Alireza Alatas

Alunan Nirwana Dari Bambu

Sumber: http://www.prioritasnews.com/2012/05/  

Dengan alat musik yang semuanya berbahan dasar bambu, grup band IBS memukau penonton Java Jazz. Bertahan karena ingin menjadikan bambu sebagai komoditasbangsa.

Penampilan bambu harmoni

Dihubungkan oleh bambu-bambu yang saling bersilangan, rumah bertingkat tiga itu tampak begitu teduh. Suasana benar-benar berasa seperti di alam pedesaan ketika ruangan yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh jembatan yang juga terbuat dari bambu. Tapi, kendati banyak material bangunan yang menggunakan bambu, bangunan ini bukanlah sebuah saung, apalagi pondok bambu. Bangunan yang terletak di jalan Raya Cibereum, Bandung, Jawa Barat itu merupakan sebuah museum yang bernama Museum Bambu.

Seperti namanya, tempat ini menyimpan banyak alat dan pengetahuan yang terkait dengan bambu. Juga menjadi tempat berkumpulnya para pecinta bambu yang tergabung dalam Masyarakat Bambu Indonesia (Indonesia Bamboo Society). Komunitas ini terbentuk pada 1993 dengan tujuan untuk mempopulerkan alat musik bambu.

“Bambu merupakan material yang bisa diperoleh dengan mudah. Harganya ekonomis dan dapat kami reka menjadi apapun,” kata Adang Muhidin, pendiri Indonesia Bamboo Society (IBS), saat ditemui Selasa pekan lalu. IBS telah menghasilkan banyak alat musik berbahan dasar bambu. Di antaranya gitar, biola, cello, bass dan lain-lain.“Suara yang dihasilkan alat musik bambu sangat khas. Ada kenikmatan tersendiri ketika mendengarnya,” lanjut Adang yang menyandang gelar sarjana teknik metalurgi.

Untuk membuat alat musik tersebut, IBS biasanya menggunakan bambu jenis khusus yakni gombong, umbul-umbul dan tutul. Bambu ini dipilih karena ukurannya yang lebih besar dan memiliki akustika yang cukup baik. Untuk membuat alat musik tersebut, termasuk memberikan pelatihan gratis bagaimana membuat dan menggunakan alat musik bambu kepada siswa, anak jalanan, mahasiswa, bahkan kalangan profesi, IBS menggunakan dana sendiri yang berasal dari sumbangan anggota.

“Satu-satunya yang pernah membantu kami adalah Lembaga Peneletian PengembanganMasyarakat Institut Teknologi Bandung. Mereka menyumbang ratusan bambu untuk kami,” ungkap Adang. Selain mengandalkan sumbangan, agar tetap hidup IBS, yang membentuk grup band, rutin menggelar konser dalam skala terbatas.

Perjuangan yang tak kenal lelah untuk menjadikan bambu sebagai komoditas bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan, membuat IBS diundang tampil dalam Java Jazz 3 Maret lalu. Di acara musik bergengsi itu, grup band IBS dengan semua alat musiknya yang serba bambu, berhasil membuat penonton terpukau.

Ternyata gitar, biola, saxophone dan bass bambu tersebut mampu menghasilkan harmonisasi jazz yang enak didengar. “Mulai dari pentas itu, kami dapat bernafas panjang untuk mempertahankan komunitas yang sempat kembang kempis karena dana,” kata Mauran Targi, seorang anggota IBS.

Pengamat musik Denny Sakrie mengungkapkan apa yang dilakukan IBS bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum kelompok ini terbentuk, sudah ada grup Arumba (Alunan Rumpun Bambu), yang berupaya mempopulerkan musik bambu padaera 60-an. “Pada dekade 70-an, TVRI mempopulerkan grup band keluarga, Fetty Fatimah bersama anak-anaknya, yang tergabung dalam The Bamboos. Disebut The Bamboos karena alat musiknya terbuat dari bambu,” papar Denny.

Suara yang dihasilkan alat musik bambu memang tak jauh berbeda dengan suara yang dihasilkan alat-alat musik konvensional. Misalnya Biola akan menghasilkan suara seperti biola. “Secara kualitas mungkin sedikit berbeda,” ujar Denny. Namun dia menyambut baik hasil kreasi IBS. Dia menilai alat musik bambu merupakan alternatif yang tepat bagi masyarakat yang tidak mampu membeli alat-alat musik yang harganya mahal.

Sama seperti Denny, pakar bambu ITB Dwinita Larasti mengatakan upaya IBS untuk tetap melestarikan bambu harus didukung. Menurutnya, ada sekitar 1220 jenis bambu di Indonesia dan bisa dimanfaatkan sebagai komoditas bangsa. “Tapi tidak menjadi sebuah industrialisasi dalam era pasar bebas,” tandas Dwinita di sela-sela aktivitas mengajarnya.
Alireza Alatas | Riyadhus Shalihin(Bandung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: