manupeu-Tanah Daru di Sumba Barat dan TN Laiwangi-  Wanggameti. Masing-masing mempunyai 87,984.09 ha dan  47,014 ha. Kedua taman nasional tersebut masih dikepalai  oleh seorang kepala taman nasional karena belum ditunjuk  kepala taman nasional pada masing-masing lokasi. Untuk  menuju ke dua lokasi taman nasional tersebut tidaklah  mudah, walaupun untuk TN Tanah Daru relatif lebih mudah  karena taman nasional ini dilintasi jalan raya antara Waingapu dan Waikabubak.

Pengumpulan spesimen bambu dilakukan pada kedua  taman nasional tersebut terutama di daerah yang terbuka  atau di pinggir hutan karena sifat bambu yang umumnya  tumbuh di pinggir hutan atau di sepanjang sungai.  Mengingat akan keamanan di kabupaten Sumba Barat  yang belum terjamin maka pengumpulan spesimen bambu  di TN Manupeu-Tanah Daru dilakukan di sepanjang jalan  lintas Waingapu-Waikabubak, demikian pula pengumpulan  di desa Rara, Pela, Mamboru dilakukan sepanjang  perjalanan saja. Sedangkan untuk daerah Sumba Timur,  hutan-hutan umumnya terdapat di lembah-lembah bukit  padang rumput, selain itu juga diperoleh di pinggir hutan  yang secara kebetulan berdekatan dengan jalan utama ke  desa Wanggameti. Daerah yang dikunjungi selama pengumpulan spesimen bambu disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta lokasi koleksi bambu di P. Sumba.

Keanekaragaman jenis bambu

Adapun hasil spesimen yang dikumpulkan dari P.  Sumba berupa spesimen herbarium berjumlah 71 nomor  (400 specimen). Jenis-jenis bambu yang diketemukan di P. Sumba adalah:

1. Bambusa blumeana J.A. & J. H. Schultes
2. Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl.
3. Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne
4. Dinochloa kostermansiana S. Dransf.
5. Dinochloa sp.
6. Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz
7. Nastus reholttumianus S. Soenarko
8. Phyllostachys aurea Carr. ex A. & C. Riv.
9. Schizostachyum brachycladum Kurz
10. Schizostachyum lima (Blanco) Merr.

Bambusa blumeana

Rebungnya dengan miang hitam, seringkali dengan  garis kuning pada pelepahnya. Batang mudanya berlilin  putih sehingga tampak berwarna abu-abu, dengan cabang  yang penuh duri sehingga tampak rumpun sangat padat.  Percabangan tumbuh di atas tanah dengan cabang utama  lebih besar daripada cabang sampingnya. Pelepah  buluhnya mudah luruh dengan kuping pelepah buluh  bercuping hingga 5 mm tingginya dan berbulu kejur hingga  25 mm panjangnya, ligula seperti bingkai pendek dengan  tinggi mencapai 3 mm dan berbulu kejur hingga 6 mm  panjangnya, daun pelepah buluhnya tegak hingga menyebar.

Bambu ini diketemukan dalam bentuk menggerombol  hanya 4 rumpun. Menurut informasi jenis ini ditemukan  cukup banyak di bukit-bukit daerah utara P. Sumba. Bambu  ini hanya diketemukan di Sumba Barat di Desa Cendana,  Kec. Mamboro dan selama perjalanan ini jenis ini belum  diketahui keberadaannya di kabupaten Sumba Timur.  Nama daerah: O’o karet (bahasa Mamboro) atau O’o  patara (patara = berduri), sedangkan di Kupang disebut o’o  kaka, to’e (Manggarai), au fuik (Viqueque, Timor Lorosae) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: di tanah kering, dekat bukit padang rumput.

Bambusa vulgaris

Rebung hijau dengan ujung yang kekuningan dan miang  hitam. Batangnya licin dengan warna hijau atau kuning  dengan garis hijau. Percabangan tumbuh di atas tanah  dengan cabang utama lebih besar daripada cabang lainnya.   Pelepah buluhnya mudah luruh, dengan kuping pelepah  buluh bercuping melengkung keluar, tinggi hingga 2 cm  dengan bulu kejur mencapai 8 cm panjangnya, ligula  menggerigi dengan tinggi hingga 4 mm tingginya dan bulu  kejur mencapai 3 mm panjangnya, daun pelepah buluhnya menyegitiga melebar dan tegak bentuknya.

Bambu ini tumbuh tersebar di P. Sumba dan  merupakan jenis yang merajai daerah P. Sumba, dan  dimanfaatkan oleh penduduk untuk membuat kandang  kerbau/sapi, tempat karantina hewan, tempat penanaman  rumput laut, untuk tempat penangkapan ikan di laut. Karena  bambunya yang kuat dibandingkan jenis lain yang ada di P.  Sumba, jenis ini sangat besar manfaatnya. Oleh sebab itu  jarang dijumpai dalam rumpun bambu ini terdapat batang yang sangat tua.

Nama daerah: Hijau: Au bata (Sumba Timur), O’o pata,  gurung (Manggarai), guru (Bajawa), oo todo (Bima), au dian  (Tetun). Kuning: Oo muncar (Bima), au bata kuning (Sumba Timur) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: sepanjang pinggir sungai atau pinggir jalan.

Dendrocalamus asper

Rebungnya kehitaman dengan miang coklat kehitaman  menutupi seluruh rebungnya. Bagian pangkal batang  mudanya ditutupi oleh bulu coklat membeludru, sedangkan  batang bagian atas keputihan ditutupi lilin putih sehingga  warna batang menjadi hijau keputihan. Lilin putih akan  menghilang ketika batang menjadi menua. Percabangan  muncul pada bagian tengah hingga atas buluhnya. Pelepah  buluhnya ditutupi bulu hitam, kuping pelepah buluh  membulat sampai agak melengkung keluar dengan bulu  kejur yang panjangnya mencapai 6 mm, ligulanya menggerigi tidak beraturan dengan tinggi hingga 6 mm.

Bambu ini diketemukan dalam jumlah yang lebih sedikit  daripada Bambusa vulgaris dan Gigantochloa atter.  Menurut informasi penduduk bambu ini ada bersamaan  dengan masuknya agama islam ke P.Sumba. Bambunya  dimanfaatkan penduduk untuk membuat dinding rumah,  serta rusuk atap rumah. Jenis ini paling banyak tumbuh di  kabupaten Sumba Barat terutama di daerah sekitar  Waikabubak ke Rara, walaupun kadang-kadang masih diketemukan juga di desa Pela ke arah Mamboru.

Nama daerah: Au tiring, Au piting (Sumba Timur), O’o  potto (Loli), patto rodha (Elopada), betung, beto  (Manggarai), bheto (Bajawa), oo patu (Bima), patung (Tetun) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: sepanjang jalan, atau pinggir sungai atau di kebun penduduk yang lembab.

Dinochloa kostermansiana

Bambunya merambat hingga di pucuk pohon yang  berdekatan, rebungnya ungu ditutupi oleh lilin putih dan  gundul tanpa miang. Buluhnya merambat, berbuku-buku,  diameter hingga 2 cm seringkali padat tidak berlubang.  Percabangan tumbuh di atas permukaan tanah, jika batang  utama terpotong maka cabang utama akan tumbuh sebesar  batang utama. Pelepah buluh gundul, mudah luruh, kuping  pelepah buluh membulat dan terkeluk balik, mencapai 4  mm tingginya dengan bulu kejur panjangnya hingga 9 mm,  ligulanya rata, tingginya 1 mm, gundul, daun pelepah buluh terkeluk balik, menyegitiga dengan pangkal menyempit.

Bambu ini pertama ditemukan tumbuh di P. Flores  (Manggarai) oleh ahli Botani Kostermans dan selanjutnya  ditemukan pula oleh seorang rohaniwan Jerman Schmutz di  daerah Flores barat. Pada tahun 1984 jenis ini pernah  dikoleksi dari P. Sumba di hutan Manupeu oleh Sulistiarini  dan Tahan Uji 136. Sejak itu tidak ada data baru yang  menunjukkan bahwa jenis ini memang tumbuh tersebar di  P. Sumba. Dari koleksi terakhir ini ditemukan bahwa bambu  ini banyak tumbuh di sepanjang jalan dari Lewa ke TN Tanah Daru.

Nama daerah: wada (Loli), wesang (Manggarai) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: Sepanjang jalan hutan primair,  umumnya mencari tempat yang terbuka untuk tumbuhnya. Tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl.

Dinochloa sp.

Bambunya merambat hingga pucuk pohon, rebungnya  hijau dengan lilin putih, pada batang muda ditutupi bulu  putih melekat yang tersebar tapi mudah gugur, batangnya  yang muda ditutupi oleh lilin putih dan berbulu putih.  Pelepah berbulu tersebar putih, melekat tapi mudah gugur  dan ditutupi oleh lilin putih ketika masih muda, berkuping  membulat besar, terkeluk balik, hingga 7 mm tingginya,  dengan bulu kejur yang panjang seperti bulu mata yang  lentik hingga panjangnya 12-15 mm, ligula bergerigi  tingginya sampai 3 mm, dengan bulu kejur panjang hingga 8 mm, daun pelepah buluh terkeluk balik.

Bambu ini secara sepintas hampir serupa dengan yang  pernah diketemukan di Papua Nugini dan Papua oleh E.A.  Widjaja pada tahun 1993, tetapi berbeda pada rebungnya  yang ungu berlilin putih dengan pelepah buluh mempunyai  kuping yang besar membulat berkeluk balik dan berbulu  kejur yang panjang. Pelepah daunnyapun mempunyai  kuping pelepah daun yang besar terkeluk balik, sangat  berbeda dengan jenis yang ditemukan di P. Sumba ini yang  tidak berkuping pelepah buluh walaupun pada ligulanya tampak berbulu panjang.

Sejak diketemukannya bambu ini belum dapat  diidentifikasi, karena tidak dilengkapi dengan bunganya.  Melihat cara pertumbuhannya jenis ini dapat digolongkan  dalam marga Dinochloa karena mempunyai sisa pelepah  yang sangat kasar dan melekat pada buku-bukunya.  Sedangkan yang berasal dari Papua Nugini dan Papua  masih diragukan kedudukan marganya karena selama ini  tidak pernah dilaporkan marga Dinochloa tumbuh di Papua Nugini.

Nama daerah: Oru (Sumba Timur)

Tempat tumbuh: Sepanjang jalan ke TN Wanggameti  pada ketinggian 800-1000 m, tetapi juga diketemukan pada  Km 28 jalan dari Waingapu ke arah Lewa pada ketinggian  450 m dpl. Diduga keberadaannya di dataran rendah  karena bambu ini tumbuh mengikuti aliran sungai yang berasal dari TN. Wanggameti.

Sebagai catatan, bambu marga Dinochloa belum  diketemukan ada di Papua, Maluku dan pulau-pulau di  sebelah timur P. Sumba, sehingga tampak kalau  persebarannya seperti terputus. Oleh sebab itu penelitian  selanjutnya perlu dilanjutkan terutama mengungkapkan keberadaannya di pulau-pulau sebelum timur Flores.

Gigantochloa atter

Rebung warna hijau keunguan dengan miang coklat tua  hingga hitam. Batangnya tegak berwarna hijau kebiruan,  licin, dengan percabangan tumbuh di bagian tengah hingga  atas buluh. Pelepah buluhnya mudah luruh, ditutupi oleh  bulu hitam merata, kuping pelepah buluhnya membulat  dengan ujung agak melengkung keluar dengan bulu kejur  diujungnya yang mencapai 6 mm panjangnya, ligula menggerigi tidak beraturan dengan tinggi mencapai 6 mm.

Bambu ini merupakan jenis kedua yang merajai P.  Sumba. Bambu ini banyak tumbuh di kabupaten Sumba  Barat daripada Sumba Timur, walaupun jenis ini juga  diketemukan di kabupaten Sumba Timur. Penduduk  mengatakan bahwa bamboo ini bukanlah bambu asli P.  Sumba, karena itu disebutnya bambu jawa yang artinya  merupakan bambu asing di P. Sumba. Bambu ini banyak dimanfaatkan untuk membuat bilik (dinding bamboo).

Nama daerah: Au jawa, O’o jawa, Wo’o jawa (Loli),  pering (Manggarai), peringura (Bajawa), au oro (Tetun), oo pa’i (Bima) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: sepanjang jalan dari Waingapu hingga  Rara, dari ketinggian 0 m dpl. hingga ketinggian 1000 m dpl.

Nastus reholttumianus

Rebungnya hijau keunguan, ditutupi oleh miang gatal  yang hitam, dengan buluh muda yang keputihan hingga  batang tampak berwarna hijau abu-abu. Batangnya bagian  bawah tegak, tapi bagian atas panjang sehingga mencari  tempat bersandar. Batangnya panjang dan tipis,  percabangan ada sejak dipermukaan tanah tapi kadangkadang  tidak tumbuh baru setelah 1-2 m dari atas tanah  tumbuh cabang, cabang utama lebih besar dari cabang  lainnya. Pelepah buluh mudah luruh, berwarna coklat  ditumbuhi bulu yang tumbuhnya tegak pada pelepah  buluhnya, kuping pelepah buluh kecil hingga 3 mm  tingginya, dengan bulu kejur panjang hingga 10 mm  panjangnya, ligulanya bergerigi, dengan tinggi hingga 3 mm  dan gundul, daun pelepah buluh menggaris panjang sehingga terkeluk balik.

Bambu ini banyak tumbuh di jurang-jurang atau lembahlembah  dari Tanah Rara ke Wanggameti. Penduduk kurang  memanfaatkannya walaupun banyak dijumpai di jurangjurang.  Jenis ini pertama kali diketemukan di Mangili wari  dekat Mae Marru, sebenarnya nama lokasinya agak salah  karena desa yang sebenarnya adalah Mangili wari kira-kira  2 km dari Mao Morru. Menurut informasi bambu ini juga  diketemukan di Km 8 dari Waingapu ke arah Lewa, tetapi  pada waktu koleksi tidak diketemukan karena hutan bekas  terbakar, sehingga tidak tampak ada sisa rumpun bambu tumbuh di daerah ini.

Nama daerah: Oru (Sumba Timur).

Tempat tumbuh: lembah dan jurang sepanjang jalan  dari Tanah Rara ke Wanggameti, dari Wanggameti ke Mao  Marru hingga pertengahan ke arah Melolo. Tumbuhnya pada ketinggian 600-800 m dpl.

Sebagai catatan, jenis ini pertama kali dipertelakan oleh  Soejatmi Soenarko pada tahun 1977 dari satu-satunya  koleksi Iboet 443 yang dibuat pada tahun 1925. Sejak itu  tidak pernah ada lagi koleksi bambu jenis ini dibuat,  walaupun jenis ini sebenarnya tersebar luas di kabupaten  Sumba Timur di jurang-jurang antara padang rumput.  Koleksi yang sekarang dibuat dapat dipakai untuk  melengkapi koleksi yang ada karena rebungnya tidak diperoleh pada koleksi Iboet 443 (Soenarko, 1977).

Phyllostachys aurea

Rebungnya hijau dengan pelepah coklat bertutul-tutul  hitam tanpa ada miang. Batangnya tegak dengan  percabangan terletak di bagian atas buluhnya.  Percabangannya hanya 2 dan dibawah percabangan dekat  buku-bukunya terdapat cekungan yang dalam, baik pada  buluh muda maupun buluh tua. Buluh muda ditutupi oleh  lilin putih. Pelepah buluhnya tipis, bertutul hitam, gundul,  kuping pelepah buluh tidak berkembang atau sangat kecil  dengan beberapa bulu kejur yang mudah luruh; ligula  tingginya sampai 3 mm, dengan bulu kejur yang  panjangnya hingga 2 mm, daun pelepah buluh menggaris, panjang, terkeluk balik.

Bambu ini hanya diketemukan tumbuh di halaman  rumah penduduk di Waikabubak. Asal mula bambu ini tidak  diketahui, namun hanya sebuah rumah yang mempunyai  tanaman ini. Agaknya bambu ini cocok tumbuh di Waikabubak yang mempunyai ketinggian 450 m dpl.

Nama daerah: tidak diketahui.

Tempat tumbuh: sebagai tanaman pagar kebun.

Sebagai catatan, bambu ini merupakan data baru untuk  Kepulauan Sunda Kecil, karena sebelumnya tidak pernah dijumpai ditanam di Kepulauan Sunda Kecil (Widjaja, 2001).

Schizostachyum brachycladum

Rebungnya hijau atau kuning dengan pelepah coklat  tertutup oleh miang coklat. Buluhnya tegak berwarna hijau  cerah atau kuning dengan garis hijau, seringkali diliputi  oleh miang putih. Buluh yang sudah tua licin, dengan  percabangan tumbuh pada bagian tengah buluh hingga ke  atas. Percabangannya sama besar dan banyak. Pelepah  buluhnya ditutupi miang coklat dengan daun pelepah buluh  tegak menyegitiga dan tidak mudah luruh, kuping pelepah  buluh seperti bingkai dan keil, tampak dengan jelas,  tingginya mencapai 6 mm dengan bulu kejur yang panjangnya hingga 8 mm, ligulanya rata, tingginya 2 mm.

Bambu ini tumbuh dalam jumlah tidak terlalu banyak  dan tumbuh terpencar. Menurut penduduk bambu ini  banyak dicari orang untuk membuat nasi bambu atau lemang.

Nama daerah: Pollo (Sumba Barat), Kaliwu (Sabu), belang (Manggarai), bela (Bajawa) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: ditanam sepanjang jalan dari  Waingapu hingga Waikabubak, dan tidak diketemukan ada di Kabupaten Sumba Timur.

Schizostachyum lima

Rebungnya hijau kecil, bermiang coklat sangat gatal.  Buluhnya juga kecil, tipis dengan ruas yang panjang oleh  sebab itu tidak mengherankan bila banyak dimanfaatkan  untuk membuat seruling. Percabangan letaknya dibagian  tengah hingga atas buluh, bentuknya sama besar. Pelepah  buluhnya tidak mudah luruh, ditutupi oleh miang coklat  keputihan sangat gatal, kuping pelepah buluh tidak tampak  dengan bulu kejur yang panjang mencapai 12 mm,  ligulanya rata tingginya 1 mm dengan bulu kejur yang  panjangnya hingga 10 mm, daun pelepah buluh menggaris dan terkeluk balik.

Nama daerah: Au tamiang (Sumba Timur), tame (Loli), helang (Manggarai), wula (Bajawa) (Widjaja, 2001).

Tempat tumbuh: tumbuh sepanjang jalan dalam jumlah  tidak banyak. Bambunya sering digunakan untuk pancing, dan sumpit burung.

Kunci identifikasi jenis-jenis bambu di P. Sumba  Berikut ini dikemukakan kunci identifikasi jenis-jenis  bambu di P. Sumba untuk dapat dipergunakan dalam mengidentifikasi.

Tingkat kelangkaan bambu di P. Sumba  

Bambu di P. Sumba yang terdiri atas 10 jenis  merupakan jenis-jenis yang umum tersebar luas kecuali D.  kostermansiana, Dinochloa sp. dan Nastus reholttumianus.  Jenis D. kostermansiana pertama ditemukan di Manggarai  (Flores) dan sejak tahun 1984 dilaporkan juga ada di hutan  Manupeu. Jenis ini tumbuh tersebar luas dan sangat  berlimpah, walaupun keberadaannya sangat tergantung  daripada keadaan hutan disekitarnya karena bambu ini  membutuhkan naungan dari pohon besar dan juga sebagai  tempatnya bergantung. Jenis kedua Dinochloa sp.  merupakan jenis yang baru diketemukan pada ketinggian  800-1000 m dpl. Jenis ketiga adalah Nastus reholttumianus,  yang merupakan jenis endemik dari pulau ini. Jenis yang  terakhir ini diketemukan sejak tahun 1925 oleh Iboet  dengan spesimen yang kurang lengkap. Koleksi kedua ini  merupakan pelengkap dari koleksi Iboet. Jenis ini masih  tumbuh tersebar di dataran tinggi dan umumnya di jurangjurang atau lembah di padang rumput.

KESIMPULAN

 Ditemukan 10 jenis bambu di P. Sumba, yaitu: Bambusa  blumeana, B. vulgaris, Dendrocalamus asper, Dinochloa  kostermansiana, Dinochloa sp., Gigantochloa atter, Nastus  reholttumianus, Phyllostachys aurea, Schizostachyum  brachycladum, dan S. lima. Dari kesepuluh jenis bambu  yang diketemukan di atas, jenis Dinochloa kostermansiana  merupakan data tambahan untuk P. Sumba sedangkan  jenis Dinochloa sp. merupakan jenis baru dan data baru  untuk P. Sumba. Jenis Nastus reholttumianus merupakan  satu-satunya jenis endemik yang tumbuh tersebar di jurang  daerah padang rumput. Jenis asli yang ada di P. Sumba  menurut informasi dari penduduk dan berdasarkan  jumlahnya yang berlimpah adalah jenis Bambusa vulgaris,  walaupun sebenarnya jenis ini merupakan jenis yang  tumbuh tersebar luas di daerah tropika. Penelitian lanjutan  dari jenis Dinochloa sp.yang belum diketahui namanya  perlu dilanjutkan, untuk itu diperlukan bunga dari spesimen ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

 Ucapan terima kasih ditujukan kepada Kepala TN  Manupeu-Tanah Daru dan Laiwangi-Wanggameti beserta  stafnya yang telah membantu dalam pelaksanaan  eksplorasi di daerah tersebut. Di samping itu tak lupa  ucapan terima kasih ditujukan pula kepada Herbarium  Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, LIPI  yang telah memberikan kesempatan untuk mengadakan  eksplorasi dan menggunakan spesimen yang tersimpan di  gedung Herbarium. Terakhir ucapan terima kasih ditujukan  kepada Pemerintah Indonesia melalui Pusat Penelitian  Biologi yang telah membiayai perjalanan eksplorasi ke P.  Sumba dalam proyek penelitian Pelestarian dan Pendayagunaan Bambu secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Soenarko, S. 1977. A new species of Nastus Nees (Gramineae) from Sumba. Garden’s Bulletin Singapore 30:17-19.

Widjaja, E. A. 1998. Bamboo diversity in Flores. In H. Simbolon, The Natural Resources of Flores Island. :38-50.

Widjaja, E. A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Kepulauan Sunda Kecil. Bogor: Herbarium Bogoriense, Balitbang Botani, Puslitbang Biologi-LIPI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: