Ida Bagus Ketut Arisana

Keanekaragaman dan Penggunaan Jenis-jenis Bambu di Desa Tigawasa, Bali

Diversity and utilization of bamboo species in Tigawasa Village, Bali

IDA BAGUS KETUT ARINASA
UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali-LIPI. Tabanan,   Bali 82191.

Alamat korespondensi: Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali 82191. Tel. & Fax.: +62-368-21273. e-mail: arinasa04@hotmail.com 

BIODIVERSITAS  ISSN: 1412-033X; Volume 6, Nomor 1 Januari 2005; Halaman: 17-21 

Download file:D060104  

ABSTRACT

Tigawasa is one of the famous traditional villages as a center of bamboo handicraft in Buleleng regency-Bali. As a center of bamboo handicraft its have been wrestled since centuries. Their peoples have done traditionally bamboo conservation surrounding their house and garden too. The marginal area, river flow area and stiff slope that are outskirts of village become to focus of bamboo conservation by their peoples, too. This research conducted at Tigawasa village in June 2003 by stripe and interview methods. Two kilometers stripe length by 50 meters width; follow the direction north south of the river was investigated. To know the utilization of kind of bamboo and their product conducted by interview to craftsman and community figure. The result of inventory knew about four genus consist of 19 species planted in this village. To know those bamboo species will be presented their key of determination. The genus of Gigantochloa and Schizostachyum to dominate of their species, and have many uses of it’s, also. Not less than 54 kind of bamboos handicraft product was produced in this village. The diversity of bamboos handicraft product, develop according progress of the technology and demand of period. Many of new products composed and use of color or paint develop to produce varieties of fixed product. Two-kind of product that is traditional boxes (“sokasi”) handicraft and woven bamboo (“bedeg”) to become this village famous at Bali, even though in foreign countries Energetic development of bamboos home industry to come to decrease stock of raw materials. About two trucks supply from east Java regularly to anticipation of decrease local stock of raw materials every week.

2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Keywords: inventory, utilization, bamboo species, Tigawasa village, Bali.

PENDAHULUAN

Desa Tigawasa adalah sebuah desa tradisional (“Baliaga”) yang sangat terkenal sebagai salah satu pusat kerajinan anyaman bambu di Kabupaten Buleleng-Bali. Desa ini berjarak sekitar 19 km sebelah barat kota Singaraja dan 97 km sebelah utara Denpasar, terletak pada ketinggian 500-700 m dpl. dan tofografi daerah berbukit. Jumlah penduduknya 4.608 jiwa, sebagian besar mata pencahariannya sebagai perajin anyaman bambu (Anonim, 1999). Sampai saat ini belum pernah ada laporan inventarisasi dan penggunaan jenis bambu yang sudah dikonservasi atau tumbuh secara alami untuk menunjang usahanya. Bambu ditanam di pekarangan, tegalan dan pada lahan marginal, sejak berabad-abad yang lalu. Tepian sungai yang bertopografi miring hingga curam juga merupakan tempat penanaman bambu.

Hasil kerajinan anyaman bambu yang terkenal dari desa ini adalah sokasi dan gedeg. Sokasi (sejenis bakul bertutup khas ala Bali) dibuat dari bambu bali (Gigantochloa sp.) dan bambu tali (Gigantochloa apus (J.A. & J.H.Schultes) Kurz. Gedeg yang khas dan kaya variasi dibuat dari jenis-jenis bambu buluh seperti: Schizostachyum lima (Blanco) Merr., Schizostachyum zollingeri Steud. dan Schizostachyum castaneum Widjaja. Berbeda dengan desa-desa lainnya di Bali, pembuatan sokasi mempergunakan jenis-jenis bambu buluh dan untuk pembuatan gedeg mempergunakan jenis bambu tali dan bambu bali. Sekalipun pada umumnya hampir semua bambu dapat digunakan untuk anyaman, tetapi di desa Tigawasa setiap bambu mempunyai peran utama masing-masing pada jenis produk anyaman tertentu. Sesuai dengan kemajuan teknologi dan tuntutan jaman, produk anyaman bambu semakin beraneka ragam. Muncul motif-motif baru dan pemakaian warna sebagai penghias produk. Selain menggunakan motif khas Bali, motif dari luar juga diadopsi. Demikian juga disamping mempergunakan pewarna alami, beraneka warna cat meramaikan produk yang dihasilkan (Suanda, 1995).

Pesatnya pemasaran industri rumah tangga berbahan baku bambu menyebabkan berkurangnya persediaan bahan baku. Tegakan bambu lokal yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Sekitar dua truk bambu buluh setiap minggu didatangkan secara rutin dari Jawa timur untuk mengatasi kekurangan bahan baku (Ardana, 1996).

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, tanggal 2-7 Juni 2003. Metode jalur digunakan untuk inventarisasi jenis-jenis bambu, sedangkan untuk mengetahui penggunaan jenisjenis bambu oleh masyarakat, menggunakan metode wawancara. Wawancara dilakukan dengan perajin dan tokoh masyarakat setempat.

Jalur penelitian dibuat sepanjang dua kilometer mengikuti sungai yang terletak disebelah timur desa yang membujur arah Utara-Selatan. Inventarisasi dilakukan terhadap semua bambu yang tumbuh atau ditanam selebar masing-masing 25 m dikanan kiri sungai tersebut. Jenisjenis yang belum diketahui namanya, dibuat spesimen herbariumnya untuk keperluan identifikasi (Dransfield and Widjaja, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil inventarisasi yang dilakukan sepanjang jalur penelitian, diketahui sebanyak 19 jenis dari empat marga bambu terdapat di desa Tigawasa (Tabel 1). Bali sampai saat ini mempunyai 36 jenis bambu dan sekitar 50% merupakan jenis introduksi (Arinasa dan Widjaja, 2003), sedangkan di Indonesia sampai saat ini memiliki 143 jenis bambu (Widjaja, 2001).

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat desa sangat menyatu dan tidak bisa lepas dari bambu, seperti juga masyarakat pedesaan lainnya di Indonesia (Sastrapradja dkk., 1997). Hampir semua penduduk yang mempunyai lahan, baik di pekarangan maupun di tegalan ditanami bambu. Tidak satu pun jenis bambu luput dari nama sekalipun hanya nama daerah (lokal). Penduduk setempat tahu betul membedakan antara jenis satu dengan jenis lainnya. Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa beberapa jenis bambu dengan nama daerah berbeda masih dikelompokkan dalam satu jenis. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut dari sisi taksonomi, namun sulit pelaksanaannya karena adanya beberapa kendala antara lain sulit mendapatkan bunganya untuk keperluan identifikasi. Untuk mengatasi kendala taksonomi disarankan untuk melaklukan identifikasi dengan mempergunakan sistem molekuler. Kebutuhan bambu oleh masyarakat terus meningkat sehingga memaksa harus ditebang sebelum waktunya.

Gigantochloa dan Schizostachyum merupakan marga bambu-bambuan terbesar masing-masing dengan delapan dan enam jenis dimana didalamnya terdapat takson yang oleh masyarakat lokal dapat dibedakan. Tidak menutup kemungkinan akan muncul jenis-jenis baru bila identifikasi sistem molekuler dapat dikerjakan.

Tabel 1 menunjukkan bahwa sekitar 63% (12 jenis) bambu dianggap asli karena sudah dimiliki sejak nenek moyang menghuni desa ini sebelum masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Ini membuktikan betapa menyatu kehidupan masyarakatnya dengan bambu yang masih digelutinya hingga sekarang. Sebanyak 37% (7 jenis) bambu lainnya adalah jenis introduksi yang dimasukkan beberapa dasa warsa terakhir dengan tujuan untuk penganekaragaman jenis. Penanaman bambu juga dimaksudkan sebagai usaha masyarakat untuk konservasi tanah dan air.

Berdasarkan hasil inventarisasi diketahui jumlah seluruh rumpun yang ada pada jalur penelitian adalah 2.160 rumpun. Diameter rumpun berkisar antara 0,15-5 m dan jarak antar rumpun rata-rata 5 m. Buluh taluh dan buluh lengis (S. lima) paling banyak terdapat dalam jalur penelitian dengan jumlah 324 rumpun (15%), sedangkan yang paling sedikit ditanam adalah tiing gesing/ori (B. blumeana) yaitu sebanyak 43 rumpun (1,9%). Jenis bambu yang terdapat di desa Tigawasa termasuk populasi sepuluh besar dari 19 jenis yang ditemukan (Tabel 2).

Kunci identifikasi

Untuk mengetahui lebih lanjut  tentang marga dan jenis bambu  dilakukan identifikasi (Arinasa dan  Widjaja, 2003), khususnya yang  terdapat di desa Tigawasa. Berikut ini  disajikan kunci identifikasi marga dan  jenis bambu hasil inventarisasi di desa tersebut sebagai berikut:

Bambusa

Bambu simpodial dengan batang  yang tegak. Daun pelepah buluh yang  tegak atau terlekuk balik, kuping  pelepah buluh khas seperti berlekuk  dan berbulu. Percabangan dengan  sebuah cabang primer lebih dominan  diikuti oleh satu sampai beberapa  cabang sekunder dan beberapa  cabang yang lebih kecil tumbuh dari pangkalnya.

Tabel 1. Hasil inventarisasi jenis-jenis bambu di desa Tigawasa.
Nama Jenis Nama Daerah Ket.
1. Bambusa blumeana J.A.& J.H. Schult Tiing gesing, ori I
2. Bambusa maculata Widjaja Tiing tutul I
3. Bambusa vulgaris var.striata Tiing ampel gading I
4. Bambusa vulgaris Schrad.ex Wendl Tiing ampel gadang I
5. Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne Tiing petung A
6. Gigantochloa apus (J.A. & J.H.Schultes) Kurz Tiing tali A
7. Gigantochloa cf. manggong Tiing jelepung A
8. Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Tiing katak A
9. Gigantochloa nigrociliata (Buse) Kurz Tiing tabah I
10. Gigantochloa sp. 1 Tiing soret A
11. Gigantochloa sp. 2 Tiing bali A
12. Gigantochloa sp. 3 Tiing lidi, Tiing klotok,
Tiing mambang,
A
13. Gigantochloa sp. 4 Tiing kedampal A
14. Schizostachyum brachycladum Kurz Tiing tambling
Tiing tamblang gading
A
15. Schizostachyum castaneum Widjaja Buluh kedampal I
16. Schizostachyum lima (Blanco) Merr. Buluh taluh,
Buluh lengis
A
17. Schizostachyum silicatum Widjaja Buluh A
18. Schizostachyum sp. Buluh gading A
19. Schizostachyum zollingeri Steud. Buluh batu I
Keterangan: A = asli, indigenous; I = introduksi, non-native.
Tabel 2. Jenis-jenis bambu yang termasuk populasi sepuluh besar.
Nama Jenis Nama Daerah Populasi
(%)
1. Schizostachyum lima Buluh taluh, buluh lengis 15
2. Gigantochloa apus Tiing tali 10
3. Gigantochloa sp. 2 Tiing bali 9
4. Gigantochloa sp. 3 Tiing lidi, tiing mambang, tiing klotok 8
5. Schizostachyum castaneum Buluh kedampal 6,3
6. Dendrocalamus asper Tiing petung 5,5
7. Gigantochloa hasskarliana Tiing katak 4,5
8. Gigantochloa nigrociliata Tiing tabah 4,5
9. Schizostachyum zollingeri Buluh batu 4,5
10. Bambusa maculata Tiing tutul 4,5
ARINASA-Bambu dI Tigawasa, Bali 19
1. a. Buluh berduri pada pangkalnya ..… Bambusa blumeana
b. Buluh tanpa duri …………………….….…………………2
2. a. Buluh hijau mengkilat sampai hijau dengan garis-garis
kuning ……………………………..…………………..…………..3
b. Buluh hijau dengan hanya garis garis kuning pada buluh
yang lebih rendah, buluh hitam keungu-unguan …………4
3. a. Buluh hijau mengkilat ……..………… Bambusa vulgaris
b. Buluh hijau dengan garis-garis kuning …………………………
………………………………………. Bambusa vulgaris var. striata
4.a. Buluh hitam keungu-unguan, kuping pelepah buluh
membulat …………………………………………. Bambusa sp.
b. Buluh hijau dengan spot-spot coklat kehitaman ….…..……
………………………………………………… Bambusa maculata
Dendrocalamus
Bambu simpodial, buluh tegak. Pelepah buluh dengan
daun pelepah terlekuk balik, kuping pelepah buluh berlekuk,
berbulu pada tepinya, ligula dengan bulu-bulu halus.
Percabangan dengan sebuah cabang primer yang dominan
dengan satu sampai beberapa cabang sekunder dan
beberapa cabang yang lebih kecil yang tumbuh dari
pangkal. Buluh muda dengan bulu-bulu beludru berwarna coklat
pada bagian lebih bawah yang akan luruh bila semakin tua. Daundaunnya
dengan kuping pelepah buluh yang kurang menarik
perhatian dan gundul, ligulanya setengah melingkar …………………..
……………………………………………………… Dendrocalamus asper
Gigantochloa
Bambu dengan buluh tegak, Pelepah buluh dengan kuping
pelepah buluh yang kurang menarik hingga kuping pelepah buluh
yang kecil, gundul hingga berbulu panjang, daun pelepah buluh
tegak hingga terlekuk balik, kebanyakan tertutupi oleh bulu-bulu
yang berwarna coklat tua hingga hitam.
1.a. Buluh berwarna hijau dengan garis-garis kuning ……….
….. ..….. … ….………………………..… Gigantochloa sp. 1
b. Buluh berwarna hijau tanpa garis-garis kuning ……… 2
2.a. Ujung pelepah buluh mendatar …….……………………….. 3
b. Ujung pelepah buluh meruncing …….. Gigantochloa sp. 2
3.a. Kuping pelepah buluh berdiri tegak ……………………… 4
b. Kuping pelepah buluh kurang menarik perhatian ..………
…………………………………………….……. Gigantochloa sp. 3
4.a. Kuping pelepah buluh mencolok ….… Gigantochloa sp. 4
b. Kuping buluh tanpa bulu …… Gigantochloa cf. manggong
5.a. Pelepah buluh gugur …………….………………….…….…6
b. Pelepah buluh melekat .………………….………..………7
6.a. Kuping pelepah buluh dengan ujung melengkung kedalam,
kuping tanpa bulu …………… Gigantochloa hasskarliana
b. Kuping pelepah daun tanpa ujung tambahan, kuping
dengan bulu yang panjang…………..… Gigantochloa serik
7.a. Kuping pelepah buluh dengan bulu yang tersebar ……..…
……………………………..…………………. Gigantochloa apus
b. Pelepah buluh dengan lekukan kecil dengan ujung tambahan
melengkung ke dalam …… Gigantochloa nigrociliata
Schizostachyum
Bambu simpodial, tegak, percabangan 1,5 m di atas
tanah, masing-masing buku mendukung cabang-cabang
hampir sama besarnya. Pelepah buluh melekat atau gugur,
daun pelepah buluh tegak sampai terlekuk balik. Daundaun
dengan atau tanpa kuping yang selalu mempunyai
bulu yang panjang.
1.a. Daun pelepah buluh tegak …………………..……………. 2
b. Daun pelepah buluh terlekuk balik ..…….……………… 4
2.a. Panjang daun pelepah buluh lebih panjang dari pada
lebarnya, kuping lebih kecil ………………………………….… 3
b. Panjang daun pelepah buluh sepanjang lebarnya atau
lebih pendek dari pada lebarnya, kuping lebih besar
………. .………..………………….. Schizostachyum zollingeri
3.a. Daun pelepah buluh menyegitiga dengan pangkal yang
melebar, kuping berlekuk 2 – 3,5 mm ……………….……
………………………………….. Schizostachyum brachycladum
b. Daun pelepah buluh menyegitiga dengan pangkal yang
menyempit, kuping berlekuk kurang dari 2 mm ………
…………………………………… Schizostachyum castaneum
4.a. Pelepah buluh ditutupi oleh bulu-bulu berwarna coklat,
buluh dibawah, buku ditutupi oleh bulu-bulu berwarna
coklat, tidak licin …………………. Schizostachyum silicatum
b. Pelepah buluh ditutupi oleh bulu-bulu berwarna coklat
memadat, buluh dibawah buku ditutupi oleh bulu-bulu
keputihan, memadat, licin ……………. Schizostachyum lima
Penggunaan jenis-jenis bambu
Hasil wawancara dengan para perajin
dan tokoh masyarakat desa
menunjukkan bahwa setiap jenis bambu
memiliki banyak fungsi, namun biasanya
terdapat satu jenis kerajinan yang
menjadi peran utamanya, sehingga
menjadikan satu jenis bambu tertentu
hanya baik digunakan untuk produk
kerajinan tertentu seperti terlihat pada
Tabel 3.
Bambu dapat digunakan untuk
berbagai kerajinan, tiing tali (G. apus)
termasuk salah satu jenis bambu yang
sangat fleksibel dapat digunakan untuk
beberapa keperluan. Hal yang sama juga
dijumpai di daerah lain seperti Tabanan
dan Karangasem (Arinasa dkk. 2003).
Secara khusus bambu ini mempunyai
peran utama dalam pembuatan rumah
sederhana. Sebagian besar komponen
rumah dapat dibuat dari bambu ini, mulai
dari tiang, dinding, kaso hingga peralatan
dapur. Karena kegunaannya yang
banyak maka bambu ini menempati
urutan kedua sebanyak 216 rumpun
(10%) dari total rumpun yang ada.
Tabel 3. Penggunaan jenis-jenis bambu untuk berbagai macam kerajinan.
Nama jenis Nama daerah Kegunaan Fungsi Utama Lain
1. Bambusa blumeana Tiing gesing, ori Katir jukung
Wadah/ bade ngaben
Bubu ikan
Sayur/rebung




2. Bambusa maculata Tiing tutul Mebelair
Hiasan rumah
Bingkai foto
Bumbung jangkrik
Sanan/pemikul





3. Bambusa vulgaris
var.striata
Tiing ampel
gading
Hiasan rumah
Wadah/bade ngaben
Mebelair
Sayur/rebung




4. Bambusa vulgaris Tiing ampel
gadang
Rumah sederhana
Sanan/pemikul
Kulkul/kentongan
Sayur/rebung




BIODIVERSITAS 20 Vol. 6, No. 1, Januari 2005, hal. 17-21
Kelompok buluh taluh dan buluh
lengis (S. lima) sekalipun penggunaannya
tidak sebanyak tiing tali namun
buluhnya paling banyak dibutuhkan.
Bambu ini mempunyai kegunaan
khusus untuk membuat gedeg kualitas
terbaik, suatu anyaman khas yang
menjadikan desa Tigawasa sangat
populer di Bali. Berbagai motif
dikembangkan dan dengan buluh
pilihan, anyaman ini laris dibeli
sehingga mengakibatkan kekurangan
bahan baku. Tiing bali
(Gigantochloa sp. 2) mempunyai dua
peran utama, namun peran utamanya
yang terkenal adalah sebagai bahan
baku sokasi. Sokasi Tigawasa sangat
terkenal karena anyaman ini kaya jenis
dan juga kaya motif, mulai dari ukuran
besar-kecil, fungsi, bentuk anyaman
dan variasi warna yang digunakan.
Penggunaan buluh agar memberikan
kualitas anyaman terbaik ditentukan
oleh umur buluh. Secara tradisional
perajin menentukan umur buluh untuk
ditebang yaitu pada umur dan tahap
maikut sesapi ujung bambu telah mulai
bercabang dan beberapa daun sudah
mekar sempurna atau umur 6-12 bulan,
tergantung jenis bambu. Ada beberapa
jenis bambu lain yang dapat digunakan
untuk sokasi namun memberikan
kualitas nomor dua.
Menurut Sumantera (1995)
beberapa sarana upacara adat di Bali
seperti Sekah, Sunari, Tumpang salu
memerlukan jenis bambu khusus dan
tidak boleh diganti dengan jenis lainnya.
Sekah adalah simbolis dari badan kasar
manusia dalam upacara Ngaben di Bali
mempergunakan bambu buluh gading
(Schizostachyum sp) yang sudah tua.
Sunari adalah semacam seruling sakral
yang dibuat dari tiing tamblang gading
(S. brachycladum), dengan memberi
beberapa lubang sedemikian rupa pada
bagian atasnya, bila ditiup angin akan
mengeluarkan suara merdu, sebagai
sarana pengundang Dewata dalam
upacara Pengabenan. Tumpang salu
yang berfungsi sebagai sarana tempat
mayat atau leluhur dalam upacara
Pengabenan juga, mesti dibuat dari
tiing ampel gading (B. vulgaris
var.striata) yang sudah tua.
Kelakah adalah sejenis atap
sementara dibuat dari tiing jelepung (G.
cf.manggong) dan tiing mambang
(Gigantochloa sp. 3) dengan cara
membelah dua, dan sekat bukunya
dihilangkan. Kelakah dipasang
tengadah dan telungkup saling
menutupi. Kelakah dari tiing jelepung
lebih kuat dan bisa tahan hingga lima
tahun bila dibandingkan dengan jenis
mambang.
Tabel 3. Penggunaan jenis-jenis bambu untuk berbagai macam kerajinan (lanjutan).
Nama jenis Nama daerah Kegunaan Fungsi Utama Lain
5. Dendrocalamus
asper
Tiing petung Rumah sederhana
Gambang (kesenian)
Katir jukung
Lom/bom
Tingklik (kesenian)
Kulkul/kentongan
Sayur/rebung







6. Gigantochloa apus Tiing tali Tali
Usuk/kaso
Rumah sederhana
Sokasi
Kuskusan
Lampid
Keranjang
Paboan
Nyiru
Dompet
Guungan/sangkar ayam
Penarak/bakul
Sangkar burung













7. Gigantochloa cf
manggong
Tiing jelepung Rumah sederhana
Klakah/atap
Bangul/panjatan



8. Gigantochloa
hasskarliana
Tiing katak Ketekung/tali pengikat mayat
Jerat binatang
Tali
Penarak/bakul
Sayur/rebung





9. Gigantochloa
nigrociliata
Tiing tabah Gerantang (kesenian)
Gedeg
Penarak/bakul
Pagar
Sayur/rebung





10. Gigantochloa sp. 1 Tiing soret Rumah sederhana
Bangul/panjatan
Pagar



11. Gigantochloa sp. 2 Tiing bali Sokasi
Wadah/bade ngaben
Bangul/panjatan
Penarak/bakul
Suih/sirak
Joli
Pura sederhana
Paboan
Dompet
Sangkar burung
Usungan mayat











12. Gigantochloa sp. 3 Tiing lidi
Palit jan/anak tangga
Penjor
Gedeg
Tiang poak




Tiing mambang
Sokasi
Asagan


Tiing klotok Klakah/atap
Pura sederhana
Jan/tangga
Tali




13. Gigantochloa sp. 4 Tiing kedampal Asagan
Gedeg
Usuk/kaso



ARINASA-Bambu dI Tigawasa, Bali 21
Tiing tutul (B. maculata) akhir-akhir
ini banyak dibutuhkan untuk pembuatan
mebelair seperti meja dan kursi. Bambu
ini disenangi karena coraknya yang
artistik berkat adanya totol-totol warna
coklat kehitaman sepanjang buluhnya.
Penggunaan lainnya untuk bingkai foto
dan hiasan rumah. Tiing ampel gading
(B. vulgaris var. striata) adalah jenis
bambu kedua yang banyak digunakan
karena warna kuning dan strip hijaunya
yang kontras menghasilkan produk
yang memikat. Berbeda dengan
ditempat lain seperti Gianyar banyak
memerlukan tiing petung hitam (D.
asper) untuk pembuatan produk ini,
namun di daerah ini belum
dimanfaatkan.
Semat adalah batang bambu yang
dibilah kecil berfungsi untuk merangkai
janur baik untuk upacara Agama
(jejahitan) atau upacara lainnya, hampir
setiap hari digunakan. Tidak semua
jenis bambu dapat digunakan untuk
semat, karena bambu yang digunakan
untuk semat harus spesifik yaitu mudah
patah, dapat dibilah hingga kecil dan
kuat. Apabila tidak memenuhi syarat
seperti itu maka hasil jejahitan tidak
akan menghasilkan seni yang tinggi.
Bambu buluh (S. silicatum) adalah
penghasil semat yang paling bagus,
disusul oleh buluh taluh (S. lima).
KESIMPULAN
Hasil inventarisasi menunjukkan
bahwa di desa Tigawasa-Buleleng
terdapat 19 jenis bambu (12 jenis asli
dan 7 jenis introduksi). Kehidupan
sosial budaya masyarakat Tigawasa
telah menyatu dengan bambu sejak
berabad-abad. Semua jenis bambu (19
jenis) menghasilkan 54 jenis kerajinan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1999. Monografi Desa Tigawasa. Singaraja: Bagian
Pemerintahan Desa Setwilda Tk.II Buleleng-Bali.
Ardana, I.B. 1996. Data Bali Membangun. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali.
Arinasa, I.B.K., N. Sudiatna, N. Swirta 2003. Laporan Penelitian dan
Eksplorasi Flora di Kabupaten Karangasem. Candikuning: UPT Balai
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bali-LIPI.
Arinasa, I.B.K, E.A.Widjaja, 2003. Bamboo Diversity in Bali. Seminar
International Botanical Garden Congress. Candikuning, 15-18 Juli 2003.
Dransfield, S. and E. A. Widjaja, 1995. Plant Resources of South-East Asia
7. Bamboos. Leiden: Backhuys Publisher.
Sastrapradja, S., E.A. Widjaja, S. Prawiroatmodjo, S. Soenarko, 1977.
Beberapa Jenis Bambu. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Suanda, IW. 1995. Pameran Anyaman Tradisional Bali. Denpasar: Bagian
Proyek Pembinaan Permuseuman Bali, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Sumantera, IW. 1995. Bamboo in Balinese Rituals. Dalam: Rao, I.V.R. and
C.B. Sastry (Eds).. Bamboo,People and the Environment. Proceedings
of the Vth International Bamboo Workshop and the IV International
Bamboo Congress. Ubud-Bali, 19-22 June 1995.
Widjaja, E.A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Jawa. Bogor: Balai
Penelitian Botani, Herbarium Bogoriense-LIPI.
Tabel 3. Penggunaan jenis-jenis bambu untuk berbagai macam kerajinan (lanjutan).
Nama jenis Nama daerah Kegunaan Fungsi Utama Lain
14. Schizostachyum
brachycladum
Tiing tambling,
Tiing tamblang
gading
Tempat nira
Sokasi
Sunari (kesenian)
Hiasan rumah
Sayur/rebung





15. Schizostachyum
castaneum
Buluh kedampal Usuk/kaso
Sokasi
Gerantang (kesenian)
Gedeg
Ancak/pengaman liang lahat
Sayur
Sumbu/pemetik buah







16. Schizostachyum
lima
Buluh taluh
Sokasi
Semat/penjahit janur
Gedeg
Ancak/pengaman liang lahat
Gedeg
Sokasi






Buluh lengis Suling (kesenian)
Ancak/pengaman liang lahat
Sayur/rebung




17. Schizostachyum
silicatum
Buluh Semat/penjahit janur
Gedeg
Sayur/rebung



18. Schizostachyum sp. Buluh gading Sekah/upacara ngaben
Pales/tiang pancing
Sayur/rebung
Klikis/tiang tanaman




19. Schizostachyum
zollingeri
Buluh Batu Tinjeh/rangka atap alang-alang
Gedeg
Sokasi
Ancak/pengaman liang lahat
Sayur/rebung




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: