Satria Astana

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BAMBU

Oleh Satria Astana

INFOSOSIAL EKONOMI Vol. 2 No.1 (2001) pp. 11 – 28 

Download file: v2n1-2Bambu   

RINGKASAN

Dalam jangka pendek hingga menengah kontribusi industri hasil hutan dalam perekonomian nasional besar kemungkinan cenderung menurun selama kontribusi industri hasil hutan bukan (non) kayu dan jasa hutan tidak dapat mengkompensasi berkurangnya kontribusi industri kayu. Sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu, bambu memiliki peranan penting. Pengembangan agribisnis bambu merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kontribusi hasil hutan bukan kayu. Namun demikian, hasil kajian ini menyimpulkan bahwa secara keseluruhan perkembangan kinerja sistem agribisnis bambu masih jauh dari harapan. Kinerja subsistem agibisnis hulu diindikasikan oleh lemahnya industri perbenihan dan pembibitan, sementara subsistem usahatani oleh supply deficit.. Kinerja subsistem pengolahan diindikasikan oleh bangkrutnya sebagian pengrajin dan industri skala menengah,, sementara subsistem pemasaran oleh lemahnya daya saing dan struktur pasar yang tidak efisien (monopoli; oligopoli). Kinerja subsistem jasa pendukung diindikasikan oleh absennya kebijakan yang kondusif, termasuk jasa perkreditan dan asuransi serta penelitian dan pengembangan. Direkomendasikan bahwa untuk mewujudkan pengembangan sistem agribisnis bambu yang bersifat kerakyatan, berdaya saing, berkelanjutan, dan berdimensi otonomi daerah, memerlukan adanya sosialisasi dan reorientasi kebijakan. Dari orientasi kebijakan yang berpihak kepada kelompok masyarakat tertentu bergeser kepada rakyat banyak yang berpenghasilan rendah; dari kebijakan peningkatan produksi sebesar-besarnya ke kebijakan pengembangan wilayah pasar dan peningkatan daya saing produk; dari kebijakan pengembangan bisnis semata-mata ke kebijakan pengembangan bisnis yang berwawasan lingkungan; dan dari kebijakan sentralistik ke kebijakan desentralistik sebagai perwujudan implementasi otonomi daerah.

Kata kunci: sistem agribisnis, bambu, kerakyatan, daya saing, otonomi daerah.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai dampak berkembangnya isyu lingkungan di dalam maupun luar negeri, terdapat indikasi skenario kebijakan pembangunan kehutanan sejak Pelita VI lebih diarahkan untuk mengatasi masalah lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan. Kebijakan lingkungan misalnya dapat dilihat dari upaya Departemen Kehutanan melaksanakan program pembangunan hutan pada lahanlahan terbuka seperti HTI dan hutan rakyat maupun program pengendalian  kerusakan hutan seperti TPTI dan pembatasan produksi kayu bulat, dan kebijakan peningkatan kesejahteraan masyarakat misalnya dapat dilihat dari upaya Departemen Kehutanan mencoba mengintegrasikan pembangunan masyarakat desa hutan ke dalam program pengembangan pengelolaan hutan seperti HPH Bina Desa, HTI-Trans, dan Perhutanan Sosial.

Implikasinya, dalam jangka pendek hingga menengah kontribusi industri hasil hutan dalam perekonomian nasional besar kemungkinan cenderung menurun selama kontribusi industri hasil hutan bukan (non) kayu dan jasa hutan khususnya ekoturisme tidak dapat mengkompensasi berkurangnya kontribusi industri kayu. Dengan demikian, strategi kebijakan pembangunan kehutanan selayaknya diarahkan sebagai langkah awal untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi upaya-upaya, antara lain: (1) peningkatan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan dan pengolahan kayu (mulai dari hutan hingga ke pabrik-pabrik pengolahan); (2) pengembangan pengusahaan produk jasa kehutanan seperti ekoturisme; dan (3) pengembangan pengusahaan hasil hutan bukan kayu, termasuk bambu.

Upaya pertama sebagai langkah mempertahankan atau bahkan meningkatkan kontribusi kayu dalam kondisi pasokan (supply) terbatas, sementara upaya kedua dan ketiga, sebagai langkah mengkompensasi turunnya kontribusi hasil hutan secara keseluruhan. Khususnya berkaitan dengan upaya ketiga, sekurangkurangnya  dua kendala perlu diatasi (Astana, Sumadiwangsa dan Purnama, 1993):  Pertama, kecenderungan kebijakan-kebijakan selama ini yang lebih menekankan  pada pengembangan produksi kayu; dan kedua, informasi hasil hutan bukan kayu  itu sendiri yang masih kurang memadai, termasuk miskinnya hasil-hasil penelitian  yang berorientasi ke arah pengembangan agribisnis. Dalam masa mendatang,  kendati kendala pertama mungkin bukan lagi menjadi faktor penghambat, tetapi kendala kedua tampaknya masih dominan selama perkembangan penelitiannya  tidak mengalami kemajuan secara berarti.  Pengembangan pengusahaan hasil hutan bukan kayu, terutama bambu  merupakan upaya strategis karena beberapa alasan. Pertama, bambu merupakan komoditas substitusi kayu, rotan dan bahan plastik sehingga berkembangnya  pengusahaan bambu dapat berperan dalam mendorong pengembangan diversifikasi  bahan baku industri pengguna seperti industri mebeler, kerajinan, panel dan bahan  bangunan. Hal ini dapat diharapkan akan membantu mengurangi masalah  lingkungan yang ditimbulkan oleh industri bahan plastik dan menekan proses  penurunan produktivitas hutan alam sebagai penghasil kayu dan rotan. Kedua,  pengusahaan bambu telah lama digeluti oleh masyarakat golongan ekonomi lemah  sehingga berkembangnya pengusahaan bambu dapat berdampak positif bagi upaya  mempercepat pengurangan kesenjangan pendapatan. Ketiga, dari sisi silvikultur,  bambu berumur relatif pendek, terbaik 3 tahun (Universitas Gajah Mada, 1991),  sehingga dari sisi pengembalian investasi lebih kompetitif misalnya dari rotan atau sengon (umur terpendeknya, 5-10 tahun) dan karenanya berpeluang diminati investor.

Keempat, selama usaha telah lama dikenal lebih mudah dibina daripada usaha baru, maka program pembinaan pengusahaan bambu di daerah pedesaan dapat dilakukan dengan biaya yang relatif rendah sehingga dalam kondisi anggaran pembangunan yang terbatas program pembinaan dengan target group yang relatif   lebih besar memungkinkan dapat dicapai. Kelima, pengusahaan bambu dapat dilakukan dalam skala usaha yang kecil sehingga masyarakat golongan ekonomi  menengah ke bawah dapat terlibat dalam bisnis bambu. Keenam, bambu dapat  ditanam pada lahan-lahan marginal, sehingga berkembangnya pengusahaan bambu  dapat berperan mendorong upaya konservasi tanah dan air. Ketujuh,  berkembangnya pengusahaan bambu dapat memperkokoh stabilitas nilai ekspor  non-migas. Hal ini terjadi melalui perannya dalam menurunkan impor bahan baku  industri yang disubstitusi seperti pulp-kertas, dan dalam menyumbang langsung nilai ekspor dari ekspor produk-produk bambu itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

Berkaitan dengan perkembangan agribisnis bambu, terdapat beberapa pertanyaan yang perlu dikedepankan. Pertama, apakah perkembangan agribisnis bambu termasuk industri kecil dan kerajinannya selama ini cenderung konstan,  meningkat ataukah malah menurun? Kedua, faktor-faktor keunggulan apa saja yang  menentukan perkembangannya dan apakah faktor-faktor tersebut dapat lebih  diperkuat untuk meningkatkan posisinya secara absolut atau relatif dalam  persaingan dan bila dapat dengan cara apa dan bagaimana? Ketiga, bila  perkembangannya cenderung meningkat, bagaimana dampaknya terhadap kondisi sosial ekonomi para pelakunya?

Keempat, apakah pengusahaan bambu termasuk industri pengolahannya cukup memberikan insentif dan bagaimana dengan distribusi laba di masing-masing pelaku? Kelima, sebaliknya bila perkembangannya cenderung menurun, apakah  faktor dominan yang menyebabkannya dan bagaimana dampaknya bagi kondisi  sosial ekonomi para pelakunya? Keenam, kebijakan apa dan bagaimana mekanisme pencapaian obyektif masing-masing kebijakan yang efektif perlu dipromosikan?  Ketujuh, diantara industri bambu yang ada, jenis industri apa yang berpotensi dapat  berkembang tanpa atau dengan insentif kebijakan? Kedelapan, di tingkat kebijakan  mana dan bagaimana menyelaraskan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan sistem agribisnis bambu?.

Namun demikian, kajian ini tidak diarahkan untuk menjawab seluruh tetapi hanya sebagian dari permasalahan tersebut. Permasalahan yang dikaji dibatasi pada  aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan kinerja sistem agribisnis bambu,  daya saing produk-produk bambu industri skala kecil dan menengah serta kondisi  (potensi dan pertumbuhan) segmen pasar produk-produk industri skala kecil dan menengah dan implikasi daya saing dan kondisi segmen pasar terhadap upaya  perbaikan kondisi sosial ekonomi pelaku yang terlibat dan kemungkinan kebijakan yang diperlukan.

C. Tujuan dan Kegunaan Kajian

Selaras dengan permasalahan diatas, kajian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Perkembangan kinerja sistem agribisnis bambu.
2. Faktor-faktor penghambat perkembangan agribisnis bambu.
3. Kendala dan tantangan dalam mewujudkan pengembangan sistem agribisnis bambu.

Hasil kajian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan untuk merumuskan strategi dan kebijakan pengembangan sistem agribisnis bambu ang  bersifat kerakyatan, berorientasi pada otonomi daerah, berdaya saing ekspor dan berkelanjutan.

II. PERKEMBANGAN KINERJA AGRIBISNIS BAMBU

A. Subsistem Agribisnis Hulu

Menurut Saragih (2001), subsistem agribisnis hulu mencakup industri perbenihan (pembibitan), industri agrokimia, dan industri agro-otomotif. Dalam  kasus bambu, selama 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru, subsistem agribisnis  hulu untuk komoditas bambu tidak pernah disentuh sama sekali. Industri  perbenihan (pembibitan) belum berkembang sebagaimana diharapkan. Beberapa  hasil penelitian mengenai pembibitan tanaman bambu masih dalam taraf uji coba lapangan atau belum sampai ke aplikasi komersial (Astana, dkk, 1998).

B. Subsistem Usahatani

1. Bambu batangan

Kendati jangka waktu pengembalian investasi pengusahaan hutan (kebun) bambu relatif pendek (3 tahun), belum banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya pada sektor ini. Di Jawa, hingga saat ini belum terdapat pengusahaan  hutan bambu secara komersial. Kegiatan penanaman yang dilakukan baru berupa percobaan-percobaan, belum skala komersial. Di luar Jawa, terdapat satu  perusahaan yang telah mengusahakan hutan bambu, walaupun bermula dengan  usaha coba-coba, yaitu pada lahan sepanjang aliran sungai lokasi perkebunan PT.  GGPC di Lampung. Pasokan bambu batangan yang beredar di pasar selama ini seluruhnya berasal dari hutan alam dan kebun rakyat.

Potensi produksi bambu terus menurun terutama karena konversi baik untuk lahan perumahan maupun industri seperti yang terjadi di Jawa Barat, serta untuk  hutan tanaman pinus seperti yang terjadi di daerah Jawa Timur (Sulthoni, 1994).  Sementara di luar Jawa, selain untuk perumahan, juga untuk lahan pertanian dan  perkebunan. Penurunan potensi produksi bambu telah menyebabkan harga bambu terus meningkat (Tabel 1).

Dipicu oleh semakin langkanya pasokan bambu dan mahalnya harga rotan dan kayu, nilai ekonomi bambu yang sebelumnya tergolong kurang kompetitif dibandingkan dengan usaha pertanian dan perkebunan, kini mulai bergeser menjadi  kompetitif. Naiknya harga bambu telah menyebabkan pendapatan petani  meningkat. Sumbangan penerimaan bambu terhadap total pendapatan petani  disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel 2 terlihat sumbangan penerimaan bambu ratarata baru mencapai 6,8%.

 

2. Bambu rebung

Usatani bambu rebung juga belum berkembang. Sebagai contoh, petani di daerah Tasikmalaya dan Tangerang tidak ada yang menjual bambu rebung. Di pasar Kota Tasikmalaya tidak terdapat penjual rebung. Sedangkan di pasar Kota  Tangerang terdapat penjual rebung. Tetapi rebung yang diperjualbelikan di pasar Kota Tangerang tidak ada yang berasal dari daerah Tangerang sendiri.Seluruh  rebung yang diperdagangkan berasal dari daerah lain, terutama daerah Serang. Hal  ini mencerminkan bahwa di dua daerah tersebut tidak ada pengusahaan bambu rebung. Walaupun, di daerah Bogor terdapat petani yang menjual rebung. Bambu  rebung diperoleh dari kebun sendiri dan kebun orang lain. Harga rebung di pasarpasar  Kota Bogor mencapai harga Rp 1000 per kg. Sumbangan bambu rebung  sangat kecil dan bersifat tidak teratur berhubung petani lebih cenderung menjual dalam bentuk bambu batangan.

C. Subsistem Pengolahan

Penurunan potensi produksi dan naiknya harga bambu telah menyebabkan perkembangan industri bambu terhambat. Sebagai contoh, beberapa industri bambu  di Tasikmalaya dan Tangerang gulung tikar karena faktor defisit pasokan (Tabel 3).  Penurunan industri pengolah bambu batangan selanjutnya akan dapat menyebabkan  berkurangnya permintaan bambu batangan. Implikasinya, kelangsungan sumbangan  bambu batangan pada pendapatan petani tidak terjamin. Sebab, selain dipengaruhi oleh harganya, nilai sumbangan bambu juga dipengaruhi oleh kontinyuitas
permintaannya.

D. Subsistem Pemasaran

Perkembangan pengusahaan bambu batangan, rebung maupun produk-produk bambu lain ditentukan oleh pertumbuhan masing-masing pasarnya. Analisis pertumbuhan pasarnya menyangkut bukan saja permasalahan mengenai hubungan  antara volume penjualan (pemasaran) dengan harga dan faktor-faktor lain, tetapi  juga menyangkut permasalahan mengenai kondisi segmen pasarnya yang meliputi  perilaku dan lokasi (individu atau kelompok) pembeli dan penjual. Hubunganhubungan yang terjadi antara penjual dan pembeli membentuk struktur pasar dan  tataniaga tertentu. Tingkat efisiensi tataniaga ditentukan oleh struktur pasar yang  terbentuk. Misalnya, struktur pasar monopoli cenderung menyebabkan tingkat efisiensi tataniaga yang rendah, dan sebaliknya, struktur pasar bersaing cenderung  menyebabkan tingkat efisiensi tataniaga yang tinggi. Oleh sebab itu, pengetahuan  mengenai struktur biaya, margin dan distribusi keuntungan dari rantai tataniaga  yang terbentuk menjadi unsur-unsur informasi yang krusial dalam menganalisis pertumbuhan pasar masing-masing produk bambu yang dikaji.

Berdasarkan skala usahanya, industri bambu dapat dikelompokkan menjadi industri skala besar, menengah dan kecil atau industri rumah tangga (home industry). Dalam uraian ini, perhatian ditujukan hanya kepada pemasaran dari industri bambu skala kecil dan menengah. Yang dimaksud industri skala kecil di  sini adalah industri yang tidak mempekerjakan tenaga kecuali tenaga keluarga  yang hidup bersama dalam satu rumah dengan pemilik industri seperti kepala keluarga, istri dan anak-anak (home industry). Sedangkan industri bambu skala  mencngah didefinisikan sebagai industri yang mempekerjakan tenaga kerja luar  keluarga selain (mungkin) tenaga kerja keluarga yang hidup dalam satu atap  dengan pemilik. Industri skala menengah dibedakan dari industri besar dari  jumlah tenaga kerja yang diserap. Batasan industri skala menengah di sini adalah  industri yang mempekerjakan tenaga kerja di bawah 50 orang termasuk (bila ada) anggota keluarga pemilik.

Sebagai ilustrasi perkembangan kinerja subsistem pemasaran disini disajikan perkembangan pemasaran industri skala kecil (Tabel 4, 5 dan 6) dan menengah (Tabel 7, 8, 9, 10 dan 11) di Tasikmalaya dan Tangerang. Perkembangan rata-rata  nilai penjualan dari industri kecil atau pengrajin di kedua daerah tersebut disajikan pada Tabel 4. Pada Tabel 4 terlihat pada periode 1993-1994, nilai penjualannya mengalami lonjakan kenaikan secara berarti, yaitu dari Rp 672.000  pada tahun 1993 menjadi Rp 1.100.000 pada tahun 1994. Tetapi sejak 1994, nilai  penjualannya stabil. Di lain pihak, sebagaimana nilai penjualan, biaya operasionalnya mengalami lonjakan kenaikan, yaitu dari Rp 31.200 pada tahun 1993 menjadi  Rp 48.000 (Tabel 5). Lonjakan kenaikan biaya operasionalnya relatif lebih besar  dari nilai penjualannya, sehingga pendapatan pengrajin menjadi rendah (Tabel 6).  Bila dibagi 12 bulan, maka pendapatan pengrajin (pengusaha industri kecil) pada  tahun 1995 rata-rata per bulan hanya mencapai Rp 87.667 atau Rp 3.507 rata-rata  per hari (dibagi 25 hari kerja), lebih rendah dari UMR yang berlaku, yaitu sebesar Rp 6.000 per hari.

 

Berbeda dengan yang dialami pengrajin, rata-rata nilai penjualan dari industri menengah di kedua daerah tersebut justru terus menurun (Tabel 7). Pada tahun 1992, nilai penjualannya mencapai Rp 40.500.000. Tetapi pada tahun 1993,  nilainya turun hampir 4 kali lipat menjadi Rp 13.500.000. Dan pada tahun 1995, nilai penjualannya turun lagi hampir separuh dari nilai penjualan tahun 1993  menjadi hanya Rp 6.000.000. Selaras dengan turunnya volume penjualan, biaya  operasionalnya terus berkurang (Tabel 8). Bila pada tahun 1992 biaya operasinya  mencapai Rp 24.951.000, tetapi pada tahun 1993 berkurang menjadi Rp 6.972.000  dan tahun 1995 hanya sebesar Rp 1.583.000. Sebagai akibatnya, total nilai  pendapatannya turun, yaitu dari Rp 15.549.000 pada tahun 1992 turun menjadi  hanya Rp 4.417.000 pada tahun 1995 (Tabel 9). Implikasinya, jumlah dan  pendapatan tenaga kerjanya juga terus menurun. Pada tahun 1992 jumlah tenaga  kerja yang diserap sebanyak 108 orang, tetapi pada tahun 1995 hanya tinggal 10  orang (Tabel 10). Sedangkan pendapatan tenaga kerjanya, bila tahun 1992 mencapai Rp 14.000 per orang, maka pada tahun 1995 hanya Rp 10.000 per orang (Tabel 11).

 

E. Subsistem Jasa Pendukung

Subsistem jasa pendukung mencakup perkreditan dan asuransi, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan penyuluhan, transportasi dan pergudangan, dan  kebijakan pemerintah (mikro dan makro ekonomi, dan tata ruang) (Saragih, 2001).  Dalam kasus agribisnis bambu, hanya kegiatan penelitian dan pengembangan yang  berjalan, tetapi masih terbatas dan belum sampai tahap penelitian dan  pengembangan yang berorientasi ke arah pengembangan agribisnis secara komprehensif.

III. FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN AGRIBISNIS BAMBU

Berdasarkan perkembangan kinerja sistem agribisnis yang diuraikan diatas terlihat bahwa seluruh subsistem agribisnis bambu masih banyak mengandung kelemahan. Mulai dari subsistem agribisnis hulu hingga subsistem jasa pendukung.  Belum solidnya pengembangan sistem agribisnis bambu tersebut telah  menyebabkan sekurang-kurangnya dua faktor penghambat. Pertama, kenaikan  harga bambu batangan cenderung relatif lebih tinggi dari kenaikan harga produk  kerajinan industri kecil (pengrajin) dan sebaliknya, relatif lebih rendah dari  kenaikan harga produk bambu industri menengah. Hal ini terjadi karena segmen  pasar pengrajin adalah segmen tradisional seperti pasar lokal dan penduduk  pedesaan, sementara segmen pasar industri menengah adalah segmen pasar modern  seperti perhotelan dan penduduk perkotaan. Sebagaimana telah dipahami, pertumbuhan ekonomi pedesaan relatif lamban dibandingkan dengan ekonomi  perkotaan. Sebagai akibatnya, perkembangan daya beli masyarakatnya tidak setinggi  di perkotaan. Implikasinya, kenaikan harga produk bambu pengrajin cenderung  lebih rendah dibandingkan dengan produk bambu industri menengah. Oleh sebab  itu dapat dimengerti bila naiknya harga bambu batangan cenderung lebih tinggi  dari kenaikan harga produk bambu pengrajin selama bambu batangan juga  diperebutkan oleh industri menengah yang bersegmen pasar lebih dinamis.  Fenomena ini tentu menyebabkan pengrajin mengalami kesulitan dalam meningkatkan  margin keuntungan tanpa menekan biaya operasi. Sebaliknya, industri menengah dapat bertahan tanpa harus menekan biaya operasi.

Kedua, kontribusi kenaikan harga bambu batangan di satu pihak menyebabkan pendapatan pengusaha industri bambu (skala kecil dan menengah) menurun, dan sebaliknya, di lain pihak, menyebabkan pendapatan petani bambu meningkat.  Sebagaimana telah dikemukakan di muka, penurunan pendapatan pengrajin lebih  disebabkan oleh lemahnya daya beli segmen pasarnya (dengan asumsi permintaan  efektifnya meningkat bila harga relatif lebih rendah), sementara penurunan  pendapatan industri menengah lebih diakibatkan oleh turunnya permintaan efektif (dengan asumsi daya beli segmen pasarnya sangat kuat). Dalam kasus pertama,  dapat dipahami bila faktor penyebab menurunnya pendapatan pengrajin karena faktor kenaikan harga bambu batangan yang relatif tinggi berhubung daya beli  segmen pasarnya relatif sangat lemah. Tetapi dalam kasus kedua, naiknya harga  bambu batangan tampaknya bukan merupakan faktor dominan selama daya beli  segmen pasarnya relatif sangat tinggi. Faktor lain seperti lemahnya daya kompetitif dari segi kreativitas design, harga relatif, dan perubahan selera serta kejenuhan pasar boleh jadi merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan.

Terlepas dari faktor-faktor yang belakangan, suatu hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah efisiensi tataniaganya. Secara teoritis, semakin efisien tataniaga yang menjalankan perdagangan, semakin berkembang pasar produk yang  diperdagangkan. Dengan kata lain, penurunan volume perdagangan produk bambu industri skala menengah seharusnya tidak perlu terjadi bilamana setiap rantai  tataniaga yang terlibat memiliki kekuatan tawar-menawar yang relatif sama. Dilihat dari segi ini, terlihat industri skala menengah memiliki posisi tawar yang sangat  kuat, baik dalam menghadapi petani maupun konsumennya. Indikasinya, margin  keuntungan yang diperoleh industri skala menengah sangat tinggi (Tabel 9). Oleh  sebab itu, dari segi distribusi perolehan keuntungan antar pelaku tataniaga,  menurunnya volume penjualan industri produk bambu skala menengah cenderung disebabkan oleh pemusatan keuntungan pada industri yang bersangkutan daripada  oleh faktor lain. Walaupun, pada tingkat tertentu faktor harga relatif terhadap produk sejenis dari bahan kayu, rotan dan plastik turut mempengaruhi.

Berbeda dengan sektor industri, dampak kenaikan harga bambu batangan pada petani, telah dijelaskan di muka, cenderung menaikkan pendapatan petani. Tetapi  pada tingkat berapa besar kenaikan harganya dapat ditolelir, merupakan suatu  persoalan yang menarik untuk dikaji. Pada saat ini sumbangan bambu pada  pendapatan petani masih tergolong kecil (Tabel 2). Walaupun kenaikan harga  bambu yang terjadi telah menyebabkan menurunnya pendapatan pengrajin. Dilihat  dari segi posisi tawarrnya, terlihat posisi petani relatif kuat. Akan tetapi, kekuatan  posisi petani ini kelihatannya cenderung lebih didorong oleh kelangkaan pasokan  (defisit supply) atau kelebihan permintaan (excess demand). Indikasinya,  sebagaimana diutarakan di atas, kendati harga bambu cenderung meningkat (Tabel  1), tetapi tidak ada investor yang tertarik menanamkan modalnya di sektor  penanaman bambu. Dengan kata lain, kuatnya posisi tawar petani lebih  merefleksikan opportunity cost sektor bambu masih lebih rendah dari sektor  ekonomi lain seperti rotan atau produk pertanian. Namun demikian, kebijakan  pengembangan tanaman bambu perlu disertai dengan kebijakan pengembangan  industri skala kecil dan menengah, sehingga harga bambu batangan tidak menurun drastis.

Kebijakan pemerintah yang hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi bambu batangan hanya akan menyebabkan haraganya menurun, yang pada gilirannya akan menurunkan pendapatan petani bambu. Oleh sebab itu, kebijakan  peningkatan produksi bambu perlu disertai dengan kebijakan pengembangan sisi  demand. lebih jauh, kebijakan pengembanagan demand tersebut perlu dibarengi  dengan kebijakan yang diarahkan untuk menekan margin tataniaga produk bambu  tanpa harus menekan margin keuntungan secara berlebihan. Misalnya, pemerintah  melakukan deregulasi pada sektor transportasi, terutama untuk muatan bambu dan  produk bambu. Sedangkan bertalian dengan peningkatan daya saing produk bambu,  kebijakan pemerintah dapat diarahkan untuk menanggulangi penebangan kayu dan pemungutan rotan secara illegal, baik yang di hutan alam maupun hutan tanaman.

IV. KENDALA DAN TANTANGAN

A. Sistem Agribisnis Bambu yang Berkerakyatan

Menurut Ohlsson (1994) aspek sosial ekonomi dapat didefinisikan sebagai aspek yang mempersoalkan individu-individu penduduk dan grup-grup masyarakat  dalam mengakses dan mengontrol  sumberdaya, dan aspek sosial dan budaya yang  mengarahkannya. Selaras dengan pengertian tersebut, dalam kasus pengusahaan  bambu di sini, analisis sosial ekonomi dibatasi hanya membahas aspek individu dan  grup dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya. Sedangkan aspek sosial dan  budaya yang mengarahkannya (nilai-nilai tradisional) dianggap inheren dengan kegiatannya (industri kecil) yang sekaligus merupakan pembedaan dari pengusahaan yang bersifat modern (industri menengah dan besar).

Parameter sosial ekonomi yang biasanya digunakan sebagai ukuran keberhasilan individu dan grup dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya alam adalah  pendapatan. Yaitu pendapatan yang diterima penduduk, meliputi petani dan pelaku yang terlibat dalam proses pemasarannya hingga di tangan konsumen. Karena  ukurannya adalah variabel pendapatan, maka faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan seperti biaya pengolahan dan distribusi dianggap penting untuk  dibahas. Sekedar ilustrasi, nilai tingkat petani (bahan makanan) di Inggris hanya sekitar 50% dari nilai yang dibayarkan oleh konsumen akhir, dan di Amerika  Serikat, sekitar 33% (Ritson, 1977). Hal ini mencerminkan bahwa petani produsen tidak lebih hanya sebagai pemasok bahan mentah untuk sektor pengolahan dan pemasaran, yang penerimaannya cenderung rendah.

Dalam kasus bambu yang terjadi sebaliknya. Adanya excess demand bambu batangan telah menyebabkan harganya meningkat tajam, sehingga petani bambu  diuntungkan. Di lain pihak, naiknya harga bambu batangan telah merugikan  pengrajin dan industri skala menengah. Akibat kenaikan harga bambu batangan  tersebut, sebagian pengrajin dan industri skala menengah telah tidak beroperasi  lagi. Dengan demikian, kendati secara alami telah berorientasi pada jiwa  kerakyatan, kebijakan yang berkembang belum memperkuat substansi kerakyatan  yang ada. Sebagai akibatnya, agribisnis bambu tidak berkembang dengan baik.  Kepentingan petani dan pengrajin serta industri skala menengah saling  berkompetisi memperebutkan margin keuntungan, yang seharusnya dapat dicegah sehingga tidak terjadi.

B. Sistem Agribisnis Bambu yang Berdaya Saing

Hasil analisis produksi dan pemasaran sering gagal diimplementasikan bila hanya melihat dari sisi biaya. Ruh produksi dan pemasarannya sendiri juga perlu dibahas ketika menganalisis biaya. Sebab, apakah artinya angka-angka biaya?  Apakah implikasinya bagi peningkatan pendapatan? Bukankah itu hanya sekedar perhitungan yang semua orang bisa melakukan? Tetapi apakah pendapatan bisa  ditingkatkan bila kita tidak mengetahui bagaimana daya saing dan potensi pasar  yang sesungguhnya? Sebagai contoh, bila kita dapat menurunkan biaya produksi  dan pemasaran sebesar 10%, bisakah itu dipakai sebagai landasan kebijakan  peningkatan pendapatan ketika produk yang sama ternyata dapat diperoleh melalui  impor dengan harga lebih murah? Bukankah aspek biaya hanya sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam meningkatkan daya saing?

Dalam dunia nyata faktor harga ternyata bukan satu satunya faktor yang menentukan daya saing. Contoh extremnya, air untuk minum di pedesaan adalah  melimpah dan orang pedesaan dahulu tidak mengenal budaya membeli air putih  untuk minum. Tetapi, kenapa pada saat ini kendati air minum masih melimpah, air  “aqua” laku diperdagangkan di daerah pedesaan? Alasan yang sering dikemukakan, ternyata karena air “aqua” lebih praktis dalam penggunaan dan  menyimpannya. Selaras dengan fenomena tersebut, pendekatan yang dilakukan  dalam pengusahaan bambu nampaknya juga harus mempertimbangkan selain dari faktor harga juga faktor-faktor non-harga.

Faktor non-harga yang dimaksud antara lain: design dan penampilan (produk mebeler dan kerajinan), pelayanan, kebersihan dan rasa (produk makanan), keawetan dan kekuatan (bahan bangunan). Demikian pula dengan faktor segmen  pasar. Bagaimanakah potensi dan pertumbuhannya, sehingga kebijakan efisiensi  dapat lebih efektif dioperasionalkan; merupakan persoalan yang perlu  dipertimbangkan. Dalam pengertian yang demikian, ruh pemasaran justru  merupakan faktor dominan yang mempengaruhi pendapatan. Analisis biaya hanya  sebagai tahap awal penilaian dan tentu sebaiknya harus dilengkapi tahap lanjutannya  yakni analisis ruh pemasarannya, yang meliputi daya saing dan potensi pasarnya itu  sendiri. Selanjutnya agar lebih efektif, kita juga perlu mengkaji bagaimana prospek kondisi daya saing dan potensi pasar tersebut dalam jangka panjang.

Selain daya saing, beberapa pertanyaan lain perlu dipertimbangkan. Pertama, apakah perkembangan pasar industri bambu selama ini telah merefleksikan efisiensi alokatif maupun produktif penggunaan sumberdaya (lahan, kapital dan  tenaga kerja)? Jika belum, persoalannya berarti mempertimbangkan efisiensi mana  yang masih perlu ditingkatkan. Kedua, apakah perkembangan pasar industri bambu  selama ini telah menuju ke arah distribusi pendapatan secara lebih merata? Jika  belum, permasalahannya berarti mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakmerataan tersebut.

Dalam kaitannya dengan daya saing terlihat daya saing bambu masih lemah. Hal  ini sekurang-kurang diindikasikan oleh fakta naiknya harga bambu batangan telah  merugikan pengrajin dan industri skala menengah. Akibat kenaikan harga bambu batangan tersebut, sebagian pengrajin dan industri skala menengah telah tidak  beroperasi lagi. Sedangkan berkaitan dengan struktur pasar terlihat struktur pasar industri bambu cenderung berbeda untuk jenis produk yang berbeda. Struktur  pasar bambu batangan cenderung bersifat lebih kompetitif dibandingkan dengan  mebel bambu. Berkaitan dengan distribusi pendapatan terlihat industri skala  menengah telah mengambil porsi margin kentungan yang relatif besar. Dengan  demikian, untuk mendorong daya saing bambu, penerapan kebijakan insentif dan  disinsentif pada industri bambu tidak selalu harus sama. Upaya mendorong  distribusi pendapatan bagi pelaku tataniaga bambu perlu dilakukan, sehingga peran pasar dalam membantu distribusi pendapatan masyarakat dapat diwujudkan.

C. Sistem Agribisnis Bambu yang Berkelanjutan

Pasokan bambu berasal dari dua sumber yaitu tanaman tradisional rakyat dan hutan alam. Data pasokan dari masing-masing sumber hingga saat ini belum teridentifikasi (secara akurat). Terlepas dari belum tersedianya data pasokan masing-masing sumber, pertanyaannya adalah apakah “tolok ukur masalah” (measure) yang dijadikan landasan bahwa kebijakan pemerintah dalam  pengusahaan bambu dipandang perlu? Dalam merumuskan masalah pengembangan  pengusahaan bambu, pertanyaan ini penting dikedepankan menyadari bahwa “tolok  ukur masalah” yang dipakai dalam konteks kebijakan ekonomi dan dalam konteks kebijakan pelestarian hutan bisa berbeda.

Sebagai contoh, jika harga pasar bambu telah mampu mendorong pasokannya berkembang secara berarti, maka dari sisi perspektif teori ekonomi, kebijakan insentif ekonomi dalam pengembangan pengusahaan bambu bisa dipandang tidak  perlu. Sebab, jika itu terjadi, harga sebagai indikator kegiatan ekonomi telah  mencerminkan alokasi sumberdaya secara efisien. Dalam kondisi tersebut,  keberadaan kebijakan insentif ekonomi dalam pengembangan pengusahaan bambu  justru akan mendistorsi alokasi sumberdaya karena sebagai subsidi. Tetapi   sebaliknya, dari sisi upaya pelestarian hutan alam yang selalu mendahulukan  kepentingan keutuhan ekosistem, kebijakan tersebut boleh jadi diperlukan. Sebab, kebijakan insentif ekonomi yang mampu mendorong naiknya potensi bambu di  luar hutan alam secara substantial berarti memperkokoh posisi keutuhan ekosistem  hutan alam karena terhindar dari tekanan penduduk (yang berkepentingan dengan pemungutan bambu di hutan alam yang bersangkutan).

Perbedaan “tolok ukur masalah” antara sebagai landasan kebijakan insentif ekonomi dan pelestarian hutan alam menimbulkan perbedaan cara pandang dalam mengidentifikasi permasalahan pengembangan pengusahaan bambu. Walaupun  demikian, diantara keduanya bisa saja mengandung kesamaan kepentingan.  Misalnya, apabila perkembangan permintaan bambu ternyata justru tidak  merangsang penduduk memungut bambu di hutan alam. Dengan kata lain, tanpa kebijakan insentif ekonomi, pengusahaan bambu tanaman tumbuh pesat di luar  kawasan hutan. Dengan demikian, dalam merumuskan “tolok ukur masalah”  sebagai landasan kebijakan perlu mempertimbangkan seberapa jauh harga sebagai faktor perangsang perkembangan pasar telah menciptakan peluang munculnya  pengusahaan bambu tanaman menguntungkan dalam jangka panjang. Dengan  demikian, asumsi bahwa perkembangan pasokan sebagai akibat rangsangan harga bukan berasal dari hutan alam terpenuhi.

Namun fakta yang ada menunjukkan bahwa kendati bambu dengan beragam jenis tumbuh di hampir seluruh wilayah Indonesia, pasokan bambu (dari segi kuantitas maupun kualitas) dirasakan masih menjadi kendala dalam pengembangan industri, khususnya bila berorientasi ekspor (Ichsan, 1990; Djajadi, 1990; Mudhofar, 1990). Sebaliknya, perkembangan permintaan produk bambu di dalam dan luar negeri terus meningkat. Sebagai misal, dalam periode  Januari s/d Oktober 1988 nilai ekspor kerajinan khususnya anyaman bambu sekitar US$ 8 juta dan dalam periode yang sama tahun 1989 naik menjadi US $ 14 juta  (DitJen Industri Kecil, 1990). Dalam tahun 1991/1992, nilai ekspornya (termasuk  bahan lain selain rotan) adalah US$ 3,5 juta dan dalam tahun 1992/1993 menjadi  US$ 3,7 juta atau naik sekitar 5% (Departemen Perindustrian, 1993). Gap pasokanpermintaan  yang terjadi merefleksikan perkembangan harga bambu belum mampu  merangsang berkembangnya pengusahaan bambu baik dari hasil tanaman maupun  hutan alam. Tanpa upaya yang signikan, terutama pengembangan subsistem industri hulu, pada gilirannya agribisnis bambu tidak akan berkelanjutan.

Dengan perkataan lain, perkembangan harga yang demikian dapat mencerminkan pasokan barang substitusi bambu seperti kayu, rotan dan bahan  plastik selama ini masih dapat diperoleh dengan relatif lebih mudah dan atau  budaya konsumsi kayu dan rotan serta bahan plastik relatif lebih melembaga  daripada bambu. Dengan demikian, dapat dihipotesiskan bahwa pertama,  pengusahaan bambu tidak dapat berkembang karena harga kayu, rotan dan bahan  plastik relatif lebih murah. Kedua, perkembangan pasokan kayu dan rotan (hutan  tanaman dan hutan alam) serta bahan plastik selama ini relatif dapat mengimbangi perkembangan permintaannya. Ketiga, perkembangan investasi dan teknologi pemanfaatan kayu, rotan dan bahan plastik relatif lebih cepat daripada bambu.  Keempat, perkembangan selera (taste) masyarakat terhadap bambu relatif lebih  rendah. Kelima, perkembangan kebijakan yang mendorong berkembangnya  pengusahaan bambu relatif terbatas dan kalau ada, belum kondusif. Keenam,  pengembangan agribisnis bambu boleh jadi membutuhkan skala besar untuk dapat bersaing dengan barang-barang substitusinya.

D. Sistem Agribisnis yang Berdimensi Otonomi Daerah

Perkembangan kinerja agribisnis bambu selama ini merupakan dampak strategi  dan kebijakan yang sentralistik. Kebijakan yang sentralistik telah menimbulkan persoalan gap-pasokan-permintaan bambu; persaingan perebutan margin keuntungan antara petani bambu, pengrajin, dan industri skala menengah, yang  seharusnya dicegah agar tidak terjadi; agribisnis bambu berdaya saing rendah dan  cenderung tidak berkelanjutan. Untuk membedah persoalannya pendekatannya  dapat dilakukan melalui dua sisi. Pertama, gap pasokan-permintaan yang terjadi  dikaji dari sistem tataniaga dan informasi pasarnya dengan tujuan untuk mengetahui  sejauhmana telah menimbulkan daya dorong terhadap perkembangan konsumsi,  yang mampu menstimuli kenaikan harga bambu relatif terhadap kayu, rotan dan  bahan plastik. Selama daya dorongnya belum mampu menstimuli kenaikan harga,  upaya mengatasinya perlu dilakukan misalnya dengan cara memperbaiki  bekerjanya sistem tataniaga yang ada, dan menghapuskan kebijakan yang   menghambat atau memperkuat kebijakan yang mendorong. Kedua, gap pasokanpermintaan  yang terjadi dikaji dari keberadaan kebijakan yang berkaitan dengan  pengembangan pengusahaan bambu tanaman maupun hutan alam itu sendiri.  Keseluruhan persoalan yang timbul menuntut pergeseran dalam pengembangan sistem agribisnis bambu dari kebijakan yang sentralistik ke arah kebijakan yang desentralistik melalui otonomi daerah.

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

A. Kesimpulan

1. Secara keseluruhan perkembangan kinerja sistem agribisnis bambu masih jauh  dari harapan. Mulai dari subsistem agribisnis hulu hingga subsistem jasa pendukung belum dikembangkan dengan baik. Kinerja subsistem agibisnis hulu diindikasikan oleh lemahnya industri perbenihan dan pembibitan, sementara subsistem usahatani oleh supply deficit. Kinerja subsistem pengolahan diindikasikan oleh bangkrutnya sebagian pengrajin dan industri skala menengah, sementara subsistem pemasaran oleh lemahnya daya saing dan struktur pasar yang tidak efisien (monopoli; oligopoli). Kinerja subsistem jasa pendukung diindikasikan oleh absennya kebijakan yang kondusif, termasuk jasa perkreditan dan asuransi serta penelitian dan pengembangan.

2. Perkembangan agribisnis bambu, terutama yang berkaitan erat dengan penerimaan para pelaku ekonomi yang terlibat, menghadapi beberapa hambatan. Pertama, kenaikan harga bambu batangan yang relatif lebih tinggi dari kenaikan harga produk kerajinan industri kecil (pengrajin) dan sebaliknya, relatif lebih rendah dari kenaikan harga produk bambu industri menengah. Kedua, kontribusi kenaikan harga bambu di satu pihak menyebabkan pendapatan pengusaha industri bambu (skala kecil dan menengah) menurun, dan di lain pihak, menyebabkan pendapatan petani bambu meningkat. Ketiga, dalam sistem tataniaga bambu, industri skala menengah memiliki posisi tawar yang terlalu kuat baik dalam menghadapi petani maupun konsumen, yang diindikasikan oleh margin keuntungannya yang relatif sangat tinggi.

3. Upaya mewujudkan pengembangan sistem agribisnis bambu yang bersifat kerakyatan, berdaya saing, berkelanjutan, dan berdimensi otonomi daerah, menghadapi beberapa kendala dan tantangan. Pertama, kendati secara alami telah berorientasi pada jiwa kerakyatan, kebijakan yang berkembang belum memperkuat substansi kerakyatan yang ada, yang diindikasikan oleh adanya kompetisi perebutan margin keuntungan yang tidak sehat antara petani, pengrajin dan industri skala menengah. Kedua, agribisnis bambu belum memiliki daya saing yang kuat, yang diindikasikan oleh sebagian pengrajin dan industri skala menengah yang telah tidak beroperasi lagi. Ketiga, agribisnis bambu cenderung tidak berkelanjutan, yang diindikasikan oleh adanya gap pasokan-permintaan bambu. Keempat, sistem agribisnis bambu bersifat sentralistik, yang diindikasikan oleh sekurang-kurangnya kendala dan tantangan yang pertama.

B. Rekomendasi Kebijakan

1. Menyadari perkembangan kinerja sistem agribisnis bambu masih jauh dari harapan, kebijakan pengembangan di masing-masing subsitem masih perlu disempurnakan. Kebijakan pengembangan subsistem agribisnis hulu dan jasa pendukung, terutama penelitian dan pengembangan bambu, perlu mendapatkan  perhatian yang sepadan dengan subsistem usahatani, pengolahan, dan  pemasaran. Kebijakan pengembangan sisi penawaran melalui peningkatan  produksi bambu batangan perlu dibarengi dengan kebijakan pengembangan sisi  permintaan melalui pengembangan industri pengolahan untuk menjaga harga  bambu batangan tidak menurun drastis, yang hanya akan merugikan petani  bambu. Lebih lanjut, kebijakan pengembangan sisi permintaan perlu didukung  oleh kebijakan efisiensi tataniaga, disamping kebijakan peningkatan daya saing  secara langsung antara lain melalui peningkatan kualitas dan kuantitas maupun  tidak langsung melalui penanggulangan penebangan kayu dan pemungutan rotan secara illegal di hutan alam maupun tanaman.

2. Menyadari para pelaku ekonomi dalam sistem agribisnis bambu belum menerima porsi margin keuntungan yang relatif fair, penyempurnaan kebijakan  pengembangan sistem agribisnis bambu yang akan dilakukan perlu mempertimbangkan adanya faktor perbedaan kenaikan harga pasar antara bambu batangan, produk kerajinan industri kecil (pengrajin) dan produk industri menengah, serta adanya faktor perbedaan kontribusi kenaikan harga bambu batangan terhadap pendapatan pengusaha industri bambu (skala kecil dan  menengah) dan pendapatan petani bambu, disamping perlu memperhatikan adanya faktor posisi tawar yang terlalu kuat dari industri skala menengah.

3. Upaya mewujudkan pengembangan sistem agribisnis bambu yang bersifat kerakyatan, berdaya saing, berkelanjutan, dan berdimensi otonomi daerah,   merupakan sebuah keharusan. Untuk mewujudkan visi tersebut, perlu adanya sosialisasi dan reorientasi kebijakan yang jelas, misalnya dari orientasi kebijakan yang berpihak kepada kelompok masyarakat tertentu bergeser ke berpihak kepada rakyat banyak, terutama yang berpenghasilan rendah; dari orientasi kebijakan peningkatan produksi sebesar-besarnya ke orientasi kebijakan pengembangan wilayah pasar dan peningkatan daya saing produk; dari orientasi kebijakan pengembangan bisnis semata-mata ke orientasi kebijakan pengembangan bisnis yang berwawasan lingkungan; dan dari orientasi kebijakan yang sentralistik ke orientasi kebijakan yang desentralistik,
sebagai perwujudan implementasi otonomi daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Astana, S., E.S Sumadiwangsa., dan B. M. Purnama. 1993. Penelitian untuk Menunjang Pengembangan Pengusahaan Damar Mata Kucing Shorea  javanica.. Diskusi Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Hasil Hutan dan Sosial  Ekonomi Kehutanan, Cipayung Bogor. Puslitbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.

Astana, S. dan B. D. Nasendi. 1997. Kajian Sosial Ekonomi dan Insentif Fiskal Pengusahaan Hasil Hutan Non-Kayu: Studi Kasus Bambu dan Rotan di Jawa Barat. Laporan Penelitian Puslitbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.

Astana, S., Yana Sumarna, Sutiyono, OK. Karyono. 1998. Telaahan Hasil-Hasil Penelitian Bidang Budidaya dan Pemanfaatan Rotan dan Bambu. Sinopsis Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Jakarta.

BPS Cabang Tangerang. 1996. Statistik Industri Menengah, Kecil dan Kerajinan. BPS Cabang Tangerang, 1996.

Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya. 1991. Laporan Tahunan.

Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya, 1991. Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya. 1992. Laporan Tahunan.

Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya, 1992.  Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya. 1994. Laporan Tahunan.

Kantor Departemen Perindutrian Kabupaten Tasikmalaya, 1994.

Djajadi, D. 1990. Penggunaan Bambu dalam Industri Sumpit dan Kendala yang Dihadapi Pengembangannya. Gatra Pengembangan Industri dan Kerajinan Bambu. Penyunting Mien A. Rifai dan Elizabeth A. Widjaja, Bogor 1990.

Direktotrat Industri Kecil. 1990. Tinjauan Keadaan Industri dan Kerajinan Bambu  Masa Kini serta Prospeknya di Masa Depan. Gatra Pengembangan Industri  dan Kerajinan Bambu. Penyunting Mien A. Rifai dan Elizabeth A. Widjaja, Bogor 1990.

Departemen Perindustrian. 1993. Pengembangan Ekspor Hasil Industri dalam Pelita VI. Rapat Konsultasi Departemen Perindustrian, Jakarta.

Ichsan, M. 1990. Kendala-Kendala Utama Pemasaran Produk Industri dan Kerajinan Bambu Indonesia di Luar Negeri. Gatra Pengembangan Industri  dan Kerajinan Bambu. Penyunting Mien A. Rifai dan Elizabeth A. Widjaja, Bogor 1990.

Mudhofar, H. M. 1990. Segi-Segi Pemanfaatan Bambu dalam Industri Mebel Bambu Ditinjau dari Segi Kesulitan Dalam Produksi, Pemasaran dan Pemerolehan Bahan Baku. Gatra Pengembangan Industri dan Kerajinan Bambu. Penyunting Mien A. Rifai dan Elizabeth A. Widjaja, Bogor 1990.

Ohlsson, B. 1994. Socio Economic Problems and Opportunities in Forestry. Workshop on Training in Planning and Management of Forest Industries in Developing Countries, held in Cisarua Bogor, 1-10 June 1994.

Ritson, C. 1977. Agricultural Economics, Principles and Policy. Student Edition.  Collins Professional and Technical Books, William Collins Sons & Co. Ltd, London.

Saragih, B. 2001. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Pertanian. Makalah disampaikan pada Kursus Singkat Angkatan IX Lemhannas, Jakarta, 7 Maret 2001. Departemen Pertanian.

Universitas Gajah Mada. 1991. Identifikasi Potensi dan Pemanfaatan Bambu di Propinsi Jawa Barat. Kerjasama antara Direktorat Pengusahaan Hutan Departemen Kehutanan dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: