Solikin

Jenis-jenis Tumbuhan Suku Poaceae di Kebun Raya Purwodadi Plant species of Family Poaceae in the Purwodadi Botanic Garden

Oleh: S O L I K I N 
Kebun Raya Purwodadi-LIPI, Pasuruan 67163

Alamat korespondensi: Jl. Raya Purwodadi, Pasuruan 67163, Indonesia
 Tel. & Fax. +62-341-426046. ; e-mail: biology@mipa.uns.ac.id (ed.) 

BIODIVERSITAS ISSN: 1412-033X; Volume 5, Nomor 1 Januari 2004; Halaman: 23-27

Download file:D050105  

ABSTRACT

Plant species of family Poaceae have important roles in rural economic and daily human life. They have been used in constructional building, tools, handicrafts, pulps, vegetables, fodder, baskets, traditional medicine, etc. Inventory to know the plant species and potentials of Poaceae were conducted in the Purwodadi Botanic Garden through observation in fields, interview, and literature studies. The results showed that there were 25 species of bamboos and 36 species of grasses in the garden. The bamboos genera Bambusa and Gigantochloa have more species than the other genera. Polytrias amaura, Axonopus compressus, and Oplismenus burmanni were the common and dominant grasses in the garden.     2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Key words: bamboos, grasses, Poaceae, Purwodadi Botanic Garden

PENDAHULUAN

Kebun Raya Purwodadi merupakan lembaga yang mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan konservasi, penelitian, dan pendidikan flora dataran rendah beriklim relatif kering. Setiap tahun, antara tahun 2000-2002, sekitar 13.652 pelajar dan mahasiswa telah memanfaatkan keanekaragaman tanaman yang dikoleksi dan dikonservasi secara ex situ di kebun raya ini untuk studi biologi dan lingkungan, khususnya berkaitan dengan taksonomi tumbuhan. Kebun dengan luas sekitar 85 ha yang terletak pada ketinggian 302 m di atas permukaan laut ini, telah mengoleksi berbagai jenis tanaman, terutama tumbuhan berbunga dan paku-pakuan dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Hingga Oktober 2003 tercatat 160 suku, 1032 marga, dan 3788 jenis, serta 15.215 spesimen koleksi tumbuhan yang berada di kebun dan rumah kaca (Anonim, 2003).

Tumbuh-tumbuhan dari suku rerumputan (famili  Poaceae) merupakan koleksi yang menarik untuk  dipelajari biologi dan taksonominya, karena secara  nyata memiliki potensi dan kegunaan dalam  kehidupan sehari-hari, seperti bahan pangan, obat,  makanan ternak, bahan kerajinan, kertas, bumbu  penyedap, perkakas rumah tangga, tanaman hias dan bahan bangunan (Heyne, 1987).

Secara garis besar suku Poaceae terdiri atas tiga  anak suku (sub famili), yaitu: Bambusoideae,  Pooideae dan Panicoideae (Gilliland et al., 1971).  Tanaman ini banyak dibudidayakan atau tumbuh liar  pada berbagai macam jenis tanah dan besarnya  intersepsi cahaya mulai dari tempat terbuka hingga  teduh, dan dari kondisi tanah lembab hingga kering.  Di Kebun Raya Purwodadi, beberapa jenis bambu  dan rumput secara sengaja dikoleksi dan terdapat  pula beberapa jenis yang tumbuh liar pada petakpetak  pertanaman, halaman, lapangan, maupun jalurjalur jalan setapak.

Dengan mempelajari dan mengenali jenis-jenis  tumbuhan bambu dan rumput beserta potensi dan  kegunaannya yang dikoleksi atau tumbuh liar di  Kebun Raya Purwodadi diharapkan para pelajar,  mahasiswa maupun masyarakat dapat mengenal  kekayaan jenis-jenis tumbuhan ini di Indonesia  khususnya yang berada di Kebun Raya Purwodadi  untuk kemudian dapat diupayakan pengembangan  dan pelestariannya. Widjaja (1997) melaporkan  bahwa keberadaan beberapa jenis bambu di  Indonesia sedang terancam karena pemanfaatan dan  pengelolaannya kurang sesuai dengan prinsip  pemanfaatan yang berkesinambungan dan lestari  serta kurangnya perhatian terhadap jenis-jenis bambu yang kurang bernialai ekonomi.

Tabel 1. Jenis-jenis bambu di Kebun Raya Purwodadi
No. Jenis Lokasi Keterangan
1 Bambusa agrestis Poir. XII.J.I. 19 Ditanam
2 Bambusa arundinacea (Retz.) Liar. XII.J.I. 27,45 Ditanam
3 Bambusa glaucescens (Lam.) Munro ex Merr. XII.J.I. 14-14a Ditanam
4 Bambusa atra Lind. XII.J.I. 40-40a-40c Ditanam
5 Bambusa blumeana Bl.ex. Schult. XII.J.I. 3-3a Ditanam
6 Bambusa polymorpha Munro XII.J.I. 14 Ditanam
7 Bambusa sp. XII.J.I. 10, 13-13a Ditanam
8 Bambusa ventricosa MC. Clure XIV.G. 2-2a Ditanam
9 Bambusa vulgaris Schradex Wendl. XII.J.I. 1-1a, 7-7a Ditanam
10 Cephalosthachym pergracile Munro XII.J.I. 15 Ditanam
11 Dendrocalamus asper (Schult.f.)Backer ex Heyne XII.J.I. 12, 33 Ditanam
12 Dendrocalamus giganteus Munro XII.J.I. 11 Ditanam
13 Dinochloa scandens (Bl. Ex Nees) O.K. XII.J.I. 42 Ditanam
14 Gigantochloa robusta Kurtz. XII.J.I. 17 Ditanam
15 Gigantochloa atter (Hassk.)Kurz.ex Munro XIV.G. 1-1a Ditanam
16 Gigantochloa apus (Bl.Ex Schult.)f.Kurz. XII.J.I. 23,24 Ditanam
17 Gigantochloa atroviolacea Wijaya XII.J.I. 18 Ditanam
18 Gigantochloa haskarliana (Kurz.) Backer ex Heyne XII.J.I. 6 Ditanam
19 Gigantochloa manggong Wijaya XII.J.I. 9 Ditanam
20 Gigantochloa sp. XII.J.I. 26, 29 Ditanam
21 Schizostachyum blumei Nees XII.J.I. 8, 32-32a Ditanam
22 Schizostachyum brachycladum (Kurz.) Kurz. XII.J.I.26 Ditanam
23 Schizostachyum irratum Kurz. XII.J.I. 25 Ditanam
24 Schizostachyum sp. XII.J.I. 41 Ditanam
25. Thyrsostachys siamensis Gamble XII.J.I.22,46 Ditanam

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan di Kebun Raya Purwodadi-  LIPI pada bulan Agustus-September 2003 pada petak  lokasi tanaman dan lokasi lain di kebun pada  kawasan yang terbuka, agak terbuka, ternaung dan  agak ternaung serta berbagai habitat, seperti lokasi  tanah lembab dan kering. Jenis-jenis bambu dan  rumput yang dijumpai diinventarisasi dan diidentifikasi  berdasarkan buku katalog tanaman koleksi Kebun  Raya Purwodadi (Soewilo et al., 1999). Untuk jenisjenis  yang belum teridentifikasi, dibuat spesimen  herbariumnya untuk diidenfikasi lebih lanjut dengan  menggunakan kunci determinasi pada Flora of Java  (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968) dan Grasses of Malaya (Gilliland et al., 1971).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil inventarisasi diketahui terdapat 61 jenis  tumbuhan yang termasuk suku Poaceae, terdiri atas  25 jenis bambu (anak suku Bambusoideae) (Tabel 1.)  dan 36 jenis rumput (26 jenis anak suku Panicoideae  dan 10 jenis anak suku Pooideae) (Tabel 2.). Jenisjenis  yang termasuk anak suku Pooideae adalah  Agrostis matrella, Arundo donax, Centhoteca  lappacea, Cynodon dactilon, Dactylocnium  aegyptium, Eleusine indica, Eragrostis tenella,  Garnotia cutigluma, Lophaterum gracile, dan Oryza sativa. Sebagian besar jenis-jenis ini tumbuh liar.

Bambu

Jenis-jenis yang  ditanam di kebun  merupakan koleksi ex  situ yang keberadaannya  terdata dengan baik  mulai dari asal tanaman,  tanggal penanaman dan  siklus hidupnya. Koleksi  tanaman bambu berasal  dari Jawa sebanyak 20  jenis dan sisanya dari  luar Jawa atau introduksi  dari luar negeri. Menurut  Widjaja (1997) Koleksi  bambu yang ditanam di  Kebun Raya Indonesia  sekitar 135 jenis yang  tersebar di Kebun Raya  Bogor, Kebun Raya  Cibodas, Kebun Raya  Eka Karya Bali dan  Kebun Raya Purwodadi.  Dari jumlah ini sebanyak  109 jenis asli Indonesia  dan sekitar 11% di  antaranya bersifat  endemik. Berdasarkan  jumlah ini, koleksi bambu di Kebun Raya Purwodadi  relatif sedikit. Oleh sebab itu penambahan koleksi  jenis bambu terus diupayakan melalui kegiatan  eksplorasi flora, tukar-menukar material tanaman, dan sumbangan dari berbagai pihak.

Tanaman bambu umumnya tumbuh berumpun;  batang berkayu, buluh beruas, berbuku di tengahnya  berongga, kulit luar berwarna kuning, hijau, hijau  kebiruan, hijau kecoklatan atau ungu. Batang muda  selalu tertutup seludang yang sangat rapat, berbulu  coklat, atau kehitaman, seludang akan lepas seiring   dengan pertumbuhan panjang batang. Seludang  pada batang tua pada umumnya lepas; daunnya  berbentuk bulat memanjang, pita atau lanset, ujung  runcing atau meruncing, tulang daun sejajar, tangkai  semu pendek, pelepah daun memeluk batang,  kadang-kadang berbulu. Bunga berbentuk majemuk  bulir, tandan atau malai dengan siklus pembungaan  yang bervariasi. Beberapa jenis bambu berbunga  setelah 20-30 tahun, bahkan sampai 44 tahun.  Benang sari pada umumnya berjumlah 6 (Gilliland et al., 1971; Widjaja, 1997).

Jenis bambu koleksi Kebun Raya Purwodadi  kebanyakan berasal dari marga Bambusa dan  Gigantochloa yang masing-masing berjumlah 9 jenis  dan 7 jenis. Bambu ini paling banyak ditemukan  ditanam di pekarangan atau ladang di daerah  pedesaan karena bernilai ekonomi tinggi. Sebagian  besar bambu yang diamati tidak berbunga sehingga  untuk membedakan masing-masing marga  didasarkan pada sifat morfologi vegetatif. Marga Bambusa secara menyolok dapat dibedakan dengan  marga bambu lainnya, yaitu adanya percabangan  yang kuat pada batang bagian bawah baik yang  berduri atau tidak. Sedangkan untuk membedakan  antara marga Gigantochloa dengan Schizostachyum  yaitu dengan melihat seludang pada batang dan  adanya bulu putih pada batang muda; pada  Gigantochloa lidah seludang runcing, bulu berwarna   coklat dan mudah lepas; buluh muda tidak berambut  putih, sedang pada Schizostachyum lidah seludang  meruncing, berbentuk mirip kubah, bulu coklat muda,  tidak mudah lepas dan buluh muda umumnya berbulu  putih. Tipe pertumbuhan batang yang berbaring atau   memanjat merupakan ciri khas dari Dinochloa  scandens yang tidak dimiliki oleh marga lain. Adanya  bubuk putih berlilin merupakan ciri khas dari marga  Dendrocalamus. Bubuk yang berwarna putih  kecoklatan adalah ciri dari Dendrocalamus asper,  sedangkan yang berwarna putih adalah Dendrocalamus giganteus.

Rumput

Rumput secara umum  termasuk dalam anak  suku Panicoideae dan  Pooideae (suku  Poaceae), banyak  ditanam atau tumbuh liar.  Berdasarkan hasil  inventarisasi diketahui  terdapat 36 jenis rumput  di kebun, yang terdiri atas  22 jenis tumbuhan liar dan 14 jenis ditanam

(Tabel 2.). Rumput
merupakan tumbuhan
yang dapat tumbuh dan
hidup hampir di seluruh
daerah terbuka atau
terlindung baik di daerah
tropis maupun sub tropis.
Rumput mempunyai ciri
tumbuh berumpun dan
jarang soliter. Batang
pada permukaan tanah
merayap, beruas, stolon
di bawah permukaan  tanah menjalar, bagian  dalam batang berongga  atau masif, tidak berkayu,  pada ruas-ruas sering  tumbuh akar; daunnya  tunggal, tersebar  berseling, bentuknya  bulat memanjang, lanset  atau pita, tulang daun  sejajar, permukaannya  kadang-kadang berbulu,  berpelepah, namun tidak  bertangkai semu, bunga  majemuk, bulir, tandan atau malai, umumnya  terminal. Benang sari umumnya berjumlah 3 (Backer dan Backuizen van den Brink, 1968).

Pada lokasi yang terbuka dengan tanah tidak  lembab banyak didominasi oleh Polytrias amaura  (Jawa: suket lamuran). Rumput ini tumbuh tahunan,  berumpun, stolon merayap, dapat membentuk  lempengan yang tebal, pada ruas-ruas batang di  permukaan tanah berakar, batang berwarna coklat  keunguan. Lunak, diameter 0,5-1,0 mm. Daun  berbentuk lanset, 1,5-7 cm x 0,5-0,7 cm, berbulu  halus; bunga majemuk bulir, terminal, benang sari  ungu, putik berambut. Rumput ini dapat tumbuh dari  0-1600 m dpl. Di alam, rumput ini sering berasosiasi  dengan Desmodium triflorum dan menjadi gulma  yang sangat dominan pada budidaya monokultur  jambu biji, seperti yang terjadi di Sukolilo, Bangkalan,  Madura (Gilliland et. al., 1971; Solikin, 2000). Di  Kebun Raya Purwodadi, rumput ini banyak dijumpai pada daerah terbuka seperti halaman, lapangan, di

Tabel 2. Jenis-jenis Rumput di Kebun Raya Purwodadi.
No. Jenis Lokasi Keterangan

1 Agrostis matrella L. II.A Ditanam
2 Apluda mutica L. Terbuka Liar
3 Arundo donax L. II.A.I.1 Ditanam
4 Axonopus compressus (Swartz.)Beauv. Agak teduh-agak terbuka Liar
5 Brachiaria mutica(Forsk) Staff. II.A.1. 6-6a Ditanam
6 Centhotheca lappacea (L.) Desv. Teduh – agak teduh Liar
7 Chrysopogon aciculatus (Retz.) Trin. Terbuka- agak terbuka Liar
8 Cymbopogon nardus (L.) Rendle II.A.2-2a Ditanam
9 Cynodon dactilon (L.) Presl. Terbuka Liar
10 Dactylocnium aegyptium (L.) Richt. Terbuka Liar
11 Digitaria ciliaris (Rezt.) Ked. Terbuka-agak terbuka Liar
12 Digitaria sp. Terbuka-agak terbuka Liar
13 Eleusine indica (L.) Gaertn. V.A.V 5 Ditanam
14 Eragrostis tenella (L.) P. Beauv. terbuka liar
15 Erianthus procerus Mukherjee II.A.I. 7-7a-7b Ditanam
16 Euchlaena mexicana Schrad. II.A.I. 11-11a Ditanam
17 Garnotia acutigluma (Steud.) Ohwi Terbuka Liar
18 Ichnantus vicines (F.M. Bail.) Merr. Terbuka Liar
19 Imperata cylindrical var. major (Nees) C.E.Hubb. Terbuka Liar
20 Ischaemum indicum (Houtt.) Merr. Terbuka – agak terbuka Liar
21 Lophaterum gracile Brongn. Teduh – agak terbuka Liar
22 Oplismenus composita (L.) Beauv. Teduh – agak terbuka Liar
23 Oplismenus burmani (Retz.) Beauv. Teduh – agak terbuka Liar
24 Oryza sativa forma mutica Koern. XII. G. Ditanam
25 Panicum brevifolium L. Teduh-agak terbuka Liar
26 Panicum maximum Jacq. II.A.I. 12-12a Ditanam
27 Panicum repens L. Agak terbuka Liar
28 Paspalum conjugatum Berg. Agak teduh-agak terbuka Liar
29 Pennisetum purpurem Schumach. II.A.I Liar
30 Pogonatherum paniceum (Lamk.)Hack. II.A.I. Ditanam
31 Polytrias amaura (Buese) O.K. Terbuka Liar
32 Saccarum sp. II.A.I. Ditanam
33 Stenotaprum helterri Munro ex Hook Terbuka Liar
34 Themeda gigantea (Cav.)Hack. II.A.I. 13 Ditanam
35 Thysanolaena maxima (Roxb.) O.K. II.A.I.4-4a Ditanam
36 Vetivera zizaniodes (L.) Nash ex Small II.A.I.3 Ditanam

bawah tegakan tumbuhan koleksi mangga, palem,
dan pisang.

Pada lokasi agak terbuka atau agak teduh jenisjenis  yang banyak tumbuh adalah Axonopus  compresus (suket pahitan) dan Oplesminus  burmanni. Axonopus compressus tumbuh menahun  dan membentuk lempengan rapat terutama pada  lokasi yang agak terlindung atau agak terbuka. Tinggi  tanaman 20-50 cm; daun lanset lebar 6-16 cm dan  panjang 2,5-37 cm, kelopak daun melekat bersama,  secara keseluruhan tampak warna hijau muda/pucat,  bunga majemuk terminal, rangkaian bunga  bercabang berhadapan, butir bijinya melekat pada  tangkainya (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968).

Oplismenus burmanni merupakan rumput  tahunan, yang banyak tumbuh di tempat-tempat agak  teduh dan lembab di sekitar pohon. Tumbuhnya  merayap, tinggi 10-30 cm, berbulu halus; daunnya  berombak, lebar 4-15 mm dan panjang 1,5-7 cm,  berbentuk lanset, hijau keunguan, kadang-kadang  berbercak putih. Malai bercabang-cabang dengan  masing-masing berisi 2-12 butir, makin ke bawah  makin panjang dan banyak butirnya (Gilliland et al., 1971).

Untuk lokasi-lokasi yang lembab dan berair pada  tempat terbuka hingga agak teduh banyak ditumbuhi  jenis rumput Paspalum conjugatum. Sepintas rumput  ini mirip dengan Axonopus compressus, namun  batangnya lebih kaku dan ruasnya lebih panjang;  daun lebih kaku, berwarna hijau kekuningan atau  keunguan, permukaan tidak berombak, tidak dapat  membentuk lempengan yang tebal dan rapat karena  ruas-ruas batang memanjang lebih cepat. Di Jawa  rumput Paspalum conjugatum ini disebut juga suket  pahitan, sebagaimana Axonopus compressus.  Jenis-jenis rumput lain yang tumbuh tegak, dan  tinggi adalah: Pennisetum purpureum, Panicun  maximum, Themeda villosa, dan Pogonastemon  panicum yang ditanam pada petak koleksi.  Pennisetum purpureum telah banyak dibudidayakan  untuk makanan ternak karena pertumbuhan cepat,  batang dan daunnya tidak keras dan hasilnya tinggi, sehingga sangat cocok untuk makanan ternak.

POTENSI DAN PEMANFAATAN

Bambu

Bambu telah sejak lama digunakan penduduk  untuk bahan bangunan, perkakas rumah tangga,  sayuran, kerajinan, dan lain-lain. Begitu pentingnya tanaman ini sehingga banyak ditanam penduduk baik  di pekarangan, ladang atau tempat lainnya. Untuk  sayuran biasanya dipilih jenis yang batang mudanya  tidak pahit dan enak rasanya, seperti bambu petung (Dendrocalamus asper), sembilang (Dendrocalamus  giganteus) dan ori (Bambusa blumeana). Rebung dari  bambu ini sering diperdagangkan. Pengambilan  rebung biasanya dilakukan pada awal musim hujan pada saat tunas baru muncul.

Untuk bahan bangunan biasanya dipilih jenis-jenis  bambu yang memiliki batang lurus, tinggi, tebal dan  diameternya relatif besar. Bambu seperti ini pada  umumnya dari marga Bambusa, Dendrocalamus, dan  Gigantochloa. Di Jawa jenis-jenis bambu yang  banyak digunakan untuk bahan bangunan adalah bambu petung (Dendrocalamus asper), bambu ori  (Bambusa blumeana), bambu jawa (Gogantochloa  atter) dan bambu apus (Gigantochloa apus). Bambu  petung dan ori biasanya digunakan untuk konstruksi  atap bangunan dan jembatan. Sedangkan bambu  jawa dan apus untuk anyaman atau kadang-kadang untuk bangunan.

Untuk bahan kerajinan, anyaman dan perkakas  pada umumnya digunakan jenis-jenis bambu yang  memiliki batang dengan buku yang lurus, panjang,  ruas tidak menonjol, mudah dibelah, dan relatif tidak  tebal, seperti bambu dari marga Gigantochloa dan  Schizostachium. Kedua bambu ini banyak dijumpai  ditanam penduduk di pedesaan. Jenis bambu yang  berpotensi untuk obat adalah Bambusa vulgaris var.  alba (bambu kuning) yang tunas mudanya dapat  digunakan untuk obat liver dengan cara merebus tunas mudanya kemudian meminum air rebusannya.

Rumput

Rumput juga mempunyai arti ekonomi yang sangat  penting karena berfungsi sebagai penghasil pakan  ternak, bahan kertas, makanan, bangunan, minyak atsiri, gula, dan obat tradisional. Jenis-jenis rumput  yang banyak ditanam dan dibudidayakan untuk pakan  ternak adalah Pennisetum purpureum dan Panicum  maximum. Beberapa jenis rumput yang tumbuh liar di  kebun juga berpotensi untuk pakan ternak seperti  Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Digitaria  ciliaris, Eragrostis tenella, Oplismenus burmanni, Imperata cylindrica Paspalum conjugatum, dan  Polytrias amaura. Pada saat musim berbunga dan  berbuah, biji beberapa jenis rumput ini sering  dimakan burung pipit dan sejenisnya  Beberapa jenis rumput yang dapat digunakan untuk tanaman hias adalah Agrostis matrella,  Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Polytrias  amaura, dan Stenotaprum helterri. Rumput-rumput ini  sangat bagus untuk taman di halaman rumah, kantor,  halaman rumput (lawn) dan tempat terbuka lainnya  karena dapat tumbuh rapat dan membentuk  lempengan yang tebal, kompak dan rata. Daerah  halaman rumput dan lapangan terbuka di Kebun  Raya Purwodadi banyak didominasi oleh Polytrias amaura yang nampak indah dan rapi.

Stolon dari Imperata cylindrica (alang-alang) dapat  digunakan untuk obat diuretik, cuci darah, tonikum,  dan demam (Burkill, 1966). Sedangkan daunnya dapat digunakan untuk atap bengunan, kertas, dan  makanan ternak. Untuk obat luka orang dayak iban di  Kalimantan mengunakan daun Paspalum conjugatum  (Sudarnadi, 1996). Jenis rumput lainnya yang dapat  digunakan untuk obat tradisional adalah akar  Crhysopogon aciculatus untuk gejala keracunan;  Cymbopogon nardus (C. citratus) untuk obat gosok  (Heyne, 1987). Jenis terakhir ini sangat populer bagi  masyarakat yang dikenal dengan nama ‘sereh’ atau  ‘serei’ karena telah menjadi salah satu bahan industri sebagai penghasil minyak atsiri dan dibudidayakan  secara luas. Batangnya juga digunakan dalam  masakan yang dapat memberikan aroma dan rasa  yang khas. Konservasi keanekaragaman jenis-jenis  rerumputan sangat penting untuk menjamin  ketersediaan sumber-sumber genetik dan plasma  nutfah secara berkesinambungan, sebagai bahan penelitian, pengembangan dan pendayagunaannya.

KESIMPULAN

Di Kebun Raya Purwodadi terdapat 61 jenis  tumbuhan yang termasuk suku rerumputan  (Poaceae) yang terdiri atas 25 jenis bambu  (Bambusoideae) dan 36 jenis rumput (Panicoideae).  Seluruh jenis bambu di kebun merupakan tanaman  koleksi yang dilestarikan secara ex situ. Sedangkan  jenis rumput sebanyak 14 jenis merupakan tanaman  koleksi dan 22 jenis merupakan tumbuh liar. Jenisjenis  tumbuhan ini penting untuk dikenali sebagai  bahan studi dan penelitian karena berpotensi untuk  bahan bangunan, kerajinan, perkakas rumah tangga,  bahan obat, sayuran, pakan ternak dan lain-lain.  Pelestarian tanaman ini sangat penting untuk  menjamin ketersediaan dan pemanfaatannya secara berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Laporan Bulanan UPT Balai Konservasi Kebun  Raya Purwodadi. Pasuruan: UPT Balai Konservasi Kebun Raya Purwodadi.

Backer, C.A. dan R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. 1968. Flora of  Java. Vol. III. Groningen: Wolters Noordhof.

Burkill, I.H. 1966. A Dictionary of The Economic Products of The  Malay Peninsula. Kuala Lumpur: Ministry of Agriculture and Cooperative.

Heyne, K. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I. Jakarta: Yayasan sarana Wana jaya.

Gilliland, H.B., R.E. Holtum, and N.L. Bor. 1971. Grasses of  Malaya. In: Burkill H.M. (ed.). Flora of Malaya. Singapura.: Lim Bian Han, Government Printer.

Soewilo, L.P., I.P. Astuti, and T.D. Said (ed.). 1999. An  Alphabetical List of Plant Species Cultivated in The Purwodadi Botanical Garden.). Bogor: Botanic Gardens of Indonesia.

Solikin. 2000. Komposisi gulma pada budidaya jambu biji di Desa  Sukolilo Timur, Bangkalan, Madura. Prosiding Seminar  Nasional XVI Tumbuhan Obat Indonesia. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Sudarnadi, H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Editor: Guharja, E. Jakarta: Penebar Swadaya.

Widjaja, E. 1997. Konservasi jenis-jenis bambu di Indonesia.  Prosiding Seminar Nasional Konservasi Flora Nusantara. Bogor: UPT Balai Pengembangan Kebun Raya Bogor.

One Response to “Solikin”

  1. Tungga Dewa Says:

    Assalamu’alaikum, maav apakah mas juga meneliti tentang Didymoplexis, saya ingin menjadikan prosiding mas sebagai acuan skripsi boleh minta full textnya tidak… Solikin, 2011. Ekologi Anggrek Didymoplexis pallen Griffith di Kebun Raya Purwodadi. Cibodas, UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas – LIPI.
    terima kasih mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: