Konservasi Bambu

Pohon Bambu Terancam Punah

Sumber: http://sains.kompas.com/ 27 Juni 2009

KOMPAS.COM/M SUPRIHADI Ilustrasi kebun bambunBANDUNG,KOMPAS.com-Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahun ke deapan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai dengan budidaya dan jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6), dan pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan keperduliannya.

“Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi,” kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu.

Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya. “Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang,” kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air.

Selain upaya tersebut, lanjut wanita yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. “Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya,” katanya.

Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena emakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri. Ia menyebutkan, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah.

Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. “Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air,” katanya.
Sumber : Ant

Bambu Endemik Terancam Punah

Kompas, 29 Juni 2009

Sumber:http://timkecil.wordpress.com/  29 Juni 2009 

Bandung- Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahu ke depan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai budidaya. Kenyataan ini, jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Penelitu Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6). Menurutnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan kepeduliannya.

“Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi,” kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu.

Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya.

“Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang,” kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air.

Selain upaya tersebut, juga harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu.

“Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya,” katanya.

Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena semakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri.

Ia menyebutkan, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah.

Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan.

“Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air,” katanya.

Agustus 2009

Hutan Monokultur Bambu Dikembangkan 

Sumber: http://regional.kompas.com/ 10 Agustus 2009 

SEMARANG, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengembangkan hutan monokultur bambu di sepanjang aliran Sungai Serayu, Kabupaten Wonosobo. Selain berguna untuk media konservasi, budidaya tersebut ditujukan untuk menyediakan bambu sebagai komoditas ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi.

Hal itu dikemukakan Ketua Panitia Festival Dunia Bambu 2009 Djawahir Muhammad dalam pembukaan festival tersebut di Museum Ronggowarsito, Kota Semarang, Senin (10/8). Pembukaan festival ini juga menandai peluncuran hutan monokultur tersebut.

Djawahir mengatakan, penanaman bambu di areal seluas 50 hektar tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2010. Bambu akan ditanam beserta tanaman pendukung seperti ubi dan obat-obatan. “Hal ini untuk mengatasi lahan kritis dan meng embangkannya sebagai salah satu produk yang dapat diekspor,” kata Djawahir.

Dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Jateng Edy Santoso, Gubenur Jateng Bibit Waluyo mengatakan, bambu secara kultur dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi dan produknya dapat digunakan untuk bahan bangunan.

Namun, sayangnya penggunaan bambu masih belum memasyarakat karena belum banyaknya dukungan penelitian dan pengembangan bambu bagi aplikasi modern. Alhasil, potensi bambu tidak termanfaatkan dengan optimal.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Jateng Djoko Sutrisno mengakui, budidaya bambu dapat mengatasi lahan kritis yang tidak produktif seperti di daerah lereng dan tepi sungai. “Bambu mudah dibudidiyakan, tetapi harus ditanam terpisah dengan tanaman lain yang lebih rendah,” ucapnya.

Festival Dunia Bambu 2009 ini merupakan festival yang ketiga kalinya diselenggarakan dalam rangka mengenalkan manfaat dan hasil kerajinan bambu kepada masyarakat luas. Festival ini berisi pameran produk kerajinan bambu dari 18 stan se-Jawa Tengah, pameran fotol ingkungan, pameran wayang, dan pameran keris.

Januari 2011

37 Jenis Bambu di Jabar Hampir Punah 

Sumber: http://www.antaranews.com/ 13 Januari 2011 

Bogor (ANTARA News) – Sekitar 37 jenis tanaman bambu yang endemik di Provinsi Jawa Barat hampir punah karena kurangnya kepedulian dan upaya pelestariannya.

“Ada sekitar 37 jenis bambu yang terancam punah dan hanya hidup di tempat-tempat tertentu,” kata Ketua Yayasan Bambu Indonesia, Jatnika di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis.

Jenis bambu yang mulai sulit ditemui dan hampir punah antara lain, Bambu Eul-eul, bambu Tutul, Bambu Betung, Bambu Wulung (hitam), Bambu Tamiang, Bambu Haur Koneng dan Bambu Haur Gereng.

Menurut Jatnika, semua jenis bambu memiliki manfaat dan bernilai ekonomis tinggi seperti Bambu Eul-eul yang bisa menyembuhkan 41 macam penyakit dan dikala hujan ruas batangnya berisi air. Namun saat ini Bambu Eul-eul hanya terdapat di Hutan Soreang, Bandung .

Sementara Bambu Betung hanya terdapat di hutan Majalengka, batangnya yang berdiameter 20-30 cm bisa digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk tiang rumah.

Sedangkan Bambu Tutul, memiliki warna kuning keemasan dan mempunyai tutul sehingga nilai artistiknya sangat tinggi biasanya dimanfaatkan untuk membuat aksesoris.

Betung Wulung, yang juga sudah mengalami kelangkaan, menurut Jatnika , sangat cocok untuk bahan mebel dan aneka furnitur. Haur Gereng hanya dapat ditemui di hutan Ujungkulon, batangnya berduri dan jika tertiup angin akan berbunyi.

Biasanya Bambu Haur Gereng digunakan untuk penahan tebing karena batangnya yang sangat kuat dan sejak dulu digunakan untuk membuat pagar agar terjaga dari binatang buas, sementara air di dalam batangnya bisa menjadi obat.

“Begitu banyak manfaat bambu selain untuk berbagai peralatan tanaman bambu juga bisa menjaga ekologi serta sebagai penampung air, dan menanamnya juga sangat mudah,” ujarnya.

Jatnika mengatakan, jika bambu ditanam bisa mengurangi ilegal logging karena waktu tumbuhnya cepat dan pengolahan bambu sangat sederhana karena jika ditebang bisa langsung dimanfaatkan untuk tiang penyangga.

Di Indonesia terdapat sekitar 159 jenis bambu dari total 1.250 jenis sebaran bambu di dunia. 88 jenis bambu di Indonesia tersebut merupakan jenis endemik dan hanya 56 jenis di antaranya dapat berfungsi secara ekonomis.
(D016/A011/A038)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: