Marc Peeters

Menyusuri Ladang Ilmiah Bambu

KOMPAS 24 Maret 2010 
Oleh : Nawa Tunggal.  

Sumber:http://www.facebook.com/  

Marc Peeters, ahli telekomunikasi dari Belgia, terlibat mengoperasikan Stasiun Pengendali Utama Satelit Palapa di Cibinong, Jawa Barat, tahun 1977 sampai 1984. Ia betah menetap di Indonesia. Pada 1980, Peeters menikahi Santiyatun Sudarma, perempuan dari Klaten, Jawa Tengah. Maka, sejak 2009 dia memelihara rasa kerasannya itu dengan kegiatan penelitian bambu tropis di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta.

Nama saya Peeters, ada yang memanggil Pak Pinter sewaktu saya kerja di Cibinong. Sekarang saya ikut menanamkan modal untuk riset klon bambu di Yogyakarta,” ujar Peeters, saat ditemui di tempat tinggalnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Februari lalu.

Peeters sempat menunjukkan laboratorium bambunya di Desa Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Persisnya di Jalan Kali Boyong menuju lokasi wisata Kaliurang. Perusahaan pengelolanya diberi nama PT Bambu Nusa Verde.

Metode klon atau kloning bambu memiliki keutamaan sangat cepat menghasilkan bibit seragam dan identik dengan induknya. Dari satu propagul, berupa potongan ujung ranting bambu yang masih memiliki titik tumbuh, dapat dikembangbiakan menjadi 1,59 juta bibit dalam waktu 52 minggu atau satu tahun.

Selama ini metode tradisional pengembangbiakan bambu adalah dengan setek, atau mengandalkan secara alami melalui rimpang akarnya. Pengembangbiakan tradisional itu tidak akan pernah mencapai puluhan bibit dalam setahun.

”Eropa boleh menolak kayu hutan tropis karena menganggap penebangannya meningkatkan laju pemanasan global. Tetapi, tidak ada alasan untuk menolak bambu tropis,” kata Peeters.

Bambu tropis dapat diolah untuk menggantikan kayu dengan berbagai bentuk. Mulai dari bentuk asli lonjoran bambu, lalu bisa dijadikan seperti kayu lapis yang rata ataupun bergelombang sekalipun. Bambu bisa pula dijadikan batangan padat ukuran besar, atau menjadi kaso yang memiliki ukuran lebih kecil.

Peeters mengatakan, bambu memasuki usia panen antara 5 dan 7 tahun. Usia ini jauh lebih pendek dibandingkan jenis-jenis kayu produktif lainnya yang mencapai puluhan tahun. Jika tidak dipanen, pertumbuhan bambu tidak lagi optimal, bahkan bisa mati.

Ladang ilmiah

Peeters membuktikan, Indonesia merupakan sebuah ladang ilmiah yang masih banyak menyisakan lahan yang belum digarap. Ia kini sedang menyusuri ladang ilmiah bambunya.

Penelitian pengembangbiakan bambu tropis secara cepat dan identik dengan induk melalui metode yang juga dikenal sebagai tissue culture, atau kultur jaringan itu, masih sangat sulit dijumpai di Indonesia.

Peeters lulus dari High School for Industrial Engineering Antwerpen, Belgia, tahun 1972. Ia lulus sebagai industrial engineer in electronics atau perekayasa industri di bidang elektronika dengan spesifikasi telekomunikasi.

Keahliannya sudah teruji selama tujuh tahun di Indonesia, dengan berperan dalam operasional pengendalian Satelit Palapa di Cibinong. Ia pernah menjabat sebagai koordinator operasional dan jaringan telekomunikasi Indosat dan Telkom pada periode tersebut.

Selanjutnya, tahun 1984 sampai 1992 Peeters menjadi Kepala Operasional dan Penjualan pada Country Representative Bell Telephone Manufacturing Company (BTMC), sebuah perusahaan dari Belgia. Kemudian ia beralih ke perusahaan Alcatel Indonesia sebagai Direktur Operasional antara 1993 dan 2006.

Peeters lalu menjadi free assistance untuk Kedutaan Besar Belgia dan beberapa perusahaan Belgia lainnya yang ada di Indonesia dari periode 2007 sampai 2009.

Memasuki tahun 2009 hingga sekarang, dengan dukungan perusahaan induk pengembangbiakan bambu Oprins Plant NV di Belgia, Peeters menjalankan pengembangbiakan bambu di Indonesia.

”Beberapa kali sudah (saya) mengekspor bibit bambu dari Indonesia ke Afrika,” ujar Peeters.

Masalah ekspor bibit bambu sampai sekarang belum diatur. Jenis usaha ini belum dinyatakan masuk kategori usaha pertanian, perkebunan, atau kehutanan.

Setiap kali mengekspor bibit bambu, Peeters disarankan mengurus administrasinya di Kementerian Kehutanan. Ekspor bibit bambu itu harganya berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 17.000 per batang, bergantung pada jenisnya.

Harapan

”Semoga yang saya lakukan ini tidak menjadi sia-sia,” ungkap Peeters.

Ia tidak semata-mata ingin menatap masa depan usahanya sendiri. Peeters lalu menunjukkan sepotong kaus kaki serta pakaian dalam pria. Keduanya masih terbungkus utuh di dalam kemasannya. Tertera tulisan pada kemasan, produk itu terbuat 95 persen dari bambu.

”Produk ini lebih halus dan lebih dingin, dengan harga relatif tidak mahal,” kata Peeters.

Serat bambu juga baik untuk kertas. ”Kertas tisu dari bambu juga tidak mudah sobek,” katanya.

Peeters menatap masa depan bambu dengan harapan memberikan manfaat banyak bagi kehidupan manusia dan lingkungannya.

Pertumbuhan akar bambu yang menjalar horizontal mampu mencengkeram kuat pada bagian permukaan tanah hingga tidak memudahkan longsor. Di dalam ekosistem sumber air, bambu juga terbukti menjadi filter yang menjernihkan aliran air.

Peeters juga menyinggung kontribusi bambu dalam penyerapan karbon dioksida. Di dalam proses respirasi atau pernapasan tumbuhan yang menghasilkan karbon dioksida, bambu tergolong unik.

Di tengah pusaran keinginan dan harapan besar terhadap aplikasi bambu, sekarang ini masih terkesan pemanfaatan bambu belum optimal. Belum bisa diperkirakan kapan saatnya pemanfaatan bambu dan pembudidayaannya dapat lebih meluas lagi.

MARC PEETERS

  • Lahir: Merksem, Antwerpen, Belgia, 27 Maret 1951
  • Kebangsaan: Belgia
  • Istri: Santiyatun Sudarma (50)
  • Anak:
    – 1. Sulvana (30)
    – 2. Ayu Candra (24)
  • Pendidikan: High School for Industrial Engineering Antwerpen, Belgia
  • Pekerjaan:
    – 1977-1984: Software and Resident Engineer pada Bell Telephone Manufacturing Company (BTMC) Belgia; koordinator operasional dan jaringan telekomunikasi Indosat dan Telkom; instalatir jaringan Satelit Palapa
    – 1984-1992: Kepala Operasional dan Penjualan untuk Country Representative BTMC
    – 1993-2006: Director Operation of Fixed and Private Communication Group Alcatel Indonesia
    – 2007-2009: Free Assistance untuk Kedutaan Besar Belgia dan beberapa perusahaan Belgia di Indonesia
    – 2009-sekarang: mitra usaha Oprin Plant NV Belgia, menjalankan usaha pembibitan bambu PT Bambu Nusa Verde di Yogyakarta
  • Pengalaman lain: Sebagai kolektor benda seni, Peeters pernah menggelar Pameran Tunggal ”The Passion of a Collector” (2005) di Erasmus Huis, Jakarta, dan menjadi peserta Pameran Keris Nusantara di Bentara Budaya Jakarta.

Penyayang Bambu Dari Belgia

Sumber: http://teenvoice.co.id/ 10 April  2012

Sobat Teen tahu kan pohon bambu? Belakangan ini pohon ini makin sulit ditemui. Habis, kita kebanyakan senang nebang aja, tapi malas menanam lagi atau mengembangkan penanamannya. Padahal bambu ini masih jadi andalan industri kita dan banyak banget kegunaannya. Trus yang bikin tambah sedih nih yang tertarik sama bambu malah justru orang-orang asing, bukan dari negara kita. Kayak Pak Marc Peteers asal Belgia. Miris gak sih? Makanya Pak Marc mengkritik kita. Yah wajar yah, Pak Marc aja mau banting setir dari pekerja telekomunikasi jadi pembudidaya bambu. Simak deh Wawancara Kus Aliya Reza sama Pak Marc Peteers, seorang pembudidaya bambu.

Emang yang bapak tahu kegunaan bambu itu untuk apa aja sih, pak?

Oh, 1001 macam barang bisa terbuat dari bambu. Misalnya untuk rumah, untuk kerajinan. Tapi ada juga aplikasi yang lebih bagus, jauh lebih berharga. Kalau ada orang yang investasi dalam bambu ini bisa dijadikan penghasilan yang cukup baik.

Keunggulan bambu apa sih?

Tumbuh cepat. Dan tidak usah tanam ulang. Jadi abis panen kamu bisa panen lagi setiap taunnya. Daripada pohon kan, abis panen trus abis itu buahnya abis. Tapi kalo bambu gak gitu.

Tanaman bambu kan banyak di Indonesia, tapi masih belum banyak yang tau kegunaan atau fungsinya. Itu penyebabnya apa sih?

Ya kalau saya lihat itu kalo di negara yang lain, itu bambu berkembang kan? Itu penggunaannya sangat luar biasa. Di Cina aja, sekitar 35 juta orang bisa hidup dari bambu. Tapi di sini, karena tidak ada sosialisasi dan tidak ada yang mendorong dari pemerintah untuk liat itu bikin industri kayak di Cina, ada satu instansi (pemerintah-red) yang khusus merhatiin masalah bambu ini.

Kalo di Belgia sendiri itu, pertumbuhan bambu kayak gimana sih?

Di Eropa tidak ada bambu yang tumbuh alami. Tapi orang-orang di sana malah banyak yang pada nanam pohon bambu. Mereka pake bambu biasanya untuk rumah. Tapi mereka nanamnya juga bambu hias. Tapi kalo di sini, berbagai jenis bambu kan ada.

Kenapa sih pak kok tertarik budidaya bambu?

Saya kerja di sini di bidang telekomunikasi. Saya juga ikut bangun telekomunikasi di Indonesia. Tapi ada di suatu waktu saya merasa bosan. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan sesuatu yang baik. Trus udah gitu saya ketemu sama pohon bambu yang gak banyak orang tau kegunaannya. Makanya saya tertarik budidaya bambu.

Bambu bisa tumbuh di mana aja sih?

Segala jenis lahan bisa ditamani bambu. Mulai dari 0 sampai 2000 meter (diatas permukaan laut-ed) bisa.

Bambu sebagai Penyerap Limbah Industri

Sumber: http://kotakitaku-tamanbambunusantara.blogspot.com/2012/03/  

Bambu Nusa Verde (BNV), sebuah lembaga penelitian bambu, akan menanam jenis bambu tropis di lokasi penambangan emas PT Freeport Papua. Penanaman ini bertujuan untuk menyuburkan kembali tanah yang terkena bahan kimia agar bisa ditanami kembali.

Peneliti BNV asal Belgia, Marc Peeters mengatakan,
pohon bambu bisa mengangkat logam berat sisa hasil industri dari dalam tanah.

“Penelitian di negara kami terbukti bambu bisa menyempurnakan tanah. Cara ini sudah dilakukan di beberapa negara Afrika seperti Kongo, yang digunakan untuk menyuburkan kembali kebun. Ini salah satu cara yang bisa digunakan di Indonesia,” papar Marc Peeters.

Dia menambahkan, bambu juga bisa menetralkan limbah industri yang ada di dalam tanah, hal ini sudah dibuktikan di Prancis. Kuat tarik kulit bambu ori(Bambusa arundinacea) cukup tinggi yaitu hampir mencapai 500 Mpa, atau sekitar dua kali tegangan luluh baja, sedang kuat tarik rata-rata bambu petung(Dencrocalamus asper) juga lebih tinggi dari tegangan luluh baja.

Menurutnya, Indonesia sebagai penghasil pohon bambu bisa melakukan hal yang sama dengan negara lain, yaitu mengoptimalkan tanaman ini sebagai salah satu cara mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya di kawasan industri.Sumber : Ni’ Ken- komunitas Cinta bambu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: