Mahaji Noesa

Nasib Pilu Guru Musik Bambu di Wilayah Terisolir

Oleh: Mahaji Noesa

Sumber:  http://edukasi.kompasiana.com/22 February 2012 

Alunan musik bambu yang dibawakan sebanyak 43 murid Sekolah Dasar (SD), 18 di antaranya perempuan, memukau ribuan peserta upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang ke-52 yang digelar Minggu sore, 19 Pebruari 2012 di Lapangan Lasinrang, Kota Pinrang, ibukota Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Murid-murid SD 271 Palimbongan ketika memainkan musik bambu di Kota Pinrang /Ft: Mahaji Noesa

Beberapa saat sebelumnya, murid dari SD 271 Palimbongan, Desa Mesa Kada Kecamatan Lembang tersebut ikut menyambut kedatangan Gubernur Sulsel, H.Syahrul Yasin Limpo, dan Wakil Gubernur Sulsel, H.Agus Arifin Nu’mang beserta rombongan di halaman rumah jabatan Bupati Pinrang, sekitar 300 meter dari lapangan Lasinrang.

Peringatan Hari Jadi Ke-52 Kabupaten Pinrang dilaksanakan sore hari, lantaran menunggu Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel yang pada pagi hingga siang harinya mengikuti rangkaian acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Enrekang Ke-52 di Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang berjarak sekitar 90 km dari Kota Pinrang.

Tampak Johannis Bilang (kiri) memimpin langsung anak didiknya membawakan musik bambu di peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang ke-52/Ft: Mahaji Noesa

”Anak-anak pemain musik bambu dari wilayah pegunungan yang jauh ini secara khusus kami datangkan untuk memeriahkan peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang tahun ini,” kata Bupati Pinrang, H.A.Aslam Patonangi kepada kerumunan banyak orang yang terlihat terpikat menyaksikan permainan musik bambu di halaman rumah jabatan bupati.

Pinrang merupakan salah satu dari empat kabupaten di Provinsi Sulsel, selain Kabupaten Enrekang, Kabupaten Tana Toraja (Tator) dan Kabupaten Toraja Utara (Torut) yang masih memiliki kelompok masyarakat memelihara kesenian rakyat musik bambu.

Di Kabupaten Pinrang sendiri, menurut Kapala Sekolah SD 271 Palimbongan, Johannis Bilang (49 th), saat ini sisa dua tempat yang memelihara kesenian musik bambu tersebut. Masing-masing di SD yang dipimpinnya di Desa Mesa Kada, dan di SMP Desa Suppirang Kecamatan Lembang.

Alumnus Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun 1983 di Kota Parepare ini menjelaskan, kesenian rakyat musik bambu sebenarnya sudah pernah terlupakan di Desa Mesa Kada. Namun ketika mulai bertugas sebagai tenaga pendidik di desa tersebut, 29 tahun lalu, dia kemudian menghidupkan kembali. Dia langsung yang memelopori mengajarkan murid-muridnya, tak hanya cara memainkan tapi juga membuat alat-alat musik bambu tersebut.

”Saya mengajarkan sebagaimana pengalaman yang saya dapat dari para orang tua di desa ini dahulu,” katanya. Johannis, memang, adalah putra kelahiran Desa Mesa Kada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Sejak itu, mulai murid kelas 3 hingga kelas 6 diajarkan untuk dapat membuat sendiri alat dan memainkan musik bambu.

”Kita belajar dan mengembangkan musik bambu ini secara otodidak, karena tidak ada teori baku dari permainan musik bambu tersebut. Tahun 2009 lalu justru saya pernah dipanggil pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pinrang untuk mengajarkan cara memainkan musik bambu di Kota Pinrang, ” jelas Johannis yang menyelesaikan Strata Satu-nya tahun 2003 di suatu perguruan tinggi di Polewali (Kini, Provinsi Sulawesi Barat).

Desa Mesa Kada, Desa Suppirang dan Desa Salisali merupakan desa yang terletak di wilayah pegunungan Kecamatan Lembang yang sampai saat ini masih tergolong sebagai desa terisolir di Kabupaten Pinrang. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa, Sulawesi Barat.

Murid-murid SD 271 Palimbongan ketika memainkan musik bambu di halaman rumah jabatan Bupati Pinrang/Ft: Mahaji Noesa

Belum ada jalanan yang dapat dilalui kendaraan bermotor roda empat ke Desa Mesa Kada. Belum ada aliran listrik. Padahal, menurut Johannis, penduduk Desa Mesa Kada saat ini sudah mencapai 2.000 Kepala Keluarga. Di desa ini terdapat 5 SD. Sedangkan di Desa Suppirang terdapat 4 SD dan sebuah SMP. Di Desa Salisali terdapat 3 SD.

Dari 9 tenaga pengajar di SD 271 Palimbongan yang dipimpin Johannis, hanya terdapat 3 tenaga pengajar yang sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selebihnya, 6 tenaga pengajar masih berstatus guru honor. Tenaga guru honorer tersebut sudah mengabdi antara 4 sampai 10 tahun.

”Tidak ada gaji tetap. Dalam setahun paling kita diberi semacam honor dua kali dari kepala sekolah. Kalau dijumlah honor keseluruhannya dalam setahun, tidak lebih dari Rp 1 juta. Tapi kita tetap pasrah saja, sudah telanjur mengabdi. Semoga pemerintah bisa segera mengangkat kami sebagai PNS,” kata David Dandi, ayah dari 2 orang anak yang sudah mengabdi sebagai tenaga guru honorer sejak tahun 2008 di SD 271 Palimbongan.

Unek-unek David tersebut diangguk-angguki oleh Ibu Feronika, tenaga pengajar di Kelas 3 dan Marianus, pengajar di Kelas 5 yang ikut mendampingi murid-muridnya memainkan musik bambu pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang Ke-52 di Kota Pinrang.

”Semoga guru-guru honorer kami itu bisa segera mendapat prioritas diangkap menjadi PNS,” kata Johannis Bilang, Kasek SD 271 Palimbongan, Desa Mesa Kada, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Menurut Kasek yang memimpin langsung permainan musik bambu murid-muridnya di peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang tersebut, mereka sudah meninggalkan Desa Mesa Kada sejak dua hari sebelum hari H. Maklum, mereka harus berjalan kaki turun gunung sepanjang lebih dari 10 km, sebelum akhirnya dapat sampai ke Makula untuk kemudian diangkut mobil ke Kota Pinrang yang berjarak sekitar 80 km.

Semua tamatan SD 271 Palimbongan, diakui oleh Johannis, selain dapat membuat alat dan memainkan musik bambu, juga dapat menurunkan atau mengajarkan keseniaan tradisional tersebut kepada pihak lain. Dia mengakui, kemungkinan dapat dilakukan modifikasi dari peralatan musik bambu yang masih tradisional yang menggunakan jenis bambu tipis (bambu Tallang) untuk menghasilkan paduan irama yang menarik.

Gendang juga merupakan bagian dari instrumen musik bambu/Ft;Mahaji Noesa

Dahulu orang menyebut kesenian tradisional Musik Bambu ini sebagai Musik Suling Bambu. Penyebutan tersebut tidak pas, lantaran menurut Johannis tidak semua suling yang digunakan, tapi ada juga digunakan instrumen berjenis baseng-baseng (bukan suling) yang juga terbuat dari bambu, dan gendang (tambur).

”Mendengar alunan irama musik bambu ini, pengembangannya amat menarik apabila dikolaborasi dengan musik-musik modern,” komentar Abdi Basit alias Cucut usai menyaksikan permainan musik bambu yang dibawakan oleh murid-murid SD 271 Palimbongan yang tampil dengan seragam putih-coklatnya. Cucut, seniman pemusik Sulawesi Selatan yang sudah menjelajah 5 benua hadir mengilustrasi pembacaan puisi ‘Pinrang, Negeri Disayang Tuhan’ oleh H.Udhin Palisuri pada upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Pinrang Ke-52, 19 Pebruari 2012.

Menurut Johannis, selain untuk pertunjukan-pertunjukan resmi, murid-muridnya sering diundang untuk memainkan musik bambu guna memeriahkan pesta-pesta di tingkat desa. Termasuk sering diminta tampil dalam pesta pandan ‘Baba’ yang berkaitan dengan upacara peringatan 1 tahun kematian seseorang. Dalam pesta pandan ini biasanya warga setempat memotong sampai 10 ekor kerbau. Maklum, Desa Mesa Kada berbatasan langsung dengan wilayah yang beretnis Mamasa (Provinsi Sulbar) yang istiadatnya mirip dengan etnis Toraja (Provinsi Sulsel).

”Musik bambu dapat mengiringi segala jenis lagu. Paling baik jika pemain berjumlah di atas 50 orang, irama khas musiknya akan lebih terasa,” jelas Johannis yang sampai saat ini mengaku belum pernah mendapat secarik penghargaan dari pemerintah, termasuk penghargaan pengabdian sebagai PNS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: