Indonesian Bamboo Society

Indonesian Bamboo Society (IBS)

Sumber:   http://www.indonesianbamboosociety.com/

Indonesian Bamboo Society (IBS) didirikan dan dijalankan oleh IBS Fellows yang mempunyai concern kepada pengembangan bambu. Dengan latar belakang praktisi bambu dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu, IBS Fellows bercita-cita membuat dunia bambu lebih kaya melalui perpaduan konvensional (low-tech) dan teknologi informasi (high-tech). Program kegiatan kami antara lain :

  • IBS Course: Latihan pembuatan Biola Bambu, Gitar Bambu, Flute Bambu dan alat musik lainnya yang terbuat dari bambu kepada berbagai kalangan
  • IBS Assistance: Dukungan penyediaan fasilitas dan kepelatihan alat musik dari bahan bambu kepada komunitas yang berminat mencoba (Karyawan, PKK / Darmawanita, Karang taruna, Siswa Sekolah dll).
  • IBS Big Band : Pengembangan Tim IBS Big Band dari peserta berbagai kalangan (multi platform) yang tertarik untuk bermain musik dengan menggunakan alat musik dari bahan Bambu
  • IBS Trainer Course : untuk meningkatkan jumlah pelatih alat musik dari bahan bambu yang berstandar
  • Konser Rutin untuk lebih memasyarakatkan alat musik dari bahan bambu termasuk tampil dalam acara Televisi
  • Link Luar Negeri (NGO)untuk pengembangan alat musik dari bahan bambu agar lebih diakui dunia internasional

Alamat:  

Museum Bambu – Galeri 16
Jl. Raya Cibeureum No. 16 Bandung 40535 Indonesia
Phone. +62 22 6013 508
E-Mail : indonesianbamboosociety@gmail.com

Contact Person :
Dipl.-Ing. Adang Muhidin, ST (+62 8212 8088 152)
Mauran Tarqi (+62 8122 1010 144)

IBS Wujudkan Mimpi Lewat Bambu

Sumber: http://bandungoke.com/ 13 Mei 2012 

DI ANTARA keramaian Jalan Raya Cibeureum No.16 Bandung, dan di tengah sesaknya deretan pertokoan dan perumahan, terselip sebuah bangunan berlabelkan “Museum Bambu”. Tak seperti keadaan sekitar yang panas dan menyengat, pelataran bangunan ini justru terasa sejuk, lengkap dengan berbagai tanaman hijau yang tertata rapi di pelatarannya. Seperti namanya, dinding dan lantai bangunannya didominasi oleh lapisan bambu, menegaskan kesan bangunan yang antik dan klasik.

Ketika memasuki Museum Bambu lebih dalam, akan kita temui ruangan demi ruangan berisi berbagai pernik dan kreasi kerajinan bambu. Ada patung, sepeda, perkakas rumah tangga, alat musik seperti gitar dan biola, juga ada lukisan. Semuanya terbuat dari bambu. Semua karya seni ini adalah buah tangan pihak pengelola dan anggota yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bamboo Society (IBS).

Berawal dari Rasa Prihatin

Adalah Adang Muhyidin, yang mengemban amanah sebagai Presiden IBS. Sejarah kemunculan komunitas ini, paparnya, berawal dari rasa kecintaannya terhadap bambu. Bahkan ia sempat tergabung dalam sebuah perkumpulan pecinta angklung. Lahirnya komunitas, terdorong oleh rasa prihatin, karena pembudidayaan bambu di Indonesia sangat minim, bahkan terkesan diabaikan warga pribumi sendiri. Padahal, menurutnya, di luar negeri, contohnya di Jerman, bambu sangat dihargai dan dioptimalkan pendayagunaannya.

“Di Jerman, bambu sangat diapresiasi, dimanfaatkan, dan dihargai, contohnya angklung. Kenapa di indonesia tidak dimanfaatkan, padahal di luar negeri dihargai banget, gimana caranya biar bambu ini dioptimalkan.”

Tahun 2011, tepatnya 30 April, ia bertemu dengan seorang pengerajin bambu bernama Abah Yudi, yang kala itu tengah memainkan sebuah biola bambu di kawasan Budaya Mukti dekat daerah Saparua. Lalu ia tertarik dan melakukan perbincangan, yang kemudian menjadi titik awal terbentuknya IBS.

“Saya suka yang unik. Pas melihat Abah main biola bambu, saya tertarik. Dari sana, kami mulai kenalan, menyatukan misi dan keinginan. Juga mulai bermimpi. Lalu kami berdua berencana untuk berinovasi, dengan tidak hanya membuat biola, tapi juga membuat alat musik lainnya yang akrab di masyarakat, seperti gitar, drum, dan lainnya, yang terbuat dari bambu.”

Rencananya bersama Abah, tutur Adang, sempat vakum dari bulan April sampai Agustus, karena belum ada yang tertarik. Banyak orang yang merasa kalau bambu itu sepele. Hanya digunakan untuk suluh, pagar, atau tangga saja. “Padahal bambu di Indonesia sangat berkembang, Bambu adalah spesies terbanyak dan tercepat pertumbuhannya di dunia, khususnya di Jawa Barat. Tapi bambu masih dianggap murahan,” ungkapnya.

Melihat kenyataan itu, ia dan kawan-kawan di IBS memiliki misi membudidayakan bambu, agar lebih bernilai, dihargai, dan bisa dijadikan sarana wiraswasta oleh masyarakat umum.

Awal pergerakan mulai terlihat di bulan Agustus. Adang bersama IBS membuat band musik bambu pertama, untuk tampil pada 23 september di “Braga Fesitival.” Saat itu perkumpulan mereka masih bernama “Nusantara Bambu Harmoni.” Penampilan band mereka mengundang banyak perhatian, dan membuat banyak kalangan untuk bergabung. Tapi, karena muncul masalah, dan enggan ribut, akhirnya memilih untuk membubarkan “Nusantara Bambu Harmoni,” dan memilih mencari nama baru. “Indonesia Bambu Comunity” akhirnya ditetapkan sebagai nama komunitas.

Pertemuannya dengan Anang Suryana, pemilik museum bambu di kawasan Cibeureum, membuka fakta pernah adanya komunitas pecinta bambu yang pernah berdiri sejak tahun 1993, yang bernama Indonesia Bamboo Society. Penggagas sekaligus pengelolanya adalah Pak Anang Sumarna sendiri. Kemudian, pada 11 Oktober 2011, nama ini dilebur dengan Indonesia Bambu Comunity, menjadi Indonesia Bamboo Society (IBS). Momen ini sekaligus menjadi peresmian IBS yang sekarang.

“Awalnya, kita kan masih belum punya tempat. Kadang di jalan, kadang di rumah. Di bulan Oktober, kita kenalan dengan Pak Anang Sumarna, pemilik museum bambu. Rupanya museum ini sudah 5 tahun tidak berfungsi dan kotor. Pak Anang pun mempersilakan kami untuk berkreasi, menetap di museum bambu miliknya,” tutur pria yang sempat kuliah S2 di Jerman ini.

Sampai sejauh ini, IBS sudah menggaet 80 anggota resmi. Pernah manggung di berbagai tempat di Bandung, dan sebagian sempat ditayangkan di media elektronik. Adapun jumlah alat musik bambu yang telah dihasilkan berjumlah sekitar 12 buah, meliputi gitar bambu rytm, melodi, dan bass. Biola, seksofon bambu, klarinet, terompet, kontrabas bambu, selo bambu, kecapi bambu, dan ada 12 produk alat musik bambu. Rencana ke depannya, ia bersama Abah Yudi ingin membuat drum bambu dan piano bambu.

Ribet Mengurus Hak Cipta

Kegiatan utama komunitas ini mengajarkan dan membimbing masyarakat agar bisa berkreasi dan membuka usaha lewat bambu. “Semua alat yang dipakai berasal dari rumah: gergaji, pisau, golok, tidak memberatkan cukup dengan modal kecil. Yang mau berwiraswasta, nggak perlu modal besar, asal ada kemauan. Kita Sering ngadain pelatihan, seperti pelatihan kemarin di Dago, membuat alat musik dari bambu. Gratis,” jelasnya.

Sayangnya mimpi-mimpi komunitas masih belum sempurna, karena dukungan finansial masih terbatas. Bukan hanya itu, hak paten produk alat musik bambu temuan mereka pun belum mereka peroleh. “Kita ribet kalau sudah memikirkan hak cipta, yang biayanya harus menghabiskan berpuluh-puluh juta. Instansi dan pemerintah sudah ngomong, tapi bantuan riil belum ada. Kita ada sekitar 12 alat musik, bisa habis berapa puluh juta itu? Kita inginnya, hak cipta dipegang sama kita, tapi kalau orang lain mau bikin dan produksi, kita membebaskannya.”

Tapi, keterbatasan materi dan kesederhanaan fasilitas, bukanlah hal yang utama. Bagi Adang, selama ada kemauan, dan kesungguhan dalam menjalankan sebuah rencana, pasti selalu ada jalan. Ia akan tetap gigih meniti mimpi bersama IBS, yaitu membuat sebuah grup orkestra bambu. Semoga. [SONIA FITRI/ Jurnalistik UIN Bandung/ BandungOkeCom]

Indonesia BAMBOO Society, Ingin BAMBU Mendunia Lewat ORKESTRA Bambu…”

“…Adang Muhidin, Presiden Indonesian Bamboo Society…”

Sumber:  http://nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com/ 29 Maret 2012

“…NRMnews – Bandung, Kalau ada yang meminta untuk menyebutkan alat musik dari bambu, alat musik seperti angklung, suling calung, atau karinding, mungkin akan jamak terdengar. Tapi biola, gitar, ataupun bass dari bambu…? Ini memang tidak biasa.

Tapi di tangan Yudi Rahmat, ini semua jadi bisa dilakukan. Lewat perkumpulan Indonesia Bamboo Society (IBS)bersama Adang Muhidin, Yudi kian mantap untuk menyuarakan dentingan berbagai alat musik bambu kreasinya.

Alat Musik Bambu

Berawal dari biolanya yang rusak karena terjatuh, Abah Yudi, sapaan akrab Yudi, lalu terpikir untuk membuat kembali biola dari bambu. Keberhasilannya membuat biola bambu di tahun 1979 itu, ternyata membuatnya ketagihan untuk membuat bambu menjadi alat musik lainnya. Selang setahun, jadilah gitar bambu. Saxophone juga berhasil dibuatnya dari bambu pada 1982. ” Untuk terompet ini lebih susah dapatnya.

…Abah Yudi ketika Mencontohkan bagaimana Biola Bambunya dimainkan…”

Biola malah lebih gampang, karena biola senarnya sudah pasti C-A-D-G. Gitar juga begitu, gitar tinggal mengikuti jumlah fretnya aja dari gitar yang ada. Kalau kendang tinggal, bambu dibelah, dirangkai, dilapisi kulit,” terang Abah.

Berbagai teknik pun dilakukan Abah agar nada yang keluar serupa dengan bunyi biola asli. Pertama Abah mencoba membuat biola dari bambu, ternyata tak berbunyi. Dari pencaraiannya, ternyata bambu perlu ditipiskan terlebih dulu. Penipisan dilakukan di bagian dalam bambu agar ruang resonansi lebih besar.

Penipisan ini juga membuat getaran dawai bisa dihantarkan ke badan biola. Abah Yudi malah berhasil membuat dua macam biola, alto dan tenor. Untuk membuat biola bersuara Alto di bagian bawah dawai, dipasangkan kulit. Sementara yang tidak dipasangkan kulit, menjadi suara tenor.

Meskipun terbilang unik, namun rekan Abah Yudi yang sesama pemusik ataupun rekan-rekan teater di tempatnya bergabung, tak tertarik dengan inovasi yang dibuat Abah. ” Itu waktu saya di Jakarta. Tiga tahun belakangan, saya pindah ke Bandung. Ternyata seniman di Bandung lebih bisa menerima karya saya ini,” tutur Abah lagi.

Buat Orkestra

Berkarya di Bandung, ternyata mengantarkan Abah bertemu dengan Adang, sesama pecinta bambu. Dari pertemuan pada April 2011 ini, Abah dan Adang ternyata sependapat untuk membuat orkestra bambu. ” Kalau lihat orkestra kita yang pentas di luar negeri, alat musiknya luar negeri semua.

Saya berpikir gimana kalau orkestra bisa semuanya dari bambu, mulai dari biola, kontrabass, drum, cello. Ternyata Abah juga berpikir hal yang sama, cuma Abah sudah terpikir sejak 2009, saya baru mulai berpikir 2010,” cerita Adang. Untuk mewujudkan cita-cita mereka itu, dibuatlah Nusantara Bamboo Harmony.

Sayangnya, perkumpulan ini lantas bubar empat bulan kemudian. Tak menyerah, Adang dan Abah membuat lagi perkumpulan Indonesia Bamboo Society (IBS). Pertama berdiri IBS masih nomaden. Suatu hari, Abah bilang kalau ada Museum Bambu.

Museum ini ditemukannya saat ia sering bersepeda ke Cililin, Bandung. ” Saya bilang ke Adang disana ada museum, tapi pas saya lihat museumnya tutup,” ujar Abah. Ternyata, Anang Sumarna, sang pemilik museum sesama pecinta bambu juga seperti mereka. IBS kemudian dipercaya untuk mengelola museum. Indonesia Bamboo Community yang dibentuk Anang pada 1993 pun digabung ke dalam IBS.

Jadilah museum yang sudah lama tidak terawat ini menjadi markas mereka. Dalam museum menjadi tempat mereka berlatih, sekaligus jadi laboratorium Abah untuk menemukan alat musik lainnya demi mimpi mereka membuat orkestra bambu.

Saat ini mereka tengah menyelesaikan alat musik lainnya untuk keperluan orkestra bambu. ” Perkusi sedang dibuat, piano sudah tiga not yang ketemu, do-re-mi. Kita (juga) mau bikin drum, pedalnya sudah, untuk kick drum itu sudah dapat tekniknya,” papar Adang bersemangat. ” Kecuali untuk hi-hat ya, simbal itu agak susah bikinnya kalau dari bambu,” kelakar Adang sembari tergelak.

Sayangnya untuk mewujudkan mimpi mereka ini, jalannya masih sedikit terseok, ” kita butuh support. Selama ini suportnya cuma berdua Abah doang,” ujar Adang. Mereka juga bermimpi agar alat-alat musiknya ini bisa memperoleh hak paten. Bukan untuk tujuan komersil, terang Adang, melainkan dengan paten yang dipegang oleh IBS, diharapkan alat-alat musik bambu ini bisa bebas dibuat dan dimainkan oleh siapa saja.

Niat mereka ini pun terganjal mahalnya biaya untuk mematenkan produk. ” Kemarin saya lihat untuk mematenkan satu alat musik saja perlu beberapa juta, sedangkan kita ada sekitar 12 alat musik, bisa habis berapa puluh juta itu,” tuturnya.

Tapi, meski dalam berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, bagi Adang dan Abah mereka akan tetap gigih meniti mimpinya bersama IBS. Sambil berharap, suatu hari nanti kepedulian dari para pecinta seni nusantara bisa mengangkat kreasi anak negeri ini.

( Oleh : Red NRMnews / Eka Shantika )

One Response to “Indonesian Bamboo Society”

  1. yuliyanto Says:

    Mohon info yang jual bambu tonkin atau arundinaria amabilis di Indonesia..mau buat bamboo rods..kalo ada yg tau bisa kontak saya di 08882716986 pin 3176ec3c. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: