Berita

Juni 2011 

Pengrajin Diberikan Keterampilan Anyaman Bambu

Sumber: http://www.kalimantanpost.com/ 08 Juni 2011 

Amuntai, KP – Pemerintah Kabupaten (pemkab) Hulu Sungai Utara (HSU) memberikan keterampilan tambahan bagi pengrajin, yakni anyaman berbahan baku Bambu guna memajukan kemampuan para pengrajin.

Kegiatan pelatihan anyaman Bambu yang digelar dalam rangka upaya meningkatkan kesejahteraan pengrajin oleh Pemkab HSU melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UKM (disperindakop) setempat, Selasa (7/6), dilangsungkan di Balai Diklat Pendidikan dan Kerajinan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten HSU dikenal banyak memiliki pengrajin, seperti industri Mebel, anyaman yang terbuat dari tanaman Ilung (red-Eceng Gondok), anyaman tikar purun. Sebagai upaya meningkatkan kemampuan pengrajin, pemkab juga memberikan keterampilan anyaman berbahan baku dari Bambu.

Dalam kegiatan pelatihan yang diikuti puluhan pengrajin yang tersebar di tiga kecamatan di wilayah HSU itu, dihadiri oleh Bupati HSU, HM Aunul Hadi, Ketua Dekranasda setempat, Hj Eulis Rohayati Aunul Hadi, Kadis Disperindakop, Drs Kasnariansyah MSi, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (dishutbun) setempat, serta pihak SHANIQUA BAMBOO dari Propinsi Banten, selaku instruktur pelatihan, dan undangan lainnya.

Aunul, yang sekaligus membukan pelatihan anyaman Bambu tersebut, mengungkapkan bahwa Pemkab terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan para pengrajin, salah satunya dengan memberikan keterampilan. Dipilihnya bahan baku yang terbuat dari anyaman Bambu ini, menurut orang nomor satu di Kota “Bertaqwa”, dikarenakan sulitnya bahan baku mebel seperti kayu yang sebelumnya digunakan para pengrajin di HSU, maka Bambu menjadi alternative yang dinilai mempunyai potensi untuk dikembangkan.

“Bahan baku Bambu yang mudah ditanam untuk dikembangkan, menjadi pemikiran dan alternative dari bahan baku industry mebel kayu yang kondisi saat ini boleh dibilang kembang empis” kata Bupati.

Sebagai langkah untuk mengembangkan pengrajin, Pemkab HSU juga membagi 1000 bibit tanaman Bambu jenis “Betung” yang didatangkan dari Propinsi Banten, guna dikembangkan menjadi bahan bakau anyaman Bambu. Sekaligus dalam kegiatan tersebut, Aunul secara simbolis menyerahkan bibit tanaman Bambu Betung kepada pengrajin.

Dalam kesempatan itu, Aunul juga menyampaikan terima kasih kepada SANIQUA BAMBOO, yang telah bersedia untuk menjadi instruktur dan berbagai ilmu kerajinan anyaman Bambu.

Bupati berharap, melalui kegiatan pelatihan ini dapat menambah pengetahuan
dan ketrampilan yang nanti dapat dikembangkan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan para pengrajin.

Kepada para peserta untuk mempergunakan kesempatan pelatiahan ini dengan sebaik-baiknya, sebagai bekal menambah keterampilan, serta berharap adanya komitmen bersama dengan jajaran terkait, maupun dengan para pengrajin agar bersama-sama mewujudkan peningkatan industry kerajinan, lanjut Aunul.

Pemkab HSU pada tahuan 2011 ini, akan menganggarkan dana untuk memberikan penguatan modal bagi pengembangan pengrajin, selain upaya memberikan keterampilan pelatihan.

Sementara itu, Kasnariansyah, disela kegiatan, kepada Kp, menyatakan pelatihan ini diberikan kepada pengrajin yang tersebar di tiga kecamatan selama tiga hari oleh instruktur dari SHANIQUA BAMBOO, yang sudah ahli di bidang anyaman berbahan baku bamboo.

“ Selain menambahkan kemampuan pengrajin, kita juga berharap kedepannya tidak menutup kemungkinan menjadi mitra kerajinan anyaman dari Bambu dengan pihak instruktur yang sudah menjadi Eskportir hasil produk ini” beber Kasna.

Mei 2012 

KEGIATAN PEMBINAAN UMKM (MAGANG KERAJINAN BAMBU) TAHUN 2011

Sumber: http://skpd.batamkota.go.id/ 9 Mei 2012 

Magang kerajinan bambu terlaksana atas kerjasama / Mou antara Pemerintah Kota Batam dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor yang diaktualisasikan oleh Dinas PMP-KUKM Kota Batam dengan Dinas Koperindag Kabupaten Bogor.

Pembukaan magang kerajinan bambu dilaksanakan dan dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Gobang Kecamatan Rumping Kabupaten Bogor, bertempat di Kantor Desa Gobang dan dihadiri oleh Pejabat dari Dinas Koperindag Kabupaten Bogor.

Peserta Magang

Jumlah peserta magang terdiri dari 5 orang pengrajin bambu dari Kelurahan Pemping Kecamatan Belakang Padang. Tujuan dari kegiatan ini antara lain :

Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta tentang cara-cara menganyam bambu dalam berbagai jenis produk.

Memanfaatkan potensi bambu yang banyak dijumpai di Kelurahan Pemping Kecamatan Belakang Padang menjadi produk yang bernilai.
Menciptakan lapangan kerja baru disektor informal guna meningkatkan pendapatan keluarga.

Lokasi Magang kerajina bambu diadakan di Workshop kerajinan bambu Desa Gobang Kecamatan Rumping Kabupaten Bogor, dan Narasumbernya adalah Bpk. Saepudin (Pemilik Workshop / bengkel Kerajinan Bambu). Peserta magang diharapkan dapat lebih berkreatifitas dan mampu memanfaatkan potensi yang ada agar dapat memproduksi kerajinan bambu lebih baik dan optimal.

Miniatur Angklung Terbuat dari Limbah Bambu

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 20 Mei 2012 

NGAMPRAH, (PRLM).- Bagi kebanyakan orang, limbah merupakan benda yang tak berguna. Selain mencemari lingkungan, limbah hanyalah sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Namun, bagi Nursofik (35), limbah justru menjadi ladang penghasilannya.

Berawal dari kecintaannya terhadap seni, warga Kp. Ciawitali, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat itu berkeinginan untuk membuahkan karya meski dengan modal materi yang terbatas. Dengan memanfaatkan limbah bambu hitam dan bambu tali yang tersedia di kampungnya, dia mencoba berkreasi dengan bakat seni yang dimilikinya.

Dengan tangan kreatifnya, pria asal Tegal, Jawa Tengah ini menyulap limbah bambu menjadi miniatur angklung. Replika alat musik bambu khas Jawa Barat itu dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk aslinya.

“Limbah bambu di kampung ini jumlahnya melimpah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” katanya saat ditemui belum lama ini di tempat produksinya, RT 1 RW 12 Kampung Ciawitali, Cikalongwetan.

Membuat miniatur angklung, bagi Nursofik, gampang-gampang susah. Gampang karena tinggal meniru model aslinya. Susah, tentu karena ukurannya lebih kecil sehingga membutuhkan ekstraketelitian.

Mula-mula, limbah ranting bambu dikeringkan di bawah terik matahari untuk mengetahui kualitasnya. Bambu yang terpakai kemudian diamplas hingga permukaannya halus. Lalu, bambu tersebut dipotong-potong dengan ukuran 8-10 cm kemudian dilubangi di beberapa bagian untuk standar dan rangka angklung.

Berebeda dengan angklung sungguhan, miniatur angklung tidak membutuhkan harmonisasi nada sehingga pembuatannya lebih sederhana. Meski demikian, kenyataannya tidak sesederhana yang dibayangkan karena dalam pembuatannya tentu harus melibatkan rasa dan sentuhan seni. “Yang paling susah adalah mengikat angklung dengan tali rotan. Selain harus kuat, ikatan itu juga harus rapi dan jangan sampai ada goresan,” kata Nursofik.

Itulah sebabnya, pengikatan dan penyelesaian miniatur angklung masih ditangani Nursofik sendiri. Sebelas pekerjanya yang merupakan para pemuda daerah setempat hanya membantunya hingga tahap pemotongan dan penghalusan bambu.

Untuk satu set miniatur angklung, dia membandrol harga Rp 25.000,00-Rp 35.000,00 bergantung pada ukurannya. Semakin kecil ukurannya, semakin mahal pula harganya. Selain dijual per set, dia juga menjual satuan yang bisa dipakai untuk pin dengan harga Rp 2.500,00.

Layaknya kebanyakan industri rumah tangga, produk Nursofik masih terkendala pengemasan dan pemasaran. Media promosi hanya dari mulut ke mulut dan memanfaatkan situs jejaring sosial. Meski demikian, upaya itu cukup membuat karyanya diminati oleh sejumlah toko souvenir di Lembang dan Kota Bandung bahkan hingga ke Batam.

“Saat ini, kami juga tengah membuat lima ratus set angklung yang telah dipesan dari salah satu toko suvenir di Kota Bandung,” ujar Nursofik. (A-192/A-147)***

Pascaerupsi, Perajin Bambu Kesulitan Bahan Baku

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/  27 Mei 2012 

SLEMAN, suaramerdeka.com – Bencana erupsi tahun 2010 silam tidak hanya menghancurkan berbagai sarana infrastruktur, tapi juga lahan budidaya bambu di sekitar lereng Merapi. Imbasnya, para perajin usaha bambu sejak satu terakhir terpaksa mengambil bahan baku dari luar daerah.

Kepala Disperindagkop Kabupaten Sleman, Pranowo mengungkapkan hanya sekitar 30 persen bahan bambu menggunakan produksi lokal, sedangkan 70 persen, dipasok dari luar daerah khususnya Jawa Tengah. “Bencana erupsi memang cukup berimbas terhadap industri kerajinan bambu. Sebagian besar bahan baku sekarang harus dipasok dari luar, karena lokal tidak mencukupi,” katanya.

Kendati demikian, dia mengaku sejauh ini hal itu tidak menjadikan sektor kerajinan bambu, surut. Saat ini terdapat 1.350 perajin tersebar di sebelas sentra. Keseluruhan, rata-rata membutuhkan 15 ribu batang bambu tiap bulan.

Dalam mengatasi kendala minimnya bahan baku, pihak Pemkab telah melakukan penanaman pohon bambu di sejumlah lahan kritis. Di antaranya kawasan lereng Gunung Merapi, dan sepanjang tepi Sungai Progo. Sugiyarto, salah satu perajin di Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati persoalan bahan baku memang cukup menjadi kendala pascaerupsi.

Namun, hal itu masih bisa disiasati dengan mengambil stok dari luar daerah seperti Purworejo dan Kulon Progo. “Pasokan selama ini lancar, Tapi kalau bisa disetor dari daerah sekitar Sleman, itu lebih baik. Soalnya bisa mengirit biaya transportasi pengiriman,” ujarnya.

Menurutnya, kendala utama yang dihadapi kalangan perajin saat ini umumnya menyangkut modal. Terlebih, produk usaha kerajinan bambu telah merambah pasar ekspor sehingga butuh modal lebih besar.
( Amelia Hapsari / CN26 / JBSM )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: