Kemasan dari Bambu

Besek dan Piring Bambu Kembali Diminati

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/  13 Oktober 2011 

KODAR SOLIHAT/”PRLM”
POHON bambu kini banyak dicari untuk kerajinan.*

SUMEDANG, (PRLM).- Sejumlah masyarakat yang mengusahakan pohon bambu di Kec. Tanjungsari dan Kec. Pamulihan, Kab. Sumedang memperoleh peningkatan pesanan sejak sebulan terakhir. Selain persiapan hajatan pascaIduladha, usaha kerajinan berbahan baku bambu pun terindikasi meningkat, terutama besek dan piring bambu.

Masyarakat pemelihara pohon bambu asal Cinanggerang, Emen (31), Kamis (13/10) menyebutkan, ada informasi dari sejumlah bandar bahwa kerajinan besek, piring bambu, atau kemasan dari bambu, dll kembali diminati masyarakat untuk hajatan, terutama golongan kelas atas. Soalnya besek digunakan sebagai suguhan yang unik dan dinilai mampu memberika kenikmatan dalam suguhan makanan, baik bagi hajatan maupun usaha rumah makan.

Disebutkan, pemesan memang masih berkisar dari beberapa kecamatan di Sumedang, namun pesanan terus naik ke Bandung dan sekitarnya. Saat ini ada fenomena, di mana kemasan dari dus lebih banyak digunakan mereka yang ingin mengirit biaya, namun tren penggunaan besek, piring bambu, atau kemasan lainnya justru naik lagi dari kalangan kelas menengah ke atas.

“Mungkin karena tren konsumen sedang ingin kembali serba ke alam, membuat minat penggunaan piring bambu, besek, dll juga naik kembali. Pada sisi lain, piring bambu kan dapat digunakan kembali, sedangkan besek mampu menjaga kesegaran makanan lebih baik dibandingkan dari dus,” katanya. (A-81/A-147)***

Bambu vs Styrofoam

Sumber: http://coldwind08.wordpress.com  9 Maret  2010

Ternyata hari besar keagamaan yang diperingati di bulan Februari lalu bukan hanya Imlek saja lho… Dua minggu lalu, umat Islam di seluruh Indonesia juga telah merayakan Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Maulid Nabi (entah tahun yang keberapa hijriyah…). Berbagai acara perayaan pun dilakukan di berbagai daerah. Yang paling ramai, seperti biasanya terjadi di daerah bagian timur puau Jawa, salah satunya yaitu upacara Grebeg Maulid di Yogyakarta.

Peringatan Grebeg Maulid di Yogyakarta (Foto: Danu Waskita/Trijaya; Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/02/26/340/307391/pasukan-gajah-iringi-kirab-grebeg-maulud-yogya)

 Meski tidak semeriah di yogyakarta, wilayah Bogor Selatan, yaitu Puncak dan sekitarnyapun memiliki berbagai tradisi dalam merayakan Maulid Nabi. Biasanya warga setempat memperigati Maulid dengan cara mengadakan perayaan di mesjid-mesjid dan membacakan kisah hidup Rasulullah yang terdapat dalam Maulud Azab, misalnya. Pada akhir acara, para jemaah biasanya diberi “berkat”, yaitu berupa makanan berat yang disiapkan oleh pengelola mesjid atau masyarakat sekitar.

Yang menarik perhatian saya yaitu, di daerah tempat tinggal saya, tradisi mengemas makanan dalam kemasan bambu tradisional, yang biasa disebut bongsang masih sangat kuat. Meski berbagai kemasan makanan modern, seperti dus, kap plastik, dan styriofoam sudah lama bermunculan, namun dalam peringatan maulid, para warga enggan berpindah ke kemasan modern tersebut. Padahal, harga bongsang sedikit lebih mahal daripada berbgai kemasan modern tersebut.

wuih, susah ya dapat gambar bongsang… Tapi, yah seperti inilah bentuknya (Sumber: http://nasutelur.blogspot.com/2009/07/profil-ud-nasu.html)

Selain bongsang, beberapa daerah juga biasa menggunaka besek sebagai kemasan makanan pada peringatan Maulid. Besek biasanya digunakan di daerah Cianjur dan sekitarnya. Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, masyarakat lebih menyukai untuk mengemas makanan dengan menggunakan styriofoam yang harganya memang lebih ekonomis, namun kurang ramah lingkungan.

Besek juga sering digunakan sebagai kemasan makanan pada peringatan Maulid (sumber: http://indonetwork.co.id/natural_crafttco/595104/besek.htm)

Budaya menggunakan kemasan-kemasan bambu tradisional tampaknya memang sudah mulai menghilang. Misalnya saja di sebuah mesjid di dekat Pasar Cisarua mulai menggunakan styriofoam yang mungkin memang lebih praktis dalam penggunaannya.

saat ini masyarakat lebih menyukai styriofoam sebagai kemasan makanan

Saat masyarakat dunia mulai beralih ke kemasan organik dan mulai mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam , ironisnya masyarakat kita, yang sebelumnya begitu “akrab” dengan kemasan bambu tradisional, justru malah beralih ke kemasan modern yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, berbagai bentuk kebudayaan yang dapat melestarikan penggunaan kemasan trasisional patut untuk dipertahankan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: