Musik Bambu Minahasa

Musik Bambu Minahasa

Sumber:http://maengket.blogspot.com/2012/03/   

Musik BAMBU Minahasa di mulai dari musik suling penthatonis lima lobang yang menjadi salahsatu alat musikdari ‘Musik Maoling ‘terdiri dari Kolintang gong ,tambur dan gong besar .Suling bambu kemukinan datang dari Ternate bersama Kolintang gong (momongan) melalui perdagangan beras Minahasa sejak Jaman Portugis di Minahasa sampai jaman V.O.C. Belanda 1560 –1870 . Suling bamboo lima nada terlihat pada gambar skestsa buku Ethnographische Miszelen Celebes . A.B. Meyer ,O.Richter ,Dresden ,1902 .

Tahun 1844 Zending Belanda berusaha menghapus alat musik gong di Minahasa dan menggantikannya dengan musik suling . Ketika Gubernemen Belanda minta guru –guru Zending mengajar di sekolah Gubernemen , maka para guru Zending mengajarkan lagu gerejani dengan solmisasi musik suling oktaf .

Musik suling anak – anak sekolah dengan tiga suara di lihat oleh N. Graafland di Kawangkoan korps musik HINDIA BELANDA mengiringi pemberangkatan serdadu Minahasa ke perang Jawa,tahun 1829 yang memakai alat musik tiup dan tambur di pelabuan manado (Wenang ) . korps musik kerajaan Belanda ini juga yang mengiringi tarian katreli oleh para milisi orang Manado- Minahasa di Manado tahun 1885 (J. Hickson – 1889 :345) .Tahun 1930-an korps musik ‘ Marching Band ‘ kerajaan Belanda di Manado bernama ‘IRENE BRIGADE BLAAS INSTRUMENT ‘ . Musik bamboo berbentuk orkes kemungkinan munjul pertama kali sekitar tahun 1880an terdiri dari sederetan peniup suling , tambur besar kecil ,Korno (Hoorn) , Piston dari bamboo ,Bombardon (bas) dari bamboo ,pontuang dan gong , hingga di sebut ‘Musik bamboo ‘ Foto musik bamboo ,.Tondano tahun 1917 terlihat selain sederetan peniup suling ,ada TAMBUR dan GENDERANG buatan Eroupah serta KLARINET dan TROMPET buatan Eropah juga ada gong dan pontuang . Musik ‘ Suling Bambu’ sudah berubah menjadi musik ;orkes ‘ yang alat musik nya bukan hanya suling ,dan sudah menggunakan alat musikbuatan eropah .

Untuk membuat tiruan alat musik eropah ,Tuba (piston) dan bas dari bahan logam seng aluminiumdi perlukan keahlian ‘Tukang Blek ‘ yang umumnya orang Cina. Seorang “Tukang Blek “ dari Amurang Minahasa Selatan bernama KEK – BENG tahun 1932 berhasil membuat tiruan alat musik Eropah TUBA dan BOMBARDON (bas) dari bahan Seng aluminium yang di gunting – gunting kemudian di alas pakai timah . Dengan demikian ORKES SULING BAMBU dengan TUBA (Piston) dan BAS dari bahan Bambu ditahun 1932 berubah menjadi MUSIK BAMBU SENG .

Sampai tahun 1957 sebelum pergolakan permesta , seluruh musik bamboo di Minahasa sudah berbentuk musik bamboo Seng seperti orkes musik bamboo ‘ Garuda ‘(Buyungon) , ‘ Banteng “ (Rumoong bawah) ,’ Nasional (Kawangkoan bawah ) , ‘ Uluna (Tondano) ,Orion (Kakaskasen –Tomohon) dan yang lainnya . Kemudian Arie Kristen juga di Amurang mencoba membuat musik tiup memakai alat getar meniru alat musik Klarinet buatan Eropah yang mulai umum di gunakan oleh kelompok musik bamboo mulai tahun 1960 –an . Dengan demikian lahir lagi periode baru dalam orkes Musik bamboo Minahasa menjadi ‘ MUSIK BAMBU ‘ ,SENG ,KLARINET ‘dimana hanya suling dan korno yang terbuat dari bamboo .Karena alat musik dari seng aluminium cepat berlombang terkena air liur manusia yang mengandung garam , lalu di cari lembaran kuningan mulai tahun 1970 – an , karena mudah di bentuk alat tiup bas dan Tuba mengalami perubahan menjadi ‘Tuba Celo ‘ dan “ Tuba benyo ‘ , ditambah lagi dengan alat musik tiup yang di beri nama Saxophone ,Oterton dan Trombon , mengikuti nama –nama alat musik tiup orkestra eropah .

Karena bahan kuningan cepat menjadi buram terkena keringat manusia , maka di cari bahan logam lain supaya alat musik tiup nampak selalu bercahaya tanpa selaulu harus di gosokdan di bersihkan . Pilihan lembaran logam itu adalah besi putih ‘ steinles steel’ warna perak berkilau , lebih kuat dari kuningan tapi agaksulit di bentuk. Cara memainkan alat musik bamboo sama dengan memainkan alat musik ‘ Marching Band ‘korps musik angkatan bersenjata dan kepolisian .Oleh karna itu pada parade angkatan bersenjata Republik Indonesia yang umumnya terdiri dari para Laskar rakyat tahun 1945 di lapangan IKADA Jakarta ,ketika angkatan bersenjata R.I.belum punya korps musik ,di gunakan Orkes Musik bamboo pemadam kebakaran cideng Jakarta yang terdiri dari para putra Kawanua Secara tradisi diMinahasa ,semua kelompok orkes Musik bamboo memiliki ‘ Vandel’yang bertuliskan indentitas nama kelompok musik bamboo dan asal desa atau kampung wilayah kecapatan .

Musik bambu juga sudah menjadi musik bergengsi yang dapat menaikan statussosialpihak yang mengundang ,seperti penjemputan Tamu agung , acara perkawinan , dan acara –acara yang di selenggarakan oleh pihak pemerintah daerah .Satu kelompok musik bamboo beranggotakan sekitar 30 (tiga pulu) orang, memainkan alatmusik tiup (Aero[hone) dan alat musik getar (mambranophone) seperti Tambur, Drum ,Simbal, agar dapat menghasilkan suara gegap –gempita memeriahkan suasana atau mengiring dansa acara pesta.

Sejarah Musik Bambu di Minahasa

Sumber: http://acsujabodetabek.wordpress.com/2012/03/  

Musik bambu dapat disebut sebagai musik khas nusantara. Pasalnya, alat musik dari bambu ditemukan di hampir semua daerah, meskipun dengan bentuk dan jenis alat yang berbeda satu sama lain. Mulai dari suling bambu, angklung, terompet, kentungan, dan sebagainya. Tetapi yang akan dibahas di sini adalah tentang sejarah musik bambu khas Minahasa.

Alat musik bambu di Minahasa sudah dikenal sejak dahulu kala. Ketika itu alat musiknya masih berbentuk tiga ruas bambu dengan panjang yang berbeda sekitar 8 cm yang di ikat menjadi satu. Alat musik ini dibuat dari bulu tui, sejenis bambu berdiameter kecil, hanya 2—3 cm. Ia menghasilkan 3 jenis nada yang gunanya untuk memanggil burung Manguni di malam hari yang di sebut sori.

Suling bambu, alat musik utama dalam grup Musik Bambu (Foto: internet)

Selanjutnya di Jaman Portugis datang ke Minahasa pada sekitar tahun 1560 dikenal suling bambu penthatonis 5 lubang dan dilengkapi satu lubang untuk meniup. Suling bambu kemungkinan datang dari Ternate bersama Kolintang gong (momongan) melalui perdagangan beras Minahasa sejak Jaman Portugis di Minahasa sampai jaman V.O.C. Belanda 1560 –1870.

Suling ini menghasilkan 5 macam nada dan menjadi salah satu alat musik pendukung Musik Maoling yang terdiri dari kolintang gong ,tambur dan gong besar. Pada sekitar tahun 1789, suling bambu juga mulai banyak dimainkan di gereja oleh orang-orang Kristen protestan waktu itu, yaitu masyarakat Borgo yang tinggal di Manado, Tanawangko, Belang, Kema, Likupang, dan Amurang. Masyarakat keturunan Borgo memang bermukim di beberapa wilayah Minahasa. Mereka bukanlah salah satu sub-etnis Minahasa, melainkan diduga sebagai salah satu kelompok keturunan asing yang sudah lama tinggal dan bermukim di Minahasa.

Selain suling bambu 5 nada, saat itu juga dikenal suling bambu tiga nada yang kebanyakan dimainkan anak-anak sekolah pada waktu itu. Bahkan, musik suling anak-anak sekolah tersebut pernah digunakan Korps Musik Hindia Belanda Kawangkoan untuk mengiringi pemberangkatan serdadu Minahasa ke perang Jawa tahun 1829 di pelabuhan Wenang (saat ini Manado). Korps musik kerajaan Belanda ini juga yang mengiringi tarian katreli oleh para milisi orang Manado-Minahasa di Manado tahun 1885

Musik Bambu Melulu

Selanjutnya pada tahun 1840-an, terbentuk Orkes Musik Suling, yang dipengaruhi oleh korps musik militer Belanda. Apalagi Zending Belanda berusaha menghapus alat musik gong di Minahasa dan menggantikannya dengan musik suling pada tahun 1844 . Dan pada tahun 1870 meniup suling bambu menjadi salah satu mata pelajaran sol-mi-sa-si untuk belajar lagu-lagu Gereja.

Musik Bambu Malulu. (Foto: metuarimaesa.blogspot.com)

Sampai tahun 1880, orkes musik bambu hanya berupa musik suling saja. Nanti setelah tahun 1880-an barulah masyarakat mengenal alat musik bambu yang berfungsi sebagai Bass dan Tuba (Piston). Sejak itulah dikenal nama orkes Musik Bambu Melulu yang terdiri dari sederetan peniup suling , tambur besar kecil ,korno (Hoorn), piston dari bambu, bombardon (bas) dari bambu, pontuang, dan gong.

Musik ‘ Suling Bambu’ perlahan-lahan tersingkir oleh orkes Musik Bambu yang alat musiknya bukan hanya suling saja, melainkan campuran beberapa jenis alat musik dari bambu. Bahkan didukung pula oleh alat-alat musik buatan Eropa seperti tambur, genderang, clarinet, dan terompet.

musik bambu klarinet. (Foto: http://www.metuarimaesa.blogspot.com)

Kini dari vernikel

Pada tahun 1932, Kek Beng – seorang pengrajin kaleng (Tukang Blek) dari Amurang, berhasil membuat tiruan alat musik Eropa, yakni tuba dan bombardon (bas) dari bahan seng aluminium. Sejak itulah Orkes Suling Bambu dengan tuba (Piston) dan bass dari bahan Bambu berubah menjadi Musik Bambu Seng, dimana hanya suling dan korno saja yang terbuat dari bambu. Dengan alat-alat musik pendukung yang makin lengkap itulah, akhirnya Musik Bambu berkembang menjadi salah satu alat musik tradisional bergengsi. Alat musik ini bahkan menjadi pengiring lagu untuk menghormati tamu agung, pesta perkawinan, upacara adat dan upacara lainnya.

Sampai tahun 1957 sebelum pergolakan permesta, seluruh musik bambu di Minahasa sudah berbentuk musik bambu seng seperti orkes musik bambu “Garuda” (Buyungon), “Banteng“ (Rumoong bawah), “Nasional” (Kawangkoan bawah ), “Uluna” (Tondano), “Orion” (Kakaskasen –Tomohon) dan sebagainya.

Karena alat musik dari seng aluminium cepat berlombang terkena air liur manusia yang mengandung garam, maka di tahun 1970-an bahan baku dari peralatan musik bambu seperti Klarinet, Saxophon, Tuba,Oferton, dan bass di ganti dari kuningan. Alat tiup bas dan Tuba mengalami perubahan menjadi ‘Tuba Celo’ dan “Tuba benyo. Sejak itulah dikenal sebutan Musik Bambu Seng Klarinet (MBSK).

Musik Bambu Klarinet. (Foto: Facebook)

Namun karena bahan kuningan juga cepat menjadi buram terkena keringat manusia, maka sejak tahun 1990-an mulai dicari bahan logam lain supaya alat musik tiup nampak selalu bercahaya tanpa selalu harus digosok dan di bersihkan. Akhirnya dipilih besi putih (vernikel, stainless steel), yaitu logam berwarna perak berkilau.

Musik universal

Musik bambu dimainkan secara massal oleh 30—60 orang dalam satu grup (tumpukan). Dan setiap satu tumpukan dipimpin oleh seorang konduktor ( tukang palu). Secara umum personil grup musik bambu akan terdiri dari :

  • Konduktor (tukang palu)
  • Deretan depan terdiri dari : peniup suling kecil, suling sedang, klarinet dan saxophon
  • Deretan tengah diisi oleh pemain korno terdiri dari krno C (do), korno D (re), korno E (mi), korno G (sol), korno A (la), korno B (si), dan korno C” ( do tinggi ).
  • Deretan belakang terdiri dari pemegang Tuba, Oferton, kapuraca, Bass, Tambur, snar, dan simbal.

Musik bambu umumnya hanya dapat memainkan lagu dalam 1 (satu) tangga nada, misalnya kunci “C” (C=1=do) atau kunci “D” (D=1=do). Tapi karena musik bambu Minahasa bertangga nada diatonis maka musik inipun menjadi musik universal yang bisa memainkan segala jenis lagu. Mulai dari lagu daerah, lagu rohani gereja, hingga lagu perjuangan. Bahkan jenis-jenis lagu seperti Mars, Waltz, tango, rumba, dan cha cha pun dapat dimainkannya.

Tidak mengherankan jika musik bambu juga hadir dalam perhelatan-perhelatan resmi pemerintah, baik di daerah maupun di pusat. Bahkan ketika ABRI belum memiliki korps musik di tahun 1945, putra-putra kawanua yang tergabung dalam Orkes Musik Bambu Pemadam Kebakaran Cideng lah yang mengiringi parade angkatan bersenjata di Lapangan IKADA. Sedangkan grup Musik Bambu yang pernah tampil pada peringatan detik-detik proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara di antaranya Grup Musik Bambu Seng Klarinet “Metuari Maesa” Jakarta pada 17 Agustus 2004.

Musik Bambu Metuari Maesa saat tampil di istana. (Foto: http://www.metuarimaesa.blogspot.com)

Lalu pada 30 Januari 2007, Panitia Festival Seni Budaya Sulawesi Utara bekerjasama dengan Bp. Benny J. Mamoto dari Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, RM Luntungan (Bupati Minahasa Selatan), dan Management Megamas berhasil membuat terompet terbesar. Terompet yang menjadi salah satu alat pendukung Musik Bambu Seng Klarinet ( Bass ) itu memiliki panjang 32 meter, Diameter 5,20 meter dan Keliling Lingkaran 6,80 meter. Dengan ukurannya yang super besar itu, terompet yang dikerjakan oleh 16 orang selama 30 hari itu pun memperoleh sertifikat MURI sebagai Terompet Raksasa.**” (acsujabodetabek/bahan: dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: